Disclaimer:

Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa35

Last Scene © Riren18.

Rate: T+

Main Pairing: Dazai Osamu & Chuya Nakahara

Genre : romance, hurt/comfort, angst, and friendship

Warning: Boys Love Story, typo, OOC, AU, tidak sesuai EYD, rough words , and many more. DLDR.

.

.

.

.

.

.

.

Bersamamu saat di musim panas

Sinar matahari bersinar begitu menyilaukan dan perlahan suhu pun mulai naik. Suara para serangga terdengar begitu ribut di udara yang kering dan agak lembab. Pakaian orang-orang mulai berganti dengan pakaian tipis dan pendek demi mengurangi rasa panas serta gerah yang menyelimuti tubuh. Sesuatu yang dingin dan segar tentu saja sangat dicari saat musim panas.

Rasa malas untuk bergerak karena cuaca yang tidak mendukung untuk melakukan aktivitas membuat Dazai hanya berguling-guling di kasurnya. Rasa bosan sangat dirasakan oleh Dazai tapi rasa malasnya masih menang dari rasa bosannya.

Ring…..ring…

Ponsel Dazai berbunyi nyaring dan sang pemilik ponsel mau tak mau harus mengangkat telepon tersebut. Kening Dazai berkerut saat melihat nomor pemanggil yang tak dikenalnya. Akhirnya Dazai menerima panggilan tersebut.

"Oi…. Cepat bukain pintunya. Diluar panas banget tahu!"

"Chuya ? "

"Memangnya kau pikir siapa lagi, hah ?"

"Galak banget. Aku segera buka pintunya dan harap jangan marah-marah saat cuaca masih panas kayak begini."

Tak lama Dazai segera bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju pintu. Setelah kunci dibuka, Dazai dapat melihat sosok teman baru yang dikenalnya saat musim semi kemarin. Sosok bertinggi 160 cm itu kini terlihat sangat kasual dengan kaus putih dengan tulisan N.Y.C di tengah kausnya yang dipadu dengan sebuah celana jeans tipis selutut berwarna biru pudar serta sebuah topi berwarna putih dengan lambing nike di bagian depannya.

"Silahkan masuk."

"Permisi."

Saat masuk ke dalam apartemen Dazai, rasa sejuk langsung menyapu wajah Chuya yang tadinya terasa panas dan berkeringat.

"Silahkan duduk."

"Terima kasih."

"Chuya, kau bawa apa ? "

"Es krim sama dua botol cola dingin. Kau mau ? "

"Tentu saja mau. Aku ambil gelas dulu ya."

"Ok."

Dengan riang Dazai berjalan ke arah dapur untuk mengambil gelas dan tak butuh waktu lama sosok dengan tinggi 182cm itu kembali ke hadapan Chuya. Dazai meletakkan 2 gelas kecil diatas meja kayu. Tak lama Dazai segera membuka tutup botol cola dan menuangkan isinya ke dalam gelas. Sensasi dingin dan menyegarkan langsung menyelimuti tenggorokkan Dazai yang tadinya terasa sangat kering dan panas.

"Kimochi..."

Chuya langsung menoleh ke arah Dazai dan tak lama Chuya langsung tertawa renyah saat melihat ekspresi wajah Dazai yang mirip dengan orang yang menemukan sebuah oasis di gurun pasir yang gersang.

"Kau kenapa tertawa ? Memangnya ada yang lucu ? "

"Mana mungkin aku tertawa tanpa alasan."

"Siapa tahu kau gila mendadak."

"Mulutmu itu sialan sekali, ya. Kau mau tahu apa yang ku tertawakan tadi ? "

"Memangnya apa ? "

"Ekspresi wajahmu yang membuatku tertawa."

"Ekspresi wajahku ? "

"Ekspresi wajahmu saat minum cola tadi mirip sekali dengan orang yang menemukan sebuah oasis di gurun pasir yang gersang."

"Masa sih ? "

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Oh, ya, Dazai….."

"Apa ? "

"Mau jalan-jalan keluar ? "

"Tidak mau."

"Kenapa ? "

"Panas."

"Kalau ku traktir parfait gimana ? kau mau ? "

Dazai tampak berpikir sebentar dan Chuya menunggu jawaban dari Dazai. Tak lama Dazai menjawab pertanyaan Chuya tadi.

"Baiklah, aku mau. Tapi, mau makan parfait nya di mana ? "

"Di kafe favoritku dan ku jamin kau pasti akan suka dengan parfait nya."

"Kalau traktirannya di tambah boleh ? "

"Memangnya kau mau apalagi, hah ? "

"Aku mau kepiting salju kalengan."

"Baiklah."

"Sepuluh kaleng tidak apa-apa kan, Chuya ? "

"Itu perampokan namanya, teme!."

"Kalau begitu aku tidak mau!"

Chuya mendenguskan nafasnya dengan kasar sambil mengelus dadanya menghadapi manusia yang ada di hadapannya sekarang.

"Baiklah, aku akan beli 10 kaleng. Tidak lebih, ok ? "

"Yeay….. Chuya memang yang terbaik."

Tak lama Dazai pun langsung berlari ke kamar untuk berganti pakaian. Sementara Chuya ingin menangis karena sebentar lagi duitnya akan tiris karena Dazai meminta kepiting salju kalengan yang harganya cukup mahal itu.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah membeli apa yang diinginkan kini Dazai dan Chuya berada di kafe yang dibilang Chuya. Mereka berdua duduk didekat jendela yang menghadap ke taman yang berada di seberang jalan. Suasana terasa hening sebentar karena keduanya sedang melihat-lihat daftar menu yang ada.

"Mana parfait yang kau bilang enak itu ? "

"Kau ingin rasa apa parfaitnya ? "

"Hmm…. Aku ingin rasa dark chocolate saja."

"Ok. Ada lagi yang ingin kau pesan ? "

"Itu saja. Kau sendiri pesan apa ? "

"Ice coffe."

"Eh ? kenapa hanya es kopi saja ? "

"Uangku tidak cukup untuk membeli 2 parfait, baka !"

"Kalau kau mau, nanti kita bisa makan berdua parfait nya."

"Aku tidak mau !"

"Kenapa tidak mau ? "

"Karena terasa menjijikan apabila 2 orang laki-laki makan 1 parfait bersama."

"Begitu, ya. Tapi, beneran gak mau nih ? "

"Gak !"

"Baiklah. Tapi, kalau kau mau bilang saja, ya. Oh, ya, terima kasih yang traktirannya."

"Sama-sama."

Tiba-tiba terdengar suara detingan piano yang memainkan lagu twinkle-twinkle little star. Chuya dan Dazai pun menoleh ke sumber dan terlihat 2 gadis kecil sedang bermain piano klasik yang berada di dalam kafe.

"Ku kira piano itu cuma hiasan tapi ternyata benar-benar bisa dimainkan. Entah kenapa setiap mendengar detingan suara piano yang sedang dimainkan membuatku merasa bahagia."

"Itu piano yang sedih…."

"Eh ? maksudnya apa kau berkata jika itu piano yang sedih ? "

"Piano itu tidak boleh dekat dengan air tapi mereka malah mendekorasinya dengan pot bunga."

Chuya merespon ucapan Dazai hanya dengan sebuah dehaman halus. Sementara itu 2 gadis kecil itu masih asyik berbincang-bincang. Tak lama sebuah seringai kecil menghiasi wajah pemuda bertubuh mungil itu.

"Aku belajar ini di les piano."

Salah satu dari gadis kecil tersebut memainkan lagu twinkle-twinkle little star sambil berbicara dengan gadis kecil satunya.

"Runa chan, hebat !"

Kedua gadis itu tidak menyadari jika seseorang mendekati mereka. Orang itu adalah…..

"Oh ? Itu Mozart , kan ? "

"Iya, onii san. Aku sudah mempelajarinya sejak kemarin tapi aku masih belum bagus memainkannya."

"Begitu, ya. Pasti sulit, ya ? "

"Onii san, bisa main piano ? "

Tanpa Chuya sadari kini Dazai sedang menatapnya yang masih berbincang-bincang dengan kedua gadis kecil itu. Dazai baru menyadari jika sikap Chuya begitu lembut pada anak kecil dan bahkan anak kecil itu tidak takut padanya. Tapi, Dazai belum menyadari apa yang direncanakan Chuya padanya.

"Sayang sekali onii san tidak bisa bermain piano tapi onii san tahu siapa yang jago main piano. Onii san yang berambut cokelat ikal itu adalah pianis yang luar biasa."

Seketika Dazai menoleh ke sumber suara dan benar saja Chuya kini menunjuk ke arah dirinya dengan sebuah seringaian yang membuat Dazai merasakan firasat buruk.

"Kenapa kalian tidak minta diajari saja ? "

Tak lama 2 gadis kecil itu tersebut berlari menghampiri Dazai yang masih duduk di kursinya.

"Ayo mainkan pianonya, onii san !"

"Ajari aku, onii san !"

"Maaf….. onii san sudah tidak bermain piano lagi."

Chuya pun yang berdiri di sebelah Dazai langsung menendang tulang kering Dazai hingga Dazai meringis kesakitan. Sambil memberi tatapan membunuh, Chuya berkata…..

"Ajari mereka sana !"

Mau tak mau Dazai pun mengalah karena dia tidak mau kedua gadis kecil itu menangis dan tidak mau diamuk Chuya.

"Baiklah. Cuma sebentar saja, ya."

"Hore !"

Kedua gadis kecil itu bersorak gembira dan menarik Dazai ke piano. Sementara itu Chuya pun tersenyum saat Dazai mulai melangkah menuju piano bersama kedua gadis kecil itu dan dia pun ikut mengekor di belakang ketiga sosok itu.

Pada awalnya suasana terasa begitu menyenangkan saat Dazai dan salah satu gadis kecil itu bermain piano bersama. Para pengunjung dan para pelayan sempat terpana saat permainan piano dimainkan oleh Dazai sendiri. Tapi…. Secara tiba-tiba Dazai menghentikan permainannya dan jemari-jemarinya mulai bergetar karena ingatan yang tak ingin diingat oleh Dazai pun muncul.

"Kenapa berhenti bermain, onii san ? "

"Jangan berhenti bermain, onii san. Permainan pianomu tadi sangat keren !."

"Maaf onii san tidak bisa melanjutkan permainannya. Maaf, ya."

.

.

.

.

.

.

.

Setelah beberapa lama akhirnya keduanya memilih jalan-jalan sebentar di taman. Suasana hening pun kembali menghampiri keduanya sejak permainan piano Dazai yang tiba-tiba terhenti di tengah lagu. Pada akhirnya Chuya pun memecah keheningan diantara dirinya dan Dazai.

"Kalau aku boleh bertanya, kenapa kau tiba-tiba berhenti bermain saat ditengah lagu ? "

"Karena saat bermain piano aku selalu teringat hari dimana sahabatku meninggal dan kini aku tidak bisa mendengar suara piano yang ku mainkan. Itu sangar klise, kan ?"

"Tapi, saat di kafe tadi bukannya kau memainkan pianonya ?"

"Ya, awalnya aku mendengarnya. Tapi, entah kenapa semakin aku berkonsentrasi dan semakin menikmati permainan yang ku mainkan, suara kian menghilang seperti tertiup angin. Menjauh dan akhirnya lenyap."

"Apa itu mengalami hal yang sama pada kegiatan yang lain ? "

"Tidak. Hanya saat bermain piano saja aku mengalami hal tersebut."

"Begitu, ya. Tapi, menurutku mau bagaimana pun keadaanmu sekarang kau harus tetap bermain. Kau dan aku adalah musisi dan kita akan terus memainkan instrument kita demi membuat orang yang mendengarkan bahagia dan terhanyut dalam permainan musik yang kita mainkan. Begitulah cara orang-orang seperti kita bertahan hidup."

"Mungkin itu berlaku bagimu tapi tidak dengan diriku, Chuya."

"Jadi kau mau begini terus untuk selamanya, hah ? "

"Soal itu aku tidak tahu."

"Dasar tidak punya masa depan."

"Terserah apa katamu, chibi."

"Kalau begitu aku ingin menantang kau. Itu pun jika kau berani menerimanya dan tentu tantanganku itu ada hadiahnya. Hadiahnya bisa kau minta saat kau selesai melakukan tantangannya dengan benar. bagaimana Dazai ? "

"Memang tantangannya apa ? "

"Tak akan ku beritahu sampai kau mau menerimanya."

"Dasar licik."

"Biarin. Jadi apa jawabanmu ? "

"Baiklah, aku menerima tantangan darimu, Chuya. Jadi sekarang kau beritahu aku apa tantangannya."

"Tantangannya yaitu kau harus jadi pengiringku saat kompetisi concour bulan akhir nanti."

Sepasang mata Dazai langsung membola saat mendengar tantangan yang Chuya ucapkan. Bagi Dazai concour adalah hal yang tak ingin diingatnya karena terakhir kali dia mengikuti concour terjadi hal yang membuatnya terus menerus menyesal hingga kini.

"Kenapa harus concour ? "

"Memangnya ada masalah dengan concour ? "

"Tidak. Hanya saja aku tidak ingin bermain piano lagi."

"Kau tidak capek apa melarikan diri terus dari masa lalumu ? Kau mau terus terkubur dalam penyesalanmu itu ?. Kau tahu Dazai ? Sayang sekali jika bakat musikmu itu harus mati begitu saja karena kenangan buruk dimasa lalu. Jika aku boleh jujur, aku sangat iri padamu yang memang terlahir jenius bermain musik."

Dazai terdiam dan memilih tidak menjawab beberapa pertanyaan Chuya barusan. Sementara Chuya semakin kesal melihat reaksi Dazai yang hanya diam dan tidak mau menjawab pertanyaannya.

BLETAK!

Sebuah jitakan kerasa mendarat mulus di atas kepala Dazai. Ya…. Chuya yang melakukannya karena mulai kesal dengan Dazai yang tiba-tiba diam dan tak mau menjawab pertanyaannya tadi. Tak lama kerah kemeja yang dipakai Dazai pun di tarik Chuya dan memaksa Dazai mendekat pada Chuya.

"Jawab pertanyaanku !"

"Aku tidak tahu, Chuya. Sungguh aku tidak tahu. Rasanya aku ingin mati saja."

BUAGH!

Sebuah tinju dilayangkan Chuya pada sosok di depannya. Sementara yang menjadi korban tonjokannya barusan pun membelalakan matanya dan menatap Chuya dengan tatapan yang bercampur aduk.

"Sudah sadar dari ucapan bodohmu barusan, hah ? "

"Dasar kasar."

"Biarin. Tapi, lain kali jika kau berkata seperti tadi ku pastikan kau akan ku lempar ke tengah jalan atau ku dorong kau dari gedung tinggi biar ucapanmu itu terkabul."

"Kau menyeramkan, Chuya."

"Terserah. Pokoknya aku mau kau jadi pengiring ku dan aku tidak menerima penolakan."

"Tapi….."

"Sudah ku bilang tak ada penolakan. Hadapi masa lalumu dan teruslah melangkah menuju masa depan."

"Baiklah. Tapi, aku mau latihannya di rumah orang tuaku."

"Rumah orang tuamu ? "

"Iya. Kau keberatan ? "

"Tidak. Oh, ya, kompetisi di laksanakan saat akhir musim panas dan kita hanya punya waktu latihan yang tidak terlalu banyak jadi usahakan kau bermain dengan baik."

"Baiklah. Tapi, lagu apa yang ingin kau mainkan saat kompetisi concour nanti ?"

"Aku belum memutuskannya tapi beberapa lagu telah ku pilih. Aku akan memberitahumu secepatnya saat aku sudah menentukan lagu yang akan ku mainkan nanti."

"Ok. Oh, ya, Chuya…."

"Apa ? "

"Pipi dan kepalaku sakit akibat ulahmu. Ayo tanggung jawab."

"Itu salahmu sendiri kenapa membuatku kesal."

"Pokoknya tanggung jawab !"

"Baiklah. Nanti ku bantu mengompresnya, puas kau ?"

Dazai menjawabnya dengan sebuah cengiran tanpa dosa yang membuat Chuya kembali merasa kesal.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya Dazai pun mendapat kabar dari Chuya tentang lagu yang di mainkan saat kompetisi concour nanti. Saint-Saëns's Introduction and Rondo Capriccioso tertulis dengan jelas pada email yang dikirim oleh Chuya. Dazai pun membalas email Chuya dengan alamat rumah orang tuanya.

.

.

.

.

.

.

.

Dazai pun menghela nafas dan perlahan dia berjalan mendekati sebuah lemari kayu yang berisikan kumpulan buku partitur. Jemari-jemari lentik dan panjang milik Dazai menyentuh buku-buku partitur yang sudah lama tak dia pegang lagi sejak hari itu. Jemari-jemari itu berhenti saat menemukan judul lagu yang diinginkan oleh Chuya. Lagu yang di pilih oleh Chuya yaitu Saint-Saëns's Introduction and Rondo Capriccioso adalah lagu yang didedikasikan untuk pemain biola jenius, Sarasate.

Dazai pun berniat mencoba memainkan lagu yang ada dalam buku partitur tersebut. Di bukanya penutup tuts piano dan tak lama Dazai duduk dikursi kecil yang berhadapan dengan grand piano berwarna hitam legam. Dazai mengambil nafas sejenak dan kesepuluh jemarinya bersiap memainkan nada yang terdapat dalam buku partitur tersebut. Tapi, saat jemarinya ingin menyentuh tuts pianonya, kenangan dihari itu pun kembali berputar dan sukses membuat kesepuluh jemari Dazai bergetar hebat dan pada akhirnya Dazai memilih tidak bermain.

Tanpa Dazai sadari ada seseorang yang perlahan mulai mendekatinya dan sebelah tangan orang itu pun menepuk bahu Dazai pelan.

"Dazai onii sama….."

Dazai pun memeluk orang itu dengan erat dengan tangan yang gemetar hebat. Orang yang dipeluk merasa bingung sekaligus khawatir dengan keadaan Dazai yang tiba-tiba memeluknya dengan tangan yang masih terasa sangat bergetar. Orang itu memilih mengelus rambut ikal cokelat milik Dazai, menenangkannya dan berharap orang dalam pelukannya kini mau bercerita apa yang terjadi.

"Kau kenapa, onii sama ? "

"Aku takut."

"Tidak usah takut, onii sama. Ryuu selalu disini bersamamu."

"Iya, aku tahu. Tapi, aku selalu merasa takut ketika aku ingin bermain piano."

"Aku mengerti, onii sama. Kau masih belum bisa lupa kejadian di hari itu, ya ? "

"Iya. Tapi, aku harus bermain piano lagi karena ada seseorang yang mengingkan ku untuk menjadi pengiringnya di kompetisi concour akhir musim panas nanti. Apa aku bisa melakukannya dengan keadaanku yang masih seperti ini ? Aku harus bagaimana, Ryuu ? "

"Ryuu tidak harus menjawab apa atas pertanyaan, onii sama. Tapi, Ryuu menyarankan onii sama mengikuti kata hati dan pilih lah dengan bijak serta jangan menyesalinya."

"Kata hatiku, ya….."

"Ya. Ne, onii sama ingin secangkir teh chamomile ? "

"Jika kau tak keberatan aku mau satu cangkir teh chamomile ? "

"Baiklah. Tunggu sebentar, ya."

"Terima kasih dan maaf merepotkanmu, Ryuu."

"Tak apa-apa. Walau kita tidak sedarah, aku tetap menganggapmu seperti kakakku sendiri."

Sosok yang dipanggil Ryuu itu pun menghilang dari ruangan musik dan kini kembali sendirian di ruangan yang bisa dibilang cukup luas itu.

Drrttt….. Drrrrrrttt…

Ponsel Dazai bergetar panjang, tanda ada panggilan masuk dan seketika sepasang manik berwarna cokelat teduh itu pun terbelalak kaget. Chuya yang meneleponnya dan segera Dazai menjawab telepon dari Chuya sebelum sang penelepon mengamuk karena terlalu lama mengangkat teleponnya.

"Mo…"

"DAZAI NO TEME! Lama banget sih angkat telepon doing!"

Dazai langsung menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya karena jika tidak Dazai akan mengalami gangguan pendengaran karena kelakuan sang penelepon di ujung sana.

"Maaf Chuya tadi aku lagi di kamar mandi. Ada apa meneleponku ?"

"Aku sudah ada di depan gerbang rumah orang tuamu. Cepat bukain gerbangnya, baka!"

"Eh ? "

"Bukan eh, aho! Cepetan bukain gerbangnya!"

"Ok, tunggu sebentar. Aku segera ke sana."

Sambungan terputus dan Dazai segera berlari menuju keluar rumah orang tuanya. Pemuda bernama Ryuu pun terkejut saat sang pemuda yang dipanggil kakak olehnya itu berlari keluar dengan terburu-buru.

"Onii chan, ada apa ? "

"Ada temanku yang datang. Tolong buatkan minuman untuknya, Ryuu."

"Baiklah."

Dazai pun langsung menambah kecepatannya saat sudah kelua dari rumah dan tak butuh waktu lama pemuda bertubuh tinggi itu sudah sampai di gerbang. Benar saja Chuya telah ada disana dengan ekspresi wajah yang kesal. Segera Dazai membuka gerbangnya dan mempersilahkan Chuya masuk.

"Maaf membuatmu menunggu."

"Ku maafkan tapi lain kali tidak akan semudah itu aku memaafkanmu."

"Aku mengerti."

"Tak ku sangka rumah orang tuamu ternyata cukup luas, ya."

"Ya… begitulah. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam rumah saja ? "

"Ide yang bagus. Ayo…."

.

.

.

.

.

.

.

Saat masuk ke dalam rumah Dazai, seketika sepasang manik light blue nya melebar saat dia melihat sosok yang begitu familiar.

"Ryuunosuke ? "

Pemuda bernama Ryuunosuke itu juga ikut terkejut saat melihat sosok yang memanggil namanya. Tanpa ragu pemuda bernama Ryuunosuke itu pun menghampiri sosok yang memanggil namanya tadi.

"Chuya senpai ? "

"Iya. Ini aku. Hisashiburi."

"Hisashiburi mo, senpai. Sudah lama tak bertemu denganmu sejak kelulusanmu. Sekarang senpai tinggal di mana ? "

"Sekarang aku tinggal di kota ini. Oh, ya, kau kenapa ada di sini ? "

"Aku tinggal di sini, senpai."

"Eh ? Jangan bilang kau itu adiknya Dazai ? "

"Walau tak sedarah, aku tetap menganggap onii sama adalah kakakku. Senpai sendiri kenal onii sama dari mana ? "

"Ceritanya panjang kalau di ceritakan. Tapi, akan ku ceritakan nanti setelah aku dan dia selesai latihan."

"Latihan ? "

"Latihan untuk kompetisi concour akhir musim panas nanti."

"Senpai sudah tahu tentang keadaan kakak ? "

"Sudah."

"Ehmmm….."

Chuya dan Ryuunosuke pun mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara yang berdeham tadi.

"Maaf onii sama membahas tentang hal itu."

"Daijobu, Ryuu. Tapi, aku tidak menyangka kau kenal dengan tuyul yang satu ini."

Sebuah cubitan di berikan Chuya dengan senang hati dan alhasil Dazai langsung meringis kesakitan sambil mengusap pelan lengan kanan atasnya yang tadi dicubit oleh Chuya.

"Sekarang lebih baik kau tunjukkan di mana ruangan kita untuk berlatih."

"Baiklah. Oh, ya, Ryuu tolong bawakan camilan dan teh untukku dan Chuya, ya."

"Baiklah, onii sama."

Setelah itu keduanya pun berjalan bersama menuju ruang musik milik keluarga Dazai yang terletak di lantai 2.

Perlahan kehidupan Dazai Osamu pun mulai berubah. Dunianya yang dahulu berwarna monochrome yang membosankan perlahan memiliki warna lain sejak hadirnya Nakahara Chuya dihidupnya.

.

.

.

.

.

.

.

Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah tiba hari dimana kompetisi concour dilaksanakan. Selama satu bulan Chuya dan Dazai berlatih bersama. Hari-hari keduanya di isi oleh candaan, omelan, bahkan saling menghina. Walaupun begitu keduanya berlatih dengan serius walau kadang berakhir di pertengahan lagu karena Dazai mengalami hal yang sama saat di kafe dulu.

Rasa gugup dan takut tentu saja mendominasi Dazai bahkan dia terus menatap buku partitur yang berada dipangkuannya dan tidak memperhatikan hal lain. Bahkan Chuya yang sedang berbicara padanya pun tak ditanggapi olehnya. Karena merasa kesal, Chuya menarik kerah kemeja yang dipakai Dazai dan menghantukkan dahinya dengan dahi Dazai. Saking kerasnya bunyi benturan tersebut membuat orang-orang mengalihkan perhatian mereka ke arah Chuya dan Dazai.

Chuya dan Dazai sama-sama meringis kesakitan. Bahkan Dazai dibuat sampai jatuh berbaring di kursi panjang akibat kejadian tadi.

"Kau sudah tenang sekarang, hah ? "

"Apa yang kau lakukan, Chuya ? "

Tanpa aba-aba Chuya mendekatkan wajahnya, bahkan dahinya dengan dahi milik Dazai saling bersentuhan. Light blue bertemu dengan dark brown.

"Lihatlah dan dengarkan aku, Dazai. Kau terus saja melihat ke bawah dan melihat hal itu membuatku kesal karena kau terlihat seperti terpenjara dalam kurungan bernama partitur itu. Jangan khawatir, aku percaya kau bisa melakukannya. Usaha kau selama satu bulan ini tak akan sia-sia. Bersemangatlah."

Chuya pun menampilkan sebuah senyum simpul di wajahnya, memberikan semangat untuk sang pengiringnya hari ini yang dahulu di sebut pianis muda yang jenius.

Tak lama Dazai mulai merasa lebih tenang setelah Chuya memberikannya semangat lewat perbuatannya yang terkadang suka tidak tertebak dan Dazai merasakan kehangatan setelah melihat senyum Chuya tadi.

"No. 13, Nakahara Chuya san. Silahkan bersiap."

"Ya."

Tak lama Chuya pun menarik Dazai dengan lembut dan Dazai pun mengikuti Chuya yang kini ada di depannya. Dari belakang Dazai dapat melihat betapa kuat bahu yang terlihat tak terlalu lebar itu. Tak lama keduanya pun telah berada di atas panggung.

.

.

.

.

.

.

.

Riuh tepuk tangan penonton membuat Dazai rindu sekaligus dengan hari itu. Tapi, dalam hati Dazai telah bertekad untuk melawan rasa takutnya akan masa lalu. Dengan langkah yang tenang, dia pun mendekati grand piano yang terletak di tengah panggung.

Chuya dan Dazai bertatapan sebentar sebelum memulai permainan mereka.

"Jangan pasang ekspresi kaku begitu. Kau terlihat bodoh tahu."

Seperti biasa ucapan Chuya selalu sarkastik tapi Dazai sudah terbiasa dengan hal itu. Pertunjukannya keduanya pun segera dimulai…..

.

.

.

.

.

.

.

Dazai pun mulai menekan tuts piano dan perlahan melodi merdu mulai terdengar. Tak lama suara biola ikut menyertai dan membuat sebuah simfoni yang indah dan harmonis dengan piano. Awalnya semua berjalan normal hingga Chuya melakukan sesuatu pada permainan biolanya dan hal itu sukses membuat Dazai kaget dan kewalahan. Ya…. Chuya memainkan lagu yang ada dengan caranya sendiri.

Saat di pertengahan lagu tiba-tiba permainan piano Dazai berubah menjadi kacau dan nada-nada yang dimainkan mulai tak beraturan. Semua di sebabkan oleh bayang-bayang di hari itu. Hari di mana Dazai kehilangan sahabat yang paling berharga untuknya. Perlahan suara piano yang dimainkannya mulai tidak terdengar dan nada-nada dalam partitur yang dimainkannya sekarang mulai menghilang begitu saja. Para penonton dan juri mulai merasa kesal karena permainan Dazai mengacaukan penampilan Chuya yang masih bermain biolanya. Dazai dapat mendengar beberapa komentar penonton yang mencemooh dirinya.

"Kalau tidak bisa bermain jangan sok-sok an jadi pengiring."

"Pengiringnya malah mengacaukan pemain biolanya."

"Kasihan pemain biolanya karena punya pengiring payah seperti dia."

Tak lama Dazai menghentikan permainan pianonya sementara Chuya masih saja terus bermain.

'Maafkan aku, Chuya. Jika aku terus bermain, aku hanya bisa mengacaukan permainanmu.'

Selang tak berapa lama, Chuya ikut menghentikan permainannya dan tentu saja itu menjadi akhir baginya walaupun waktu mereka belum habis. Para penonton dan juri kecewa dengan hal itu. Chuya pun menoleh ke arah Dazai dan lewat tatapan mata Chuya mengatakan bahwa Dazai harus melanjutkan permainannya walau harus dimulai dari awal lagi.

"Ayo, kita mulai lagi."

"Tapi….."

"Pokoknya ayo mulai lagi. Kau pasti bisa."

Dazai menganggukan kepalanya. Chuya mulai memainkan biolanya lagi dan tak lama Dazai menyusulnya walau permainannya masih berantakkan.

Salah satu juri yang mendengar permainan mereka dibuat takjub saat mendengar permainan keduanya yang lebih cocok di anggap sebagai perkelahian. Dazai dan Chuya sama-sama pemain solo dan kemungkinan Dazai untuk jadi pengiring yang baik sangatlah kecil. Tak hanya juri itu saja yang terpukau tapi para penonton ikut terpukau oleh permainan mereka. Pada akhirnya Dazai dan Chuya dapat menyelesaikan permainan mereka walau dapat dipastikan mereka mendapat pengurangan point.

Dazai merasa senang karena bisa menyelesaikan satu lagu bersama dengan Chuya. Suara riuh tepuk penonton bergema di dalam ruangan kompetisi. Setelah memberi hormat, Dazai dan Chuya pun pergi menuju belakang panggung. Tapi, tanpa Dazai duga tubuh Chuya tiba-tiba jatuh ke arah belakang dan kehilangan kesadaran. Dengan sigap Dazai segera menahan tubuh mungil Chuya.

Seketika suasana dibelakang panggung berubah menjadi panik. Dazai pun terkejut melihat sosok yang tadinya memberi semangat padanya kini malah tergeletak tak berdaya di dalam pelukannya.

Sejak detik itu juga Dazai memiliki firasat buruk tentang waktu yang akan datang, walaupun belum begitu pasti. Dazai juga merasa jika Chuya menyimpan suatu rahasia yang mungkin tidak ingin diketahui orang lain.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue

.

.

.

.

.

.

.

Author Note :

Ohayou minna san ^_^

Riren kembali lagi membawa chapter kedua dari fict ini. YEAY :D *ok rame sendiri*

Pada akhirnya Riren bisa menyelesaikan chapter yang kedua ini *ngelap keringet*

Riren mohon maaf jika update fict ini dan fict yang lain begitu lama T^T soalnya Riren harus bagi pikiran dengan tugas kuliah Riren yang tidak ada habisnya XD

Untuk di chapter ini Riren sengaja ambil settingnya dari anime shigatsu karena jujur Riren masih belum begitu mengerti akan kompetisi musik dan segala hal yang berhubungan dengan itu. Jadi Riren mohon maaf jika ceritanya tidak begitu original tapi Riren usahakan di chapter depan akan lebih dominan cerita yang original dari Riren sendiri.

Riren mohon maaf apabila di chapter kedua ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, baik dari segi penulisan maupun ceritanya. Riren selalu menantikan review dari para reader san, baik kritik ataupun saran.

Mungkin hanya itu saja yang ingin Riren sampaikan dan sampai bertemu di chapter ketiga ya

See you in the next chapter….

RIREN