I give full credit to the author Arzeta Clarkson. Arzeta Clarkson Wrote Shadow in Beauty which I took and did a remake of it in ChanBaek version
Shadow in Beauty
Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin
Rate: M
Genre: Romance, Western
Warning: This is Gender Switch. Mature content. NC. OOC
.
.
"Cinta tak pernah salah, tapi pilihan kita terhadap cinta yang kita pilihlah, menentukan segalanya." Arzeta
.
.
Aku terbangun dalam kondisi mati rasa. Seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga jari kaki seperti ditusuk oleh jarum beracun tak kasat mata, kelopakku seakan diganjal oleh batu karang. Namun aroma melati bercampur mint pengharum ruangan segera mengingatkanku jika aku sudah berada diatas ranjang kamarku, aman didalam rumah.
"Baek. Sayang…"
Sosok perempuan bertubuh ramping, sangat cantik untuk ukuran wanita diawal 40an dengan karakter wajah khas orang Irlandia muncul didalam kedua retinaku. Rambut gelap ikal sebahu Yixing bergerak lembut saat kedua tangan halusnya mencoba mendudukkanku diatas ranjang.
"Mom…aku kenapa?..." pertanyaanku ini benar-benar kutujukan karena rasa ketidaktahuan. Aku mengerang karena rasa sakit yang diakibatkan simpul dikepalaku setiap kali mencoba bergerak. Aku mendengar ibu terisak, dan sebuah suara dalam dipenuhi kewibawaan menjawabku. "Kau diserang gerombolan anak nakal dari Brooklyn semalam sayang, untung ada Sehun yang menolongmu…"
Oh Joonmyeon. Penguasa bisnis Oh Co. Industries yang telah mewariskan segala genetik sempurnanya pada Sehun duduk disisi ranjang satunya. Rambut gelap lurusnya seperti biasa terpotong rapi, hanya saja kedua mata hijau indahnya menyinarkan ketakutan.
Aku? Diserang?
Kalimat itu melayang didalam otakku, diikuti barisan banjir memori menerjang ingatanku seperti transferan data. Mulai dari kenekatan keputusanku untuk berada di Shadow Circle, klub petarung rahasia bawah tanah, untuk mendukung Sehun. Hingga saat dimana Sehun harus berurusan dengan seorang pemuda yang pernah menjadi bagian terkuat dari hidupku dimasa lalu.
Park Chanyeol.
Ketika nama itu kusebut dalam hati, puluhan gambar Chanyeol yang terluka muncul seperti roda film diputar. Chanyeol tampak sangat rusak dan hancur diakhir pertarungan meskipun aku senang karena Sehun berhasil memenangkannya, tapi aku tak bisa berbohong jika separuh diriku ikut merasakan kegagalan Chanyeol.
Tampaknya aku mulai menjerit dan terisak, menyebabkan ibu menjadi panik dan buru-buru memelukku. "Tenanglah sweetheart, semuanya sudah selesai. Ssst…tenang ya..." bisiknya lembut ditelingaku, punggung tangannya membelai tubuhku lembut. Dan seperti biasa, mampu memberikan efek ketenangan padaku.
"Dia sudah bangun?" kudengar suara Sehun dari ambang pintu kamarku, berlari cepat keatas ranjangku.
"Aku akan berbicara pada Detektif Jongdae. Ini aneh, bagaimana mungkin kalian di serang dan tak ada satupun rekaman kota ataupun saksi mata." tukas ayah seraya menyentuh pundakku.
"Mom, bisakah memberi kami waktu?" tanya Sehun.
Ibu tampak ragu-ragu diawal, aku mengangguk memberinya persetujuan dan dengan berat hati wanita itu mengikuti Suaminya menutup pintu kamarku dibelakangnya.
"Baek…sunshine…" Sehun menyentuh tanganku, mendekatkan badannya padaku. Kedua tangannya dengan lembut mengangkat wajahku, seakan berusaha mencari-cari jiwaku yang tengah mengawang entah kemana melalui kedua iris biruku.
Saat pada akhirnya mata kami saling bertemu, Sehun tak bisa menahan dirinya untuk lebih merasa bersalah lagi.
"Maafkan aku ini semua salahku. Harusnya aku tak memaksamu untuk datang kesana, harusnya aku tahu dan sadar diri dengan semua masa lalu itu Shadow Circle adalah tempat terkutuk yang paling harus kau jauhi tapi aku malah menyeretmu ke-sana. Aku sungguh…oh sialan!"
Semburan kalimat permintaan maaf diikuti nada putus asa dari Sehun membuatku ikut merasa bersalah, Sehun terlihat jauh lebih menderita daripada saat dipukuli lawannya. "Aku tidak apa-apa, sungguh kok. Aku hanya, menjadi paranoid melihat darah dan…" kalimatku tertahan, bibirku gemetar berusaha keras menahan air mata tumpah. Kilasan sialan dari masa laluku kembali lagi sekilas membuatku harus memejamkan mata.
Aku merasakan sentuhan lembut tangan Sehun diantara helaian rambut ikal coklat sepunggungku, dahi Sehun menekan pelipisku. Dengan suara berat dia berkata. "Aku minta maaf sungguh, melihatmu pingsan semalam rasanya aku nyaris mati saja. Kukira aku menang tapi sebetulnya tidak. Aku sudah kalah. Maafkan aku, aku bersumpah itu pertama dan terakhir kalinya akan membawamu kesana dan…"
Ucapannya terhenti saat aku memberinya sebuah pelukan erat. Sehun tampak terkejut melihat perubahan sikapku yang tiba-tiba. Aku mendongakkan kepala dari atas dada bidangnya, memperlihatkan senyum terlebar paling bisa kubuat. "Hei, aku tidak lemah tahu! Aku hanya cemas padamu, dan ketakutan, atau ngeri. Aku tidak tahu. Aku benci melihatmu dipukuli…" kalimatku terhenti, bayangan Chanyeol dihajar hingga babak belur kembali melewati ingatanku. Menggelengkan kepala aku melanjutkan. "Sebaiknya cemaskan hal yang lebih penting! Mengapa kau berbohong pada mereka!"
Aku melepaskan pelukan, melipat kedua tangan didepan dada sambil mencibirkan bibir. Sehun mengacak rambut gelapnya sekali sebelum menjawabku dengan malu. "Tidak masalah jika Mom dan Dad menghukumku karena telah menjadi pembangkang selama ini. Aku bahkan tak peduli jika mereka mengurungku dipenjara, yang kupikirkan hanyalah dirimu. Aku tak ingin kau juga terlibat masalah karena kelakuanku."
"Oh…"
Aku tak tahu harus menjawab apa. Sehun lebih menghkhawatirkan image gadis baik-baikku dimata ibu dan ayah ketimbang dirinya sendiri. Membuatku merasa begitu terharu. "Tapi mereka akan menghubungi Detektif Jongdae?" tanyaku, memikirkannya saja ngeri.
Detektif Kim Jongdae. Kepala Deputi Keamanan sekaligus Ayah dari Kim Jongin. Sungguh lucu memang mengingat anaknya seorang pembuat onar sementara ayahnya pahlawan penegak keadilan yang harus selalu membereskan setiap kekacauan putranya.
Sehun memberiku seringai nakal. "Tak usah dipikirkan, Jongin telah menemukan orang tepat untuk menangani segalanya. Saat ini utamakan kesehatanmu saja." tangannya meremasku lembut.
Aku mengerang. "Sudah kubilang aku tidak apa-apa!" bentakku kesal. "Baiklah, bagaimana jika kita bertaruh saja?"
Sehun mengernyit. "Tentang apa?"
"Ajak aku ke tempat itu lagi!" kataku lantang.
Sehun menggeleng dengan cepat. "Tidak Baek, takkan pernah. Kau gila, semalam saja sudah seperti itu kondisinya."
"Untuk membuktikkan jika aku tidak apa-apa." kataku setengah menuntut.
"Tidak harus dengan cara itu, kau bisa…"
"Kalau begitu aku akan pergi sendiri!" ujarku dengan nada aku-tak-bisa-dibantah.
Sehun terbelalak. "Kau gila!" tapi aku tetap bertahan dalam kegigihanku. Hanya butuh beberapa menit sebelum akhirnya Sehun menghela nafas panjang untuk menyerah. "Baiklah. Tapi dengan satu syarat kau tak boleh lepas dari pengawasanku. Mengerti!"
Aku mengangguk terlalu bersemangat, berulang kali. Kemudian menyadarkan pipiku pada dadanya, merasa sangat nyaman dan aman. Nafas Sehun terasa teratur tapi sedikit berat. "Apa kau baik-baik saja?" tanyaku pada akhirnya. Menyadari dia juga membutuhkan perhatian itu.
Sehun menganggukkan kepalanya diatasku. "Lebih dari apapun. Sesungguhnya aku bersyukur kau berada disana sunshine, lawanku kemarin sungguh tangguh dan sejujurnya aku…" kalimatnya tertahan, aku merasakan tangannya diatas pundakku sedikit gemetar.
"Takut?" bisikku tepat sasaran. Membelai dadanya lembut. Kediaman Sehun sudah menjadi jawaban. Jantungnya terasa hangat dan berdebar sedikit lebih kencang dari seharusnya dan kupikir itu ada hubungannya dengan perasaannya saat ini.
"Mungkin sudah ratusan kali aku bertarung tapi baru malam itu aku merasa cemas. Bukan jenis ketakutan akan kekalahan melainkan lebih dari segalanya aku takut mengecewakanmu." Sehun menarik nafasnya satu kali, terasa berat, membuatku bertanyatanya seberapa kuat efek pukulan Chanyeol pada tubuhnya.
"Kemudian aku tersadar, pemuda itu, Park Chanyeol atau siapapun julukan sialannya, adalah lawan yang sangat sebanding buatku. Aku cukup shock saat menyadari dia berhasil membuatku babak belur dan terjatuh, ada detik dimana aku merasa yakin aku bakal kalah. Itu sampai aku mendengar suaramu." Lars mengecup keningku dalam. "Kau tak tahu seberapa efek yang kau timbulkan padaku saat itu sunshine, seperti terberkati kembali. Dan air matamu sudah menampar keberanianku untuk segera bangun dan menghajar bajingan itu…"
Aku tak bisa menahan diri untuk merengut mendengar Chanyeol dihina. Bagaimanapun juga dulu, Chanyeol menjadi orang pertama yang merelakan tubuhnya untuk melindungiku saat aku dalam masalah.
"Tapi bagian teranehnya adalah...Aku merasa karena suaramu jugalah pemuda itu menjadi lengah. Mungkin kedengarannya gila hanya saja, aku merasa keberadaanmu seperti melemahkan tekadnya untuk menghabisiku." kalimat itu diucapkan Sehun dalam sebuah pernyataan, bukan penegasan ataupun pertanyaan.
Aku hanya bisa berdiam diri, merasa tegang dan terlalu takut untuk membuat gerakan yang bakal menimbulkan kecurigaan Sehun atas kesimpulannya.
"Mungkin dia phobia pada perempuan, atau dia terpesona pada kecantikanku." jawabku menggoda. Menyebabkan ketegangan diantara kami cair oleh tawa. "Kurasa tak penting apapun alasannya kehilangan fokus, yang jelas kau sudah menang. Dan kita berdua bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu membuatku lega lebih dari apapun."
Sehun tertawa. "Bagian 'hidup-hidup' itu memang benar." membelai lembut pipiku.
Ada rasa panas aneh menjalar setiap inci kulitku setiap kali Sehun menyentuhku, atau memelukku, atau mencium keningku. Namun kuanggap semua ini sebagai usaha penerimaan cinta yang anehnya, masih sering kutolak setelah bertahun-tahun bersama keluarga Oh.
Melepaskan diri darinya sambil berkata. "Kurasa aku butuh mandi." sambil beranjak dari ranjang, semua mual dan pusing itu telah menghilang. Sehun mengangguk singkat, tapi tetap tidak mau meninggalkan kamarku. "Sehun! Apa kau juga mau mengikutiku sekarang?!" pekikku mulai kesal.
Sehun tertawa, berjalan mendekatiku lalu mengacak rambutku. "Syukurlah, kurasa Baekhyun-ku yang manis sudah kembali ke Bumi."
Aku berpura-pura kesal, melipat tangan didepan dada menunggu hingga Sehun meninggalkan pintu ruanganku dibelakangnya. Setelah memastikan dia benar-benar pergi dan bukannya berpura-pura sembunyi, melalui langkah kakinya yang menggema di sepanjang lorong, aku bergegas menuju kamar mandi. Menghidupkan kran air, dan menyalakan shower, melepaskan baju secepat kubisa.
Aku merangkak menuju tepian bathtub, dengan tubuh telanjang membiarkan aliran air hangat membersihkan badanku. Kemudian, seperti anak kecil kehilangan mainannya, tangisku meledak.
Aku tidak baik-baik saja.
Aku bahkan belum pernah merasa sekacau ini setelah belasan tahun lamanya.
.
.
"Pilihlah cinta dengan kebenaran yang murni. Maka yakinlah, pilihanmu takkan pernah menjatuhkanmu." Arzeta C.
.
.
Sudah 2 minggu berlalu sejak kejadian di Shadow Circle, kondisiku sudah lebih baik setelah melewati seminggu penuh bangun tengah malam dan menangis sesenggukan didalam pelukan Sehun. Luka memar dibadan Sehun juga telah pulih sepenuhnya, hidungnya sudah tidak lagi sakit, Yass!
Karena tak patah sesuai prediksi awalku. Ayah akhirnya memutuskan menyerah mengenai kasus penyerangku pada suatu pagi, karena aku bersikeras tak ingin memperpanjangnya dengan alasan traumatis. Terlebih lagi Detektif Jongdae masih belum menemukan bukti sama sekali (Terima kasih pada Jongin).
Sehun sudah tidak bertarung selama ini juga, dia memutuskan untuk menjaga kondisi emosionalku dan para sponsornya memaklumi mengingat dirinya juga sedang dalam tahap pemulihan. Meski sesungguhnya alasan Sehun adalah persiapan ujian akhir tahun seniornya di Columbia, dibalik segala dunia kekerasan yang dia geluti Sehun tetaplah 'pemuda baik-baik dari keluarga Oh peraih nilai tertinggi Columbia'. Kakakku itu tak mau tahun terakhirnya di Universitas berantakan hanya karena bertarung, dan aku sangat menyetujui keputusan bijaknya.
Aku sendiri menghabiskan waktu 2 minggu terakhir untuk menyusun kelasku ditahun ajaran baru, dan lebih sering hang out bersama Do Kyungsoo, sahabat baikku sejak kelas 9, yang baru saja pulang berlibur bersama keluarganya dari Bali.
Aku juga sudah memutuskan untuk pindah ke apartemen Sehun karena tahun ini masa juniorku telah selesai, secara otomatis keistimewaanku menempati kamar di asrama pastinya tak berlaku. Mereka mendukung ideku, merasa itu paling baik. Sehun, tentu saja, terlihat sangat gembira ketika dia membantuku mengemasi barang. Berbanding terbalik dengan Jongin yang terus memberengut mengingat kehadiranku ditempat mereka akan memberikan kekurangan 'keleluasaan' baginya.
Namun ketika Kyungsoo mampir pagi ini untuk menumpang menuju kampus dengan membawa segala permasalahannya, segala kejengkelan Jongin berubah menjadi senyum-secerah-mentari.
"Dengar ya, aku tinggal di apartemen kalian hanya sampai aku berhasil mendapatkan kembali 'hak-hakku' dari si penyihir itu! Dan jangan harap aku mau melepaskan bajuku dan tidur denganmu!" kata Kyungsoo keras, menudingkan satu jarinya kepada Jongin dengan mata menyipit, seakan bisa membaca pikiran pemuda itu, yah, yang memang lebih sering kotor jika sudah menyangkut perempuan. Kecuali aku, pastinya.
Aku dan Sehun tertawa bersamaan, namun kekesalan Kyungsoo justru membuat Jongin semakin senang. "Hei, aku tidak mengatakan apapun tahu. Setidaknya belum." sahutnya sambil menyeringai. Membuat Kyungsoo menggertakkan gigi.
Aku tak bisa menyalahkan Kyungsoo karena tuduhannya pada Jongin, pada faktanya pemuda itu memang bejat. Dialah orang pertama yang mengajari Sehun 'bagaimana cara menjadi bajingan baik hati' disaat mereka masih remaja. Jongin pertama kali meniduri gadis ketika berumur 15 tahun, mulai minum bahkan sejak setahun sebelumnya. Aku bersyukur dua hal kelebihan mereka adalah, tidak merokok dan mengkonsumsi narkoba. Kata Jongin "Bahkan bajingan sekalipun harus bisa menjaga tubuhnya." kalimat itu selalu membuatku tersenyum setiap kali melintas di kepalaku.
Dan setelah mendengar ceramah singkat Kyungsoo mengenai betapa bejatnya kelakuan Jongin selama hampir setengah jam, akhirnya kami bisa pergi juga ke apartemen Sehun.
Sepanjang perjalanan Jongin merubah topik tentang pertandingan terakhir Sehun, yang membuat Kyungsoo melotot padaku dan memarahiku sepanjang perjalanan karena ikut terlibat didalam acara itu. Dia menuduhku sangat tidak bertanggung jawab, lalu Sehun membelaku, dan argumentasi hebat pun terjadi.
"Terima kasih Jongin. Pagiku kali ini 'sangat indah' karenamu." sindirku kesal, memberikannya tatapan mematikan dari bangku penumpang belakang.
Jongin yang sedang mengemudi menatapku melalui kaca spion, dan nyengir lebar. "Sama-sama Tuan Putri. Anggap saja ini balasan atas tendanganmu waktu itu, jadi kurasa sekarang kita impas."
"Tunggu dulu? Kau menendang Jongin?" Kyungsoo melepaskan diri dari pertengkarannya dengan Sehun. Bagus.
"Ya!" jawabku ketus, mulai merasa terganggu.
Tapi alih-alih mendapat teguran lagi, aku malah mendengar suara tawa kencang Kyungsoo menggema. "Ya Tuhan, andai saja aku disana. Pasti menyenangkan melihat seorang Kim Jongin jatuh terjengkang karena tendangan seorang gadis!" Kyungsoo bertepuk tangan di udara, membuat kejengkelan Sehun pada Kyungsoo hilang diganti tawa.
Meskipun aku merasa malu, namun itu cukup karena melihat Jongin tampak kesal setengah mati dibalik stir kemudi. "Ya! Itu karena dia menggunakan jurus Taekwondo-nya, dan aku tak bisa memukul perempuan tahu!" pemuda itu tampak membela diri.
"Sayang sekali, harusnya aku disana untuk merekam segalanya." Kyungsoo mengerlingkan satu matanya padaku dengan ceria. Tampaknya berita aku menghajar Kim Jongin telah membawa dampak positif bagi sahabatku, karena dia berubah menjadi lebih gembira hingga akhir perjalanan. Jongin sendiri cukup pintar untuk tak membahas masalah di Shadow Circle lagi mengingat betapa bencinya Kyungsoo pada tempat itu.
Secara keseluruhan pemikiranku dan Kyungsoo nyaris sama, meski sikap kami berbeda. Itulah sebabnya kami bisa saling mengisi, dia adalah kontradiksiku yang berjalan, mampu mengemukakan segala pemikiranku disaat aku bahkan tak bisa mengucapkannya.
Mobil berdecit keras ketika Jongin mengerem, "Ladies, welcome to our new kingdom." ujarnya menoleh pada kami seraya tersenyum.
Audi A4 kami berhenti disebuah townhouse mungil bergaya modern minimalis, yang terletak dijalur utama pintu masuk kampus. Kami bergegas turun dan mulai mengambil barang dari bagasi. Bawaanku lebih sedikit dari Kyungsoo, sementara dia membawa 3 koper besar dan kuduga lebih berisi baju serta aksesoris ketimbang buku. Barangku cuma terdiri dari 1 ransel kecil dan 1 koper berukuran sedang. Sedangkan para pria tak membawa apapun mengingat semua kebutuhan mereka sudah tertata rapi didalam apartemen.
Sehun membantuku membawakan koperku, sementara Kyungsoo harus berdebat lagi dengan Jongin karena pemuda itu ingin bersikap gentle dengan membantunya. Pada akhirnya Kyungsoo menyerah karena kelelahan juga jika harus bolak-balik mengambil barang. Aku sempat menangkap ekspresi kekaguman pada sepasang mata abu-abu Kyungsoo sekilas, ketika dia melihat Jongin dengan mudahnya bisa mengangkut dua koper sekaligus dalam satu kali jalan.
Saat kami semua masuk aku menyadari jika apartemen ini memang didesain sesuai selera Sehun. Ibu dan ayah membelikan tempat ini memang untuk keperluan kami selama berada di Universitas, aku sendiri sudah cukup sering kemari dan beberapa kali menginap disaat-saat Jongin sedang tidak menggila dan mengadakan pesta.
Secara keseluruhan desain interiornya serba modern dengan dominasi warna merah tua, krem pada aneka barangnya. Sangat sedikit benda, menambahkan kesan simpel serta kemaskulinitasan yang menunjukkan siapa penghuninya. Terdiri dari 5 kamar dimana 2 sudah ditempati, satu dapur, satu ruang tamu, ruang keluarga berisi perapian, perpustakaan tapi sudah disulap Jongin menjadi gudang pribadinya, 4 kamar mandi dalam dan 1 kamar mandi luar.
Sehun menunjukkan lantai atas tempat aku dan Kyungsoo akan tidur. Menurutnya akan lebih adil jika kami mengambil masing-masing ruangan untuk diri sendiri mengingat Sehun dan Jongin tidak pernah berbagi ranjang. Yah, aku bisa paham keenganan Sehun, meskipun persahabatan mereka seperti ikatan rantai jangkar namun kelakuan berantakan Jongin terkadang sudah diluar batas kesabaran Sehun yang rapi dan teratur.
Aku langsung terkagum-kagum pada kamar yang Sehun tunjukkan untukku. Ruangan itu sudah disulapnya menjadi persis seperti di penthouse kami. Wallpaper ungu bergambar bintang perak menutupi keseluruhan dindingnya, ranjang berkanopi berbed cover ungu tua, bahkan Sehun juga telah sengaja memilihkan semua pernak-perniknya dengan warna kesukaanku itu. Sebuah pengharum ruangan beraroma jasmine, bau favoritku telah digantungkan didekat air condition.
"Ini semua hasil kerjamu?" tanyaku tak percaya, membalikkan badan untuk menatapnya.
"Kuharap kau suka." kata Sehun terdengar malu-malu, menyandarkan punggung pada ambang pintu dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku depan celana jeans.
Aku tersenyum lebar. "Kau bercanda. Ini luar biasa, terima kasih!" aku menghambur untuk memeluknya.
Membuat Kyungsoo mengeluarkan suara 'Ew…' kecil.
"Sebaiknya aku segera 'mengklaim' kamarku dulu. Hanya keajaiban yang membuat seseorang mendesainkannya untukku." nadanya terdengar kesal. Dia berjalan menyusuri lorong lalu menghilang disebuah ruangan tepat disamping kamarku.
Diam-diam aku merasa prihatin pada Kyungsoo. Hidupnya nyaris menyerupai Cinderella setelah ibunya meninggal akibat kanker 7 tahun lalu. Dan ayahnya, Wu Yifan adalah kepala dokter di rumah sakit milik keluarga Oh, menikah lagi dengan model terkenal asal Rusia, Hwang Zitao. Sebetulnya ibu tiri Kyungsoo berkpribadian baik, hanya saja sifat mereka sama-sama keras sehingga bentrokan dan pertengkaran tak bisa dihindari. Apalagi setelah adik tiri Kyungsoo, Sohyun, lahir. Kyungsoo merasa seperti dianaktirikan oleh ayah kandungnya sendiri. Sejak itu karakter Kyungsoo berubah menjadi pemarah, labil, dan selalu bertindak tanpa berpikir panjang.
Untungnya otaknya cukup encer sehingga bisa membawanya masuk ke Columbia bersamaku. Setidaknya, Kyungsoo sekarang memiliki satu keuntungan karena berada disalah satu kampus Ivy League sesuai keinginan ayahnya.
Aku dan Sehun baru saja akan membongkar barang ketika mendengar jeritan Kyungsoo dari dalam kamarnya. Kyungsoo keluar dari dalam ruangan itu menuju Sehun. "Apa kau yang mendesain kamarku?" tanyanya dengan mata penuh harap. Bukan kecemasan melainkan kegembiraan.
Merasa penasaran, aku segera menuju kamar Kyungsoo, seluruhnya telah didesain serba hijau dengan sebuah lukisan cat mural 2D pemandangan pegununang disalah satu sisi dindingnya. Meski tak seluas kamarku tapi tempat ini terasa nyaman dan begitu sarat akan seni. "Siapa yang melakukan ini?" tanyaku pada Sehun. Menunjuk kamar Kyungsoo.
Mengacak rambut, Sehun menjawab. "Sayangnya itu bukan aku."
Dan dengan segera kami mengetahui jawabannya. Aku menatap Kyungsoo yang dia balas dalam gaya menantang. Mendesah panjang, aku berkata. "Setidaknya, ucapkanlah terima kasih padanya."
Kyungsoo tampak bimbang sesaat, dia mengangguk setuju lalu menuruni anak tangga marmer onyx krem menuju lantai bawah. Dari atas tempatku aku bisa mendengar suara pintu dibuka diikuti suara Kyungsoo, terasa damai beberapa saat sebelum akhirnya kebisingan kembali terjadi. Kyungsoo berteriak pada Jongin, membanting pintu kamarnya lalu terdengar kekeh tawa pemuda itu. Saat sahabatku naik kembali dan bertemu kami, dia hanya memandang tajam mataku sambil berkata. "Memangnya kenapa? Lukisannya jelek tahu!" setelah itu Kyungsoo masuk kedalam kamarnya lalu membanting pintunya sekeras dia bisa.
Menghela nafas, Sehun berkata. "Sepertinya hidup kita bakal ramai disini."
Aku tertawa diikuti anggukan setuju. "Yang jelas, kau harus membeli banyak cadangan daun pintu."
To be Continued
hi^^ khusus buat wandapcy614 ini udah aku panjangin chapternya sampai 3k words hihi. happy reading guys^^ thankuuuu yg udah read, follow/fav laffuuuu
