Chapter 3: The Last from the new begining

.

.

.


"Lalu Semuanya Lenyap"

Disclaimer Naruto dan tokoh di dalamnya dalah milik Masashi Kishimoto. Saya Tidak Mengambil Keuntungan Dalam Bentuk Apapun.

Story © Hyuugadevit-Cherry

[Uchiha Sasuke & Uchiha Sakura]


.

Warning: AU, TYPO (s), OOC, Plot Rush,

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, Family.

.


.

.

.


Sakura merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

Ketika kelopak matanya terbuka, emeladnya menangkap langsung bahwa ia berada di kamarnya. Ruangan di mana semuanya terjadi begitu saja, tanpa pernah terlintas sedikitpun di benaknya. Ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Seseorang yang bersamanya dan menyebabkan seluruh tubuhnya sakit tidak berada di sampingnya.

"Di mana dia?" tanyanya lirih.

Wanita yang telah kehilangan kehormatannya itu memejamkan matanya. Kedua tangannya mengepal dengan erat pada selimut yang kini ia jadikan sebagai pelampiasan perasaannya. Air mata kembali mengalir dari balik kelopak matanya.

"Ia meninggalkanku.. lagi?!"

Dengan berat hati, Sakura bangkit dan memasuki kamar mandi. Berharap air yang kini membasuh seluruh tubuhnya dapat menghapus setiap sentuhan dari pria itu padanya.

.

.

.

KLANG

Naruto terkejut hingga ia menjatuhkan minuman kalengnya.

"A-APA?" teriaknya spontan ketika mendengar perkataan seseorang yang kini di hadapannya meringkuk dengan ekspresi gusar.

"Teme, katakan sekali lagi! Atau apa sih yang terjadi hingga membuat mu seperti ini?" tanya Naruto tak sabaran, mencoba memastikan semuanya.

Sementara yang ditanya hanya diam. Tangan kanannya menutupi wajahnya, kemudian mengusapnya dengan kasar.

"Tch, Aku bilang aku butuh bantuanmu untuk yang terakhir kali." katanya dengan nada mendesis. Seolah ia sangat tidak ingin mengakui bahwa ia kembali harus bergantung pada sahabat pirangnya ini.

"Ya! Tapi─ apa yang terjadi? Aku sudah membantumu sekuat tenaga untuk lari dari kejaran orang tua mu dan aku juga hampir kehilangan usaha keluargaku. Apalagi yang kau inginkan dariku?" Naruto mengurut pangkal hidungnya frustasi. "Apa ini masih dalam misi lari dari orang tua mu?"

Sasuke menatap sahabat pirangnya tajam, "Bukan itu," balasnya.

Naruto mengrenyitkan dahinya, merasa heran, "Lalu?"

Seolah kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya sangat berat, Sasuke menggigit bibir bagian dalamnya. Merengut, kemudian..

"... Aku ingin bekerja!" katanya serius. Ia melanjutkan, "kemudian menikah dan hidup sederhana bersama keluarga kecilku."

Mendengar penuturan sahabat sedunia dan seakhiratnya itu, si dobe Naruto kembali dibuat terkaget-kaget. "Kau ini... gila ya teme?!"

Sasuke memicingkan onyxnya setajam katana para samurai jaman Edo. "Tidak!"

Pria Uzumaki itu menggeleng tak percaya, "Tapi ini bukan dirimu, teme!"

Melihat reaksi sahabatnya, Sasuke mendecih. "Jika kau tidak bisa membantu maka sudahlah. Aku akan mencari jalanku sendiri."

"Sial! Baiklah..." Naruto mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Apa yang kau butuhkan?" tanyanya sambil mengacak rambut pirangnya kesal. Membuat seringai terbit di wajah tampan bungsu Uchiha kita.

"Aku ingin meminjam beberapa uangmu. Aku ingin merintis usaha. Aku harap kau mau bekerja sama denganku."

"Okey, Aku akan membantumu sekuat tenaga teme." balasnya sambil mengangguk mantap. Berusaha mendukung terus keputusan sahabat labilnya ini.

"Naruto,"

"Apa lagi?" katanya dengan nada lelah.

"Arigatou..," dan kedua sudut bibir itu berkedut. Ini luar biasa, sahabatnya kembali mengucapkan kata yang hampir tidak pernah diucapkannya.

"Douita."

.

.

.

"Ia belum datang juga?" tanya seseorang di sebrang telpon sana. Sakura melirik jam dinding dengan bosan. Salah satu jari tangannya ia tempatkan di dekat bibirnya, menggigit kuku-kukunya─ cemas.

"Temari,.." Sakura menghela nafas."Ia─ mungkin─ tidak akan pernah datang kembali." Balasnya tenang, berbanding terbalik dengan perasaannya.

"Laki-laki berengsek seperti dia memang tidak pernah bisa menghargai perasaan wanita. Kau harus meminta penjelasannya tentang kejadian semalam."

Sakura tersenyum tipis. Ia sangat yakin wanita bermarga Sabaku itu kini pasti wajahnya sangat menyeramkan. Lebih seram dari pada singa yang tengah kelaparan.

"Tapi aku─ mencintainya," Terdengar helaan nafas di sebrang sana.

"Tapi tidak dengan menidurimu, mengambil keperawananmu dan meninggalkanmu!"

Sakura menggigit bibirnya kuat-kuat. Malu akan kenyataan yang menimpanya.

"Baiklah nona Haruno yang bodoh," kembali Temari bersuara, karena sahabatnya mungkin tak bisa menjawabnya. " Terserah kau saja. Tapi ingat! Kau harus tetap hidup, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Kau memiliki aku. Ingat kau memiliki aku!" Sakura mengangguk, walau Temari tak akan melihatnya. Ia memutus sambungan panggilan tersebut ketika mendengar nada KLIK pada pintu apatonya yang menandakan seseorang memasuki kediamannya.

Saat itu Sakura dapat melihat pria yang sejak tadi ia perbincangkan dengan sahabatnya. Pria bermata sekelam malam itu berwajah dingin. Tidak! Maksudnya.. pria itu memang dingin. Tapi tidak ketika dengannya. Kali ini kedinginan pria itu seolah bertambah berkali-kali lipat. Membuat Sakura kembali merasakan dadanya sesak. Diabaikannya perasaannya itu. Ia telah berjanji pada hatinya bahwa ia akan membantu pria itu. Pria yang tengah kesulitan dalam ekonomi.. juga─ kesepian. Pria itu tengah susah dan ia telah berjanji akan bersamanya hingga ia tak mampu lagi menahan segala rasa sakit yang terus ia simpan.

"Sasuke," mulainya.

Gadis yang kini tak pantas lagi disebut seorang gadis itu mencoba tersenyum. Senyum yang mungkin terlihat aneh. Onyx tajam itu kini menatapnya dengan tatapan sedingin salju, yang hampir saja membuat nyalinya menciut. Sakura sebisa mungkin memikirkan apa yang hendak ia katakan pada pria Uchiha di hadapannya ini.

"Emm.. ano, untuk kejadian tadi malam.." Sakura melirik Sasuke dari balik bulu matanya. Dilihatnya wajah Sasuke yang semakin mendingin dan wajahnya yang berubah menjadi kaku. Namun, nampaknya pria itu tak berniat sedikit pun menanggapi kata-katanya, " Aku─ akan menganggap kejadian tadi malam hanyalah sebuah kesalahan."

Sakura tersenyum getir. Ini tidak benar.

Hatinya sungguh hancur.

"Dengan itu, kau tidak usah risau. Kau dan aku akan tetap tinggal bersama dan kau tetap bisa menjalankan aktivitas mu seperti biasa. Mari ─ kita anggap kejadian tadi malam tidak pernah terjadi di antara kita." putusnya sepihak. Setelah itu, Sakura pergi meninggalkan Sasuke yang kini bak patung yang tak dapat bergerak sedikitpun.

.

.

.

Uchiha Sasuke tidak pernah merasa seberengsek ini.

Keluarganya sejak kecil mendidiknya dengan baik. Memberikan berbagai kenyamanan, pengetahuan dan menanamkan karakter kuat, hingga ia bisa terus bertahan hidup hingga sekarang tanpa keluarganya. Ya, meskipun ia mendapatkan berbagai bantuan dari orang yang mengasihinya. Bertanggung jawab adalah salah satu karakter yang ditanamkan ayah dan kakek Indra padanya. Tapi, kenapa Sasuke seolah bukan bagian dari Uchiha? Kenapa ia sangat berengsek? Kenapa ia sangat pengecut? Dan kenapa setiap keputusan yang diambilnya selalu salah?!

Dimulai dari rencana melarikan diri dari pernikahannya dengan gadis terhormat dari Haruno, hingga kejadian yang menimpanya saat ini...

Tidak seperti Haruno Sakura.

Gadis bermata emerlad yang memiliki tubuh lemah dan mungil itu memiliki keberanian yang tinggi. Gadis yang terlampau ceria itu selalu bisa membolak-balikkan hatinya. Ia yang semula tidak menyukainya, mulai menyukainya. Ia yang semula tidak peduli padanya, mulai memedulikannya. Ia yang tidak bertanggung jawab ini dibuat ingin bertanggung jawab. Namun, ketika ia ingin melakukan sesuatu yang dianggapnya benar─ gadis itu menolaknya dan seolah menganggap kejadian saat itu hanyalah suatu kesalahan. Tunggu dulu, sejak tadi Sasuke terus menyebutnya Gadis?

Aaaa─ bahkan kegadisan Sakura telah direnggutnya.

Ia mengacak surai ravennya yang mulai memanjang dan menjambaknya dengan frustasi. Bagaimana cara menjelaskannya pada Haruno Sakura bahwa ia─ ingin berubah. Bahwa ia kini memiliki tujuan yang baik? Tapi kali ini, ia merasakan kantuk yang teramat setelah dua hari tidak dapat tidur memikirkan wanita berhelaian merah muda yang sebenarnya sangat dekat dengannya. Sangat dekat, karena hanya tembok kokoh inilah yang memisahkan mereka.

.

.

.

Haruno Sakura membuka kelopak matanya secara perlahan ketika aroma sedap menerpa indera penciumannya. Ia sedikit meregangkan tubuhnya dan mulai bangkit. Sedikit menggosok matanya yang ternyata masih terdapat bekas jejaknya menangis semalam. Ahh, Uchiha Sasuke.. kenapa pria itu selalu berhasil membuatnya menangis? kenapa Sasuke selalu membuatnya seperti ini? digelengkannya kepala yang bermahkotakan merah muda itu dengan pelan. Kaki jenjangnya kini membawanya menuju dapur dan ia dapat melihat Uchiha tampan itu di sana─ di dapur dengan apron di sebagain badannya. Pria Uchiha itu terlihat sangat serius memasak.

Ia memutuskan untuk menyapa pria itu lebih dulu. Dua hari yang lalu keduanya seolah saling menghindar dan itu sama sekali tidak dewasa. "Ohayo, Sasuke-kun." sapanya disertai senyum tipis.

Sasuke yang mendengar sapaan Sakura menganggkat wajahnya. Ia balas tersenyum dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Balasan yang tak begitu buruk untuk menata kembali semuanya ..

"Masak apa hari ini?" tanya Sakura sambil menuangkan air putih pada mugnya.

"Macaroni Schotel. Kau suka?" balasnya yang diakhiri dengan pertanyaan.

Sakura tersenyum penuh arti, "Kau tahu, aku selalu menyukai masakanmu," bibir tipis pria itu menampilkan seulas senyum yang hampir tak nampak. "dari mana sih kau belajar memasak?"

Pria itu mengangkat bahunya acuh, "Tidak sengaja. Karena kerja di sana dan di sini. Berjuang untuk terus hidup membuatku terus mengasah kemampuan memasak. Meski begitu sejak dulu juga aku mahir memasak." Sakura mengangguk paham.

Yah, pagi ini mereka berbicara dengan tema yang sangat ringan. Sakura suka ini. Keputusannya untuk melupakan kejadian malam itu mungkin tepat. Terlebih Sasuke adalah pria yang sulit sekali mengekspresikan perasaannya. Pria itu cenderung menutup diri. Sakura yakin, jika saja pria itu tidak dibatasi oleh keluarganya, Sasuke akan menjadi orang yang benar-benar sukses dalam bidang apapun.

"Hari ini─ Aku akan ke kampus, kemudian aku akan merevisi tulisanku di kantor Izumi-nee. Bagaimana denganmu?" Sakura kembali bertanya sambil menduduki bangku tempat mereka makan bersama sambil berharap keadaan canggung diantara keduanya berlalu dan terus berlalu.

"Aku akan terus berada di dapur." Balasnya datar. Pria itu membuka open listrik dan mengeluarkan Macaroni schotelnya. Aromanya menggugah siapapun yang menciumnya tak sabar untuk mencicipinya.

"Makanlah ini!" Sasuke menyajikan secukupnya makanan itu ke piring Sakura. Kemudian pada piringnya. "Bolehkah aku meminjam dapurmu untuk waktu yang lama?" tanya Sasuke.

Sakura tediam, namun sedetik kemudian ia mengangguk. "Bagus. Aku akan mencoba beberapa menu masakan. Aku akan memulai usahaku."

"Membuat restoran?" tanggap Sakura disela kegiatan makannya.

Sasuke menyeringai. "Restoran rasanya terdengar sangat elit. Lebih tepatnya mungkin kedai atau cafe. Seperti itulah." Tuturnya lancar, Sakura kembali menyantap makanannya. Rasa masakan ini lezat dan seperti biasanya selalu lezat. Namun untuk hari ini, rasanya lebih lezat dan bertambah lezat dengan kebersamaan mereka.

.

.

.

Satu bulan merupakan waktu yang singkat bagi Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke. Mereka kini telah tinggal bersama selama dua bulan lebih. Ya, sekitar itu. Keadaan canggung dan wajah dingin Sasuke yang terlampau dingin pun hari demi hari kembali menghangat. Menjadi sosok Sasuke yang selalu cerewet pada Sakura. Keduanya bahkan mulai sering bertengkar dalam beberapa hal yang sebenarnya sangat tidak penting. Mulai dari Sakura yang merecoki Sasuke yang tengah masak, Sakura yang ngambek karena kegiatan menulisnya kerap diganggu Sasuke. Kemudian Sasuke yang pura-pura duduk di dekatnya, lalu kaki pria itu yang bergerak sesekali dan berujung berkali-kali hingga mengganggunya. Meniup-niup telinganya atau dalam memperebutkan acara televisi.

Oiya, kabar baik lain dari mereka adalah Sasuke sekarang telah membangun usaha kedainya. Memang masih dalam masa berkembang sih, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keduanya. Seperti membeli bahan makanan, tagihan listrik, air dan gas. Itu semua Sasuke yang menanggungnya. Dan Sakura yakin, kedai si pemilik onyx tajam itu akan semakin berkembang pesat dalam waktu dekat ini.

Namun, selain kabar baik tentunya ada kabar yang kurang baik pula.

Salah satunya adalah Sakura yang masih harus menjalani kencan diam-diamnya bersama Uchiha Shisui yang tak kalah tampan dan cool itu. Uchiha Shisui sering memberinya perhatian lebih, namun dengan tegas juga Sakura selalu membatasi. Ia selalu berkata bahwa ia belum bisa menerima Shisui sepenuh hati. Padahal kedua keluarga selalu ingin cepat-cepat menikahkan mereka. Dan ini tentunya membuat Sakura pusing.

Seperti saat ini, sudah pusing tugas kampus, pusing deadline pekerjaan menulisnya, sekarang ditambah tuntutan keluarganya. "Humppfff~"

"Kau kenapa?" tanya Sasuke saat mereka memiliki waktu makan malam bersama.

"Huh? Memang kenapa?" tanya Sakura polos.

Pria bermarga Uchiha yang entah masih dianggap keluarga mereka atau tidak itu mengedikkan bahunya. "Kau terlihat pucat dan tidak bersemangat."

Sakura mengangguk paham, "Pekerjaanku dan tugas dan.." wanita dengan emerlad indah itu mengerjapkan matanya ketika ia hampir mengatakan masalah yang selalu ia sembunyikan dari pria di hadapannya.

"Dan?" tanya Sasuke penasaran, "Seberat itukah menjadi seorang penulis sekaligus mahasiswi antropologi?" wanita itu mengangguk cepat-cepat.

"Aku akan membantu menyelesaikan tugas kuliahmu. Kau tahu aku ini cerdas, meskipun aku tidak satu jurusan denganmu.. tapi aku tahu sedikit-demi sedikit mengenai budaya. Dan kau tetap bisa fokus pada pekerjaan menulismu. Bagaimana?" tawar Sasuke dengan seringai super sombong andalannya.

Meski tahu Sasuke menyombongkan dirinya, Sakura menanggapinya dengan senyum sumeringah. Entah kenapa setiap hari yang ia lewati, setiap hari yang rasanya melelahkan dan beban yang ia emban menguap entah kemana ketika bertemu dan berbincang dengan pria ini.

"Terimakasih. Aku akan mengandalkanmu. Tapi tulisanku akan segera selesai." balasnya ceria. Tentu saja, ia sangat bahagia mendengar kalimat yang dilontarkan pria itu, kalimat yang seolah mengkhawatirkannya.

"Tentu saja kau bisa mengandalkanku. Ahh, jangan lupa aku ingin menjadi pembaca pertama." Sasuke memainkan apel ditangannya. Ia melemparnya ke tangan kanan, ke kiri ke kanan lagi.. terus seperti itu. Dengan nada rendah yang hampir tak terdengar ia berkata, "Jangan lupa periksakan kesehatanmu. Aku rasa kau kurang sehat. Mungkin kau butuh vitamin."

Sakura mendengus. Dasar pria datar, tapi cerewet. Makinya dalam hati.

Namun wanita itu tersenyum. Mengingat Sasuke ingin menjadi pembaca novelnya, Sakura sedikit bahagia. Pasalnya pria itu dulu sempat mengatakan bahwa ia sangat anti membaca cerita seperti ini.

"Baiklah, Sasuke-kun."

.

.

.

Dua minggu selanjutnya Sakura dapat menyelesaikan karyanya dengan baik. Ia tidak begitu banyak mendapatkan kritik dari Izumi. Emerladnya nampak bercahaya karena tidak sabar memberitahu Sasuke akan kabar bahagia ini. Hatinya berbunga-bunga ketika memikirkan pria dingin itu. Entah kenapa ia selalu ingin segera bertemu dengan pria itu. Tak mau menunggu lebih lama, kali ini ia menaiki taksi untuk menemuinya.

Kedai dengan nama 'SS' itu terlihat ramai sekali. Entah apa arti dari SS itu. Mungkin Sasuke Snow atau Smile Sasuke? Ahh, apalah itu tidak terlalu penting. Oh, astagaa.. Sakura melihat kedai itu terlihat ramai, namun seramai apapun kedai itu, selalu memiliki tempat spesial untuk Haruno Sakura.

"Kau datang di jam seperti ini?" tanya Sasuke heran sambil menyimpan granita yang terbuat dari buah-buahan. Minuman ini seperti es krim buah tanpa susu minuman khas negara Italia kesukaan wanita bernama sama dengan bunga kebanggaan Jepang ini hampir sama dengan sorbet. Hanya saja granita memiliki tingkat keasaman yang bagus dan memiliki kandungan gula yang lebih sedikit dari pada sorbet. Oh, Sakura benar-benar menyukainya.

Sakura mengangguk. Tiba-tiba saja ia ingin memeluk Sasuke. Dipeluknya Sasuke yang kini duduk di sampingnya.

"Hey! Apa ada hal bagus yang terjadi?" tanya Sasuke. Anehnya pria itu balas mendekapnya.

"Novelku akan segera rilis." Katanya malu-malu, astagaa... padahal ia ingin sekali memberitahu pria ini dengan sangat antusias. Tapi tidak! Sakura tidak akan melakukan hal memalukan itu!

Ia menggelengkan kepalanya pelan, "Engg~ kau sibuk?" tanya Sakura.

"Seperti yang kau lihat." Jawab Sasuke dengan raut menyesal. Membuat mood Sakura menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat dari yang baru saja ia lihat.

"Aku akan menunggu di rumah. Mungkin aku akan belajar memasak di rumah untuk merayakan ini."

"Tidak Haruno Sakura! kau tidak boleh, aku tahu kau akan menghancurkan apartemenmu dengan masakanmu itu."

"Sasuke! Kau sangat kasar!" Sakura memanyunkan bibirnya─ pura-pura ngambek.

"Baiklah-baiklah.. kau tunggu di sini atau di apartemen? Aku akan membawakan masakan spesial untuk kita."

"Kau berjanji?"

"Tentu."

.

.

.

Tapi, kedatangan Sasuke dengan pizza dan masakan Italia lainnya yang sangat disukai Sakura bagai tidak berefek apa-apa pada mood Sakura. Wanita itu lebih banyak diam dalam kegiatan makan malam mereka kali ini. Tidak ada tawa, bahkan suara cempreng nan melengking itu hilang entah kemana.

"Ada apa?" tanya Sasuke datar sambil memperhatikan wanita yang terus diam, "Kau sakit? Mendapat masalah?" Sakura balas menatap onyx yang kini menatapnya datar, namun mengandung kekhawatiran.

Kenapa sih Sasuke selalu khawatir padanya? Kenapa sih Sasuke terus baik padanya? Dan kenapa, kenapa dan kenapa pria itu.. selalu menempati hatinya? Jika begini, Sakura tidak akan pernah bisa lepas dari Sasuke. Ia akan terus mencintainya.

Tuhan! Haruno Sakura.. Pria itu baik dan khawatir padamu hanya karena ia merasa berhutang budi! Bukan berarti dia baik dan memperlakukanmu seperti ini karena ia mencintaimu! Tidak.. pria itu tidak pernah mencintaimu! Teriak suara di dalam pikirannya.

Tapi Sakura juga berharap bahwa Sasuke seperti ini karena pria itu juga memiliki perasaan padanya. Perasaan yang sama sepertinya.

Cinta.

Sepertinya tidak mungkin!

Pria itu bilang bahwa ia akan kembali melanjutkan skripsinya yang tertunda setelah mendapatkan uang yang cukup dan keberanian yang penuh untuk melawan keluarganya. Hal itu membuat harapan Haruno Sakura runtuh seketika. Ia hanyalah orang yang dianggap teman oleh Sasuke, atau sahabat layaknya pria itu berlaku sama pada Naruto.

"Sasuke-kun, terimakasih untuk makanannya. Aku ─ ingin beristirahat." Katanya dengan tatapan kosong. Ia melangkahkan kaki nya menuju kamar. Sementara Sasuke bergeming dengan tangan yang mengepal. Satu yang menjadi pertanyaannya.. kenapa... Sakura berubah seperti ini?


.

.

.

.

.


-TBC-


A/N:

Hehe maaf telat update ya saya ^^ Hari ini ultah saya.. jadi ceritanya saya lagi happy dan mood saya meningkat, so saya cicil satu-satu utang saya ehehe XD bagaimaan chap ini? Ditunggu R&Rnya Minna-san ^_^


Kuningan, 13 Juli 2018.