Disclaimer © Masashi Khisimoto
Warning. Au, Bit OOC.
.
.
L.A Lights
.
.
Seperti yang kubatin sebelumnya. Memang lambat laun dia akan berbagi kisah denganku. Membagi semuanya padaku. Hingga aku tau dia sangat kesepian selama ini. Meski rasa sepi tak bisa di utarakan dengan ucapan, tapi aku ... aku merasakan kesepiannya.
"Seperti yang aku janjikan sebelumnya. Aku akan mengajakmu jalan-jalan." pria bersurai terang itu menyunggingkan seringaian serta menunjukkan semua isi dompetnya. "Aku menang taruhan pinggiran lagi."
Wanita dengan bluse tanpa lengan serta setelan clana panjang ketat yang sedang menguncir rambutnya hanya melempar senyum simpul.
"Aku tunggu di depan, Ino."
Saat masih di usia sepuluh tahun, dia harus kehilangan segalanya. Kehilangan kebahagian sesaatnya. Kehilangan hangatnya genggaman tangan sosok yang biasa dia panggil ayah.
Duo blonde duduk berhadapan di satu meja sebuah restoran. Saling melempar tatapan seolah mengatakan kau duluan dan pada akhirnya tawalah yang pecah antar keduanya.
Dengan gemas, Naruto mencubit hidung Ino sedikit keras di barengi suaranya yang bercampur dengan tawa kecilnya. "Ayolah Nona pirang, kau duluan."
Bibir merekah Ino maju beberapa centi. Wanita blonde itu menggeleng keras hingga helaian pirangnya bergoyang mengikuti irama. "Tidak, kau duluan tuan Pirang."
"Hei-hei!" Naruto melipat tangannya di depan dada. "Lelaki selalu mengalah pada wanita tau. Jadi, silahkan kau duluan Nona pirang."
Luarnya Ino cemberut, tapi dalamnya dia merasa senang.
Tak hanya sampai disana. Kepergian sang kepala tercinta membuahkan kesakitan bagi sang ibu. Aku tak tau apa yang dia rasakan saat itu. Tapi jika aku berfikir menjadi dia. Itu pasti ... menyakitkan.
Sebuah tissu menyentuh sudut bibir Ino. "Hm, cara makanmu belepotan sekali, Nona." shappire Naruto menyipit serta senyuman lembut terpajang disana.
"Huh," lagi, Ino cemberut. Yang membedakan hanya rona kemerahan nampak dipipinya.
Pengobatan Ibunya memakan banyak dana. Dan ujungnya semua terjual. Segalanya terjual, dan pada akhirnya dia benar-benar sendiri. Orang terahir yang memiliki kehangatan tak terbatas kembali pada sang pencipta.
Dua siluet pirang berjalan beriringan di keramaian Mall. Sang pria yang hanya mengenakan kaos polos warna putih serta celana panjang hitam tak henti-hentinya terkekeh di sebelah wanita yang masih mempertahankan muka cemberutnya.
"Oh ya, apa kau tak cari BH, Nona pirang?" kepala Naruto celingukan kesegala arah. Tak tau jika banyak pandangan geli dari para pengunjung terarah padanya.
Ino spontan menginjak kaki Naruto dengan sekali hentakan. Pria itu merontah kesakitan serta kata ucapan Apa salahku? tak henti-hentinya keluar dari bibirnya.
Ino menggembungkan pipinya dan menjauh, di susul Naruto yang terkekeh kesenanagan. Yah, menggoda Ino menjadi kesenagannya kali ini.
Dia masih kecil dan kehilangan segalanya. Terus berjalan tanpa ada tempat bernaung baginya. Sekali lagi aku membayangkan. Jika aku di posisinya sanggupkah aku? Sanggupkah aku berjalan tak tau arah dan tujuan di usia yang masih sangat hijau? Bisakah?
"Kau yakin mau yang ini, Ino?" Naruto mengusap dagunya serta menatap beberapa pakaian yang Ino jinjing.
"Hah, tentu saja. Apa ada yang salah, Naruto?" Ino mengangkat tinggi beberapa pakaian di kedua genggamannya. Perasaan tak ada yang salah.
"Warnanya ungu semua. Identik dengan janda lho." Naruto mengerling jahil, dan tak lama pria dengan model rambut spike itu merintih kala kakinya kembali di hentak Ino.
"Menyebalkan."
Meminta apapun pada tiap orang yang dia temui. Yah, bertahan menghadapi dunia. Tidur beralaskan aspal, atap langit. Sampai seseorang mengenakan payung berdiri di hadapannya. Mengulurkan tangannya pada dia-yang saat itu meringkuk kedinginan di trotoar.
"Hey Ino! Coba ini," Naruto mengulurkan gelang paku berwarna perak pada Ino.
Ino tersenyum, lantas menerimanya tanpa keraguan. Hm, bagus juga gelang itu menempel pada pergelangan mulusnya.
"Heh! Naruto?!"
Mendengar namanya dipanggil membuat yang bersangkutan menolehkan penuh kepalanya. Didapatinya lelaki berambut merah dengan jaket merah serta clana rombeng. Iya, rombeng.
"Gaara dan ... Hinata, eh." Naruto melempar senyum pada wanita yang berdiri di sebelah teman sekaligus rekan kerjanya itu.
"Tumben kemari kau?" tanya Gaara tanpa menoleh, sibuk memilih asesoris yang menurutnya bagus.
"Hn, begitulah."
Sedang Ino hanya mampu melemparkan senyuman tulus pada kekasih sahabat Naruto. Saat wanita itu juga tersenyum padanya.
"Oh ya, aku Hinata. Kau?" wanita yang identik dengan pembawaan kalemnya itu sekali lagi tersenyum seraya mengulurkan tangannya.
"Ino," lalu tangannya mendekap uluran itu.
Tapi, itu adalah kesalahan terbesarnya kala menerima uluran itu. Dia hanya gadis kecil berusia sebelas tahun. Bagaikan budak dia menjalani hidup selama tiga tahun. Tak pernah sekalipun dia merasakan menginjak tanah. Tak pernah, bagaiakan burung dalam sangkar. Dia terkurung dalam kesepian.
"Hm, kau suka kalung itu?" pria dengan wajah stoic itu bertanya pada sang kekasih.
"Yah, tentu aku suka." rona merah menjalar di pipinya. Hinata menunduk, lantas pandangannya tepat menangkap lutut Gaara.
"Ada apa, Hinata?" Gaara menaikkan sebelah alisnya yang hilang, di gulirnya jade-nya pada duo blonde yang lagi asik memilih kacamata.
"Celanamu rombeng, Gaara. Kan aku sudah menyuruhmu membuang semua koleksi celana rombengmu."
Gaara tersedak, Naruto berseringai meremehkan, sedang Ino hanya mampu berkedip dua kali.
"I-ini keren tau." elak Gaara.
"Tidak keren."
Gaara hanya mampu menepuk jidatnya.
Menginjak usia ke empat belas, dia di jual di sebuah club malam kusus para lelaki bajingan. Lagi, aku tak tau bagaimana rasanya ketika dia menyadari jika hanya di jadikan alat. Dia seperti barang yang mampu berpindah-pindah tangan para bajingan. Tak ada teman yang dapat dia bagi. Sebab dia selalu sendiri disana.
"Mau karaoke, Ino?" Naruto mengajukan tawaran, kedua tangannya bersembunyi di kedua kantung celananya. Di kananya ada Gaara dan Hinata yang ikut berjalan bersamanya.
Ino yang ada di kiri Naruto terdiam sesaat. Kemudian dia mengangguk antusias. "Tapi suaraku pasti tak bagus."
Naruto terkekeh pelan seraya melirik Ino. "Meski tak bagus tapi tenang saja. Aku akan tetap bilang bagus untukmu nanti."
Ino tertawa pelan.
"Kau juga gabung, Gaara."
Gaara hanya menenaggapi ajakan Naruto dengan sebuah anggukan.
Hanya makanan yang menjadi bayarannya selama enam tahun. Aku tak tau bagaimana dia bisa bertahan selama itu. Bertahan tanpa ada siapapun. Seolah manusia disana buta. Buta tak menyadari kehadirannya. Mungkin nama 'Sally' yang dia gunakan dari atasannya menggambarkan jelas kehidupannya, Sally kah.
Bilik nomor 36 hanya ada dua kaum Adam dan dua Hawa. Bising tentu saja. Berjoget dan bernyanyi dan sesekali menenggak minuman beralkohol. Hm, menyenangkan.
Lagu Broken dari Seteer feat Amy Lee mendominasi. Ino bernyanyi sekuat tenaga, ada Naruto yang menjadi teman duetnya. Berdua beryanyi tanpa beban, terkadang saat bersamaan mereka mendekatkan kepala mereka, hingga kening mereka bersentuhan.
Ada Gaara yang cara berjogetnya sungguh buruk. Bahkan Hinata harus menarik nafas dalam-dalam kala tak sanggup mengimbangi. Ckck.
"KAU SENANG, INO?" Naruto berteriak dengan nyaring kala suaranya bersaing dengan dentuman lagu keras yang di nyanyikan Gaara.
"YAH, AKU SENANG!" tanpa sadar Ino melompat dan memeluk erat Naruto sambil sesekali meloncat-loncat.
Naruto hanya tersenyum seraya melingkarkan tangan kanannya di pinggang Ino. Sedang tangan kirinya sesekali terangkat demi menenguk minuman yang ia jinjing.
"SUDAH KUBILANG JANGAN MINUM LAGI!"
Naruto dan Ino tertawa lepas kala Gaara mendapat semprot dari kekasihnya saat akan meneggak minuman kedua botolnya.
"INI YANG TERAHIR, DEAR!"
"NGAK BOLEH!"
Tumb down dari Naruto, sedang Ino tertawa terbahak.
Berkali-kali mencoba kabur dari tempat biadap. Berkali-kali juga kegagalan serta siksaan fisik dia terima. Tak terhitung dan tak bisa kubayangkan rasanya saat punggung rampingnya menerima ratusan cambuk. Dan aku salut dengannya. Berapa kalipun dia gagal dia akan berdiri kembali dan mencoba, karna aku yakin dia tak sanggup hidup di 'neraka dunia' itu. Hingga kegagalannya membuahkan hasil, dia berhasil keluar dari Neraka tanpa apapun, tanpa membawa apapun.
"Malam ini nampaknya lebih banyak bintang." Naruto menyandarkan tubuh tegapnya pada pagar jembatan. Sahppirenya menatap lurus kedepan. Bintang dan keramaian malam, juga gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Menurutku sama saja," timpal Ino seraya menyilangkan kedua tangannya pada pagar jembatan sebagai tumpuan dagunya. "Oh ya, Naruto boleh aku bertanya sesuatu?"
Naruto terdiam, matanya sedikit menyipit, sampai dia menggumam tanda tak masalah.
Aqua Ino melirik punggung di sampingnya. Sekilas Ino menghela nafasnya. "Mengapa kau tak keberatan sekali aku tinggal bersamamu dan memintamu ... tak meninggalkanku?" saat mencapai kalimata 'meninggalkan' intonasi suara Ino mengecil.
"Bagaimana ya," Naruto menerawang kelangit malam. Bibirnya sedikit melengkung sedikit keatas. "Mungkin karna aku berfikir sendiri itu menyakitkan. Bukankah begitu?"
Tak ada respon dari Ino, meski wanita itu membenarkan.
Seminggu lebih dia berjalan tak tentu arah lagi, terus berjalan tanpa perduli rasa sakit akan kakinya. Sampai saat itu tiba. Kita bertemu, dan entah kenapa aku membawanya. Dia benar-benar kesepian selama ini, dan aku. Aku tak akan...
"Besok kakak-ku akan menikah dengan dia." Naruto menunduk dengan helaan nafas yang jelas terdengar oleh Ino. "Besok temani aku, Ino."
Ino merubah posisinya dari membelakangi menjadi menatap kedepan, dimana langit yang Naruto tatap. Ino menoleh menatap intens wajah lelaki pirang itu. Ino mengangkat tangannya dan menepuk bahu Naruto.
"Kau pasti masih tak rela akan semua itu, kan?"
Naruto terdiam.
Ino menghela nafasnya lagi. "Kau bilang padaku bahwa kau akan merelakan dia karna dia akan menjadi kakak wanitamu. Tapi yang kulihat saat ini kenapa lain dari saat kau berkata begitu padaku? Kau masih tak rela, kan?
Naruto memejamkan kelopak matanya. "Tapi ini sangat sulit, bagaimanapun aku masih ... masih mengharapkannya."
"Meski yang kau harapkan mustahil, Naruto."
Tersentak, Naruto membisu. Bibirnya terbuka lalu mrngatub kembali.
Ino merangkulkan lengan kananya serta tangan kirinya memegang lengan kiri Naruto. "Kau bercerita jika orang tuamu berpisah saat kau masih kecil. Awalnya kau pasti tak bisa merelakan semua itu kan? Tapi sekarang kau! Kau merelakan bukan? Karna kau pasti berfikir mereka bukan jodoh."
Naruto tak merespon. Meski yang Ino katakan tepat sasaran.
"Sama halnya dengan kepergian orang-orang dalam kehidupanku dulu. Awalnya aku tak menerima semua itu. Tapi mau tak mau aku harus menerimanya bukan? Karna semua itu takdir."
Shappire Naruto terbuka mendengar kalimat yang terahir. Lantas dia terkekeh pelan, mengundang kernyitan pada dahi Ino.
Dan aku tak akan membiarkan dia menjadi Sally kembali.
TBC
Jyaaahhh. Updatenya lama, huehehehe. Dan maaf ya bila pendek. Oh ya. Setting chap ini sudah berselang beberapa hari dari chap kemarin.
Ok, tanpa banyak bacok ups, bacot maksudnya. Saya akan balas review.
agisummimura : ok ship dan makasih ya.
2nd silent reader : Ok makasih.
Guest : Ship.
xoxo : wkwkwk. Iya tuh. Ok makasih ya.
Bayangan semu : wkwkwk. Sepeetinya dia mulai ngeres *plak* iya tu si naruchui. Gak di sikat saja napa.
Guest : bukan rusak sih. Tapi memang begitulah kehidupan. Penuh warna :D ok makasih ya.
Awim Saluja : hoho, saya gak tau artinya wkwkwk. Ok makasih.
5802744 : wkwkwkwk. Iya, fic ini terinspirasi dari lagu itu. Dan kugabungin sama kehidupan penuh warna *plak!* ok makasih.
INOcent Cassiopeia : ship. Makasih ya.
Aizen L sousuke : hehehe.
inuzukarei15 : haha. Masak manis sih? Dan yeah ngobat tuh. Dan untuk liar semua itu wajar sih. Yah soalnya anak racing. Dan kehidupannya pun sama kayak kehidupan kita-kita. Penuh warna *PLAK!* dan kalau gak sibuk pasti panjang kok, OK MAKASIH.
bubu : kalau saya sih di bilang suka ya suka. Tapi tak semaniak. Oh soal motor Naru itu adalah gambaran motor teman saya :) dan modif ceper bukan berarti sangat ceper. Cuman ceper dan velg TDR plus ban 215 dan 125 untuk belakang *lho lok malah omongin motor-plak* ok makasih ya.
andypraze : haha. Makasih loh kalau suka. Dan gak akan disconti kok. Bakal lanjut terus.
de-chan : nego boleh kok. Hehe. Kalu kata kurang paham silahkan bertanya lho. Ok makasih.
yana kim : hehe. Teruhan NejiTen mungkin chap depan baru ketahuan. Makasih ya.
zielavienaz : hehe. Maaf ya kalau dikit, soalnya saya jarang ada waktu buat ngetik. Ok makasih ya.
Kitsune : Ok ship dan makasih.
Zero Akashi : bukan mantan soalnya belum pernah jadi pacar, hehehe. Ada deh pokoknya. Makasih ya.
