proudly present :
An EXO Fanfiction
KISS ME IF YOU CAN
Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari novel yang berjudul sama karya Charlie Philips
Terjemahan Indonesia : bacanovelonline
.
Happy Reading!
.
Beberapa hari berlalu saat Jongin bisa berpikir lagi untuk menghubungi Oh Sehun. Pada hari ia melihat cincin itu di berita TV, salah satu kliennya memiliki kabar terbaru yang ingin mereka siarkan secara langsung di situs mereka, jadi Jongin sibuk mengerjakannya dan tidak bisa ke mana-mana. Hari berikutnya, neneknya harus ke dokter gigi dan dia meminta Jongin menemaninya.
Akhirnya, pagi ini ia bisa menyempatkan diri mampir ke kantor surat kabar, tapi penjaga di meja keamanan tidak mengizinkannya naik karena ia belum membuat janji temu. Penjaga itu bilang sang reporter kebanjiran wanita yang ingin bicara padanya dan dia membuat aturan tegas agar tidak mengizinkan wanita pemburu-lelaki-atau-pengejar-uang mana pun mendekatinya.
Oh Sehun dilindungi lebih ketat daripada presiden. Itu tidak masuk akal bagi Jongin, tapi senyumnya yang paling menawan sekali pun tidak bisa menembus penjagaan.
Ia berusaha menghubungi Oh Sehun lewat telepon di kantor surat kabar, tapi teleponnya langsung masuk ke mesin penjawab dan saat akan meninggalkan pesan, sebuah suara digital malah memberitahunya mesin itu sudah penuh dengan pesan. Namun Jongin punya misi dan bertekad menemui lelaki itu. Ia hanya belum tahu caranya.
"Sedang melamun tentang apa?" Baekhyun, tangan kanan Jongin, bertanya saat ia bergabung di meja untuk pertemuan mingguan mereka di Starbucks.
Jongin mengangkat tatapannya dari laptop yang sejak tadi memang tidak ia perhatikan. "Selamat pagi juga."
Baekhyun, yang selalu tampak gembira, duduk di seberang mejanya, tersenyum. Rambut cokelat mudanya diikat ekor kuda longgar dan ikal-ikal lembut tergerai di kedua sisi wajahnya, Meskipun Baekhyun lima tahun lebih muda dari usia Jongin yang 29 tahun, sikapnya dewasa dan mereka bersahabat akrab.
Jongin melipat kedua lengan dan bersandar ke depan. Setelah menghela napas panjang, ia bercerita pada Baekhyun tentang perhiasan neneknya dan Oh Sehun, sang pahlawan, serta hubungan lelaki itu dengan cincin yang ia inginkan. "Jadi aku ingin membeli cincinnya, tapi mendekati lelaki itu untuk memperkenalkan diri saja aku tidak bisa, apalagi membahas masalah ini. Untuk apa seorang reporter dijaga begitu ketat?" Selain kenyataan bahwa lelaki itu amat maskulin dan seksi hingga sosoknya masih tersimpan dalam ingatan Jongin.
Baekhyun tertawa. "Seorang pahlawan memang tidak butuh penjagaan tapi seorang bujangan butuh. Pasti kau belum baca koran pagi ini. Di Internet atau koran cetak?"
Jongin menggeleng. "Tidak sempat. Ada apa?"
"Koran Daily Post punya fitur baru berjudul Bachelor's Blog. Ini kolom yang menampilkan salah satu bujangan di kota ini dan mengulas tindakan gagah beraninya, dengan harapan jika dia disorot terus para wanita akan berdatangan padanya dan dia akan bertemu si Nona Idaman. Tunggu sebentar. Biar aku tunjukkan blog itu padamu."
Jongin mengerutkan hidung. "Kedengarannya seperti acara The Bachelor di TV." Jongin tidak senang menonton acara televisi yang menampilkan sejumlah wanita berbaris memperebutkan seorang lelaki.
Walau kenyataannya memang tidak mudah untuk mendapatkan kekasih, seperti yang ia alami sendiri. Dalam satu-satunya hubungan serius yang pernah dijalaninya, Jongin membiarkan dirinya percaya seorang lelaki dapat menerima bahkan mengikuti hasratnya untuk terus bepergian—walaupun semua petunjuk justru mengatakan sebaliknya.
Karena Kris jurnalis freelance, tampak logis jika ia menganggap lelaki itu pasti ingin berkeliling dunia lalu memakai pengalamannya sebagai bahan tulisan. Tapi Jongin kerap kali harus menyeret lelaki itu agar mau ikut bepergian ke luar negeri.
Dengan bodoh Jongin mengabaikan keluhan-keluhan lelaki itu tentang gaya hidupnya yang cuek dan nomaden. Ia malah meyakinkan diri bahwa mereka pasangan sempurna, sampai Kris bertemu dengan wanita yang sudah bertahun-tahun kehilangan kontak. Hanya teman, begitu kata Kris dulu. Namun ia langsung mencampakkan Jongin demi "teman" itu, dan membuat Jongin kini lebih bijak dalam memilih lelaki. Kalau direnungkan kembali, Kris memang sering mengkritiknya dalam banyak hal selain bepergian, tapi Jongin memilih mengabaikan kenyataan itu karena toh hampir semua orang dalam hidupnya mengkritiknya dalam hal yang sama.
Menurut orangtua Jongin yang kecewa, Kris sekarang menjalani kehidupan impian di pinggiran kota seperti yang mereka dambakan untuk Jongin. Mimpi yang tidak pernah Jongin sukai. Tapi Seohyun dan Kim Jaejoong tidak mengerti—mungkin tak akan pernah—dan terus mengingatkannya akan kenyataan itu setiap kali mereka bertemu. Itulah salah satu alasan Jongin jarang sekali mengunjungi orangtuanya setiap kali ia berada di kota ini. Meskipun rumah mereka hanya sejauh setengah jam di luar kota.
Sedangkan Kris, Jongin menganggapnya sebagai satu pelajaran yang amat berharga. Sejak itu, ia punya prinsip hidup baru: cintai mereka dan nikmati mereka sampai tiba saatnya untuk pergi.
"Aha! Ketemu." Baekhyun memutar layar laptopnya menghadap Jongin, yang dengan senang hati memusatkan perhatian ke sesuatu selain masa lalu yang menyedihkan.
"Blog Bujangan hari ini. Pemilik cincinmu adalah bujangan terbaru. Dan itu menjelaskan kenapa susah sekali menemuinya," kata Baekhyun.
Jongin memandang foto close-up Oh Sehun, reporter surat kabar dan pemilik cincin yang ia incar. Dia tampak lebih mengesankan di foto daripada saat di TV, Matanya lebih biru dan rambutnya tebal dan lurus, cukup panjang untuk dibelai jemari wanita, tapi cukup pendek untuk menjaga sisi maskulinnya.
Baekhyun bersiul pelan. "Dia seksi. Tapi kurasa kau sudah tahu itu," katanya sambil nyengir.
Jongin berusaha keras tidak tersipu karena tertangkap basah dan beralih membaca artikel yang ada. "Jadi para wanita menyodorkan diri mereka begitu saja?" Ia mencoba kedengaran kaget, seolah tidak bisa membayangkan hal semacam itu.
Tapi sejujurnya ia bisa. Ia hanya tidak akan mengakuinya terus terang, ataupun menjadi salah satu dari kaum wanita putus asa yang mengejar-ngejar lelaki itu. Ia cuma tertarik untuk melakukan transaksi bisnis dengannya, tidak lebih.
Baekhyun bersedekap. "Kalau kau ingin bertemu langsung dengan si Oh Sehun ini, kusarankan pakai metode pintu belakang. Mungkin kau harus menunggu agak lama, tapi aku berani bertaruh dia akan keluar juga."
Jongin menyipitkan mata. "Apa kau yakin?" Karena ia tidak bisa membayangkan menunggu berjam-jam di lorong belakang kantor hanya berdasarkan harapan semu.
"Kau meragukanku?" Baekhyun gadis yang cerdik dan dia punya bakat membereskan pekerjaan apa pun yang dia inginkan, mulai dari sistem kode yang rumit sampai lelaki yang lebih rumit lagi.
Jongin mengangguk, walau enggan namun ia mengakui kata-kata gadis itu ada benarnya. "Kau ahlinya. Pintu belakang, kalau begitu."
.
.
Sehun susah payah mengangkat sebuah kotak kardus besar memakai lift turun ke basement lalu keluar lewat pintu belakang kantor surat kabarnya menuju tempat sampah biru besar. Ia bekerja lembur sampai lewat jam makan malam dan lorong belakang kantornya dinaungi bayang-bayang gelap saat menaruh kardus itu di tanah. Tempat sampah itu begitu tinggi sampai ia tidak bisa mengangkat kardus dan menuang isinya ke dalam, jadi terpaksa mengosongkan isi kardus itu dengan tangan. Ia membungkuk, meraup dua genggam surat beraroma parfum dari para wanita yang memuja setinggi langit lelaki yang baru saja dinobatkan sebagai The Bachelor dalam laman konyol bernama Bachelor's Blog dan membuang semua itu ke dalam tempat sampah.
Tragisnya, blog itu diterbitkan oleh surat kabar sialan tempat ia bekerja. Begitu tahu dirinya korban terbaru penulis misterius kolom itu, Sehun langsung memohon pada redaktur utama surat kabar tersebut agar menunda dulu proses percetakan. Tapi tidak seorang pun, bahkan reporter berita kriminal terhebat di surat kabar itu, sanggup mencegah mesin pencetak uang bernama Bachelor's Blog.
Ini pasti hukuman atas hal buruk yang pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya atau bukti dari pepatah kuno "apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai". Apa pun penyebabnya, ini sangat memalukan.
Ia sampai harus memerintah Lee Jonghyun, petugas keamanan di kantornya, agar menolak wanita mana pun yang ingin menemuinya tanpa perjanjian; ia tidak bisa lagi jalan kaki ke kantor, karena beberapa wanita gigih sudah tahu tempat ia tinggal dan mereka berkemah di luar pintu apartemennya seperti paparazi mengejar Britney Spears; dan di cuaca pertengahan musim panas yang indah ini, ia terpaksa menyewa taksi untuk menjemput di belakang kantor dan mengantarnya pulang. Hal itu membuatnya teringat sesuatu; ia harap Changmin sudah menunggu di sudut jalan saat urusan dengan kardus ini selesai.
Sehun membuang surat-surat yang tersisa. Beberapa ikat bunga dan sejumlah kotak cokelat menyusul. Kotak-kotak yang masih tersegel sudah ia kirim ke rumah sakit terdekat. Kalau para wanita itu cukup sinting untuk mengiriminya hadiah, mengira ia akan tertarik pada orang tak dikenal yang putus asa, ia tidak akan mencicipi apa pun yang mereka kirim padanya dengan bungkus tidak disegel. Almarhum ibunya, semoga dia tenang di alam baka, sudah mengajarinya dengan baik.
Saat ia merogoh ke dalam kardus untuk isi yang terakhir, tangannya menyentuh katun yang halus. Ia menarik benda itu keluar dan, sama seperti reaksinya waktu membuka kemasan yang asli, Sehun terbelalak heran melihat celana dalam wanita di tangannya. Syukurlah label masih menggantung di belakangnya. Khusus untuk kado ini, ia terlalu ngeri untuk menyumbangkannya dan ia akan segera mencemplungkannya ke bak sampah.
"Yang itu imut juga. Mungkin aku bisa memeriksa ukurannya dulu sebelum kau buang?"
Sehun mematung mendengar suara perempuan yang tidak dikenalnya.
"Aku bercanda. Bisa kau buang dulu semua itu sebelum aku memperkenalkan diri? Segala hal tentang Bachelor's Blog dan wanita-wanita putus asa dengan rencana lihai mereka membuat aku jadi gatal-gatal."
Sehun menangkap nada geli sekaligus takjub dalam suara itu.
Ia melempar celana dalam itu lagi ke kotak kardus lalu menuang seluruh isinya yang sudah lebih ringan ke bak sampah sebelum berbalik ke arah wanita yang sudah mengganggu tugas pentingnya. Dia tidak kelihatan seperti wanita-wanita seronok berambut pirang atau cokelat yang menyelipkan foto-foto mereka ke dalam surat—Sehun sempat mengintip beberapa sampai sebuah foto telanjang membuatnya kapok.
Ia justru berhadapan dengan gadis menarik berambut cokelat tua lurus dibelah pinggir dan dipotong sebahu. Helai-helai rambut panjang membingkai wajahnya yang cantik, sebagian tertutup oleh kacamata gaya berbingkai hitam. Namun ia masih bisa melihat tulang pipinya yang tinggi dan tatapan Sehun terarah ke bibir penuh dan seksi gadis itu. Selain mulutnya yang sensual, matanya adalah bagian yang paling mengesankan, meski berada di balik lensa kacamata bening. Selaput pelangi matanya lebar dan gelap, warnanya tidak jelas, berkat cahaya yang makin temaram.
Kacamata itu memberi kesan cerdas pada sosoknya yang tampak menggoda. Dia kelihatan seperti puzzle yang ingin Sehun uraikan lalu disusun lagi dengan pemahaman yang lebih dalam.
Tapi hanya karena ia tertarik pada gadis itu tidak berarti dia bukan salah satu penguntitnya. "Oke, aku sudah selesai membuang barang-barang tadi. Jadi siapa kau dan sedang apa di belakang sini?" tanya Sehun waspada.
Gadis itu tersenyum cemerlang dan Sehun dalam hati memuji giginya yang bagus. "Aku sedang menunggumu," jawabnya.
Sebersit rasa kecewa yang tidak masuk akal melanda Sehun mendengar jawaban gadis itu. "Yah, aku tidak berminat." Ia menjejalkan kedua tangannya ke kantung, lalu menuju ke arah jalan keluar dari lorong itu.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau belum dengar apa yang akan kukatakan?" seru gadis itu padanya.
Meski enggan, Sehun menghentikan langkah dan membalikkan badan. "Karena kau perempuan, kau menungguku di belakang kantor, dan kau mengakui kau tertarik!"
"Bukan padamu!" koreksi gadis itu, kedengaran ngeri membayangkan ide tersebut, dan membuat ego Sehun jadi sedikit terluka.
Memangnya apa yang salah dengan diriku, batin Sehun.
"Aku tertarik pada cincinmu!" Ia mengangkat satu tangan untuk menegaskan maksudnya, menunjukkan kelebatan beberapa cincin di jemari.
"Kau dan setiap wanita pencari suami di kota ini," gerutu Sehun, sambil berpikir di mana gadis itu akan menaruh cincin pertunangan jika jemarinya sudah penuh dengan beraneka ragam perhiasan.
Dia mengatupkan bibirnya yang sensual dan mengernyit. "Bukan begitu!" Kemudian ia mengaduk-aduk tas besar yang tergantung di bahu dan mengeluarkan sehelai foto. "Lihat. Ini nenekku dan dia memakai kalung yang kelihatannya pasangan dari cincin yang aku lihat kau terima di TV."
Kaget atas penjelasan gadis itu, Sehun mengambil foto itu, tapi cahaya matahari yang sudah nyaris lenyap membuat ia tidak bisa mengamatinya dengan jelas.
"Terlalu gelap untuk melihatnya," kata Sehun, mengulurkan foto itu kembali.
"Yah, percayalah padaku. Kelihatannya dua benda itu sepasang."
Sehun tahu bahwa cincin itu dulu merupakan bagian dari satu set perhiasan. Apakah nenek gadis ini benar-benar memiliki kalung pasangannya atau cerita ini hanya karangan agar bisa mendekati Sehun?
Insting reporter Sehun mengatakan bahwa gadis ini mengatakan yang sejujurnya. Dan harus ia akui bahwa gadis ini tidak bertingkah seperti wanita yang tertarik pada bujangan terbaru kota ini.
Pengakuan gadis itu bahwa dia tidak tertarik pada dirinya mengusik perasaan Sehun. Apalagi karena ia justru penasaran pada gadis itu—dan bukan hanya karena dia punya hubungan dengan cincin miliknya, yang sekarang ia simpan baik-baik di kantung depan celana.
Tapi Sehun tidak berniat menunjukkan cincin itu sampai tahu lebih banyak tentang cerita dia. "Dari mana nenekmu mendapatkan kalungnya?" tanya Sehun, dalam hati menebak-nebak apakah gadis itu memiliki kalung tersebut dari tangan kedua atau ketiga setelah benda itu dicuri.
"Tunggu, apa menurutmu kita bisa melanjutkan pembicaraan ini di tempat lain? Tempat mana saja tidak masalah buatku. Bau sampah ini membuatku mual." Gadis itu mengibaskan tangan di depan wajah, hidungnya mengernyit.
Sehun menggeleng dan nyengir. "Pintar sekaligus cantik."
Di balik lensa kacamatanya, gadis itu membelalak lebar.
"Begini saja. Aku harus pulang dan mandi. Kau pasti tidak tahu berapa banyak surat yang barusan aku buang tadi dilumuri parfum. Kau mau minum dan bertemu lagi denganku nanti?" Ia mengundang gadis itu secara spontan, tapi saat menunggu jawabannya, jantungnya mulai berdegup cepat.
Gadis itu memiringkan kepala. "Kau akan bawa cincinmu?"
Sehun mengangguk. "Kau akan bawa fotomu?"
"Tentu saja."
"Punya pulpen?" tanya Sehun, berusaha terlihat santai padahal sesungguhnya ia kegirangan membayangkan akan bertemu gadis itu lagi.
Dia merogoh tas besarnya dan mengulurkan pulpen pada Sehun. "Ini. Pakai ini saja." Dia membalik foto yang dipegangnya.
"Bagaimana kalau pukul delapan?" tanya Sehun.
"Boleh saja."
Sehun menulis nama bar dan resto milik ayahnya, tempat yang dibuka lelaki itu setelah pensiun. Para polisi sering berkumpul di sana saat rehat atau selesai bertugas. Bir di sana enak dan makanannya lezat. Suasananya cukup santai untuk pertemuan bisnis dan terletak di jalan yang ramai sehingga gadis itu akan merasa aman bersama orang yang baru dia kenal. Dan itu membuat Sehun teringat. "Kurasa kita belum sempat berkenalan," ujarnya.
"Namaku Kim Jongin." Gadis itu mengulurkan tangan dan Sehun menjabatnya.
Sehun tersenyum, menikmati rasa telapak tangan gadis itu di tangannya. Halus dan feminin, tangannya mungil, tapi ia yakin gadis ini mandiri dan bisa membela dirinya sendiri. Ia suka semangat dan tekadnya yang gigih.
"Dan kau Oh Sehun yang terkenal itu," kata Jongin sambil melepaskan genggamannya.
Sehun memandangnya penasaran.
"Bujangan terbaru tidak perlu memperkenalkan diri lagi." Gadis itu mengerutkan hidung, mencemooh status terkini Sehun.
"Jadi kau benar-benar tidak suka dengan Blog Bujangan yang sedang heboh ini?" tanya Sehun, tertarik.
Jongin menggeleng. "Wanita yang menghargai dirinya sendiri tidak akan mengejar-ngejar lelaki hanya karena dia lajang dan punya sebuah cincin…" Suaranya. melemah dan ia nyengir, tampaknya menyadari bahwa ia mirip dengan apa yang baru saja ia gambarkan.
Sehun tertawa. "Tenang, Jongin. Kita tadi sepakat bahwa kau tidak tertarik padaku," ujarnya dengan suara lebih serak daripada biasanya.
"Siapa bilang?" Jongin mengambil kembali foto itu dan memasukkannya ke tas. "Sampai jumpa jam delapan." Setelah melambai singkat dia berbalik dan bergegas melangkah keluar dari lorong itu, memberi Sehun kesempatan untuk memandangi keseluruhan tubuh gadis itu yang indah, terbungkus celana jins putih dan tank top longgar, saat dia berjalan pergi.
.
Jongin ke apartemen neneknya di West Side, ingin segera mandi serta berganti pakaian demi janji temu dengan Oh Sehun.
"Oh Sehun" Ia membiarkan nama itu meluncur dari lidah, licin dan ringan, seperti Kahlua dan krim, minuman kesukaannya.
Ia memasukkan anak kunci ke lubang pintu dan masuk ke apartemen. Seperti biasa, wangi bunga violet, parfum kesukaan neneknya, langsung menyerang indra penciumannya.
"Nenek? Kau di rumah?" panggil Jongin.
Tidak ada jawaban. Taeyeon pasti ada di tempat Jessica di ujung lorong. Lalu ia menuju kamar tidurnya, menyalakan lampu sambil berjalan di dalam apartemen. Neneknya lebih suka suasana gelap dan tirai-tirai tebal ditarik rapat menutupi jendela-jendela tua. Jongin menghidupkan beberapa lampu.
Dalam kamarnya, ia, menggeledah lemari pakaian, mencari sesuatu yang pantas dikenakan untuk pertemuan bisnis yang bukan kencan, tapi bersama lelaki yang ingin ia buat terkesan. Ia bukan orang yang biasa mengumpulkan banyak barang, jadi benda-benda yang ia miliki hanya yang benar-benar disayangi dan dibutuhkan. Ia tidak pernah terpaksa menguasai seni bepergian dengan sedikit bawaan. Hal itu ia lakukan secara alamiah. Setelah mengamati sekilas. lemarinya ia memilih gaun musim panas tipis dan sandal jepit bunga-bunga.
Setengah jam kemudian, ia sudah selesai mandi, memulas sedikit rias wajah, dan mengeringkan rambut yang belum lama ini ia gunting. Ia menambahkan bando tipis oranye yang cocok dengan gaunnya, menyemprotkan parfum kesukaannya dan siap untuk pergi.
Hanya gelitik ringan dalam perutnya yang mengisyaratkan bahwa malam ini mendadak jadi jauh lebih penting baginya, bukan sekadar transaksi untuk membeli cincin tersebut.
Saat berangkat untuk menemui Sehun tadi, ia tidak berharap apa-apa. Memang dia kelihatan tampan di tayangan berita, tapi juga malu saat menerima hadiah itu dan bersikap sedikit ketus pada si reporter TV. Jongin tidak menyiapkan diri terhadap dampak bertemu dengannya langsung. Setelah Sehun tidak lagi bersikap waspada terhadapnya, ternyata dia betul-betul memesona.
Dan dia menyebut Jongin cantik. Rasa hangat menjalari pipinya saat mengingat itu. Kemudian sentuhan lelaki itu. Tangan Sehun tidak kasar akibat kerja lapangan, tapi juga tidak halus dan dimanikur. Yang jelas jemari Sehun terasa pas saat menggenggam telapak tangan Jongin dan saat itu juga getaran menderas sampai ke ujung jari kaki serta bagian tubuh lain yang sebaiknya tidak terlalu ia pikirkan untuk saat ini.
Karena tidak mendengar suara apa pun di dalam apartemen jadi Jongin mengira neneknya belum pulang. Kelihatannya ia bernasib baik karena bisa menyelinap keluar tanpa harus menjawab pertanyaan mau pergi ke mana. Jongin ingin membuat kejutan dengan perhiasan itu di pesta ulang tahun neneknya, jadi makin sedikit dia punya kesempatan untuk bertanya macam-macam, makin baik.
Jongin akan meninggalkan pesan untuk neneknya agar dia itu tidak cemas. Jongin mengambil tas kecilnya, memastikan sekali lagi kalau ia sudah membawa foto neneknya dengan nama dan alamat restoran ditulis di balik foto tersebut lalu menuju lorong mungil dan melewati area ruang kerja dekat pintu.
Siulan jail membuat langkahnya terhenti dan Jongin berbalik lalu melihat neneknya duduk di kursi besar di sudut ruangan.
"Mau ke mana kau berpakaian secantik itu?" tanya Taeyeon.
"Nenek mengagetkan aku! Aku tidak tahu Nenek sudah pulang." Jongin menekan dada dengan tangan, jantungnya berdegup kencang. Neneknya meletakkan rajutan yang sedang dia kerjakan di pangkuan.
"Aku tadi sudah memanggil. Pasti kau yang tidak dengar."
Jongin mengangguk. "Yah oke, aku akan pulang agak malam. Tidak usah menunggu."
Ia melangkah menuju pintu, tapi neneknya berkata lagi, "Kau belum menjawab pertanyaanku."
Padahal aku sudah nyaris lolos, pikir Jongin. "Pertanyaan apa?"
"Jangan pura-pura bodoh denganku. Kau mau pergi kencan ya?" tanya Taeyeon, matanya membelalak penasaran.
Tidak ada yang lebih diinginkan neneknya selain melihat Jongin menikah, agar nanti ada orang yang menjaganya begitu Taeyeon sudah tiada. Pendapat paling munafik dari wanita yang, meskipun dia sendiri menikah, selalu mengatakan bahwa ia lebih mirip dengan tokoh Rizzo yang mandiri dan menikmati hidup di film Grave daripada Sandy yang berlagak sopan dan polos. Kecuali perilaku yang gonta-ganti pasangan tidur. Jongin harap.
Sejak dulu ia selalu mengagumi neneknya dan tidak pernah menganggap terlalu serius desakan Taeyeon untuk menikah. Ia juga tahu sebaiknya ia tidak memberi Taeyeon celah untuk masuk dan ikut campur ke dalam kehidupan pribadinya.
"Maaf mengecewakanmu, Nek, tapi ini urusan pekerjaan."
Alis Taeyeon yang ditebalkan pensil alis terangkat tidak percaya. "Ah, yang benar saja. Jangan membohongi orang yang lebih pintar berbohong. Kau berpakaian terlalu cantik untuk sekadar klien biasa. Jadi? Apa aku kenal dia? Dia mau mengajakmu ke mana? Apa ini pertama kalinya kau pergi kencan dengannya? Apa dia lelaki muda yang baik?"
Jongin mendesah dramatis, tidak bisa berkutik namun tidak kalah. "Terserah Nenek mau bilang apa," katanya, walaupun ia tidak bisa menahan tawa mendengar berondongan pertanyaan Taeyeon yang penuh semangat. "Tidak, kau tidak kenal klien yang ini, kami akan bertemu di tempat bernama Jack's Bar and Grill. Ya, ini pertemuan pertama kami dan tentu saja dia lelaki muda yang baik. Kalau tidak, aku pasti tidak akan mau menemui dia sebagai klienku."
"Aku tidak percaya."
Jongin melirik jam tangan. "Yah, itu terserah Nenek. Aku harus pergi sekarang supaya tidak terlambat." Ia meniup cium jauh ke neneknya. "Aku sayang Nenek."
Jongin tersenyum. "Selamat bersenang-senang! Ingat, lakukan semua yang akan aku lakukan kalau aku jadi kau… dan lebih dari itu!"
Jongin memutar bola mata dan keluar dari pintu menuju kencan yang sebetulnya bukan kencan melainkan pertemuan bisnis—dengan lelaki terseksi yang pernah ia kenal.
.
Ponsel Sehun berdering tepat sebelum ia sampai di pintu Jack's Bar and Grill. Karena datang terlalu cepat untuk janjinya dengan Jongin, ia berhenti sejenak untuk menerima telepon itu di luar karena suasana yang lebih sepi.
"Ini Sehun," katanya.
"Ini Im Siwon. Aku pemilik toko perhiasan Vintage Jewelers. Kudengar kau menyelamatkan nyawa anak perempuan dan cucu perempuanku."
Sehun tidak yakin tindakannya sampai sejauh itu. "Aku hanya kebetulan ada di tempat yang tepat pada saat yang tepat, Tuan Im."
"Yah terima kasih, aku sangat bersyukur," kata pria itu dengan suara parau.
"Sama-sama."
"Tapi aku ingin cincin itu kembali."
Pernyataan tanpa basa-basi itu membuat Sehun terperangah dan saat cincinnya disebut-sebut, nalurinya langsung siaga penuh.
"Ayah!" Sehun mendengar suara anak perempuan pria itu di latar belakang.
"Tunggu sebentar," kata Siwon.
Sehun tetap menempelkan teleponnya ke telinga, berusaha mendengarkan apa yang sedang mereka bahas di seberang sana. Karena ayah dan anak itu sedang bertengkar ia sama sekali tidak kesulitan untuk menguping.
"Ayah menyebalkan sekali!" Wanita itu mencerca ayahnya. "Aku sudah bilang lelaki itu menyelamatkan nyawa kami."
"Dan aku bersyukur, tapi kau tidak berhak memberi dia sesuatu dari kotak pribadiku!" sahut Siwon.
"Kau ini penimbun barang yang sudah tidak berguna, Ayah. Kalau semua terserah Ayah, akan lebih banyak barang di laci daripada di toko. Untung kadang aku bersih-bersih. Paling tidak aku menghasilkan laba untuk toko."
"Kau pernah menjual barang-barang lain milikku?" Siwon kedengaran marah besar dan meninggikan suaranya.
"Toh Ayah juga tidak pernah menyadarinya! Penimbun sampah, seperti yang pernah aku lihat di Oprah. Sekarang minta maaf ke Tuan Oh dan biarkan dia menyimpan cincinnya dengan tenang."
"Halo, kau masih di sana?" tanya Siwon.
"Masih." Sehun tidak tahu apakah ia harus senang atau jengkel pada Im Siwon.
"Dengar ya, aku akan memberimu hadiah lain asal aku bisa mendapatkan cincinku kembali," kata Siwon, jelas mengabaikan anak perempuannya.
Jadi cincin tersebut berarti khusus bagi Im Siwon. Apa dia tahu bahwa itu barang curian? Apa dia juga terlibat dalam pencurian itu? Atau dia hanya penimbun barang tak berguna, seperti kata anaknya?
"Kau ini tidak masuk akal!" seru anak perempuannya. Suara pintu dibanting keras terdengar di latar belakang.
Sehun meringis. "Aku betul-betul ingin menolongmu, Tuan Im, tapi aku tidak bisa."
"Hey!"
"Maaf, tapi aku harus pergi." Sehun mematikan telepon, lalu menepuk-nepuk kantung tempat ia menyimpan cincinnya.
Tentu ia merasa bersalah karena tidak mau mengembalikannya. Toh sejak awal ia memang tidak mau menerima hadiah dari si pemilik toko. Tapi berbekal informasi terbaru ini, Sehun tidak bisa menyerahkannya begitu saja pada Im Siwon. Siapa yang bisa menjamin bahwa Siwon pemilik sah cincin tersebut? Dan Kim Jongin juga menaruh minat.
Benda ini pasti lebih dari sekadar cincin biasa; rasa penasaran Sehun sebagai reporter mengusiknya, sedangkan cerita dibalik cincin ini membangunkan sisi penulis kisah fiksi dalam dirinya. Sampai ia berhasil menyingkap misteri di balik pencurian itu, cincinnya tidak akan pergi ke mana pun.
.
End for This Chapter
