Unexpected Tragedy

by

N-Yera48

Rate M -for contents & violence

Genre: Drama, Tragedy

Summary:

Kecerobohan Yoongi berujung pada kematian orang tersayangnya.

WARNING!

Death Fic

Shounen-ai/BL/Boys Love

Maybe it's your NOTP

So...

Don't Like, Don't Read

It's so simple, right?

.

.

.

© N-Yera48

.

.

.

Bermodalkan pencahayaan dari lampu di meja nakas, Yoongi melihat ia mendekat. Laki-laki, memakai jaket serta masker berwarna hitam.

'Tenang, Yoongi. Tenang. Kau bisa melawannya.'

Saat sosok itu sampai tepat di samping ranjang, Yoongi bangun tiba-tiba dan...

"ARRGH!"

"SIAPA KAU?"

Yoongi menusuk lengan tamu tak di undang itu lumayan dalam dengan gunting. Pria itu beringsut mundur beberapa langkah. Yoongi berdiri dengan posisi siaga, gunting di tangan kanannya diacungkan ke arah sosok yang sedang meringis dengan cairan merah pekat mulai menetes dari lengannya.

Yoongi mundur perlahan, tangan kirinya bergerak menghidupkan lampu kamar. "MAU APA KAU, BANGSAT!"

Terdengar langkah kaki menaiki tangga dengan terburu-buru. "YOONJI! ADA APA, NAK?!"

Pria berpakaian serba hitam itu melarikan diri. "Kau akan menyesali semua ini!"

"Jangan kabur, sialan!"

Yoongi mengejar, namun pria itu sudah menghilang setelah melompati balkon kamar.

"Yoonji! Buka pintunya! Ada apa, sayang?!" Terdengar Chaerin menggedor-gedor pintu kamar dengan panik.

Tak ingin membuat ibunya semakin khawatir, Yoongi bergegas membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, Chaerin segera menghambur memeluk putri kesayangannya. "Kenapa kamu teriak larut malam gini? Ada apa? Astaga!"

Chaerin terkejut bukan main saat melihat gunting berdarah di tangan anaknya.

"Darah? Apa apa ini, Yoonji?"

Saat melihat gunting berdarah di tangannya, barulah ketakutan menguasai Yoongi.

"Ma, ta-tadi ada pria masuk ke kamarku." Tunjuk Yoongi ke arah balkon dengan pintu terbuka lebar.

"APA?!"

• • •

"Gimana, pak?"

"Kami hanya menemukan tetesan darah yang mulai mengering di lantai kamar dan sudah kami amankan bersama gunting untuk kami selidiki pelakunya. Selebihnya tak ada jejak lain yang tertinggal, baik di kamar mau pun di pekarangan rumah. Dugaan sementara pelaku ingin mencuri mengingat beberapa hari yang lalu ada kasus pencurian di sekitar sini."

Tadi Chaerin langsung menghubungi pihak kepolisian. Ia sangat takut terjadi apa-apa terhadap Yoonji dan dirinya.

"Terima kasih, pak. Semoga pelakunya cepat ditemukan." Chaerin harap-harap cemas. Sungguh ia tidak ingin kejadian seperti ini terulang.

Yoongi hanya diam mendengar pembicaraan ibunya dengan polisi. Ia takut, berbagai macam spekulasi mengusik dirinya.

Benarkah pria itu hanya hendak mencuri? Atau mungkin ada maksud yang lebih jahat, dia ingin mencelakai Yoonji. Tidak, tidak. Jangan sampai itu terjadi. Yoongi tidak bisa membayangkan jika yang berada di posisinya semalam adalah kembarannya Yoonji. Apa Yoonji mampu melawan sosok itu? Apa dia-

"Yoonji."

Yoongi tersentak merasakan sentuhan lembut di bahunya. "Ah! Iya, ma. Polisinya mana?"

"Sudah pergi." Chaerin sungguh khawatir, Yoonji pasti trauma dengan kejadian yang dialaminya hingga melamun seperti ini.

"Kamu mandi dulu sana. Berendam sama air hangat biar badanmu enakan. Mama mau buat sarapan dulu."

"Baik, ma."

Yoongi menaiki tangga menuju kamar Yoonji. Seperti kata ibunya, berendam dengan air hangat untuk merilekskan tubuh.

Setelah mandi, Yoongi kembali berdandan ala Yoonji. Kamar yang terlihat lumayan kacau dirapikan kembali. Mulai dari membereskan tempat tidur, hingga mengepel lantai yang masih terdapat sedikit tetesan darah pelaku yang tidak terambil polisi.

Yoongi melihat pintu balkon masih terbuka, buru-buru ia tutup dan kunci serapat-rapatnya. Yoongi teringat Yoonji, segera ia ambil ponselnya di meja nakas untuk mengirim pesan ke adik kembarnya itu.

Yoongi

P

P

Yoonji?

Udah bangun?

Yoongi masih menunggu balasan, sampai ibunya memanggil dari luar pintu kamar.

"Yoonji, makan dulu yuk."

"Iya, ma." Yoongi meletakkan ponselnya kembali ke meja nakas dan bergegas keluar kamar.

Drrrrrrtttt... Drrrrrrrrrtttt...

Ponsel yang baru saja diletakkan Yoongi bergetar.

Yoonji is calling...

• • •

Yoongi melihat 3 panggilan tak terjawab dari Yoonji. Kembali ia mengirimkan pesan untuk adiknya.

Yoongi

P

Iya, Yoonji.

Yoonji

Kak Yoongi kemana aja sih? Di telpon tadi ga diangkat.

Yoongi

Tadi lagi sarapan sama mama. Kamu udah?

Yoonji

Udah juga. Papa udah pergi pagi-pagi. Sendiri nih. T_T

Yoongi

Mama juga lagi di ruang kerjanya. Mau ngomong? Telpon aja lagi.

Yoonji

Yaaahh.. Pulsanya udah abis, kak. Telponan sama Jungkook tadi. Kangen denger suaranya. Hehe..

Yoongi

Dasar. -_-

Oh ya, kakak mau nanya sesuatu nih.

Kamu punya musuh ga? Atau mantan yang putusnya ga baik-baik?

Yoonji

Kak Yoongi kok nanyanya gitu sih? :"(

Adikmu yang cantik ini ga pernah nebar kebencian kakak~

Mantan apaan? Pacaran aja baru pertama kali sama Jungkook.

Yoongi

Iya deh, iya. Ga usah lebay ah.

Ada kejadian nih. Nanti kakak cerita pas jumpa ntar sore ya.

Yoonji

Oke oke sip.

• • •

"Ma, aku pergi bentar ya."

"Mau kemana?" Chaerin keluar dari ruang kerjanya. Selesai makan siang tadi, ia kembali berkutat dengan laporan-laporan dari karyawannya.

"Mau kumpul sama kawan bentar."

"Ga boleh."

"Eh?"

Yoongi terkejut, biasanya selama sebulan ini ia pamitan dalam wujud Yoonji selalu dibalas dengan, 'Oke, hati-hati ya.' oleh Chaerin.

"Kamu ga takut ketemu orang jahat pas jalan sore-sore gini?"

"Eum, ma. Aku bisa jaga diri kok. Lagi pula kan aku udah terbiasa keluar sore gini."

Chaerin lantas memeluk erat Yoongi. "Untuk saat ini jangan keluar dulu ya, kecuali sekolah. Kalo ke sekolah kan dijemput Jungkook, jadi ga papa. Ya?"

Mendengar nada bicara ibunya yang sedikit bergetar, Yoongi jadi merasa bersalah. Ia balas memeluk Chaerin. "Iya, ma. Yoonji ga jadi pergi."

Padahal Yoongi harus kembali jadi dirinya sendiri hari ini. Besok sekolah. Haduh, gimana ini?

• • •

Setelah menghubungi Yoonji untuk mengabari bahwa ia tak bisa pulang karena ditahan Chaerin, akhirnya ditemukan solusi. Bukan solusi sebenarnya, tapi tak ada cara lain.

Besok Yoongi pergi ke sekolah harus memakai seragam sekolah Yoonji dan pergi dijemput Jungkook -agar tidak menimbulkan kecurigaan Chaerin jika itu Yoongi-. Yoonji membawa seragam sekolah Yoongi dan bertemu di taman kota. Setelahnya, mereka berganti pakaian di toilet umum taman kota tersebut sebelum berangkat sekolah. Oke, sip.

Yoongi

Jangan lupa kabari Jungkook untuk menjemputku lebih awal. Kalo ga kita bakal telat.

Yoonji

Sip, kak. Kak Yoongi tenang aja.

Yoongi menyimpan ponselnya dan bersiap tidur. Pintu balkon sudah digembok oleh ibunya. Antisipasi.

• • •

Tidak nyaman. Sangat-sangat tidak nyaman. Pertama kali selama Yoongi menyamar jadi Yoonji, ia harus memakai rok. Biasanya ia selalu memakai celana. Bahkan piyama yang dipakai untuk tidur pun selalu ia pilih yang bercelana. Sungguh Yoongi menghindari yang namanya rok. Sekarang apa? Ia terpaksa memakai seragam Yoonji dan roknya itu pendek! Beberapa sentimeter diatas lutut.

Iya sih kaki Yoongi itu cantik dan ramping, tak kalah cantik dengan kaki adiknya. Tapi tetap saja, Yoongi kan laki-laki.

Jungkook, cepatlah datang. Batin Yoongi seraya memakan roti panggangnya.

Tak lama setelah itu, bel rumahnya berbunyi. Yoongi berucap syukur berulang kali karena itu pasti Jungkook.

"Ma, aku berangkat sekolah dulu ya. Itu Jungkook udah datang."

"Ayo sekalian ke depan, mama mau ketemu Jungkook."

Pintu depan dibuka, menampilkan sang ketua OSIS pacarnya Yoonji.

"Selamat pagi, tante." Jungkook membungkuk sopan dan tersenyum manis.

"Pagi juga, Jungkook. Jaga Yoonji baik-baik. Pulangnya nanti kamu antar juga ya. Tante percayakan Yoonji sama kamu."

"Baik, tante." Jungkook menarik tangan Yoongi untuk digenggamnya, kemudian dikecupnya pipi Yoongi sekilas. "Terima kasih sudah mempercayakan Yoonji pada saya."

Yoongi? Jangan tanya. Dia beku layaknya es karena dikecup oleh sang ketua OSIS. Jungkook ini aktingnya keterlaluan ga sih?

"Aigoo, anak muda jaman sekarang ya." Chaerin hanya terkekeh geli.

"Kami berangkat ya, tante."

"A-aku berangkat, ma."

Jungkook masih menggenggam tangan Yoongi hingga ke motornya, memasangkan helm ke Yoongi dan bersiap untuk pergi.

"Ayo naik."

Yoongi perlahan naik dibelakang Jungkook. Haduh, pahanya keekspos. Yoongi malu bukan main.

"Udah?"

"U-udah." Yoongi pegangan di pundaknya Jungkook.

Jungkook menjalankan motornya, namun baru saja beberapa meter, Yoongi mulai bersuara.

"Aku kan Yoongi, kakaknya Yoonji. Seharusnya kamu ga perlu akting sampe cium pipi segala."

"APA?!" Jungkook rem mendadak.

"HEH! JANGAN REM SEMBARANG! KALO KITA JATOH GIMANA?!" Yoongi yang kaget refleks teriak dan memukul pundak Jungkook kuat.

"Aduh!" Jungkook usap-usap pundaknya yang nyeri kena pukulan.

"Jadi kamu Yoongi?"

"Lho? Yoonji ga bilang?"

"Ga. Semalam dia cuman kirim pesan minta dijemput lebih awal."

Hening.

Pipi keduanya mulai memerah mengingat kejadian tadi.

"Ma-maaf udah lancang cium pipi kamu. Ku kira tadi Yoonji." Asli Jungkook malu semalu-malunya.

"Ehem, ga papa. Udah, ayo jalan. Kita ketemu Yoonji di taman kota dulu."

"O-oke."

Sesampainya di taman kota Yoongi segera turun, melepaskan helm dan menyerahkannya pada Jungkook. Kemudian menghampiri Yoonji yang duduk di salah satu bangku taman.

"Kak Yoongi-eh?"

"Kamu kok ga bilang sama Jungkook kalo aku yang kamu suruh jemput?" Yoongi langsung menarik Yoonji mendekat dan berbisik dengan nada kesal.

"Kenapa emang kak? Jungkook awalnya ga tau kak Yoongi itu bukan aku kan? Berarti kemiripan kita sudah terbukti." Yoonji malah tersenyum bangga.

Ingin rasanya Yoongi mengetok kepala kembarannya ini agar sedikit waras. Tapi sebisa mungkin ditahannya.

"Udah ah. Mana seragam kakak? Kakak ganti duluan."

Yoonji menyerahkan tas kantong berisi seragam Yoongi.

Tidak jauh dari tempat si kembar berada, Jungkook hanya menatap bingung. Kok bisa Yoongi menyamar jadi Yoonji?

"Oh!"

Ketiganya menoleh ke arah sumber suara.

"Kok Yoonji ada dua? Satu berseragam, satunya lagi ga."

Park Jimin, yang entah sejak kapan dan bagaimana bisa berada di taman kota juga.

Sepertinya si kembar harus menjelaskan situasi ini pada dua orang sekaligus.

.

.

.

To be continue.

Halooo~ adakah orang disini? Hehe..

Terima kasih bagi yang udah mau mampir di fanfic ini.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~

Love,

N-Yera48