Lelaki bernama lengkap Akasuna no Sasori itu duduk di kursinya dalam diam. Hazel teduhnya menerawang, menatap kosong papan tulis bersih yang ada di bagian depan kelasnya. Tangan kanannya bergerak, menopang dagunya dengan bertumpukan meja. Otaknya kini berputar, mengingat tawaran Sasuke kemarin malam.
Sasori mendesah kecil. Coba saja kemarin tidak ada pemadaman listrik, pasti ia tidak akan kepikiran begini. Sosok yang sejak tadi ada di pikirannya tiba-tiba muncul, berjalan dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celana panjangnya.
Kedua alis Sasori bertaut. Perasaan saja atau memang Sasuke menatap penuh harap pada kursi Sakura yang masih kosong. Sejurus kemudian, tatapan tajam Sasuke menusuknya. Hell yeah, hanya berani menggertak? Sasori tidak akan takut, tuh.
Lambat laun, Sasuke berjalan menuju Sasori. Tidak lupa dengan tatapan mengejek yang sering ia tujukan pada lelaki merah itu. Hey, Sasori sudah kebal dengan tatapan itu karena ia sering menerimanya dari banyak orang yang menganggapnya miskin. Jadi jangan harap Sasori akan terpengaruh olehmu, Sasuke.
"Selamat pagi," sapaan itu meluncur dari bibir tipis Sasuke.
Sasori tersenyum kecil, "Ada apa?"
Alis Sasuke bertaut. Sedikit heran dengan sikap Sasori yang berlaku seolah tidak ada apa-apa diantara mereka. "Ayo ... bertarung." desisnya.
.
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Aku atau Game
A Naruto FanFiction by Iwahashi Hani.
.
.
.
.
Hazel itu tidak beralih dari punggung tegap milik Sasuke yang mulai menjauh. Tangan kanan Sasori terkepal, membuat buku-bukunya yang cukup panjang menancap di telapak tangannya hingga memutih. Perkataan Sasuke terus berputar di otaknya.
'Ayo ... bertarung.'
Bertarung, ya?
Sasori menjatuhkan dagunya di atas meja. Jika bertarung dengan teman-teman biasanya, sih, ia tidak akan menolak. Tapi ini, dengan Uchiha Sasuke. Bukannya takut kalah, tapi ia takut Sakura akan terlibat di dalamnya. Bagaimana pun juga, Sakura tidak boleh tahu tentang masalahnya dengan Sasuke.
"Sasori-kun~" suara lembut itu membuat Sasori mendongakkan kepalanya. Senyum kecil tertoreh di bibir lelaki itu untuk menyambut kekasihnya yang baru memasuki kelas. "Aku tidak menyangka kau bisa datang pagi," ejeknya. Sukses membuat Sasori merubah wajahnya menjadi masam.
Tangan mungil Sakura membelai lembut rambut Sasori, "Aku bercanda." lanjutnya. Ia duduk di kursi yang ada di depan Sasori. Kedua sudut bibir Sakura sedikit tertarik, menciptakan senyum yang sangat tipis. Hari ini, untuk pertama kalinya, mata milik Akasuna no Sasori yang merupakan kekasihnya tidak dihiasi oleh warna kehitaman. Ini kemajuan yang pesat.
Tanpa sadar, Sakura terkikik kecil.
Harusnya, setiap hari saja pemadaman listrik terjadi. Dengan begitu, pasti Sasori tidak akan begadang hanya karena game onlinenya. Perlahan, ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat Sasori. Dan dalam sekejap, senyum di bibir Sakura lenyap.
Manik hijau anggurnya terpaku pada wajah manis Sasori. Ada perasaaan takut di sana. Padahal, selama ini Sasori paling anti dengan perasaan itu. Sakura mengangkat kedua bahunya, berusaha mengabaikan keanehan sikap Sasori. Toh, nanti juga lelaki itu akan kembali seperti biasanya. Semoga saja.
Sakura menghela nafas dan memutar tubuhnya agar membelakangi Sasori. Jemari lentiknya merogoh bagian depan tasnya, mencari smartphone merah maroonnya. Di saat seperti ini, lebih baik membuka jejaring sosial. Setelah itu, Sakura larut dalam dunianya sendiri.
Kedua mata teduh itu terpejam, seolah bersyukur karena gadis di hadapannya tidak lagi memperhatikannya. Sasori membuka matanya. Nafasnya tercekat. Tatapan tajam khas Uchiha itu terus tertuju padanya. Dan dengan gerakan lambat, bibir tipis milik Sasuke bergerak.
'Temui aku sepulang sekolah.'
Sasori membuang wajahnya, tidak mengindahkan Sasuke. Ya ... meski ia tidak mengabaikan kehadiran saingannya itu seutuhnya. Buktinya, sekarang Sasori dilanda gundah gulana. Haruskah ia mengikuti ajakan Sasuke? Pandangannya kini beralih pada punggung mungil di hadapannya, Haruno Sakura. Sasori terdiam sejenak, memikirkan jalan keluar untuk masalah ini. Baiklah, ia akan melakukannya tanpa diketahui Sakura.
"Aku pasti menang..."
Mendengar suara bernada rendah yang lebih tepat disebut bisikan dari Sasori, membuat Sakura menolehkan kepalanya. "Bicara sesuatu, Sasori-kun?" tanya Sakura dengan wajah khawatir. Sungguh, ia berani bertaruh kalau bisikan lirih yang menyapa gendang telinganya adalah milik Sasori.
Dengan panik, Sasori mengibaskan kedua telapak tangannya. "Tidak, Sakura-chan pasti salah dengar." sangkalnya. Huh, hampir saja ketahuan. Lain kali, ia harus berhati-hati karena pendengaran Sakura yang tajam.
Mendengar jawaban Sasori, akhirnya Sakura kembali terfokus pada smartphonenya. Sesekali, ia melirik pada Sasori. Sesuatu yang aneh pasti telah terjadi. Setelah kesekian kalinya Sakura melirik Sasori, akhirnya ia melihat refleksi seseorang di mata Sasori. Dengan kata lain, Sasori sedang melihat hasil refleksi yang tercetak di mata hazelnya. Tangan kanan Sakura terkepal. Sosok di mata itu ... Uchiha Sasuke. Ugh, lagi-lagi Si Uchiha itu.
.
.
.
Tangan mungil milik Sakura bergerak dengan telaten memasukkan buku yang sejak tadi tergeletak di atas mejanya. Sisa satu buku lagi yang harus ia masukkan, tiba-tiba Sasori berjalan melewatinya.
Mata gadis itu tidak lepas dari punggung tegap berbalut gakuran milik Sasori, melihatnya tanpa berkedip. Dahi Sakura berkerut. Biasanya, Sasori akan menyapanya jika melewatinya. Tapi sekarang ... Sasori bahkan tidak menoleh padanya sedikit pun. "Sasori-kun!" panggilnya, membuat Sasori mau tidak mau menoleh dengan wajah panik.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Sasori. Nampaknya, ia tidak menyadari tatapan khawatir yang Sakura tujukan padanya.
Sakura menggelengkan kepalanya lemah, "Hati-hati di jalan, Sasori-kun," ucapnya. Senyum terpaksa kini terulas di bibir merah mudanya. Ah, tersenyum seperti ini rasanya sangat tidak nyaman.
Wajah panik Sasori perlahan terganti dengan wajah yang tersenyum sumringah. "Tentu saja, Sakura-chan. Kau juga harus hati-hati." dan setelahnya, Sasori berlari meninggalkan Sakura yang masih menggenggam buku terakhirnya.
Tangan kanan Sakura terangkat, menyentuh bibir bawahnya, kebiasaan Sakura saat merasa khawatir. Perasaannya tidak enak. Seperti pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi ... apa yang akan terjadi?
Sakura menggelengkan kepalanya, membuang firasat buruknya. Ia harus percaya pada Sasori. Kedua sudut bibirnya berkedut, menciptakan senyuman lebar. Sasori pasti akan baik-baik saja. Dengan gerakan yang cepat, ia memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas.
Setelah memakai tas selempangnya, ia berlari menyusuri koridor sekolah yang sudah lengang. Tujuan selanjutnya, rumah.
Sasori menyembulkan kepalanya dari balik dinding koridor. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding setelah melihat Sakura berlari menuju gerbang sekolah. Dengan begini, ia bisa bertemu Sasuke sekarang.
Derap langkah kaki Sasori terdengar nyaring saat ia menaiki anak tangga yang akan mengantarkannya pada atap sekolah. Tangan kanannya bergerak, mendorong pintu besi yang menjadi penghalang antara dirinya dan udara bebas di hadapannya.
KREK! Dalam sekali hentakan, besi berkarat itu sudah menyingkir dan memberikan jalan untuk Sasori. Disempatkannya menarik nafas sebelum melangkahkan kaki lebih jauh.
"Kukira kau tidak akan datang, Akasuna no Sasori..." desisan yang hampir tersamarkan oleh hembusan angin itu menyapa telinga Sasori.
Sasori tersenyum miring. Ternyata tebakannya kalau Sasuke ada di sini tidak meleset. Kedua kaki jenjangnya mengantarkannya lebih dekat pada sosok pangeran sekolah yang berdiri di tengah tempat ini. SREK! Ia menghentikan langkahnya saat jarak antara dirinya dan Sasuke tersisa lima meter.
"Begitukah?" tanya Sasori, "Kalau begitu, perkiraanmu salah, Uchiha Sasuke." Lanjutnya.
Senyum menyeramkan di wajah Sasuke kini semakin melebar, "Hn," jawabnya. Entah apa maksudnya. Mungkinkah ia mengatakan bahwa ia setuju dengan perkataan Sasori kalau ia salah berasumsi? Siapa yang tahu.
Keduanya terdiam, masih memasang senyum yang sama mengerikannya.
"Aku bosan. Biar aku yang memulainya," ucap Sasuke dan segera berlari menerjang Sasori. Tangan kanannya mengepal, siap memberikan hadiah untuk Sasori karena sudah memenuhi undangannya.
Sasori membuang nafas dan BUK! tangan kirinya berhasil menahan kepalan tangan Sasuke yang hampir mengenai perutnya. "Jangan berpikir pukulanmu itu bisa membuatku kalah, Sasuke..." desisnya. Sasori menggerakkan tangan kanannya yang bebas BRUKK! pukulan bertenaga itu sukses mengenai pipi mulus Sasuke. Tidak lupa sebuah tendangan mendarat di perut lelaki Uchiha itu.
Tubuh Sasuke melayang beberapa meter hingga akhirnya terjatuh. Ia mendesis kecil saat rasa sakit menghujani pipi dan perutnya. Ugh, bahkan Fugaku yang merupakan ayahnya saja belum pernah memukulnya seperti ini. Tapi Sasori dengan seenak jidatnya membuat Sasuke terjatuh hingga terluka begini.
Sasori berjalan mendekati Sasuke. Senyum kemenangan kini terpatri di wajahnya. Bukankah membuat seorang Uchiha terjatuh itu adalah perbuatan yang hebat, eh? Lelaki itu membungkuk, menarik bagian atas gakuran Sasuke hingga tubuh Sasuke sedikit terangkat.
BRUK! Lagi, Sasori menghantamkan kepalan tangannya pada pipi Sasuke, menambah jejak kebiruan di paras lelaki tampan itu.
Sasori kembali mengepalkan tangannya, siap melayangkan sebuah hantaman lagi pada wajah Sasuke jika saja sebuah tangan pucat tidak menahannya. Benar-benar Uchiha. Disaat seperti ini masih saja bisa melawan. BUGH! Pukulan yang terasa kuat itu bersarang di rahang Sasori.
Hazel itu menatap tidak percaya pada Sasuke. Wajahnya sudah berantakan masih saja ingin melawan. Baiklah, Sasori sudah tidak tega memukul wajah Sasuke. Sudah nafasnya tersengal, wajahnya membiru seperti itu, pun sudut bibirnya kini sobek. Bisa-bisa ia dikeroyoki fans Sasuke jika bertindak lebih jauh.
Tangan kiri Sasori yang sejak tadi menahan beban Sasuke kini terlepas, membuat Bungsu Uchiha itu jatuh ke tanah. Sasuke meringis kecil saat kepalanya terantuk peluran yang menjadi alasnya.
"Kurasa semua sudah selesai," kata Sasori, hendak meninggalkan Sasuke yang masih berusaha duduk. Sungguh, ia tidak menyangka dapat mengalahkan seorang Uchiha dalam waktu sesingkat ini. Hanya dengan beberapa pukulan, pula.
"Tunggu," suara dingin itu membuat langkah Sasori terhenti, "S-semua ini belum selesai." Sasori memutar tubuhnya dan kini ia melihat Sasuke sudah berdiri meski tampak kepayahan. Hell yeah, kalau begini sudah dipastikan bahwa Sasori pemenangnya.
Sasuke merogoh sakunya, mencari benda yang tadi sudah ia siapkan. Mata Sasori menyipit, berusaha melihat benda apa yang Sasuke cari. Lelaki bersurai merah itu melangkah mundur saat tangan kanan Sasuke mengeluarkan benda berkilat dari dalam sakunya. Pisau lipat.
Seringai di wajah Sasuke kembali melebar. Dengan mengacungkan benda tajam itu, ia melangkah mendekati Sasori. "Sasori," panggilnya, "Jika kau mau menyerahkan Sakura padaku, maka kau bisa kumaafkan. Bagaimana?"
Kedua tangan Sasori terkepal. Pilihan macam apa itu? Mana sudi ia memberikan Sakura pada lelaki yang dulu pernah menyia-nyiakan gadis cantik itu.
"Tidak akan."
Sasuke berdecak kecil, sedikit kesal dengan sikap sombong Sasori. Mungkin dia kira Sasuke main-main, eh? "Baiklah, kalau itu maumu," dan setelah itu, Sasuke kembali menerjang Sasori, "Ucapkan selamat tinggal, Akasuna no Sasori!" teriaknya.
Sasori menggigit bibir bawahnya. Uchiha gila itu sudah semakin dekat. Matanya terpejam, mencoba menghirup udara yang malah terasa sesak disaat seperti ini. Saatnya menggunakan insting.
Satu detik. Masih tersisa jarak di antara keduanya.
Tiga detik. Jarak itu kian menipis.
Lima detik. HAP! tangan kanan Sasori berhasil menggapai pisau Sasuke dan menahannya agar tidak dapat menyentuh tubuhnya. Namun sialnya, mata pisau itu terjebak di sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Semakin kuat Sasuke mendorong pisau itu, semakin dalam pula luka di antara sela jari Sasori. Ugh, ini sama saja berbahaya.
Keringat dingin mengucur di wajah putih Sasori, seakan membuktikan si pemilik wajah tengah merasakan sakit yang berkepanjangan di daerah tangannya. "A-aku tidak akan kalah darimu, Sasuke!" ujarnya meski suaranya terdengar bergetar.
Sasuke semakin menekan pisau di tangannya, berusaha membuat benda itu dapat melukai, atau setidaknya, menggores wajah Sasori. "Menyerah saja dan serahkan Sakura padaku!" ujarnya.
Hazel Sasori bergerak, melihat keadaan sekitarnya. Ugh, tidak ada satu pun benda yang dapat dipakai untuk melawan Sasuke. Sepertinya ia akan mati sekarang. Tuhan, jika aku mati demi Sakura, aku rela. Batinnya merana.
"Sasori-kun!" Sasori memejamkan matanya saat suara jernih yang ia kenali sebagai suara Sakura mulai terputar di otaknya. Astaga, apa ini halusinasi karena ia akan mati? Kalau begitu, ia harap suara itu bisa terdengar sekali lagi. "Sasuke, hentikan!" eh? Kenapa suara Sakura semakin keras?
Sasori menolehkan kepalanya pada sumber suara dan GOTCHA! Sakura sedang berdiri di sana dengan wajah panik. Mungkin karena melihat darah yang mengalir dari luka Sasori.
"Argh!" Sasori menggeram saat mata pisau itu semakin kuat menekan tangannya. "Gi-gila! Kau mau benar-benar membunuhku, Uchiha sinting?"
"Sasuke, hantikan!" teriakan Sakura semakin menjadi kala emeraldnya mendapati tangan Sasori semakin parah.
Tanpa menghiraukan teriakan Sakura dan perkataan Sasori, Sasuke malah semakin fokus dalam usahanya melukai Sasori. Masa bodoh nanti Si Merah itu akan mati atau apa. Siapa suruh merebut Sakura-nya, huh?
"Aku membencimu, Uchiha Sasuke!"
Selang beberapa detik, pisau di tangan Sasuke terjatuh. Lelaki Uchiha itu menolehkan kepalanya pada Sakura, manik kelamnya melembut dengan senyum tipis di bibirnya.
Sasori menutupi lukanya dengan erat, berharap luka itu dapat segera tertutup dan tidak lagi mengeluarkan darah. Sesekali matanya beralih dari Sasuke ke Sakura dan kembali berulang-ulang.
"Ayo, Sasori-kun." Sakura menarik lengan Sasori, menarik lelaki itu agar menjauhi Sasuke.
Iris kecokelatan itu tetap terpaku pada Sasuke yang menatapnya tajam. Sudahlah, biarkan saja.
.
.
.
.
Sasori memandangi tangannya yang kini sudah terbalut perban. Sepertinya untuk sementara waktu, ia tidak bisa menggunakan tangan kanannya. Huh, pasti menyebalkan.
"Tanganmu terluka cukup parah tadi, syukurlah aku tidak datang terlambat, ya?" Sakura mendudukkan dirinya di samping Sasori.
Senyum canggung mengembang di bibir Sasori, meng-iya-kan perkataan Sakura. "Ah," pekiknya, "Bagaimana Sakura-chan tahu kalau aku di sana?" Sasori menyentuh lukanya pelan kemudian mengalihkan pandangannya pada Sakura. Seingatnya, Sakura tadi sudah pulang. Bahkan, ia melihatnya dengan mata dan kepalanya sendiri kalau gadis itu berlari melewati gerbang sekolah.
Sakura menolehkan kepalanya, menatap Sasori dengan tatapan aneh. Perlahan, wajahnya semakin mendekat pada wajah Sasori. Sasori memalingkan wajahnya dengan kikuk. Otaknya kini memikirkan hal yang tidak-tidak. Ah, apa ia akan dicium? Astaga, sebenarnya siapa yang lelaki di sini?
"Firasatku buruk," gumam Sakura dan sukses membuat Sasori mengerjapkan matanya kebingungan. Sudah mengira akan dicium, ternyata tidak. Mengecewakan, eh? Manik hijau anggur Sakura melembut, "Dan ternyata firasatku itu benar. Tadi aku hampir menangis saat melihat darah di tanganmu, Sasori-kun. Aku ... takut kehilanganmu."
"Eh?" Sasori membulatkan matanya. Baru kali ini ia mendengar Sakura mengkhawatirkannya seperti ini. Wajar, sih. Tapi tetap saja rasanya menyenangkan.
Sakura tersenyum senang, "Lain kali, Sasori-kun harus lebih terbuka padaku," ucapnya, "Kalau tidak, aku akan menyuruhmu menggendongku mengelilingi sekolah sebanyak tujuh kali. Bagaimana?" ah, ancaman yang sama.
Bibir tipis Sasori mengerucut mendengar perkataan Sakura. "Nggak mau, kamu gendut, sih." Sasori menjulurkan lidahnya. Well, ini hanya candaan karena tubuh Sakura yang terbilang berat bagi Sasori.
Sebuah jitakan kecil mendarat di kepala Sasori, membuat si pemilik kepala merah itu meringis kecil. Padahal hanya dijitak seperti itu, tapi tetap sakit.
"Aku nggak gendut!" ujar Sakura.
Sasori tertawa kecil. Ingin sekali ia mengiyakan bahwa Sakura tidak gendut, tapi sedikit hatinya mengatakan bahwa ia harus menjaga gengsinya. Ya ... meski gengsinya tidak setinggi Uchiha, tentunya.
Uchiha, ya?
"Uhm ... Sakura-chan?" panggil Sasori. Baiklah, ia akui bahwa ia sangat tidak yakin untuk menanyakan hal ini. Tapi, ia butuh jawaban Sakura agar bisa tenang.
Sakura bergumam pelan.
Terdiam sejenak, akhirnya Sasori menarik nafasnya. "Kenapa Sakura-chan menolak Sasuke tadi?" tanya Sasori. Dalam hati ia harap-harap cemas. Semoga jawaban Sakura tidak membuatnya kecewa.
"Aku ... tidak bisa memaafkan kesalahannya," kata Sakura dan menerawang pada langit biru di atasnya, "Berselingkuh dengan Karin. Bahkan semua orang kecuali aku tahu hal itu. Huh, menyedihkan, ya?"
Sasori tidak mengalihkan perhatiannya dari perban yang membalut tangannya. Hatinya terasa tercubit. Dari perkataan Sakura, sepertinya gadis itu masih menyukai Sasuke meski hanya sedikit. Mungkin hanya karena kesalahan itulah Sakura tidak bisa menerima Sasuke kembali.
"Lagipula, aku sudah punya cinta sejatiku sekarang. Benar kan, Sasori-kun?"
Kepala Sasori segera terangkat. Apa ia salah dengar? Dengan cepat, kepalanya menoleh pada Sakura dan menatapnya dalam. Ada raut kepercayaan yang jelas terpancar dari wajah Sakura.
"Ci-cinta sejati, ya?" Sasori membeo, namun dalam suara yang rendah. Hey, ia tidak ingin dianggap bodoh karena mengulangi perkataan seorang gadis yang secara terang-terangan sedang meyakinkan Sasori bahwa ia adalah yang terbaik.
Beberapa detik kemudian, Sasori menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Tentu saja," jawabnya dengan percaya diri.
Sakura terkikik kecil. Ia memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di pipinya karena Sasori menyetujui ucapannya. Sungguh diluar dugaan. Padahal ia kira Sasori akan berubah jadi anak autis seperti biasanya jika ia berkata sesuatu yang manis seperti tadi.
"Oh iya, karena luka di tanganmu itu cukup parah, sepertinya Sasori-kun tidak bisa bermain game online untuk beberapa hari ke depan."
DUAR! Petir menyambar ulu hati Sasori. Tidak bisa bermain game online? Hell no! Lebih baik Sasori tidak makan seminggu daripada libur bermain game online selama beberapa hari.
"Ka-kau bercanda kan, Sakura-chan?" Sasori menatap Sakura penuh harap. Ayolah, nona Haruno yang cantik, katakan bahwa kau hanya berbohong tadi.
"Aku tidak bercanda," ucap Sakura dengan tenang.
"TIDAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!"
Well, Akasuna no Sasori benar-benar menjadi autis sekarang.
To Be Continued
.
.
.
Terima kasih untuk kalian yang sudah menunggu kelanjutan dari fic ini. Tenang, konfliknya hanya sedikit, kok. Kemungkinan besar akan tamat di chapter lima. O3O
Special thanks to : Rosachi-hime, milkyways99, Mako-chan, .1, Yumi Murakami, Secret, Risuki Taka, Guest, Dee-chaan, Natsukiamon, Secret, Kumi Usagi, Akbar123
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
"Sasori ... dikeluarkan?"
.
.
"Ini semua ulahmu kan, Sasuke?"
.
.
"Kembali padaku dan Pecundang itu bisa kembali bersekolah di sini."
.
.
"Aku membencimu, Uchiha Sasuke!"
.
.
.
Sekali lagi terima kasih untuk kalian yang sudah scroll sampai sini. Jika berkenan, silakan tinggalkan saran atau kritik di kotak review. Kalimat penyemangat juga boleh, kok. /apa O3O
Sampai jumpa di chapter depan! Sayounara!
Regard,
Iwahashi Hani O3O
