Diawali dengan bertemu mayat, eh salah, mantan-calon-mayat. Lho, kok? Mama itu apa? Orang yang gak takut monster atau ulat bulu. Keren! Sekarang dia ada dimana, Pa? Cari saja sendiri. Oke! Misi seorang pemberani cilik yang mencari Mama. Ini bukan Honey Bee Hachi, lho ya.

Yuusuke's Mission –Looking for Mama-

By: Ame Pan

Genre:

Family, Drama, Humor

Rate: T

Character:

Naruto Uzumaki as Naruto Namikaze, Sasuke Uchiha as Sasuke Uchiha, OC as Yuusuke Uchiha, etc.

Naruto © Masashi Kishimoto

OC Yuusuke Uchiha © Ame Pan

OC Nobuki © Ame Pan

WARNING! Bagian ini terlalu banyak kata-nya, jadi tidak saya cek ulang. Hati-hati ranjau typo.

Keterangan: bentuk […] adalah pecakapan via telepon.

.

.

.

Bagian 3/3: Satu, Dua, Tiga, Sayang Semuanya!

"Haahh," kalau mau dihitung sudah lebih dari dua puluh kali Narto menghela napas hari itu. Bukan hanya karena fakta ini hari senin, tapi juga karena sejak kemarin sampai pagi tadi kejadian yang dia alami sangatlah hectic. Kalau benar mitos menghela napas sama dengan membuang usia, maka mungkin saat ini Naruto sudah mati kering.

Kemarin malam akhirnya ia, Yuusuke dan Sasuke makan malam dirumah. Selama di dalam mobil dalam perjalanan pulang, si kecil Yuusuke tak henti-hentinya menangis sambil memanggil Naruto (baca: Mama). Padahal saat itu ia sendiri tengah dipangku oleh Naruto di kursi penumpang sebelah kursi kemudi. Yuusuke tidak bisa diam. Mulai dari memeluk dada Naruto dan membenamkann seluruh tubuhnya hingga berdiri memeluk leher dan kepala si-calon-Mama-nya. Sambil terus menangis dan meminta maaf ia terus mengusap-usapkan wajahnya pada baju Naruto. Bisa diprediksi baju pemuda pirang itu penuh dengan liur, air mata, dan mukus.

Dengan masih terisak (namun sudah tidak menangis meraung-raung) ia mulai menanyakan banyak hal. Mulai dari 'Apa Mama sayang pada Yuu?' hingga 'Mama kapan menikah dengan Papa?' yang dijawab penuh rasa sabar dari kedua pihak yang bersangkutan. Akhirnya Yuusuke tenang –walau sesekali masih terisak- dengan memainkan wajah Naruto. Ia terus memerhatikan tampang androgini itu. Mulai dari mengusap pipi, mendekatan wajahnya pada wajah Naruto dan memerhatikannya lekat-lekat, hingga klimaksnya keluarlah kalimat, "wajah Mama cantik." Dan akhirnya tidur dengan damai.

Mengingatnya membuat Naruto menggeram kesal, tak terima wajah tampannya dikatai cantik. Naruto tak sadar diri sering dilihati orang-orang menyimpang dikampusnya, yang tertarik pada wajah cantiknya.

Sampai dirumah, saat Naruto hendak mengambil baju ganti Yuusuke, tiba-tiba si Uchiha kecil bangun dan menangis. Ternyata bocah lincah itu demam. Mungkin karena kelelahan. Secara mental dan fisik. Wajah Naruto sontak menjadi sendu ketika mengingat ekspresi tersiksa bocah itu. Hingga pagi tadi demamnya belum turun. Yuusuke terus merengek ingin bersama Naruto bahkan ketika sang pengasuhtelah datang. Setelah dibujuk oleh Sasuke bahwa ia dan Naruto akan pulang cepat dan membawa cake kesukaannya barulah Yuusuke membiarkan Papa dan calon-Mamanya itu pergi.

"Yo, Naruto!" suara tenor Kiba membuatnya keluar dari lamunannya.

"Ou, Kiba," sapanya balik sambil membalas uluran kepalan tangan sahabatnya itu, tos ala mereka.

"Kau sudah makan?" tanya Kiba, yang memang membawa senampan menu makan siang dari konter pemesanan. Mereka saat ini sedang ada di kantin fakultas seni budaya.

"Belum, malas mengantri," jawab Naruto, "sedang apa kau disini? Tidak ada kelas?"

"Ada satu, tadi pukul 10.00, ternyata dosennya tidak datang." Jawab Kiba sambil mengaduk sup ayam miliknya.

"Tumben kesini, biasanya ke tempat pacar." Sinis Naruto.

"Hei, kau itu kenapa sih? Senang sedikit dong kalau aku hampiri. Jarang-jarang mahasiswa kedokteran hewan sepertiku punya waku luang. Memangnya sepertimu,"

"Heh, apa maksudmu itu? Kau kira anak seni tidak sibuk apa?"

"Habisnya kalau kuperhatikan anak jurusan seni selalu bertebaran di taman atau lapangan. Seperti yang jarang dapat kelas."

"Justru itu kami sedang ada kelas. Tugas individu. Kami disebar untuk mencari inspirasi." Jawab Naruto setelah mencuri gigit roti daging Kiba. "Ngomong-ngomong Shikamaru mana?"

"Ada kelas. Entah kenapa akhir-akhir ini anak kriminologi sibuk semua. Jangan-jangan mereka sedang menangani kasus besar ya?"

"Dasar bodoh. Kau tidak tahu saja, Rusamu itu sedang selingkuh." Dan Kiba sukses tersedak.

"Jangan sembarangan kau!" tak terima Kiba melempar remah roti dagingnya pada Naruto. "Lagipula mau selingkuh dengan siapa? Orang membosankan begitu. Aku saja mungkin kena guna-guna."

Naruto terkekeh mendengar curhatan sahabatnya itu. Bagaimana tidak, nyatanya memang Shikamaru, pacar Kiba itu orang yang tidak pernah "memulai" dan lebih sering mengatai berbagi hal dengan kata 'membosankan'. Cukup kaget juga dia dulu waktu Kiba memberi kabar kalau ia pacaran dengan Shikamaru, si Jenius namun pemalas dari jurusan kriminologi.

"Tapi mungkin juga sih," ujar Kiba tiba-tiba sambil memasang tampang serius.

"Hah?"

"Yah, akhir-akhir ini dia sering kutemui jalan dengan anak satu jurusannya. Kau tahu, yang mukanya pucat seperti mayat dengan mata dan rambut hitam kelam itu." Kiba merengut total, "lihat saja kalau sungguhan, kuberi virus rabies baru tahu rasa dia!"

Dan sukses tawa Naruto pecah membahana seisi kantin.

.

.

.

[Selamat siang, dengan kediaman Uchiha-Namikaze]

"Ah, Nobuki, ini aku Naruto." Agaknya Naruto kesal dengan introduksi yang diberikan pengasuh Yuusuke itu.

[Ah, Tuan Naruto, ada yang bisa saya bantu?]

"Tidak, sebenarnya aku hanya ingin menanyakan keadaan Yuusuke."

[Tuan muda sedang tidur, beliau baru makan siang dan saya berikan obat.]

"Bagaimana dengan demamnya? Apa sudah membaik?"

[Demamnya menurun. Wajahnya juga tidak sepucat saat pertama saya datang.]

"Oh, syukurlah kalau begitu."

[Ah, Tuan, belum lama tadi, Tuan Sasuke sempat menelepon, dan berpesan untuk menyampaikan pada anda, pukul empat sore nanti beliau akan menunggu anda di café yang waktu itu anda berdua datangi.]

"Hah?" dahi Naruto berkerut bingung, "Oh, baiklah, Nobuki, terimakasih. Tolong sampaikan salamku pada Yuusuke. Bye."

"Siapa itu Nobuki?" Kiba muncul di belakang Naruto tiba-tiba.

"HUAAA!" melompat, Naruto hampir saja melempar ponselnya karena kaget. "Kiba! Kau itu apa-apaan sih?"

Mengangkat bahu, "habisnya kau menelepon sambil memojokkan diri begitu. Jelas aku curiga. Siapa itu Nobuki? Pacarmu?" tanya Kiba sambil fokus pada tugasnya di laptop.

"Bukan. Pengasuh."

Tak. Suara tombol spasi pada laptop yang di tekan terlalu kencang memulai keheningan dantara Kiba dan Naruto. Kiba spontan menengok tajam. Menatap Naruto layaknya berkepala burung.

"Apa?" tanya Naruto risih.

"Kau pacaran dengan pengasuh? Astaga Naruto setidak laku itukah dirimu?"

"Idiot! Dia bukan pacarku. Dia pengasuh-nya Yuusuke."

"Siapa pula Yuusuke? Pacarmu? Akhirnya kau homo juga-aduh! Hei!"

"Apa? Mau kepalamu kena cium sepatuku sekalian?"

"Kau itu sedang PMS ya? Sensitif sekali." Ujar Kiba sambil merengut dan mengusap kepalanya yang kena jitak Naruto. "Aku kan hanya bertanya."

"Pertanyaanmu itu tidak berbobot. Selalu tentang pacar-pacar… kau itu kenapa peduli sekali dengan dunia percintaanku, sih? Ibuku saja tidak seantusias dirimu." 'sekalinya antusias langsung ada perjodohan.'

"Aku cuma heran, orang sepertimu kenapa belum juga punya pacar. Padahal yang mengantri banyak." Jawab Kiba kembali serius pada laptopnya.

"Masa sih? Kok aku tidak sadar?"

"Iya, bahkan dari fakultasku ada yang membicarakanmu."

"Hah? Sepopuler itu?" Kiba mengangguk tanpa menoleh. "Siapa namanya?"

"Shino Aburame."

"Hah? Ada ya, perempuan yang namanya seperti itu? Terdengar sangat laki-laki."

"Memang laki-laki."

"HEEH?"

"Toh memang yang mengejarmu itu laki-laki semua-HEH LAPTOPKU!"

"Mati saja kau!" pekik Naruto sambil mengangkat tinggi laptop Kiba, niat merusaknya.

"Iya-iya aku minta maaf. Tolong kembalikan~!"

Dengan agak membanting Naruto meletakkan laptop Kiba diatas meja kantin. Sukses membuat Kiba menjerit ngeri dan fokus mengelus-elus laptop setelahnya.

"Hei, Kiba,"

"Apa?" sahut Kiba ketus.

"Kau ada niat menikah dengan Shikamaru tidak?"

Hening.

"Kau ada niat apa sampai bertanya begitu, Naruto?" tanya Kiba hati-hati. Salah-salah laptopnya dibanting sungguhan kali ini.

"Menurutmu kalau kau menikah dengan Shikamaru nanti, pandangan orang-orang seperti apa? Maksudku, apa kalian akan bahagia, walau nanti ditentang khalayak banyak?"

Lama, Kiba berpikir sambil memandang Naruto.

"Tentu aku mau menikah dengannya. Itu jadi impianku juga akhir-akhir ini. Namun saat kami membicarakan hal itu, entah kenapa aku jadi mau menangis sendiri."

"Kenapa begitu?"

"Ya, seperti yang kau bilang, di luar sana akan ada banyak pihak yang menentang. Walau memang akhir-akhir ini hubungan sesama jenis jadi lumrah, namun tak sedikit juga yang masih anti, kan? Syukurnya, kedua orangtuaku dan Shikamaru adalah tipe yang berpikiran terbuka. Setidaknya masih ada yang mendukung kami."

Naruto diam. Dalam hati ia menyetujui hal itu.

"Tapi tak masalah, mau kami ditentang dunia pun, aku akan mencari kebahagiaanku bersama Shikamaru." Ujar Kiba dengan senyum yakin terpasang apik di wajahnya. "Ahahaha, apasih, kenapa jadi melankolis begini"

"Hum tidak kok menurutku hebat kalau kau punya tekad kuat begitu. Semoga kau bahagia, Kiba, aku akan terus mendukungmu." Ujar Naruto sambil memukul pelan bahu Kiba.

"Terimakasih kawan." Kiba membalas dengan cara yang sama. "Ngomong-ngomong ada apa kau tiba-tiba penasaran dengan hubunganku dan Shikamaru?"

"Eh? Err… itu... sebenarnya aku dijodohkan oleh ibuku dengan anak sahabatnya."

"Hee… ada hubungannya dengan Yuusuke yang tadi?"

"Ya, dia putra dari orang yang akan dijodohkan denganku."

"Wow, sekali tepuk dua lalat didapat, ya? Boleh juga."

"Hahh benar juga sih. Tapi masalahnya…"

"Kenapa?"

"Aku dijodohkan dengan pria."

"…"

"Om-om pula,"

"…"

"Ya, tidak setua itu sih, usianya 28 tahun,"

"…"

"Oi Kiba,"

"…"

"…"

"Astaga, aku mabuk ya? Rasanya aku mendengar hal yang tidak masuk akal barusan." Ujar Kiba sambil mengurut dahinya.

"Kurang ajar! Aku serius, bodoh!"

"EEEH? JADI SUNGGUHAN?"

"Ssst jangan teriak-teriak!"

"Ups, maaf." Kiba refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Tapi yang tadi itu sungguhan atau tidak?"

"Serius, terserah kau mau percaya atau tidak. Saat ini kami sedang tinggal di satu apartemen, katanya sebagai pendekatan dan pembiasaan."

"Oh, ehem, tinggal serumah ya? Hati-hati ya."

"Hah?"

"Jangan pura-pura polos kau, Naruto. Masa kau tidak mengerti?" Naruto menggeleng. "Ituloh 'itu'."

Berpikir sebentar Naruto hening, hingga akhirnya wajahnya merona hebat. "Kiba, kau mesum!" desis Naruto. "Hah! Jangan bilang kau dan Shikamaru…"

"Hmm… menurutmu kami harus menahan diri?"

Wajah Naruto berubah pucat, "astaga Kiba! Kau-.. ukh, aku ada kelas, permisi."

"Kenapa malah pergi? Dasar polos."

=====sweet=====

Suara lonceng pintu terdengar tanda ada pengunjung yang memasuk café kecil itu. Sebuah kepala bersurai pirang melongok mengedarkan pandangan sebelum akhirnya masuk kedalamnya. Dia memerhatikan seluruh kursi yang tersedia, mencari seseorang yang memang sudah ada janji dengannya. Disana, di tempat yang sama dengan dua hari lalu ia bertemu dengan orang itu untuk pertama kalinya. Pria berambut raven yang kini tengah sibuk dengan Tablet-nya.

"Kau terlambat lima belas menit." Ujar pria itu begitu Naruto sampai di mejanya.

"Berisik, aku bahkan sampai membolos kelas untuk menemuimu." Sahut Naruto sambil mendudukan dirinya di hadapan si pria.

Sasuke, nama pria itu, hanya melirik kemudian menyesap kopi hitam yang ia pesan sebelum si pirang datang.

"Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Naruto.

Sasuke terdiam sesaat, terlihat seperti sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk ia sampaikan.

"Ini tentang Yuusuke,"

Naruto diam menyimak.

"Kau jelas tahu bahwa usianya yang sekarang sangat membutuhkan figur seorang ibu. Sudah saatnya juga aku untuk menikah. Ya, seperti katamu, aku sudah om-om."

Suara balon yang dikerat menunjukkan kalau sang lawan bicara berusaha keras menahan tawanya. Sasuke mendelik, kesal pun ditelan olehnya.

"Sebenarnya bisa saja aku mencari wanita di luar sana dan meminangnya saat itu juga," Sasuke berhenti bicara saat mendengar gumaman 'dasar sombong' dari Naruto. "Tapi kau tahu sendiri, aku tidak bisa sembarangan menikah. Aku tidak ingin Yuusuke merasa tidak senang dengan orang yang kunikahi, karena pada dasarnya alasan utama aku menikah adalah untuk Yuusuke. Ya, walau secara biologis aku sendiri juga butuh 'penyaluran'."

Naruto tersedak ludahnya sendiri.

"Bi-bisakah kau langsung saja pada intinya?" entah kenapa Naruto jadi gugup dan merona. Dalam hati ia mengutuk Sasuke atas pemilihan katanya yang tidak tepat.

"Intinya, aku ingin kau menerima perjodohan ini."

"Hah?"

"Kau mendengarku dengan baik, Naruto."

"Kau gila? Kita bahkan baru mengenal selama tiga hari."

"Untuk itulah diadakan pertunangan, Dobe."

"Jangan mencelaku dasar om-om pedofil."

"Kau bukan anak dibawah umur, jadi aku bukanlah pedofil."

"Terserah! Yang jelas aku tidak akan menerima perjodohan itu."

"Sadarkah kau? Yuusuke sangat menyukaimu, ah, tidak, kurasa ia menyayangimu dan benar-benar menganggapmu sebagai Mama-nya."

"Huh, itu hanya sementara. Anak kecil akan suka pada suatu hal dan kelamaan akan melupakannya. Lagipula kalau ia sudah besar dia juga akan malu sendiri pernah menganggap seorang pemuda sebagai Mama-nya."

"Kau membenci Yuusuke?"

"Tidak, tentu saja tidak." Agaknya Naruto terkejut dengan pertanyaan Sasuke.

"Apa kau menyayanginya?"

"Ya."

"Kau lihat sendiri kan kemarin, bagaimana ia menangis meraung-raung meminta maaf padamu. Ia menginginkanmu. Dan jujur saja aku sebagai Papa-nya tidak pernah melihatnya sebegitu menginginkan sesuatu, dan bagiku itu artinya Yuusuke serius ingin kau jadi Mama-nya."

Naruto terdiam. Ia bingung. Memang benar, ia juga merasa bertanggung jawab atas menangisnya Yuusuke kemarin. Anak itu haus kasih sayang. Tapi kenapa harus dia?

"Kau sendiri, apa kau baik-baik saja menikah dengan sesama pria? Baru kau kenal pula."

"Kalau yang kau cemaskan adalah pandangan orang tentang hubungan sesama jenis, maka aku tidak peduli. Mereka tidak punya hak atas hidupku. Di cerca? Heh, bahkan kalau mereka melemparkan batu padaku hidupku tetap milikku. Masa depanku tetap aku yang tentukan."

Naruto menatap Sasuke penuh rasa kagum. Aura yang dikeluarkan Sasuke rasa-rasanya sama ketika Kiba menjelaskan kalau ia ingin menikah dengan Shikamaru. Apa itu? Keyakinan diri tingkat tinggi?

Ah, bukan, itu cinta.

Eh?

"Lalu bagaimana dengan perasaanmu?"

"Hn?"

"Err itu… menikah bukan hanya masalah tinggal bersama, kan? Maksudku, bukankah kita harus saling me-mencintai?" rasanya Naruto ingin mengubur dirinya sendiri. Kenapa pula ia harus berdebar saat mengatakan hal barusan?

Tak ada jawaban. Sasuke justru menopang dagunya dengan tangan kanannya sambil memerhatikan Naruto lekat. Agaknya Naruto risih juga, masalahnya rasanya seperti diintai elang.

"A-apa?'

Menghela napas, "Kurasa bisa."

"Apanya?"

"Putraku saja tidak ragu menginginkanmu setulus itu. Jadi, tidak ada salahnya untukku menyukaimu. Kurasa kau juga tidak buruk. Jago memasak, kelihatannya juga penyayang, apalagi wajah androgini-mu lumayan membuatku tertarik,"

Merona, Naruto merona hebat. Padahal kalau ada orang yang mengatainya cantik saja tinjunya pasti ambil peran. Pria di hadapannya sedang bermulut manis tapi Naruto malah diam dan merona.

"Tinggal latihan menjadi ibu rumah tangga yang baik kurasa cukup,"

"Diam." Desis Naruto, ia menunduk menyembunyikan wajah pink-nya.

"Tak perlu wanita kurasa tak apa, lagipula aku sudah punya seorang putra."

"Diam." Kali ini desisannya agak berbahaya.

"Oh, latihan melayaniku juga kurasa penting,"

"…"

"Terutama diatas ranjang."

"MATI SAJA KAU OM-OM MESUM!"

Inginnya sih teriak begitu, tapi Naruto masih sadar diri kalau mereka sedang ada di tempat umum. Akhirnya ia menginjak kaki Sasuke keras. Dan itu mampu membuat Sasuke menggigit bibir menahan teriakan menyayat hati dan membenturkan dahinya pada meja café, membuat secangkir kopi panas yang jadi pesanannya oleng dan tumpah mengenai telinganya. Yak, sial combo. Namun karena Sasuke pria tampan dan berani ia tidak juga berteriak. Kuat, Sasuke kuat!

"Aku pulang duluan. Kau, jangan lupa membeli cake yang kau janjikan pada putramu. Permisi Tuan Uchiha."

.

.

.

"Mama, Yuu boleh makan biskuitnya?"

"Sebentar Yuusuke, itu baru matang, masih panas."

"Tidak kok, Yuu bisa tiup-tiup nanti."

"Tunggu sebentar lagi, sampai semua biskuitnya matang, baru kubuatkan susu cokelat dan Yuusuke boleh makan semua biskuitnya."

"Benarkah?"

"Iya."

"Bagian Papa juga boleh Yuu habiskan?"

"Cih, Papa-mu sih tidak perlu diberi."

"Hee jadi ini semua buat Yuu?"

"Iya, makanya sekarang Yuusuke ikut Bibi Nobuki, mandi dulu, sudah hampir malam."

"Yeay~ ayo Nobu, Yuu mau mandi air hangat ya." Dan Yuusuke belari ke kamar mandi diikuti Nobuki, sang pengasuh, dengan patuh

Naruto menggeleng tak percaya. Ia lupa kalau walaupun Yuusuke masih kecil, ia tetap seorang tuan muda dari keluarga Uchiha. Bisa bersikap berkuasa dan seenaknya. Lihat saja bagaimana ia memberi perintah dan memanggil pengasuh-nya dengan nama langsung padahal jelas-jelas jauh lebih tua darinya.

Begitu pulang kerumah tadi ia langsung disambut oleh Yuusuke yang langsung melompat ke arahnya. Untungnya ia dengan tangkas langsung menangkapnya, kalau tidak alamat membuat anak orang terluka. Nobuki, sang pengasuh saja sampai panik melihat tuan mudanya yang bagaikan atlit lompat jauh, melompat dari jarak dua meter demi berada di pelukkan sang-calon-Mama.

Melamun. Naruto akhir-akhir ini memang lebih sering melamun. Kali ini ia masih kepikiran dengan pembicaraannya tadi bersama Sasuke. Tentang keputusannya akan menikahi Sasuke atau tidak. Ia masih takut dan ragu. Tapi… sepertinya hatinya sudah mulai tercuri oleh si kecil Yuusuke. Tadi saja entah kenapa ia malah membuatkan biskuit jahe untuk bocah lincah itu. Padahal Yuusuke hanya bercerita kalau ia pernah melihat ibu dari temannya membuatkan biskuit untuk mereka ketika ia sedang main kerumah temannya itu. Mungkin Naruto tersihir oleh mata hitam bulat berbinar yang menatapnya itu. Mungkin juga ia luluh oleh setiap panggilan manja yang seharusnya ia benci, Mama, dimana jelas-jelas ia adalah seorang pemuda. Namun anak itu memanggilnya dengan nada harap akan kasih sayang.

Haah… nanti sajalah ia pikirkan lagi.

Ia menoleh pada oven yang sudah mengeluarkan suara 'ting' nyaring, tanda biskuit yang ia buat sudah matang. Ia bergerak kearah oven dan menggunakan sarung tangan, mengeluarkan loyang yang mengepulkan uap beraroma jahe. Selesai menata semua biskuit itu ke dalam toples dan bergegas membuatkan susu cokelat untuk Yuusuke seperti yang sudah ia janjikan. Ia lalu membawa keduanya ke ruang televisi.

"Ma, kenapa Papa belum pulang?" tanya Yuusuke sambil sibuk mengambil biskuit jahe di toples entah yang keberapa.

"Mungkin masih banyak pekerjaan." Jawab Naruto sekenanya. Ia mengganti saluran televisi karena acara favorit nya baru saja habis.

"Ma, besok Yuu boleh sekolah?"

"Boleh, kalau sudah sembuh." Lagi, mengganti saluran televisi.

"Ma, besok biskuit jahe ini Yuu boleh bawa ke sekolah ya? Yuu mau pamer pada teman-teman kalau ini Mama Yuu yang buat."

"Hoo boleh." Jawab Naruto yang sebenarnya tidak menangkap pertanyaan Yuusuke.

"Mama, susu cokelatnya habis."

"Yasudah taruh saja di meja." Ganti saluran televisi.

Suara tawa dari televisi yang menampilkan acara komedi membahana di ruangan besar itu. Nobuki sudah pulang setengah jam yang lalu, membuat apartemen luas itu terasa makin lenggang. Naruto sendiri sejak tadi fokus pada televisi, dengan Yuusuke yang sibuk mengunyah biskuit jahe buatan Naruto.

"Mama,"

"Hm?"

"Ma,"

"Ada apa Yuusuke?"

"Yuu boleh peluk Mama?"

Sontak Naruto menoleh kearah Yuusuke. Bocah Uchiha itu menatap Naruto dengan tatapan mengantuk dan memelas. Sial, Naruto lupa kalau yang ada di sebelahnya bukanlah orang dewasa yang bisa mencari kesibukkannya sendiri. Ini anak kecil, yang selalu mencari perhatian orang dewasa, terutama yang ada di dekatnya. Dan jelas Yuusuke sejak tadi mencari perhatiannya. Dengan bodohnya ia malah sibuk dengan acara menonton televisi nya.

Naruto menggeser posisi duduknya agar lebih dekat pada Yuusuke. Ia mecondongkan tubuhnya kearah bocah itu sambil membuka lebar kedua tangannya, tanda ia akan memeluk. Raut wajah Yuusuke seketika cerah. Ia melompat semangat ke dalam pelukkan sang-calon-Mama. Memeluknya erat. Naruto hanya tesenyum menanggapinya. Ia menyenderkan tubuhnya yang dipeluk Yuusuke pada sandaran sofa. Melanjutkan menonton televisi sambil mengelus punggung Yuusuke yang sepertinya mulai merangkak ke alam mimpi.

Satu jam berlalu. Suara televisi masih membahana di ruangan besar itu. Kini makin terdengar jelas karena dua orang yang menghuninya sudah terlelap sambil berpelukkan di sofa. Meninggalkan Sasuke yang baru saja pulang kerja terkejut dengan pemandangan yang ia dapati. Namun kemudian senyum tulus tumbuh di wajah tampannya. Ia berjalan kearah keduanya. Memerhatikan sayang kemudian mengelus pelan kepala Naruto dan Yuusuke bergantian.

Mungkin ini pilihan yang tepat. Mungkin ia memang harus memperjuangkan orang ini. Pemuda pirang yang diidam-idamkan putranya. Yang baru ia kenal tiga hari lalu. Yang mungkin akan mengubah hidup dan hatinya. Walau memang rasanya berat, apalagi dengan ia yang harus mengubah orientasinya tiba-tiba. Tapi, toh cinta datang kapanpun dan pada siapa saja. Tinggal apakah Tuhan mau mendukungnya atau malah menentang. Ia akan sering-sering berdoa kalau begitu.

"Haaah… kalau begini aku jadi makin terlihat seperti orang tua." keluh Sasuke. Ia kemudian mengangkat tubuh Naruto (sekaligus Yuusuke) untuk dipindahkan ke kamarnya.

=====sweet=====

Dua minggu sudah Naruto tinggal bersama Sasuke dan Yuusuke. Kalau ditanya apakah sudah terbiasa, maka Naruto akan menjawab dengan helaan napas berat "Ya, dibiasakan sajalah," dan ia akan menampilkan wajah layaknya ibu-ibu kehilangan barang obralan, depresi namun tak bisa berbuat apa-apa. Berbagai cara Naruto sudah lakukan untuk bisa keluar dari apartemen itu. mulai dari mengatakan kalau ia ingin fokus belajar, hingga memohon memeluk kaki sang ibu agar bisa pulang ke rumah. Namun keputusan Kushina adalah mutlak. Kalau boleh mengajukan diri, mungkin Kushna bisa jadi salah satu dewa. Ia tidak sedikitpun goyah pada segala bujuk rayu sang putra, bahkan sang suami, Minato –yang nyatanya keberatan, pun ikut-ikutan memohon agar sang anak dibiarkan pulang kerumah. Naruto merasa seperti anak tiri saja.

Pagi itu Naruto sudah bangun sejak pukul enam pagi. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa. Membersihkan apartemen semampunya seperti biasa. Lalu mengetuk pintu kamar Sasuke-Yuusuke guna membangunkan mereka seperti biasa. Ya, seperti biasa. Naruto berusaha terbiasa. Namun nyatanya ia masih canggung saat Yuusuke memanggilnya Mama di depan Sasuke, entah kenapa, padahal kalau mereka hanya berdua atau hanya ada Nobuki dirumah ia tidak risih sedikitpun. Ya, Naruto jadi canggung bila berhadapan dengan Sasuke.

Seperti kali ini, Sasuke membuka pintu kamarnya guna menjawab ketukan pintu dari Naruto. Wajahnya yang masih 'wajah bantal' tak sedikitpun menguragi aura tampannya. Naruto agaknya merona ketika memikirkan hal ini. Ditambah penampilan sang Papa muda itu hanya berupa kemeja putih yang tidak terkancing sempurna –menampilkan dada bidangnya, dan celana training yang merosot sebatas pinggul. Ah, seksinya. Wajah Naruto makin merah padam.

"Hey, kau sakit? Wajahmu merah." Tanya Sasuke saat melihat Naruto hanya menatapnya kaku dengan wajah merah. Sontak saja ia mengulurkan tangannya ke dahi Naruto.

Belum sempat tangan putih itu mencapai dahinya, Naruto langsung menangkisnya. "Ti-tidak apa-apa, aku sehat. Tolong bersiap dan segera sarapan." Ujar Naruto lalu berlari pergi dari hadapan Sasuke.

Sasuke sendiri mengernyitkan dahinya bingung. Ia menggeleng tak paham, "dasar anak muda jaman sekarang."

Ya, ucapkan selamat untuk Naruto atas kemajuan yang ia dapatkan setelah dua minggu tinggal bersama Sasuke: berubah jadi homo. Dan selamat pada Sasuke yang akan segera dapat suami cantik. Semoga saja.

.

.

.

"Hey, Nobuki, menurutmu Sasuke itu orang yang seperti apa?" tanya Naruto yang saat ini tengah bersantai di sofa ruang televisi.

Hari ini ia tidak ada kelas. Alhasil ia hanya bersanatai di rumah sambil tidak tahu harus melakukan apa. Sasuke sendiri berangkat kerja pagi tadi. Yuusuke, langsung tidur siang setelah lelah bermain sepulang sekolah tadi.

Sang pengasuh yang saat ini sibuk membereskan mainan Yuusuke berhenti dan menoleh. "Seperti apa yang bagaimana Tuan?"

"Ya, sifatnya, kebiasaannya, apapunlah yang kau tahu."

"Maaf sebelumnya Tuan, tapi saya kira anda tidak akan penasaran tentang beliau. Apa sekarang anda mulai menyukai beliau?" tanya wanita itu dengan tampang penasaran sekaligus jahil. Disinyalir Nobuki tertular virus fujoshi dari Mikoto.

"Hah? A-apa maksudmu?" ujar Naruto berjengit kaget.

"Ya, maksud saya, biasanya orang akan penasaran pada apa saja yang berhubungan dengan orang yang dicintainya."

"Ukh sudahlah katakan saja."

"Saya tidak begitu mengenal beliau. Tapi satu hal yang saya tahu beliau tidak pernah bersikap ramah kecuali pada orang-orang terdekatnya yang ia anggap penting dalam hidupnya." Jawab Nobuki sambil melanjutkan merapikan mainan Yuusuke. "Seandainya saya hanya pembantu rumah utama, mungkin saya tidak akan pernah melihat sisi lembut dari beliau. Nyatanya beliau hanya mau tersenyum dan bersikap lembut terhadap Tuan Muda dan Nyonya besar. Bisa dibilang bahkan ia agak dingin kalau berhubungan dengan Tuan Besar Fugaku dan Tuan Itachi."

"Hooh… begitukah? Berarti maksudmu selain kepada Bibi Mikoto dan Yuusuke ia akan bersikap tak peduli begitu?"

"Ya, seperti itulah."

Naruto berpikir keras. Bagaimana bisa begitu? Padahal selama dua minggu ia tinggal disini, Sasuke tidak pernah bersikap dingin padanya yang jelas-jelas orang luar. Pria itu sering terlihat khawatir kalau Naruto mulai sering menghela napas. Bahkan terkesan konyol dan nekat beberapa waktu. Bayangkan saja, ketika Naruto tengah membuat sarapan tiba-tiba Sasuke datang dan memeluknya dari belakang sambil berkata "Selamat pagi, Mama." dan sukses membuat tangan Naruto tak sengaja terkena penggorengan. Saat Naruto melayangkan kalimat protes dengan santainya ia malah menjawab, "Pembiasaan diri untuk nanti kalau sudah menikah." Naruto merah padam seketika. Sejak saat itu Naruto bertekad akan menyelesaikan acara masaknya secepat mungin sebelum Sasuke bangun.

Lain waktu ketika ia, Sasuke dan Yuusuke sedang sarapan, Sasuke yang memang harus berangkat lebih pagi selesai sarapan duluan dan bersiap untuk pergi. Hingga tiba-tiba Yuusuke berkata, "Papa, cium Yuu dan Mama dulu." Tidak, Naruto tidak heran kalau Yuusuke menginginkan dicium oleh Sasuke sebelum sang Papa berangkat kerja. Tapi kenapa ia juga diikutsertakan? Dengan tanpa ragu, Sasuke mendekat ke Naruto –yang malah mundur teratur- dan berhasil mencium dahi Naruto setelah sedikit adegan kejar-mundur keduanya. Berakhir dengan Naruto merosot lemas ke lantai menatap Sasuke yang menghilang dibalik pintu apartemen mereka. Oh, dan jangan lupakan Yuusuke yang berjingkrak girang entah karena apa.

Ada lagi ketika ia diajak Sasuke untuk menjemput Yuusuke dari TK-nya. Ia dengan percaya dirinya memeluk pinggang Naruto ketika mereka sampai di TK dan tengah berhadapan dengan salah satu guru disana yang bertugas untuk mengucap salam perpisahan kepada para murid yang akan dijemput. Malu bukan main Naruto dibuatnya. Ditambah lagi Yuusuke berteriak memanggilnya Mama. Untung saat itu benar-benar hanya ada mereka dan sang guru perempuan, tak ada orang tua murid yang lain. Herannya sang guru yang diketahui bernama Shion malah senyum-senyum jahil melihat interaksi ketiganya. Seorang Fujoshi telah ditemukan lagi. Sial. Naruto jadi curiga dengan semua perempuan di dunia ini. Lagipula, kalau melihat semua kejadian itu, bagian mana dari Sasuke yang dingin ya? Sepertinya lebih tepat kalau dibilang om-om mesum tidak tahu malu.

"Saya rasa karena Tuan Sasuke menyayangi anda, jadi beliau tidak bersikap dingin ada anda."

Heh?

Naruto menoleh cepat kearah Nobuki yang sudah selesai membereskan mainan Yuusuke. Wanita itu duduk bersimpuh sambil tersenyum kepada Naruto.

"Jujur saja, walaupun saya sudah lama bekerja di keluarga Uchiha dan sering melihat bagaimana sisi lembut dari Tuan Sasuke, namun saya baru melihat sisi langka lainnya dari beliau setelah beliau bertemu dengan anda, Tuan Naruto."

Naruto diam mencerna perkataan Nobuki.

"Saya rasa, Tuan Sasuke benar-benar sudah mulai mencintai anda."

.

.

.

Desir angin sore membelai wajah tan milik Naruto. Ia memutuskan untuk pergi ke taman kota sore ini. Ia mengajak Yuusuke turut serta, mengingat mungkin bocah itu bosan dirumah. Sang pengasuh sengaja tidak diajaknya. Entah kenapa ia hanya ingin berduaan dengan bocah itu. Mereka jalan-jalan tidak bertujuan, hanya melihat-lihat sekeliling sesekali mampir kearah tukang jualan. Setelah Naruto menemukan seuah kursi panjang ia pun mengajak Yuusuke beristirahat.

"Yuusuke, lelah?"

Yuusuke menggeleng semangat. Mulutnya penuh dengan crepe yang dibelikan Naruto.

Naruto tersenyum melihat pipi tembam Yuusuke makin tembam dan berlumuran cokelat di sana-sini. Ia mengeluarkan sapu tangan dan membersihkannya.

"Makannya pelan-pelan, nanti tersedak."

"Mama mau crepe punya Yuu?" tanya Yuusuke setelah crepe nya sudah ditelan.

"Tidak. Untuk Yuusuke saja."

Naruto kemudian mengedarkan pandangannya. Tertegun saat ia menemukan sebuah air mancur yang dikelilingi oleh para pengunjung taman. Ia baru sadar, ini adalah kursi yang sama yang ia duduki saat itu. Dan di sana, air mancur itu, adalah air mancur yang sama saat ia pertama kali melihat Yuusuke. Dimana ia begitu penasaran dengan kerumunan orang yang mengelilingi air mancur. Saat ia dengan berani-kepo-nya malah mendekati apa yang orang-orang bilang mayat anak kecil. Saat ia tanpa ragu sedikitpun menyentuh pipi dingin bocah itu.

Naruto menoleh pada Yuusuke yang masih sibuk memakan crepenya.

'Inikah yang namanya takdir?' batin Naruto. Ia berpikir keras selama ini. Kenapa dari semua orang di kota ini harus dirinya yang dipilih bocah itu? Padahal saat itu jelas banyak orang disana, dan tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang punya ke-kepo-an tingkat tinggi seperti dirinya akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kala itu. Kalau dipikir-pikir kenapa pula waktu itu ia sangat ingin menyentuh pipi pucat –yang menurut orang lain- mayat itu. Ia juga heran, kenapa ia bisa menerima semua perlakuan Sasuke. Padahal kalau ada laki-laki yang mulai menggodanya saja ia pasti mengamuk. Tapi, kalau dengan Sasuke, bahkan om-om itu sudah banyak melecehkannya, lalu kenapa ia hanya bisa diam dan merona?

Kenapa? Semua hal ini tidak masuk akal, namun Naruto merasa dirinya dengan sangat senang hati menerimanya. Mungkinkah ini…

"Heeh… cinta ya?" bisik Naruto pada angin.

"Apa, Ma?"

"Hah? Ah, tidak, bukan apa-apa. Yuusuke sudah selesai makannya?"

"Tinggal sedikit." Jawab Yuusuke sambil mengulurkan sisa crepenya. Ia membuka mulut mungilnya lebar-lebar, niat hati mau melahap sisa crepe itu sekaligus. Namun usahanya terhenti tiba-tiba. Matanya melirik, menangkap sosok yang ia kenal.

"Aah, Papa!" ujarnya agak berteriak, ia menunjuk kearah jalanan dimana ada sosok sang Papa disana.

Naruto sontak menoleh kearah yang ditunjuk Yuusuke. Ada buncahan perasaan senang di dadanya yang bahkan tidak ia sadari saat melihat sosok Sasuke dengan penampilan kerjanya berdiri diseberang sana.

"Ayo kesana, Ma!" ujar Yuusuke sambil menarik lengan baju Naruto. Dengan agak berlari keduanya menghampiri Sasuke.

Ketika Yuusuke hendak berteriak memanggil sang Papa tiba-tiba Naruto menunduk dan menempelkan telunjuknya di bibir Yuusuke, "Ssst, kita kejutkan Papa, yuk?"

Mata bulat Yuusuke berbinar senang. Senyumnya merekah lebar. Ia mengangguk semangat dan menerima uluran tangan sang calon-Mama saat Naruto mengajaknya bersembunyi guna mengagetkan Sasuke. Keduanya berjalan mengendap-endap di balik semak, tiang lampu hingga kursi taman. Ya, walau kenyataannya semua orang tetap bisa melihat tubuh mereka. Ketika jarak mereka dengan Sasuke sudah tidak terlalu jauh, mereka berancang-ancang untuk melompat mengagetkan pria itu. Keduanya tertawa mengingat rencana mereka, namun seketika wajah gembira Naruto luntur.

Yuusuke yang sudah siap untuk melompat ikut terdiam kala tangan yang ia tarik jadi kaku dan agak bergetar. Bocah itu menoleh kearah sang-calon-Mama. Wajah manis itu menampilkan ekspresi yang campur aduk. Bingung, kaget, marah. Bocah lima tahun itu mengernyitkan dahinya. Apa yang tejadi dengan Mama nya? Kemana senyum lima jari barusan? Mamanya itu malah terdiam menatap kaku kearah depan. Eh tunggu, depan? Yuusuke pun mengikuti arah pandangan sang Mama. Disana, sang Papa, tengah mengobrol berhadapan dengan seorang wanita bersurai pink. Sang wanita tertawa lepas kala Sasuke mengatakan sesuatu. Kadang kala memeluk lengan sang Uchiha. Sasuke sendiri tidak risih dengan semua itu. Ia justru tersenyum menanggapi semua celotehan wanita berambut pink itu.

"Ah, itu Bibi Sakura." Celetuk Yuusuke.

Sontak saja Naruto menoleh cepat. Tatapannya seolah meminta penjelasan lebih.

"Itu teman kantor Papa. Cantik kan? Bibi Sakura sering datang kerumah juga. Sering bawa kue untuk Yuu."

/Beliau tidak pernah bersikap ramah kecuali pada orang-orang terdekatnya yang ia anggap penting dalam hidupnya./

Naruto teringat dengan kata-kata Nobuki. Ada bor imajiner yang menembus dadanya. Agak sesak dan… entahlah rasaya serba salah. Ia menoleh kembali kearah dua orang berseragam kantoran di depan sana. Dan bor imajiner itu makin menembus dalam kala ia melihat Sasuke menepuk kepala wanita pink itu.

/Saya rasa, Tuan Sasuke benar-benar sudah mulai mencintai anda/

Naruto tersenyum sinis. Heh, Cinta apanya? Tingkahnya hanya seperti om-om mesum tidak tahu diri. Dan kini semuanya jelas, ia hanya digodai selama ini. Ada rasa menyesal ketika tadi ia sempat mengira kalau dirinya juga mulai… mencintai pria itu.

"Ayo kita pulang," ujar Naruto tiba-tiba berdiri sambil menarik tangan Yuusuke.

"Eeeh, tapi kan kita mau kagetin Papa."

"Tidak, aku mau pulang."

"Tapi Ma…"

"Lakukan saja sendiri, aku tidak peduli."

Ketus. Suara tenor itu bernada ketus. Dan Yuusuke tidak suka itu. Tubuh ramping itu mulai menjauh dari Yuusuke, meninggalkannya yang berdiri kaku. Ia takut. Ia takut sang Mama pergi meninggalkannya. Namun otak anak kecilnya memroses semua ini dengan terlalu lambat. Apa yang harus dilakukannya? Kenapa sang Mama tiba-tiba marah? Siapa yang salah?

Tidak. Ia tidak mau kehilangan orang yang begitu ia sayangi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia kemudian berlari menghampiri Naruto. Menarik bagian belakang baju yang dikenakan si pirang. Membuat pemuda itu menoleh dengan mata berlinang. Tidak, Mama nya akan menangis, dan Yuusuke benci itu. Ketika ia sudah siap menangis meledakkan ketakutannya, Yuusuke tiba-tiba dipeluk. Tubuh Naruto terasa bergetar. Bocah kecil itu merasakan bahu dan lehernya basah. Mamanya benar-benar menangis.

"Mama, ayo pulang saja hiks, Yuu tidak mau kagetkan Papa kok. Hiks, Yuu janji tidak akan nakal, hiks, tapi Mama jangan menangis."

Yuusuke terus mengusap kepala Naruto dengan tangan mungilnya. Ia sebisa mungkin menahan tangisannya sendiri. Ia tidak mau membuat sang Mama tambah sedih. Pelukan Naruto bertambah erat, mengetahui anak kecil dipelukannya berusaha menenangkannya. Dalam hati ia tertawa, orang dewasa macam apa dirinya ini?

"Ayo kita pulang." Ujar Naruto sambil bangkit dan menggendong Yuusuke.

Kali ini ganti Yuusuke yang menenggelamkan wajahnya di bahu Naruto. Ia ingin menangis namun ia tidak ingin sang Mama melihatnya. Jemari panjang nan lentik milik Naruto mengelus sayang rambut raven si bocah. Naruto tersenyum, mengerti alasan Yuusuke menahan tangisannya. Haah… setelah ini Naruto janji akan menuruti keinginan Yuusuke kala mereka sampai di apartemen.

.

.

.

"Aku pulang." Ucap Sasuke begitu ia menutup pintu. Ia menunggu suara cempreng sang putra yang selalu menyambutnya. Namun nihil, tidak ada jawaban sama sekali.

Ia melirik jam tangannya. Pukul sembilan lebih. Apakah putranya itu sudah tidur? Kemana pula Naruto? Biasanya kalau sang putra telah tidur, pemuda cantik itu yang akan menghampirinya, menjawab salam sambil menunduk malu-malu kucing. Apa ia juga sudah tidur? Sasuke mengangkat bahunya. Ia kemudian masuk dan langsung menuju dapur, berharap ada sosok pirang itu disana. Entah kenapa rasanya rindu berada lama-lama di apartemennya ini. Apalagi bertemu dengan pemuda itu. Dan instingnya benar, pemuda itu ada di dapur.

"Oi, Naruto, kenapa tidak menjawab salamku? Dasar kau ini."

"…"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya heran.

"Oi, kau kenapa?"

"…"

"Kau sakit, ya?" tanya Sasuke sambil berjalan mendekat kearah Naruto.

Dimiringkan tubuhnya guna melihat ekspresi si pemuda pirang. Wajah itu sayu, alisnya berkerut, dan bibir plum itu menukik kebawah. Ia lalu mengarahkan tangannya hendak menyentuh dahi Naruto. Namun tangannya ditepis. Pemuda itu melengos menjauh. Ia mengambil piring besar diatas meja dan kembali untuk meletakkan masakannya disana. Baiklah,Sasuke dicueki.

"Cepat mandi dan ganti baju. Kau bau."

Petir menyambar Sasuke. Sial, orang keren sepertinya dikatai bau. Tapi demi memastikan Sasuke mengendus baju bagian ketiaknya. Apanya yang bau? Harum begini, kok.

"Heh, bocah, apa maksud-.."

"Makan malam sudah siap. Silahkan makan sendiri. Aku dan Yuusuke sudah makan duluan tadi." Potong Naruto kemudian melenggang pergi. Dari arah pintu terlihat Yuusuke yang menghampiri Naruto sambil mengucek matanya. Ia tidak sadar ada sang Papa di belakang Naruto.

"Mama, ayo tidur." Ujarnya sambil membuka lebar kedua tangannya, minta digendong

"Iya, ayo." Jawab Naruto sambil menggendong Yuusuke.

Di gendongan Naruto, Yuusuke menyamankan posisinya. Ia melirik kearah Sasuke. Mata mengantuknya sedikit membelalak.

"Papa." Bisiknya.

Namun kemudian ia mengerucutkan bibirnya kesal. Menatap bengis kearah sang Papa –yang jelas kaget melihat ekspresi sang anak. Yuusuke menggeliat ingin turun, dan Naruto menurutinya. Bocah itu melangkah cepat kearah Sasuke, kemudian menendang tulang kering Sasuke begitu sampai dihadapannya.

"Aargh!" pekik Sasuke merasakan sakit. Walau masih kecil tendangan Yuusuke jelas tidak bisa diremehkan. "Kenapa Yuusuke?"

"Papa jahat!"

"Hah?"

"Papa buat Mama menangis. Bweek~" Yuusuke langsung berlari menghampiri Naruto yang membelalak kaget. Sial kenapa malah dibahas.

"Menangis?"

"Bu-bukan apa-apa! Lebih baik kau cepat bersih-bersih dan makan. Aku dan Yuusuke mau tidur. Selamat malam." Ujar Naruto cepat-cepat. Ia lalu menggendong Yuusuke dan agak berlari menuju kamar. Meninggalkan Sasuke yang bengong tidak mengerti.

Cih, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ia yang jadi bahan bully? Tak paham, ia kemudian memilih untuk menelpon sang ibu. Siapa tahu ini salah satu kerjaan fujoshi tua itu.

[Selamat malam putra tampanku, ada apa?]

"Ibu, apa yang terjadi?"

[Hah?]

"Aku tanya apa yang terjadi? Aku tahu ibu mengetahuinya."

[Hey Sasuke, ibu tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Jelaskan dulu baru bertanya. Kau pikir ibu ini cenayang apa?]

"Naruto dan Yuusuke tiba-tiba membullyku."

[…]

"Naruto jadi ketus dan Yuusuke tiba-tiba menendang kakiku. Apa yang terjadi?"

[…]

"Ibu jawab pertanyaanku!"

[Apa salah satu dari mereka menyinggung-nyinggung soal Naruto yang menangis?]

"Ah, ya, tadi Yuusuke yang bilang begitu."

[Haahh… kalau begitu ini semua salahmu.]

"Hah? Kenapa jadi aku yang-…"

[Kau selingkuh.]

Dua kata dari Mikoto. Cepat, padat, dan absolut. Sasuke diam mencerna dua kata dari ibunya. Tubuhnya kaku. Ia berpikir keras sampai dahinya berkeringat. Kapan ia selingkuh?!

[Tadi sore ditaman kota kau selingkuh dengan Sakura.]

Seakan bisa membaca pikiran Sasuke, Mikoto langsung memotong kegundah-gulanaan sang putra bungsu.

[Dasar, kau itu tidak puas ya hanya dengan Naruto? Pemuda seksi begitu malah kau sia-siakan. Tidak tahu diri, sudah untung Naruto mau denganmu.]

Tunggu dulu, taman kota? Tadi sore? Sakura? Seingatnya ia dan Sakura hanya mengobrol tadi. Perihal dirinya yang mulai menyukai si pirang, juga tentang bagaimana interksi antara Naruto dan Yuusuke sudah bagaikan ibu dan anak sungguhan. TAPI KENAPA MALAH SASUKE YANG DIHUJAT, YA TUHAN?! Lagipula bagaimana ibunya bisa tahu?

"Ibu memata-mataiku ya?"

[Hih, maaf ya, ibu juga punya kesibukan sendiri. Tidak ada waktu untuk membuang-buang tenaga memata-mataimu.]

Seandainya ini komik pasti sudah ada keringat sebesar mouse komputer menggantung di kepala Sasuke. "Lalu bagaimana ibu bisa tahu aku bersama Sakura tadi sore?"

[Yuusuke dan Naruto ada disana sore tadi. Mereka yang melihatmu. Yuusuke bilang Naruto menangis kala itu, dan itu salahmu.]

Oh Tuhan, sekarang Sasuke mengerti. Ini semua hanya salah paham. Kalau saja ia sadar ada Naruto dan Yuusuke disana jelas ia akan memanggil mereka dan mengenalkan Sakura pada mereka. Sumpah, dari jaman ia masih jadi cassanova cap Teri, Sakura hanya ia anggap sebagai kakak perempuan. Ya, walau kenyataannya Sakura sudah beberapa kali menyatakan perasaannya pada Sasuke sih, tapi ayolah ia tidak pernah punya perasaan lebih pada si pink cerewet itu. Wanita itu saja sudah menikah dan hamil sekarang.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana meyakinkan Naruto kalau ia tidak selingkuh. Hey, lagipula mereka saja sampai sekarang belum berstatus apa-apa, kenapa ia malah takut menyelingkuhi Naruto? Harusnya kalaupun ia benar main belakang dengan Sakura, yang marah adalah suami Sakura, kan? Kenapa malah Naruto yang cemburu? Eh, cemburu? Jangan-jangan…

"Sudahlah bu, aku mau istirahat. Kita bicarakan besok."

Dan sambungan telepon itu putus.

=====sweet=====

Siang itu terik matahari menyengat semua penghuni kota. Tak terkecuali di apartemen milik Naruto dan Sasuke. Padahal hampir semua ruangan sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan, tapi si kecil Yuusuke tetap merasa kepanasan. Ia akhirnya memillih untuk duduk di balkon kamarnya dan sang Papa –yang akhir-akhir ini malah jadi kamar dirinya dengan Naruto, sang Papa lebih sering tidur di ruang televisi atau ruang kerjanya.

Di tangan kanan Yuusuke terdapat telepon rumah tanpa kabel. Ia menekan beberapa nomor yang sangat ia ingat. Nomor ponsel sang nenek. Beberapa kali terdengar nada sambung hingga akhirnya suara mendayu sang nenek sampai di telinga Yuusuke.

[Halo, cucuku yang tampan, ada ap-…]

"NENEK!"

Diujung sana Mikoto menjauhkan ponselnya sambil mengusap pelan telinganya.

"Nenek ini gawat! Papa dan Mama, nek,"

[Ada apa sayang? Coba tenang dulu.]

"Tidak bisa, Yuu mana bisa tenang kalau begini." Nada suara itu terdengar seperti menahan tangis.

[Ssshh… coba ceritakan pelan-pelan pada nenek, sayang.]

"Hiks, Mama dan Papa akhir-ahir ini, hiks, tidak saling bicara. Mereka seperti bertengkar. Hiks, Papa juga jadi lebih sering di dalam ruang kerjanya kalau sudah pulang. Yuu jadi, hiks, sering tidur dengan Mama. Ya, Yuu senang sih, tapi kan hiks, Yuu maunya sama-sama, huweee…"

[Sssh... cup cup sayang, jangan menangis ya. Apa disana ada Nobuki?]

"Hiks, tidak, Nobu Yuu suruh beli pudding tadi. Soalnya, hiks, nanti Nobu mengganggu."

Mikoto mengelus dadanya berusaha maklum diujung sana. Tuhan, cucunya iblis juga ternyata.

[Yuusuke, sekarang Mama dan Papa hanya sedang lelah. Tidak apa-apa kok, mungkin memang bertengkar, tapi pasti hanya sebentar]

"Yuu maunya sama-sama! Huwaaa…"

[Baik-baik, nenek paham. Ya sudah kalau begitu, sekarang Yuusuke inginnya bagaimana?]

"Yuu mau, hiks, Mama dan Papa baikkan, hiks, lalu tidur sama-sama dengan Yuu,"

[Baiklah nanti Nenek yang bilang.]

"Mama dan Papa harus pelukkan setiap hari,"

[Hah?]

"Harus sayang-sayangan,"

[…]

"Harus suap-suapan saat makan,"

[…]

"Harus cium saat bangun tidur dan sebelum berangkat kerja, harus-…"

[Stop, stop Yuusuke, iya-iya nenek paham. Intinya mereka harus baikkan, kan?]

"Hu-um."

Mikoto menghela napas kalau keinginan Yuusuke disebutkan terus, ia yakin akan makin banyak hal yang 'menyerempet'. Bahaya, bisa-bisa sifat liar Mikoto keluar karena berdelusi. Tahan Mikoto, yang menelpon itu cucumu, jaga imej.

[Yuusuke tahu darimana yang seperti tadi?]

"Hmm, drama di televisi yang sering di tonton Nobu."

Astaga, pengasuhnya saja Fujoshi. Benar-benar tidak aman masa depan bocah ini.

"Nek, Yuu punya ide."

Ah, nada bicara bocah itu begitu yakin dan bersemangat. Entah kemana perginya suara isak penuh rasa putus asa beberapa detik lalu. Mikoto sendiri galau, apa dia harus memecat pengasuh cucunya karena sudah mengontaminasi otak polos si Uchiha cilik, atau menjadikan Nobuki sebagai rekan sepemikiran (baca: sesama fujoshi). Dirinya tidak berkaca kalau lebih dari lima puluh persen pengontaminasian sang cucu adalah dirinya.

[Apa sayang?]

"Tapi kita butuh bala bantuan." Wajah Yuusuke bagai tentara yang siap perang.

[Hah?]

.

.

.

Di kampus, Naruto yang baru keluar kelas hanya berjalan tak tentu arah di sepanjang koridor. Ia susuri semua bagian dari fakultasnya, tak terkecuali gudang dekat lapangan belakang, dan berhasil menjaring sepasang kekasih yang sedang 'begitu'. Tertawa kaku, Naruto hanya bisa bilang halo dan meminta maaf karena mengganggu kegiatan asyik mereka. Heh, libido anak muda. Untung yang memergoki adalah dirinya. Coba bayangkan kalau yang memergoki adalah satpam kampus, alamat kena skors mereka. Haruskah Naruto dapat predikat pahlawan penjaga aib? Lucu.

Suara kerucuk keras terdengar dari perutnya. Hmm, waktunya makan siang sih. Tapi entah kenapa ia rasanya malas makan. Efek galau mungkin. Galau? Ya, Naruto galau. Macam perawan yang memikirkan perjakanya. Bedanya Naruto bukan perawan dan yang ia pikirkan juga belum tentu masih perjaka. Apa yang kau harapkan? Orangnya saja sudah om-om begitu, mesum pula.

Naruto kepikiran tentang kejadian dimana ia menangis dengan hanya melihat Sasuke bersama wanita lain. Mungkinkah ia cemburu? Ah, masa iya sih. Tapi setelah ia curhat pada Mikoto –yang menelponnya duluan sebenarnya, wanita yang (dari luar terlihat) lembut itu menjelaskan padanya kalau itu memang tanda-tanda orang cemburu. Masalah selanjutnya adalah mencari alasan kenapa ia cemburu, dan itulah yang kini menjadi alasan kuat kenapa Naruto galau. Ia semacam denial pada apa yang menjadi hipotesisnya. Ia sudah jatuh cinta pada Sasuke. Aargh! Rasanya Naruto ingin teriak di lapangan sekarang juga.

Aroma Ramen menyeruak kala dia lewat kantin. Hidungnya yang sensitif dengan aroma enak (iya saya tahu semua orang juga sensisitf dengan aroma enak) itu seakan mengontrol tubuh nya untuk berputar dan mampir ke kantin. Tapi otak terus mengatakan tidak. Bukan apa-apa, ia sedang diet, dan Ramen adalah musuh terbesarnya saat ini. Hiks, maaf Ramen, Naruto mengkhianati mu sementara waktu. Dan Naruto pun berlari menjauh dengan berlinang air mata.

Berlari dan berlari. Naruto tidak sadar kalau jarak yang tereleminasi mengantarkan ia kepada sebuah tabrakan besar yang akan mengubah hidupnya. Sebuah suara memekikkan namanya. Lambat, semua jadi lambat. Naruto tak sempat menoleh kala tubuhnya terhantam bagian depan bus sekolah. Semua terjadi sekejab mata…

BRAAK!

Dan semua hitam di mata Naruto.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bohong, deh. Tidak begitu ceritanya. Ini bukan film Mean Girl yang semua berakhir dengan ditabrak bus sekolah.

Sebenarnya Naruto memang menabrak sesuatu. Ah, yang benar seseorang. Suara 'bruk' keras terdengar dari bokong seksi Naruto yang terbentur lantai koridor. Sebuah tangan besar terulur padanya.

"Kau tak apa?" suara baritone menyapa pendengaran Naruto. Membuatnya mendongak demi menghilangkan rasa pensarannya.

"Ah iya." Jawab Naruto sambil meraih tangan itu.

Seorang pria berambut sebahu yang diikat rendah tersenyum padanya. Membuat diwajahnya muncul tanda seperti keriput di sekitar hidung saking lebarnya ia tersenyum.

"Maaf, aku tidak melihatmu tadi." Ujar pria itu sambil menarik Naruto bangun.

"Tidak, aku lah yang seharusnya minta maaf."

Tersenyum, "Ah, iya, aku sedang mencari seseorang." Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kertas yang disinyalir adalah sebuah foto.

Naruto yang tingkat kepo nya diatas rata-rata itu langsung menoleh kearah foto bahkan sebelum sang pemilik mengulurkan padanya. Dan saat itulah iris biru langit Naruto terlihat makin jelas, ia membelalak. Hei, itukan fotonya!

"Hei, kalau dilihat-lihat, foto ini mirip dirimu."

'Itu memang aku!' batin Naruto panic.

"Namanya Naruto, apa kau kenal?" tanya pria tanpa sadar kalau wajah Naruto sudah pucat.

"I-itu… aku."

"Heeeh benar juga ya, ini memang terlihat seperti dirimu."

Aduh, Naruto makin galau, antara ingin meninju wajah pria yang memadangnya pongah ini atau mengelus kepala orang ini sambil berkata "kasihan kamu, ganteng-ganteng kok bodoh."

"Ngomong-ngomong anda ini siapa, ya?" bersyukur tangan Naruto dan akal sehatnya masih singkron.

"Ah, aku Itachi. Jadi ini ya, calon Mama-nya Yuusuke." Pria itu mundur dua langkah demi mendapat view yang lebih bagus untuk memandagi Naruto dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Bolehlah."

"M-maaf?"

"Ahahaha… aku kakaknya Sasuke, Itachi Uchiha. Salam kenal ya, Naruto-kun."

Pernah merasakan gugupnya berkenalan dengan keluarga sang calon? Ya, sekarang Naruto sedang merasakannya. Ia sedang berada dihadapan kakaknya Sasuke, dalam keadaan habis bertabrakan. Imejnya buruk sudah. Padahal dulu ia biasa saja saat dikenalkan dengan kepala keluarga Uchiha alias ayah dari Sasuke. Saat itu Naruto bisa melihat Fugaku, ayah Sasuke, memasang wajah dingin nan menyeramkam. Mungkin karena kemudian ia sedikit menciut begitu disenggol sang istri –diminta untuk bersikap ramah, Naruto jadi tidak takut. Well, ternyata kepala keluarga Uchiha setipe dengan Minato, ayah Naruto: tipe suami takut istri. Lalu kenapa ia sekarang jadi gugup? Padahal pria dihadapannya sudah memasang wajah seramah mungkin. Lihat saja senyuman lebarnya itu, Naruto saja pegal melihatnya.

"Ah, salam kenal, aku Naruto Namikaze." Ujar Naruto dengan suara yang dibuat senormal mungkin. 'Huaah… apa-apaan, kenapa aku gugup?' batinnya.

"Ahahaha, jangan gugup begitulah. Kenapa? Kau gugup harus berhadapan dengan pria tampan selain Sasuke, ya?"

Merona pipi Naruto. Untung saat ini ia tidak sedang minum apapun. Kalau iya, sudah dapat dipastikan pria didepannya ini pasti disemburnya.

"I-itu… Itachi-san ada perlu apa mencariku?"

"Panggil aku nii-san, oke?"

"A, i-iya, Itachi-nii-san."

"Hmm, kenapa ya? Menurutmu kenapa?"

Argh tangan Naruto gatal ingin memukul! "Ehehe, aku tidak tahu Nii-san." Tapi jaga imej tetap nomor satu.

"Ahahaha… aku hanya penasaran dengan calon Mama-nya Yuusuke kok. Kau tahu, anak itu semangat sekali kalau bercerita tentangmu. Aku jadi ikut penasaran dan akhirnya meminta fotomu dari ibu. Aku bahkan tidak menyangka kalau ibu sampai punya fotomu, candid pula."

Naruto pucat.

"Ah, aku juga sempat bertemu dengan Bibi Kushina. Beliau cerita banyak hal tentangmu. Aku tahu kampusmu juga dari beliau. Oh iya, katannya kau suka komik ya?"

Naruto makin pucat.

"Ya, aku bahkan diberitahu kronologi kau bertemu dengan Yuusuke. Ahaha, anak itu memang banyak akalnya."

Keringat dingin mulai bercucuran di wajah Naruto.

"Oh, dan selamat ya, kudengar kau dan Sasuke sudah tinggal se-apartemen ya? Hati-hati, muka tembok begitu tangannya cepat loh untuk urusan 'pegang-pegang'."

TELAT MAS AKU SUDAH DIGREPE-GREPE!

Ah bukan, yang barusan bukan Naruto, itu penulis yang mengetik sembarangan. Naruto sendiri sudah terlampau lemas untuk merespon. Ia menyender pada dinding koridor dengan senyum kaku. Selesai sudah, lengkap sudah semua aibnya diketahui Itachi. Tinggal masalah ia menangis karena melihat Sasuke dengan wanita lain yang belum-…

"Kudengar kau sedang bertengkar dengan Sasuke ya? Karena cemburu, kan? Tenang Naruto, kau hanya perlu mengenal Sasuke lebih dalam."

-ah, sudah ketahuan rupanya. Kelar sudah hidup Naruto.

"Kau kenapa Naruto?" alis Itachi berkerut. Heran juga melihat calon adik iparnya menempel di dinding macam kipas angin begitu.

"Aku… aku lapar?" jawab Naruto dengan suara yang memelas dan pasrah.

"Wah, kebetulan, aku memang berniat mengajakmu makan siang bersama. Mau, kan?" Naruto hanya mengangguk dan mengekor Itachi.

Keduanya berjalan ke parkiran. Disana sudah ada mobil Itachi yang siap mengantar mereka ke tempat makan yang cocok. Satu hal yang Naruto tidak sadar. Itachi mengirim sebuah pesan singkat melalui ponselnya kepada seseorang. Selamat datang di permainan, Naruto.

.

.

.

"Sasuke,"

"Hn?"

"Oi, Sasuke,"

"Hnnn?"

"Hei, Sasuke, aku memanggilmu!"

"Ya sudah bicara saja, toh aku mendengarkan."

"Tapi kau tidak menoleh padaku!"

Sasuke menghela napas, lelah. Sulit memang kalau harus berhadapan dengan ibu-ibu hamil, apalagi hamil muda macam wanita ini. Di depannya kini ada Sakura yang berkacak pinggang. Wajah cantiknya memasang ekspresi cemberut yang dibuat-buat. Sabar, Sasuke, ini ibu hamil. Harus kau hargai dan sayangi.

"Ada apa Sakura?" ucapnya pelan-pelan dan (berusaha) sabar.

"Ayo temani aku makan siang." Jawab Sakura dengann suara mendayu.

"Aku sedang ada kerjaan, Sakura, kau bisa lihat sendiri, kan?"

"Kan ini istirahat makan siang, kau harus istirahat juga."

"Yasudah sini kutemani. Cepat makan!" ujar Sasuke kembali menghadap layar komputernya.

"Eeeeh, temani aku makan di café di alun-alun~"

Suara urat putus terdengar di kepala Sasuke, "Aku makan bekal, tidak perlu beranjak dari kursi."

"Sasuke, aku mengidam makan Hamburger disana. Kau tahu kan, kalau ibu mengidam tidak dituruti anak yang lahir bisa ileran? Kau mau keponakanmu lahir dengan ileran?"

Sasuke mendelik, "memangnya kemana suamimu? Kenapa tidak ajak dia makan siang di alun-alun?" nadanya kini tidak lembut lagi. Lagipula siapa dia sampai harus peduli dengan anak Sakura yang lahir nanti akan ileran atau tidak. Oke, yang ini sudah masuk ke taraf jahat.

"Lee sedang sibuk, kau tahu, dia sedang mengejar promosi tahun ini. Hehe, doakan ia berhasil ya!"

'Kudoakan anak kalian lahir ileran sungguhan!' batin Sasuke. Ia mengelus dadanya, mencoba kembali ke jalan yang benar. Ya Tuhan, jangan Engkau jadikan Sasuke seorang suami yang tidak bertanggung jawab, apalagi sampai harus merepotkan teman sendiri. Amen.

"Ayo, Sasuke!"

"Iya, iya."

Akhirnya Sasuke pasrah saja diseret Sakura ke parkiran kantor. Ia dipaksa masuk ke mobil Sakura dan duduk sebagai penumpang. Sakura terus bersenandung senang sambil tidak sadar orang yang ia ajak siap mengutuk suaminya. Ia menjalankan mobil nya dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan predikatnya sebagai ibu hamil. Intinya, ia mengemudi dengan liar.

'Sabar Sasuke, anggap saja latihan kalau istrimu nanti hamil.' Batin Sasuke.

Ia lupa kalau calon istrinya laki-laki.

.

.

.

Di sebuah Café, nampaklah Naruto dan Itachi yang sedang berbincang seru sambil menikmati makan siang yang mereka pesan. Sebenarnya Itachi yang lebih bisa dibilang mengoceh, karena Naruto sendiri hanya menyahut seperlunya kalau ditanya dan kalau memang dirasa harus merespon. Mau bagaimana lagi? Itachi (dengan bantuan Mikoto dan Kushina) sudah membuka semua kartunya. Ada saja yang Itachi bicarakan mengenai aibnya. Haaahh… Naruto ingin pulang saja. Tapi masa meninggalkan calon kakak ipar? Bisa-bisa ia nanti disembur oleh Kushina.

"Jadi Naruto, bagaimana pendapatmu tentang Sasuke?" tanya Itachi.

Naruto mengerjapkan mata, ia agaknya kaget ketika Itachi dengan mudahnya membelokkan topik pembicaraan dari ia yang masih tidak bisa menggunakan sumpit dengan posisi benar ke pendapatnya tentang Sasuke.

"Ehm, baik?"

"Yang lebih spesifik dong! Kalian kan mau menikah, harus lebih penuh perasaan dalam menjawab pertanyaan seperti ini!" Ujar Itachi menggebu.

Naruto membatin betapa alaynya calon kakak ipar-nya ini, astaga. Lagipula mau bicara apa tentang Sasuke. Jujur kalau Sasuke itu tampan? Hih, ia tidak bisa membayangkan seberapa merah mukanya nanti. Bilang kalau Sasuke itu om-om tidak tahu malu? Ah, ia yakin Itachi sudah lebih khatam soal itu. Jadi ia harus jawab apa dong?!

"Kau tahu, Naruto," suara Itachi berubah tenang. Naruto sendiri menoleh karena penasaran. "Aku bersyukur Sasuke bertemu denganmu." Wajah tampan Itachi terlihat bersinar kala ia tersenyum.

"Sasuke bukanlah orang yang mudah percaya pada orang lain. Dahulu aku sempat berpikir kalau adikku itu akan sendiri sampai tua. Kekagetanku yang pertama adalah saat ia mengadopsi Yuusuke. Kami sekeluarga tidak ada yang menyangka kalau ia menginginkan seorang anak –ya ternyata ia juga menyukai anak-anak, mengingat selama ini ia hanya bertampang dingin dihadapan semua orang. Siapa yang tahu, kalau si muka tembok itu bisa kesepian juga. Makanya aku kaget saat mendapat kabar kalau ia akan menikah, dengan pria pula."

Naruto menunduk mendengar komentar Itachi. Ia takut gendernyalah yang akan dipermasalahkan.

"Tapi mendengar Yuusuke begitu antusias saat menceritakan dirimu, kurasa semua akan baik-baik saja," Naruto mendongak. "Kau paham kan betapa sayangnya Sasuke pada puteranya?"

Tangan Itachi terulur menggapai surai pirang Naruto. Agaknya Naruto tertegun saat merasakan tangan besar Itachi mengelus kepalanya.

"Tolong bertahanlah dengan Sasuke. Aku yakin ia sudah sebegitu percayanya padamu hingga memperbolehkan kau terus bersama Yuusuke." Itachi tersenyum. Ia terus mengelus kepala Naruto, layaknya kakak yang begitu sayang pada adiknya. "Aku juga yakin ia mencintaimu, ia begitu memerhatikanmu. Bahkan begitu khawatir saat kau cueki. Hahaha, dia sampai menelepon ibu demi tahu keadaanmu."

SafirNaruto membesar. Jantungnya berdetak lebih cepat. Semburat merah muda mulai menyapu apel pipinya. Benarkah? Apakah benar apa yang dikatakan Itachi? Mata bulat itu berkaca-kaca, senang. Itachi sendiri makin mengelus kepala pirang itu saat melihat ekspresi yang di keluarkan Naruto. Senyum pria berambut panjang itu makin lebar dibuatnya.

"Sasuke, kita duduk disana ya? Ah, Itachi-nii-san!" suara cempreng wanita terdengar.

Naruto dan Itachi menoleh. Tak jauh dari tempat duduk mereka nampaklah Sasuke dan Sakura. Keempatnya saling pandang. Sasuke mengernyitkan dahi tak suka kala melihat tangan Itachi yang masih betengger di kepala Naruto. Naruto yang sadar kemana fokus Sasuke, langsung menepis tangan Itachi –yang sontak membuat Itachi kaget sekaligus bingung.

"A, Sa-Sasuke-…"

"Itachi-nii-san, apa kabar? Ehehe aku minta ditemani Sasuke makan siang, boleh kami bergabung?" suara Sakura yang lebih keras jelas menenggelamkan gumaman Naruto. Sakura mendekat kearah tempat duduk mereka sambil terus memeluk lengan Sasuke.

"Ah silahkan, apa kabar, Sakura? Bagaimana kandunganmu?" tanya Itachi ramah. Ia berdiri dan menarikkan kursi untuk Sakura.

"Baik! Ehehe, sedang masa mengidam, dan Sasuke sangat bertanggung jawab." Jawab Sakura dengan masih berdiri memeluk lengan Sasuke.

Mengandung? Bertanggung jawab? Apa maksud wanita pink ini? Naruto bingung sendiri. Dadanya ngilu kala melihat Sasuke yang pasrah saja lengannya dipeluk-peluk. Sasuke sendiri sebenarnya risih, namun apa mau dikata, ia tidak sanggup marah-marah pada ibu hamil. Apalagi sahabatnya sendiri.

"Sasuke, habis ini temani aku membeli pudding di depan sana ya?" pinta Sakura. Ia kini menarik lengan Sasuke agar duduk disebelahnya.

"Sakura, aku harus kembali ke kantor,"

"Ayolah Sasuke~" Sakura merajuk mengayun-ayunkan lengan Sasuke.

Pandangan Naruto agaknya memburam oleh airmata. Ah, ia kesal. Ia kesal melihat interaksi Sasuke dan wanita itu. Apa sih maksud mereka? Mau pamer kemesraan? Kenapa harus dihadapannya? Puzzle cinta yang tadi mulai tersusun untuk Sasuke, kini satu persatu terlepas. Tergantikan dengan bagian-bagian kecewa. Ia menundukkan kepalanya, ia takut ada yang sadar kalau matanya sudah berlinang.

"Ya, ya Sasuke~"

Sasuke melirik kearah Naruto. Wajah itu, ekspresinya terlihat tidak nyaman. Dan itu membuat Sasuke entah kenapa juga merasa tidak nyaman. "Hentikan Sakura,"

"Tidak mau, sebelum kau bilang iya!"

"Hahh, terserahlah."

"Bilang iya!"

"Hn."

"Ayo, bilang iya~"

"Hnnn."

"Sasuke, keras kepala seka-.."

GREEK!

Suara kursi yang digeret keras menghentikan ocehan Sakura. Itachi, Sasuke, dan Sakura kaget melihat Naruto yang tiba-tiba berdiri.

"Naruto, ada ap-.."

"Maaf Itachi-nii-san, aku masih ada kelas. Ini aku bayar bagianku." Naruto mengeluarkan uang untuk memmbayar makanannya, "Aku permisi." Dan ia melenggang cepat keluar.

"Oi, Naruto!" Itachi berusaha memanggil. Ia berdiri guna mengejarnya, namun ternyata gerakannya masih kalah cepat dari sang adik yang kini melesat mengejar Naruto.

"Eh, Sasuke, kau mau kemana?"

"Maaf Sakura, kau minta temani Itachi saja." Jawab Sasuke sambil berteriak tanpa menghentikan langkah cepatnya.

Meninggalkan Sakura dan Itachi yang memandang bingung. Beberapa detik saja. Ya, karena setelahnya mereka saling pandang, Sakura lalu mengeluarkan ponsel layar sentuhnya dan menelepon seseorang.

"Halo, Yuu-chan, sesuai rencana."

Ho-ho, dua domba yang tengah jatuh cinta sudah masuk perangkap.

.

.

.

Sasuke berlari mengejar Naruto. Sial, cantik-cantik begitu larinya cepat juga. Naruto masuk ke kerumunan orang. Bisa gawat kalau ia sampai menghilang. Sasuke akhirnya sadar apa yang membuat Naruto beranjak tadi. Dan alasan itu tidak bisa Sasuke biarkan begitu saja. Kesalahpahaman itu bisa berujung fatal kalau tidak diluruskan. Sudah cukup ia dicueki Naruto berhari-hari.

Ia dan Naruto memang tidak banyak berinteraksi, hanya sekedar mengobrol seperlunya seperti menyuruhnya makan atau membangunkan Yuusuke. Ia sendiri juga mengakui kalau akhir-akhir ini menghindari Naruto. Pasalnya ia masih bingung dengan konklusiny, tentang alasan kenapa Naruto menangis saat melihat dirinya bersama Sakura. Ya, ia ingin mengetes, apakah Naruto benar cemburu. Jadilah ia mencoba menghindar guna melihat respon yang diberikan. Apakah Naruto akan merindukannya –dia sangat mengharapkan ini, atau malah semakin menjauh. Namun nyatanya ia malah mendapat reaksi yang kedua. Naruto terlihat makin murung dan menjauh darinya. Seakan benci saat harus berpapasan dengan Sasuke. Apa yang terjadi kali ini membat Sasuke makin yakin –kalau tidak mau disebut terlalu percaya diri. Naruto sebenarnya menyukainya juga. Namun apa daya, dia masihlah remaja labil yang terlalu banyak menonton drama. Terlalu mudah terbawa perasaan tanpa dipikirkan matang-matang. Dan Sasuke sebagai sosok yang lebih tua bertanggung jawab menjadi penjelas.

"Naruto!" panggil Sasuke sambil berteriak.

Naruto masih terus berlari. Ia tak juga melambatkan laangkahnya walaupun tahu ada yang memanggil namanya. Ia sadar, itu pasti Sasuke, dan ia tidak ingin berhadapan dengan pria itu.

Namun agaknya sulit juga berlari cepat di tengah kerumunan. Ingat kalau ini alun-alun kota? Naruto seringkali menabrak orang-orang yang berjalan dan kena bentakkan. Tak beda jauh dengan Sasuke. Ia malah lebih ekstrim. Demi menggapai sang-calon-pasangan-hidup ia mendorong semua orang yang menghalangi jalannya. Hebatnya tidak ada yang protes. Bagaimana mau protes? Melihat tampang sangar sang bungsu Uchiha saja sudah seram.

"Naruto, berhenti!"

'Tidak akan!' batin Naruto, tetap berlari. Jujur, kakinya sudah mulai pegal. Tapi ia tidak mau kalau sampai tertangkap Sasuke. Ia… tidak mau ketahuan kalau air matanya kini sudah mengalir ke pipi.

Namun apa kata orang-orang kalau sampai seorang Sasuke Uchiha tidak berhasil mengejar sang pujaan hati. Ia yang di setiap fanfiction pasti dijadikan tokoh Seme superior, yang dengan segala kesempurnaannya mampu menguasai dunia (fanfiction), yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan hanya menjentikkan jari, masa harus gagal mengejar si pirang dalam cerita tak mutu begini? Sasuke #MenolakGagal.

Dengan sekuat kaki mampu berlari, Sasuke mempercepat langkah. Makin mendorong liar siapapun yang ada dihadapannya. Masa bodoh mereka jatuh, terkapar, guling-guling di aspal. Sasuke hanya ingin menggapai lengan kurus itu dan menghentikan adegan lari-lari ala sinetron ini. Syukurnya Tuhan sedang ada dipihaknya –lagipula penulis juga sudah lelah mengetik. Ia berhasil meyusul Naruto dan menggapai lengan itu, memutar tubuh ramping si tunggal Namikaze.

"Oi, bocah, sudah cukup adegan kejar-kejarannya." Ujar Sasuke dengan napas masih terengah. "Tatap aku, aku sedang berbicara padamu, bukannya patung."

Naruto mempertahankan wajahnya untuk menunduk, ia sadar kalau ia menghadap Sasuke, pria itu akan tahu kalau ia habis menangis.

Kesal, Sasuke akhirnya memutuskan untuk berhenti bicara pada si pirang sejenak. Kepalanya mengedar kearah sekitar. Ia mencari tempat yang cocok untuk bicara. Sekiranya ia juga tidak mau pembicaraan pribadinya jadi bahan tontonan gratis orang-orang yang lalu-lalang. Ia menemukan sebuah kursi taman, dan menarik lengan Naruto. Naruto sendiri hanya pasrah. Ia sudah tidak punya tenaga, bahkan untuk berontak. Lelah. Batin dan otaknya lelah.

Setelah sampai di kursi taman yang dituju, Sasuke langsung mendudukkan tubuh Naruto. Ia sendiri ikut duduk sambil terus memegangi pundak pemuda itu. Ia menghela napas saat melihat Naruto masih enggan melihatnya. Ditariknya dagu Naruto kearahnya, dan ia akhirnya melihat, wajah tan itu memerah dengan bekas genangan air mata di sepanjang pipi. Pemuda itu habis menangis.

Naruto sendiri terlambat menyadari kalau wajahnya diarahkan pada wajah Sasuke. Alhasil saat sadar, ia langsung menepis tangan Sasuke, keras.

"Kenapa kau menangis?"

Naruto diam. Ia memandang kedua sepatunya.

"Kenapa kau harus lari dari café tadi?"

Masih diam. Tapi dari jemarinya yang dimainkan, bisa disimpulkan kalau Naruto gelisah.

"Kenapa, kau cemburu aku bersama Sakura tadi, hm?"

SKAK MAT! Tubuh Naruto agak berjengit. Matanya memandang liar pada tanah.

"Hahh, ini yang membuatku malas berurusan dengan bocah sepertimu."

Ada perasaan mencelos di hati Naruto saat Sasuke berkata begitu. Namun ia hanya mengernyitkan dahi tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya.

"Kenapa juga aku harus mengejarmu tadi. Membuat lelah saja. Sudah dikejar malah dicueki."

"…"

"Dasar bocah merepotkan."

Kalau ini dunia komik pasti sudah muncul persimpangan pembuluh darah di dahi Naruto.

"Harusnya tadi kubiarkan saja-…"

"Kalau begitu kembali saja pada wanitamu!" teriak Naruto.

Iya, Naruto berteriak pada muka Sasuke sambil berdiri. Wajah ayu itu merengut marah. Sasuke sendiri melongo kaget. Ia tak percaya akan dibentak begitu. Lagipula apa-apaan kalimat sinetron barusan? Jangan sampai Naruto minta dipulangkan pada orang tuanya juga, bisa kacau ending cerita ini.

"Oi, bocah, duduk dan jelaskan pelan-pelan. Bukannya malah teriak begitu setelah mencuekiku."

Naruto menurut. Lucunya ia malah membuang muka sambil bersidekap, mengarahkan tubuhnya membelakangi Sasuke. Tipikal Uke tsundere.

Kalau keadaannya tidak berat begini, Sasuke menjamin dirinya sudah memeluk si pirang karena gemas. Namun karena ia harus meluruskan semua benang kusut ini –sekaligus jaga imej di muka public, ia akhirnya mengambil napas dalam dan membuangnya perlahan. Upaya menurunkan nafsu setan.

"Jelaskan, kenapa kau lari?"

"Hanya ingin lari."

"Jangan jadi remaja labil begitu, ingat usia mu sudah 21."

Diam sebentar. Kalau jeli bisa dilihat kalau Naruto kembali gelisah. "Ha-habisnya…"

"'Habisnya'?"

"K-kau menyebalkan!"

"Hah?" kesal tak mampu dibendung. Namun apa daya, Sasuke tidak mungkin menempeleng pemuda dihadapannya. Salah-salah sebelum menikah sudah kena tuduhan KDRT. "Jelaskan dengan rinci, Dobe."

"Aku tidak bodoh, om-om brengsek!"

"Kalau begitu bicara yang jelas!" nada suara Sasuke akhirnya meninggi juga. "Lagipula mananya yang 'om-om brengsek'? Salahku apa padamu?"

"K-kau bermesraan dengan wanita pink tadi, itu salahmu!" jelas Naruto dengan menunjuk Sasuke, tidak sopan.

"Bermesraan?"

"Tidak usah menyangkal!"

Astaga, Tuhan, beri Sasuke kesabaran. Mananya yang menyangkal? Ia memang tidak bermesraan dengan Sakura. Nyatanya kan ia sedang diperbudak oleh ibu hamil itu. Oh, iya, Sasuke lupa kalau Naruto sedang cemburu.

"Dengar, Naruto. Wanita tadi namanya Sakura-…"

"Aku tidak tanya namanya!"

Elus dada, "ya, aku hanya memberitahu. Dia sahabatku dari SMA." Sasuke Berhenti bcara guna melihat reaksi Naruto. Namun nampaknya Naruto masih tidak mau peduli.

"Ia sedang hamil. Tadi ia memaksaku untuk menemaninya makan di café tadi karena ia bilang ia mengidam Hamburger disana. Aku tidak sanggup menolak, jadi ya kutemani."

"Huh, harusnya kau urusi saja istrimu itu, bukan malah lelah mengejarku." Ucap Naruto ketus.

Ha-ha-ha, cemburu membuat bodoh pemuda ini, "Aku belum menikah Naruto,"

"Kalau begitu kenapa kau yang repot-repot mengurusinya yang sedang mengidam?"

'PROTES PADA SUAMINYA SANA!' "Suaminya sedang sibuk, dan hanya aku yang ada disekitarnya saat itu."

Naruto terlihat mulai melunak. Ia mulai mau menoleh pada Sasuke. Tapi, "Lalu kenapa harus peluk-peluk segala? Waktu di taman juga begitu. Kenapa Sakura-san manja sekali padamu? Kau juga biasa saja menanggapinya,"

"Justru karena sudah biasa. Aku sendiri sudah lelah harus mendorong mukanya karena gerah dengan tingkahnya."

"Apa?! Jadi kau biasa mendorong wajah Sakura-san? Kau itu tiran sekali! Beraninya kasar pada ibu hamil."

"JADI KAU MAUNYA BAGAIMANA?!" astaga, bisa hipertensi Sasuke lama-lama.

"Ya-ya jangan kasar-kasar!" balas Naruto tak kalah keras. "Tapi, jangan sampai terlihat bermesraan juga." Kalau yang ini suaranya mulai memelan, hampir berbisik.

Wuuush, panah cupid menancap di dada Sasuke. 'Ya Tuhan, tolong percepat pernikahanku dengan bocah ini.' Doa Sasuke.

Tidak ada yang berbicara setelahnya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Naruto yang sibuk mengutuk dirinya sendiri yang bertingkah seperti gadis tsundere, dan Sasuke yang sibuk memikirkan tanggal pernikahan yang tepat dan memberi hoki.

Lama. Bahkan jadi membosankan. Apalagi untuk yang menonton. Ya, tanpa keduanya sadari ada sosok yang menonton adegan roman picisan mereka. Adalah Itachi, Sakura, Yuusuke dan Mikoto yang bersembunyi dibalik tanaman pagar tidak jauh darii tempat perkara. Dua diantaranya menggunakan teropong binokular (Sakura dan Mikoto), dan Itachi merekam dengan Handycam. Yuusuke melihat dari Handycam.

"Apa yang mereka lakukan sih? Lama sekali iklannya." Gerutu Mikoto.

"Bibi benar, Sasuke itu kenapa malah senyum-senyum sendiri? Pasti berpikiran kotor!"

"Hush Sakura! Ada Yuusuke disini."

"Ah, maaf Bi."

Itachi hanya senyum tak enak sambil menutup telinga Yuusuke. Mereka bisa melihat kalau keduanya kembali berbicara. Dari gesturnya bisa terlihat kalau mereka adu argumen lagi. Namun kemudian terlihat Sasuke yang menahan kedua bahu si pirang. Entah apa yang dijelaskan Sasuke, namun akhirnya keduanya kembali tenang. Sasuke lalu beranjak berdiri di hadapan Naruto, membuat pemuda itu harus mendongak untuk tetap memerhatikannya.

"Lihat itu Bi, Sasuke mengeluaran sesuatu dari kantongnya."

"Mana?" kali ini yang menyahut adalah Itachi dan Mikoto, bersamaan.

Dari kejauhan, mereka melihat Sasuke berlutut di depan Naruto yang masih duduk di kursi taman. Tangannya menyodorkan sebuah kotak biru muda, yang dengan mudah ditebak kalau itu adalah cincin.

"Kyaaa, Naruto-kun dilamar!" pekik Sakura.

"Kapan anak iu membeli cincin? Lagipula darimana dia tahu ukuran jari Naruto?" kali ini Itachi yang berkomentar, logis.

"Ibu yang memberitahu." Terjawab oleh Mikoto. Sisanya hanya ber-hoo ria.

"Astaga, wajah Naruto-kun memerah! Manis sekali! Terimakasih Tuhan, Engkau berikan aku menantu sepertinya."

Dan dari kejauhan mereka berempat bisa melihat bagaimana Naruto menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu dengan malu-malu memeluk leher Sasuke yang juga balas memeluk. Mereka tidak memerdulikan pandangan heran orang-orang yang lalu-lalang. Mikoto dan Sakura saling berpelukan, haru. Sedangkan Itachi sibuk mengusap air mata, bersyukur akhirnya sang adik menemukan pujaan hatinya.

Yuusuke? Ia tersenyum bangga, kala misi yang ia jalankan telah berhasil sesuai rencana. Tak ada yang tahu, bahkan ide membeli cincin untuk Naruto pun adalah ide Yuusuke kepada sang Papa. Ia dengan polosnya menelepon sang Papa, merengek mengatakan ingin sang Mama menggunakan cincin seperti Bibi Sakura. Tanpa pikir panjang sang Papa langsung mengabulkan. Sasuke tak pernah menyangka kalau cincin yang ia beli bisa langsung ia berikan di waktu dekat, dengan adegan yang seromantis itu.

"Misi selanjutnya, Yuu mau minta adik, ah~"

Tiga pasang mata melebar, menoleh cepat kearah si cilik Uchiha, kaget bukan main. Mampus, bagaimana caranya nanti Naruto bisa hamil?

.

.

.

Tamat.

A/N:

A.. ahahaha… apa ini? Plot sinetron. Tidak ada klimaks pun. Lama pula update ni Maaf... Khilaf dia. Balas dendam. Ngetik Spartan seharian. Jarinya kalap sampai tembus 10.000 langkah. Maaf juga lama bisa upload. Sebenarnya ini kerangkanya sudah selesai dari bulan lalu, tapi ya tugas, kemalasan, dan hectic mau UAS yang buat saya tak lanjutkan.

Sebenarnya ada niat mau potong bagian ini jadi dua chapter. Tapi saya sudah kapok PHP sama kalian. Sudah niat 2shot nanti malah melar jadi lima. Ya saya niat bikin epilognya. Gak banyak kok, 2k tak sampai mungkin. Tapi ya pisah chapter saja lah bagian epilog nya.

Kabar gembira untuk kita semua…. SAYA NIAT BUAT SEKUELNYA YEEEY~ enggak deng, niat saya ya sebatas niat *ditimpuk* Di otak saya saja kerangkanya masih sepotong-sepotong. Sudahlah saya mabok.

Terimakasih kepada:

Zora Fujoshi, choikim1310, Kucing manis, Aiko Vallery, humusemeuke, mifta cinya, Novalia Airis, SNlop, liaajah, gyumin4ever, Arum Junnie, onyx sky, Harpaariry, Jongin48, Onyx Blue, Beautiful Garnet, Meli793, echaWiratanu, dll.

…yang sudah me-review. Dan kepada kalian yang sudah membaca dan menunggu Fanfict ini, berhasil dilanjutkan juga karena kalian *tebar roti manis*. Maaf kalau ceritanya tidak memuaskan, dan aura cintanya tidak pol. SasuNaru sudah jadi keluarga masa kini (lol). Maaf saya tak bisa balas review satu-satu karena ya… jemari ini sudah lelah. Tapi saya cinta kalian! Dadah~