Konichiwa, minna-san..
This the second chapter of the story..
So..
Read, and please enjoy..
Thank you all buat reviewnya!
Daisuki, minna..
:D
Natsu and Lucy
Summary: Sebuah cerita antara Natsu dan Lucy
Disclaimer: Hiro Mashima
Chap 2
Natsu memandangi Lucy yang sedang melamun. Ketika ia sampai di guild, ia menyadari bahwa kekasihnya itu sudah sampai duluan dan sudah duduk di salah satu meja di sudut guild. Ketika Natsu hendak menyapa Lucy, ia menyadari Lucy sedang melamun. Akhirnya, dengan tidak berkata apa-apa, Natsu duduk di depan Lucy, berharap Lucy tersadar dari lamunannya. Tapi, pada kenyataannya, Lucy bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah manapun. Ia masih melamun.
"Hei, otak api!" panggil Gray.
"Apa maumu?" tanya Natsu.
Gray hendak meledek Natsu, tapi niat itu ia urungkan ketika ia melihat Lucy dengan suasana muram.
"Lucy? Kau kenapa?" tanya Gray.
Lucy hanya menghela nafas dan menggeleng pelan. Sepertinya Lucy sudah tersadar dari lamunannya.
"Kau masih ada masalah dengan keluargamu?" tanya Erza.
Lucy hanya diam, lalu menggeleng.
"Lalu? Kau kenapa?" tanya Gray.
Sekali lagi, Lucy hanya menggeleng.
"Lu-chan, kau harus cerita bila ada masalah. Kau kan anggota keluarga Fairy Tail juga. Kau keluarga kami." saran Levy.
"Terima kasih, Levy-chan. Tapi, ini bukan masalah besar." ujar Lucy sambil tersenyum.
"Kalau bukan masalah besar, kenapa kau melamun terus?" tanya Natsu.
Lucy segera memegang dadanya sambil menatap Natsu. "Sejak kapan kau disitu?" tanya Lucy. Dadanya berdebar, karena ia terkejut.
Natsu mendecak. "Bahkan ketika kekasihmu sendiri duduk disini, kau tidak sadar. Luce, kau masih sayang padaku atau tidak, sih?" tanya Natsu sebal.
Lucy segera mengangguk. "Tentu saja aku masih sayang padamu, Natsu. Selamanya. Bukankah itu janji kita berdua?" tanya Lucy yang sukses membuat wajah Natsu memerah.
"Maaf kalau aku hanya melamun dan tidak memperhatikanmu, Natsu. Tapi, aku.." ujar Lucy terputus.
"Kau? Kau kenapa, Luce?" tanya Natsu.
Lucy segera menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa. Aku.. Aku hanya.. Sedang memiliki kesulitan, dan aku perlu berpikir untuk mencari jalan keluarnya. Ah, tapi kesulitan itu masih bisa kuatasi. Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja." ujar Lucy.
"Luce? Kau yakin?" tanya Natsu.
"Ya. Aku yakin." jawab Lucy mantap.
"Aku tidak yakin." batin Lucy.
"Kau tidak perlu bantuan?" tanya Wendy.
"Ya, Wendy." jawab Lucy mantap.
"Aku sangat perlu bantuan itu." batin Lucy.
"Kau tidak sedang ada masalah dengan keluargamu?" tanya Erza.
"Tidak, Erza. Hubungan kami baik-baik saja." jawab Lucy mantap.
"Baik-baik saja, sebelum aku menerima surat itu." batin Lucy.
"Kau tidak harus pulang, kan?" tanya Lisanna.
"Tidak, Lisanna. Aku bisa tetap tinggal di apartemenku." jawab Lucy mantap.
"Aku harus pulang, Lisanna. Tapi.. Aku tidak mau pulang. Aku masih ingin bersama dengan kalian. Dengan Natsu. Selamanya. Aku ingin bisa bersama dengannya. Selamanya." batin Lucy.
"Luce, apa yang kau ucapkan dan apa yang kau pikirkan sangat bertolak belakang." ujar Natsu.
Deg! Perkataan Natsu barusan membuat Lucy tercekat.
"Kenapa kau bisa bilang begitu?" tanya Lucy.
Natsu menghela nafas pendek.
"Luce, sudah kubilang, kan. Aku ini sudah menjadi kekasihmu selama 3 tahun. Aku tahu semua tentang dirimu..."
"Tidak semua, Natsu." batin Lucy.
"...tentang gelagatmu, ekspresimu..."
"Apa yang kau lihat dari ekspresiku sekarang, Natsu?"
"...tentang keluargamu, oke, untuk keluargamu aku hanya tahu sedikiiit saja..."
"Aku juga hanya tahu tentang keluargaku sedikit saja, Natsu."
"...tapi aku tahu ibumu dan ayahmu adalah orang yang baik..."
"Mereka tidak baik, kalau kau mau tahu pendapatku. Setelah mendapatkan surat itu, aku yakin pendapatmu tentang orangtuaku akan berubah."
"...mereka selalu memperhatikanmu..."
"Tidak, mereka tidak selalu memperhatikanku. Kalau mereka memperhatikanku, seharusnya mereka tidak mengirimiku surat seperti itu."
"...selalu memikirkan perasaanmu..."
"Tidak, mereka tidak memikirkan perasaanku kali ini. Mereka MEMAKSAKAN perasaanku."
"...seperti aku, yang selalu memperhatikanmu, Luce. Jadi, aku tahu bahwa apa yang kau ucapkan dan apa yang kau pikirkan sangat berbeda." ujar Natsu.
Lucy menatap Natsu. Pria yang telah menjadi kekasihnya selama 3 tahun. Pria yang selalu ada untuknya. Pria yang selalu menjaga dirinya. Pria yang selalu melindunginya. Memeluknya. Menghiburnya. Menyayanginya. Memperhatikannya. Memaafkan setiap kali ia bertindak kekanak-kanakan. Selalu.. Selalu.. Ada untuknya.
"Aku tidak ingin pulang." gumam Lucy pelan. Sepertinya gumaman Lucy itu terlalu pelan, karena tidak ada satupun yang mendengar gumaman itu.
"Aku tidak ingin pulang. Aku ingin bersama dengan Natsu. Dengan keluargaku di guild ini. Selamanya. Aku sayang pada keluarga baruku ini. Aku sayang pada Natsu. Aku sangat sayang padanya. Aku.. Aku tidak ingin pulang." batin Lucy.
Selesaiii...!
Horeeee...!
Kayaknya lebih dikit, yak?
Hehe..
Wait for the chap 3, ya!
:D
Sooooo...
Review, please?
:D
