Chapter 2: THE NEW WAY
Motherfucker
An Action Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Are you ready to kill?"
A sequel of Welcome to Our Madness
.
.
.
APRIL 25
Sebelas hari kemudian. Inilah waktu yang Luhan tunggu selama ini. Selama bertahun-tahun lamanya. Jadi ia meminta izin untuk pulang lebih dahulu, mengatakan bahwa ini haari penting karena ia perlu menjemput adiknya.
Jongdae, rekan kerjanya memperhatikan Luhan yang tengah membereskan beberapa barangnya.
"Hari ini dia keluar?"
Jongdae tahu tentang masalah di keluarga Luhan karena mereka sudah lama berteman, bahkan sejak Yifan masih hidup. Jongdae sendiri yang selalu menemani Luhan saat ia masih di rumah sakit untuk kepulihannya. Luhan tersenyum tipis dan meraih tasnya.
"Kapan-kapan aku boleh berkunjung, ya?"
"Datang saja." Luhan tersenyum. "Xiumin juga sepertinya merindukanmu."
"Baiklah, Mommy." canda Jongdae. "Kau ini aneh sekali. Tinggal di Korea. Bermarga China. Tapi menyuruh anakmu memanggilmu dengan panggilan dari barat."
Luhan terkikik kecil. "Aku masih punya darah Korea lho."
"Tapi barat?"
"Ada Yifan." Luhan tersenyum tipis. "Sudah, ya. Aku harus berangkat sekarang."
"Baiklah." Jongdae tersenyum dan melambai saat Luhan pergi menjauh. "Sampaikan salamku untuk Sehun~!"
Luhan masih mendengar seruan itu tapi tidak sempat membalas. Tentu saja ia tidak mungkin berteriak di kantor itu hanya untuk membalas ucapan Jongdae. Kakinya bergegas menuju lift yang membawanya menuju basement. Segera setelah mencapai mobilnya, Luhan segera melajukannya keluar menuju penjara dimana Sehun di tahan.
Sekitar satu jam, Luhan berhasil mencapai tempat tujuannya. Dengan memakirkan mobilnya di lapangan, Luhan menunggu sekitar puluhan menit sampai ia melihat dua orang polisi keluar dari pintu utama bagian belakang berjalan di antara Sehun yang kali ini sudah tidak mengenakan jumpsuit penjara.
Luhan tersenyum tipis. Tepat ketika Sehun berada sekitar dua langkah darinya sekarang.
Kedua polisi itu meninggalkannya. Sehun memilih untuk tersenyum tipis tetapi gerakan cepat Luhan yang memeluknya membuat senyuman itu melebar.
"Sehun," Luhan menggumamkan namanya. "Sehun. Gege merindukanmu, sangat merindukanmu."
Sehun membalas pelukan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sampai matanya menangkap sosok seseorang yang tengah dipeluk oleh kedua orangtuanya. Jeon Jungkook yang juga bebas saat itu juga.
Sehun tersadar ketika Luhan melepaskan pelukannya lalu menatapnya dengan linangan air mata. Sehun mengecup bibirnya singkat sebelum Luhan menyuruhnya untuk menaiki mobil.
"Katakan kau ingin makan apa, akan Gege buatkan."
Sifat Luhan berbeda dari sebelas hari yang lalu. Sehun mengerti karena semarah apapun Luhan padanya, Luhan tetap mencintainya. Rasa itu terlalu besar untuk menyaingi rasa marahnya terhadap Sehun. Tetapi itu membuat Sehun semakin ingin membalas perbuatan Jungkook yang sudah melukai Luhan. Baik perasaan maupun fisiknya.
Beruntung karena Luhan tidak mengalami masalah kejiwaan setelah kejadian itu.
Luhan melajukan mobilnya dan berbicara tentang beberapa hal. Sedangkan perhatian Sehun sedikit teralihkan melihat mobil yang ia yakini terdapat Jungkook di dalamnya melewati mobil mereka.
"Kau harus tahu sesuatu."
"Hm?" Sehun mengalihkan perhatiannya ke arah Luhan di depan kemudi. "Sebenarnya sudah enam tahun ini aku mengadopsi seorang anak."
"A-anak?"
Luhan mengangguk sambil tetap fokus mengemudi. "Gege sengaja merahasiakannya bertahun-tahun, setidaknya ini sebuah kejutan untukmu. Namanya Xiumin. Gege menemukannya beberapa minggu setelah pindah rumah dan—ah banyak sekali yang harus diceritakan."
Sehun cukup senang. Hanya saja cukup khawatir akan sesuatu.
Ia takut kejadian dahulu terulang.
"Kita harus menjemputnya di sekolah. Gege mengatakan bahwa kau kuliah di luar negri, jangan sampai ia tahu bahwa kau dulunya tahanan penjara."
Sehun mengangguk saja. Lalu Luhan kembali bercerita sambil membawa laju kendaraannya menuju sebuah sekolah dasar. Mereka telat satu jam dari jam pulang. Luhan melihat Xiumin menunggu di pos satpam. Luhan menurunkan kaca mobil lalu memanggil Xiumin.
"Mommy~!"
Xiumin berseru sambil meninggalkan pos itu lalu masuk ke dalam mobil bagian belakang. Mata anak kecil itu berbinar saat Sehun melongokkan kepalanya ke belakang.
"Sehun-shushu~!"
Sehun sedikit terkejut dengan panggilan itu. Setelah sebelumnya ia berharap akan mendengar panggilan itu dari Xiuhan, akhirnya Sehun mendapatkannya walau dari orang yang berbeda.
"Hello Xiuminie~."
Anak kecil itu tampak senang sampai Luhan menegurnya untuk mengenakan sabuk pengaman ketika mobil itu mulai melaju.
"Xiumin mau membuat ifumie untuk Sehun-shushu~! Selamat datang lagi ke Korea~!"
Luhan terkekeh mendengar ocehan Xiumin. Sehun sendiri ingin sekali mencubit dua pipi gembul yang sangat menggemaskan itu.
"Terima kasih, Xiumin." Sehun tersenyum.
~..o..~
Di hari kepulangan Jungkook, ia disambut oleh orangtuanya dengan sangat istimewa. Wajar saja karena Jungkook adalah anak mereka satu-satunya, dan mereka rela melakukan apapun untuk anak tercintanya.
Jungkook senang bisa merasakan kebebasan lagi. Tapi tetap saja masih ada satu ambisi yang belum bisa tersampaikan, dan itu membuat gejolak pada jiwanya.
Meninggalkan rasa senang ketika orangtuanya menghadiahi ia mobil, smartphone dan sebuah kamera DSLR.
"Coba, katakan apa yang kau inginkan Jungkook?"
Jungkook tahu orangtuanya sudah berusaha sebaik mungkin karena hidup mereka berubah dari terakhir ia tinggal bersama. Mereka pindah rumah, ke rumah yang lebih besar. Orangtuanya juga naik pangkat di perusahaannya, terbukti karena Jungkook bisa melihat bahwa kini mereka memiliki mobil masing-masing. Bahkan hadiah-hadiah ini.
"Aku ingin ke makam teman-temanku."
Setidaknya, Jungkook masih punya hati untuk menghargai pertemanan.
"Ah, itu..." Ibunya sedikit merendahkan suaranya. "jangan sedih karena mereka sudah tiada sekarang. Kau masih bisa punya banyak teman."
Jungkook tidak menjawab.
"Kau bisa melayat mereka besok atau lusa. Tapi setidaknya sekarang beristirahatlah dulu. Ibu dan Ayah juga sudah cuti bekerja untuk menghabiskan waktu denganmu, Sayang."
Mau bagaimana lagi, Jungkook menghormati orangtuanya. Jadi dia tidak menolak.
~..o..~
MEI 2
Hari demi hari berlalu. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Hidup Sehun dan Luhan berjalan seperti sebelumnya, di tambah dengan kehadiran Xiumin. Bahkan kini mereka tengah menonton sebuah film kartun di ruang tengah bersama.
Sehun melirik Luhan yang tengah menciumi surai rambut Xiumin sambil beberapa kali tertawa saat ada adegan lucu yang ditampilkan di televisi.
Tidak perlu menjadi sangat pintar untuk Sehun tahu bahwa di balik senyuman Luhan, dia masih menyimpan rasa kekecewaan yang besar karena perbuatannya beberapa tahun yang lalu.
Tapi Sehun tidak mau mengungkitnya.
Hanya mencoba tetap waspada andai kala sesuatu terjadi menimpa mereka.
"Aku senang karena kau masih hidup, Gege." Sehun berbisik dan mencium telinga kakaknya.
Luhan tersenyum tipis tanpa menjawab. Sedangkan Xiumin terfokus dengan tayangan di televisi.
"Jangan mengungkit masa lalu."
"Hanya kau yang aku punya, Ge." ucap Sehun masih berbisik. "Jangan pernah pergi."
"Jangan berbuat bodoh lagi atau aku tidak akan menganggapmu sebagai adikku lagi."
Sehun mengangguk lalu menyelipkan wajahnya di antara leher dan rahang Luhan. Luhan tidak melakukan hal yang termasuk penolakkan. Namun berusaha hati-hati agar Xiumin tidak melihat.
Beruntung karena Xiumin lebih tertarik pada televisi daripada bisikan-bisikan keduanya.
Sehun mengecup permukaan leher kakaknya. Berhenti lalu mengecup lagi. Tapi Luhan menarik wajahnya lalu menatap wajah Sehun.
"Aku tidak mau kau berbuat bodoh lagi."
Sehun tidak membalas ucapan itu dengan kalimat, tetapi dengan sebuah ciuman dari dirinya di bibir Luhan. Luhan mengutuk matanya karena terpejam, tetapi lebih mengutuk lagi karena membalas ciuman itu.
Padahal sebelumnya dari hubungan adik-kakak mereka, sebuah ciuman hanya berupa kecupan. Itu pun pertanda rindu, sayang atau pengganti ucapan selamat datang.
Ciuman itu semakin mendalam dan menghanyutkan keduanya. Xiumin tampak tidak mengetahuinya, membuat Sehun tidak peduli setelah itu.
Sehun yakin dengan ciuman ini hubungan adik-kakak mereka bisa membaik dan semakin dalam.
~..o..~
MEI 3
Jungkook menghentikan mobil barunya di depan sebuah area pemakaman. Dia terdiam selama beberapa menit, memandang pemandangan yang tampak tidak bagus dihadapannya. Lalu saat keluar, perasaan itu membuncah kembali. Perasaan ingin balas dendam.
Jungkook begitu menghargai arti pertemanan.
Dan ia akan membuat orang yang menghancurkan pertemanan itu membayar semuanya.
Kaki panjangnya melangkah melewati beberapa makam baru maupun makan lama. Ada enam tangkai bunga mawar merah di tangannya. Masing-masing untuk mereka. Ia tidak hapal dimana tepatnya mereka dimakamkan, namun setelah beberapa lama mencari, ia menemukannya. Posisi ke-enam makan itu tidak berjauhan.
Dengan perlahan, Jungkook meletakkan satu-per-satu mawar itu di atas makam. Lalu menarik napas sebelum mengucapkan sebuah janji di dalam hati.
Untuk membalaskan dendamnya.
Cukup lama Jungkook menghabiskan waktunya disana, ia kembali ke mobilnya dan melajukannya ke sebuah cafe yang bisa dikatakan tak terlalu jauh dari lokasi pemakaman. Ia memesan americano, lalu duduk di sebuah kursi kosong. Tanpa ia kira sebelumnya, ia bertemu dengan teman lamanya.
"Hoi, Jungkook!"
Namanya Choi Junhong. Perawakannya tinggi—Jungkook sendiri tidak menyangka Junhong tumbuh secepat itu, bahkan melampaui dirinya. Rambutnya di cat pirang pucat. Ia adalah satu-satunya teman baik semasa SMP dulu—dan partner in crime-nya.
"Kau ingat padaku?"
"Bodoh, mana mungkin aku lupa."
Junhong terkikik sambil duduk di hadapan Jungkook. Tangannya menggenggam segelas latte.
"Sudah lama sekali tidak melihatmu."
"Sangat lama, sekitar delapan atau sembilan tahun kita tidak bertemu."
Laki-laki itu berdecak pelan sambil menggeleng. "Lama sekali. Kau baru keluar penjara, ya?"
Pertanyaan itu sedikit aneh di telinga Jungkook. Tapi ia menganggguk. "Kenapa bisa tahu?"
"Berita menyebar. Kau pikir kota kita ini sebesar apa, eh?"
Jungkook menyesap americano-nya tanpa menjawab.
"Jadi, bagaimana kehidupanmu sekarang?"
"Berjalan seperti biasa. Namun ada beberapa perubahan."
"Karena semua temanmu sudah mati." Junhong tertawa kecil. "Kasihan sekali."
Jika saja Junhong bukan teman baiknya, Jungkook sudah menonjoknya karena berani berkata seperti itu. Dan juga melihat Junhong sekarang—shit, dia bukan tipe pelajar umum seperti dahulu, Junhong terlihat sedkit lebih nakal melihat dari cara berpakaiannya. Sedikit menuju urakan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Jungkook.
"Aku masih suka tomat ceri. Aku masih suka dance. Aku masih suka memainkan skateboard. Aku berhasil memiliki usaha sebuah bengkel yang aku kelola dengan teman-temanku. Ah, iya, aku punya kekasih yang sudah empat tahun menjalin hubungan denganku."
"Cukup mengartikan semuanya." Jungkook mengangguk beberapa kali sambil menyesap americano-nya lagi.
Junhong melipat kedua kakinya dan menatap Jungkook dengan seksama. "Aku masih belum tahu garis besar dari semuanya."
"Garis besar apa?"
"Semua. Pembunuhan geng-mu itu."
Ia tidak mampu berkata untuk beberapa saat. Jungkook tidak mengerti apa pertemuannya dengan Junhong berarti sesuatu atau tidak. Yang pasti, laki-laki ini mengoreh sesuatu tentang masa lalunya.
"Sudahlah, Junhong. Itu masa lalu."
"Apa kau tidak terpikir untuk membalas semua dari masa lalu itu?"
Junhong berhasil membuatnya bungkam kembali.
"Ingat lho, Xi Sehun itu berhasil membunuh teman-temanmu."
"Berhenti, Junhong." Jungkook menatapnya agak tajam. "Aku tahu kota ini tidak besar. Tapi mengapa kau tahu hampir semuanya? Dan kenapa kau ingin tahu?"
"Aku mencoba membantu, Jeon Jungkook." Junhong terkikik. "Mantan pacarmu yang hamil karena Sehun. Kim Minyoung alias Ellin. Kau masih ingat?"
Deg!
Perasaan bencinya terhadap Sehun kembali membuncah saat memori itu teringat.
"Dia memilih bunuh diri karena kau tidak mau bertanggung jawab. Aku setuju sih denganmu, toh itu bukan anakmu."
"Berhenti, Junhong. Ada apa denganmu?"
Junhong sedikit mengangkat sudut bibirnya. "Biar kuberitahu. Ellin itu adik salah satu temanku. Apa kau mengerti?"
Air muka Jungkook berubah, tapi hal itu malah mengudang tawa bagi Junhong. Lalu teman lamanya itu mengeluarkan smartphone dari dalam saku celananya.
"Sebutkan nomormu."
Jungkook sedikit terkesiap—tersadar—sebelum menyebutkan nomor handphone-nya. "010-8766-1439."
Satu menit setelah itu smartphone Jungkook bergetar di saku celananya. Jungkook meraih lalu membuka pesan yang masuk ke dalam.
"Itu nomorku. Alamat pertama tempat tinggalku. Alamat kedua bengkel milikku."
Jungkook memperhatikan alamat yang terpampang di layar lalu menatap Junhong.
"Besok aku ada di bengkel. Temui aku disana jika kau berkeinginan untuk membalaskan dendammu pada Xi Sehun."
"Apa maksudnya ini?"
"Aku hanya mencoba membantumu."
Senyuman Junhong membuat Jungkook yakin.
~..o..~
Hari yang cukup melelahkan bagi Luhan. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya di kantor, ia pulang dan berangan untuk segera mandi. Tetapi ia penasaran dengan apa yang tengah dilakukan adiknya di kamarnya—begitu perkiraan Luhan karena tidak menemukan Sehun di sudut rumah itu.
Luhan membuka pintunya perlahan dan melihat Sehun tengah melakukan push-up di lantai. Kakinya membawa ia melangkah masuk, lalu duduk di tepi ranjang. Sehun menghentikan aktifitasnya.
"Gege," Sehun berdiri. "sudah pulang?"
Namja yang sangat disayanginya itu mengangguk dan tersenyum. Sehun menghampiri lalu duduk di sampingnya sebbelum mengecup bibirnya.
"Pasti lelah. Mau aku buatkan air hangat?"
"Nanti saja." kata Luhan.
Sehun mengurungkan niatnya untuk beranjak lalu menatap Luhan yang memperhatikannya. "Ada apa, Gege? Ada yang aneh di wajahku?"
"Tidak ada. Hanya saja Gege merindukanmu. Sudah lama tidak melihatmu dari sedekat ini."
Senyuman tipis muncul di bibir Sehun, membuat Luhan semakin senang. Sehun merasa hubungan mereka semakin membaik setiap harinya. Berbeda seperti saat ia masih berada di penjara.
"Aku juga, bahkan selalu merindukan Gege."
Kali ini Luhan yang mengecup bibir Sehun, tidak seperti biasanya. Lalu keduanya tersenyum dan saling menatap. Membuat hening yang menghasilkan suasana yang cukup membuat canggung. Luhan tidak tahu, bahkan Sehun sendiri tidak tahu mengapa kedua bibir itu kembali menyatu namun tidak membentuk sebuah kecupan tetapi ciuman.
Tidak ada satupun yang menolak. Bahkan Luhan sendiri membaringkan tubuhnya di ranjang itu, mengartikan segalanya bagi Sehun. Semuanya belum pernah mereka lakukan, jauh dari semua ini. Jauh dari segala bayangan ini.
Tapi sebuah fantasi yang sebelumnya tidak pernah terwujud kini terasa nyata—bahkan terjadi sangat nyata—ketika Luhan membiarkan Sehun melucuti pakaian milik mereka. Dan membuat kedua kulit manusia sedarah itu bergesekkan sebelum akhirnya melebur menjadi satu.
Sehun sadar tengah melakukan hubungan intim dengan kakak tercintanya.
~..o..~
YOSH YOSH
Bagaimanaaaa? Makin penasaran? ehehehe
Cukup sedih juga karena ff ini sempat 'terhapus' dari ffn
Tapi berdoalah sekarang tidak akan terulang :D
Hoho
Maaf ya belum bisa balas komen, saya sedang berada di antah berantah (ini aja posting di warnet khukhu) telat juga postingnya harusnya kemarin
Tinggalkan review yaaaaa :D
Kalau ada pertanyaan yang kebelet untuk ditanya, silahkan di
FB: Yuri Mamasochist
Twitter : littlerape
KAMSAHAMNIDA
Semakin banyak review, saya semakin semangat chingudeul :D
