Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar karangan. Apresiasi atas cinta pada sang idola. Bukan bermaksud menjatuhkan, menjelekan apalagi mendoakan yang tidak-tidak. Italic : Flashback. Karakter lain muncul sesuai kebutuhan. Saya meminjam nama mereka karena itu memudahkan saya untuk berimajinasi, dan tidak perlu repot mencari nama, jadi ini hanya sekedar Fiksi dan Fiksi itu tidak nyata, meski beberapa kejadian diambil dari kisah nyata. (Momentnya maksudnya)

.

.

Cukup mengagetkan bagi seorang Yoo Seungho yang mengenal Minseok secara mendalam, ketika mendapati gadis yang lebih tua tiga tahun darinya datang kerumahnya dengan kepala tertunduk lesu dan wajah yang sudah seperti disengat ratusan lebah. Yang dengan hal itu membuatnya mengurungkan niat untuk memaki siapa saja tamu yang datang ke apartemennya malam-malam disaat dia sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.

"Aku menginap disini ya Seungho-ya" kali ini mata sipit pemuda Yoo itu segera membulat saat Minseok memanggil namanya, Seungho-ya? Apa dia sedang mimpi. Minseok hampir tidak pernah memanggil nama aslinya, karena Minseok memiliki sejuta julukan yang selalu ia berikan kepadanya. Apakah kepala gadis itu terbentur sesuatu? Atau dia baru saja jatuh dari atap gedung perusahaan ayahnya yang setinggi langit itu sehingga kepalanya kehilangan memori tentang panggilan yang selalu ia lontarkan kepadanya.

Bukannya Seungho tidak suka karena Minseok memanggil nama aslinya, tapi siapapun akan sekaget dirinya kalau mereka mengenal Minseok secara dekat nan dalam. "Nuna"

"Aku mau dibuatkan ramyeon dan kopi hangat, diluar sangat dingin"

"Ah, ye ye"

Seperti orang bodoh, Seungho melakukan apa yang Minseok minta padahal dia tadi menggebu ingin mencekik siapa saja yang mengganggu dirinya yang sedang mengerjakan tugas, namun sekarang ia malah seakan lupa kalau dia punya tugas kuliah yang deadline nya adalah besok.

"Mau cemilan sekalian nuna? Aku punya banyak makanan ringan karena baru belanja bulanan"

"Maekju saja ada tidak?" tawar Minseok, sambil menyeruput ramyeon yang masih mengepulkan asap.

"Maekju?" Seungho bertanya sembari mencari di dalam kulkas besar miliknya. "Tidak ada, tapi aku punya soju, bagaimana?"

"Bawakan dua"

"Dua?" Seungho menatap botol di tangan, dengan label sama, hanya ada dua, dan kalau diberikan semua kepada Minseok, sudah pasti akan habis. "Cepat Seungho-ya"

"Oh, ne ne" lalu seperti hipnotis, dengan cepat sampai membuatnya terpeleset, Seungho membawa dua botol tersebut dan meletakannya di atas meja, matanya melihat pada mangkuk dan gelas kopi di atas meja, sedikit terperangah karena gadis yang terlihat tidak punya semangat hidup itu sudah menandaskan semangkuk mie hangat nyaris panas dalam hitungan kurang dari dua menit, beserta kopinya.

Ia menggeleng tidak percaya. Sungguh memang, gadis bernama Kim Minseok ini memang yang paling hebat.

a Fanfiction

by

Moonbabee

Sampai hari menjelang pukul delapan malam, Minseok bulang ke apartemen, tidak datang ke apartemen Kyungsoo, tidak juga pergi ke rumah paman Yunho, seperti biasanya jika sedang marah atau merajuk ia akan pergi ke rumah Yunho untuk mengadukan keluh kesahnya sampai dia tertidur. Namun kali ini tidak. Minseok entah kemana.

Ketika Baekhyun bertanya kepada Yunho menanyakan keberadaan sang pujaan hati kepada paman kesayangan Minseok itu, lelaki itu malah balas bertanya tentang keberadaan Minseok yang sudah mendengar cerita dari Changmin. Ponsel Minseok tidak aktif, sepertinya kehabisan daya sehingga sulit untuk dihubungi.

Minseok memiliki sebuah buku telepon kecil bergambar TVXQ, dimana di dalamnya terdapat nomor-nomor teman-temannya yang mana sudah Baekhyun hubungi namun semua mengatakan kalau Minseok tidak ada disana. Semua itu semakin membuatnya frustasi, bukan frustasi karena Minseok marah padanya, tapi karena Minseok tidak membawa dompetnya, dia meninggalkan itu di mobil dan Minseok pasti sedang kebingungan diluar sana, bukan tidak mungkin kan Minseok kelaparan, mengingat sejak pagi dia belum makan, atau mungkin kedinginan, minseok tidak bisa naik kendaraan karena tidak punya uang.

Kadar kecemasan Baekhyun sungguh berada diatas rata-rata. Pun ia sudah menyuruh Daehyun, Chanyeol dan Jongdae untuk mencarikan Minseok, namun salah satu dari mereka belum ada yang mengabarkan kalau mereka menemukan Minseok.

"Ya Seo Jinwoo. Kau tahu?"

"Apa?" begitulah, Minseok selalu memanggilnya dengan sebutan Seo Jinwoo, katanya Seungho itu mirip seperti aktor yang bermain dalam drama Remember – War of the Son. Mulai dari wajah mereka yang mirip, juga Seungho adalah mahasiswa universitas hukum dan ketika masuk ia adalah pemegang nilai tertinggi secara nasional, yeah akan sangat menyenangkan jika Seungho seperti Seo Jinwoo yang memiliki photographic memory, dengan begitu dia akan dengan mudah dan cepat lulus kemudian bekerja di dunia hukum lebih cepat, namun sayangnya tidak, Seungho adalah manusia biasa dengan kecerdasan biasa sehingga harus tetap berusaha dengan keras untuk mempertahankan nilainya sehingga dia selalu lulus setiap tahun dengan perdikat terbaik.

"Aku sedang kesal kepada Baekhyun, dia itu menyebalkan sekali, masa membuat aku terjebak dengan lelaki menyebalkan lalu dia marah-marah padaku"

"Kau itu pantas dimarahi, nuna. Lagipulankau juga perginya tanpa izin"

"Kau itu tahu apa, bocah. Dasar Seo Jinwoo yang bodoh"

"Terserahlah nuna." Minseok itu tingkat menyebalkannya setara dengan tingginya gunung Fuji, jadi jangan heran kalau hanya dalam beberapa menit Seungho sudah dibuat kesal meski hanya memperhatikan sosok yang sekarang mabuk padahal baru minum setengah botol. Minseok menghela nafas, lalu untuk beberapa saat, ia terdiam. Meneguk lagi sojunya baru setelah itu berbicara lagi.

"Sebenarnya aku memang sedikit menyesal, dan aku merasa hari ini aku sangat salah kepada Baekhyun"

"Yeah, setidaknya kau bisa merasa bersalah"

"Aku kan punya hati Jinwoo-ya. Apalagi kalau sedang marahan dengan Baekhyun, meski aku marah sampai ingin memukulnya, tapi kalau aku melakukannya aku pasti menyesal" tambahnya, Seungho sedikit tersentuh dengan kalimat itu, ternyata dalam keadaan mabuk, Minseok sungguh terdengar seperti wanita dewasa yang anggun.

"Tapi apa kau tahu Jinwoo-ya?"

"Mwo?"

"Aku sedang kesal kepada Baekhyun, dia itu menyebalkan sekali, masa membuat aku terjebak dengan lelaki menyebalkan lalu dia marah-marah padaku"

Seungho memasang wajah datar, Minseok sudah mengatakannya.

"Kau sudah mengatakannya nuna"

"Dengarkan saja dulu kenapa sih, aku sedang curhat padamu. Dasar Kim Seondal"

Itu adalah julukan jika Seungho sudah mulai marah-marah. "Yayaya, lanjutkan saja curhatan tidak berguna itu, Kim Seondal ini akan mendengarkannya, Kim SUPER MENYEBALKAN Minseok"

Ia menghela nafas lagi. "Seharusnya aku sedang makan malam dengan Baekhyun, setelah lelah dari taman bermain kami akan makan malam di pinggir sungai Han dengan suasana romantis, tapi tahu tidak?"

"Ya, aku tahu, kau sedang kesal kepada Baekhyun, dia itu menyebalkan, karena telah membuat mu terjebak dengan lelaki menyebalkan lalu dia marah-marah padamu"

"Oh, eotteokkae arrayo? Whoa, kau lumayan cerdas juga ya Seo Jinwoo, apa IQ mu lebih dari 100"

"Ya"

Tepat setelah itu kepala Minseok jatuh ke meja. Pingsan karena terlalu banyak minum, ini adalah satu dari sekian juta hal menyebalkan dari seorang Kim Minseok. Yang membuat seorang Yoo Seungho harus kembali membersihkan rumahnya yang sudah mirip kapal pecah ini karena ulah Kim Minseok.

Pertama yang harus ia lakukan adalah, memindahkan Minseok yang masih merancau tidak jelas kedalam kamar, baru setelah itu ia harus membersihkan ruang tamunya. Minseok sudah berbaring di atas tempat tidur lalu dengan segera, Seungho mencari ponsel milik Minseok dan menghubungi Kyungsoo, mengatakan kalau Minseok ada dirumahnya. Namun sayangnya, ketika ia sudah menemukan apa yang dicari, rupanya benda itu mati, sehingga niat untuk menghubungi Kyungsoo harus di urungkan sejenak.

Seungho mengenal Kyungsoo, bahkan bisa dibilang ia mengenal seluruh anggota keluarga Minseok karena dua belas tahun lalu orangtua Minseok menitipkan anaknya kepada orangtua Seungho karena bersekolah di Seoul sementara mereka tetap tinggal di Guri, setiap satu bulan sekali mereka datang berkunjung, dan karena itulah Seungho dan Minseok menjadi dekat dan berteman, begitu juga dengan Kyungsoo yang mana selalu ada bersama Minseok karena kemanjaan gadis Kim tersebut.

"Ah, ponselnya mati. Dasar merepotkan"

Merebahkan dirinya di tempat tidur, Luhan tidak peduli fakta jika ia belum mandi. Ia sudah lelah karena hari ini, semua melenceng dari apa yang ia ia rencanakan. Sarapan pagi di café dekat menara Namsan, dilanjutkan datang langsung kesana, setelah itu seharusnya ia langsung pulang, tapi melenceng jauh, dia harus bertemu dengan gadis menyebalkan bernama Minseok.

Terjebak dalam cable car, lalu terjebak menangis bersama, tangis bersama yang awalnya mengharukan namun tiba-tiba menyebalkan. Awalnya, Luhan pikir ini semacam déjà vu karena ia seperti bertemu sosok Xiumin yang lain yang lebih ceria, namun nyatanya mereka berdua hanya sekedar mirip.

Mirip wajahnya, kesukaannya, suaranya. Namun dalam segi kepribadian, mereka berbeda, kepribadian mereka bertolak belakang, dimana Xiumin adalah sosok yang tenang, sangat kalem dan begitu anggun, sedangkan Minseok.

Eum, bagaimana Luhan menjelaskannya ya.

Bisa di katakan, gadis itu menyebalkan, tapi sangat ceria. Kalau boleh jujur Luhan suka bagaimana dia tertawa begitu lepas, sangat indah seakan bersama dentingan nada. Tapi dibalik seyum menyenangkannya, dia sangat kekanakan, suka mengeluh, menggerutu, se enaknya sendiri dan suka berlebihan terhadap segala hal.

Keseluruhan, meski semirip apapun keduanya, Lu Han sangat yakin. Xiumin tidak akan pernah tergantikan dalam hatinya. Xiumin tetap terindah, meski kata orang Xiumin membosankan karena dia terlalu pendiam. Tapi bagi Luhan, Xiumin tetaplah yang nomor satu.

"Aku memang tidak tahu apa yang terjadi nanti Min, tapi kau harus percaya bahwa, kau masih menguasai seluruh hatiku sejak dua belas tahun lalu sampai sekarang"

Seperti kelopak bunga yang habis masa, perlahan-lahan dengan tubuh lemasnya ia melepaskan satu-persatu mahkota yang awalnya begitu indah sehingga di puja seluruh masa. Sayangnya, ketika secara keseluruhan telah habis dan jatuh melebur menjadi debu yang berterbangan, itu semua akan terlupakan, bunga yang cantik itu akan terlupakan, dan lebah-lebah akan berpaling pada kuncup bunga yang lain.

"Aku tidak akan pernah pergi meski sejengkal saja untuk meninggalkanmu jika kau adalah bunga itu" Luhan mengusap pelan punggung Xiumin yang ada dalam pelukannya yang kemudian balas memeluknya dengan erat. "Kenyatannya, semua lebah itu sama saja. Kau akan mati jika tidak berlari"

"Jika kau mati, apa kau pikir aku bisa hidup tanpamu?"

"Hidup ini bukan drama picisan, Luhan. Ada masanya hatimu menemukan kebosanan"

"Hentikan Xiumin-ah. Kau ini bicara apa? Kau berbicara seakan kau tidak percaya dengan cintaku" Xiumin maju mendekat dan duduk di pangkuan Luhan, tubuhnya di dorong oleh pemuda itu dan sekarang, dia sedang memasang wajah marah. Langsung saja, Xiumin mendaratkan sebuah ciuman di bibir lelaki itu yang lansung dibalas sehingga ciuman mereka menjadi dalam.

Baru ketika Xiumin memukul pelan dada Luhan, ciuman itu terlepas, Luhan kembali memeluknya. "Aku percaya denganmu Lu, aku hanya tidak percaya pada diriku sendiri"

Dalam tidurnya, Minseok mengisak yang membuat perhatian Seungho teralihkan. Dari yang sedang menyelimuti menjadi melihat pada wajah Minseok yang berair. Apa Minseok mimpi buruk? Atau karena pertengkarannya dengan Baekhyun? Minseok itu sering bertengkar dengan tunangannya, jadi sepertinya opsi itu tidak mungkin.

Karena faktanya, setelah bertengkar mereka akan baikan, begitu terus siklus hubungan Minseok dan Baekhyun. Dan juga, dari jenis pertengkaran Minseok dan Baekhyun kali ini, semua itu bukanlah pertengkaran yang hebat karena dilihat dari sudut pandang manapun, Minseok yang salah, dan yang harus dilakukan supaya berhenti dari pertengkaran adalah, Minseok meminta maaf maka selesai sudah semua masalah, karena Baekhyun tidak akan mungkin bisa tahan untuk berlama-lama marah dengan Minseok.

Yang oleh Seungho diberikan standing applause, karena kuat menahan emosi kepada manusia sejenis Kim Minseok. Astaga.

"Bogoshipo"

Tapi mendengar Minseok sampai terisak dalam tidur dan merintihkan kata rindu, sepertinya hatinya benar-benar sakit. Dan Seungho tidak bisa tidak tersentuh dengan itu. Siapa yang Minseok rindukan?

"Xiuminnie"

Nama yang sejak dua belas tahun menguasai hatinya, nama yang tertanam dalam hati terdalam, nama yang menguasai hatinya sampai ke akar. Seseorang yang memiliki seluruh hatinya. Seseorang yang amat sangat Luhan rindukan dari waktu kewaktu, dan seseorang yang tidak akan pernah bisa ia miliki kembali setelah apa yang terjadi.

"Mianhae, Umin-ah. Jeongmal mianhae"

"Nan gwaenchana Luhan-ah. Jangan salahkan dirimu begitu"

Xiumin mengusapi pipi Luhan yang terlihat begitu khawatir hanya sekedar ia terjatuh dari berlari di taman. Ia tidak terluka, hanya kotor saja bajunya. "Jangan lari-lari. Kau bilang mau jalan-jalan"

"Aku menonton filem India kemarin, romantis sekali ketika Kajol Davigan dan Shah Rukh Khan lari-larian saling berkejaran. Aku ingin mencobanya" ujar Xiumin sembari tersenyum lebar setelah mereka berdiri berjejeran. "Romantis tidak perlu lari-larian, duduk berdua sambil berciuman juga romantis kan?"

Senyum di bibir Xiumin langsung lenyap, berganti dengan mata yang memicing dan segera gadis itu menghentak tangan sang kekasih. "Ish, dasar byuntae." Katanya, lalu berjalan meninggalkan Luhan yang malah tertawa terbahak, Xiumin marah, tapi wajahnya memerah.

"Aku benar kan, lagian kau menyukainya?"

"Ish. Tidak, aku tidak suka. Kau saja yang mencurinya"

"Lalu kenapa kau membalasnya. Astaga aku lupa, kau juga mencoba mengimbangiku"

"Luhan"

"Wajahmu merah sekali waktu itu Min, aku masih mengingatnya, aku rindu bagaimana kau terlihat marah yang lucu, aku rindu dirimu" Luhan terisak sambil menatap gambar kekasihnya yang menghiasi dompetnya. Rindu sekali, sampai ia merasa kalau ia berada diruangan dengan ribuan orang didalamnya dan mereka bergerak bersama tak tentu arah, sesak, panas dan siap meledak kapan saja.

"Bolehkah aku datang menemuimu Xiuminnie? Aku sudah tidak tahan lagi"

"Jangan"

Rasa iba langsung hilang dari pikiran Seungho ketika tiba-tiba Minseok menendang dagunya sampai ia terjungkang kebelakang saat ia mencoba membenarkan selimut yang di tenadng-tendang.

"Dasar Seo Jinwoo bodoh, kau di tipu oleh Park Dongho. Belajar saja langsung supaya tidak sakit hati" rancau Minseok dalam tidur. "Kau sama saja dengan Jinwoo kenalanku, kau tahu tidak. Dia juga bodoh. kkkk"

"Meski dalam tidur kau masih bisa mengejek orang, whoa Kim Minseok memang sesuatu" Seungho berdecak tidak percaya. "Hey Kim ahgassi. Drama Remember kesukaanmu itu drama menyedihkan dan mengharukan, kau seharusnya bersedih, bukannya malah menggunakannya menjadi lelucon. Kau dengar?"

Ah gila. Seungho akan mengalami kenaikan darah saat ia cek kesehatan bulan depan jika terus berhadapan dengan Kim Minseok lebih lama. "Ada dua kasus menyebalkan di dunia ini. Yang pertama berurusan dengan orang gila dan yang kedua adalah berurusan dengan orang mabuk. Tapi masalah yang dihadapi disini adalah, aku orang gila yang berurusan dengan orang mabuk" seperti yang dapat kita lihat, Seungho memang tampak seperti orang orang gila, marah-marah dengan orang mabuk adalah salah satunya kan?

"NUNA CEPAT DATANG KEMARI ATAU AKU AKAN MENENDANG MINSEOK NUNA KE KUTUB UTARA"

Ponsel mahal milik seorang Do Kyungsoo terlepar begitu saja dan jatuh ke dua anak tangga dengan tidak elitnya, dan sang pemilik hanya bisa mematung melihat benda yang baru saja ia beli tadi siang lantaran ponselnya yang lama jatu ke kolam renang gara-gara Minseok menabrak dirinya waktu itu. Dan sekarang, untuk yang kedua kalinya, ponselnya jatuh dan lagi-lagi karena Minseok?

"TENDANG SAJA SEUNGHO-ya" katanya lemah di akhir kalimat, jiwanya seperti menghilang, layar ponselnya pecah. Ya tuhan, yang punya masalah siapa, yang menjadi korban siapa. Kyungsoo ingin menangis rasanya, ponsel adalah salah satu golongan barang mahal baginya sejak ia memutuskan bekerja dan mendirikan café miliknya. Café itu belum sebesar café yang berjejer di sekitar Gangnam, atau kawasan elit lainnya.

Masih tergolong kecil kerna baru berjalan beberapa tahun, modal yang Kyungsoo keluarkan belum kembali sepenuhnya, bahkan jika tidak terpaksa, Kyungsoo akan bertahan dengan ponselnya yang lama karena benda itu masih layak pakai, tapi karena benda itu meluncur dengan indahnya ke kolam renang dan berakhir mati tidak bisa menyala lagi, akhirnya Kyungsoo membeli yang baru, dari pada dibawa ke tukang servis, lebih baik membeli yang baru, tapi sekarang, kalau tahu begini. Lebih baik ia jangan dulu membeli. Tapi siapa yang tahu ia akan mengalami hal menyedihkan ini.

"Oppa, Minseok ada dirumah Seungho, aku akan kirim alamatnya lewat email" katanya dengan lemas melalui telepon rumah, lalu merih laptop yang kebetulan masih menyala, membuka aplikasi email, ia menuliskan alamat Seungho.

"Ah, kepalaku sakit"

Yoo Seungho – Chongdam-dong No 800, Gangnam-gu, Seoul. Baekhyun menatap gedung bertingkat dihadapannya dengan nafas tidak teratur, ia gugup. Apa Minseok akan marah kalau ia menjemputnya sekarang? Sepertinya ia marah sekali, tapi Baekhyun tidak bisa membiarkan Minseoknya menginap dirumah orang lain apalagi seorang pria, meski Kyungsoo mengatakan kalau Minseok sangat dekat dengan pria bernama Yoo Seungho, yang selama ini tidak diketahui olehnya kalau Minseok punya seorang teman lelaki bernama Seungho.

Baekhyun kenal semua teman-teman Minseok, mulai dari Seo Jinwoo si mahasiswa hukum sampai Kang Daniel si anak SMA yang kelakuannya sebelas dua belas dengan Minseok, jadi ia agak heran kenapa dia tidak mengenal Yoo Seungho yang tadi disebutkan Kyungsoo, apa ini seorang kenalan baru?

Ting. Tanda pintu elevator terbuka membuyarkan lamunan Baekhyun dan segera ia keluar dari sana, mencari kamar nomor 800 yang ternyata berada di sudut sebelah kanan. Setelah menekan bell dan interkom, Baekhyun siap berkata kalau ia datang untuk menjemput Minseok namun dari balik pintu, suara pria itu terdengar malas. "Aku sudah tahu, tunggu sebentar" katanya. Dan pintu terbuka.

"Oh?!" tertegun, Baekhyun mendapati Seo Jinwoo dibalik pintu.

"Aku Seo Jinwoo, Yoo Seunghonya sedang terjun kelaut karena terlalu kesal pada Kim Minseok" katanya. "Cepat bawa dia pergi" lalu meninggalkan Baekhyun yang kebingungan dengan situasi, ada apa ini?

"Apa tadi Minseok tinggal disini bersama dua pria? Jinwoo-ya?"

"JANGAN BANYAK BICARA ATAU AKU TENDANG-uhuk-uhuk" Seungho terbatuk, tenggorokannya sakit karena sudah terlalu banyak berteriak. "Ah sudahlah, bawa saja pergi. Pergi sana" usirnya kemudian kepada Baekhyun lalu pergi ke kamar yang ada tepat disebelah mini pantry. "Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"

Ia mengedikan bahu, lalu masuk pada kamar yang lain dan matanya langsung disuguhkan kekasih tercintanya sedang bergelung nyaman dengan selimut tebal. Kelegaan menguar begitu saja, kekasihnya tidak kekurangan apapun. "Kau selalu saja membuatku cemas" bisiknya sembari mengusap belah pipi gembul yang terlihat memerah, nafasnya bau alkohol, sepertinya dia habis minum. "Baekhyunnie ppabbo"

"Aku tahu, maafkan aku" katanya menyahuti. Baekhyun menguasai Minseok seutuhnya, bahkan meski di alam bawah sadar, yang menjadi objek mimpi Minseok tetaplah dirinya. Byun Baekhyun.

Setelah memasangkan kembali mantel Minseok yang tergeletak di atas kursi, Baekhyun mengangkat tubuh itu kedalam gendongan lalu membawanya keluar. "Kami pulang dulu Jinwoo-ya, katakan pada Seungho aku sudah menjemput Minseok, terimakasih juga sudah menjaganya" Baekhyun sedikit menyeru berkatanya karena sepertinya si pemilik rumah mengunci pintu kamar, tujuannya adalah Minseok dan jadi ia hanya butuh membawa Minseok, lagipula si pemilik rumah tidak ada, jadi ya sudahlah.

"Karena itulah mereka cocok" begitu dengus Seungho di dalam kamarnya.

Mendapat tamu tak di undang, ketika pintu terbuka, seorang gadis cantik berdiri di depan kamar Luhan dengan senyuman menakjubkan pelepas kerinduan. Waktu seakan berhenti, dan jiwa Luhan terangkat tinggi, untuk sejenak dia sampai tidak bisa bernafas, sampai tangan kecil itu merengkuh lehernya, menempelkan badan keduanya dan mereka berpelukan, diantara perpotongan lehernya, ia berbisik. "Luhan-ah, bogoshipo"

Ini seperti mimpi di siang hari, tapi begitu nyata, bahkan hangat tubuhnya pun terasa begitu membakar Luhan, mencairkan sesuatu yang beku dalam hati, dan aroma wangi musim panas menguar dari sana, kehangatan itu nyata. "Xiu-Xiu-Min, Xiumin-ah"

"Eoh naeya"

"Jeongmalia?"

"Aku menunggumu begitu lama Luhan, tapi kenapa ketika kau datang kau tidak mengunjungiku, kau mengingkari janjimu Luhan"

Perlahan, benar-benar secara perlahan Luhan menggerakan tangannya untuk balas memeluk gadis itu yang sudah menggantungkan dirinya pada lehernya, apa ini sungguhan atau mimpi? Atau bisakah siapapun menghentikan waktu supaya kebersamaan ini terasa lebih lama?

"Xiumin?"

"Aku merindukanmu Luhan, aku sudah menunggumu begitu lama"

Pertahanan dimatanya telah terkalahkan, akhirnya ia menangis juga, sambil membalas pelukan hangat itu Luhan tidak bisa mengatakan apapun, tidak bisa berkata apapun, hanya mampu menumpahkan isak tangis kecil yang dibalas dengan tepukan menenangkan di punggungnya.

Baekhyun merebahkan tubuh Minseok ke tempat tidur, lalu mencari piama untuk mengganti apa yang kekasihnya kenakan supaya tiduryna lebih nyaman. Hal ini sudah sering terjadi, jika Minseok ketiduran dan tidak mengganti bajunya, maka Baekhyun yang akan melakukan, menggantikan pakaian gadisnya. Sama sekali tidak ada nafsu bagi Baekhyun melakukan hal lebih selain menggantikan bajunya.

Meski sering menggantikan baju Minseok dan melihat bagaimana lekuk indah kekasihnya, sama sekali tidak terlintas dikepalanya untuk melakukan hal yang lebih, sejauh ini, sejauh mereka tinggal bersama sejak tiga tahun, hal yang paling dewasa yang pernah mereka lakukan adalah berciuman dan tidur disatu ranjang yang sama. Selebihnya tidak. Bukan karena Baekhyun tidak berani, tapi karena cintanya tulus, dia mencintai Minseok dengan sepenuh hati dan cinta yang baik adalah, menjaga yang terkasih sampai mereka dinyatakan sah dimata tuhan.

Lagipula dengan adanya Minseok disisinya selalu, itu sudah lebih dari cukup, baginya, akan ada waktunya ia dan Minseok untuk sesuatu yang lebih, tapi sekarang belum. Baekhyun telah berjanji untuk menjaga Minseok karena dia mencintainya, maka sebagai lelaki sejati dia akan memegang ucapannya yang telah dalam genggaman ayah Minseok.

"Selamat tidur sayang" bisik Baekhyun sembari menaikan selimut sebatas dada.

"Saranghae"

"Nado"

I gaze longingly at the you whom I can't see

I listen carefully to the you whom I can't hear

I see the scene that I couldn't see before

I hear the voice, I couldn't hear before

From when you left me

The past me was too selfish, only caring about myself. Yeah

The past me was too foolish, to understand your heart

The me of now is changing everyday

Clearly, you're not by my side

But, I'm changing because of you

Because of love you gave me

Every time I think of you, my whole world is filled with you

The snow that falls in the night sky. Each me is your tears

I wish that you could appear. In front of me in a moment

I wish that you could return to my side

These useless super power of mine

Are unable to bring you back to me, whoa

The past me was too selfish, only caring about myself

The past me was too foolish, to understand your heart

The me of now is changing everyday

Clearly, you're not by my side

But, I'm changing because of you

Because of love you gave me

Let me freeze time

And return to your side

This book of memories

Turning back the pages

The you and I from that page

Oh ho~

The you and I of that time

The me who is not strong, enough is changing everyday

Because of your love

You changed everything (My entire life)

Everything (My entire world)

Whoa~

The past me did not understand how to cherish love

Oh~

I once believed that even if love ended, it would be fine. Oh

But now, I'm changing because of you

Clearly you're not by my side

Yet my love is still counting

As if it know (Oh whoa)

Freezing time (Oh, I really want to)

To return to your side (To return to your side)

The book of memories (Oh those memories)

Is filled with words of sadness

As my tears disappear oh ho~

I return once more to that white season

I gaze longingly at the you whom I can't see

I listen carefully to the you whom I can't hear

(EXO - Miracles in December (十二月的奇迹))

Ketika Luhan mendesakan diri sampai ke titik terdalam, secara bersamaan mereka mengerang. Menahankan rasa sakit untuk merileksan badan dan menyesuaikan. Sebelum akhirnya yang di atas kembali bergerak secara perlahan untuk membunuh kesakitan. Kesakitan yang secara perlahan terkikis karena kenikmatan yang datang setelahnya.

Membuat Luhan dengan berani berulang kali menyentuh pusat diri Xiumin dengan dirinya yang tertanam dan terbungkus oleh kehangatan Xiumin. Lama sekali, kehangatan itu seperti selimut hangat di musim dingin, sekalipun telanjang bulat tanpa pakaian, Luhan merasakan kalau dirinya kepanasan.

Seperti terbakar dalam perapian, tapi rasa panas ini sungguh menyenangkan. Luhan tidak berbohong, malah kalau boleh jujur, kepanasan ini adalah sesuatu yang sangat dia rindukan. Kepanasan yang disebabkan oleh api gairah yang bergejolak dan meminta untuk di puaskan.

"Luhan"

"Eum, sayang"

Lelaki berjuluk Little Deer itu membiarkan kekasihnya bergerak dibawah sana, membiarkan yang terkasih mencari kenikmatannya sendiri dengan menggerakan pinggulnya dan Luhan mendorong dirinya semakin dalam.

"Oh…oh, astaga" Xiumin memejamkan matanya, ketika kenikmatan itu meledak dengan panas tak terbantahkan membanjiri dirinya, dan walaupun Luhan bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, pemandangan akan orgasme dan denyutan Xiumin yang meremas dirinya jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Detik itu pula, Luhan meledakan gairahnya dan bergabung dengan Xiumin dalam gairah yang melemahkan.

Minseok dan Baekhyun bertatapan dari ujung ke ujung, Minseok ada di ambang pintu kamarnya sendiri dan Baekhyun ada di ambang pintu kamarnya sendiri. Minseok menunduk, tiba-tiba saja dia takut bertatapan dengan Baekhyun seperti itu.

Sepertinya dia harus memarahi Seungho karena membiarkannya di bawa pulang oleh Baekhyun, bukankah ini namanya penculikan, menggotong orang tanpa izin dan menggantikan bajunya, ugh pipinya memanas.

"Selamat pagi cantik, apa kau mimpi indah semalam"

Cukup kaget Minseok dibuatnya, dia bahkan tidak sadar kalau lelaki Byun itu sudah berjalan mendekat lalu mencium keningnya. "Aku mimpi buruk" cicitnya tanpa berani mendongak. "Apa kau masih marah padaku?"

"Eum, aku marah padamu, aku benci padamu" baru kali ini ia mengangkat kepala, menatap Baekhyun dengan matanya yang mulai berkaca.

"Aku tahu, maafkan aku. Maaf sudah membentakmu kemarin" Baekhyun mengusapi pelan punggung yang terkasih sembari sesekali mengecupi puncak kepala Minseok yang kini mulai menangis manja. "Aku tidak muak denganmu, sungguh. Dan kemarin kau salah paham"

"Kau salah baek, kenapa kau terus menyalahkan aku, kau ini menyebalkan sekali"

"Baiklah, aku memang menyebalkan, dan aku yang salah. Jadi apa yang bisa membuat kecintaan Baekhyun ini berhenti menangis dan mau mengampuni aku"

Minseok mundur menjauh, menghapus air mata diwajahnya lalu menatap Baekhyun. "Benar akan kabulkan permintaanku?"

"Eum, everything you want?" katanya, benar-benar terdengar sangat gentleman seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Minseok.

Paginya saat Luhan bangun dari tidur yang lumayan panjang, ia mendapati kamar brantakan dan salah satu bantal guling sudah robek, bulu-bulu terlihat memenuhi ruangan serta menempel pada tubuhnya yang telanjang.

Telanjang? Saat ia sadar bahwa ia menemukan dirinya tanpa pakaian, udara luar yang dingin menyapa kulitnya seakan berlomba-lomba untuk membuatnya menggigil. Kelebatan kejadian semalam terngiang lagi.

Semalam? Terjadi lagi?

Dengan menyeret serta selimutnya, ia mendekat pada nakas dan melihat tabung kecil yang bertengger manis disana, tinggal dua butir, sejak dia sampai dan sekarang, itu artinya, semalam ia tidak minum obat.

Dengan dada yang tiba-tiba naik turun, Luhan menyenderkan badannya pada kepala ranjang lalu menelan dua butiran putih itu semuanya, untuk satu menit kedepan dia memejamkan matanya, menetralkan nafas, setelah dirasa ia kembali tenang, Luhan meraih celananya yang tergeletak di bawah ranjang lalu mengenakannya kembali.

"Xiumin-ah, apa yang bisa membuatku berhenti dari semua ini? Apa kau sedang menghukum aku?"

Air mata Luhan meleleh lagi, ketika ia melihat robekan bantl guling yang hendak dibuangnya karena sudah tidak mungkin di kenakan lagi.

Ada bekas darah yang menjejak di kain putih bantal tersebut, itu seperti hatinya, dan jejak darahnya adalah kilasan kejadian manis dirinya dengan Xiumin, selebihnya adalah luka menganga yang begitu menyakitkan, serta berbagai macam memori pahit keduanya, dan fakta yang paling jelas dan terasa begitu nyata adalah, Xiuminnya tidak lagi disisinya.

Hari itu, adalah awal musim dingin. salju pertama telah turun sejak semalam. Yang ia tahu, ia begitu senang ketika melihat serpihan kecil putih yang begitu dingin menyapa kulit telapak tangannya. dengan semangat ia mengacungkan hasil tangkapannya kepada seorang pria yang kini mendorong kursi rodanya menuju balkon.

"Apa ini tampak seperti serpihan sajlu dalam gambar yang ada di internet? Atau mirip pin frost milik EXO?"

"Ini hanya bulatan yang berkilau dan dingin, ada sinar pelangi jika terkena sinar matahari. Ini jauh lebih indah dari yang digambarkan" sahutnya, ia lalu mengulurkan tangannya untuk ikut menangkap kepingan salju.

Itu berlangsung selama tiga menit. Sampai akhirnya sang gadis terbatuk karena banyaknya udara dingin yang terhirup olehnya, mereka memutuskan menutup pintu balkon. Oleh lelaki itu, gadisnya di bawa kembali ke kamarnya dan membaringkannya di atas tempat tidur.

"Kau gelisah? Aku tahu"

Meski hampir lima bulan telah tidak berjumpa, namun ia tahu, bahwa kekasih hatinya tengah menyimpan kegundahan dalam hati yang ragu untuk di katakan, mungkin karena dia sedang sakit.

"Aku, aku harus kembali ke Beijing" bisiknya.

"Oh, lalu?"

"Aku akan meninggalkanmu?"

"Meninggalkanku? Apa itu artinya kau tidak akan kembali?"

Gigi lelakinya terdengar bergemrutuk, rahangnya terlihat sekeras baja, matanya yang selalu bersinar indah itu tampak berkaca, jawabannya adalah iya.

"Kalau begitu pergilah, aku tahu kau rindu rumah"

"Aku tidak akan kembali" bisiknya parau, sarat akan kefrustasian.

"Aku akan baik-baik saja."

"Kau tidak baik-baik saja" bentakan itu bukan karena dia marah, tapi karena dia muak, tidak ada yang baik-baik saja, bahkan dari sinar mata saja sudah kentara kalau semua tidak baikbaik saja. Ia muak karena selalu berkata baik-baik saja, padahal selama ini ia menanggung kesakitan seorang diri, tidakah ia menganggap kalau itu membunuhnya perlahan, rasa sakit seorang pria adalah ketika dia melihat wanitanya terluka.

"Sekarang mungkin aku tidak baik-baik saja, tapi sebentar lagi, aku baik-baik saja."

"Ketika kau telah baik-baik saja, disaat itu aku yang tidak akan baik"

Keduanya terdiam, hanya denting jarum jam yang menghilangkan kebisuan. Sampai tangan kecil yang pucat itu mengusap lelehan air yang terasa sangat hangat ditengah kedinginan. "Antarkan aku kepada orangtuaku besok, aku merindukan mereka"

"Apa kita akan berpisah setelah itu?"

"Aku tidak akan diterima, dan kau tidak mungkin membangkang"

"Tapi aku mencintaimu"

"Aku tidak akan diterima, dan kau tidak mungkin membangkang, aku tidak ingin dibenci. Jadi, buatlah mereka menyukaiku meski hanya sekali."

"Kenapa kau begitu egois?"

"Karena aku mencintaimu"

.

.

To Be Continue…

.

.

muyasexiu Ngga tau deh Muy, aku juga bingung, gitulah pokoknya. Hehe.

zikyu Aku sekarang XiuHarem shipper, tapi dalam hati XiuHan masih nomor satu. Iya, bener. SM lagi gencar bgt kayaknya buat XiuHun jadi lebih popular dari XiuHan dan HunHan. Wah.

Laras Sekar Kinanthi Emang gitu kan, hehe. Chan kayak anggka satu nah Cen kayak koma. Nah kalo sama Umin kayak satu ama titik, abis Uminnya mungil bingitz, wkwk.

Guest Whoa banget kan? kkk.

.

.

Moonbabee