Seorang tengah bersantai menikmati semilir angin sore menenangkan di taman bunga bersama temannya. Rambut ravennya yang mencuat ke atas sedikit bergoyang diterpa angin. Wajah bahagia menghiasi, canda tawa melengkapi. Membaringkan diri di karpet rumput hijau, langit oranye dengan burung-burung yang berpulang ke sarangnya, teramat sia-sia untuk dilewatkan.

"Karin, bisakah kau berhenti membicarakan hal memalukan itu?". Sasuke mengacak-acak rambut merah menyala milik gadis yang bernotaben sebagai sahabatnya.

"Ahk, baiklah baiklah, Tuan". Karin terlihat senang dengan perlakuan Sasuke.

"Masa liburan akan dimulai, apa rencanamu, Sasuke?".

"Sama sekali tidak ada, kau?".

"Aku juga. Bagaimana kalau kita pergi ke alun-alun di lapangan Konoha?".

"Ide bagus. Aku ikut".

"Oke. Aku akan menentukan waktunya".

"Baiklah". Mereka berdua setuju untuk pergi ke alun-alun yang kebetulan akan ada parade dan beberapa bazar, sudah lama tidak bersenang-senang merefesh otak setelah bulan ujian bagi senior berakhir.

"Kau amat beruntung Sasuke, dengan nilaimu yang sempurna itu, kau bisa masuk sekolah manapun yang kau inginkan tanpa ada tes kemampuan lagi, sedangkan aku?".

"Memangnya kau ingin masuk ke sekolah mana?".

"Konoha Senior High School". Jawab Karin lantang. Keinginannya sudah bulat untuk masuk ke sekolah unggulan itu.

"Kau benar-benar ingin masuk ke sana atau hanya mengikutiku?". Tanya Sasuke.

"Hehehe, keduanya".

"Kudengar tesnya akan sulit, jadi belajarlah!".

"Pasti! Dan Satu lagi,"

"Hn?".

"Jika aku lulus, maukah kau-". Keraguan membuatnya takut berucap, tangan Karin tak henti memilin-milin bajunya yang mulai kusut.

"Mau apa?". Tanya Sasuke yang merasa aneh dengan sikap yang ditunjukan Karin.

"Uchiha Sasuke, jika aku lulus dalam tes masuk KSHS, maukah kau jadi pacarku?" Karin menundukan kepala. Menyembunyikan wajahnya yang sudah bermimikri menjadi warna merah, seakan ada sesuatu yang segera meledak dalam dirinya. Iya, yang akan meledak adalah hatinya. Detak jantung yang tak beraturan, menunggu jawaban yang hendak dilontarkan oleh Sasuke. Orang selama ini mengisi kekosongan hati seorang Uzumaki Karin.

Hening dan hening. Ternyata Sasuke juga butuh waktu untuk menjawab pertanyaannya. Begitulah yang dipikirkan Karin. Ia sempat putus asa karenanya,

"Baiklah. Jika kau lulus kita akan resmi berpacaran". Ucap Sasuke sambil melayangkan senyuman kepada Karin yang panas dingin.

"Hah? Benarkah? Kau mau?".

"Hn. Dari dulu kupikir kaulah satu-satunya. Akupun tak ingin berteman lagi denganmu. Hubungan kita ini lebih dari sekedar berteman bukan?". Tanpa berpikir panjang Karin yang melayang-layang mendengar jawaban Sasuke, segera memeluknya erat-erat. Melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sasuke. Menyesap aroma maskulin yang menyeruak, merasa bisa menyalurkan rasa bahagianya melalui pelukan. Sasuke pun membalas pelukan Karin, membelai lembut rambut merahnya yang sebahu.

"Aku akan melakukan yang terbaik, Sasuke". Ucap Karin masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sasuke.

"Hn. Berusahalah Karin, aku akan menunggumu".


Maaf Fanfict ini pasti jauh dari kata sempurna. typo akut, cerita pasaran, OOC, AU, OOT, EYD berantakan, pemilihan kata kurang pas, banyak pengulangan, semuanya deh. No flame here.


.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

.

.

mohon reviewnya.

Saran/ide needed!

Happy reading ~


Disclaimer karakter selamanya punya Masashi Kishimoto

Disclamer cerita punya Devi Na Akeyama


.

.

Pairing: Sasusakux

.

.


My Annoying Neighbor

Chapter 3


Barang rongsokan, tak diinginkan

Kau coba hapuskan keberadaanku

Dunia gelap tak berujung

Letih terurai di kelopak mata

Memandang tumpukan rintihan hati

.

Namun, seberkas cahaya hadir

Menuntunku keluar

Dari masa lalu kelam ini,

Dari diriku yang diserang sepi,

Kau hadir dalam resah hati

.

Biarkan aku, sejenak saja

Merasakan apa itu cinta

Lamban kusadari

Kaupun tak mengerti

Tapi setidaknya kau tahu,

Dirimu selalu menjadi obat hati


Flashback bentar -

Sebelum pergi, aku sedikit membereskan kamar Sakura yang seperti habis dijajah pencuri. Saat membersihkan, aku menemukan aquarium kecil berisi Tiger Swallowtail awetan. Astaga, hanya untuk keberutungan, gadis ini juga memeliharanya. Mungkin ia menangkapnya sendiri, Karena kupu-kupu tidak berumur panjang sekalian saja diawetkan.

Setelah berkutat selama 15 menit, apartemennya sudah bersih, mungkin sedikit aneh tapi lantainya sama sekali tidak berdebu, hanya barang-barangnya saja yang berantakan. Aku keluar dari apartemen Sakura, mengunci pintunya dari luar yang memasukan kunci ke dalam apartemen melalui celah yang ada di bawah pintu.

Hari ini cukup melelahkan, tapi amat menyenangkan. Aku harus segera beristirahat, besok waktuku untuk mencari pekerjaan paruh waktu dan membeli beberapa peralatan untukku kuliah.

Flashback OFF-

.

.

.

.

-oooOOoo-

.

.

.

.

Sakura POV.

Pagi yang indah kudapat hari ini. Matahari terlihat bersahabat dengan cahaya yang ditebarnya ke seluruh penjuru Jepang. Sesekali semilir angin sepoi-sepoi bertiup lembut dari jendelaku yang terbuka. Musim gugur sudah datang, aku akan segera dibanjiri kecermelangan dan setumpuk ide segar untuk membuat resep baru.

Hari ini aku akan pergi ke apartemen Sasuke, mengajarkannya beberapa masakan mudah agar ia bisa memasak walau sekadar untuk dirinya sendiri. Tapi dibalik niatku itu, sebenarnya hanya alasan belaka agar bisa terus berada di dekatnya. Bisa kurasakan perasaannya yang begitu dingin, tercermin dari sorot matanya yang teramat kosong. Inginku membebaskannya dari parasit yang menjerat, kutahu suatu hari keceriannya kembali seperti dulu. Walau sedikit sakit rasanya karena kau tidak mengingatku sama sekali, tapi cepat atau lambat kau akan segera tahu. Sementara itu, biarkan aku membalas budimu yang tak terbalaskan waktu itu.

"Yosh, aku harus bersiap". Pukul 7, aku mulai melakukan kebiasaanku, membersihkan kamar, menyapu lantai, mandi, membuat sarapan, ngomong-ngomong aku makan bubur dengan jamur shitake, dan membungkus 2 mangkuk bubur lagi. Untuk apa? Ini dia.

Pukul 8, waktunya pengantar susu datang. Namanya Naruto, ia seumuran denganku, tapi karena faktor ekonomi orangtuanya yang buruk, ia harus mengerjakan banyak sekali kerja paruh waktu. Sesekali ia berkunjung ke apartemenku untuk mengobrol, menonton film denganku, atau makan tentu saja. Aku tidak keberatan, malah terhibur dengan kehadirannya.

Derap langkah kaki terdengar semakin jelas, itu pasti Naruto. Untuk orang non penghuni apartemen, mereka tidak diperbolehkan menggunakan lift, tapi tangga. Bisa kau rasakan setiap hari Naruto harus menaiki lima belas lantai setiap harinya untuk mengantar botol-botol susu yang ada di dalam kotak besar di balik punggungnya. Terkadang aku merasa kasihan padanya dan menyarankannya untuk istirahat sesekali, tapi seperti biasa, ia tidak mendengarkanku.

"Hey, Sakura!". Kepala Naruto mulai terlihat. Keringat menghiasi dahinya, tapi ia tidak peduli, semangatnya yang berlebih mengalahkan rasa lelah yang dirasa.

"Bagaimana kau ini, baru lantai lima dan kau sudah ngos-ngosan, perjalananmu masih jauh". aku mengantar plastik berisi dua mangkuk bubur di dalam kemasan plastik sekali pakai.

"Maaf, pagi ini koran yang kuantar melebihi jatah biasanya, aku kemarin demam, apa kau membuatkanku sarapan kemarin?". Naruto menampak senyum lebarnya seperti biasa. Ia benar-benar senang dan ihklas dengan apa yang ia lakukan ini, tak pernah mengeluh ini itu.

"Eh? Kau sakit? Kenapa tidak menelponku? Kebetulan aku tidak membuatkan sarapan untukmu, aku sibuk. Tapi apa kau sudah baikan? Jangan terlalu memaksakan diri, perhatikan juga keadaan tubuhmu". Ucapku sambal menyentuh dahinya, memastikan suhu tubuhnya ada pada batas normal. Melegakan, suhunya tidak terlalu panas.

"Tenang saja, aku sudah sembuh. Yokata, aku tidak membuatmu menunggu kemarin. Hehehehe…. Jadi apa menu pagi ini?" Tanya Naruto yang sudah menjadi adat istiadat baginya tiap kali kuberi makanan. "Bubur ayam dan aku menaruh beberapa jamur shitake disana". Aku memberikan bungkusan itu kepada Naruto.

"Kenapa kau selalu saja menyelipkan shitake ke makananku? Aku tidak menyukainya". Naruto mulai memberikan tatapan kesal kepadaku, tapi inilah yang membuatku terhibur setiap harinya.

"Kupikir kau akan segera meningkatkan pangkat kerja jika menghentikan sifat pemilihmu pada makanan". Kulipat kedua tanganku di dada. Memberikan kesan menggurui padanya, hahahaha.

"Ah, baiklah, terserah kau saja, Nona cerewet… Jadi kau kemana kemarin?". Naruto mengambil 1 plastik bubur hangat dariku dan memasukannya ke dalam kotak, dan satunya lagi masih dibawanya.

"Aku pergi berjalan-jalan dengan tetanggaku".

"Eh? Tetangga? Siapa? Aku ragu, sosialmu benar-benar buruk disini". Naruto membenahi posisi kotak berisi susu tersebut kembali di atas punggung.

"Diamlah. Sosialku tidak buruk, hanya saja tempat ini dipenuhi oleh orang-orang tua yang bahkan tidak tahu cara menghidupkan TV", aku kesal dengan ucapan Naruto, memang sih, ucapannya benar, tapi masih kusangkal argumennya. "Kau ingat Uchiha Sasuke?" tanyaku.

"Uchiha Sasuke?", Naruto sedikit memutar otaknya, mencari lembaran memorynya yang terpendam. "Orang yang selalu kau ceritakan itu?". Akhirnya ia ingat. Ya, Naruto juga salah satu sahabat yang bisa kuajak berbagi cerita.

"Benar. Pertama kali kami bertemu, ia menatapku asing, kupikir ia tidak mengingatku, tapi tak apa". Wajahku sedikit kusam, bagaimana lagi? Rasanya juga akan aneh jika ada orang asing yang baru saja kau temui tiba-tiba bercerita masa lalu yang tidak kau ingat sama sekali.

"Aku tidak sabar melihat wajahnya". Naruto penasaran, ia memegangi dagunya, seperti biasa.

"Sudah sana pergi, atau nenek Uruchi akan segera membeli sekardus ramen lagi di supermarket". Aku mendorong Naruto pergi menuju lobi 7.

Nenek Uruchi adalah janda yang sudah berumur 61 tahun. Setelah suaminya, Teyaki, meninggal 3 tahun lalu, ia mengurung diri di dalam apartemennya, menghabiskan banyak waktunya untuk menonton saluran TV atau mengurus anjing kecilnya bernama Akamaru. Untuk soal makan ia sering sekali memesan makanan cepat saji seperti pizza dan ayam goreng. Atau makan aneka rasa mie instan cup tidak bergizi itu. Darimana aku tahu? Bisa dilihat dari tempat sampahnya yang penuh dengan cup mie ramen dan kardus pembungkus pizza yang sudah dikerubungi lalat, begitu banyaknya hingga tidak muat lagi untuk masuk walau ukuran tempa sampahnya relative besar. Aku melihatnya setiap minggu pagi sebelum tukang pengangkut sampah datang. Ia hampir diblacklist oleh polisi karena menghasilkan terlalu banyak sampah tiap minggunya, sepertiku. Benar, aku diblacklist bulan lalu oleh Hatake Kakashi sialan itu. Tapi ia tidak akan berani mengganggu orang lanjut usia galak seperti nenek Uruchi, apalagi Akamaru selalu menyalak tiap kali dia datang.

Pernah suatu hari aku masuk ke dalam apartemen Nenek Uruchi sekali karena insiden teriakannya yang mengguncangkan seluruh gedung, hanya karena ia menemukan satu kutu di bulu Akamaru. Kulihat sebuah TV tua berantena di atasnya sedang menyala. Acara TV yang dilihat Nenek Uruchi bukan benar-benar acara TV, melainkan hasil tangkap kamera CCTV setiap lantai di apartemen yang ia sambungkan langsung dari ruang pengawas. Aku menyarankan untuk memasang TV kabel padanya, tapi ia menolak, dengan alasan "Aku ingin tayangan yang nyata, bukan sekumpulan orang yang berpura-pura di depan kamera".

Setiap hari aku menawarkan masakanku untuknya, tapi selalu ditolak. Aku mencari cara lain, agar ia tidak terus saja makan makanan tak bergizi itu, ya aku ini mencoba menjadi tetangga yang baik. Lewat Naruto, bersamaan dengan susu botol yang ia antar setiap hari, di sebelah diletakkan makanan yang kubuat dengan sticky note tertempel bertuliskan:

Untuk nenek Uruchi, setelah berlangganan agen susu kami untuk lebih dari 10 tahun, kami berikan anda bonus sarapan tanpa ada biaya tambahan,

ttd. Agen susu sapi Konoha.

Tak disangka, ia percaya. Dan ini sudah berlangsung selama lebih dari 1 tahun sejak kejadian tersebut.

"Baiklah, aku pergi dulu, telpon aku jika kau butuh teman makan, ehehhehehe". Naruto akhirnya pergi dengan tawanya yang mengguncang. Aku hanya tersenyum melihat sahabatku yang satu ini. Adakah cara lain untukku membantunya? Aku sudah mencoba sebisaku, tapi sepertinya tidak berpengaruh banyak padanya. pernah ia kuberikan amplop berisi uang hasil kerjaku, dan, tentu saja ditolak. Diluar dugaanku ia malah minta maaf. Maaf karena tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukku. Ia merasa gagal, berfikir tidak ada gunanya bagiku untuk berteman dengannya. Saat itu aku dipenuhi air mata, berhamburan memeluknya. Menjelaskan dengan lirih di telinganya, bahkan hanya dengan keberadaannya saja sudah menarikku jauh dari kata kesepian. Iapun tersenyum bahagia, dan hingga sekarang kami bagai saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan.

Soal bagaimana aku bertemu Naruto, mungkin akan dijelaskan di chapter berikutnya oleh author.

.

.

.

.

.

.

.

"Yosh, aku harus mengambil beberapa bahan untuk memasak". Gumamku. Tapi tak lebih dari tiga detik, terdengar suara,

CLEK.

Pintu apartemen Sasuke terbuka. Menampak seseorang yang sudah rapi memakai pakaian casual, bersepatu, ia membenah lipatan baju di lengannya, siap untuk pergi ke suatu tempat.

Langsung saja kuhampiri.

"Sasuke, kau mau pergi kemana?". Tanyaku kini sudah berada di hadapannya.

"Ke kota". Jawabnya singkat seperti biasanya. Ia masih sibuk dengan kegiatannya memperbaiki penampilan. Mengecek isi tasnya, mungkin takut akan meninggalkan beberapa barang penting.

"Ada apa kau pergi ke kota?", Tanyaku.

"Mencari kerja paruh waktu". Ia akan mencari kerja paruh waktu. Kupikir ia adalah anak orang kaya, setidaknya itu yang kuingat terakhir kali.

"Baiklah aku ikut, kumbil dulu tasku". Saat aku hendak pergi masuk ke apartemenku, tangan Sasuke menarik bajuku. "Kenapa kau ikut? Aku bisa sendiri". Tolaknya.

"Tenang saja, aku tahu tempat yang tepat untuk masalah kerja paruh waktu". Sepertinya ucapanku ini mempengaruhinya. Mempertimbangkan. Aku tahu ia akan kesulitan untuk mencari pekerjaan di kota besar dengan persaingan teramat ketat. Sebenarnya ia tidak mau terlalu bergantung padaku, memikirkan balas budinya yang mungkin tidak ingin dilakukannya, hanya akan menambah beban di pikiran. Ya, aku paham semuanya.

"Baiklah. Tapi hanya sampai di tempatnya saja". Akhirnya ia setuju.

"Aku ada teman yang memiliki café yang tidak terlalu besar di pinggir kota, tidak terlalu jauh dari sini. Kupikir ia tidak akan keberatan untuk menerima 1 pegawai lagi".

"Hn. Cepat ambil tasmu". Perintahnya tidak sabar. "Baik", aku mengambil tas kecilku berbentu beruang kecil berwarna coklat yang hanya berisi dompet dan ponsel. Tolong tambahkan ke catatan, aku buka gadis gila yang membawa alat rias kemanapun kupergi. Menurutku hal seperti itu membuang uang dan waktu, lebih baik kuhabiskan untuk makan di warung Mie Udon. Berpamitan pada Mame, membuka pintu balkon jika Mame ingin keluar untuk berjemur cahaya matahari atau berlarian menikmati semilir angin pagi hari.

Setelah mengunci apartemenku, menyimpan kunci berbandul Cony LINE milikku, kamipun pergi. Selama perjalanan keluar, para pegawai apartemen memberi kami salam ramah, tak sedikit para gadis atau wanita menatap takjub pada Sasuke. Aneh. Di depan pintu aku bertemu Jugo, ia menjaga pintu depan setiap paginya. Seragam pegawainya terpasang rapi, rambut oranyenya disisir kebelakang dan diberi sedidikit minyak, walau jika di hari libur rambut akan mencuat tak karuan arahnya.

"Selamat pagi, Jugo!" Sapaku ramah padanya. Ia salah satu pegawai paling ramah yang bekerja disini.

"Se-selamat pagi, Nona Sakura", jawabannya terlihat gugup. Ada apa dengannya?

"Kenapa Jugo? Apa kau sakit? Sebaiknya kau istirahat", Hanya ucapan yang bisa kuberikan, kulihat wajahnya pucat dan tangan terus bergetar, mungkin ia terlalu banyak bekerja seperti Naruto.

"Ah, saya baik-baik saja, Nona. Terima kasih telah mengkhawatirkan orang sepertiku", Jugo membungkuk terlalu rendah padaku.

"Apa yang bicara, Jugo? Kau sudah seperti temanku sendiri, jika ada masalah jangan sungkan datang padaku ya! Aku pergi dulu", ucapku sembari melangkah keluar, meninggalkan Jugo yang masih berdiri di depan pintu.

"Terima kasih, Nona!", mendengar ucapannya, dari kejauhan aku melayangkan senyuman lembut padanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Perjalanan kami tidak terlalu panjang, hanya butuh lima belas menit berjalan kaki. Keadaan kota sangat ramai dengan keadaan jalan raya yang macet karena banyak sekali orang mengendarai mobil atas alasan tidak mau kulit mereka di rusak oleh cahaya menyengat dari matahari, tidak mau lelah, make up mereka akan rusak diterpa angin dan lain sebagainya. Oh ayolah, jangan pesimis pada semua hal. Matahari tidaklah burukk, tergantung caramu memandangnya.

"Kemana kita akan pergi?" pertanyaan Sasuke membuyarkan pikiranku.

"Diujung jalan ini, ada café bernama Shion's. pemilikinya bernama Shion tentunya. Ia adalah teman tanteku, walau berumur, tapi wajahnya benar-benar menyaingiku". Candaku pada Sasuke. Lagi lagi orang-orang yang lalu lalang mengamati Sasuke.

"Memangnya seberapa cantik wajahmu, hingga begitu bangga mengucapkan kalimat tadi?" pandangan Sasuke masih saja pada jalan. Ia sama sekali tidak melihatku jika kami berbicara. Orang-orang masih saja mengamati Sasuke, kulihat Sasuke dari atas sampai bawah, apakah ada yang salah padanya hingga menarik banyak sekali mata di sekitarnya.

"Ada apa?" Tanyanya melihat kelakuanku.

"Aku hanya penasaran, ada apa denganmu hingga orang-orang melihat sebegitunya".

"Abaikan saja mereka". Ucap Sasuke singkat.

"Setidaknya berikan sedikit senyuman pada mereka", Sasuke, aku merindukan senyumanmu, kenapa senyuman itu pergi meninggalkanmu?

"Tidak ada peraturan yang mengharuskanku untuk itu", jawabnya ketus, masih dengan wajah datarnya yang lurus menatap jalan. Jika aku lebih banyak bicara, ia mungkin akan marah, jadi Kamipun melanjutkan perjalanan yang hanya tersisa beberapa puluh meter dalam hening.

Akhirnya sampai. Café kecil yang ada di pertigaan jalan, strategis untuk sebuah café yang menjajakan kopi, makanan, dan beberapa kue. Gayanya juga modern, hampir semua tembok café ini dikeliling oleh kaca, pengunjung bisa menikmati pemandangan luar selagi menyesap kopi, tapi sekarang yang bisa dilihat hanyalah jalan macet yang tak ada hentinya. Di dalamnya banyak meja dan kursi cat putih berpasangan, pada sudut ruangan banyak terdapat sofa berwarna ungu. Di ujung café juga ada panggung untuk band-band kecil bermain live music ataupun memainkan classics disini. Pencahayaan café ini juga mendukung suasana tenang dan nyaman untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang.

TING TING…

Bel pintu berbunyi, menandakan pembeli masuk. Kami yang masuk. Sambutan hangat didapat dari waitress-nya, tak lain dan tidak bukan adalah sahabatku Ino. Senyuman di wajahnya mengembang lembut, berhamburan ke arahku dan kami berpelukan.

"Sakura, kenapa kau jarang berkunjung?". Ino melonggarkan pelukannya, tangannya masih terpasang di pinggangku.

"Maaf Ino, aku banyak pekerjaan minggu ini". Jawabku. Pekerjaanku memang menumpuk minggu ini, hingga tak sempat mengunjungi sahabatku di sini.

Tiba-tiba Ino menyikutku, "Hey Jidat, siapa yang datang bersamamu?". Sejak tadi Ino sudah melayangkan padangannya pada Sasuke, memang tidak biasanya aku mengajak laki-laki kemari selain Naruto.

"Oya sampai lupa, Ino ini Uchiha Sasuke, te-temanku". Astaga, kenapa aku ragu mengucapkan kata teman? Tapi apa benar kami ini teman? Apa dia menganggapku sebagai temannya?

"Senang bertemu denganmu, aku Uchiha Sasuke". Ucap Sasuke dengan wajah temboknya yang selalu datar. "Senang bertemu denganmu juga, aku Yamanaka Ino". Ino tidak bisa mengalihkan padangannya pada Sasuke. Lagi-lagi, apa dia juga ikut tersihir? Kenapa semua orang memperhatikannya?

"Ino?". Panggilku dengan suara sedang. Ia tidak menggubris, kulambai-lambaikan tanganku di depan wajahnya, tapi matanya tetap terkunci.

"Inoooo!". Teriakku tepat di telinganya. Jika tidak begini ia tidak akan sadar. Ino gelagaban, kaget memikirkan berapa lama ia melamun dan sedikit malu di depan Sasuke, ya di depan Sasuke, tidak mungkin ia malu di depanku, jika kentut saja ia tidak bilang. Ino memberi tatapan kesal karena menganggu imajinasinya yang entah sudah berapa kilometer jauhnya.

"Jidat! Kau mengangguku lagi!". Ia langsung melayangkan jitakan mautnya yang tidak sempat kuhidari.

BLETAK!

"Awwww, Ino! Sakitt! Lihatlah tempat dan waktunya, Pig. Ngomong-ngomong dimana Shion-san?". Tanyaku mengingat tujuan utamaku kemari tapi masih mengusap-usap dahiku yang kupikir sudah memerah seperti biasa.

"Shion-san? Dia dibelakang, sedang membuat beberapa bagel untuk pengunjung nomor tiga di sana". Ino menunjuk meja untuk dua orang yang ada di pinggir, dekat dengan kaca.

"Hmm… ya sudah, aku pesan croissant dan latte dingin, beri banyak gula. Kau Sasuke?". Aku menanyai orang yang dari tadi kuabaikan, kasihan juga kehadirannya dianggap tidak ada olehku beberapa menit lalu.

"Jus tomat, tidak perlu diberi gula". Nada datar keluar dari mulutnya. Ternyata Sasuke juga kehausan, memang perjalanan kami rasanya sedikit panas karena teriknya matahari.

"Baiklah, tunggu sebentar ya!". Ino melesat menuju etalase, dan mulai mengutak atik blendernya, sementara aku dan Sasuke duduk di meja yang juga dekat dengan kaca, pemandangannya? Trotoar yang dipenuhi dengan daun-daun momiji yang mulai mengering, beri tepuk tangan pada penyapu jalan yang tadi pagi bekerja, daunnya berjatuhan kembali.

"Jadi, Sasuke, bagaimana menurutmu?". Kumulai pembicaraannya.

"Lumayan, disini pegawainya cuma ada satu?" Ternyata Sasuke peka. Banyak laki-laki di dunia ini yang memiliki tingkat kepekaan minim, hal ini amat memprihatinkan. Contohnya author fict ini, dia menunggu tiga tahun untuk kepekaan orang yang disukai akan kehadirannya, tapi hasilnya? Nihil!

Eh, lupakan curcol ini, kembali ke ceritanya.

"Iya, sebenarnya ada satu lagi, tapi ia jarang berangkat". Memang, waitress satu ini membuatku jengkel sesekali. Tapi dengan adanya dia di café ini, kami bisa menangkap banyak sekali pelanggan setiap harinya. Rambut merahnya, tattoo di atas matanya, tatapannya, candaannya, bisa membuat banyak gadis pingsan. Memang perlu diketahui banyak kasus gadis pingsan di café ini, dan karenanya pernah suatu hari menyeret Shion-san ke Dinas Kesehatan atas tuduhan makanan yang mengadung bahan berbahaya. Kalau begini aku harus senang atau kesal dengan adanya seorang bernama Sabaku no Gaara? Walau kuakui ia memang teman yang sangat baik.

"Begitukah?". Dari ucapan Sasuke bisa terbaca jika dia tidak mau melanjutkan percakapan ini. Aku harus terbiasa dengan sikapnya ini. Tapi mana kehangatan Sasuke yang dulu kurasakan? Apa yang membuatnya berubah seperti ini?

Tak lama Shion-san keluar dari dapur pujaannya dengan bagel-bagel hangat di atas piring. Ia mengenakan baju chef berwarna putih, lengkap dengan apron berwarna ungu pucat dan topi baker.

"Eh Sakura, kapan kau datang?". Shion-san berkata sambi lalu mengantarkan pesanan ke meja tiga yang kukenal sebagai Sai. Laki-laki kurus berambut hitam. Kulitnya putih pucat, warna iris matanya senada dengan rambut, hampir setiap hari ia kemari, menghambiskan hampir lima jam hidupnya disini hanya untuk menggambar, tak tahu apa yang ia gambar tapi pandangannya selalu keluar kaca, mungkinkah trotoar yang digambarnya? Setiap kali ada orang yang lewat, ia selalu menutup gambarnya, diajar bicarapun ia hanya menjawab seperlunya, sikapnya sebelas duabelas dengan Sasuke.

"Aku perlu bicara denganmu Shion-san…".

"Bicara? Maksudmu empat mata?". Shion-san kini sudah berada di tepi meja yang kutempati, menebarkan pesonanya ke seluruh penjuru café.

"Yup!" jawabku. "Hmm… Tidak biasanyaa… kalau begitu, kita ke dapur saja". Shion-san langsung masuk ke dapur, seakan ia akan segera kehabisan nafas bila berlama-lama disini. Bayangkan saja disini adalah luar angkasa hampa udara dan dapurnya adalah bumi dengan pepohonan yang menghasilkan oksigen yang melimpah.

"Sasuke, aku akan bicara dengannya soal pekerjaan paruh waktu disini, jadi tunggu sebentar yaa". Aku beranjak dari kursiku.

"Kenapa tidak bicara disini saja? Kan yang bersangkut adalah aku, bagaimana dengan wawancaranya? Bukannya harus ada seleksi?". Sasuke menghujanku dengan pertanyaannya, ternyata ia juga 'gugup'. Harusnya aku mengucapkannya lantang agar seluruh dunia tahu. Aku cekikikan melihat ekspresi wajahnya.

"Akan kujelaskan nanti, sekarang duduklah disini dan nikmati makanannya".

"Hn, ya sudah kalau begitu". Aku benar-benar pergi meninggalkan Sasuke, menuju dapur yang merupakan surga dunia bagi seorang bernama Shion-san. Dapurnya memiliki dominasi warna putih, alat-alat masaknya terlihat komplit dan tata letaknya rapi, membuat orang yang melihatnya senang. Bahan-bahan segar berada di lemari penyimpanan, disusun sedemikian rupa agar mudah diambil atau ditemukan.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Sakura?". Shion-san duduk di kursi yang ada di dekat pemanggangan.

"Begini Shion-san, kau tahu orang yang ada di depanku tadi?".

"Ya aku melihatnya, orang berambut raven itu, pertama kali kau membawa laki-laki kemari selain Naruto, kenapa?". Ada lagi yang harus kalian ketahui, walau terlihat acuh tak acuh tapi mata indah milik Shion-san bekerja dengan sangat baik. Alias jelalatan.

"Ia ingin bekerja disini".

"Bekerja?".

"Iya, kumohon… Ia orang penting bagiku, kau tidak akan menyesal menerimanya, ia orang yang sangat menjaga kebersihan, mungkin hampir sama dengan orang OCD, dia juga pekerja keras dan berdedikasi tinggi, jadi terimalah dia Shion-san… Kumohonnn". Aku mengeluarkan jurus puppy eyesku, memang ini jurus paling jitu yang pernah kupunya.

"Tidak biasanya melihatmu memohon seperti ini, Sakura…"

"Tapi baiklah, dilihat dari wajahnya dia bisa menjadi pengganti Gaara untuk sementara". Shion-san tertawa, senang karena cafénya akan segera ramai oleh pelanggan gadis, lalu Ino akan berhenti menjadi pengantar makanan karena semua orang menolak makanan yang diantarnya kecuali Gaara yang melakukannya untuk mereka.

"Jangan samakan Sasuke dengan Gaara, Shion-san!" protesku padanya. Melipat kedua tanganku di dada tanda aku kesal padanya.

"Baiklah baiklah… Tapi siapa dia? Pacarmu?". Akhirnya Shion-san mengutarakan pertanyaan yang kutakuti dari tadi. Aneh juga jika ia tidak penasaran. "Dia tetanggaku, jadi aku membantunya". Bukan, dia bukan hanya tetanggaku, dia penyelamatku.

"Souka… Kalau begitu ambilkan seragam pegawai di lemari". Perintah Shion-san kepadaku. Yatta! Berarti dia benar-benar menerima Sasuke, setidaknya aku lega ia bekerja di sini, bukannya café-café aneh yang ada di pinggir kota, selain keadaannya yang tidak aman karena geng Akatsuki berkeliaran, pasar gelap banyak berkembang di sana. Apa aku perlu memberitahunya mengenai orang bernama Akatsuki Pein? Hanya sekedar berhati-hati saja. Ia ketua yang mengusai semua usaha gelap yang terjadi di kota ini, banyak orang hilang di tangannya. Sekali bertemu dengannya, estimasi bisa kembali dengan selamalatan hanya 10%. jika ingin melaporkan kejahatannya, yang menjadi masalah adalah pada bukti. Akatsuki melakukan perkerjaannya dengan bersih tanpa meninggalan bukti setitikpun, sulit untuk menyeret mereka ke penjara. Laporan terakhir dilakukan oleh keluarga Aburame, tapi beberapa hari kemudian kabar mereka tak terdengar lagi, entah itu pergi ke luar kota atau apapun, yang kutahu hanya keberadaan mereka tiba-tiba menghilang.

"Sakura! Ayo cepat keluar, jangan berlama-lama disana!". Shion-san memanggilku. Ia memang tidak suka jika orang berada di daerah kekuasaannya.

"Iyaa….". aku mengambil seragam untuk Sasuke dan pergi keluar. Dan aku bertanya-tanya, berapa lama aku hanyut dalam pikiranku sendiri? Sekarang kulihat Shion-san sudah mengobrol dengan Sasuke, apa saja yang kulewatkan? Aku mengampiri mereka berdua.

"Ini Shion-san, maaf membuatmu menunggu", aku menyerahkan seragamnya dan duduk disamping Shion-san.

"Tak apa, Sakura". Shion-san menerima seragam dariku dan merapikan sedikit lipatannya yang terbuka. "Nah, ini seragammu Sasuke, kerjamu dimulai besok, untuk hari ini kau bisa bersantai saja, Sakura akan mengajari beberapa hal padamu sebagai latihan dasar, semoga kau menikmati waktumu disini bersama kami". Shion-san memang orang yang baik, tapi perlu hati-hati jika dia marah.

"Terima kasih banyak Shion-san, saya akan bekerja keras!", ucapan Sasuke terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya, senang juga ia menerimanya dengan senang hati, aku takut Sasuke bekerja disini dengan berat hati, tentu itu amat membebani.

"Senang mendengarnya, kalau begitu aku masuk dulu". Shion-san pergi, kami memberi hormat sebentar, melihatnya berjalan menjauh, hilang di balik pintu.

"Kenapa dengannya? Ia tidak suka berada diluar?" pertanyaan Sasuke merujuk pada Shion-san, memang aneh jika dilihat, selalu ingin segera pergi.

"Anggap saja dapur itu adalah surga yang tidak bisa ditinggalkan olehnya, dan satu lagi, jangan coba-coba masuk ke dalamnya kecuali dia sendiri yang menyuruhmu, atau kau ingin dipecat di tempat. Dari penampilannya memang terlihat manis, tapi jika sudah marah, kau harus siap menghadapi monster Lochness yang akan menerkammu". Jelasku padanya. Memang terdengar mengerikan tapi itu fakta. Tidak perlu kujelaskan ada berapa banyak orang yang dipecatnya karena itu, dan yang bertahan hanyalah Ino dan Gaara karena ada sisi keuntungan sendiri, dan, kami ini sudah seperti keluarga. Aku senang Sasuke menjadi anggota baru kami.

"Hn". Jawab Sasuke singkat. 'Biasakan dirimu Sakura, biasakan dirimu' ucapku dalam hati, tapi adakah jawaban lain yang bisa ia katakana padaku? Aku ingin makan beberapa roti manis, jadi aku pergi menuju Ino yang sedang mengambil tart raspberi untuk pelanggan, saat Sasuke memanggilku,

"Sakura". Aku menoleh mendengar panggilannya, "Iya, apa?" tanyaku padanya.

"Terima kasih, atas segalanya". Ucapnya lirih, tapi aku masih bisa mendengar. Uchiha Sasuke berterima kasih padaku, senang mendengarnya. Sifatnya tidak terlalu buruk.

"Sama-sama, Sasuke!" aku memberikan senyuman lembutku padanya, kepada orang yang kusayangi, kau salah satunya Sasuke.

"Oya, untuk pelajaran pertamamu bagaimana kalau kau belajar menyeduh kopi?". Tanyaku padanya, aku hampir lupa amanat dari Shion-san untuk mengajarinya bekerja disini.

"Terserah kau". Kenapa ucapannya kembali menyebalkan? "Cepat beritahu tempatnya" Sasuke beranjak menuju ke arahku.

"Disana, ayo!" aku menarik tangannya. Berbeda dengan sikap dinginnya kepadaku, tangan Sasuke sangat hangat dan nyaman untuk digenggam. Aura kelembutan yang ia kirimkan membuat darahku berdesir hebat. Semoga sikapnya akan berubah seiring berjalannya waktu, kuharap aku bisa terus bersamanya.

Semoga.

"Sekarang, kau harus membuat pusaran menyeluruh pada kopi ini", aku sudah menyiapkan tempat penampung, lengkap dengan penyaring dan bubuk kopi pilihan yang diturunkan langsung oleh Shion-san dari kebun kopi.

"Hn". Sasuke mulai menuang air panas ke atas bubuk kopi, memang sedikit tergesa-gesa, tapi sebagai pemula ini awal yang cukup bagus.

"Pelan-pelan Sasuke, tidak boleh tergesa-gesa, atau kau akan mempengaruhi rasa kopinya". Jelasku padanya.

"Memangnya bisa?" tanyanya tapi masih fokus menuang air panas ke kopi.

"Tentu saja. Rasa kopi tergantung pada caramu memperlakukannya". Kuperhatikan kesungguhan pada seorang Uchiha Sasuke. Ia memang jenis orang yang tidak pernah melakukan hal setengah-setengah, tidak butuh waktu lama untuknya memperlajari hal baru.

Setelah selesai menyeduh kopi, aku membiarkan Sasuke mencoba kopi hasil seduhannya sendiri, agar ia bisa membedakan cita rasa kopi yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.

"Rasanya?", aku memberikan tatapan penuh Tanya melihat Sasuke tetap datar saat menyeruput sedikit kopinya.

"Sedikit berbeda dengan yang biasanya kuminum".

"Gotcha! Itulah yang ingin kuberitahukan padamu, rasa kopi memang tergantung pada kualitas bijinya, tapi kekuatan utama ada pada pembuatnya sendiri", jelasku padanya. Entah ia memperhatikan atau tidak, tapi mengucapkan kalimatku tadi, aku baru mendapat ilham baru untuk membuat resep baru, untuk pekerjaanku tentunya. Ini hari terakhirku bertemu dengan Sasuke sebelum masa kuliah dimulai, walau aku menyukainya tapi terkadang pekerjaan memang terasa membebani bagiku.

"Hn, apalagi yang harus kukerjakan?". Katanya sambal menaruh cangkir kopi yang masih tersisa 4/5 bagian.

"Hanya itu saja dariku, untuk pelayanan kuserahkan pada Ino. Aku harus pergi sekarang, tak apa kan bila kutinggal sementara?", aku mengambil tas beruangku yang ada di meja.

"Hn. Terserah kau".

"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya Sasuke!", sebelum pergi aku memeluknya, melingkarkan tanganku padanya, mengunci tubuhnya dalam dekapanku, Sasuke terlihat kaget, "Sa-sakura! Apa yang kau lakukan?", ucapanya dengan nada sedikit menekan. "Hehehe, tidak ada! Aku pergi, Sasuke!", aku pergi meninggalkan Sasuke yang masih dengan ekspresi kaget akibat tingkahku barusan. Aku tidak benar-benar pergi, menghampiri Ino terlebih dahulu, ia sedang mengelap meja nomor empat yang baju saja digunakan oleh tiga orang pelanggan.

"Ino", panggilku.

"Sakura, kau sudah mau pergi lagi?", Ino menghentikan sejenak kegiatannya.

"Iya, aku titip Sasuke ya", kutepuk-tepuk pundak Ino.

"Padahal kau baru saja kemari, apa mereka tidak memberimu hari libur?". Ino selalu jengkel dengan setiap kepergianku yang dibilangnya mendadak. Tapi mau gimana lagi, deadline seakan berlari mengejarku.

"3 hari memang tidak banyak, jika semakin lama aku mengambil libur, orang-orang akan segera meneriakiku". Aku melihat jam tangan berwarna merah mudaku yang menunjukan pukul 01.55 siang, kau akan langsung tahu itu adalah miliki karena mereka memberikan ukiran 'Haruno Sakura' di dalamnya, melintang diantara angka 9 dan 3.

"Memang aneh kau bisa mendapatkan segepok uang dari pekerjaan itu, ya sudah sana pergi atau Chouji akan kemari dan menghujaniku dengan kripik singkong bercampur air liurnya karena mencoba menceramahiku", Ino melipat kedua tangannya di dada, menepuk-nepuk lantai kayu dengan kaki kanannya.

"Bersabarlah dengannya, ia sangat mementingkan ketepatan waktu… baiklah, sampai jumpa di kampus 5 hari lagi Ino!", aku memeluk sahabatku ini, dan pergi meninggalkan café. Selamat tinggal Sasuke, untuk sekarang. Aku akan merindukanmu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tidak lama aku berdiri di pinggir jalan, sebuah mobil sedan menjemputku, di kursi belakang sudah ada Chouji yang membawa satu plastik besar penuh dengan snack dan minuman. Aku masuk, keadaannya amat sesak karena Chouji sudah menempat ¾ bagian kursi belakang. Perjalanan panjangku akan penuh kesengsaraan.

"Chouji, apa kau benar-benar membutuhkan semua makanan itu?", tanyaku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat, satu plastik besar snack penuh dengan MSG, perwarna, pemanis dan bahan sintesis lain. Kuyakin makanan itu memendam sejuta kalori yang akan menggemukan badan secara drastis. Tidak perlu ditanya lagi siapa yang memakannya.

"Ini perjalanan panjang, aku bisa mati kelaparan di tengah jalan", kata Chouji polos. Kuakui memang aku maniak makan, tapi jika dibandingkan dengan sahabatku satu ini tidak ada apa-apanya. Tapi ini salah satu alasan kenapa kami bisa sangat dekat.

"Tidak biasanya si pelayan café itu tidak menahanmu, dan mana kopermu?", Tanya Chouji sedikit tidak jelas karena ia terus menjejali mulutnya dengan makanan ringan penuh kalori.

"Ia tidak mau menjadi korban hujan keripik giling benyek dari mulutmu lagi, dan soal koper, aku meninggalkannya di rumah, berat", bukan. Bukan itu alasanku, bukannya terlalu percaya diri, tapi aku takut Sasuke akan bertanya macam-macam.

"Tujuan kita selanjutnya adalah apartemenku!", lanjutku bersemangat.

"Kau memang selalu merepotkan, Sakura!", Chouji memasukkan 5 potong keripik tipis ke dalam mulutnya, mengunyah sebentar lalu melanjutkan lagi kalimatnya, "Apartemen Jiraiya, Pak", ucap Chouji pada sopirnya.

Setelah kuperhatikan, Chouji sudah mendapatkan sopir barunya, tubuhnya terlihat kekar, kulitnya sedikit gelap, dan rambutnya berwarna putih panjang. Apa dia sudah bapak-bapak? Sebelumnya Chouji akan membayar orang yang masih muda seperti Aburame Shino sebagai sopirnya, tapi ini?

"Psstt, Chouji, siapa dia?", bisikku ke telinganya agar orang itu tidak memperhatikan.

"Dia adalah Killer Bee", Killer Bee? Nama yang aneh tapi cukup gaul untuk orang sepertinya, tatapan terlihat tajam dan garang, membuatku sedikit tidak nyaman. Yaa, aku memang terbiasa dengan orang yang bersahabat dan banyak bicara kecuali Sasuke dan pelanggan setia café Shion-san yaitu Sai.

"Setelah menghilangnya Aburame Shino yang diikuti keluarganya, aku tidak ingin ada korban lagi. Kupikir Shino terpaksa mengikuti perintah Pain karena ia diancam menggunakan ayah dan ibunya yang disandera dan sampai sekarang ia belum kembali. Pasti ia disekap di ruang bawah tanah milik Pain", jelas Chouji yang juga dengan suara lirih, Kamisama, kapan aku bsa menumpas Akatsuki? Perkumpulan perdagangan itu amat mengangguku.

"Lalu?", tanyaku karena Chouji baru setengah bercerita.

"Kudengar mereka sering membuat ulah akhir-akhir ini, selain sopir aku juga membutuhkan body guard, lalu aku menemukan dia. Setelah kutanya, ternyata ia tidak mempunyai keluarga, sebatang kara dan membutuhkan pekerjaan. Saat kutawarkan harga bayaran yang akan kuberi, sepertinya ia tergiur dan akhirnya ya begini. Hitung-hitung penghematan, aku bisa dapat sopir sekaligus body guard dalam satu orang", Chouji melanjutkan makannya.

Ya Chouji ada benarnya, setidaknya Pain tidak akan mengincar sopir kami lagi untuk mendapatkan informasi. Aku merasa bersalah pada Shino karena tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskan keluarganya. Melihat wajahnya yang penuh dengan keputusasaan, dijidatnya sudah tertulis tanda mati hari itu membuatku hatiku tersayat, seharusnya aku tidak melibatkannya.

"Hm, ya setidaknya kau menggunakan otakmu kali ini, jadi kita akan kemana minggu ini?" Tanyaku mengingat aku harus memikirkan hal lainnya, pekerjaanku. Ya, Chouji juga adalah patner kerjaku.

"Hokkaido. Aku mendapati sesuatu menarik disana", jawab Chouji singkat karena MASIH saja disibukan dengan makanannya.

"Ya terserah kau, yang penting kita akan pulang dalam 5 hari"

"Kenapa? Takut merindukan seseorang?", pertanyaan Chouji spontan membuatku kaget.

Hening. Pertanyaan Chouji tidak mendapatkan jawaban dariku, dan kulihat dia sudah sibuk sendiri, tidak peduli dan sepertinya sudah melupakan pertanyaan yang dilontarkannya.

"Hn, seseorang…" ucapku lirih sambil menatap keluar jendela kaca mobil, memperhatikan setiap sudut jalan, merasakan semilir angin yang lewat, dan berharap hari akan berlalu cepat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Haiii! I am comeback! Maaf karena updatenya lama begetee, sibuk sama wasana warsa ditambah pendaftaran yang butuh legalisir dokumen sana sini. Akhirnya bisa kelar semua dan bisa ngelanjutin nulis fict, yeeeee…. Di chapter ini mungkin terlalu banyak pengenalan tokoh ya? Karena udah gak sabar masuk ke konfliknya walaupu masih lama, pelan-pelan :v moga bisa jadi panjang #ngarep, ada yang tahu scene di Tokyo Ghoul waktu Kaneki Ken diajari nyeduh kopi? That's inspired me smuch… main caracternya disini jadi Sakura. Tapi chapter depan balik lagi ke Sasuke, hope you like it, and leave some review(s) please.

Ans reviews~

Aqilah no Cheery : Bentar lagi kuliahnya. Kayaknya kata-kata sulit udah dijelasin perlahan, tapi makasih yaa sarannya :* dan makasih juga buat supportnya *hughug*

Ika Luthfiyyah Nurmawati : gak jadi homeschool nih, aku udah masuk ke SMAN 1 Salatiga jurusan bahasa, semangat buat seleksimu, semoga beruntung ya Ika! Kamu mau ngirim cerita? Keren! Aku belum berani buat ikut kayak begituan :v nilai UNku not much but enough, 35,6. Berapa punyamu? Oya, aku on Fb kok namanya Devi Namira Amalia, add friend yaaa, bye :*

Younghee Lee : Konfliknya? Hohoho mungkin bentar lagi tahu.

Renzki : Update!

FianaHyuuga : Haduh, padahal kayaknya udah aku jelasin pelan-pelan… update ya!


Udah kan? Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Devi Na Akeyama

14 Juni 2016