Bangtan Warm Winter (Chapter 3)
.
.
.
Author : TaetoE
Genre : Family/friendship/hurt/romance
Rated : T
Main Cast : All BTS member, Lee Song Kyu (OC) ,and others.
Disclaimer : Saya hanya meminjam nama mereka untuk cerita yang murni dari otak saya ini. Maaf jika ada bahasa atau penokohan yang tidak berkenan, ne? Typo bertebaran (?) alur berantakan, dll.
.
.
.
Cerita yang dikatakan keduanya sangat bertolak belakang.
.
Mana yang harus aku percaya? Hyung terbaikku atau yeojachingu-ku sendiri?
.
.
.
.
Jungkook pov.
Sekarang sudah pukul 01.00 pagi, dan aku masih terjaga. Berdiri sendirian di pojok ruangan dengan segelas minuman di tangan kananku dan tangan kiri yang ku masukkan ke dalam saku celana.
Kalian tidak perlu bertanya kenapa aku masih terjaga di saat larut begini, karena sudah jelas aku melakukan semua ini dengan terpaksa. Pesta sejak lima jam lalu belum juga selesai, hal itu lah yang membuat mataku terpaksa menahan kantuk.
Ku lihat Song Kyu dan banyak temannya—yang rata-rata adalah siswa sekolah lain—masih saja asyik menari mengikuti lantunan musik beat dari meja DJ di atas panggung kecil di tengah aula sekolah ini.
Musik, tawa, dan sorak sorai menggema memenuhi setiap sudut aula yang mulai terasa sesak bagiku. Kegaduhan ini, jujur sangat menganggu. Tapi apa yang bisa ku perbuat.
Aku bahkan belum sepenuhnya percaya bahwa malam ini berhasil diadakan sebuah pesta di AULA SEKOLAH. Aku juga bingung kenapa penjaga sekolah mau mengizinkan aku untuk meminjam kunci aula hanya untuk sebuah pesta.
Semua ini, jelas ayahku tidak tahu. Malam ini aku pamit untuk menginap di rumah V Hyung yang memang sudah akrab dengan keluargaku. Itu hanya alasan, aku yakin ayah akan sangat marah jika tahu yang sebenarnya.
Aku, Jeon Jungkook, siswa kelas satu yang masih amatir beraninya menjadikan aula sekolah menjadi tempat pesta macam ini?!
Hebat sekali.
Tapi semua ini permintaan Song Kyu. Aku pun paham jika sudah semestinya ini dirahasiakan. Ia juga jelas berpesan agar aku tidak bilang bahwa ini semua adalah permintaan darinya.
Tapi bagaimana jika ayah tahu. Aku tidak ingin berbohong lagi padanya dan di sisi lain aku juga tidak ingin mengecewakan Song Kyu. Apa yang harus ku lakukan?!
Aargh..!
Aku tahu gadis itu tidak akan membantuku di saat seperti ini. Sejak pesta dimulai ia bahkan tidak menemui atau bahkan menyapaku, ia terlalu asyik dengan teman-teman dan dunianya sendiri.
Dan entah memang ruangan ini sudah penuh atau aku yang kurang sehat, dadaku benar-benar terasa sesak mencerna semua situasi ini. Kepalaku berputar. Pikiranku kacau. Dan perasaanku?
Bercampur! Kesal. Bingung. Sedih. Putus asa. Entahlah..
Percuma saja aku mengerang frustasi dalam hati, Song Kyu tetap tidak mengetahuinya. Ku rasa satu-satunya hal yang bisa ku lakukan sekarang adalah berusaha tetap bertahan.
.
.
.
Author pov.
Tidak hanya Jungkook yang masih terjaga malam itu. Seorang namja juga masih siaga membuka matanya. Sesekali ia akan menoleh ke kanan dan kiri, memeriksa sekeliling.
Namja berjaket hitam itu menghela napas panjang. Perlahan kembali mengintip dari balik tembok perpustakaan sekolah. Matanya menatap tajam keriuhan pesta yang tampak samar dari balik jendela besar di aula itu.
Sesaat kemudian ia beralih pada ponselnya. Jarinya dengan gesit mengetik beberapa kata di sana.
'Aku tahu ini sudah terlalu malam. Tapi jika kau mau ikut, datanglah sekarang. Aku beri waktu 5 menit untuk menjawab'
Kirim.
.
Dua menit berlalu, dan ponsel di genggaman namja itu tiba-tiba bergetar singkat.
'Baik aku ikut. Tunggulah sebentar'
.
Namja berjaket itu tersenyum tipis dan lantas membalas pesan di ponselnya.
'Temui aku di belakang perpustakaan'
.
.
.
"Tae.." sebuah suara lirih nan horor yang disusul dengan tepukan di bahu, membuat namja berjaket hitam itu sempat terlonjak dan membelalakkan matanya.
"Haishh..aku kira kau hantu" ujar Taehyung—namja berjaket hitam—sambil menghela napas lega. Namun detik berikutnya ia tersenyum mendapati Jimin yang ternyata masih mau ikut bergabung dalam 'misi'nya.
"Namja setampan aku kau kira hantu?!" Jimin bersungut-sungut kesal. Tapi Taehyung sama sekali tidak memperhatikannya. Ia baru sadar jika ternyata Jimin tidak datang sendirian.
"...Yoongi Hyung?" tanya Taehyung sambil menatap heran seorang namja manis yang berdiri di belakang tubuh Jimin dengan senyum lebar di wajahnya.
"Aaah.. maaf Tae, Yoongi hyung tahu tentang misi ini dan ia terus saja memaksaku agar mau mengizinkannya ikut" jelas Jimin sambil menatap kesal Yoongi.
"Haha, tidak apa-apa. Akan semakin seru jika ada banyak orang begini" Taehyung tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Namun Jimin masih saja menatap Yoongi dengan kesal.
"Kenapa menatapku begitu? Taehyung saja sudah mengizinkanku.." ujar Yoongi yang mengerucutkan bibirnya. Ia langsung menarik tangan Taehyung dan pergi menjauh dari Jimin yang kaget melihat dua rekannya menjauh.
.
.
.
"Jadi bagaimana rencananya?" tanya Yoongi bersemangat. Sekarang mereka sudah berada di balik semak-semak tepat di sebrang aula sekolah.
"Pertama, kita harus cari saklar utamanya, mengendap-endap kesana, matikan saklarnya hingga semua lampu mati, kabur, selesai!" ujar Taehyung tak kalah semangat. Berbeda dengan Jimin yang sedari tadi hanya diam sambil memegangi telinga kirinya yang beberapa saat lalu sukses ditarik kuat oleh Yoongi.
"Hmm..sepertinya aku tahu di mana saklar itu. Seingatku ada di samping tangga yang dekat dengan ruang kepala sekolah" ungkap Yoongi. Taehyung mengangguk semangat mendengar penuturan sunbae-nya itu.
"Tapi di sana gelap sekali. Kalian tidak lihat?" Jimin bergidik ngeri melihat koridor kelas-kelas yang sebenarnya tidak benar-benar gelap karena masih ada beberapa lampu yang menyala walau sedikit redup.
"Dasar penakut" Yoongi mencibir sambil mengendap-endap mendahului Taehyung dan Jimin menuju tempat yang ia sebut tadi.
"Dia pemberani. Kau harusnya seperti itu, Jimin-ah" Taehyung terkekeh kecil sambil mengikuti langkah Yoongi, lagi-lagi meninggalkan Jimin yang hanya bisa mendengus dan akhirnya terpaksa mengikuti dua namja itu.
.
.
.
"Aku tidak tahu jika saklarnya setinggi itu.." gumam Taehyung menatap putus asa sebuah saklar yang letaknya cukup jauh dari atas kepalanya.
"Kau saja bilang begitu padahal kau yang paling tinggi di sini. Apalagi jika dibandingkan dengan kami.." ujar Jimin ikut berputus asa. Ia memilih bersandar di dinding sambil memperhatikan Yoongi yang terlihat sibuk mencari sesuatu.
"Mencari apa, Hyung?" tanya Jimin yang akhirnya mendekat ke arah Yoongi.
"Sesuatu agar kita bisa mencapai saklar itu" jawab Yoongi singkat.
"Ngomong-ngomong, Tae.. kau tahu dari mana kalau ada pesta di sini?" tanya Yoongi masih serius mencari sesuatu yang mungkin bisa berguna.
"Kemarin Namjoon bilang Song Kyu akan mengadakan pesta di sini, hanya beberapa siswa saja yang diundang, itu pun secara diam-diam. Kebetulan Namjoon diundang dan ia langsung cerita padaku" jelas Taehyung.
Yoongi hanya mengangguk-angguk dan tidak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
"Ah! Itu ada rak sepatu, kita pakai itu saja, Hyung" seru Jimin tiba-tiba. telunjuknya mengarah ke sebuah rak sepatu dari besi tepat di balik tangga yang menuju lantai dua.
"Tumben kau jenius.." ujar Yoongi sambil mengacak rambut Jimin sekilas. Membuat namja bermarga Park itu tersenyum senang.
.
.
Dengan mudah tiga namja itu memindahkan rak tersebut tepat di bawah saklar yang mereka incar sejak tadi. Taehyung lantas beranjak naik dan berhasil menggapai saklar itu.
"Siap?" tanyanya sambil menoleh ke bawah, bertanya pada Jimin dan Yoongi yang serius memperhatikannya. Dua namja itu langsung mengangguk mantap.
Taehyung menarik napas dalam sebelum akhirnya manarik tuas pada saklar itu hingga menghadap ke bawah dengan satu tarikan kuat. Persis seperti yang ia kira, teriakan panik langsung menguar dari dalam aula.
Semua lampu di sekolah itu mati dalam sekejap. Lantunan musik beat dari dalam aula itu juga langsung terhenti.
Taehyung pun melompat turun dan tersenyum puas saat melihat rombongan berpakaian pesta menghambur ke luar dari aula. Walau samar karena gelap, tapi kericuhan itu sudah menandakan bahwa misinya telah berhasil.
"Kita berhasil" ujar Taehyung sambil merangkul bahu Yoongi dan Jimin.
Sebenarnya Jimin dan Yoongi tidak terlalu mengerti apa tujuan Taehyung melakukan semua ini. Mereka hanya ikut saja saat Taehyung bilang akan melakukan sesuatu yang seru dan jujur saja ini memang cukup menantang bagi mereka.
'Kau lihat? Aku mengacaukan pestamu Lee Song Kyu..'
'Ku harap ini sedikit membantu Jungkook. Aku tahu ia terpaksa menuruti keinginan gadis itu'
Taehyung bersorak senang dalam hati. Seyumnya terus mengembang melihat keriuhan akibat ulahnya itu.
.
.
.
"Aah..pesta macam apa ini, Lee Song Kyu?!"
"Sangat tidak asyik!"
"Apa maksudnya kita dipaksa bubar, eoh?"
Cibiran beberapa orang terdengar jelas di telinga Song Kyu. Sungguh ia juga terkejut kenapa tiba-tiba listriknya bisa mati. Padahal selama ini dia adalah ahli pembuat pesta. Tapi kenapa pestanya kali ini kacau?
Song Kyu hanya bisa diam melihat semua teman genk-nya pergi keluar dari aula. Napasnya memburu, giginya bergemeretak menahan emosi. Setelah ini reputasinya akan turun dan siapa yang akan bertanggung jawab dengan semua ini?!
Jeon Jungkook! Nama itu langsung terlintas di benaknya.
Dengan susah payah Song Kyu berusaha mencari keberadaan 'kekasih'nya itu. Walau gelap tapi akhirnya Song Kyu berhasil menemukan Jungkook yang sedang berdiri mematung di dekat pintu keluar.
Hanya tinggal mereka berdua di aula itu. Song Kyu bisa bebas melakukan apapun pada Jungkook sekarang. Kedua tangan gadis itu mencengkram kuat bahu Jungkook lalu dengan kasar Song Kyu mendorongnya dan hampir membuat tubuh Jungkook membentur tembok di belakangnya.
"Kenapa listriknya mati?! Aku sudah bilang padamu untuk memastikan semuanya sempurna kan?!" labrak Song Kyu dengan sorot mata tajam.
"Aku dan penjaga sekolah sudah mengeceknya tadi sore. Dan se..semuanya baik-baik saja, noona" ujar Jungkook pelan. Kepalanya menunduk dalam, takut untuk saling beradu tatap dengan gadis di hadapannya.
"Baik-baik saja?! Kau tidak lihat pestaku kacau!? Reputasiku akan turun, Jungkook!" bentak Song Kyu. Jungkook hanya terdiam. Dan hal itu membuat Song Kyu khawatir jika Jungkook akan menyadari kejahatannya dan berniat mengakhiri hubungan mereka.
Tidak, itu tidak boleh terjadi! Song Kyu akan kehilangan banyak kemudahan jika ia sampai berpisah dengan Jungkook.
Matanya berputar mancari ide. Dan.. Aha,dapat! Song Kyu pun kembali memulai actingnya, perlahan mulai terisak lirih. Tidak lebih dari sekedar isakan palsu agar Jungkook tidak tega padanya. Senyum sinis bahkan terukir samar di bibir gadis itu.
Jungkook tercekat, belum pernah ia melihat Song Kyu menangis.
"M..mianhae. Ini memang salahku, noona" ucap Jungkook. Perlahan tangannya bergerak merengkuh tubuh Song Kyu, masuk ke dalam pelukannya. Semua anggapan bahwa Song Kyu adalah yeoja yang jahat langsung menghilang dari pikiran Jungkook.
'Haha. Dasar anak kecil. Kau mudah sekali dibodohi!' batin Song Kyu. Seringai jahat semakin mengembang di wajahnya yang sekarang berada di dekapan Jungkook. Song Kyu berhasil lagi, Jungkook mudah ditaklukkan.
.
.
.
.
Esok paginya ada pemandangan yang berbeda di koridor sekolah. Semua siswa dari kelas satu sampai kelas tiga berbondong-bondong memenuhi koridor dan berjalan ke aula sekolah. Lima menit setelah bel masuk berbunyi, tiba-tiba saja ada pengumuman bahwa kepala sekolah memerintahkan seluruh siswa untuk berkumpul di aula.
"Hey, Taehyung kenapa tiba-tiba kita harus berkumpul di aula?" tanya Hoseok yang kebetulan berpapasan dengan Taehyung dan Jimin saat ia sedang menuju aula sekolah bersama temannya yang lain.
Hoseok memang satu sekolah dengan Taehyung. Namun mereka jarang sekali berinteraksi jika sedang berada di sekolah. Dan kebetulan ia adalah teman sekelas Yoongi.
"Entahlah, Hyung. Tapi firasatku buruk" jawab Taehyung sambil menggigit bibir bawahnya.
"Aku juga berpikir begitu, Hoseok hyung.." timpal Jimin dengan wajah cemas bercampur takut.
.
Saat ketiganya memasuki aula, sudah sangat ramai di sana. Barisan siswa dari berbagai kelas sudah cukup memenuhi ruang aula itu. Para guru berdiri berjajar di pendopo aula, dengan sang kepala sekolah yang berada tiga langkah di depan mereka.
"Kelihatannya semua siswa sudah berkumpul. Kalian pasti bingung kenapa diharuskan berkumpul di aula" ujar kepala sekolah lewat pengeras suara.
"Kalian bisa lihat, jendela di sisi kanan ruang aula ini. Hancur bukan?" ujar kepala sekolah sambil menunjuk jendela besar di sisi kanan ruangan, semua mata pun tertuju ke sana.
Benar saja kaca besar itu pecah cukup parah, bahkan masih banyak serpihan kaca yang berserakan di bawahnya. Ruang aula mulai gaduh. Beberapa siswa ricuh menebak-nebak siapa yang melakukan itu dan hukuman apa yang akan kepala sekolah hadiahkan.
"Dan entah dari mana datangnya sampah-sampah yang menumpuk di sudut sana" lanjut kepala sekolah. Telunjuknya beralih mengarah ke tumpukan sampah di sudut belakang ruangan itu.
"Saya hanya minta pelakunya untuk maju ke depan sekarang juga!" seru kepala sekolah tegas.
.
.
Di barisan belakang nampak Jungkook yang berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi karena takut. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Ia tahu itu pasti perbuatan seseorang di pesta tadi malam. Dan sampah-sampah itu, Jungkook lupa untuk membersihkannya.
'Apa yang harus ku lakukan..?' pikir Jungkook sambil memutar bola matanya.
Tanpa sengaja matanya justru harus beradu tatap dengan Song Kyu yang berdiri di barisan yang cukup darinya. Gadis berparas cantik itu menatap Jungkook dengan sorot mata memelas, seolah berkata 'Lindungilah aku, Jungkook~'
"Jika tidak ada yang mengaku. Kalian semua akan diberi hukuman membersihkan sekolahan setiap pulang sekolah selama seminggu, sehingga jam masuk sekolah akan dimajukan satu jam lebih pagi!" perkataan tiba-tiba dari kepala sekolah sontak membuat keadaan semakin gaduh.
Jungkook yang mendengar itu lantas meremas rambutnya frustasi. Ia tidak mungkin membiarkan seluruh siswa menanggung hukuman dari kekacauan pesta yang sudah jelas merupakan permintaan kekasihnya itu.
Dilema dalam diri Jungkook semakin membuncah saat matanya kembali melihat ke arah Song Kyu yang seolah-olah mulai berkaca-kaca dan berkata 'Ku mohon, Jungkook..'
Tanpa banyak pertimbangan namja itu pun melangkahkan kakinya pelan. Membawa tubuhnya maju dan menerobos barisan murid-murid di depannya. Semua mata melihat padanya dengan tatapan kaget.
"Jeon Jungkook pelakunya?"
"Dia kan anak kepala sekolah. Apa tidak malu.."
"Dasar memalukan, apa yang namja itu pikirkan?!"
"Tidak ku sangka Jungkook melakukan itu semua"
"Kita salah menilainya.."
Telinga Jungkook terasa ngilu mendengar cibiran-cibiran pedas yang dilontarkan beberapa siswa di sana. Ada yang langsung menatapnya sinis, kasihan, heran, dan sebagainya. Apapun itu Jungkook berusaha tidak peduli, ia menganggap keputusan ini yang paling tepat.
Sekarang langkahnya terhenti tepat di hadapan kepala sekolah. Kepalanya menunduk dalam, memandang kosong lantai yang ia injak. Sedangkan tanpa ada yang tahu, di sisi lain Song Kyu sedang tersenyum evil dan menghela napas lega.
"Jeon Jungkook? Apa ini?! Kau pelakunya?" kepala sekolah bertanya kaget setelah menjauhkan pengeras suara dari dekat mulutnya. Matanya tidak lepas memandang putranya dengan tatapan tidak percaya.
"Maafkan aku, Appa. I..ini.. salahku" gumam Jungkook pelan, namun masih bisa terdengar oleh ayahnya. Membuat pria paruh baya itu menghela napas berat sebelum akhirnya kembali membuka mulut dan berkata.
"...Baik, semua siswa silahkan kembali ke kelas" ujar kepala sekolah kembail menggunakan pengeras suara.
"Dan kau, Jeon Jungkook ke ruanganku setelah ini" lanjut kepala sekolah dan langsung berbalik keluar dari ruang aula bersama para guru. Jungkook hanya terdiam dan masih tetap menunduk. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa hanya dia yang tersisa di ruangan itu, semua siswa sudah kembali ke kelasnya.
.
.
.
Di ruang kepala sekolah..
"Bisa kau jelaskan apa yang kau perbuat?" tanya Tuan Jeon—kepala sekolah—pada Jungkook yang duduk diam di hadapannya. Beruntung ada meja kerja yang menjadi jarak antarkeduanya, Jungkook bisa sedikit lebih tenang.
"Aku tak bisa jelaskan apapun, cukup beri saja aku hukuman, Appa.." ujar Jungkook yang sekarang sudah benar-benar pasrah menerima apapun nantinya. Semua ini ia lakukan semata-mata hanya demi melindungi Song Kyu yang belum seutuhnya ia kenal.
"Kau tentu punya alasan, Jeon Jungkook" timpal Tuan Jeon sambil membenahi letak kacamatanya.
"Aku sangat mengenalmu. Kau tidak pernah berbohong bukan.. Jadi jelaskanlah!" lanjutnya dengan nada suara yang mulai meninggi. Jungkook tercekat, benar apa yang ayahnya katakan. Ia tidak pernah mau berbohong pada siapapun. Jungkook bingung, jantungnya berpacu lebih cepat.
Dan entah kenapa, tapi saat ini Jungkook mulai menyadari sesuatu. Ternyata sejak ia bersama Song Kyu, semua yang ia lakukan adalah keterpaksaan. Semuanya.. Berbohong. Membolos latihan basket. Bahkan menjauhi Taehyung. Semua itu karena terpaksa mengikuti kemauan Song Kyu.
'Tidak! Apa selama ini Noona hanya memanfaatkanku? Menuntutku melakukan hal yang tidak ku inginkan?!' pikir Jungkook dalam hati. Pikirannya tetap gigih berkata bahwa Song Kyu tidak seperti dugaannya barusan.
"Jawab ayahmu ini, Jeon Jungkook!" Tuan Jeon menggebrak meja. Membuat Jungkook membelalakkan matanya. Baru saja ia ingin membuka mulut dan menjawab, tapi tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk.." ujar Tuan Jeon lantang. Dan masuklah seorang namja berseragam sekolah dari balik pintu yang diketuk olehnya tadi.
"Aah.. Kim Taehyung ada apa kau kemari? Oh tunggu! Kebetulan sekali ada yang harus ku pastikan. Duduklah!" ujar Tuan Jeon mempersilahkan namja yang baru memasuki ruangannya itu untuk duduk di kursi tepat di samping Jungkook.
Taehyung mengangguk dan segera menempati kursi tersebut. Jungkook sedikit menoleh ke sebelahnya. Jujur ia sangat merindukan Hyung-nya itu, tapi lagi-lagi tuntutan Song Kyu kembali mengukungnya untuk menjauh.
"Apa Jungkook menginap di rumahmu semalam? Karena itulah alasannya berpamitan padaku" tanya Tuan Jeon to the point. Taehyung melirik Jungkook yang duduk di sampingnya sambil menunduk.
"Dia tidak menginap di rumahku. Dan.. sebenarnya akulah yang mengajak Jungkook untuk melakukan semua hal di aula itu, Tuan Jeon" ujar Taehyung tiba-tiba. Namja bersurai cokelat itu menghela napas pelan dan kali ini ikut menundukkan kepalanya seperti Jungkook.
'Pengakuan' Taehyung barusan jelas membuat dua namja lain yang berada di ruangan itu sangat terkejut. Jungkook langsung mengangkat kepalanya dan menatap Taehyung bingung. Jelas-jelas perkataan Taehyung itu tidak benar, Song Kyu lah yang memintanya mengadakan paste di aula sekolah.
.
'V hyung.. kenapa dia berkata begitu? Itu hal bodoh! walau aku tahu maksudnya adalah untuk melindungiku..'
.
'Tapi kenapa?! Aku bahkan dengan jelas selalu menghindar darinya..'
Jungkook benar-benar tidak habis pikir kenapa Taehyung berani mengatakan semua itu. Bingung mengambil sikap, ia pun memilih untuk membuang muka.
.
.
.
.
-To Be Countinued-
Aaah.. setelah sekian lama, selesai juga Chap.3!
Berhubung sekolah ane baru mulai again, jadi ngga bisa fokus ke fic
Dan ternyata sampe Chap ini masih juga belum bisa nyambung ama judulnya -_-
Mohon tunggu aja yee nanti di endingnya baru ketahuan kenapa ini fic dikasih judul seperti di atas ^^
.
Jeballll~ revieww
