CRUDELIS AMOR

I'm heartless. But I love you.

BONUS CHAPTER PART 1

Starring : Siwon SJ | Kyuhyun SJ | Suho EXO | Minho SHINee | Written by: wonkyumafias


Choi Minho terpental ke dinding untuk kesekian kali. Choi Suho masih berdiri tegak di tempatnya, kedua tangan menggenggam pistol dengan mantap.

Ia ingin, ingin sekali melempar pistol itu dan berlari ke arah adiknya. Ia ingin menanyakan bagaimana keadaan Minho—apakah ia terluka, apakah ia lelah, apakah ia ingin menyudahi saja latihan ini.

Tapi sang ayah yang mengamatinya dari pojok ruangan menghalanginya melakukan itu.

Choi Siwon tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri. Dengan kedua tangan dilipat di depan dada dan wajah tegas, ia menyuruh Minho untuk bangkit.

"Choi Minho, bangun."

Suho memberanikan diri melirik pada ayahnya. Pistol yang dingin itu masih di tangannya, dan boneka-boneka sasaran yang berderet beberapa meter di depannya seakan mengawasinya.

"Minho, kuatlah, jangan menangis…," batin Suho. Anak lelaki berumur delapan tahun itu berharap sekuat mungkin.

"Choi Minho!" Siwon kembali memanggil, "kembali ke tempatmu! Latihan belum selesai!"

Minho bangkit perlahan dan bahunya berguncang. Suho merasakannya, adiknya pasti sedang menangis.

"Tangan Minho sakit," isak Minho, air mata mengaliri pipinya, "Appa, tangan Minho—"

Minho bungkam ketika Siwon berjalan menghampiri dirinya dengan wajah gusar. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia sangat takut. Siwon menarik tangannya, menyeretnya kembali ke posisi semula untuk latihan menembak.

"Perhatikan baik-baik sasaranmu dan jangan kehilangan keseimbangan, mengerti, Minho?"

Minho tidak berani menatap ayahnya. Ia hanya mengangguk, mengusap air matanya dengan lengan baju, dan kembali menggenggam pistol.

Latihan menembak tinggal sepuluh menit lagi. Ia berharap neraka ini akan cepat berakhir.

"Choi Junmyeon, kau juga. Kau sudah mulai seimbang tetapi akurasimu sangat kurang," tegur Siwon, berjalan kembali ke pojok ruangan. Suho hanya mengangguk. Sama seperti Minho, ia berharap ini semua cepat berakhir—untuk hari ini.

Karena mereka harus berlatih setiap hari: menembak dan bela diri. Di samping itu mereka juga harus bersekolah dan tidak diperbolehkan menceritakan terlalu banyak identitas mereka sebagai calon mafia.

-CrudelisAmor-

Akhirnya Suho bisa memeluk adiknya di kamar mereka yang luas itu. Hal yang sedari tadi ingin ia lakukan.

"Sudah, jangan menangis terus, Minho. Latihannya kan sudah selesai," ucap Suho, mengusap-usap punggung adiknya yang gemetar.

"Appa jahat," Minho berkata, serak. "Appa jahat pada kita Hyung. Appa nggak pernah tersenyum, nggak pernah memuji, nggak pernah baik pada kita. Appa nggak sayang sama kita!"

Tangis Minho semakin menjadi. "Kenapa kita harus melakukan semua ini Hyung? Minho ingin main seperti anak-anak lainnya."

Siwon sangat dingin, Minho benar. Suho sudah merasakan semua penderitaan ini lebih awal sebelum Minho. Sekarang ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

"Appa sayang kita Minho, makanya ia melakukan ini," akhirnya kalimat itulah yang terlontar dari mulut Suho.

Suho menghela napas, mencari cara untuk menghentikan tangis adiknya. Akhirnya ia mendapat ide.

"Ssst, Minho," Suho memanggil, mengangkat wajah adiknya dan menyeka air matanya. "Appa sepertinya masih berada di ruang latihan, itu berarti—"

"Umma!" wajah Minho berubah cerah lalu mengangguk mengerti. Ia segera berdiri dan menggandeng kakaknya. "Ayo!"

Mereka keluar dari kamar, menuruni tangga besar dan lebar menuju ke lantai dasar. Kedua anak itu tiba di depan sebuah kamar berpintu megah. Suho membuka sedikit dan mengintip.

"Junmyeon, Minho?" sebuah suara yang menenangkan hati memanggil dari dalam kamar, "Appa kalian masih di ruang latihan, ayo masuklah!"

Dua bersaudara itu masuk ke kamar dengan tawa kecil, menemui ibu mereka yang duduk di atas tempat tidur dengan selimut menutupi kakinya. Siwon tidak melarang mereka untuk menemui ibunya, tetapi jika ada Siwon di dalam sini, mereka bertiga memang tidak leluasa berbicara.

Choi Kyuhyun memeluk kedua putranya yang meloncat naik ke tempat tidur, mengecup pipi mereka satu-persatu.

"Belajar apa anak-anak Umma hari ini?" tanyanya lembut.

"Kami latihan menembak," jawab Suho tanpa tersenyum. "Bagaimana keadaan Umma? Sehat kan?"

Kyuhyun tersenyum, menangkap guratan sedih di wajah putra sulungnya. "Umma sangat sehat. Apalagi kalau bisa bersama kalian seperti ini," jawabnya menenangkan. Ia lalu memperhatikan Minho. Lengan dan kakinya memar. Hati Kyuhyun langsung terasa ngilu.

Pria dengan cardigan rajut abu-abu itu lalu mengelus memar Minho dengan tangannya yang pucat. Ia juga memandangi Suho yang tampak menyembunyikan rasa lelah dengan senyumnya. Kyuhyun yakin Suho juga pasti memar-memar seperti adiknya.

"Sakit ya, Minho?" tanya Kyuhyun, matanya tidak menatap Minho. Minho kembali bersandar pada ibunya dan menggeleng. "Nggak sakit kok kalau udah dipegang Umma."

Kyuhyun tersenyum kecil. Kalimat merayu seperti itu… dia memang anak Siwon.

"Tadi Minho menangis, terus Appa marah," Minho bercerita. Tatapan kakaknya menguatkan. Ia batal menangis di depan Kyuhyun.

"Oh ya? Ya ampun, maafkan Appa ya Minho," Kyuhyun mencium kening Minho. Minho hanya menunduk menatap selimut putih di pangkuan ibunya.

"Umma, memangnya Appa nggak sayang sama Minho dan Junmyeon-hyung ya?" tanya Minho spontan.

"Sssh! Minho!" Suho sontak menegur. Minho terkesiap, menyesali perkataannya.

"M-maaf Umma," ucap Suho. "Minho nggak bermaksud bertanya seperti itu."

Kyuhyun terhenyak. Aku harus menjawab apa?

Tentu Siwon sangat menyayangi kedua anaknya, maka itulah ia melatih mereka dengan keras seperti ini. Hanya mereka berdua yang akan meneruskan bisnis besar keluarga Choi—bisnis di kalangan mafia. Jika mereka tidak dilatih sejak kecil, maka mengemban tugas semacam itu akan sangat sulit.

Kyuhyun tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya, ketika ia memberanikan diri untuk jujur pada hatinya bahwa ia telah jatuh cinta pada Siwon. Siwon yang begitu memikat sekaligus berbahaya. Tapi sekarang ia sudah ada di masa ini, dengan dua orang anak, yang harus menerima takdir dari ayah mereka. Sementara itu dia tidak bisa berbuat apa-apa karena setelah melahirkan Minho, Kyuhyun menderita sebuah penyakit syaraf yang membuatnya lemah. Ia tidak dapat bergerak dan beraktivitas dengan bebas karena ia menjadi mudah lelah. Sampai sekarang penyakit Kyuhyun belum ada obatnya.

"Junmyeon, Minho," Kyuhyun akhirnya bicara, "Appa sangat menyayangi kalian lebih dari apapun. Karena itulah Appa melakukan ini semua. Appa ingin kalian menjadi laki-laki yang kuat. Dengan begitu jika kalian sudah besar, kalian bisa melindungi Umma, bahkan Appa."

Suho masih merasa bingung. "Tapi Appa nggak terlihat sayang pada kami…."

"Terkadang sesuatu yang nyata itu bukanlah sesuatu yang bisa dilihat, Junmyeonnie," Kyuhyun mengelus kepala putra sulungnya, menatap wajahnya yang mirip dengan Siwon sewaktu kecil. "Perasaan bukan sesuatu yang bisa dilihat secara jelas. Appa menyayangi kalian dengan melatih kalian—sikapnya memang dingin, tapi sebenarnya di dalam hati, Appa mencintai kalian."

Minho terlihat ragu. Kyuhyun mencubit pipinya pelan.

"Minho nggak percaya sama Umma?"

Minho mengangguk. "Minho percaya!"

"Aku juga percaya!" sahut Suho. Kyuhyun merasa lega. Untunglah mereka mau mengerti.

"Sekarang kembalilah ke kamar dan istirahat ya!" Kyuhyun memeluk Suho dan Minho kuat-kuat. "Besok kalian harus berlatih lagi dengan baik, oke?"

Suho dan Minho mengangguk. Mereka mengecup pipi ibu mereka sebelum turun dari tempat tidur besar itu dan berjalan ke kamar dengan wajah riang.

-CrudelisAmor-

Hari ini dua bersaudara itu berniat untuk lebih sungguh-sungguh. Lima boneka sasaran tembak sudah terpasang di hadapan mereka. Siwon merasa kagum melihat semangat kedua anaknya. Kedua mata mereka memancarkan semangat dan tekad yang lebih kuat daripada sebelumnya. Menahan senyum, ia memberikan aba-aba.

"Tembak!"

Suho terus mencoba berkonsentrasi dan menembak pada lingkaran merah yang berada di tengah. Ia masih gagal. Tetapi ia terus mencoba. Sesekali ia hampir terjungkal ke belakang karena daya pistol yang ia genggam lebih besar dari dirinya. Tapi Suho tidak menyerah.

Sama halnya dengan Minho. Ia masih terjatuh dan terpental, tetapi ia segera bangun lagi, mengumpulkan tenaga, dan melanjutkan menembak. Tidak sedikit pun ada ucapan protes atau ungkapan kesakitan dan kelelahan. Tidak setetes pun air mata menetes di pipinya. Minho ingat perkataan Umma—ia dan Suho-hyung harus menjadi kuat untuk keluarga mereka.

"Sedikit lagi!" Siwon tanpa sadar melontarkan pujian terselubung. "Akurasimu, Junmyeon. Perkirakan, pikirkan dengan serinci mungkin ke mana kau akan menembak, jangan asal! Minho, kau juga! Berpijaklah lebih kuat! Sedikit lagi!"

Sedikit lagi kalian bisa, pekik Siwon dalam hati, ingin menyoraki kedua anaknya agar mereka lebih semangat.

Latihan diakhiri dengan rasa puas di hati Suho dan Minho. Suho berhasil menembak ke sasaran yang benar untuk pertama kalinya dan Minho juga, untuk pertama kali ia berhasil menembak tanpa terpental ke belakang. Setelah membungkuk dan mengucapkan terima kasih pada Siwon, mereka berdua keluar dari ruang latihan dan tersenyum lebar.

Kedua anak itu tidak tahu bahwa sang ayah yang berada di belakang mereka juga sedang tersenyum bangga.

-CrudelisAmor-

Suho dan Minho baru selesai makan malam dan naik ke lantai dua, ke kamar mereka. Siwon tadi menyelesaikan makan terlebih dahulu, meninggalkan mereka makan hanya bersama ibunya.

Acara makan malam ini tidak semuram biasanya. Suho dan Minho lebih santai mengobrol dengan Kyuhyun setelah sebelumnya terlalu takut karena keberadaan Siwon. Sementara itu Siwon masih tidak banyak bicara, hanya menanggapi saja kalau ditanya oleh Kyuhyun.

"Aku jadi berpikir apakah Appa itu sebenarnya pemalu, Minho," kata Suho sambil membuka pintu kamar mereka, "soalnya kata Umma dia sayang pada kita tapi dia tidak mengungkapkannya secara terang-terangan."

Minho tertawa kecil mendengar perkiraan kakaknya. Kemudian ia melihat sesuatu ditaruh di meja kecil dekat tempat tidur mereka.

"Hyung, lihat!" Minho mengambil plastik berisi beberapa lembar kain berwarna putih. "Apa ini?"

Suho mengambil plastik itu dan membaca tulisannya. "Ini benda dingin yang biasa ditempelkan kalau kita memar atau otot kita terasa sakit. Kalau ditempel rasanya dingin terus sakitnya hilang," jelas Suho.

"Hyung kita bisa memakai ini untuk memar-memar kita!" sahut Minho riang. Suho tersenyum lebar. "Benar! Bisa cepat sembuh!"

"Siapa yang menaruhnya di sini ya, Hyung?" Minho duduk di ujung tempat tidurnya, matanya menerawang ke atas, mengira-ngira.

Suho melihat lagi ke meja dan menemukan sekotak cokelat dengan tulisan Good Work.

Suho sontak memeluk adiknya hingga Minho terjungkal ke belakang, ke tempat tidur.

"Minho!" serunya penuh haru, "plester dingin ini dari—"

-CrudelisAmor-

"Appa?"

Siwon menarik Kyuhyun untuk berbaring lebih dekat ke sisinya sambil menahan senyum.

"Siwon-appa," panggil Kyuhyun lagi, "bayangkan, mereka pasti sekarang sedang sangat senang karena menerima plester itu."

"Dan cokelat," tambah Siwon, "aku juga memberi mereka cokelat."

Kyuhyun tertawa kecil. Ia melingkarkan tangannya di leher Siwon. "Terima kasih sudah mau memberi reward buat anak-anak," ucap Kyuhyun lembut. Siwon tersenyum dan mengecup kening istrinya.

"Mereka akan jadi anak-anak yang kuat dan hebat," ujar Siwon kemudian, "dengan begitu mereka bisa selalu menjagamu."

"Ah, aku masih bisa kok menjaga diriku sendiri," protes Kyuhyun, tidak suka dianggap lemah. Ia kemudian memejamkan matanya yang sudah mengantuk, lalu tidur dalam pelukan suaminya.

[End.]


Hi guys! How are you? Nice to see you again~

Thank you for waiting! We hope you like this bonus chapter ^o^

Kami sedang menulis part 2 (sudah ditulis entah sejak kapan) karena part 2 panjang dan sedikit rumit, jadi butuh waktu agak lama untuk menggarapnya ^^

Don't forget to review and thank you again! See you soon :D


COMING SOON IN PART 2

[Kyuhyun melihat ke bawah, ada air... Bukan itu lebih pekat. Kyuhyun mengangkat kaki kecilnya. Cahaya bulan yang samar mengenai itu.

Merah. Pekat.

Darah.]

["Hai, Kyuhyun! Perkenalkan namaku Kim Heechul! Aku datang kesini ingin menawarimu sesuatu Kyuhyun. Semacam perjanjian," jelasnya."]

["Kyuhyun menatap sekitar sampai ia menatap sepasang mata tajam milik seseorang.

Choi Siwon.

Dengan sangat lihai Kyuhyun tidak memedulikan tatapan tajam itu dan ia membalas dengan senyum.]