HEAVEN
ChanBaek
Omegaverse-Mpreg
.
..
...
Baekhyun tak tahu apakah takdir baik atau buruk yang telah menimpanya, namun ia merasa, terperangkap di Istana Air yang megah ini sepertinya tidak buruk juga. Suara gemericik air, kicau burung kecil yang terbang mengitari istana, serta wangi embun dari tanaman hijau, membuat dirinya merasa tenang. Istana ini tak jauh berbeda dari Istana Heaven dan Baekhyun cukup lega untuk itu.
Tapi tetap saja, mengingat bahwa ditinggal seorang diri di istana yang asing ini membuatnya tak nyaman. Bagaimanapun, ia baru saja tiba hari ini, tak mengenal siapapun, dan lagi, tak ada sang mama disini. Rasanya Baekhyun ingin menangis lagi.
"Tuan muda, hari akan mulai gelap, akan lebih baik jika kita kembali ke dalam,"
"Tidak bisakah Baekhyun disini saja? Baekhyun tak nyaman di dalam," ia merengek lirih hingga hampir tak terdengar, beruntung pelayan di sampingnya masih bisa mendengar ucapannya.
"Kalau begitu, akan saya ambilkan teh hangat untuk tuan muda, agar tuan muda merasa lebih nyaman,"
Baekhyun hanya mengangguk seadanya, membiarkan pelayan itu pergi sejenak.
"Baekhyun rindu mama," ia bergumam lagi, kali ini dengan air mata mulai terbentuk di sudut matanya. Ia merasa bodoh karena berhasil dibohongi oleh kata-kata sang ayah.
Calon suami yang mana? Orang yang ditemuinya sejak awal hanyalah sepasang suami istri berwajah pucat, sepucat wajah kakak keduanya. Meskipun senyum yang mereka tujukan padanya terlihat tulus, Baekhyun masih merasa tak nyaman. Ia belum mengenal mereka, dan ia tak bisa memutuskan apakah ia bisa mempercayai mereka atau tidak. Kehadiran ayahnya pun sama sekali tak membantu.
Dan sekarang, ia benar-benar ditinggalkan seorang diri, di tempat yang asing. Kini ia mulai mengerti maksud ayahnya mengajaknya kemari. Ya, ayahnya memang ingin membuangnya, seperti beberapa kesempatan yang pernah ayahnya lakukan padanya.
Suara langkah kuda mengalihkan perhatian Baekhyun dari rumput hijau yang sedari tadi dipandanginya. Mata sendunya perlahan berbinar saat mendapati sosok yang dikenalnya.
"Paman!"
Lelaki yang berada di atas kuda itu memekik terkejut, hampir saja menabrak Baekhyun jika dirinya tak sigap menghindari Baekhyun yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan kudanya.
"Ya! Apa yang kau lakukan, hah? Kau ingin mati?"
"Paman!" bukannya meringkuk ketakutan, Baekhyun justru semakin memekik senang saat melihat Chanyeol turun dari kudanya. Pemuda mungil itu segera berlari mendekati lelaki itu dan memeluknya erat.
Chanyeol terkejut untuk kedua kalinya. Dengan kasar dilepasnya pelukan itu dan ditatapnya pemuda itu dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau ada di sini?" tanya Chanyeol beruntun. Ia baru sadar jika pemuda mungil adalah pemuda yang pernah ia tolong sebelumnya di festival.
"Paman pasti terkejut melihat Baekhyun disini," ujar Baekhyun dengan senyum lebarnya. "Paman sendiri kenapa ada di sini?"
"Aku-,"
"Oh, Chanyeol-ah,"
Ucapan Chanyeol terpotong oleh suara Yixing. Lelaki berlesung itu datang dengan sebuah nampan berisi secangkir teh di tangannya.
"Kau sudah pulang? Suho sudah menunggumu di ruangannya, bicaralah dengannya," ujar Yixing yang hanya di dengar oleh Chanyeol. Tanpa berniat menjawab, lelaki itu sudah lebih dahulu berjalan melewati Yixing untuk masuk ke dalam istana.
Mendapat respon seperti itu, Yixing hanya bisa tersenyum, lagi-lagi hanya bisa maklum dengan sikap dingin Chanyeol. Matanya kemudian beralih pada Baekhyun, yang kini kembali merengut karena merasa diabaikan oleh Chanyeol.
"Baekhyun-ah? Hyung membawa teh hangat untukmu, Baekhyun mau?" ujar Yixing lembut.
Baekhyun menunduk, merasa tak nyaman dengan kehadiran Yixing.
"Ah, sepertinya Baekhyun tak suka teh hangat ya? Hmm, bagaimana dengan jus? Di taman belakang milik hyung ada banyak buah-buahan, jeruk, anggur, semangka, strawberri, apel-,"
"Strawberri?" pemuda mungil itu mulai tertarik dengan apa yang ditawarkan Yixing. "Hyungie punya strawberri?"
"Iya. Baekhyun suka strawberri?" Baekhyun mengangguk cepat. Ia memang penggemar berat strawberri, bahkan sang mama sengaja membuat kebun strawberri untuknya di Heaven.
"Kalau begitu, mau memetiknya bersama hyung?"
...
"Hyung bercanda?" Chanyeol menatap sosok yang sudah ia anggap sebagai kakak lelakinya dengan tatapan tak percaya.
"Anak itu adalah calon omega-ku? Bagaimana bisa?"
Suho menghela nafasnya sejenak, sudah mengira akan reaksi yang Chanyeol berikan padanya. Lelaki itu pasti sulit menerimanya, bahkan dirinya sendiri pun masih belum bisa menerima fakta yang saat ini terjadi.
"Ini benar, Chanyeol. Anak itu adalah calon omega-mu. Aku sudah berdiskusi dengan Yixing mengenai hal ini,"
"Tapi hyung, kau bilang sendiri, omega-ku haruslah seorang Elyxion yang beraura kuat. Sedangkan aura anak itu lemah hyung, sangat lemah. Bagaimana kau menjadikannya sebagai omega-ku?"
"Begini Chanyeol," Suho berujar perlahan, berusaha menenangkan Chanyeol. "Kau ingat Zitao? Omega kakakmu? Anak itu memiliki energi yang sama dengannya, Yixing yang mengatakan ini padaku,"
"Oh, omega yang membuat Yifan hyung pergi dan melepas tanggung jawabnya sebagai Phoenix?" Chanyeol berdecih. "Jadi kau bilang, karena mereka memiliki energi yang sama, ia bisa menjadi omega-ku? Apa tak ada omega lain yang lebih pantas?"
"Chanyeol, mengertilah, saat ini hanya anak itu yang bisa aku temukan untuk menjadi omega-mu,"
"Aku tak peduli butuh waktu selama apa, tapi aku tak ingin anak itu yang menjadi omega-ku, hyung. Ini terlalu beresiko,"
"Kau hanya butuh keturunan darinya, dan selesai. Kita tak perlu peduli apakah nantinya ia berhasil hidup atau tidak, karenanya keluarganya pun sengaja membuangnya pada kita,"
Chanyeol terkesiap, tak percaya dengan ucapan Suho sebelumnya. Ia jadi teringat pertemuan tak sengajanya dengan ayah dan ibu Baekhyun di festival.
Ternyata benar dugaannya saat itu, anak itu memang sengaja dibuang dengan ditinggalkan seorang diri.
"Aku tak tau kau selicik itu, hyung,"
Suho mengusak kasar rambutnya, mulai merasa frustasi.
"Lalu bagaimana lagi? Asal kau tau, Chanyeol, Yifan baru berhasil mendapatkan omega-nya bahkan setelah berkelana dan berperang selama berpuluh-puluh tahun, sedangkan dirimu? Apa kau bisa melakukannya sekarang? Sedangkan kau dituntut untuk memimpin segera,"
Chanyeol terdiam, tak berani menjawab karena memang itu kebenarannya. Ia terlalu banyak bersantai selama ini, mengabaikan fakta mengenai dirinya yang akan menjadi penerus Phoenix.
"Aku tak bisa terlalu lama melindungi istanamu, Chanyeol. Para musuh kalian mulai berevolusi sekarang, dan tak akan ada yang bisa mengalahkannya selain Phoenix sendiri,"
Istananya, tempat tinggalnya, tanah kelahirannya. Chanyeol mulai teringat satu-per satu kenangan yang ada di sana. Jika istana yang selama ini dilindungi oleh kristal air Suho itu, jatuh ke tangan musuh mereka, Klan Api akan benar-benar berakhir. Dan Chanyeol tak sudi hal itu terjadi.
...
Baekhyun baru saja tertidur setelah menyantap makan malamnya satu jam yang lalu. Yixing sendiri yang membuat dan menghidangkan makan malam itu, bahkan ia menemani si mungil menghabiskan makan malamnya. Dan selama waktu itulah dimanfaatkan Yixing untuk mendekatkan dirinya pada Baekhyun. Yixing tahu jika Baekhyun masih merasa canggung dengan suasana barunya kini, karena itulah, Yixing berusaha lebih untuk membuat Baekhyun nyaman padanya.
Suho sudah berada di atas ranjangnya saat Yixing memasuki kamar mereka. Ia segera membuka pakaiannya, menggantinya dengan baju tidur yang biasa ia gunakan.
"Kudengar kau makan malam bersama anak itu tadi?"
"Hmm," Yixing bergumam sembari mengancing piyamanya.
"Bagaimana dengannya? Apa ia sudah mulai mau bicara denganmu?"
"Begitulah. Ia bahkan sudah mau banyak bercerita lebih dulu,"
"Baguslah kalau begitu, setidaknya ia sudah merasa nyaman dengan salah satu dari kita,"
Yixing tersenyum setuju, lalu mulai membaringkan tubuhnya di samping Suho. Lelaki itu segera menyambutnya, memeluk tubuhnya dari samping sembari sesekali mencuri kesempatan mencium ceruk lehernya.
"Kau sudah menjelaskan mengenai Chanyeol?" meski begitu, pembicaraan mereka masih berlanjut.
"Belum. Tapi kurasa Baekhyun sudah mengenal Chanyeol. Ia bahkan memanggil Chanyeol 'Paman',"
"Paman?"
"Hmm. Hanya saja, respon Chanyeol masih dingin. Kau tau sendiri bagaimana dia, bukan?"
"Tapi, bagaimana bisa mereka saling mengenal. Anak itu sudah mau berbicara pada Chanyeol padahal pada kita pun, ia masih canggung,"
"Entahlah. Aku juga tak tau soal itu,"
...
Pukul 12 malam, waktu yang tepat untuk mengarungi mimpi di alam tidur, namun Chanyeol justru terbangun oleh hasratnya ke kamar mandi. Rasa kantuk yang menderanya tadi hilang begitu tangannya menyentuh dinginnya air. Air di istana ini memang cenderung lebih dingin, karena memang merupakan air suci dan alami.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya, sekadar berjalan menyisiri koridor sembari menunggu rasa kantuknya kembali. Hingga sebuah suara isakan membuat langkahnya terhenti sejenak. Awalnya ia mengira itu hanya imajinasinya, namun suara isakan itu terus berlanjut, membuat bulu kuduknya naik. Dengan penasaran ia mengikuti suara isakan tersebut.
Mata bulatnya sedikit menyipit begitu sesosok pemuda mungil tampak tak jauh dari hadapannya. Pemuda itu tengah terduduk di sisi lantai koridor, terlihat menunduk dan menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya.
"Hei, kau," Chanyeol menegurnya dari jauh, membuat lelaki itu seketika mengangkat kepalanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Pemuda mungil itu nyatanya adalah Baekhyun. Begitu mengenali wajah Chanyeol, Baekhyun buru-buru bangkit dari duduknya.
"Paman belum tidur?"
"Hei, aku yang bertanya padamu lebih dulu," Chanyeol membalas dengan kesal.
Baekhyun tanpa sadar terkekeh kecil, meski matanya masih terlihat basah.
"Kenapa menangis sendirian di sini?" tanya Chanyeol akhirnya, sembari duduk tak jauh di tempat yang sebelumnya Baekhyun duduki.
Baekhyun mau tak mau akhirnya kembali duduk, wajahnya kembali terlihat muram.
"Baekhyun rindu Mama,"
"Lalu kenapa tidak pulang saja?" terdengar seperti sebuah pengusiran, namun Chanyeol sebenarnya hanya ingin bertanya.
Baekhyun lagi-lagi hanya bisa menunduk dan terisak kecil.
"Kalau kau ingin pulang, pulanglah. Ini bukan tempat yang pantas untukmu," Chanyeol berujar lagi, tanpa sekalipun melirik ke arah Baekhyun. Ia sebenarnya sedikit tak tega, namun ia juga tak setuju dengan perjodohan mereka.
"Tapi Baekhyun takut pada Ayah," Baekhyun menjawab lirih. "Ayah akan marah jika Baekhyun tidak jadi menikah,"
Jadi anak ini sudah tau akan dinikahkan. Chanyeol berujar dalam hati.
"Memangnya kau mau menikah dengan orang yang tidak kau kenal?"
Mendengar pertanyaan itu, Baekhyun seketika menatap Chanyeol, membuat Chanyeol sedikit gugup.
"Apa? Kenapa menatapku?" Apa anak ini sudah tau bahwa aku yang akan menikah dengannya?
"Paman tau siapa yang akan menikah dengan Baekhyun?"
Chanyeol berdeham kecil, merasa kebingungan untuk menjawab.
"Hmm, tentu saja. Dia orang yang sangat menyeramkan. Tubuhnya besar dan bulat, selain itu, ia juga sudah tua. Kau mau dinikahkan dengannya?" bohong Chanyeol akhirnya.
Baekhyun tampak berpikir sejenak. Satu tangannya memegang dagu dengan raut wajah menggemaskan. Chanyeol dalam hati menertawai tindakan konyolnya untuk membohongi Baekhyun.
"Baekhyun sebenarnya tidak mau, tapi Ayah sudah memilihkannya untuk Baekhyun," jawab Baekhyun akhirnya dengan wajah lesu, yang entah mengapa terlihat semakin imut di mata Chanyeol.
Chanyeol akhirnya hanya bisa membuang nafas panjang, sedikit kecewa usahanya membujuk Baekhyun pergi ternyata tak berhasil.
"Kau takut sekali pada ayahmu itu. Semenakutkan apa dia," Chanyeol sebenarnya hanya bergumam, namun hal itu membuat Baekhyun menunduk sedih.
"Ayah tak pernah menyukai Baekhyun," jawab si mungil dengan sendu.
"Kenapa? Karena kau bukan anak kandungnya?"
Ucapan Chanyeol itu tanpa diduga membuat Baekhyun kembali menangis.
"Hei, aku hanya bertanya," Chanyeol berusaha memperbaiki ucapannya, namun bukannya berhenti, tangisan Baekhyun justru semakin kencang. Dan itu membuat Chanyeol gusar.
"Sudah jangan menangis, maafkan aku," Chanyeol berusaha berbagai cara untuk menenangkan Baekhyn, namun nyatanya anak itu tetap menangis kencang.
"Kalau kau menangis terus, monster di Istana ini akan bangun dan memakanmu," tak punya ide lain, Chanyeol akhirnya lagi-lagi membohongi Baekhyun. Dan hal itu tampaknya berhasil karena setelahnya, Baekhyun berhenti menangis dan menatap Chanyeol.
"Monster?" Chanyeol hanya bisa mengangguk dengan wajah meyakinkan.
"Monster apa?"
"Eum, monster kucing?" Chanyeol menjawab sedikit ragu, karena pada kenyataannya satu-satunya monster di tempat ini adalah Tan, monster kucing milik Minseok, sepupu Suho.
"Apa dia menyeramkan?" bukannya takut, Baekhyun sepertinya justru tertarik dengan monster yang Chanyeol maksudkan.
"Ugh, sedikit," sebenarnya tidak sama sekali, Chanyeol bahkan tak yakin jika Tan masih bisa disebut monster karena perawakannya yang begitu menggemaskan.
"Baekhyun ingin lihat,"
"Apa?"
...
Chanyeol tak menyangka jika kebohongannya pada Baekhyun justru membawanya ke dalam kandang Tan di waktu malam seperti ini. Diam-diam ia mengutuk kebodohannya. Mengapa ia tak sekalian berbohong mengenai monster harimau atau singa? Setidaknya lebih meyakinkan untuk menakut-nakuti Baekhyun.
"Hei, jalan yang cepat," Chanyeol mengomel pada Baekhyun yang berjalan di belakangnya.
"Baekhyun susah jalan, gelap,"
Chanyeol menghela nafas panjangnya ke sekian kali, menghadapi omega manja seperti Baekhyun benar-benar menguras emosi. Apalagi untuk menikah dengannya, membayangkannya saja Chanyeol sudah tidak ingin.
"Nah, sudah sampai,"
Decakan kagum keluar dari bibir Baekhyun begitu mereka sampai. Sebagai seorang monster kucing, kandang Tan sebenarnya terlalu mewah. Kandang itu bahkan terlihat lebih seperti sebuah kamar.
"Namanya Tan?" Baekhyun bertanya setelah membaca papan di pintu kandang.
"Iya," Chanyeol menjawab malas. "Kalau ingin masuk, lihat saja dan jangan berisik. Kau bisa membangunkannya nanti,"
Baekhyun mengangguk bersemangat, lalu perlahan membuka pintu kandang itu.
"Tan-nie? Tan-nie~" Baekhyun memanggil dengan lembut sembari melangkah masuk, sedangkan Chanyeol tetap berdiri di luar dengan enggan. Lelaki itu hany a menggerakkan salah satu kakinya dengan gusar, menunggu yang lebih mungil untuk segera keluar, namun nyatanya justru sebuah teriakan yang ia dengar.
"Kyaa!"
Chanyeol berjengit terkejut, seketika mengambil langkah untuk memasuki kandang monster kucing itu.
"Hei, apa yang terjadi?" tanya lelaki itu dengan khawatir, namun nyatanya yang ia lihat justru Baekhyun yang tengah dijilati oleh Tan, si monster kucing. Chanyeol berdiri mematung, tak tau harus bereaksi apa.
"Pa-paman, Tan-nie sepertinya menyukaiku," Baekhyun berujar sembari tertawa kecil. Tubuh mungilnya berusaha menyingkirkan tubuh Tan di atasnya.
"Cukup, Tan-nie," Baekhyun akhirnya berhail memangku tubuh gempal Tan di tangannya.
"Perkenalkan, aku Baekhyun. Dan itu, Paman," pemuda mungil itu menyapa Tan, lalu memaksa kucing itu berbalik menatap Chanyeol. Hanya saja, begitu Tan menatap Chanyeol, ia seketika lepas dari pangkuan Baekhyun dan menubruk Chanyeol.
Baekhyun awalnya tertawa, namun begitu mendengar teriakan Chanyeol, ia buru-buru mendekat.
"Ya! Aku alergi kucing!"
...
"Astaga, kenapa kalian berdua bisa ada di kandang Tan tengah malam begini," gumam Yixing sembari mengaduk ramuan yang telah di buatnya. Setelah itu, ia pun mendekati ranjang yang ditempati Chanyeol, meletakkan cangkir berisis obat itu pada meja di samping ranjang.
"Ugh, maafkan Baekhyun," Baekhyun yang berada di sudut lain di ruangan kesehatan itu hanya mencicit lirih, merasa takut.
"Baekhyun tidak tau kalau Paman alergi kucing," lirih pemuda mungil itu lagi.
Yixing tersenyum, lalu beralih mendekati Baekhyun. "Tidak apa-apa, setelah meminum obatnya, Chanyeol akan segera pulih kembali,"
Baekhyun bernafas lega setelahnya, lalu menatap Chanyeol yang masih berbaring dengan wajah kemerahan.
"Nah, sekarang Baekhyun juga harus istirahat. Sebentar lagi pagi menjelang,"
"Tapi Baekhyun ingin di sini bersama Paman,"
Yixing terdiam sejenak, nampak menimbang, hingga kemudian sebuah anggukan menjadi jawabannya.
"Baiklah, tapi beristirahatlah jika Baekhyun ingin, heum? Jangan terjaga sampai pagi,"
"Baik, Hyung-ie,"
...
"Chanyeol-ie,"
"Mama,"
"Chanyeol-ie,"
"Mama!"
"MAMA!"
Chanyeol terbangun seketika dengan tubuh berkeringat. Dengn kepala yang masih terasa pening, Chanyeol berusaha membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya. Matanya menyipit begitu mendapati sosok mungil di samping ranjangnya yang tengah tertidur dengan manis.
"Mama?"
Matanya berkejap beberapa kali untuk memfokuskan retinanya, namun sosok itu bukanlah sosok sang Mama yang sebelumnya berada di mimpinya. Itu adalah Baekhyun.
"Ck, apa yang ia lakukan di sini," merasa kecewa, Chanyeol kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya.
.
..
...
TBC
