Chapter 3: This our school daily life! 2

Diclaimer: Eyesheild 21 itu sepenuhnya punya Ricihigo Inigaki dan Yusuke Murata dan Touhou Project Cuma punya Team Shangai Alice.

WARNING: gaje,gayus(garing dan jayus), typo gak kasat mata, OOC author yang mencoba mendewa, dan kejanggalan-kejanggalan lainnya. Bila kejanggalan berlanjut hubungi dokter terdekat anda.


.

.

.

"Perkenalkan. Saya Clifford D'Lewis. Dan saya akan mengajar kalian hari ini." Kata lelaki itu.

Anak-anak kelas hanya diam. Tak ada yang berani berbicara atau menggosip dengan teman sebelahnya.

Setelah hampir 30 detik, Clifford berjalan menuju meja Sena. Sena sendiri ketakutan, sedangkan teman-temannya hanya bisa memandang iba Sena

Sesampainya di meja Sena, Clifford langsung menatap iris coklat Sena. Sedangkan Sena? Ingin rasanya ia memalingkan muka dari guru barunya itu. Tapi, sepertinya dia sudah terhipnotis oleh iris aqua Clifford.

"Kau, Kobayakawa Sena kan?" Tanya Clifford.

"I, iya." Jawab Sena terbata-bata.

"Kalau begitu, Organel apa yang memiliki peran sangat penting dalam sintesis fosfolipid membran plasma?"

"Uh, ano … Badan Golgi?"

"Kau ini …" Clifford menatap Sena dengan dingin "tau darimana? Itu soal SMA."

"Anu, itu … dari kakak!" jawab Sena bohong.

"Sekarang kau." Clifford berjalan menuju meja Aya. Lalu menatap sebentar matanya, yang ditatap menatap balik, lalu memelototinya.

"Tenang nona kecil, aku hanya mau menanyakan tentang kasus pembunuhan 30 tahun yang lalu." Seringai kecil terlihat menghiasi Clifford.

"Aku tidak tau." Jawab Aya ketus.

"Hoo, kalau kejadian berdarah 5 tahun yang lalu saat-" belum selesai Clifford bicara, Aya sudah memotong perkataannya.

"Aku tidak tau. Kenapa kau menanyakan itu? Kau bisa menayakannya pada korban yang masih hidup. Bukan aku."

"Bukannya kau adalah salah satu korban yang selamat dalam peristiwa itu?"

Deg! Jangtung Aya langsung berdetak kencang. Ternyata instingnya tak salah. Orang ini bukan orang biasa, melainkan seseorang yang terlibat dengan peristiwa berdarah 5 tahun yang lalu.

Ya, seseorang yang secara brutal membunuh keluarga besarnya dan menyisakan dirinya sendiri.

Seseorang yang mengukir kebencian di hati Aya.

Seseorang yang merenggut segala kebahagiaan yang dia punya, dan

Seseorang yang membunuh orang yang paling ia cintai.

Ya, seseorang dengan lencana serigala perak dengan rambut pirangnya yang terurai panjang, lalu tatapan dingin namun kejam yang dipancarkan oleh iris aquanya seakan membekukan siapapun yang ditatapnya. Seseorag yang berwajah dingin tanpa ampun yang sudah mengabisi keluarganya dengan senapan berkode M15 yang dibawanya seakan adalah death scythe yang merenggut nyawa orang yang disayanginya. Tapi dari sekian itu, satu hal yang paling dia ingat dan masih menjadi misteri bagi dirinya sendiri.

Orang itu berkata padanya bahwa dia akan menjadi seorang malaikat bagi orang-orang sekitarnya.

Dia juga berkata bahwa dia bisa menjadi iblis paling bejat yang akan merenggut nyawa lebih banyak dari ini.

"Kenapa, nona Shameimaru?" Tanya Clifford dengan tatapan sinis. Jantung Aya langsung berdetak kencang. Darimana dia tau?

"Hoo, kenapa kau tiba-tiba diam? Kehabisan kata-kata, nona?"

"Tidak." Aya merespon "aku hanya kaget, bagaimana kau bisa mengetahui nama keluargaku."

"Benarkah? Kupikir kau ingat perkataanku 5 tahun yang lalu. Atau … kau sengaja melupakannya?" kesabaran Aya sudah mulai habis karena perkataan Clifford tadi. Kenapa dia secara terang-terangan menanyakan hal itu dihadapan teman-temannya? Atau, dia sengaja ingin membuatnya naik darah agar dia bisa membunuh salah satu dari teman-temannya.

"Aku masih ingat. Sangat ingat dengan perkataanmu yang itu. Satu hal yang aku mau tanyakan, kenapa kau tak membunuhku saat itu?" pertanyaan Aya tadi membuat seisi kelas kaget. Clifford hanya memasang wajah tanpa ekspresi mendengan pertanyaan dari Aya tadi.

"Karena …" ucapan Clifford terhenti sebentar lalu tersenyum "kau mirip dengan adikku."

Dan sesaat setelah perkataan Clifford, anak-anak langsung memasang muka tak percaya. Sementara Aya hanya bisa menundukkan kepalanya. Karena kelas hampir ribut, Clifford langsung mengambil ahli kelas dengan cepat.

"Sudah cukup semua." Kata Clifford "kita masih punya pelajaran yang belum kita bahas. Nah, siapkan pensil dan penghapus kalian. Hari ini kalian semua tes bahasa inggris."

Muka anak-anak langsung pucat pasi. Ini guru pasti bukan ngasih soal sembarang. Apalagi melihat tumpukkan kertas yang dibagikan Clifford. Pasti soalnya bukan berjumlah 50 lagi.

Anak-anak langsung mengambil kesimpulan, lamunan Aya benar-benar menandakan suatu petaka bagi kelas mereka.

.

.

.

"Waaaa! Akhirnya selesai juga!" kata Flandre seraya meninggalkan kelas.

"Buset tu guru, bilangnya aja tes bahasa inggris, tau-tau ada soal biologi fisika, sejarah, matematika, sama kimia yang numpang nyelip pake bahasa inggris." Keluh Akaba.

Anak-anak yang lain langsung melesat ke kantin untuk mengisi energy mereka. Kalau kata Shin sih pasti otot-otot di otak mereka berkontraksi lebih lama daripada biasanya.

"Tunggu, kalian mau ke mana?" Tanya Clifford dari dalam kelas. Anak-anak kelas yang tadinya berlarian menuju kantin langsung berubah jadi patung seketika.

"Memang kalian kusuruh istirahat?"

Ctar! Habis sudah hidup anak kelas 8a di tangan guru baru ini.

.

"Mau apa kau?" Tanya Hiruma.

"Sebentar lagi dia datang …" Clifford tak merespon pertanyaan Hiruma.

Tok tok tok terdengar suara ketokan pintu dari luar. Clifford lalu membukakannya lalu mengobrol dengan orang itu. Tak lama kemudian, Clifford menyerahkan beberapa lembar uang.

"Hei kalian yang merasa mempunyai tenaga lebih, tolong bantu saya untuk mengangkat ini." Pinta Clifford. Lalu, Yamato, Momiji, Shin, dan Kakei segera membantu Clifford.

Mereka ber-4 pun langsung membagikan mangkok yang masih tersegel rapi. Anak-anak berharap itu makanan atau semacamnya. Sedangkan Clifford hanya tersenyum.

"Makanan itu hadiah dariku karena kalian berhasil mendapat nilai di atas 80 untuk tes tadi." Sorak-sorak anak-anak pun langsung memenuhi ruangan kelas.

"Eits! tunggu!" tiba-tiba perkataan Aya menghentikan sorak-sorakan anak kelas "makanan ini ada racunnya gak?"

Wajah anak kelas langsung berubah drastis, bahkan ada yang sampai pucat pasi. Melihat reaksi anak-anak 8a, Clifford tertawa.

"Hahaha, mana mungkin saya memasukkan racun, saya sudah berubah sejak 3 tahun yang lalu, nona Shameimaru."

"Oh ya?" kata Aya tak percaya "jangan-jangan itu sebabnya kau memotong rambutmu?"

Anak-anak sekali lagi langsung berwajah aneh, sebenarnya, apa hubungan Aya dan Clifford dengan insiden 5 tahun yang lalu?

"Sudahlah lupakan, kalau kau mengingatkanku tentang rambut panjangku, rasanya hatiku ingin menangis. Lagipula makanlah sebelum dingin. Uap panas yang ada di mangkok kalian sudah mau menghilang." Anak-anak langsung membuka bungkusan yang menutup mangkok tersebut dan mereka langsung bereaksi layaknya anak kecil.

Sebelum makan, mereka menggeser meja ke sisi-sisi kelas lalu duduk berdampingan layaknya keluarga.

"Selamat makan!" kata anak-anak kelas bersamaan.

Melihat itu, Clifford hanya tersenyum.

"Ayo pak, gabung sama kita, mangkok bapak juga mau kehilangan uap panasnya tuh! Hihihi~" ajak Marisa. Clifford pun menurut, lalu duduk diantara semua anak-anak kelas.

"Dasar anak-anak."

.

.

.

"Akhirnya selesai juga!" teriak Riku dari dalam kelas. Tapi, Riku langsung dapat hadiah getokan buku dari patchouli.

"Berisik." Kata Patchouli singkat.

"Aw sakit! Ternyata diam-diam kau punya tenaga yang besar ya." Goda Riku, dan sekali lagi dia langsun menerima getokan dari patchouli

"Riku sini, biar ku sembuhkan lukamu." Kata Sena kepada Riku. Riku pun langsung menerimanya.

"Ehm!" deheman Yamato dan senyuman jahil Aya langsung menciutkan niat Sena.

"Ayaya~, sepertinya aku harus membuat gossip baru tentang kedekatan Sena dan Riku." Perkataan Aya tadi langsung dihadiahi getokan dari Shin.

"Hohoho, ada apa tuan beruang? Kau cemburu ya?" perkataan Aya lagi-lagi medapat hadiah getokan dari Shin.

"Tidak. Lagipula mereka saudara jauh, tidak baik membuat gossip." Kata Shin layaknya orang bijak.

"Hei kalian mau pulang enggak?" teriak Hatate dari jauh.

"Entar kami tinggal lho." Tambah Akaba.

Mereka ber-6 pun langsung bergegas pergi meninggalkan kelas.

.

"Hari ini melelahkan ya." Kata Nitori sambil meregangkan otot-ototnya.

"Besok berarti pak guru Clifford gak ngajar kelas kita lagi dong?" anak-anak hanya mengangguk mendengar perkataan Suzuna.

"Yah, padalah beliau kan guru yang baik ze~" Marisa mengeluh.

"Kalau guru berhidung lancip itu masih ngajar kita besok. Berarti ada kemungkinan si gagak mesum melamun terus tiap hari." Perkataan Hiruma langsung disambut pukulan kecil Aya.

"Huh! Memangnya seburuk itu lamunanku. Kau juga!" mulai lagi deh Aya vs Hiruma

"Sudah cukup." Yamato berusaha melerai "ini sudah sore, sebaiknya kita pulang sebelum matahari menghilang. Penjahat itu ada di mana-mana, tau."

"Sang pendamai beraksi." Batin anak-anak kelas.

Anak-anak kelas 8a pun pulang dengan santainya. Sesekali lelucon Marisa dan Suzuna membuat mereka tertawa. Atau mencoba menggoda Patchouli dan Shin yang daritadi hanya diam.

.

"Akhirnya udah nyampe stasiun ya. Berarti kita berpisah di sini ya." Anak-anak langsung berpisah di depan stasiun. Ada yang mau belanja dulu, ada yang langsung pulang, dan ada yang makan dulu.

.

"Ara, ara, tatapan mukamu itu benar-benar aneh hari ini, Clifford." Tegur Yukari.

"Tidak. Aku hanya bersikap seperti biasanya." Jawab Clifford kalem.

"Jangan-jangan kau mengincar gadis itu lagi? Wah, ternyata kau pendendam, ya."

"Jangan bodoh. Aku sudah keluar dari organisasi busuk itu. Sekarang tugasku adalah melindungi orang-orang seperti mereka."

"Hei kalian! Sampai kapan mau di luar? Sudah ada misi dari bos lagi nih!" Yukari dan Clifford langsung beranjak menuju mobil sedan hitam milik mereka.

"Sabar dong Bud!" Yukari membentak pria yang menyupir mobil mereka.

"Habis, bos sepertinya tidak sabaran." Bud malah tertawa.

"Kali ini apa lagi?" Tanya Clifford langsung to the point

"Kau tau anak ini?" Bud menunjukkan sebuah foto kepada Clifford. Tak sampai 1 detik. Clifford sudah mengembalikannya.

"Iya, kalau mau mencarinya, kita tinggal kembali ke sekolahnya. Pasti dia masih di sana."

"Memang mau kita apakan anak itu?" Tanya Yukari sembari memainkan pockynya.

"Kudengar dari Bos dia akan jadi sasaran oleh mantan organisasimu tuh Clifford, jadi kita harus membawanya ke markas untuk diamankan beberapa hari." Kata Bud singkat.

"Oh, Silver Wolf. Ayo segera berangkat. Sebelum matahari terbenam." Kata Clifford. Yukari dan Cliford lalu masuk ke mobil sedan hitam itu dan langsung pergi meninggalkan stasiun.

"Sepertinya anak-anak itu mempunyai tanggung jawab yang berat sekarang." Batin Clifford.

.

"Hah, banyak sekali keluhan dari siswa. Daripada minggu yang lalu sih. Tapi… tetap saja ini melelahkan." Takami membereskan kertas-kertas keluhan yang ada di mejanya.

Tugas OSIS memang selalu begini. Datang paling pagi, pulang paling telat. Dan parahnya lagi, Takami harus rela untuk kerja sendiri lagi.

Kalau ditanya kemana Hina, Reimu, dan Ikkyu, mereka sedang pergi berbelanja cemilan. Tapi dibalik semua itu, mereka menghindar dari tugas OSIS untuk menyelesaikan keluhan dari para siswa.

Sebenarnya, bisa saja Takami mengeluarkan mereka bertiga. Tapi, kalau mereka bertiga dikeluarkan, gak ada lagi bahan pelepas stress bagi Takami.

Lagi enak-enaknya Takami membereskan mejanya, tiba-tiba segerombolan orang yang tak dikenal langsung mendobrak pintu ruang OSIS tanpa belas kasihan.

"Hahaha, jadi musuh kita cuma satu ya, ayo anak-anak, serang!" teriak seseorang yang berada di barisan paling depan. Yang lain langsung bergerak membabi buta. Tapi sepertinya mereka tidak menganalisis dengan baik musuhnya.

"A, apa ini! Aku tidak bisa bergerak!" teriak salah satu dari mereka. Yang lain juga merasakan hal yang sama. Mereka pun berusaha untuk bergerak tapi tetap saja tidak bisa. Mereka pun lalu melihat kea rah Takami.

Sepertinya mereka salah menengok. Mereka sudah ketakutan setengak mati. Anak yang mereka incar bukan lagi buruan yang mudah. Melainkan sudah berubah menjadi monster. Seseorang dengan sebuah tombak panjang dan aura gelapnya yang begitu besar. Kacamata putihnya sudah tak ia pakai. Mata yang berwarna gold seperti kucing itu menatap mereka dengan tajam seakan tak mengijinkan mereka kabur. Seringainya membuat siapapun tak bisa berpaling dari mimpi buruk.

"Kalau kalian mau membunuhku, boleh saja. Asal …" Takami menghentikan perkataannya lalu menuju salah satu dari mereka.

Crot! Takami lalu memotong kepala orang itu dengan tombaknya. Darah dari kepala orang itu masih memancar keluar. Yang menyaksikan sudah tak bisa kabur lagi. Mereka benar-benar sudah tak bisa kabur lagi.

"Kalau kalian mau bernasib sama dengannya."

Setelah itu. Lautan darah langsung memenuhi ruang OSIS.

.

"Hei cepat! Kita harus segera menemui anak itu!" Kata Bud seraya berlari. Yukari dan Clifford mengikuti dari belakang.

"semoga kita tidak terlambat."

.

Brak! Pintu ruangan OSIS didobrak oleh Bud, Yukari dan Clifford sudah siap di posisi masing-masing. Tapi apa daya, sepertinya mereka terlambat.

Potongan kepala di mana-mana, organ tubuh yang terekpos keluar dari rangka pelindungnya, potongan tubuh yang bercereran, dan…

Matanya yang merah, rambutnya yang putih, serta trisula hitam yang dipegannya seakan menjadi saksi bisu atas apa yang ada di hadapan mereka.

"Siapa kau?" Tanya Clifford, yang ditanya malah sibuk memainkan jantung yang ada di tangannya.

"Aku? Aku hanya jiwa lain dari anak ini. Tidak lebih." Jawab pria itu.

"Cepat kau kembalikan anak itu!" pinta Yukari.

"Tidak bisa. Aku masih ingin 'bermain' dengan tubuhnya. Lagipula, aku sangat jarang keluar."

"Kalau begitu, kau a−" belum selesai Clifford berbicara, sudah ada yang memotongnya.

"Dream Sign "Evil Sealing Circle"!"

Reimu, Hina, dan Ikkyu langsung berlari kea rah Takami. Sepertinya mereka belum terlambat menangani ini.

"Hei, sebenarnya apa ya—" perkataan Clifford langsung terpotong oleh omongan Reimu.

"Diam kau, kalau kau masih sayang nyawamu, cepat pergi dari sini!" kata Reimu sambil mengacungkan kertas mantra.

"Hei, tunggu dulu, lagipula yang membuat dia seperti itu bukan kami." Kata Bud untuk menghilangkan kesalahpahaman ini.

"Bagaimana Hina?" Tanya Ikkyu.

"Hm… sepertinya mereka tidak bersalah. Eh, kalian orang kiriman dari Byakuren-sama. Kalau begitu, bisakah kalian memanggil Yakogoro-Sensei?" Clifford, Bud, dan Yukari langsung pergi meninggalkan ruangan OSIS untuk memanggil Eirin. Sedangkan Reimu, Hina, dan Ikkyu sibuk menangani Takami yang pingsan akibat serangan Reimu.

"Bagaimana kondisinya, Hina?" Tanya Reimu. Hina malah memasang wajah gelisah.

"Dia demam… sepertinya karena tiga hari belakangan ini dia selalu sibuk dengan tugas OSIS."

Melihat wajah Reimu dan Hina yang murung, Ikkyu angakt bicara "hei, daripada kalian murung, lebih baik segera beri dia pertolongan. Daripada demamnya makin parah."

"Tapi Yakogoro-sensei belum da—"

"Reimu, Hina, Ikkyu kalian kenapa? Ah, Takami kenapa?" tiba-tiba Eirin datang dan langsung menghampiri mereka ber-4. Reimu, Hina, dan Ikkyu hanya merespon dengan wajah murung mereka.

"Wah, ini sih demam. Sepertinya dia kelelahan. Ditambah dengan kejadian tadi, ini bisa membuat demamnya makin parah." Kata Eirin sambil memegang kening Takami.

"Kalau gitu, bawa saja ke tempat Byakuren. Bisa kan, Eirin?" Tanya Yukari.

"Bisa saja. Berarti aku harus membuat surat keterangan dokter untuk diserahkan ke wali kelasnya." Mereka yang ada di ruangan OSIS pun langsung pergi sambil membawa Takami ke rumah Byakuren. Sebelum itu, mereka membereskan kekacauan yang ada di ruang OSIS.

Di perjalanan menuju rumah Byakuren, Clifford kelihatan tidak tenang.

"Kenapa kau, Clifford?" Tanya Bud. Clifford hanya diam.

"Ah, tidak, tidak apa-apa." Jawab Clifford bohong.

"Kenapa perasaanku jadi tidak terkendali begini? Sepertinya akan ada sesuatu yang buruk." Batin Clifford.

.

"Hah! Kak Takami enggak masuk?" teriak Aya kaget.

"Wah, tak kusangka orang seperti dia bisa sakit." Tambah Riku.

"Hus! Dia kan makhluk hidup, jadi wajar kalau sakit." Jawab Hina sambil menjitak kepala Riku.

"Tapi kok sepertinya ada yang kakak sembunyikan dari kita?" perkataan Hatate membuat Hina agak panik.

"Tidak kok." Jawab Hina bohong. "kalian masuk kelas sana! Sudah mau bel, entar dimarahin guru lho."

"Aiyai Hina!" jawab Aya, Riku, dan Hatate bersamaan.

Setelah mereka masuk kelas, Hina juga masuk ke kelas.

"Semoga kalian masih bisa tertawa dan tersenyum seperti itu."


We are AMAZING class!

We not an ordinary people

But we have heart and breathe

and, we can SICK too!


Pojok Author:

Akhirnya keapdet juga ceritanya! Walaupun sebenarnya apdetannya cenderung lama, tapi ya…

Oh ya, buat neng Nurrafa, replica SBYnya udah aku kirim lewat pos gaib XD

Akhir kata, minta Review+cendolnya XD