Summary: Silahkan baca sendiri.

Rating: K

Warning: Nothing.

Disclaimer: saya, Hetalia, Hidekaz himaruya, Aki-chan dan anda adalah milik Tuhan. (Disclaimer macam apa ini?)

Sebelumnya...*ehem*

Special thanks buat Akira Dark Star 98 yang baik banget mau ngereview fic gaje ini dan membuat Author ceria lagi! Padahal Author ngasal bikin cerita ini *digampar karna seenaknya* Pokoknya, makasih Akira-san! You're de best, sis/bro. Forever deh C:

Russia x OC

"Kolkolkolkolkol~"

Tawa menyeramkan yang mendirikan bulu kuduk membuat Aki bangun dari tidurnya.

"Ngapa?" Gumam Aki ngantuk, mengucek mata sebelum melihat seorang Ivan sedang berdiri di pintu, lengkap dengan Trio Baltics yang terkikik geli melihat Aki tidur. Aki langsung menarik selimutnya sampai menutupi wajah.

"Aaaaah! Apa yang kalian lakukan di kamarku?" Jerit Aki. Oh tidak. Ia hanya mengenakan kaus dan celana piama. Bukan pemandangan yang bagus.

"Keluar! Semuanya keluar! Termasuk kau, Ivan braginsky!"

Ivan menepukkan tangannya.

"Da. kalian dengar itu. Pertunjukan selesai," dan keluar dari kamar itu meninggalkan Aki sendiri.

Aki menghela nafas, kemudian ia bangkit dan mandi, menyambar kaus putih bertuliskan graffiti '44 ways to die' (Ivan boleh memilihnya nanti) dan celana panjang garis-garis.

"Sisir!" Jerit Aki kemudian ia membongkar tasnya. Akhirnya ia menemukan sisir di meja rias.

"Kenapa sulit sekali mencari sisir?" Gerutunya ketika ia mencoba menyisir rambut hitamnya. Tapi nggak bisa. Rambutnya terlalu kusut. Akhirnya Aki memutuskan untuk menyatukan rambutnya dengan bandana berwarna merah. Nah, siap.

Sebelum keluar dari kamar, ia sempat melihat ke arah cermin. Ia kelihatan kayak gadis petani dengan mata merah karena kecapekan. Yah, inilah yang bisa kaudapatkan kalau mendobrak masuk kamar.

Ternyata Ivan sedang sarapan di ruang makan. Begitu melihat Aki memasuki ruangan, Ivan langsung menepuk kursi di sebelahnya.

"Aki-chan! Duduklah di sebelahku. Kau mau apa? Muffin? Bubur? Roti panggang? Telur dan bacon?" Tanya Ivan ramah.

"Telur dan bacon saja," kata Aki sambil menarik kursi di sebelah Ivan.

"Da~" kemudian Ivan memanggil Toris dan mengatakan pesanan Aki. Beberapa saat kemudian, muncullah Eduard dengan tampang takut-takut dan berusaha menyajikan makanan sejauh mungkin dari kursi yang diduduki Ivan. Ketika akhirnya Eduard kembali ke dapur, mereka makan dalam diam.

Aki mengelap mulutnya dengan tisu.

"Jadi..kapan aku mulai bekerja sebagai pelayan?" Tanya Aki dengan frontal, tidak peduli dengan batuk kecil yang dikeluarkan Ivan.

"Setelah ini," kata Ivan singkat. Kemudian ia bangkit dari mejanya dan berjalan ke arah pintu.

"Aku punya janji dengan Alfred. Temui saja Raivis. Dia akan memberitahu tugasmu," dengan itu, punggung Ivan menghilang ke balik pintu. Aki hanya bisa mengangkat bahu dan pergi mencari Raivis. Ternyata Raivis sedang berada di dapur, bersama Trio Baltics lainnya. Toris sedang membersihkan meja dapur dan Eduard sepertinya sedang memasak seusatu.

"Aki-neechan!" Raivis langsung melompat dari kursinya begitu Aki memasuki dapur. Aki tersenyum dan menepuk kepala Raivis dengan sayang. Aneh, baru kemarin ia bertemu Raivis, tapi rasanya menyenangkan. Seperti punya adik.

"Hai, Raivis! Eh..ngomong-ngomong..mana tugasku? Tugas dari Ivan?" Tanya Aki.

"Tugas? Aku hanya diminta menyerahkan amplop ini untukmu," kata Raivis. Ia terlihat sama bingungnya dengan Aki.

Tangan Aki membuka amplop itu dengan terburu-buru. Dan betapa kagetnya ia ketika segulung kertas tebal jatuh dari dalamnya.

Ternyata itu daftar tugas Ivan kepadanya.

Memasak, mencuci piring, mengepel seluruh rumah, membersihkan kamar mandi, memotong tanaman dan lain-lain.

Oh. Hell.

~Sore hari~

Ivan membuka pintu dan berjalan ke arah kamarnya. Matanya memandang takjub setiap senti rumah yang kini telah bersih mengkilat.

Ketika ia memasuki kamarnya, dokumen-dokumen yang sudah diketik tertata rapi diatas meja kerjanya. Semua baju sudah dicuci dan disetrika serta digantung dengan teratur di dalam lemari pribadinya.

"Siapa yang mengerjakan semua ini, da?" Gumam Ivan. Sebuah suara lelah menyahut dari belakangnya.

"Kau sudah pulang?" Tanya Aki. Ivan berbalik dan menemukan gadis itu dengan rambut acak-acakkan dan tubuh penuh keringat. Ivan mengangguk.

"Semuanya..kau yang mengerjakan?" Tanya Ivan. Aki mengangguk. Ketika ia melakukan itu terdengar keretak mengerikan dari lehernya.

"Auwwww!" Jerit Aki sambil memegangi lehernya. Ivan memandangnya dengan khawatir.

"Kau tak apa-apa?" Tanya Ivan. Aku mengangguk dengan tersiksa.

"Bolehkan aku istirahat? Ya? Kumohon," kata Aki dengan puppy-eyes-nya. Ivan tersenyum kecil sambil menepuk pundak Aki.

"Tentu saja, da," kata Ivan. Aki melompat dengan ceria.

"Yey! Terima kasih!" Aki sudah bersiap-siap untuk lari ke kamarnya dan mandi menggunakan minyak mandi Geranium yang diberikan Kiku padanya ketika Ivan memanggilnya kembali.

"Apa lagi sih!" Kata Aki, kesabarannya betul-betul diuji.

"Karena hari ini kau sudah bekerja keras, nanti aku akan memberikan hadiah untukmu," kata Ivan sambil mengedipkan sebelah matanya. Aki mengernyit curiga. Ia membuka mulut untuk bertanya tapi Ivan sudah keburu menutup pintu kamarnya.

Aki hanya bisa mengangkat bahu sambil bertanya-tanya dalam hati.

~•~

"Jadi...apa hadiahnya?" Tanya Aki pada keesokan paginya. Hari ini ia mengenakan kaus putih dengan jaket simple yang diberikan kakak.

"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat!" Kata Ivan dengan ceria, tangannya masih memegangi gelas berisi vodka. Sungguh aneh minum vodka pada pagi hari, tapi itu normal untuk ukuran orang macam Ivan, yang memang tergolong orang aneh.

"Kemana?" Tanya Aki, agak tidak berminat. Sebenarnya kemanapun tidak apa-apa, asal jangan bersama Ivan.

Ivan tersenyum misterius dan menyesap minumannya.

"Pokoknya ikut saja,da? Kau pasti suka," kata Ivan sambil menarik tangan Aki ke arah luar rumah. Aki berusaha membebaskan tangannya tapi Ivan menggenggamnya kelewat erat dari yang diperlukan. Ketika mereka masuk mobil, Aki kembali 'berkicau' tentang betapa menyebalkannya ia harus tinggal bersama 'baka' macam Ivan.

~to te next chapter~

Maaf kalau chapter yang ini pendek banget! Soalnya saya lagi dikejar segabrek request lainnya dari Fall For You. Aaargh! *mukulin kepala pake bantal*

RnR?