Huwaaah! *nangis air mancur* Shi-chan amat-sangat-kelewat gak percaya kalau chapter dua dapat review 3x lipat dari chapter satu. Cha-Chapter 2 adalah yang paling sukses diantara fic-fic saia yang lain. Saia begitu berterima kasih pada para reviewer fic ini…semoga fic ini makin disukai dan diterima segala kalangan. Emak-emak, kek. Kakek-kakek, kek. Buyut, nenek, cicit, cucut ampe curut pun mudah-mudahan suka ama fic ini! *inner bangkit*
Thanks review to: Lily Hikari-chan, Aizawa Ayumu Oz Vessalius (Silahkan copas lyrics-nya), Lighting Feathers D. Kiryu, vvv, mayu akira, Kianhe Tsuji, Dee, Yanz Namiyukimi-chan, De Alice Kurosaki, Kurosaki Kuchiki, Reader, Aoi Mizuuhara (Saia juga blushing pas nulis scene Ichi nyanyi /), Minami Tsubaki, Michi-chan Phantomhive626, hahaha, Reina Rukii, Wi3nter.
Mamoru okta-chan lemonberry :: Maafkan saia! Itu kebiasaan –sungkem- 3 titik itu adalah salah satu kebiasaan buruk saia yang gak pernah bisa diilangin. Sms pun begitu. 3 titik itu seperti jeda pembacaan aja. Di manga 3 titik itu biasa muncul. Yaah, semoga enggak terganggu aja dengan 3 titik itu.
Kaze Hirudinea :: Gomen nasai. Sebenarnya, sejak dulu saia gak ngerti begituan. Yang kata-kata 'Di-Ke-…' dan semacamnya harus dipisah saia gak pernah ngerti. Maaf kalo merasa terganggu. Sayonara, Crims! Konichiwa, Hiruma! –niat seppuku-
Yoshizo Kurochi :: Kuro-san, anda benar-benar me-review fic ngawur ini setelah ku promo di stat-mu, arigatou gonzaimasuta! –gak jadi seppuku-. Gomen nasai, kembali ke awal, itu adalah kebiasaan buruk saia dalam nulis fic! Sudah mencoba untuk tidak seperti itu tapi…tidak bisa! Gomen kalo mengganggu. Sayonara, Crims! Konichiwa, Hiruma! –niat seppuku lagi-
Untuk yang penname-nya di bold dan di underline, Shi-chan ucapkan selamat datang di fic ngawur ini ^^. To all, RnR onegaishimasu!
P.s: Let's pray for japan [kakko kanashi]
Chapter 3: When we meet…
.
"Kau…menyukai gadis itu?" tanya Riruka menatap mata Ichigo dengan matanya yang berkaca-kaca.
Ichigo terdiam dan membulatkan mata coklatnya itu.
"Jika kau menjawab pertanyaan ini dengan jujur, aku akan menolongmu. Jika kau berbohong…jangan pernah berharap kau dapatkan…kekuatanmu itu. Aku tidak peduli Ginjou dan yang lainnya bilang apa tentang perbuatanku ini…" ucap Riruka dengan nada mengancam dan menyeka air matanya.
Ichigo tetap terdiam dan melihat Riruka. Dia tidak bergerak sama sekali. Riruka menyipitkan matanya melihat tingkah Ichigo ini. Dia tahu ucapannya ini tepat sasaran menancap pada hati Ichigo, hingga membuat pria itu tidak berkutik.
"Kau tahu…kenapa aku bertanya seperti ini?" tanya Riruka yang membuat Ichigo mengedipkan matanya.
"Itu karena…semenjak wanita itu masuk dalam pembicaraan kita malam itu…tingkah laku-mu berubah. Begitu juga ekspresi wajahmu tiap wanita itu masuk dalam pembicaraanku…" Riruka berkata dengan nada masih bergetar juga, tapi dia sudah tidak menangis. Riruka memang menyadari hal itu. Sejak nama Rukia dibawa dalam pembicaraan pada malam itu, ekspresi dan tingkah Ichigo berubah drastic sampai malam ini.
Ichigo lalu mulai membuka mulutnya dan melepaskan tangan perlahan yang tadi dia kepalkan. Dia mendongak sejenak ke langit, melihat 2 buah bintang disamping bulan.
"Aku…tidak menyukainya, aku jujur padamu." jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari langit gelap sana.
"Apa?"
Ichigo hanya tersenyum tipis, "Aku…banyak orang yang mengatakan, hubunganku dengan Rukia lebih dari teman, namun bukanlah sepasang kekasih dan aku menyadarinya. Karenanya, aku tidak tahu apakah aku menyukainya atau tidak. Karena sampai sekarang, pertanyaan itu pun bahkan belum dapat kujawab sendiri…" jelas Ichigo mantap dan terdengar sangat jujur walau matanya tetap kearah langit. Riruka membulatkan matanya. Jadi, begitukah isi hati Ichigo yang sebenarnya. Riruka kembali menunduk dan melirikkan matanya kearah lain lewat sudut matanya.
"Benarkah…jawabannya itu?" batin Riruka.
"Rukia…bisa membunuhku jika aku linglung seperti ini…" lanjut Ichigo melihat kearah Riruka sambil tersenyum nyengir dengan alis berkerut.
Suasana hening sejenak. Beberapa kunang-kunang mendekati mereka berdua. Mendekati Ichigo yang melihat Riruka yang berdiri dihadapannya. Melihat kondisi seperti ini, sosok Rukia terbesit di kepala Ichigo. Itu dikarenakan postur tubuh Riruka hampir sama dengan Rukia. Ichigo langsung menutup matanya dan memalingkan kepalanya.
"Sial…" umpatnya pelan sambil menutupi sebagian wajahnya dengan tangan kanannya.
"Baiklah…" Riruka mulai bicara. "He?" Ichigo melihat kearah Riruka.
"Baiklah, aku akan…menolongmu untuk mengembalikan kekuatanmu…" kata Riruka memutuskan tapi tetap dengan mata melirik kearah lain, dia tidak dapat melihat wajah Ichigo. Apalagi setelah tadi Ichigo tersenyum padanya.
"Terima kasih, Riruka. Kau benar-benar wanita yang sangat baik, aku menyukai wanita sepertimu…" ucap Ichigo sambil senyum. Tentu bukan senyuman yang biasa dia perlihatkan pada Rukia. Wajah Riruka langsung blushing melihat pria itu tersenyum. Dia ingin tergeletak jatuh karena ucapan Ichigo dan karena wajah Ichigo yang tersenyum sekarang 100x lebih tampan dibanding pertama kali dia melihatnya, namun itu tidak dapat dia lakukan karena merasa dia punya harga diri tinggi. Tidak mungkin dia langsung tergeletak padahal tadi habis menangis karena pria itu.
.
.
"Kami kembali. Aku berhasil menemukannya…" kata Ichigo kembali ke Xcution base camp dengan Riruka dibelakangnya. Wajah Riruka samar-samar masih terlihat blushing.
"Pergi kemana kau, Riruka? Bikin cemas saja…" gerutu seorang bocah, anggota Xcution juga (Diketahui di chapter 434 namanya adalah Yukio) sambil bermain game-nya.
"Diam! Bukan urusanmu, Yukio! Ayo, cepat mulai! Waktuku sedikit!" kesal Riruka masuk kedalam sana dengan wajah blushing tetap.
"Kau apakan dia, Kurosaki-san? Riruka-san itu wanitanya mudah ngambek dan susah dirayu, lho…" bisik pak tua bermata satu itu.
"Enggak diapa-apain, kok. Diajak bicara saja…" bisik Ichigo balik.
"Yakin?" Ginjou tiba-tiba menyambar dengan nada memojokkan dan menuduh. "Kau pikir aku ngapain dia?" kesal Ichigo tertahan.
Mereka pun memulainya, mereka berdiri mengelilingi Ichigo, memajukan kedua tangannya, menghadap Ichigo. Mereka berempat menutup matanya, begitu juga dengan Ichigo yang terlihat sudah mulai tenang.
"Jika kulakukan ini…Ichigo akan kembali menjadi shinigami. Dan dia juga…akan bersatu kembali dengan wanita itu. Apakah aku yakin…melakukan ini?" pikir Riruka saat kegiatan berlangsung.
"Kulakukan ini…dan aku akan membunuh perasaanku sendiri…"
.
.
~ Kurosaki's Residence ~
"Nee, Karin-chan, onii-chan belum pulang?" tanya Yuzu melahap sepotong kue. Sudah pukul 12 malam lewat, kediaman Kurosaki ini masih ramai, belum ada mata yang tertutup.
"Oh, katanya dia menginap dirumah temannya. Biarkanlah, dia sudah besar ini…" jawab Karin datar sambil berbaring diatas sofa dengan tangan bertopang didepan televisi.
"Moo, Karin-chan santai sekali!" gerutu Yuzu cemberut. "Emang udah besar, kok…"
.
Xcution base camp, proses pengembalian kekuatan Ichigo masih berlangsung terus. Keempat wajah anggota Xcution itu sudah mulai berkeringat dan sedikit pucat, tanda mulai kelelahan.
"U…Ukh…" pelayan tua itu terlihat sudah tidak sanggup lagi dan kemudian terjatuh. Ichigo membuka matanya dan kaget melihat pelayan tua itu terjatuh.
"Hei, dia…" Ichigo sedikit cemas.
"Tidak apa, Ichigo!" seru Ginjou.
"Memang ini yang akan terjadi saat proses ini berlangsung. Tidak apa, jangan khawatirkan dia…" kata Ginjou.
"Akh!" diikuti dengan seorang wanita anggota Xcution –bukan Riruka- terjatuh juga.
"Dia juga…"
"Sedikit lagi, Ichigo…" kata Riruka yang juga sudah berwajah pucat, memaksakan tubuhnya tetap kuat.
Beberapa saat kemudian, semua anggota Xcution terjatuh. Ichigo merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, entah kenapa. Tapi yang paling aneh, dia dapat merasakan kekuatan yang selama ini tidak pernah dia rasakan, reiatsu, itulah yang dia rasakan.
"Tugas kami selesai…Ichigo." kata Ginjou pelan dengan keringat mengalir, tanda dia kelelahan. "Kau…dapatkan kembali…kekuatanmu…" lanjut Ginjou.
"Selamat, Kurosaki-san…" ucap pelayan tua itu. Ichigo yang awalnya terpaku tidak mengerti sekaligus terkejut, lama-lama tersenyum dan lalu membungkukkan badannya.
"Terima kasih banyak!" seru Ichigo.
"Senang dapat membantumu, Ichigo…" Riruka menyambar.
"Ya."
"Selamat, Ichigo…" kata Chado. "Terima kasih, Chado…"
.
.
Esok harinya, Ichigo pulang kerumah. Semalaman, Ichigo menginap di Xcution base camp karena waktu sudah sangat larut. Selama perjalanan menuju rumah, Ichigo melihat roh-roh yang selama ini tidak dapat dia lihat. Dia dapatkan kembali kekuatannya. Dia dapat merasakan reiatsu, dapat melihat roh. Kekuatan shinigaminya benar-benar kembali. Dia begitu senang hal ini terjadi kembali pada dirinya. Tapi, rasanya ada sesuatu yang kurang.
~ Kurosaki's Recidence ~
Malamnya, Ichigo makan malam bersama dengan Yuzu juga Karin. Karin yang sekarang memiliki tingkat spiritual yang tinggi dapat menyadari perubahan pada Ichigo datang ke kamarnya, mengajaknya bicara tanpa adanya Yuzu, mengajak bicara kakaknya berdua.
"Ada apa, Karin? Kau belum tidur?" tanya Ichigo pada Karin yang masuk ke kamarnya. Ichigo duduk bersila diatas tempat tidurnya sambil membaca sebuah majalah otomotif.
"Ichi-nii, kekuatanmu…apa sudah kembali?" tanya Karin pelan dan mendekati Ichigo. Ichigo terdiam sejenak mendengar pertanyaan adiknya.
"Heh, jika kau dapat merasakannya, tentu jawabannya tak perlu kuucapkan, Karin…" jawab Ichigo dengan senyum tipis.
"Su-Sungguh?" Karin memastikan, Ichigo mengangguk mantap dengan senyumannya itu.
"Syukurlah, Ichi-nii…" ujar Karin tersenyum lega pada Ichigo.
"Hehe…"
~ Besoknya, Karakura high school ~
Saat Ichigo berada di kelasnya, dia bertopang dagu sambil mendengarkan penjelasan guru dengan wajah malas. Tanpa disadarinya, seseorang sedang mengamatinya. Orang itu duduk diatas pohon dan dapat melihat dengan jelas Ichigo yang kebetulan duduk didekat jendela. Orang itu melihat Ichigo dengan wajah sedihnya.
"Ichi…go…" katanya dengan nada lirih. Matanya menyipit, menahan kesedihannya.
Lalu, saat angin bertiup dan menerbangkan beberapa helai dedauan dari pohon itu, Ichigo menoleh kearah pohon itu tapi orang yang tadi melihatnya sudah tidak ada. Ichigo memandang pohon tempat orang tadi duduk dengan tatapan agak melamun. Setelah itu, dia kembali mendengarkan penjelasan guru tersebut. Dia merasa ada orang disana tadi, tapi sekarang sudah tidak ada.
"Aneh. Rasanya tadi kulihat orang disana…" batinnya berpikir.
Orang yang tadi melihat Ichigo, pergi entah kemana. Dia pun pergi dengan sangat cepat hingga Ichigo tidak melihatnya.
"Perasaan ini…apakah mungkin…" Ichigo 2% dapat menebak siapa yang ada di pohon tadi.
"Tak mungkin…" katanya membantah tebakannya sendiri.
~ Time Skip, pulang sekolah ~
"Aku duluan, ya…" seru seorang siswi berlari melewati temannya. Yah, seperti inilah saat-saat pulang sekolah. Ichigo kembali pulang sendirian, dia tidak langsung pulang walau waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Dia pergi ke sebuah bukit, bukit yang cukup tinggi hingga dapat membuatnya melihat sunset.
"Di langit senja seperti ini, ditempat ini…aku pernah kemari bersama dengan Rukia. Masih lengkap menggunakan pakaian sekolah, kami kemari berdua. Aku ingat…saat itu dia melihatku dan kemudian tersenyum kecil…" katanya menatap sunset.
"Haah, kapan kejadian itu terulang kembali?" tanyanya sekaligus menghela nafas.
"Benar juga, aku lupa. Sekarang, kan musim semi. Dulu, saat aku bertemu dengan Rukia juga…sedang musim semi…" lanjutnya saat merasakan angin yang berhembus mengenai kulitnya itu. Dia kemudian kembali berjalan menuju kediamannya.
~ Kurosaki's Recidence ~
Ichigo lalu pulang, menuju rumahnya. Setelah mandi dan sebagainya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ichigo menuju kamarnya, tidur dengan membiarkan gorden kamarnya terbuka, agar cahaya bulan yang terang masuk kedalam kamarnya itu. Dia tertidur tampak sangat nyenyak, begitu nyenyak hingga tidak menyadari ada orang yang duduk diatas atap rumah seberang, yang dapat melihat dirinya tertidur. Orang itu adalah orang yang sama yang melihat Ichigo di sekolah. Orang itu kembali memasang wajah sedihnya saat melihat Ichigo.
"Tidakkah…kau menyadarinya?" tanya orang itu.
"Menyadari…keberadaanku ini…" lanjutnya kemudian dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Namun, air matanya mengalir dari mata kirinya. Menetes, mengenai pakaiannya dibagian paha.
"Aku disini, selalu disini…Ichigo…" katanya dengan gigi menggertak, tangan dikepalkan, menahan kesedihannya. Saat dia menyebut nama 'Ichigo', si pemilik nama itu membuka matanya dan bangkit dari tidurnya, terduduk diatas tempat tidur.
"Ruki…a…" katanya dengan mata agak membulat. Dia kemudian melihat keatap seberang, tempat orang yang menangis tadi duduk. Tapi, seperti tadi…dia tidak ada. Ichigo turun dari tempat tidurnya, menuju jendela, membuka jendela itu. Dia melihat kesegala arah, entah mencari apa.
"Kau ada disini…Rukia?" tanya batinnya mengepalkan kedua tangannya yang ada dibingkai jendela dan menggertakan giginya.
.
.
Besoknya, hari Minggu siang. Dengan mengenakan celana panjang berkantung banyak, kaos biru navy ditutup dengan jaket hitam yang kedua lengannya digulung. Dia pergi dan berjalan sendirian sambil berfikir sesuatu.
"Kemarin…apa yang kurasakan, apa yang kulihat…itu terasa sangat nyata. Itu…semua itu terasa sudah sangatlah tidak asing denganku. Tatapan itu, aura itu…semuanya sudah sangatlah kukenal betul…" batinnya seiring berjalan.
"Hanya reiatsu…yang tak dapat kurasakan saat itu. Apa karena saat itu aku sedang tidak sadar?"
"Tadi malam…Rukia? Apa mungkin dia? Tapi…jika memang dia, kenapa dia tidak langsung…menemuiku?" Ichigo terus bertanya-tanya dalam batinnya itu.
Dia kemudian duduk disebuah bangku taman, dengan tangan memegang kaleng coffe dan kaki diluruskan sambil menatap langit cerah. Burung-burung berterbangan seiring dengan bunga-bunga sakura yang tertiup angin.
"Haah, terlalu! Pikiranku kacau! Walau aku sudah mendapatkan kekuatanku…kenapa aku masih belum bisa seperti dulu? Bertarung dengan hollow, melakukan konsou. Menjadi shinigami pun aku tidak bisa…" katanya pelan dengan mata menatap ke langit.
Dia keluarkan badge shinigaminya dari kantung celana belakangnya. Dia melihat badge ini.
"Apa karena sudah lama tidak kupakai, badge ini sudah rusak? Dia tidak menimbulkan suara 'bip, bip, bip' lagi…" ucapnya.
"Gak mungkin hari ini para Hollow libur kerja, kan? Si biji wijen (baca: Aizen) itu, kan udah enggak di Hueco Mundo lagi. Jadi, gada yang bisa nyuruh Hollow-Hollow bersih-bersih Hueco Mundo…"
"Dan lagi…kemarin, aku samar-samar mendengar suara yang keluar dari badge ini. Dan suara itu adalah suara Rukia…" lanjutnya menatap badge shinigaminya dengan alis berkerut.
"Yang tadi malam itu…benarkah kau, Rukia? Kenapa kau tidak menghampiriku? Apa kau sudah…membenciku?" tanya Ichigo bernada lirih dan menyipitkan mata memandang langit biru.
Dia kemudian bangkit, meminum coffe-nya dan kemudian membuang ke dalam tong sampah. Dia berjalan lagi. Dia berjalan dengan menunduk dan kedua tangan dimasukkan kedalam kantung jaketnya. Pikirannya penuh dengan kejadian semalam. Dia menduga bahwa seseorang yang melihatnya semalam itu adalah Rukia, wanita yang selalu ingin dia temui.
Saat tengah berjalan, tiba-tiba matanya membulat dan menatap ke depan.
"Pe-Perasaan ini…jangan-jangan!" dia tiba-tiba berlari secepatnya, dia hampir menabrak seseorang karena terlalu terburu-buru.
"Aku kenal perasaan ini! Ini hanya miliknya!" katanya.
Dia kemudian berbelok dan berseru, "Rukia!" dengan nafas memburu.
Tidak ada. Tidak ada seorang wanita yang namanya dipanggil tadi. Tidak ada kecuali sebuah danau dengan 2 burung bangau berenang diatasnya. Raut wajah Ichigo langsung berubah dengan nafas memburunya mulai teratur kembali. Sepertinya, dia kecewa karena tidak ada wanita yang dipanggilnya, yang sangat diharapkan untuk bertemu dengannya. Tidak ada Kuchiki Rukia ditempat ini. Angin musim semi bertiup, menerbangkan helaian rambutnya dan jaketnya. Wajahnya langsung datar, tidak ada ekspresi.
"Heh…" Ichigo tertawa kecil.
"Hehehe, bodoh sekali, aku ini! Kenapa aku berharap dia ada disini, menunggu? Konyol! Kenapa aku masih terus berharap bertemu dengannya? Padahal, tidak mungkin dia ada disini!" kata Ichigo sambil tersenyum dengan selingan tawa. Tentu bukan senyum atau tawa senang, ini lebih mendekati senyum bercampur kesal. Dia tutupi wajah bagian atasnya dengan tangan.
"Hahaha, pasti dia sudah melupakanku. Sudah berapa tahun kami tidak bertemu, tidak berkomunikasi sama sekali? Dia akan melupakanku. Kenapa aku masih terus berharap bertemu dengannya? Bodoh sekali…" lanjutnya.
"Tidak mungkin wanita bernama Kuchiki Rukia itu terus menunggumu, Kurosaki Ichigo! Kau terlalu berharap!" ucapnya pada diri sendiri.
Dia terdiam sejenak dengan wajah masih ditutupi dengan tangannya. Dia kemudian mengusap wajahnya, melihat kearah danau dimana salah satu burung bangau sudah terbang, tinggal satu bangau yang masih berenang.
"Terlalu berharap, akan membuat hatimu sakit…" katanya pelan.
"Ku-Kuro…saki-kun?"
Seorang wanita memanggil namanya. Dia kemudian menoleh perlahan, melihat siapa yang memanggilnya. Dia melihat seorang wanita berambut panjang berdiri dibelakangnya dengan tangan kanan memegangi dadanya.
"Ino…ue?" Ichigo membalikkan tubuhnya, menghadap Inoue.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Inoue?" tanya Ichigo dengan nada biasa. "Ja-Jalan-jalan…" jawab Inoue gugup.
"Oh, jalan-jalan…"
"Ku-Kurosaki-kun sendiri sedang apa disini? Tidak biasanya Kurosaki-kun jalan-jalan di taman seperti ini. Sendirian?" tanya Inoue melangkah mendekati Ichigo dengan kedua tangan dibelakangkan. Ichigo terdiam dan kemudian melirikan matanya kearah danau.
"Yah, seperti yang kau lihat…" singkat Ichigo.
"Be-begitu. Eheheh…" tawa Inoue dengan alis berkerut.
"Kau jalan sendirian?" tanya Ichigo melihat Inoue.
"Eh? I-iya, aku sendirian. Ki-kita sama-sama sendirian, ya? Hehehe…" Inoue entah kenapa terlihat gugup saat ini. Apakah karena dia melihat Ichigo yang terlihat keren hari ini atau karena mereka hanya berdua di danau yang sepi ini? Entahlah.
"Hmm, bagaimana jika kita jalan berdua?" usul Ichigo. "Iya, ten-…he?" awalnya Inoue tersenyum dan menjawab ajakan Ichigo. Tapi, setelah dia cerna kembali ucapan Ichigo, dia bengong sendiri.
"Ja-ja-jalan berdua?" tanyanya dengan wajah blushing.
"Kenapa? Kau tidak suka jalan denganku?" tanya Ichigo balik. Wajah Inoue merah, serasa ingin meledak. Matanya berubah menjadi , seperti ini, pikirannya kacau, konslet.
"Mimpi! Ini pasti mimpi! Kurosaki-kun mengajak aku jalan di taman, berduaan! Mimpi! Ini mimpi! Kumohon, jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini!" batinnya yang heboh sendiri. Walau batinnya heboh, raganya diam seperti robot kehabisan energy. Dia telah terkena petir cinta yang dahsyat, anggaplah seperti itu.
"Oi, Inoue, kau baik-baik saja?" tanya Ichigo menjentikkan jarinya didepan wajah Inoue, membuat wanita yang sedari tadi tidak berkedip itu sempoyongan sambil berkata, "Kurosaki-kun…mengajakku…ja…lan…" dan kemudian tepar dengan wajah merah.
"Uwah! Ke-kenapa kau, Inoue? Hei, Inoue! Kerasukan apa kau? Oi! Katakan padaku, kau kerasukan Hiruma-san atau Sa-chan?" tanya Ichigo panik melihat wanita ini tiba-tiba tepar dengan asap putih keluar dari mulutnya.
"He? Dimana…ini? Apa aku sudah di surga? Celaka, aku mati sebelum menyatakan perasaanku pada Kurosaki-kun. Aku takkan tenang. Gomen nasai, Mamori-san, aku tidak bisa menemuimu sekarang…" kata batin Inoue ngawur sambil mulai membuka matanya sedikit demi sedikit.
"…Ue…Inoue…"
"Aku mendengar suara Kurosaki-kun. Aah, apa Kurosaki-kun juga menyusulku?" tanyanya.
"Oi, bangun…" Ichigo melihat Inoue dari atas, tepat didepan wajah wanita itu.
"Kya! Kurosaki-kun!" Inoue dalam sekejap langsung bangun dan menghantam kuat wajah Ichigo dengan kepalanya yang keras bagaikan batu itu.
"Guokh!"
"Aduuh…" Inoue merintih sambil memegangi kepalanya yang nyut-nyuttan karena benturan keras itu.
"Ah, kau kenapa, Kurosaki-kun?" tanya Inoue innocent pada Ichigo yang menutupi hidungnya, dengan darah yang mengalir deras.
"Wa-wanita sialan!" umpat Ichigo dengan darah yang sampai mengaliri tangannya.
.
.
Akhirnya, Ichigo dan Inoue benar-benar jalan berdua di taman. Jika bisa membaca pikiran Inoue, maka kita dapat melihat inner Inoue sangaaatlah senang. Bagaimana tidak? Dia jalan berduaan dengan Ichigo, pria yang sangat dia sukai, kagumi selama 3 tahun lebih. Setelah berjalan-jalan sejenak, mereka kemudian duduk di bangku taman, dibawah pohon sakura.
"Musim semi yang menyenangkan, ya, Kurosaki-kun?" tanya Inoue menyeruput jus kotaknya.
"Ah" singkat Ichigo.
"Musim semi 3 tahun yang lalu…Kuchiki-san datang kemari, bukan, Kurosaki-kun?" Inoue bertanya sambil tersenyum dan menoleh pada Ichigo, memberikan senyumannya pada Ichigo. Ichigo terdiam dengan wajah tanpa ekspresi dan meneguk minumannya.
"Dan 2 tahun yang lalu, Kuchiki-san pergi…" lanjut Inoue dengan nada pelan. Ucapan Inoue kali ini membuat Ichigo membulatkan matanya.
"Ah, gomen ne, Kurosaki-kun. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu…" sesal Inoue karena ucapannya. Dia langsung tutup mulutnya.
"Tidak…apa…" jawab Ichigo pelan dan menundukkan kepalanya. Inoue tidak bisa melihat mata Ichigo karena tertutupi rambut oranye pria itu.
"Anu, Kurosaki…kun…" Inoue mencoba memanggil Ichigo yang tiba-tiba terdiam. Ichigo tidak menjawab dan justru malah berdiri sambil melemparkan kaleng minumannya pada tong sampah didepannya dengan kuat. Inoue sampai kaget mendengar suara benturan kaleng dengan tong sampah itu.
"Ku-Kurosaki-kun…" panggil Inoue takut-takut.
"Maaf, Inoue. Aku pulang duluan…" kata Ichigo membalikkan badannya.
"He?"
"Sampai jumpa besok di sekolah…" Ichigo lalu langsung pergi sebelum Inoue sempat mengatakan sepatah kata. Inoue pun berdiri, melihat punggung Ichigo yang semakin menjauh.
"Kurosaki-kun…" panggilnya lirih, diiringi dengan angin musim semi yang cukup kuat bertiup.
"Kau memang sangat ingin bertemu dengan Kuchiki-san, Kurosaki-kun. Kau…" wajah Inoue langsung murung, alisnya berkerut sedih. Rambutnya tertiup angin.
.
.
Sesampainya di rumah, Ichigo langsung berbaring diatas tempat tidurnya. Dia menghela nafas dalam-dalam dan melihat bagde shinigami-nya.
"Barang tak berguna!" cetusnya melempar badge tersebut kearah meja belajarnya.
Dia lalu memejamkan matanya sejenak dan kemudian, tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi abu-abu, tanda hujan akan turun. Dan benar, hujan mulai turun rintik-rintik sebelum pada akhirnya turun dengan deras. Dia pun bangkit, berjalan menuju jendelanya, melihat kearah luar.
"Hujan, ya? Padahal tadi cerah. Hujan di musim semi begini? Aneh…" katanya menatap langit yang diibaratkan tengah menangis.
"Melihat hujan seperti ini…mengingatkanku pada ucapan zangetsu oss-san…" lanjutnya sembari menutup mata, mengingat ucapan zangetsu dulu, dulu sekali.
.
"Onii-chan, onii-chaan!" Yuzu memanggilnya dari bawah, terdengar olehnya yang diatas.
"Onii-chan, bisa turun sebentar?" tanya Yuzu. "Oo!"
Dibawah, Yuzu dan Karin terlihat tengah bersiap-siap dengan tas ransel. Ichigo pun keheranan.
"Kalian mau kemana?" tanya Ichigo sesampainya dibawah.
"Baka oya-jii menyuruh kami ke rumah nenek yang ada di Kyoto. Kami akan menginap disana selama seminggu…" kata Karin sibuk memasukkan makanan ke ranselnya.
"Seminggu? Bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Ichigo lagi. "Kami sudah minta izin, jadi tidak apa. Otoo-san tidak memberitahu alasan kenapa kami disuruh kesana" sambar Yuzu.
"Naik kereta? Baiklah, hati-hati di jalan, ya. Sampaikan salamku pada baka oya-jii kalau dia masih hidup, ya…" kata Ichigo santai.
"Onii-chan, nih ngomongnya…" gerutu Yuzu cemberut, Ichigo hanya tersenyum tipis.
Yuzu dan Karin pun pergi menuju Kyoto, meninggalkan Ichigo sendirian di rumah itu. Yaah, tentu saja bagi Ichigo itu biasa saja. Secara dia sudah besar dan tak takut ditinggal di rumah sendirian. Hujan bukannya mereda, justru makin deras.
Ichigo kemudian pergi ke kamarnya, berbaring diatas tempat tidurnya. Dia melihat langit-langit kamarnya, memikirkan sesuatu. Lalu, dia ingat dia meminjam sebuah CD MP3 dari Mizuiro beberapa hari yang lalu. Dia pun mencoba mendengarkan CD MP3 itu. Setelah dia masukkan CD itu, dia kembali berbaring, mendengarkan lagu tersebut sambil memejamkan mata agar suasana hujan ini tidak terlalu sepi.
Beberapa menit berlalu, tak terdengar suara apapun dari radio-nya, membuat dia sedikit kesal.
"Mizuiro sialan! Dia memberiku CD kosong, ha?" keluhnya mendekati radio, hendak mematikannya. Tapi, saat dia mau menekan tombol off, telinganya mendengar suara music mulai terdengar, yang membuat dia terkejut adalah lagu yang tengah dilantunkan itu…
Ima ichi byo
hi ga moetara
sora ni tokete
asa ga kuru
nemuri kara
koe wo agete
mebuite yuku
sekai
"La-Lagu ini…" mata coklatnya membulat. Dia sudah sangat tidak asing lagi dengan lagu ini. Tentu dia tidak asing lagi dengan lagu tersebut karena itu adalah lagu yang dia ciptakan bersama dengan Rukia, dan dinyanyikan duet bersama Rukia saat festival musim semi di sekolah dulu.
Dengan mata yang masih membulat dan tidak percaya dia dapat mendengar lagu tersebut untuk yang kedua kalinya, dia duduk bersimpuh didepan radio, mendengarkannya.
ukeirerareta nara
mou kako da to kizuketa
daiteta kanashimi wo ikisaki wa
kaze, sora, hoshi, ame
tatoeba kakenukete susundemo
kaze ima sono
hoho ni
kienu you ni kaki nagutta
kioku wo tada nagamete wa
haya sugita aimaisa ni
furi kaetteru
sekai
kokoro ni shimaetara
sono subete ga ima darou
itsudemo sabishisa no chikaku ni wa
kaze, sora, hoshi, ame
tsunagaru fui ni tada miageteru
sono sora, sono mune ni
deaete yokatta to sono omoi tada tada
yuuhi no mane no you ni netsu wo obi
yoru mada
hoshi no you ni
ameagari tada tada
kagayaku
Ichigo's PoV
Aku mendengar lagu tersebut dengan serius. Perasaanku awalnya tenang saat mendengar lagu ini tapi berakhir dengan sedih. Lagu ini kuciptakan bersama dengan Rukia saat kami duduk diatas atap, memandangi bulan yang terang ditemani bintang-bintang dan langit yang sangat indah. Awalnya, itu bukanlah lagu, itu hanyalah coret-coretan dia dan kemudian kutambahi saja. Tapi, saat festival musim semi dulu, dia tiba-tiba menyeretku keatas panggung, memaksaku untuk menyanyikan lagu ini. Kenangan yang manis. Kenangan itu sebenarnya telah kukubur dalam-dalam, tapi begitu mendengar lagu ini, kenangan itu bangkit kembali.
Arti dari lagu itu aku pun tidak tahu, kurasa hanya Rukia yang tahu arti dari lagu itu. Andaikan dia ada disini, ingin sekali aku tanya arti dari lagu itu. Sayang sekali kau tidak ada disampingku, Rukia.
Benar juga, kalau diingat-ingat, sudah 2 kali aku menciptakan lagu. Yang pertama kunyanyikan solo di sekolah dan sekarang duet dengan Rukia. Aah, andaikan kau dengar lagu yang kubawakan solo itu, Rukia. Aku ingin sekali lihat ekspresi-mu. Apa kau tahu, Rukia? Kudengar dari Ishida, selesai aku menyanyikan lagu Song For itu, katanya UKS penuh dengan siswi wanita yang pingsan dan beberapa siswi yang kehilangan darah karena nosebleed begitu mendengar aku bernyanyi. Beberapa diantaranya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Inoue katanya pingsan selama 2 jam setelah mendengar aku bernyanyi. Aku ingin tahu bagaimana reaksi-mu setelah aku bernyanyi.
Kurasa, lagu ini direkam oleh Mizuiro saat kita bernyanyi dulu dan sengaja dia berikan padaku. Pintar sekali taktik-nya itu. Terima kasih, Mizuiro. Berkat kau, aku jadi ingat lagi pada Rukia. Ah, aku ingat. Rukia memberi judul lagu ini adalah 'Glow'
Suaranya ternyata sangat bagus saat bernyanyi, kurasa hanya dia satu-satunya wanita yang pantas duet denganku.
Kapan aku bisa bertemu denganmu, Rukia? Kuyakin saat kita bertemu, kita…
End PoV
Ichigo kemudian mengeluarkan CD itu dari MP3 player-nya. Dia tersenyum kecil memandangi CD yang berisi lagunya duet dengan Rukia. Rasanya, dia sangat senang mengingat bisa duet bersama wanita yang selalu dirindukannya itu.
Sementara itu, diluar kamarnya, dimana hujan telah berhenti, seorang wanita duduk diatap rumah yang sama saat melihat Ichigo tertidur.
"Jadi kau kembali mendengarkan lagu itu, Ichigo?" tanyanya pelan. "Terima kasih. Aku senang…" lanjutnya tersenyum kecil.
Aah, ada lagi lagu yang muncul di fic ini. Lagu ini judulnya Glow, dibawakan oleh Morita Masakazu aka Ichigo's Seiyuu dan Orikasa Fumiko aka Rukia's Seiyuu. Dengarkan lagu ini maka readers bakal melayang-layang dibawa oleh lagu ini. Sumpah! Ini lagu terasa banget IchiRuki-nya, kutuk diri anda sendiri jika saia bohong! #digampar!
Berbeda dengan Song For yang translate-nya dimasukin dalam cerita, lagu ini translate-nya gak dimasukin didalam cerita karena saia bingung dan nanti ini chapter nyasar kemana-mana. Ini aja udah mulai melenceng dari tujuan cerita. ==
Oke, Review onegaishimasu! ^3^
P.s: Let's pray for Japan, minna…(_ _)
