Disclaimer : Masashi Kishimoto (Naruto) dan Nobuhiro Watsuki (Rorouni Kenshin)

Tittle : New Life

Warning : OOC, Typos, pemula, poor diksi. Kritik dan saran are welcome.

Janji saya mau Hiatus batal gegara ditagih.. trims Q.

(terbit 2 chap sekaligus)

.

.

Happy reading

.

Dia masih menemaniku berjalan-jalan, menunjukkan banyak tempat. Tempat kesukaanku adalah di bawah pohon sakura di belakang akademi. Kami sering menghabiskan waktu dengan duduk seharian, menikmati semilir angin membelai surainya yang berbau harum lebih dari bunga Sakura. Dia membuatkan bentou untukku, terkadang menghiburku dengan ceritanya tentang Naruto, bagaimana dia mengagumi lelaki itu, bagaimana sisi rapuhnya terlihat saat dia berkaca-kaca membicarakan Sakura dan Naruto.

"Sudahlah, anda akan menemukan banyak orang yang menyayangi anda…" hiburku saat dia berkata dengan sedih tentang klan yang tidak kumengerti.

"Be-benarkah?" aku mengangguk, mengunyah nasi kepal yang dia buat.

"Ya, contohnya Aburame, Inuzuka, mereka orang baik. Dan mereka menyayangi anda. Saya tidak pernah tahu rasanya berada dalam lingkungan Klan. Namun anda beruntung Hinata-san. Anda punya keluarga, yang entah bagaimana, sedikit rumit menyampaikan rasa sayangnya pada anda."

"Mm…. apakah Soujiro-san punya keluarga?" getir, jika kukatakan aku anak yang lahir di luar pernikahan, jika kukatakan aku membunuh keluarga angkatku yang menganiayaku. Aku tak tahu apa mereka pantas disebut keluarga, mereka yang membuangku. Tapi pantaskah mereka dibunuh?

"Jika menurut anda keluarga adalah hubungan darah, maka tiap orang mempunyainya… tentu saja tak ada orang yang lahir dengan sendirinya, Hinata-san." dia tertawa, indah.

"Saya tidak menganggap keluarga seperti itu, keluarga adalah tempat dimana mereka menerima anda."

"Ta..tapi.. ke-keluargaku.. mereka seperti tidak me.."

"Stt… mereka akan, tentu saja sepupu anda sudah membuktikannya," wajahnya memerah, "A-arigato.."

Konoha benar-benar membawa angin segar untukku, aku menyukai tiap jengkal desa ini, anak-anak berlarian, kedai ramen, pemandian air panas, bunga sakura yang gugur, Hinata, Hanabi, orang-orangnya, keramahan penduduknya, sayangnya aku bukanlah bagian dari kehidupan ini, bagianku adalah masa lalu, keberadaanku hanya akan merubah sejarah.

Akhir-akhir ini Hinata terlihat gelisah, tidak seperti biasanya. Dia memang gugup, tapi dia tidak gelisah seperti ini. Dua bulan lebih kami telah menghabiskan waktu bersama, aku bertanya-tanya apakah misinya yang lain berat, dia tertawa kecil dan menganggapku lucu, dia berkata ini misi termudahnya. Aku tidak suka membayangkan dia bergelut dengan gerombolan penjahat, meski aku yakin dia tidak selemah itu.

Kepalaku pusing, badanku demam. Seumur hidup aku belum pernah merasakan tubuhku berontak menginginkan istirahat. Aku memang sering terluka, itu karena latihan berat dengan Shishio-sama. Bukan karena tubuhku menginginkan perhatian lebih, terbayang saat aku kecil, mereka menyiksaku, memukuli dan melempariku dengan apapun, anehnya aku tidak merasa sakit dan pusing seperti ini, hanya luka fisik yang mudah sembuh.

Naruto-san sedang ada misi mengawal putri daimyo, aku terbaring di futon, merasakan hangatnya keningku. Punggungku sakit dipaksa berbaring. Sosok itu datang, janji bertemu di bawah pohon tidak dapat kutepati, dia was was.

"Daijobuka, Soujiro-san?" aku ingin tertawa, dia selalu bertanya hal itu padaku,

"Gomen, saya membuat anda menunggu, Hinata-san.." senyuman itu tak pudar, dia berjalan menghampiri dari ambang pintu.

"Wajah anda merah, anda demam?" hari cerah dimana seseorang terderang flu adalah hal yang aneh, tapi aku merasakannya hari ini.

"Su-sudah makan?" dia kikuk berdiam disampingku, "Tidak usah repot, saya tidak ingin makan apa-apa.."

Gadis itu meninggalkan jejak harum saat keluar meninggalkanku sendiri, sedikit kecewa, mungkin dia punya urusan lain. Tapi tak lama kudengar seseorang, yang aku yakin itu Hinata tengah bergulat dengan alat-alat dapur sedikit gaduh. Dia membawakan bubur hangat dan wadah air hangat dengan handuk.

"Anda tidak repot Hinata-san? anda bukan pembantu, anda mengawal saya tapi anda tidak berkewajiban melayani saya…" rona menyebar di sekitar wajah putih mulusnya, menggeleng.

"Saya tidak bisa membiarkan anda begini Soujiro-san…"

"Anda ada urusan?" gelengan lemah, menunduk.

"Temani saya disini? Jika tak keberatan?" binar-binar keceriaan sudah kembali mengias wajah polosnya, dia mengangguk. Mangkuk bubur sudah tandas, dia mengompresku dengan air hangat, entah berapa lama aku tertidur, tapi begitu aku membuka mata semua terasa lebih baik.

Wajahku memanas, bukan karena demam. Hinata menautkan jarinya di jariku, dia tertidur di lantai menemaniku, egois sekali.

Dia pulas, ada gurat kelelahan. Tangannya sedikit memar dan tergores. Latihan yang berat bersama adiknya yang tak ramah, bagai sisi koin, berbeda namun menempel erat. Seperti apa rasanya mempunyai keluarga?

Kuangkat tubuhnya ke ranjang Naruto, berharap dia tidak terbangun, merapihkan ceceran handuk dan air di lantai lalu keluar mencari angin segar. Betapa indah merasa dipedulikan. Semua orang disini baik, tapi Hinata sangat baik. Bahkan terlalu baik, ah.. aku jadi khawatir meninggalkannya sendiri.

Hentikan perasaan ini Soujiro! Kau hanyalah batu sandungan bagi dunianya yang sempurna. Cepat atau lambat kau akan meninggalkan semua disini, menorehkan perasaan bukan ide yang bagus saat kau tak berniat kembali. Ya, kupikir aku harus menata perasaanku lagi.

.

.

Malam ini bulan baru, langitnya cerah. Anak bulan bisa terlihat dengan mata telanjang. Tiba saatnya aku pergi. Aku harus mengakui, jika aku berat sekali meninggalkan Konoha, waktu terasa berjalan begitu cepat terhadap hal-hal menyenangkan, bagai kedipan mata.

Kami berjalan menyusuri setapak yang terlihat cukup jelas dibawah sinar bulan. Entah kenapa Hinata juga berpikir bahwa berjalan lebih menyenangkan dari berlari untuk saat ini. Jika aku boleh jujur, aku ingin menikmati waktuku yang sedikit, ada bagian diriku yang egois menginginkan tetap disini, hatiku terasa dicubit-cubit menghadapi kenyataan tak bisa memandang gadis ini untuk selamanya, rasanya seperti menghadapi kematian sebelum menghadapinya.

Jika saja bisa kuminta emosiku mati, maka aku akan memintanya lagi, tidak perlu merasakan perasaan menyesakkan dada dan membuatku sulit bernapas. Hanya hembusan napasnya yang berkali-kali kudengar tanpa satu kata terucap.

Hokage-sama berbaik hati membolehkan Hinata mengantarku, kenapa dia tidak meminta ditemani orang lain? Hutan malam hari bukanlah tempat ramah bagi gadis pemalu macam dia, tak perlu waktu lama untuk tahu bahwa dia gadis muda dengan hati lembut dan santun, tetapi kadang tekadnya baja, seperti saat dia bersikukuh ingin mengantarku dan mengabaikan larangan Hokage-nya.

"Da-daijobuka Soujiro-san?" dia menatap ke arahku, mulai terbiasa menghadapiku tersenyum. Dia berhenti dan menarik tanganku "U-untuk sekali saja.." katanya, dengan tangan terasa basah dan dingin.

"Untuk keberanian yang sudah kukumpulkan… berhentilah tersenyum, -untukku..." dia meneteskan airmata yang bisa kulihat membasahi wajahnya yang teduh di temaram. Rasa sakit apa ini yang menghalangi keluarnya kata-kataku!?

"Jangan menangis Hinata-san… saya tidak pantas anda tangisi.." Hinata menggenggam tanganku erat dengan jarinya yang dingin dan lembut. Memandangi gelap hutan menghindari tatapanku.

"Kau.. kau tidak akan melupakanku kan… soujiro..kun?" ruam merah menyebar di pipi Hinata, jika aku tidak mengenalnya cukup lama, aku akan khawatir dia terkena alergi, tapi ini adalah ekspresi malunya. Bagaimana mungkin aku bisa lupa pada gadis baik sepertimu?

"Tentu, saya tidak akan melupakan teman sebaik anda.." keheningan melingkupi kami, rasanya tidak menyenangkan. Dia masih menangis menutupi wajah dengan sebelah tangan, tugasnya selain mengantarku adalah melihat celah portal, jika dia menangis begini mustahil bisa menemukan jalan kembali.

Aku ingin egois, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku punya keinginan lain selain mengikuti Shishio-sama, dan keinginanku adalah berada disini, tempat yang menerimaku. Ini terasa seperti rumah yang tidak pernah kupunya, dan keberadaan gadis di sampingkulah yang menambah tali kekang enggan meninggalkan tempat ini. Tapi waktuku bukanlah disini, aku harus memperbaiki semuanya, aku merasa perlu bertanggung jawab atas bangsaku yang carut-marut.

"Hinata.." aku memegang bahunya erat, gadis ini terisak. Aku tahu perasaannya pada Naruto, dia telah banyak bercerita. Dia mungkin merasakan kehilangan teman, lagipula aku bukan siapa-siapa yang patut ditangisi. Jika dia tahu aku adalah penjahat beringas yang hobi menebas leher orang, dia mungkin tidak akan berdiri disini dan menangisiku. Tapi dia menerimaku, lebih dari semuanya. Dia sudah melihatku menebas dengan kejam, dia memaafkan. Aku tidak begitu mengerti tentang dia.

"Hinata.. anda tahu ini sia-sia.." dia menatapku, mengabaikan cairan panas yang terus mengalir.

"Anda tak kenal saya, anda akan membenci saya jika anda tahu siapa saya. Tidak usah membuang airmata anda yang berharga.." kulepaskan belenggu di leherku, dia nanar.

"Anda mengajari saya banyak hal, saya tidak akan pernah melupakan orang pertama yang menerima saya di dunia tanpa ingin mengambil keuntungan dari saya, saya bahagia sekali."

"A-aku tahu… aku percaya padamu!" suara seraknya mencoba berteriak, gagal.

"Ah… Souka.." dia tahu aku pembunuh? Kenapa dia masih menginginkanku disini?

"Tidak bisakah tetap disini Soujiro-kun?"

tawaku terdengar hampa bahkan untuk telingaku, tidak ada lagi Tenken no Soujiro, tidak ada lagi perasaanku yang mati, semuanya tergambar jelas tanpa mampu kututupi, bahwa aku bahagia bersamanya, permintaannya begitu berharga. Sayang aku terlalu jahat menginginkan dia bahagia denganku, dia punya banyak hal yang perlu diperjuangkan, dan aku bukanlah seseorang yang seharusnya ada. Aku hanyalah hantu masa lalu yang tidak sengaja datang. Tanpa aku-pun, dia akan tetap mendapat kebahagiaan.

"Saya rasa permintaan anda terlalu berat.. Hinata" dia mengangguk mengerti.

"Byakugan!" urat-urat tipis menyembul dari balik pelipis. Dia menunjuk satu pohon besar, kami berlari ke arahnya, ada yang berpendar, sebuah kubus transparan.

Dia balas menatapku ketika aku menatapnya, kabut dimata indah itu belum lenyap, perlahan airmata turun, dia banyak menangis hari ini. Tangisnya pecah di dadaku, tanganku menggantung ragu, apa yang seharusnya kulakukan? Membelai surainya?

"Soujiro-kun…" dia memborgol pinggangku dengan tangannya, sangat bukan Hinata yang pemalu, mendengar nama Naruto saja dia akan memerah, dia pasti menganggapku teman, ya Soujiro, teman!. Berusaha mengusir perasaan yang memberatkanku.

"A-aku tahu ini terlambat… a-aku bersyukur kau terlempar dari duniamu, berjanjilah menjadi o-orang ba-baik… aku akan selalu melihatmu lewat penuturan sejarah, aku selalu mengagumimu… a-aku me-men.."

Tanganku bergerak lebih cepat, cahaya kubus itu semakin mengecil, kuraih wajah pucat bersurai indah, mengecap bibirnya pertama kali, dia terkejut namun menerima. Rasanya manis dan lembut, ciuman kami terasa menyakitkan, keputusasaan terasa jelas dalam balasan Hinata, dia memejamkan mata dan aku menyudahinya. Kubisikan kata-kata lirihku.

"Jangan membuatku terasa jahat mengambil hidupmu untuk keegoisanku Hinata.. aku selalu mencintaimu.. kau jadi yang pertama dan terakhir.." dia tercekat, melihatku dan kusunggingkan senyuman terakhir terbaikku tanpa kepalsuan dibaliknya.

"Akan kutulis sejuta perasaanku padamu, kau akan tahu namamu akan selalu terkait denganku… kau akan bisa merasakannya, angin akan selalu menyampaikan salam takjubku untuk gadis muda penuh pesona sepertimu.. kau akan mendengarnya melalui tangisan hujan yang selalu membawa rasaku.."

"So-Soujiro-kun.." merah wajahnya, untuk terakhir aku mengecup kenignya "Sayonara… Hinata.."

Pertama dan terakhir aku menyesuaikan bahasaku. Dia menyentuh wajahku, terasa hangat.

BRUK. Maaf Hinata.

Dia ambruk di tanganku. "Keluarlah, waktuku tak banyak." Sosok yang sudah kukenal itu menampakkan diri, sosok berjaket kerah tinggi dengan serangga mengerubungi.

"Soujiro."

Kutinggalkan Hinata bersama pengawal setianya. Wajah gadis itu kelelahan, tanganku menyentuh cahaya kubus itu yang tinggal sekepalan tangan, aku berjalan menyusuri cahaya, dan sampailah aku di hutan cerah, namun kehilangan pesona tanpa gadis itu.

.

.

.

EPILOG

.

.

Hinata rutin mengunjungi hutan, menolak ditemani Shino yang sudah menyerah dengan sikap Hinata, membiarkan gadis yang patah hati sendiri, patah hati kenapa? Bahkan dia belum pernah menyatakan suka. Gadis itu meresapi angin yang membelai lembut, menghantarkan wangi seseorang, wangi pepohonan yang mengandung kerinduan.

Terduduk dia di bawah pohon, membuka lembaran yang dia sembunyikan di balik jaket gembung.

Dia menekuri buku sejarah yang sudah berubah semenjak Soujiro menghilang dari dunianya.

Soujiro Seta, Jupponggatana termuda yang dikenal dengan Tenken no Soujiro. Dia telah memilih takdir berbeda dari Jupponggatana lain yang menjadi tenaga pemerintah. Setelah berkelana selama sepuluh tahun dia mengakhiri pengembaraannya dan memulai hidup jauh dari Kyoto. Dia mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan lewat tulisannya, dan menjadi salah satu penulis terkenal era Shogun dengan karyanya yang berjudul Lavender.

Saat ditanya mengapa Lavender, dia mengatakan bahwa itu adalah cinta pertamanya, seorang gadis dengan harum Lavender di tempat yang cerah.

Soujiro meninggal di usia tiga puluh dua tahun karena penyakit yang tak bisa disembuhkan. Ditemukan meninggal setelah menuliskan karya terakhirnya.

Sampai sekarang tak pernah diketahui siapa lavender itu, karena Soujiro tak pernah menikah ataupun dekat dengan seseorang hingga akhir hayatnya.

.

.

Lavender

Sudah lewat masa ku

Masa saat aku berjanji pada Lavenderku

Bagai gunung yang selalu ingin menyentuh rembulan

Tanganku terlalu lemah menanggung keinginan

Sudahkah kau resapi angin?

Pernahkah kau berdiri dalam hujan?

Kuletakkan tiap helaian rinduku pada mereka

Kutitipkan salam untukmu di semesta

Dunia mungkin berbeda

Namun perasaan rinduku tetap sama

Lavender

Lavender

Maaf tak lebih cepat mengunjungimu

Maaf hanya kutorehkan luka dalam hatimu

Berbahagialah untukku

Untuk tiap butiran airmatamu malam itu

Kau dapat membaca kisahku

Namun aku tak bisa menggapaimu

Kau tahu semua tentangku

Lavender yang menawan hatiku

Kutepati janjiku padamu

Kau yang mengunci hatiku pada dimensi waktu

Menghadirkan sejuta pesona dengan pipi merahmu

Berbahagialah untukku

Walau waktu tak mungkin berbaik hati lagi padaku

Semilir angin melewati dimensi untuk memberitahumu

Betapa aku sangat merindukanmu

Merindukan tempat cerah yang kau bawa pergi denganmu

Lavender….

.

.

Soujiro, Seta Soujiro telah pergi. Hinata merasa baru kemarin dia merasakannya di sini. Lembaran puisi yang diletakkan Soujiro di saku jaket lavender Hinata adalah satu-satunya bukti yang menegaskan bahwa dia pernah ada, pernah ada untuk Hinata. Kesedihan tak ada habisnya, mungkin hanya kesedihan yang membuat keberadaan lelaki itu terasa nyata di pikiran Hinata, mata biru langitnya, rambut hitamnya, senyuman penuh artinya, dan sentuhan di bibir yang terasa manis menyesakkan.

Tiba-tiba angin bertiup kencang, surai indigo itu menutupi wajah. Dia menyibaknya, suara daun bergesekan semakin keras, sesuatu menimpanya dari atas, dan dia merasakan de javu.

.

"Lavender… sudahkah kau dengar puisiku?"

.

Fin

.

.

Ah… akhirnya selesai. Trims untuk Sera,Q, Suka Snsd, Minako yang menyemangati saya dan mereview.. saya tidak tahu ini fic mau di discontinue apa ga, karena speechless banget liat reviewnya.. eniwei.. saya sadar, pertama menulis ini karena saya merindukan Soujiro dan mencintai Hinata… jadi saya kembali membawa harapan baru, arigato untuk yang sudah review..

Satu lagi, abaikan itu yang namanya puisi, saya ga tau cara bikin puisi yang benar…. dan saya sebenarnya ga suka puisi.. tapi.. demi Soujiro.. okelah