Disclaimer: semua karakternya milik paman ku, Masashi Kishimoto. Aye! =w=d
(ditendang masashi-sensei)
Summary: Hinata merasa tidak di akui oleh sepupunya Neji, karena itu lah ia selalu berjuang agar pengakuan itu keluar dari bibir tipis Neji. (benar2 ga bisa bikin summary -.-)
Warning: OOC, typo, gaje dan sebangsanya.
Cerita sebelumnya:
"L-liburan?" tanya ku ragu.
"Ya, besok pergilah liburan, akan ku persiapkan semuanya!" jawab Otou-san tegas, lalu pergi kembali ke ruangannya.
Liburan bersama? Bagaimana mungkin, Neji-nii'san pasti akan langsung menolaknya..., dengan pikiran kacau aku kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuh dan fikiranku, semoga besok menjadi awal kebahagiaan yang selama ini ku harapkan.
Chapter 3
.
.
.
.
Normal P.O.V
Pagi yang cerah telah menanti, di kediaman Hyuuga terlihat Hinata yang sedang menatap keluar dari jendela kamarnya, gadis itu terlihat baru bangun dari tidurnya. Rambut indigo panjangnya masih berantakan namun tidak mengurangi paras cantiknya.
"Hinata-sama," panggil seorang pelayan dari luar kamar.
"Ya," sahut Hinata seraya berjalan menuju pintu kamar.
Setelah Hinata membukakan pintu, terlihat seorang pelayan yang langsung menunduk hormat.
"Barang-barang anda sudah dipersiapkan dan Neji-sama telah menunggu anda di ruang makan." Jelas pelayan itu dengan sopan.
Hinata sedikit bingung, namun kemudian ia ingat dengan perintah otou-sannya semalam.
"Neji-nii'san setuju?" tanya Hinata ragu.
"Tentu saja Hinata-sama." Jawab pelayan itu kemudian pamit dari hadapan Hinata.
Hinata segera kembali ke kamarnya, dia harus cepat agar Neji tidak menunggunya terlalu lama. Lima belas menit berlalu, Hinata pun siap dengan pakaian yang rapi dan bergegas ke ruang makan.
setiba di sana, terlihat Neji yang sedang duduk bersama Hiashi. Dengan perlahan Hinata menuju ke arah mereka.
"Ohayou gozaimasu," sapa hinata sopan.
"Ohayou," jawab hiashi dan neji bersamaan.
"Sudah siap Hinata?" tanya hiashi.
"hai!" Hinata mengangguk.
"Ayo pergi!" ajak Neji seraya berdiri.
"K-kita pergi kemana?" tanya Hinata.
"Ke villa Hyuuga yang di pegunungan, Hinata" jawab Hiashi.
Dengan segera mereka menaiki mobil yang telah disediakan. Hinata terlihat sangat gugup, ini pertama kalinya ia pergi berdua saja bersama Neji. Sementara Neji tampak biasa saja, wajah tanpa ekspresi.
"Ku kira, Nii'san tidak mau pergi," kata Hinata memecah keheningan di mobil itu.
"Ini perintah dari Hiashi-jii'sama." Jawab Neji singkat.
Hinata hanya ber-oh ria dan kemudian menghela nafas, ia menatap ke arah jendela, hari itu sangat cerah, langit terlihat sangat indah.
... 0000000000000000000 ...
"Hinata-sama?" panggil Neji seraya menepuk-nepuk bahu Hinata yang kini tengah tertidur lelap, "Hinata-sama!"
Hinata sedikit menggeliat, perlahan-lahan ia membuka matanya, terlihat iris putih yang menyiratkan kelelahan, bagaimana tidak, mereka telah seharian di perjalanan.
"Kita sudah sampai." Jelas Neji, lalu keluar lebih dulu dari mobil.
Dengan segera sang sopir turun dan membukakan pintu untuk Hinata. Kini mereka telah berada di villa milik keluarga Hyuuga, villa itu bergaya eropa dengan sebuah taman mawar di kiri kanan jalan setapak menuju pintu masuk. Hinata melangkahkan kakinya perlahan, ini pertama kalinya ia kesini, maklumlah, villa tersebut sangat jarang di huni oleh keluarga Hyuuga karena berada di pinggiran Konoha.
Di depan pintu telah menanti dua orang yang sepertinya adalah penjaga villa tersebut. Mereka tersenyum ramah menyambut hinata dan Neji, membungkuk hormat kemudian membukakan pintu. Hal pertama yang Hinata dan Neji rasakan bahwa, walaupun jarang di hunyi namun terlihat sangat terawat.
"Selamat datang, Hinata-sama, Neji-sama," sapa Karen, salah seorang penjaga, ia seorang wanita separuh baya dan terlihat sangat ramah.
Hinata balas tersenyum, sementara Neji hanya diam. Kemudian penjaga wanita itu membawakan tas Hinata menuju kamar yang akan di tempati Hinata selama berada di villa tersebut. Sementara Neji di antarkan oleh Hayate, penjaga pria, sepertinya kedua penjaga itu adalah sepasang suami istri.
Kamar Hinata dan Neji saling berhadapan dan hal tersebut membuat Hinata memerah karena malu. Hinata segera memasuki kamarnya dan memandang sekeliling, dilihatnya langit dari jendela kamar, matahari mulai tenggelam, Hinata yang telah lelah segera menuju kamar mandi dan berendam air hangat.
Neji P.O.V
Akhirnya sampai juga, seharian di mobil membuat otot-ototku kaku. Ku lihat Hinata yang segera masuk ke kamarnya dan entah aku salah lihat atau apa, tapi wajahnya memerah. Gadis aneh, apa dia malu karena kamar kami berhadapan?
Ku rebahkan tubuhku ke ranjang king zise, kamar yang nyaman menurutku, ku pandangi langit-langit kamar, hari yang melelahkan. Ku pejamkan mata dan mulai mengistirahatkan tubuh dan fikiranku.
"Kya...!" terdengar suara teriakan dari kamar Hinata.
Segera ku buka mataku kemudian berlari ke kamar Hinata. Ku buka pintu kamarnya yang ternyata tidak di kunci. Ku sapu pandangan keseluruh ruangan tapi tidak ada tanda-tanda Hinata, namun kemudian aku mendengar suara isak dari arah kamar mandi.
"Hinata-sama?" panggilku, seraya mengetuk pintu kamar mandi.
"N-neji-nii'san...hiks hiks," sahut Hinata dari dalam kamar mandi.
"Anda kenapa, Hinata-sama?" tanya ku lagi.
Hinata tidak menyahut, dengan segera ku buka pintu kamar mandi namun terkunci. Ku gedor-gedor pintu namun tidak ada respon. Karena tidak tau lagi harus berbuat apa-apa, ku aktifkan byakuganku dan melihat menembus kamar mandi, kulihat Hinata tergeletak di lantai dan tidak bergerak.
Segera ku dobrak pintu tersebut dan terlihat Hinata yang terbaring di lantai dengan kening yang berdarah, sepertinya ia terjatuh. Ku tutupi tubuh polosnya dengan handuk kemudian menggendongnya ke ranjang.
Ku ambil kotak P3K dan mengobati lukanya. Setelah selesai, ku tutupi tubuhnya dengan selimut dan beranjak kembali ke kamarku. Sial, dari tadi wajahku memerah gara-gara melihat Hinata tanpa busana tadi. Tapi yang pasti ternyata aku masih normalkan?
Aku tersenyum mengejek diriku sendiri. Setelah menutup kamar Hinata, aku pun kembali merebahkan tubuhku di kamar.
^^^^^^ \\^O^/ ^^^^^^
Normal P.O.V
pagi pertama di villa tersebut, Hinata terbangun kemudian memegangi kepalanya yang sakit. Tanpa sengaja ia menyentuh keningnya yang telah di balut perban. Seketika itu juga Hinata teringat pada kejadian yang semalam.
"Neji-nii'san...," lirih Hinata.
Kemudian ia melirik ke arah tubuhnya yang berbalut selimut dan parahnya dia tidak memakai apa pun di baliknya. Wajah Hinata merah padam, semalam pasti Neji yang menolongnya karena ia masih ingat bahwa Neji yang memanggilnya semalam dari luar kamar mandi.
"ukh... bagaimana ini?" gumam Hinata cemas.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan dari luar kamar, Hinata terlonjak kaget.
"Hinata-sama, sarapannya sudah disiapkan," kata seorang pelayan dari luar.
"I-iya!" sahut Hinata gugup.
Ia segera bergegas ke kamar mandi dengan wajah yang masih memerah. Setelah beres-beres, ia segera ke ruang makan, ketika memandang kamar Neji, wajahnya kembali memerah, dengan segera ia berlari menjauh.
Degh! Ternyata Neji telah berada di sana lebih dulu, Hinata semakin memerah dan duduk di samping neji yang telah di sediakan.
"Bagaimana lukamu?" tanya Neji di sela makannya.
"Eh, itu, ano..., b-baik-baik saja Nii'san." Jawab hinata gugp.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya neji lagi.
"A-aku terpeleset dan kepalaku terbentur, rasanya sangat sakit, aku pun berteriak dan menangis, lalu tau-tau aku sudah bangun di tempat tidur, apa N-neji-nii'san yang menolongku?" jelas Hinata, kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Hn," respon Neji seperti biasa.
Sarapan di pagi itu berakhir dengan damai, setelah selesai Hinata dan Neji pergi keluar, bejalan-jalan di tengah perkebunan, itulah tujuan mereka hari ini. Sepanjang perjalanan Neji hanya diam dan sibuk dengan fikirannya sendiri. Sementara Hinata terlihat bahagia, menatap pemandangan yang hijau dan sejuk.
"neji-nii'san, kita naik kuda yuk?" ajak Hinata seraya menunjuk ke arah kandang kuda.
"Hn," respon neji.
Mereka segera menuju kandang tersebut dan di sambut ramah oleh perawat kudanya, Hinata memilih kuda yang bewarna putih dan meminta mengendarainya. Awalnya semua baik-baik saja, Hinata yang menaiki kuda putih berjalan di belakang Neji yang menaiki kuda bewarna hitam.
Tiba-tiba saja kuda Hinata mengamuk melihat ular yang melintas di depannya, Hinata yang tidak menduga sebelumnya terjatuh dari kuda tersebut, neji dengan sigap melompat dan menahan tubuh Hinata dengan tubuhnya.
Hinata yang cemasnya bukan main, menutup matanya dengan tubuh yang menggigil ketakutan. Tubuh Neji terhempas ke tanah dengan begitu keras, tapi ia baik-baik saja. Beberapa pelayan berlari menghampiri dan membantu Neji berdiri dengan Hinata yang masih berada didekapannya.
Hinata terisak dan menggigil, ia memeluk neji begitu erat dengan mata yang masih tertutup. Neji hanya diam dan membiarkannya.
"Sudah tidak apa-apa, Hinata-sama, sebaiknya kita segera kembali." Kata Neji menenangkan Hinata.
Perlahan-lahan Hinata membuka matanya dan melonggarkan pelukannya. Matanya menatap ke mata Neji, seketika itu juga wajahnya memerah.
"Anda tidak apa-apa kan, Hinata-sama?" tanya seorang pelayan yang terlihat sangat khawatir.
"Y-ya," gumam Hinata dengan bibir bergetar.
"Sebaiknya kita kembali!" ajak Neji.
Neji membimbing Hinata untuk kembali ke villa. Hinata yang masih shok memegang tangan Neji begitu erat, bibirnya bergetar dan pucat.
Setelah sampai, Neji mengantar Hinata ke kamar dan seorang pelayan datang memberikan minuman.
"Ck, sudahlah, lagi pula kamu baik-baik saja kan?" kata Neji dengan nada ketidak sukaan.
Hinata tersentak mendengarnya, ia mulai menangis dalam diam.
"M-maaf...," lirihnya.
"..." Neji hanya diam.
"Hiks hiks hiks m-maaf..., aku hanya terlalu kaget." bela Hinata.
"Sudahlah, sampai kapan akan menangis seperti itu?" sergah Neji bosan.
"M-maaf..." sahut Hinata lagi.
Neji melihat Hinata berusaha menahan tangis menjadi sedikit luluh, ia menghela nafas, kemudian duduk di sudut ranjang, tepat di samping Hinata.
"Apa ada yang sakit?" tanya Neji setelah melihat Hinata lebih tenang.
"Tidak ada," gumam Hinata, kemudian melihat ke arah neji, "nii-san bagaimana?"
Neji yang mendengar nada khawatir dari Hinata hanya menghembuskan nafas pelan.
"Hn," respon Neji seadanya.
"T-tadi nii-san terhempas sangat keras kan?"
"Hn!" respon Neji lagi, tiba-tiba saja dia merasa nyeri di bagian bahu, "ya sudah, istirahatlah!"
Neji mulai beranjak dari kamar Hinata dan kembali ke kamarnya.
Hinata masih saja duduk tanpa bergeming, kepalanya tertunduk dan tangannya mengepal erat. Ia terlihat sangat kesal.
"Aku, aku selalu saja, selalu," lirih Hinata, "selalu menyusahkan orang-orang di sekitarku. Naruto-kun, aku tidak bisa kuat sepertimu, aku, a-aku
tidak bisa menjadi pelindung bagi orang-orang yang ku sayangi."
"Ohayou gozaimasu, Hinata-sama!" sapa seorang pelayan ketika Hinata berjalan menuju ruang makan dan di balas senyuman manis oleh Hinata.
Terlihat di sana, Neji telah duduk seraya menyesap teh hangatnya. Dengan gugup, Hinata ikut duduk di hadapan Neji.
"O-ohayo, nii-san!" sapa Hinata untuk mencairkan suasana.
"Ha, ohayou!" jawab Neji tanpa menoleh ke arah Hinata.
"Hinata-sama, Neji-sama, apa kalian mau berkemah?" tanya Karen, penjaga wanita di villa itu.
"B-berkemah?" tanya Hinata ragu.
"Huum, " angguk Karen dengan senyuman ramah, "sayang sekali datang ke sini tanpa berkemah."
"Kenapa begitu?" tanya Hinata bingung.
"Tempat ini adalah tempat yang di tuju orang-orang untuk berkemah, karena tempatnya sangat bagus untuk itu!" jelas Karen tanpa melepas senyumnya.
"Hm, begitu ya!" gumam Hinata paham kemudian melirik ke arah Neji.
"Tidak perlu." tegas Neji dan terus menyantap sandwich nya.
"T-tapi, aku mau...," sergah Hinata, "selama ini kita berkemah hanya untuk istirahat ketika menjalankan misi dan tentunya tidak terlalu merasakan kesenangan saat berkemah,"
Neji menghela nafas pelan, "Yah, yah, baiklah!"
Hinata terlihat bahagia, dengan semangat ia mempersiapkan keperluan berkemah bersama Karen.
HINATA POVAkhirnya, aku bisa pergi berkemah. Akan ada api unggun, tenda dan semuanya pasti menyenangkan.
Tumben nii-san mau menurutiku, ku kira ia akan menentangnya mati-matian. Apa nii-san sudah tidak membenci ku lagi ya? Semoga saja.
Setelah mempersiapkan perlengkapan, kami pun berangkat, aku, nii-san dan karen beserta suaminya, Hayate.
Ternyata jaraknya tidak begitu jauh dengan villa dan benar kata Karen-san, rugi jika tidak datang ke tempat ini.
Pemandangannya sangat indah dan udaranya sejuk. Perasaanku menjadi tenang berada disini.
Setelah istirahat sebentar aku membantu untuk mendirikan tenda dan hanya ada dua tenda?
"Dua tenda?" tanyaku pada Karen.
"Ya, Hinata-sama!" jawab Karen sopan.
"Lalu kalian tidur dimana?" tanyaku ragu.
"Kami akan kembali ke villa." jawab Hayate.
"Bersenang-senanglah!" tambah Karen dengan senyum penuh arti.
Setelah Karen dan Hayate pergi, situasi jadi terasa canggung. Sunyi dan matahari mulai tenggelam. Tanpa terasa, sudah seharian kami disini.
Ku lirik Neji yang sedang membuat api unggun, dia terlihat serius. Beberapa menit kemudian, ku alihkan pandanganku ke langit sore yang keemasan.
"Indah...," kataku kagum.
"Ng?" Neji melihat ke arahku kemudian ikut memandang langit.
"Indah tapi menyedihkan." kata Neji.
Aku tersentak lalu menatapnya dan bergumam, "Menyedihkan?"
"Hn, indak namun sebentar lagi ke indahannya akan lenyap tertelat waktu." jelas Neji.
Kembali ku tatap langit, kini matahari itu telah benar-benar menghilang. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku terpana, taburan bintang.
"Indah..." gumamku lagi.
Kali ini Neji tidak berkomentar, ku lihat ia tengah terdiam di seberang api unggun yang telah membara.
Kami saling berhadapan dengan api unggun yang membatasi. Kami tidak saling bicara, hanya duduk terdiam mengamati api dan meresapi hangatnya.
"Nii-san?" sapaku.
Neji hanya diam lalu menatapku.
"A-pakah, nii-san m-memiliki orang yang dicintai?" tanyaku.
"..." Lagi-lagi Neji hanya diam.
"A-aku hanya tidak mau nii-san terluka." kataku lagi.
Kali ini Neji tersenyum simpul, "Mengatakan hal yang menggelikan seperti itu," kata Neji sinis.
"Sebenarnya, kata-kata itu lebih cocok ditujukan padamu!" lanjut Neji.
"Ah, i-ituh...," aku bergumam tak jelas.
Aku tidak tau harus bicara apa, tapi Neji benar, kata-kata itu seharusnya memang untukku.
"Masih mengharapkan Naruto, heh?" kata Neji.
Seketika aku tersentak, kemudian menundukan wajahku. Kenapa harus membahas Naruto?
"Ternyata benar." kata Neji lagi, "jika takut terluka, kenapa menerima pertunangan itu?"
"A-aku memang m-menyukai N-naruto tapi," Aku sedikit membentak pada kata terakhir, "hanya dengan menuruti k-kata-kata ayah, maka aku akan berguna."
"Ketika ada dua pilihan, kau harus memilih satu dan ketika kau memilihnya maka akan ada satu yang terkorban. Itulah takdirnya!" tanggap Neji.
"Naruto, aku masih belum bisa meraihnya, semakin hari ia semakin kuat, sementara aku, aku tak bergerak sedikit pun untuk mengikutinya!" lirih Hinata.
"Untuk apa berharap pada seseorang yang tak mungkin bisa kau dapatkan?" ejek Neji padaku.
"T-tapi, Naruto lah yang telah mengajariku untuk berjuang!" ku tinggikan nada bicaraku.
"Mengajarimu untuk berjuang walaupun perjuangan itu sia-sia." tambah Neji.
"TIDAK!" bentakku, "TIDAK SIA-SIA!"
"Kau bertingkah seolah-olah hanya dengan usaha lebih semuanya akan berakhir baik. Menyedihkan!"
"Tapi, Naruto membuktikan bahwa usaha keras itu pasti akan mendatangkan kebaikan!"
"Tapi kau berbeda dengannya!" kata Neji tajam.
"Itu, m-memang, tapi aku," Hinata mulai terisak, "kalau aku tak berusaha seperti dia, maka dia tidak akan dapat menyadari keberadaanku!"
"Hinata, taukah kau apa tujuan Hiashi-sama menikahkan kita?" tanya Neji akhirnya.
"Alasan?" tanyaku tak mengerti.
Alasan ayah? Waktu itu aku hanya diperintah, tanpa mengharap jawabanku. Aku tidak punya hak untuk memutuskannya.
"Itu karena kau tidak bisa diharapkan oleh klan Hyuuga!" Neji menjawabnya sendiri.
Aku sedikit bergetar, ternyata apa yang aku takutkan itu benar. Aku hanya gadis beruntung yang terlahir dari klan yang hebat. Tak lebih dari itu.
"Benarkah?" lirihku.
"Jika kau merasa terbebani aku bisa saja menolak pernikahan itu, lagi pula aku tidak tertarik dengan kedudukan kalangan atas." ucap Neji santai.
Kali ini aku hanya diam. Akhirnya, kenyataan mendatangiku. Sebesar apapun usahaku, aku tetap tidak berarti. Naruto, Neji, dan sekarang klan ku.
Tiba-tiba saja hujan deras, tapi aku tak bergeming. Pikiranku sedang kacau, aku sangat memalukan, kenapa aku baru menyadarinya? Semua orang hanya kasihan padaku.
NORMAL P.O.V
"Hei, Hinata!" panggil Neji dari tendanya.
Hinata tidak bergeming, ia masih duduk dan menundukkan wajahnya. Ia sudah basah kuyup.
"HINATA!" hardik Neji.
"..." Hinata tetap tidak merespon.
Dengan kesal Neji berjalan mendekati Hinata dan menarik gadis berambut indigo itu untuk berdiri dan membawanya ke tenda.
Hinata sedikit memberontak tapi Neji menariknya dengan kekuatan tinggi.
"BAKA!" bentak Neji setelah membawa Hinata ke dalam tenda.
Hinata terduduk dan kembali menundukan wajahnya.
Neji jengah melihat Hinata yang seperti itu. Dia kesal melihat Hinata bertingkah semakin tak berguna seperti itu.
"Aku tau, aku hanya beruntung dapat terlahir sebagai pewaris Hyuuga. Aku sadar bahwa aku tidak bisa di harapkan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bertingkah seolah tidak tau apa-apa adalah hal yang sampai sekarang yang dapat ku lakukan." lirih Hinata.
Neji terus memandanginya dan melihat Hinata semakin menggigil.
"Nii-san, menikahlah denganku!" kata Hinata tiba-tiba, "jika dengan begitu aku tidak menjadi beban lagi, maka aku akan bahagia."
Neji hanya diam, memandangi Hinata dengan pandangan yang tidak dapat di artikan.
Di luar, hujan semakin deras dan semakin dingin. Tanpa berkata apa pun, Neji mengambil handuk dan menyelimuti Hinata.
Di lihatnya Hinata yang pasrah dengan tubuh menggigil. Baru kali ini ia melihat Hinata seperti ini dan membuat Neji sedikit berempatik.
"Inikah batas kekuatanmu, Hinata-sama?" bisik Neji ketika menyelimuti handuk pada Hinata.
Setelah itu, terdengar tangisan dari Hinata, suara tangisannya bertanding dengan suara hujan diluar sana.
Saat itu memang saat terlemah Hinata, kenyataan yang selama ini di buangnya jauh-jauh dari pikirannya telah tak dapat dielakkan lagi. Kenyataan bahwa ia memang tidak di harapkan.
"Bukankah anda ingin pengakuan dari saya yang kalangan bawah ini, Hinata-sama!" bisik Neji lagi.
Neji duduk di depan Hinata dan terus menatapnya.
"Tidak!" lirih Hinata.
"Kenapa?"
"Aku sudah sadar, bahwa itu tidak mungkin, percuma!"
"Ck, orang lemah!" decih Neji.
"Ne, Nii-san?"
"Hn?"
"Menikahlah denganku!"
"Kau benar-benar telah putus asa, Hinata!"
Neji tersenyum getir, kini mereka sama-sama terdiam, membiarkan suara hujan sebagai suara satu-satunya yang terdengar malam itu.
"Neji-nii'san?" gumam Hinata, memecah keheningan mereka.
"Hn?" gumam Neji.
"Dingin...," jawab Hinata seraya merapatkan handuknya.
"Tentu saja, pakaianmu juga masih basah, ganti lah, aku akan kembali ke tendaku!" kata Neji lalu berdiri.
"Nii-san, bagaimana?" tanya Hinata.
"Yah, bajuku juga basah!" kata Neji santai.
Ketika hendak membuka pintu tenda, Hinata menahan tangan neji.
"Jangan pergi!" kata Hinata yang untuk pertama kalinya bernada perintah.
"Kenapa?" tanya Neji heran.
"Aku takut sendiri." Jawab Hinata lagi.
Neji merasa ada yang aneh dengan Hinata, ini pertama kalinya gadis itu memberi perintah dan untuk pertama kalinya ia tidak tergagap ketika berbicara berdua seperti ini.
"Baka!" ucap neji lalu menjitak pelan kepala Hinata, "Berhentilah bersikap seperti ini, kau malah terlihat aneh, Hinata!"
Tanpa memperdulikan ucapan Neji, Hinata malah langsung memeluk Neji, "Aku memang menyedihkan,"
"Hinata, lepaskan!" perintah Neji.
"Nii-san tak punya hak memerintahku!" kata Hinata dengan nada mengancam.
Neji yang tidak menyangka bahwa Hinata akan berkata seperti itu hanya terdiam karena kaget. Hinata benar-benar berubah drastis. Itulah yang ada di fikiran Neji. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan Hinata memeluknya, lagi pula Hinata terasa hangat.
"Hangat," bisik Hinata.
"Ya, hangat!" Neji membenarkan.
Beberapa menit berlalu dan tampaknya otak pintar neji sedang susuh untuk memproses, tiba-tiba Neji tersadar, ada sesuatu yang aneh pada Hinata, sikapnya berubah, tubuhnya juga panas, Hinata-DEMAM!
Neji melepas pelukan Hinata dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangan, tapi Neji dapat menahan Hinata agar tidak terjatuh. Di sentuhnya kening Hinata dan ternyata benar, Hinata demam. Dengan sigap Neji membaringkan Hinata dan menyelimutinya.
"Hinata, gantilah pakaianmu, aku akan menunggu di luar!" Neji segera beranjak namun lagi-lagi di tahan Hinata.
"Kalau tidak di ganti, kamu bisa bertambah demam!" keluh Neji.
"Tetap disini!" perintah Hinata lagi.
Akhirnya Neji mengalah dan kembali duduk di samping Hinata yang terbaring. Hinata berusaha untuk duduk lalu kembali memeluk Neji.
"Hinata-sama...," keluh neji.
"Hihihihi, jangan pakai '-sama' lagi, tapi panggil 'Hinata-chan'!" suruh Hinata.
Neji hanya diam, melawan Hinata yang setengah sadar seperti ini hanya sia-sia saja baginya.
"Ne, Neji-kun?" bisik Hinat dan menatap langsung kemata Neji, di rabanya wajah pemuda itu lalu tersenyum dan berkata, "ayo panggil 'Hinata-chan!"
"H-hinata-chan," kata Neji gugup.
Hinata terkekeh sendiri lalu semakin memperpendek jaraknya pada neji, kini ia telah berada di pangkuan Neji, kedua tangannya melingkari leher neji dan tatapan Hinata sudah sangat sayu. Neji hanya diam, tidak merespon sedikit pun, terlintas di otaknya untuk membiarkan Hinata, dia juga penasaran seberapa liar Hinata ketika sedang demam seperti itu, sungguh unik. Itulaha yang ada di pikirannya tentang Hinata yang sekarang.
Hinata menyentuh bibir neji dengan telunjuknya, Neji tetapa diam, di lihatnya wajah Hinata yang memerah dengan ekspresi yang begitu polos.
Setelah puas menyentuh bibir Neji, ia terkikik lagi dan berkata, "Bibir neji-kun lembut!"
Neji menaikkan sudut bibirnya, "Ne, Hinata-chan?" Neji akhirnya bicara.
"Hm?" jawab hinata antusias, seperti anak kecil yang di tawari permen.
"Benarkah lembut?" goda Neji.
"Hu'um!" jawab Hinata lalu kembali meraba bibir Neji.
"Mau mencobanya?" goda Neji lagi.
"He?" Hinata terlihat sedang berfikir, "mau!"
Neji terkejut, ternyata Hinata benar-benar berubah total karena demam, seperti orang mabuk saja. Pikir Neji.
"Sudahlah, sebaiknya segera tidur, demam mu makin tinggi!" tagas Neji dan berusaha melepas pelukan hinata.
"Aku mau coba!" kata Hinata lalu kembali menyentuh bibir Neji.
"Jangan memancingku, Hinata, walau bagaimana pun aku tetap saja pria normal, jika begini terus, aku bisa saja 'menyerangmu'!" kata Neji lagi.
Bukannya takut, Hinata malah tertawa geli. Akhinya Neji pasrah dan menghela nafas, dia sudah lelah.
"Ne-" kata-kata Hinata terhenti karena seketika itu juga neji mengunci bibir Hinata dengan bibirnya.
======= TBC =========
Fiuh, akhirnya selesai juga chapter 3 nya.
Semoga tidak mengecewakan. (_ _")
8888 Balasan Review chapter 2 8888
^w^ hmh... doumo arigatou gozaimasu minasan...
Hounto ni arigatou atas supportnya... m(^w^)m
Caca: ^o^d okeh! Aku lanjutkan. Semoga tidak mengecewakan. ^^
NejiHina love forever: ^/^ hmh...hohohohho
Iya nih, padhal NejiHina kan pairing yang hot! X3
Aku juga masih newbie dalam hal ffn, coba aja dulu, mungkin aja ada bakat terpendam bikin ffn apalagi yang nejiHina juga XD, yuuupzz...aku akan lebih semangat. *segera bikin chap 3* arigatou ne...
Neji love Hina: hm..mungkin saja. Taulah...harga diri...hahahah *diplototin Neji*
Fhu fhu fhu siiippszzzz
Hazena: sumbangannya di terima dengan senang hati ^^
Ia, mereka liburan :3
Ha...sip sip, semoga aja chapter 3 ini romance nya cukup yah, jujur saja aku bersusah payah menahan diri untuk me,buat mereka lebih mesra lagi... W hohohoh tapi smua harus perlahan2. XD
Demikooo: iya nech, typo nya ga mau ilang2...
^.^ hehehe gitu ya, hahaha gomen gomen * dijitak hinata*
Sasuhina-caem: ga kok, neji ga jahat, sama aku dia baik banget *gubrak* hahahaha
Zoroutecchi: wah...Neji terlihat sekejam itu ya? Hahaha
Semoga sekarang dah ga kejam2 amat. XD
Sabaku no ligaara: benarkah/ benarkah? X3
TAARAAA...apakah sudah terjawab? Fhu fhu fhu semoga bikin deg degan cz aku yang bikin malah deg degan XD
Shiina yuki: ya, udah apdate nih. XD
Shyoul lavaen: udah padate nih, moga ga penasaran lagi. ^^
Hilda: jiah...malah histeris. -,-"
Heheheh maap...aku lelet lagi. Haddeh... sepertinya aku harus memberi detline pada ffn ku biar ga lelet lagi. Oh, ya! Makasih buat reviewnya ya... ^^
Aku akan lebih berusaha lagi!
Salam,
Ritsu.
