6 bulan yang lalu...

"Seharusnya, kau tidak perlu bekerja jika kau masih merasa sakit," kata Luhan sembari mengudak bubur di panci tersebut dengan gerakan memutar teratur.

Baekhyun yang sedang menumpu dagunya di meja makan, hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar Luhan yang tak berhenti berbicara sedari tadi.

"Kyungsoo ke mana?" tanya Baekhyun mengalihkan topik pembicaraan mereka. Luhan mengerutkan dahinya kesal, karena pertanyaan melenceng Baekhyun.

"Seperti yang kita tahu, dia sedang merawat pasien kesayangannya," balas Luhan mengembuskan napas malasnya. Dia mengangkat panci kecil tersebut dari atas kompor dan menyalinkan bubur di dalamnya ke mangkok.

"Kesayangan," ulang Baekhyun mendelik ke arah Luhan yang mengangkat kedua alisnya.

"Benar, 'kan?" tanya Luhan memastikan, tetapi masih dengan nada bercandanya. Lalu, diletakkannya bubur tersebut di depan Baekhyun yang bersiap akan menyantap bubur buatan sahabatnya itu.

"Bagaimana dengan kepala sekolah di TK yang kau ajar itu?" tanya Baekhyun sedikit membuat Luhan tersedak air liurnya sendiri.

"Yak! Jangan membahas orang gila itu!" pekik Luhan yang salah tingkah sendiri. Baekhyun tertawa mengejek, bahkan dilihat wajahnya, Luhan sangat memerah ketika Baekhyun menyebutkan kata 'kepala sekolah'.

"Orang gila, tapi kau tetap menyukainya," goda Baekhyun terkikik kecil.

"Sekali lagi kau membahasnya, aku pulang!" Luhan memasang wajah seriusnya. Tetapi, Baekhyun tetap biasa saja.

"Pulang saja sana!" balas Baekhyun serampangan. Luhan menggertakan giginya karena tak tahan dengan kelakukan bocah di hadapannya itu.

PLETAK!

"Yak!" pekik Baekhyun tak terima dengan balasan Luhan yang berupa jitakan di dahinya itu. Asal kalian tahu saja, Luhan kalau sudah menjitak seseorang pasti meninggalkan bekas di dahi orang tersebut berupa sebuah garis mendatar yang memerah.

"Cepat habiskan makananmu!" titah Luhan dengan suara galaknya, sementara Baekhyun kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda tadi dengan cibiran kesalnya.

-o0o-

"Kau sudah bersiap, 'kan? Aku akan mengantarmu bekerja," kata Luhan yang sudah bersiap-siap dengan kunci mobil di tangannya.

"Ya, sebentar, aku mengambil ponselku dulu." Baekhyun berlari ke kamarnya dan mengambil ponsel yang tertinggal, lalu kembali ke luar.

Baru saja Baekhyun dan Luhan keluar dari apartment Baekhyun, ponsel Luhan berdering lagi dan itu entah sudah yang ke sekian kalinya.

"Pasti dari kepala sekolah tempatmu bekerja itu, 'kan?" tebak Baekhyun memainkan alisnya, berniat menggoda sahabatnya itu.

"Angkat saja," kata Baekhyun yang melihat Luhan tak kunjung menjawab panggilan tersebut, yang ada lelaki cantik itu tetap memandangi layar ponselnya tanpa ada niat untuk menjawabnya.

Luhan pun mengikuti intruksi Baekhyun dengan menjawab panggilan dari orang yang beberapa waktu lalu mereka bicarakan itu.

"Halo?"

"Hah?! Tapi, saya ha--"

"Baiklah."

Luhan menjatuhkan tangannya malas. Baekhyun memerhatikan wajah Luhan dengan saksama dan mengerti akan saru hal seperti itu.

Baekhyun mengulum bibirnya. "Kau bisa pergi."

Luhan menoleh terkejut saat Baekhyun ternyata sudah tahu apa yang sedang dibincangkan olehnya tadi bersama seseorang di telepon.

"Apa tidak masalah jika kau pergi sendiri?" tanya Luhan sedikit ragu meninggalkan sahabatnya yang baru saja akan sembuh ini.

"Tidak apa-apa. Pekerjaanmu yang terpenting," kata Baekhyun seraya tersneyum lebar bak seorang anak kecil, mata sipitnya yang begitu tipis menghilang dan membentuk sebuah senyuman.

"Aish! Kalau bukan karena dia atasanku, aku tak akan mau menurutinya," sengit Luhan menggerutui orang yang baru saja menghubunginya itu. Baekhyun berdecak seraya memutar bola matanya malas. Luhan itu di luarnya saja ia berlagak tidak mau, padahal di dalam hatinya, lelaki cantik itu berharap lebih.

"Sudahlah, aku akan akan memakai bus saja," kata Baekhyun dengan suara seraknya, efek dari demam yang belum hilang.

"Hm, aku pergi dulu, hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa kau tinggal menekan angka 1 di speed dial-mu." Baekhyun mengangguk dan mendorong Luhan dari hadapannya supaya lelaki itu cepat beranjak dari depannya.

"Ya, ya, ya! Sana pergi!" suruh Baekhyun yang geram sendiri melihat kelakuan sahabatnya itu.

"Kau?" tanya Luhan yang berniat akan mengantarkan Baekhyun dulu ke tempat kerjanya, sebenarnya.

"Aku meninggalkan sesuatu di dalam, aku akan mengambilnya. Kau bisa pergi sekarang." Baekhyun beralih ke pintunya dan --berpura-pura-- menekan sandi pintunya.

Luhan menghela napasnya, kemudian berjalan meninggalkan Baekhyun, tetapi sesekali dia berbalik dan mengerucutkan bibirnya. Baekhyun melambaikan tangannya hingga akhirnya dia menjatuhkan tangannya setelah Luhan masuk ke dalam lift.

Air muka Baekhyun lantas berubah lesu, dan berjalan dengan pikiran yang kosong.

Lelaki cantik bermata sabit itu tak menyadari sepasang mata dengan ketajaman bak mata elang tengah memerhatikannya.

-o0o-

Bus berhenti di depan halte. Perlahan, pintu terbuka dan tampaklah kaki-kaki penumpang bus yang akan turun di halte itu dengan tergesa-gesa, memperlihatkan bagaimana sibuknya mereka hari ini. Baekhyun yang memang sedang kacau hari ini hampir saja mencium kerasnya trotoar kalau saja tidak ada seseorang di belakangnya yang segera menariknya kembali.

Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan semua pergerakannya kepada orang itu, dan sekarang ia berakhir di pelukan orang itu. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadarkan keduanya dengan suara besar sang supir bus.

"Apa yang kalian lakukan di sana?!" Orang itu menyadari akan hal itu dan menarik Baekhyun turun dari bus tersebut, dia juga tidak lupa membungkukan tubuhnya beberapa kali sebagai bentuk permintaan maafnya.

Setelah bus itu pergi, Baekhyun baru bisa mengerti apa yang sedang terjadi dan dia sekarang --tentu saja-- merasa menyesal sekali karena sudah mempermalukan dirinya sendiri. Apa-apaan tadi.

"Maafkan saya," kata Baekhyun penuh penyesalan, dia membungkuk berkali-kali dan sama sekali tidak mau mengangkat kepalanya. Oh Tuhan, dia merasa malu sekali tadi. Terlebih, Baekhyun sama sekali tidak menolak dipeluk, di depan pintu bus pula.

Bibir kissable orang itu tertarik ke atas, menciptakan lengkungan yang begitu manis di sana. Namun, Baekhyun masih belum menyadari bahwa penolongnya itu memiliki wajah yang sangat tampan dan tetap sibuk menggeruti dirinya sembari menundukan kepalanya semakin dalam.

"Ah, itu tidak masalah, kau berada di depanku dan akan jatuh saat penumpang lainnya menyerobot, tentu saja aku akan menolongmu, mungkin jika orang lain berada di posisiku, mereka akan melakukan hal yang sama.

Kepala Baekhyun perlahan terangkat secara teratur, matanya bergerak dan melihat wajah seseorang yang sudah menolongnya itu. Sejenak Baekhyun terkesima akan ketampanan lelaki penolong di depannya itu.

Yang dipandangi pun seperti merasa tidak enak dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.

"Apa di wajah saya ada sesuatu yang menjijikkan, sampai-sampai kau memandangiku seperti itu?" tanya lelaki itu terlihat bingung dengan ekspresi Baekhyun.

Baekhyun tersadar, kemudian sedikit mengerucutkan bibir tipis nan merah mudanya itu, benar-benar terlihat menggemaskan. "Tidak ada, hanya saja kau itu sangat tampan."

Lelaki itu tersipu dan tersenyum malu mendengar pujian Baekhyun yang begitu jujur sekali. Baekhyun memang jago dalam hal memuji orang, tetapi dia tidak pernah tulus mengucapkannya dan baru kali ini-lah Baekhyun mengatakannya dari lubuk hatinya yang terdalam.

Baekhyun yang tersadar apa yang diucapkannya pun mengubur wajahnya dengan kedua tangannya. Satu hal yang harus kalian ketahui tentang seorang Baekhyun, bahwa lelaki cantik itu adalah Gay.

Baekhyun membuka wajahnya kembali dan mengangkatnya dengan deheman agar radar gaynya tidak terlalu terbaca oleh lelaki tampan di depannya itu.

Baekhyun mengulurkan tangannya serta merta tersenyum begitu manis.

"Namaku, Byun Baekhyun. Kau?"

Lelaki tampan itu ikut tersenyum dan menyambut uluran tangan Baekhyun yang terasa lembut.

"Aku, Park Chanyeol."

-o0o-

Baekhyun segera berlari ke cafe tempatnya bekerja saat urusannya dengan lelaki tampan bernamakan Park Chanyeol itu sudah selesai. Lelaki itu tak berhenti melirik arlojinya dan semakin mempercepat larinya.

Kring!

Bel di pintu cafe itu berbunyi begitu keras ketika Baekhyun membukannya dengan tak santai. Otomatis, seluruh pengunjung cafe di sana memandanginya tak senang.

Seorang lelaki berwajah kotak dari arah pintu dapur muncul begitu saja dan segera menarik Baekhyun dari tempatnya berdiri dan segera masuk ke dalam dapur cafe.

"Yak! Kenapa kau masuk?" tanyanya dengan nada antara terengah-engah dan khawarir. Sedangkan, Baekhyun tertawa mengejek.

"Kau mengkhawatirkan aku? Aku begitu tersanjung," kata Baekhyun sangat percaya diri. Namun, dengan senyuman yang lemah, entah karena berlari atau suhu tubuhnya yang kembali naik.

"Lihat wajah jelekmu itu, pucat sekali."

Lelaki berwajah kotak itu memutar badan Baekhyun dan memperlihatkan wajah Baekhyun yang terpantul pada cermin kecil di dinding.

"Aish! Yak, Kim Jongdae, wajahku memang sudah seperti ini!" protes Baekhyun tak terima dikatai oleh teman kerjanya yang juga merangkap sebagai sahabatnya. Dia memutar lagi dan melepaskan kedua tangan Jongdae dari kedua lengannya.

Jongdae meletakkan punggung tangannya di dahi Baekhyun secara tiba-tiba, membuat Baekhyun terkejut bukan main. Lalu, Baekhyun segera menjatuhkan tangan Jongdae lagi dan menyibir, kemudian lelaki cantik itu masuk ke dalam kamar ganti.

"Yak! Bisa-bisanya kau meninggalkan aku seperti ini!" teriak Jongdae yang kesal karena Baekhyun meninggalkannya begitu saja.

-o0o-

Baekhyun mengelap meja dengan peluh yang menetes dari pelipisnya, dia sangat lelah sekarang, ditambah lagi suhu tubuhnya semakin bertambah.

"Baek, kau baik-baik saja?" tanya Jongdae menghampiri Baekhyun yang bisa kapan saja terjatuh. Baekhyun berbalik dan tersenyum, memperlihatkan kalau dia masih sanggup mengerjakan tugasnya.

"Sebaiknya kau pulang, kondisimu semakin memburuk," saran Jongdae yang bertambah khawatir dan panik dengan kondisi Baekhyun saat ini.

"Apa akan baik-baik saja?" tanya Baekhyun yang memang tidak kuat lagi bekerja. Rasanya, seluruh bintang yang berkeliling di sekitar kepalanya itu memaksanya menutup mata saat itu juga.

"Tenang saja, kau harus beristirahat, setidaknya untuk tiga hari ke depan," ujar Jongdae yang langsung saja membuka apron Baekhyun membuat lelaki cantik itu mengerutkan bibirnya kesal.

Lagi, tanpa di sadari oleh keduanya, seseorang tengah menggeram, bahkan kedua tangannya sudah mengepal tajam.

Baekhyun yang merasakan hawa aneh yang mengitarinya pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe dan hanya menemukan beberapa pelanggan saja. Namun, alisnua mengerut tatkala kedua mata sabitnya menemukan sesosok lelaki tampan yang menolongnya di bus tadi pagi.

Wah, sebuah kebetulan sekali!

-o0o-

Baekhyun menuruni bus ketika sudah sampai di halte yang dekat dengan apartmentnya, tetapi sebelum itu Baekhyun harus menembus sebuah gang kecil yang biasa disebutnya dengan jalur alternatif. Jika dia melewati jalan biasa, mungkin memerlukan waktu lima belas menit untuk berjalan kaki.

Baekhyun kembali merasa hawa aneh menyelimuti dirinya, perasaannya mengatakan bahwa ada bahaya di belakangnya jika dia berbalik. Jadi, lelaki cantik itu memilih untuk berjalan terus dengan tempo semakin cepat.

Semakin cepat langkahnya untuk segera keluar dari gang sempit ini, semakin besar hawa aneh itu mendekatinya, dan juga jangan lupakan kepalanya yang semakin memberat itu.

Dan, sebuah tangan menyentuh bahunya membuatnya memekik ketakutan.

"HUWA!" Baekhyun berbalik dan menampar orang di belakangnya itu dengan sangat kuat, tak ayal orang itu meringis begitu keras.

Baekhyun membola saat melihat wajah orang yang ditamparnya itu. Ternyata, orang itu adalah penolongnya tadi pagi.

"P-Park Chanyeol-ssi?" Baekhyun benar-benar mengumpati apa yang dia lakukan tadi.

"Maafkan aku, Chanyeol-ssi," ucap Baekhyun membungkukan setengah badannya se-dalam mungkin. Baekhyun memegang pipi Chanyeol, nama lelaki tampan itu, dan melihat betapa merahnya pipi Chanyeol.

Tunggu, tapi bagaimana bisa mereka bertemu secara kebetulan lagi? Ini sudah yang ketiga kalinya.

"Tidak apa-apa. Berbicara tentang itu, kita sudah bertemu secara tak sengaja untuk yang ketiga kalinya." Chanyeol tersenyum dan mengacungkan ketiga jari kanannya. Baekhyun membuka mulutnya terkejut, lalu menggaruk kepala belakangnya.

"Ah, iya. Eh, kau mau ke mana?" tanya Baekhyun berbasa-basi supaya suasana canggung yang melingkupinya hilang.

"Aku hanya ingin ke rumah temanku yang berada di apartment itu." Chanyeol menunjuk sebuah gedung besar yang ternyata juga apartment yang ditinggali oleh Baekhyun.

"Begitu, ya? Lalu, kau sudah mengetahui di mana apartment temanmu itu?"

Chanyeol mengangguk. "Ya, aku sudah mengetahuinya, kalau begitu aku duluan, ya?"

Baekhyun menganggukan kepalanya, juga tak lupa memberikan senyuman terbaiknya. Setelah cukup jauh, Baekhyun bersandar pada tembok di sampingnya, mengambil napas sebanyak mungkin.

"Lega sekali," cicit Baekhyun yang terengah-engah dengan kejadian tadi. Ia mengira bahwa orang dibelakangnya tadi adalah paman-paman mesum atau seorang pembunuh, ternyata itu adalah Park Chanyeol, seseorang yang menolong dirinya tadi pagi di bus.

-o0o-

Baekhyun menyusuri lorong apartmentnya dengan wajah lesu dan malasnya, dirinya tidak sabar lagi untuk merebahkan tubuhnya itu di atas kasur yang begitu empuk. Bersamaan dengan itu, Baekhyun terkadang memerhatikan sekitarnya yang tampak lenggang hari ini, padahal biasanya anak-anak kecil akan berlari-larian tak tentu arah dan membuat gaduh. Namun, hari ini mereka semua tidak ada dan malah membuat rasa takut Baekhyun semakin membuncah.

Dan satu hal lagi, Baekhyun merasakan sesuatu hal yang sama seperti saat di gang kecil tadi. Seperti ada seseorang yang mengikutinya dan menatapnya seolah akan menelanjanginya saat itu juga.

'Tuhan...' pinta Baekhyun selalu memanjatkan doa dalam hatinya agar perasaan itu musnah.

Baekhyun merasakan ponselnya bergetar dari saku celana, ia merogohnya dan bersiap-siap akan mengangkat sambungan telepon tersebut. Namun, seseorang dari belakangnya tiba-tiba saja membekap mulut dan hidungnya.

"Hmmpppt!"

Dan setelah itu ... gelap.

Orang itu mengangkat tubuh yang lebih mungil darinya itu dengan mudahnya. Meninggalkan ponsel Baekhyun yang menyala dan menampilkan ID-Caller sang penelepon tadi.

'LU HAN'

"Halo, Baek? Kau mendengarkanku?"

"Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun!"

TO BE CONTINUED!

JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK AGAR AKU BISA SEMANGAT MENGETIKNYA, YA!