Present
~ JOURNEY ~
EXO FANFICTION
Main Cast : KAISOO COUPLE
Genderswitch
KIM JONGIN A.K.A KAI (NAMJA) X DO KYUNGSOO (YEOJA)
Support Cast : Akan bertambah seiring berjalannya ff
Rated: M
Genre : Family, Romance, Hurt/Comfort, Mary Life
Warning : Genderswitch, Typo(s) anywhere= lazy to edit hhheeee, OOC, cerita gaje,alur kecepetan, penyusunan kata yang tidak berdasarkan EYD, cerita sesuai apa yang dipikirkan hira :D
~Don't Like Don't Read~
Mungkin ini bakalan banyak obrolan dewasanya karena memang hira bikinnya begini kenapa di simpan di rate M karena alasan tadi, ga ada adegan nc, mature yang lain-lain dan juga jangan berharap yang aneh-aneh dan jangan berharap banyak akan hal itu ya :D peace.
Mohon maaf untuk segala kesalahan yang terdapat dalam cerita ini
Summary:
"Cehunie mau appa~~" rengeknya./"Cehunie lindu appa~~~" mendengar Sehun merengek membuat dada Kyungsoo terasa sesak dihinggapi keharuan. Sungguh, dia bisa melihat pancaran kebahagiaan di mata anak itu ketika memanggilnya eomma, dan betapa ia lebih tenang dan merasa nyaman ketika Kyungsoo menyambut panggilannya" it's Kaisoo as Main pair
Disclaimer : The story is real belong to my imagination, so in the other words it's belong to me :D
It's Kaisoo couple and genderswitch
Hope you like it and Happy Reading ^_^
.
.
Previous Chapter
"Detik itu Sohee pergi meninggalkan bayi mungilnya di tangan Jongin dengan senyum bahagia" Leeteuk mengakhiri ceritanya namun ketika ia memandang Kyungsoo yang mengerjap lucu, ia jadi tidak tahan untuk mencubit pipinya.
"Akh..ajhuma sakit" rengeknya.
"Suruh siapa kau melamun bagai orang tak percaya. Ceritaku itu sungguhan Kyungsoo" Leeteuk sedikit ngotot.
"Aku tidak percaya tuan besar sebaik itu" kini mata Leeteuk berubah sendu "Jongin…dia…."
-JOURNEY CHAPTER 3-
"Jongin…Dia… Dia seperti itu karena ia tak percaya cinta".
Satu kalimat yang keluar dari bibir Leeteuk berhasil membuat Kyungsoo membulatkan mata tak percaya. "Maksudku cinta orang lain. Yang hanya Jongin tahu adalah cinta pada keluarga dan saudara seperti eommanya, Sehun sahabatnya, appanya, Sohee, Minseok, dan anaknya- Kim Sehun".
"Ta-tapi kenapa?" Leeteuk tersenyum kecil "Dia pernah dihianati seseorang, ya seseorang yang menjadi eomma tirinyalah yang membuatnya tak pecaya cinta, cinta yang lain dalam kehidupan. Yang Jongin tahu taka da yang namanya cinta yang baru ataupun cinta yang lain, dan jika itu ada hal itu hanyalah penghancur bukan pengharmonis sebuah keutuhan".
Lagi..
Kyungsoo dibuat bingung dan berpikir keras.
"Kau tidak sedang berpikir kalau Jongin jatuh cinta pada eomma tirinya kan?"
SHOOT
Tepat sasaran, kenapa ajhuma tahu apa yang sedang aku pikirkan?-batinnya.
"Ishhh..kau ini dewasalah sedikit Kyung, usiamu hampir 20 tahun dan pikiranmu masih seperti ini?" Leeteuk tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Heran dengan gadis polos di sampingnya ini.
"Habis ajhuma aku kan tidak tahu apa-apa, kenal Kim Jongin saja aku baru dua minggu yang lalu".
"APA?" kini Leeteuk yang terkejut.
"Ya sudahlah, kau ini yeoja macam apa sih sampai-sampai tak tahu Kim Jongin sang pengusaha muda dengan kekayaan dimana-mana" gerutunya "Aku tak punya waktu untuk hal semacam itu" jelas Kyungsoo "Yang aku pikirkan hanya bagaimana makan esok hari dan hidup dengan damai tanpa harus di pukul dan kabur karena dijual".
Kini Leeteuk menoleh lagi pada Kyungsoo yang sedang memandang lurus kedepan.
"Mianhae" Kyungsoo tersenyum dan menggenggam tangan Leeteuk yang merangkul bahunya. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang ia ucapkan tadi "Gwenchana ajhuma, ayo lanjutkan lagi ceritanya" Leeteuk mengangguk dan kembali bercerita.
"Ibu tiri Jongin namanya Yoona, wanita itu datang pada appa Jongin seminggu setelah kematian Ny. Kim Heechul. Jongin sudah lama mengenal Yoona, ia tahu yeoja itu sangatlah baik dan perhatian pada keluarganya selama ini. Terlebih Yoona itu adalah sahabat eommanya, Jongin senang dengan Yoona karena ia murah hati dan sangat lembut hampir menyamai ibunya. Tapi Jongin dibuat terkejut ketika sang appa-Hankyung akan menikahi Yoona, Jongin benar-benar menolak mentah-mentah karena ia pikir taka da yang boleh menggantikan posisi sang ibu. Dari situ Tn. Kim memberinya pengertian bahwa ia sangatlah mencintai mendiang eommanya, dan ia takkan pernah bisa mengganti posisi eomma Jongin hanya saja tak mungkin ia membiarkan Jongin hidup tanpa kasih sayang seorang ibu dan appanyapun membutuhkan sosok istri. Lalu akhirnya Jongin setuju karena Yoona baik untuk appanya. Tapi…"
Leeteuk menghembuskan nafasnya berat.
"Itu tak berlangsung lama. 4 bulan setelah pernikahan semua jadi berantakan. Kondisi Tn. Hankyung drop seketika padahal ia sehat-sehat saja sebelumnya, awalnya hanya demam biasa karena terlalu lelah tapi kondisi itu tak berujung baik dan Jongin tak pernah diizinkan untuk bertemu dengan sang appa barang sedikitpun. Yoona selalu mengatakan bahwa appanya belum bisa ditemui, dan Jongin hanya bisa menurut saja hingga tiga bulan lamanya Jongin masih tak bisa bertemu dengan appanya karena penjagaan ketat yang dilakukan Yoona di kamar tuan Kim. Hingga Jongin mengambil langkah sendiri, dia memata-matai semuanya dengan orang suruhannya. Jongin anak yang cerdas, beruntung karena dia juga anak yang jahil jadi ide kejahilannya itulah pengungkap segalanya. Segalanya tentang eommanya, tentang appanya dan juga tentang ibu tirinya".
Tess
Tess
.
.
Setitik air mata kembali jatuh dari mata yeoja paruh baya itu, Kyungsoo yang berada didekatnya hanya bisa mengusap punggung rapuh itu. Leeteuk sekarang sungguh sangat membutuhkan seseorang untuk menahan kepedihannya.
"Jongin..Jongin..hiks..hiks..aku tahu itu sangatlah menyakitkan baginya hiks.." Kyungsoo membawa Leeteuk dalam peluknya.
"Ssssttt..sudahlah ajhuma jangan diteruskan. Jangan diteruskan lagi jika ini sungguh menyesakkkan" Kyungsoo merasakan Leeteuk menggeleng dalam dekapannya "Aku ingin kau mengerti dan tak membencinya Kyung hikss…hikss..aku sungguh prihatin pada keluarga ini hikss..".
Kyungsoo makin memeluk Leeteuk "Aku akan berusaha ajhuma, aku akan berusaha untuk tidak membenci tuan besar" kembali Leeteuk menggeleng.
"Jongin dia…"
"Eomma~~~"
Belum sempat Leeteuk meneruskan ucapannya suara khas dan parau itu sayup-sayup terdengar mengejutkan Kyungsoo dan leeteuk yang tengah mengobrol.
"Eomma~~" kini suaranya agak bergetar dan Leeteuk buru-buru melepas pelukan Kyungsoo "Cepatlah Sehun membutuhkanmu" setelahnya Kyungsoo mengangguk dan beranjak pergi menemui Sehun yang tengah berjalan kearah tempatnya duduk bersama Leeteuk dengan masih mengucek matanya.
"Ada apa sayang?" Kyungsoo meraih Sehun dalam gendongannya sebelum anak itu menangis "Cehunie haus mma" jawabnya atas pertanyaan Kyungsoo dan mereka segera melenggang ke dapur.
.
.
"Sehunie belum mau tidur?" tanya Leeteuk yang kini duduk dihadapan Sehun dan melihat respon bocah itu tengah menggeleng sambil membuka-buka buku ceritanya di pangkuan Kyungsoo. Ya, setelah dari dapur dan minum segelas air Sehun merasa segar dan tak mau tertidur, maka jadilah ia berada di ruang keluarga bersama Leeteuk dan Kyungsoo.
"Mungkin dia tertidur terlalu sore jadi sekarang tak bisa tidur" Leeteuk menggangguk "Mma, Cehunie lindu appa" keluhnya dengan aksen cadel khas yang imut membuat Kyungsoo berhenti mengusap kepalanya.
"Appa akan pulang sayang tiga hari lagi" Sehun mengerucutkan bibirnya dan pipinyapun menggembung tanda ia kesal.
CHUP~~
Kyungsoo yang gemas mencium pipi yang menggembung itu, sungguh ia baru bisa melihat betapa lucunya Sehun kecil tengah beragyeo padanya "Eomma~~~" Sehun mulai merengek dan dua wanita dewasa disitu hanya bisa terkikik melihat tingkah lucunya.
"Cehunie mau appa~~" rengeknya.
"Cehunie lindu appa~~~" mendengar Sehun merengek membuat dada Kyungsoo terasa sesak dihinggapi keharuan. Sungguh, dia bisa melihat pancaran kebahagiaan di mata anak itu ketika memanggilnya eomma, dan betapa ia lebih tenang dan merasa nyaman ketika Kyungsoo menyambut panggilannya, 'Sehun berubah' itulah yang Kyungsoo tahu.
"Sehunie rindu appa eum?" Sehun mengangguk "Bagaimana kalau Sehunie tidur dulu dan besok eomma akan menelpon appa pagi-pagi saat Sehun sudah bangun" Kyungsoo melotot kaget atas ucapan Leeteuk yang dengan seenaknya menjanjikan sesuatu pada bocah cerdas dipangkuannya ini "Ajhuma.."
"Jinjja…jinjja halmoni? Eomma akan melakukannya?" Kyungsoo tambah shock melihat Sehun yang antusias sambil tersenyum senang kearah Leeteuk.
'Astaga ia tersenyum?' batin Kyungsoo lagi dan sudah dipastikan ia takkan bisa menolak jika Sehun sebahagia ini "Betul kan eomma?" Leetuk dan Sehun mengalihkan pandangannya kearah Kyungsoo dengan tatapan polosnya "I…i..iya na..nanti eomma telpon appa dibantu halmoni nde" ucapnya tergagap dan Sehun memeluknya erat saking senangnya.
"Gomawo eomma Cehuni cayaaaaaangg eomma!" pekiknya girang.
CHUP~~
CHUP~~
Sehun menciumi pipi Kyungsoo bergantian dengan riangnya.
DEG~~
DEG~~
Bukan main melambungnya hati Kyungsoo, tak sadar matanya yang sedari tadi berkaca-kaca kini air mata itu menetes begitu saja, sementara Leeteuk sudah kembali menutup mulutnya agar tak terisak dengan airmata mengalir dipipi dengan derasnya.
"Eoh! Eomma menangic?" Sehun keheranan melihat Kyungsoo yang menangis "Eomma cakit?" tanyanya sambil mengusap air mata Kyungsoo dengan tangan mungilnya namun masih taka da jawaban dari Kyungsoo, ia hanya menatapi bagaimana Sehun melihatnya dan merasakan bagaimana anak ini begitu lembut menyentuh pipinya.
"Mma~~" Sehun yang tak mengerti lantas berkaca-kaca melihat Kyungsoo yang hanya diam dan menangis membuatnya ingin menangis juga "Hikc..hikc..".
Kyungsoo terkesiap mendengar tangis itu, dan ia baru sadar bahwa ia sudah terlalu lama berada dalam kungkungan perasaan harunya sendiri.
"Eo? Sehunie mianhae, eomma membuat Sehunie menangis nde" Sehun mengangguk "Eomma kenapa? Eomma cakit? Apa Cehunie nakal?" Kyungsoo segera menggeleng.
"Ani chagya, eomma sedang merasa senang" jelasnya.
"Hiks..tapi eomma menangic?" Sehun masih terisak "Eomma menangis karena senang sayang" dan kini Sehun sesenggukan mencoba untuk berhenti menangis, ia bingung bagaimana bisa eommanya menangis karena senang? Pikirnya.
"Eum eomma senang, senang karena Sehunie mau bicara pada eomma, eomma senang melihat Sehunie yang tersenyum, eomma senang karena Sehunie merasa senang" jawabnya.
"Kenapa?" tanya Sehun masih berusaha mengendalikan isakannya "Karena Sehunie sudah tidak diam lagi sama eomma" ucapnya sambil mengarahkan wajah Sehun untuk menatapnya dan menghapus air mata dipipi gembil Sehun.
"Uljima sayang, dengarkan eomma ya?" Sehun mengangguk patuh dan mulai terdiam "Sehunie anak eomma?" Sehun mengangguk.
"Sehunie sayang eomma?" anak itu kembali mengangguk.
"Nah Sehunie anak baik kan?" Sehun masih mengangguk lagi "Karena Sehunie anak baik jangan diam lagi seperti kemarin ya?" Sehun diam tak mengerti.
"Eomma ingin Sehuni selalu tersenyum untuk eomma dan appa juga semua orang yang sayang dan Sehuni sayangi, jika ada apa-apa bilang pada eomma dan appa, jika ingin menangis maka Sehunie boleh menangis setelah itu tidak boleh diam otte?" Sehun anak yang cerdas ia mengerti maksud ucapan Kyungsoo.
"Cehunie kemalin malah cama appa" jelasnya.
"Appa tidak mau ajak Cehunie main, appa celalu pelgi jadi Cehunie cendilian dan eomma tidak pulang-pulang. Cehunie malah pada eomma dan appa" Kyungsoo merasa terenyuh dengan ucapan Sehun.
"Kenapa eomma pelginya lama? Kenapa balu kembali? Cehunie kan lindu eomma" ucap Sehun yang kini memeluk Kyungsoo kembali.
Hupff rasanya hati Kyungsoo dihimpit rasa senang dan sedih seharian ini apa lagi dengan kejadian sekarang "Eomma..jangan pelgi lagi ya" Kyungsoo menangis lagi, Sehun sungguh menganggapnya ibu yang sebenarnya dan ini sungguh menyesakkan.
Kyungsoo mengangguk dan menciumi pundak kecil Sehun 'Biarlah seperti ini, kuharap tuan besar tak memakiku jika kembali Tuhan, tapi walaupun ia akan murka aku akan tetap menyanyangi Sehun' ucapnya dalam hati. Ia sudah memantapkan dirinya untuk menjaga Sehun apapun yang terjadi.
.
.
.
Jepang 08.00 am
~Nal annaehaejwo, Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo, Oh, sesangui kkeuchirado dwittaragal teni. Budi nae siyaeseo beoseonaji marajwo achimi wado sarajiji marajwo oh. Kkumeul kkuneun georeum geudaen namanui areumdaun nabi~
Pagi yang cerah dan menenangkan sebelum lagu tanda panggilan masuk membangunkan Jongin dari tidur singkatnya, sungguh ia sebenarnya masih ingin terlelap mengingat ia baru tertidur jam.4 pagi tadi karena memeriksa ulang dokumen projek yang akan ia jalin bersama Mr. Toshio jam satu siang nanti. Tapi mendengar ponselnya yangberbunyi, mau tidak mau ia harus terjaga.
Tanpa melihat siapa yang menelpon ia menggeser tanda hijau diponselnya. Dan seketika matanya terbuka selebar-lebarnya yang bukan Kim Jongin sekali.
"APPA!"
Suara khas anak kecil memanggilnya dengan riang. Jongin yang merasa ada kesalahan kini melirik nama yang ada di ponselnya dan nomor itu menunjukkan nomor Korea, lebih tepatnya rumahnya sendiri.
"APPA!" suara itu masih memanggil-manggilnya dan ia jadi tergagap sendiri.
"Se….sehun" panggilnya pelan namun sepertinya masih bisa terdengar oleh sipenelpon.
"Nde appa ini Cehunie kkkkk~~~" terdengar suara khas itu terkikik seolah ada yang lucu dengan dirinya. Sementara Jongin belum bisa berkata apa-apa karena saking terkejut dan belum percaya bahwa Sehun –anaknya- yang benar-benar sedang berbicara padanya.
"Appa waeyo?" pertanyaan yang keluar begitu polosnya membuat dada Jongin sesak. Sebagai seorang appa yang membesarkan Sehun sendirian dan belum mengerti apa-apa mengenai anak tentu hatinya tengah berkecamuk saat ini.
"Ah..Ani appa…appa…"
"Appa mianhae" Jongin yang sedari tadi tergagap-gagap terdiam mendengar Sehun kecil meminta maaf. "Cehunie lindu appa..hikc.." Oh betapa melambungnya hati Jongin, bahwa ini benar-benar Sehunnya, putranya yang selama ini selalu terdiam bak anak autis kini tengah berbicara padanya. Dan apa tadi dia bilang? Rindu? Oh benarkah?.
Seketika senyuman yang selama ini selalu bersembunyi itu menampakkan ketulusannya. Ya, Jongin tersenyum dan matanya mulai berkaca-kaca, sungguh ia ingin menangis mendengar Sehun bicara terlebih anak itu merindukannya. Tak tahukah Sehun, bahwa appanya sangat merindukannya melebihi dirinya?.
"Iya nak appa juga rindu Sehunie. Uljima. Sehunie jangan menangis ya" nasihatnya pada Sehun. "Appa mianhae" lagi Sehun mengulang permintaan maafnya "Wae? Kenapa minta maaf?" tanya Jongin keheranan. Jujur saja Jongin bukanlah tipe yang mengingat kesalahan kecil terlebih putranya sendiri.
"Cehunie nakal dan cudah malah cama appa kemalin" jelasnya "Cehunie mendiamkan appa kemalin" Jongin tersenyum mendengarnya 'Kemarin?' batinnya 'Teryata dia tidak merasa jika sudah marah begitu lama padaku, kau marah setahun lebih nak' ucapnya lagi dalam hati namun ia hanya tersenyum saja, masih diam menanti kelanjutan ucapan Sehun.
"Appa maafkan Cehunie ya~~~"
'Oh ternyata dia sudah bisa merengek manja seperti ini' batin Jongin lagi. Ia bingung karena hatinya meledak-ledak bahagia tapi pikirannya diliputi pertanyaan bagaimana Sehun bisa seperti sekarang dan ia harus berterimakasih pada seseorang yang membuat Sehun bisa seperti sekarang.
"Nde, appa maafkan Sehunie, tapi janji ya jangan marah lagi pada appa" Sehun mengangguk walau Jongin tak dapat melihatnya.
"Nde, acal appa janji halus main cama Cehunie cetiap hali dan jangan bikin eomma pelgi lagi ya" kini kening Jongin yang mengerut di kalimat akhir yang ia dengar dari Sehun.
'Eomma? Eomma siapa?' oh sepertinya otaknya akan meledak karena terlalu banyak berpikir. Tapi ia tak mau menghancurkan perasaan anaknya, cukup nanti saja ia bertanya.
"Bagaimana kalau tiap hari libur? Appa kan harus kerja sayang" Jongin mencoba bernegosiasi selembut mungkin dnegan Sehun.
"Bagaimana eomma? Appa bilang cetiap hali libul kalna appa halus kelja" sayup-sayup Jongin mendengar Sehun bertanya pada seseorang yang ia panggil eomma, meminta persetujuan sepertinya.
"Oke appa, cepakat" Sehun berujar dengan semangat.
"Nah itu baru anak appa" dan ia mendengar lagi Sehun tertawa bahagia.
"Appa, cudah dulu ya kata eomma Cehuni halus mandi dan salapan hheee. Appa cepat pulang ya calanghe" kini air mata itu benar-benar menetes dari pelupuk matanya. Jongin, yang begitu dingin dan angkuh kini hatinya begitu tersentuh hanya dengan kata-kata seorang anak kecil yang sebentar lagi akan genap berusia 3 tahun.
"Nado saranghae, appa akan cepat pulang dan bawakan Sehunie banyak mainan oke?" terdengar pekikan senang dari sang anak.
"Nde appa mmmuuaaaccchhhh".
Tak ada lagi pembicaraan, telpon terputus meninggalkan Jongin yang tersenyum sambil menangis bahagia di dalam kamarnya yang masih gelap karena gorden yang masih tertutup d pagi ini.
.
.
.
.
"Kau sakit?" suara berat itu menginterrupsi Jongin yang tengah membereskan berkas-berkas yang baru saja sukses ditandatangani. "Wae? Apa ada yang salah denganku hyung?" si penanya mengguk "Kau tidak sadar kau tersenyum-senyum sendiri setelah pada investor itu pergi?" Jongin membatu, ia tak sadar bahwa ia seperti apa yang Chanyeol katankan.
"Benarkah?" Chanyeol mengangguk "Aigooooo..uri Jonginnie sedang senang eoh?" Jongin mendecih, ia tak suka jika Chanyeol sudah menggodanya. "Tapi aku senang, sudah lama aku tak melihat kau sesenang ini, ada apa eoh? Apa kau jatuh cinta? Pada istrimu itu?" Jongin terdiam. Wajahnya kembali dingin, ya, Chanyeol salah satu sahabatnya yang paling dekat setelah Sehun ini sudah ia anggap sebagai hyungnya sendiri. Dan tentu Chanyeol sudah tahu semuanya, semua tentang Kyungsoo dan kelakuan Jongin yang menurutnya jahat pada Kyungsoo. namun selama ini Chanyeol hanya diam, menunggu Jongin berubah namun masih nihil.
"Ani, tapi Sehun" Chanyeol segera terdiam, ia juga sangat hafal dengan keadaan Sehun. "Anak itu sudah mau bicara?" dan anggukan serta senyumanlah yang Chanyeol dapat dari ayah beranak satu itu.
"Wow..chukae Jongin, Baekie akan sangat senang mendengar ini" pekiknya "Ya, maka dari itu hyung ayo kita belanja hari ini, aku ingin cepat pulang dan memberi hadiah untuk Sehun" Chanyeol mengacungkan jempolnya.
"Oke aku akan ajak Baekie sekalian" Jongin mengangguk menyetujui.
.
.
.
.
Kini Sehun dan Kyungsoo tengah berbaring di kamar Jongin dengan Kyungsoo yang memeluk Sehun dari belakang, hari ini Sehun meminta Kyungsoo untuk tidur bersamanya dikamar sang appa. Cahaya kamar yang remang menandakan jika hari sudah gelap, namun sang bocah belum mau memejamkan manik polosnya yang bisa membuat orang gemas melihatnya.
"Eomma" panggilnya pada sang eomma yang masih setia mengusap lembut kepalanya "Wayo?" yeoja yang menjadi eommanya bertanya singkat "Appa kapan pulang mma?" Kyungsoo tersenyum, seharian ini Sehun selalu bertanya soal Jongin dan itu cukup menunjukkan bahwa anak ini benar-benar tengah merindu.
"Appa pulang dua hari lagi sayang" Sehun berbalik menghadap Kyungsoo, tangannya ia lingkarkan ke pinggang sang eomma untuk mencari kehangatan dan kenyamanan "Eomma becok belkebun ya~" Kyungsoo tersenyum melihat wajah mungil itu begitu dekat dihadapannya "Nde, besok kita berkebun" Sehun tersenyum "Tapi Cehunie ingin tanam lumput yang banyak eomma?" Kyungsoo terdiam "Kenapa Senuhie ingin tanam rumput, itu kan tidak bisa dimakan Sehunie?" Kyungsoo mencoba bertanya.
"Ani, ini bukan buat Cehunie tapi untuk Boom dan Moon eomma, kelincinya Minho hyung" jelasnya dan Kyungsoo baru ingat. Tetangganya yang baru dikenal tadi pagi yang pernah dilihat oleh Sehun dan dirinya di jendela ternyata pasangan eomma dan anak itu adalah Jinho dan Minho.
Sama dengan Sehun, Minhopun bermarga Kim. Ayahnya bernama Kim Jonghyun sedangkan yeoja cantik nan kalem itu adalah Kim Jino –ibu Minho- dan ketika baru berkunjung Minho mengajak Sehun bermain dengan kelincinya yang baru didapat dari sang appa.
Mendengar permintaan Sehun, jujur Kyungsoo agak ragu, karena mana mungkin Kim Jongin membiarkan rumahnya dipenuhi rumput hanya karena untuk dua ekor kelinci. Dan sudah pasti Jongin takkan pernah mengizinkan karena rumput liar akan membuat mansion mewahnya bak rumah hantu tak terawat.
"Bagaimana kalau kita tanam wortel saja?" Sehun menggeleng tanda tak setuju "Ani..kelinci Minho hyung makannya lumput dan tidak makan woltel mma" Kyungsoo tersenyum dan kembali mengusap kepala Sehun.
"Apa Sehunie lupa? Kalau kelinci sangat suka makan wortel?" Sehun diam ia mencoba mengingat-ngingat dongeng-dongeng dan acara TV yang selalu ia tonton dan semua kelinci yang dilihatnya memang memakan wortel.
"Tapi mma kelinci Monho hyung tidak makan woltel cungguh" Kyungsoo mengerti Sehun hanya sedang kebingungan dan mencoba menjelaskan padanya "Apakah Sehunie sudah bertanya pada Minho hyung kalau kelincinya tidak makan wortel?" Sehun menggeleng tanda ia belum bertanya pada temannya itu.
"Bagaimana kalau dicoba dulu, besok kita main kerumahnya dan Sehunie tanya pada Minho hyung apakah kelincinya makan wortel atau tidak" Sehun berpikir sejenak dan kemudian mengangggukan kepalanya "Eomma, telepon kelumahnya Minho hyung caja ya, kan Cehunie belum bica bawa makanan kelincinya jika belkunjung kecana" Kyungsoo megangguk atas niat baik putranya "Baiklah besok kita telpon Jinho imo ya, sekarang Sehunie tidur dulu ini sudah malam".
Dan akhirnya malam ditutup dengan mereka yang tidur saling berhadapan dengan pelukan Sehun yang mengerat dan kepala bocah mungil itu melesak ke dada Kyungsoo untuk mencari kehangatan lebih dari sang ibu.
.
.
.
.
"Kau sungguh akan pulang pagi ini juga?" tanya suara wanita yang kini tengah membantu Jongin mengepak barang sementara Jongin mengepak kopernya sendiri "Kau ini padahal kita masih bisa bersantai dan jalan-jalan seharian ini sebelum pulang ke Korea besok" tambah namja yang berstatus suami dari wanita yang tengah mengepak barang tersebut.
"Aku tahu hyung, tapi anakku merindukanku dan kurasa taka da salahnya pulang cepat karena pekerjaan kita sudah selesai" jelas Jongin sambil menutup kopernya tanda ia sudah selesai "Waaahhhh bebarti aku bebas berdua-duaan denga istriku seharian ini" ucap Chanyeol girang "Cih, kau ini seperti tidak pernah berdua-duaan dengan istrimu saja" cibir Jongin "Ya aku memang sering berduaan dengannya tapi selalu terasa kurang" Jongin hanya mendelik sebal begitupun Baekhyun istri Chanyeol sendiri "Dasar, otakmu saja yang mesum jadi tak puas-puas menjamah istrimu"
"YA!"mendengar ucapan Jongin yang frontal otomatis membuat Baekhyun malu setengah mati dan berteriak padanya. Ya, pasangan ini sudah seperti keluarga jadi mereka tahu bagaimana Jongin diluar maupun Jongin yang sebenarnya ketika bersama orang terdekatnya. Jongin sungguh berbeda 90 derajat dan Baekhyun akan merasa lebih malu lagi jika sudah seperti ini karena Chanyeol akan tambah memperpanjang masalah dan lebih vulgar lagi.
"Memangnya aku tidak tahu isi kepalamu bocah? Kau juga sama mesumnya" tuh kan Suaminya ini akan mulai memancing keributan dan..
PLAK!
PLAK!
Keduanya berakhir meringis menahan perih pukulan Baekhyun di lengan masing-masing "Kalau kalian berdebat seperti ini maka kau tidak akan pulang-pulang" ucapnya pada Jongin yang tengah menyeringai karena Chanyeol tak akan bisa membantah istrinya dalam kondisi sempit ini "Baiklah tapi bagaimana kalau kita sarapan dulu selagi sempat?" ucap Chanyeo mengalah dan Jongin mengangguk "Kajja noona" Jongin menggamit tangan Baekhyun dan Chanyeol yang melotot terkejut baru sadar ketika Jongin sudah berada diambang pintu.
"YA! Lepaskan tangamu dari istriku!" pekiknya tapi keduanya hanya tersenyum dan melenggang cepat kedapur. Oh, ternyata Jongin dan BAekhyun ingin sedikit mengerjai Chanyeol rupanya.
.
.
.
.
10.45 am Seoul Korea Selatan
Langkah tegap dan terburu-buru Jongin di tengah bandara mengundang perhatian public yang melihatnya, kebanyakan remaja dan wanita-wanita terpesona dengan wajah tampan dan dinginnya yang membuat ia menjadi makin berkarisma namun objek yang mereka perhatikan hanya menatap kedepan dengan angkuhnya menuju kearah bodyguard yang sudah menunggunya di depan pintu keluar.
Ya, walaupun angkuh tetap saja tak menurunkan bahkan menyurutkan yeoja-yeoja itu untuk mengagumi seorang Kim Jongin, pria yang mereka semua ketahui telah berputera namun belum beristri itu. 1 jam 45 menit penerbangan yang ia lakukan dari Nagoya menuju Seoul baginya terasa begitu lama karena tak sabar memberi kejutan pada sang anak yang tengah merindu.
.
.
"Kau yakin hanya kau saja yang tahu aku pulang hari ini kan pak Kang?" sang supur yang duduk didepannya mengangguk sambil tersenyum membuat wajah yang termakan usia itu memperlihatkan kebahagiaannya karena tuannya telah pulang.
"Baguslah kalau begitu, dan apakah terjadi sesuatu dirumah selama aku pergi?" tanyanya penasaran "BAnyak tuan, tapi semua itu adalah hal menyenangkan dan saya bisa menjamin itu" Jongin jadi teringat anaknya "Apa itu karena Sehun?" sang supir kembali tersenyum "Bisa dibilang begitu" Jongin mengerti arti ucapan supirnya ini dan ia masih belum puas dengan jawaban seperti ini "Jadi apa?" tanya Jongin to the point.
Dan sang supir mulai menampakan wajah sendunya, membuat Jongin mengerut keningnya "Ada apa? Apakah ini ada hubungannya dengan eomma yang Sehun panggil?" sang supir tersentak kaget, Jongin bisa melihat dari wajahnya "Saya harap anda tidak akan murka setelah mengetahui semuanya tuan" Jongin hanya diam, menampakkan wajah datar dan dinginnya seperti biasa. Jujur saja, ia memang akan berterimakasih pada penyelamat putranya tapi ia tak bisa jika Sehun memanggil orang lain dengan sebutan eomma. Oh tak tahukah kau Jongin bahwa yang dipanggil Sehun adalah orang yang kau nikahi?.
Hanya keheningan yang terjadi setelahnya.
.
.
"Eomma begini?"
Sehun kecil kini tengah mempraktekkan cara menanam wortel yang baru saja Kyungsoo ajari di kebun belakang mansion Kim, setelah sebelumnya menelpon Minho ternyata jawaban sang Kyungsoolah yang Sehun setujui karena Minho bilang kelincinya sangat suka wortel tapi dirumah Minho persediaan wortel sudah habis jadi Minho memberinya rumput karena itupun sama saja makanan kelinci, bukan.
"Aigoo Sehunie pintar, betul begitu sayang" seru Kyungsoo dan Sehun tersenyum senang karena dari beberapa benih yang ia tanam benih hanya satu ini yang sempurna di tangannya-maklum ia masih kecil.
"HOLEE! Cehunie berhacil eomma, cekalang disilam dengan pupuk atau ail?" tannyanya lagi
"Dengan pupuk" Sehun berlari mengambil penyiram kebun miliknya sendiri, karena Kyungsoo tak mengizinkan Sehun menggunakan peralatan berkebun orang dewasa. Itu akan membuat pupuk yang akan disiram tumpah dan kau tahu sendiri kan pupuk itu bau karena berasal dari kotoran hewan.
Sehun berlari mencari penyiram pupuk, walau keringat membanjiri tubuhnya, tanah menempeli pipi, kening, tangan dan bajunya ia tetap tersenyum saking senangnya bercocok tanam dikebun bersama Kyungsoo-eommanya.
Kyungsoo hanya tersenyum melihat Sehun begitu aktif dan ceria beberapa hari ini. Tanpa mereka sadari sebuah mobil telah tiba dipekarangan mansion megah itu.
.
.
KRIETT!
Pintu terbuka dan Leeteuk yang tengah memeriksa ruang depan terkejut melihat sosok tampan itu berdiri di depanya.
"J..jongin?" Jongin mengangguk mendengar panggilan dengan nada tak percaya itu "Ta..tapi kau harusnya pulang besok kan?" Jongin memutar bola matanya malas.
"Pekerjaanku sudah selesai disana dan apakah aku tidak boleh pulang kerumahku sendiri?" Leeteuk menggeleng "Bukan itu masalahnya kau jarang berlaku begini" Jongin mengerti memang ini kedua kalinya dia seperti ini, yang pertama karena Sehun sakit dipesawat dan yang kedua karena ia merindukan Sehun.
"Dimana Sehun?" satu pernyanyaan menghentikan penjelasan Leeteuk "Ada dikebun belakang rumah" Jongin segera melangkahkan kakinya kebelakang mansionnya diikuti Leeteuk, ia penasaran apa yang akan dilakukan Jongin jika putranya ada disana.
Dan mata Jongin melebar setelahnya, pemandangan yang ada dihadapannya ini belum pernah ia lihat. Ya, disana di hadapannya ada Sehun yang tengah berlari kearah Kyungsoo yang tengah berjongkok, sepertinya yeoja itu tengah memperbaiki satu tanaman yang kurang rapi dan Sehun memeluk lehernya dari belakang dan nampaklah Kyungsoo yang terkejut sementara Sehun tertawa senang bisa mengejutkan eommanya.
Jongin yang melihatnya Nampak tak berkedip, ia merasa takjub melihat putranya yang berubah 360 derajat seperti ini. Sehun yang bertingkah lucu, Sehun yang bergerak dengan begitu aktif, Sehun yang tersenyum tiada henti dan Sehun yang terus berceloteh dengan segala aksen cadelnya yang benar-benar Jongin rindukan, yang mungkin tak bisa jika Jongin wujudkan selama ini.
Jongin terus terdiam beberapa lama hingga satu pekikan menyadarkan diri dari kebahagiaan yang ia dapat pagi ini.
"APPA!"
Sehun berlari kearahnya dengan riang dan Jongin segera berjongkok meraih putranya dan…
HUP!
Sehun berada digendongannya sekarang, walaupun baju kotor dan tubuh kecilnya bau keringat yang khas, Jongin tak memperdulikannya justru ia makin mengeratkan gendongannya, menikmati wangi khas putranya yang bau kecut seperti acar namun terasa lembut dipenciuman.
"Appa bogochippo" ucap Sehun sambil menyandarkan dagu di bahu kokoh sang appa "Nado, appa juga sangat rindu Sehunie" ucapnya sambil terus menciumi kepala putranya dan sesekali keleher yang membuat Sehun terkikik kegelian.
Setelah beberapa lama, Jongin melonggarkan dekapannya dan mereka berdua bisa saling menatap satu sama lain "Anyeong appa, celamat datang" lagi, senyum yang lama menghilang itu kini kembali diwajah Jongin.
"Nde appa pulang sayang" jawabnya "Appa, tahu tidak Cehunie cedang menanam woltel dengan eomma".
Lagi.
Satu pertanyaan itu muncul dibenak Jongin, sejak kapan Sehun punya eomma? Pikirnya. Dan pertanyaan itu segera terjawab saat Sehun turun dari gendongannya dan berlari ketengah kebun kembali.
"EOMMA!"
Mata Jongin membulat, dihadapannya Sehun berteriak lantang menyadarkan yeoja itu dari pekerjaan menutup tanah. 'K-kyungsoo?' batinnya namun Kyungsoo yang ia lihat masih menunduk, kentara sekali yeoja itu salah tingkah dan ketakutan.
TBC
Anyeong chingu..akhirnya hira hanya kembali dengan chapter 3 Journey. Mianhae kalau baru sempet update sekarang coz hira sibuk banget dengan kerjaan hira dan ceritanya sepertinya acak-acakan ya? Mian, hira lama ga nulis dan ide bergelimpangan tapi ga bisa konsen buat nyambung-nyambunginnya semoga chingu semua tidak kecewa dengan tulisan hira di chap ini ya?
Mian kalau nunggu lama hheee..and Jeongmal Gamsahamnida buat yang nunggu, baca, Review, Fav and Follow ff hira selalu. Jeongmal Gamsahamnida dan mian sekali lagi kalau hira belum bisa balas review seperti biasa tapi hira selalu baca kok review chingu semua. Trust me .
Nah untuk Chap 4 hira akan menunggu Respon chingu selama 4 hari kedepan ya..Mian harap sabar mnunggu *wink wink
*DEEP BOW
