(1 Months, 10 Weeks)

Keadaan John seperti tidak kunjung membaik untuk beberapa minggu kedepan. Dan dia juga terlalu sibuk untuk memeriksakan dirinya sendiri, karena pekerjaan di klinik dan Sherlock yang tak berhenti membawa kasus kriminal pulang ke rumah.

Mereka saat ini sedang dalam perjalanan menggunakan taksi ke sebuah TKP yang ada di London Timur; Lestrade memberikan lokasinya sejam yang lalu melalui sms.

John sudah tidak terlalu beraroma seperti Sherlock, makanya dia berani pergi jauh sekarang. Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya di mana dia benar-benar memiliki aroma Sherlock di seluruh tubuhnya, membuat orang-orang menengok ke arahnya karena aromanya tercium kuat dan manis. Beberapa diantara mereka menyeringai, karena percampuran bau menandakan kalau pasangan itu habis melakukan seks (nonstop).

"Hm. Lingkungan tempat mayat kita berada adalah lingkungan yang rawan kejahatan dan mungkin senjata pembunuhnya masih ada di dekat TKP."

Sherlock tak berhenti menggumamkan sesuatu berkaitan dengan kasus barunya ini. Ya tentang korban, mayat, TKP, senjata pembunuh, dan lain-lain.

John berusaha untuk tak mendengar ocehan pasangannya karena sumpah deh, dia mengatakan 'mayat' dan 'pembunuhan' menggunakan nada ceria. Membuat John entah kenapa merasa muak.

Sudah begitu dia mengalami sakit kepala sejak kemarin. John tidak dapat langsung berdiri setelah duduk, karena jika begitu, rasa pusing akan menyerangnya dan membuat matanya gelap sesaat.

Dia sudah merasakannya kemarin pas dia lagi duduk di sofa dan Sherlock yang ada di dapur memanggilnya. John langsung mengangkat tubuhnya dari sofa terus rasa pusing menyerangnya. Dia terjumpal balik ke sofa, lanjut duduk disana sampai pusingnya hilang.

Dan dia tengah merasakan rasa pusing itu sekarang.

"John," Sherlock engeh kalau sepanjang perjalanan John diam saja sambil menopang dagunya dengan telapak tangannya. "'Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya.

"Uh?" John menengok kesampingnya, menemukan Sherlock dengan raut wajah khawatir sedang menatapnya. Dia tersenyum melihat pasangannya mengkhawatirkan dirinya, "Aku tidak apa-apa, Love."

Tentu saja John berbohong.

Apanya yang baik-baik saja, ini kepala rasanya mau pecah, woy. Dasar Alpha tidak peka.

15 menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. TKP mereka hari ini adalah gudang tua bekas pabrik kain, di luar pabrik tua itu ada garis polisi sudah terbentang dan beberapa mobil polisi siap siaga. Lestrade berdiri di depan pintu masuk pabrik, sang Beta sepertinya memang menunggu kehadiran Sherlock dan John.

Sherlock seperti biasanya kabur duluan dari taksi, dia tidak sabar ingin melihat apa yang ditawarkan oleh kebodohan manusia hari ini! Dia sudah seperempat jalan menuju garis polisi, sementara John tertinggal dibelakangnya untuk membayar taksi.

John seharusnya meminta Sherlock untuk menunggunya karena setelah dia bangkit keluar dari taksi, rasa pusing yang sama menyerangnya. Dia hampir jatuh ke tanah apabila dia tidak berpegangan sebentar pada pintu taksi.

"Dammit..." Umpat John dibawah nafasnya. Ayo, John. Jangan terlihat lemah begini, for god sake's kamu itu tentara! Dia memerlukan sesaat untuk menggapai dirinya kembali.

Setelah merasa pusingnya berkurang, John mengikuti langkah Sherlock. Dia melihat pasangannya itu berbicara dengan Lestrade.

"Ah, John," Inspektur detektif Lestrade menyapanya duluan. "Hallo." Dia menyunggingkan senyum pengertian.

John mengangguk kecil. "Hallo, Greg." Balasnya.

Dia dan Lestrade cukup akrab, karena mereka berdua sama-sama terikat dengan yang namanya keluarga Holmes. John adalah pasangan dari Sherlock Holmes sedangkan Lestrade sekarang lagi dekat dengan Mycroft Holmes, kakaknya Sherlock. Jadi bisa dibilang kedua pria Omega dan Beta ini sering dibuat merana sama Holmes tersayang mereka.

Tiba-tiba Sherlock menempatkan tangannya di lengan John, "Ayo John, kita masuk kedalam. Aku membutuhkan keahlianmu." Dia menyeretnya masuk kedalam gudang. John sampai gak bisa ngomong apa-apa karena Sherlock menuntunnya bagai orang tidak mampu berjalan.

Lestrade memberikan senyum kecil pada John, dia lalu menghiraukan kedua pasangan itu dan pergi menuju anak buahnya yang lain.

Di dalam TKP, Sherlock dan John disuguhkan dengan pemandangan super grotesque. Mayat seorang wanita ditemukan tergeletak di tengah-tengah gudang, berpakaian lengkap, namun seluruh badannya penuh dengan luka sayatan dan darah. Bola matanya setengah keluar dari tempatnya.

Sumpah, John melihat mata Sherlock seperti berbinar-binar saat melihat mayat itu. Dia langsung menarik John untuk melihatnya lebih dekat.

"Hn, di bunuh di tempat lain, darah yang keluar tidak sebanyak seharusnya, dan pencongkelan mata dilakukan untuk memberikan pesan kematian yang jelas." Deduksi Sherlock pas dia bertemu dengan si mayat lebih dekat.

Anderson yang lagi menangani mayat tersebut mundur kebelakang, dia tahu untuk tidak berbuat macam-macam kepada Sherlock yang sedang berdeduksi. Lagipula memang sudah sifat alamiah dari seorang Beta untuk tunduk kepada Alpha.

John melihat Anderson dan yang lain pergi meninggalkan mereka. Hanya segelintir petugas lalu-lalang di dekat mereka.

"John?" Sherlock memanggil John, mengarahkannya kepada mayat yang ada dibawah kaki mereka. "Bagaimana menurutmu?"

"Oh?" Sontak John melihat ke arah yang di tunjukan oleh Sherlock. Anehnya pemandangan menjijikan penuh darah dan bau yang menyengat ini tidak membuatnya merasa sakit. "Oh iya. Aku lupa." Ucapnya. Bau mayat tidak membuatnya sakit, tapi kemarin bau keju busuk hasil eksperimen Sherlock membuatnya muntah-muntah seharian.

John berlutut di depan mayat itu dan mulai menginspeksinya. Sherlock memberinya sarung tangan sintetik untuk digunakan sebelum menyentuhnya. John memulai inspeksinya dengan mencari luka-memar tersembunyi, merasakan tulang yang bergeser dibawah daging, dan menerka seberapa dalam luka sayatannya.

Sherlock ikut bertekuk lutut disampingnya. Mereka berbincang tenang soal apa yang kemungkinan besar terjadi pada wanita malang ini.

Dari kejauhan para petugas melihat mereka aneh. Bukan, bukan karena mereka itu pasangan Alpha-Omega yang agak jarang, tetapi lebih kepada:

'Gimana bisa itu orang aneh berdua berbincang-bincang santai selayaknya sedang minum teh di depan mayat yang badannya hampir keputus?!'

Tapi mereka semua dapat merendam rasa kepo berlebihan mereka itu dan melanjutkan hidup mereka.

"Kurasa cukup, sudah tak ada lagi yang bisa kita dapatkan disini."

Sherlock mendadak berbicara, dia langsung bangkit dan sedikit membersihkan jas panjangnya dari debu yang menempel.

"Oke." John pun mengikuti langkah Sherlock, dia juga mau berdiri.

Namun pas dia menaikan badannya dari atas tanah, John di serang oleh rasa pusing. Dia bisa merasakan kedua kakinya kehilangan tenaga dan dia hampir jatuh ke depan...

Jika tidak ada Sherlock yang langsung menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh tanah dingin.

"John!" Sherlock setengah berteriak saat dia menahan tubuh John. Dia refleks melingkarkan kedua tangannya di perutnya, bagi Sherlock, John tidaklah terlalu berat.

Mendengar keributan itu, sontak seluruh pasang mata jatuh kepada mereka semua. Sherlock tak bergerak, begitupun dengan John yang setengah tubuhnya di tahan oleh Sherlock.

"Sh-Sherlock," John merasakan mukanya memanas. God, ini sangat memalukan sekali! "Le-lepaskan aku." Katanya.

"Yakin?" Sherlock memberinya tampang curiga. Yang ada pegangan tangannya semakin kuat.

John menganggukan kepalanya dengan cepat, "Y-Yakin. Lepaskan aku, Sherlock. Mereka memperhatikan kita..."

Meskipun masih direndung dengan perasaan was-was, Sherlock akhirnya melepaskan John. Dia membantu pria Omega itu untuk berdiri tegap.

Lestrade melihat kejadian itu dari kejauhan, dia berlari kecil mendatangi Sherlock dan John.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya sang DI. Memicingkan mata pada Sherlock dan John.

"Akh-tidak apa-"

"John merasa tidak enak badan. Dan aku sudah selesai dengan TKP ini. Aku akan mengirimkan analisisku melalui email sesampainya di flat nanti."

Belum sempet John buka mulut buat ngomong ke Lestrade, Sherlock main ngerocos aja. John sampai melototi Sherlock pakai wajah terkejut.

"Ah? Benarkah? Kau seharusnya tidak membawa John ikut bersamamu apabila dia sedang merasa tidak sehat, Sherlock." Komentar Lestrade, sedikit merengut karena menganggap Sherlock tidak perhatian dengan pasangannya sendiri.

Eraman kesal lepas dari mulut Sherlock. John refleks menelan ludah, dia sudah membuat Sherlock kesal hari ini... Sherlock yang mood-nya sedang buruk adalah Sherlock yang seribu kali lebih bikin gondok dari biasanya.

Setelah bebas dari Lestrade, Sherlock langsung membawa John pergi pulang menaiki taksi. Selama perjalanan, mereka diam saja. Sherlock sibuk mengetik sesuatu di blackberry-nya sementara John menatap keluar jendela, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sesampainya di depan 221B, John adalah yang pertama untuk turun. Dia mengeluarkan suara erangan kecil pas rasa sakit kepala yang familiar menyerangnya lagi. Dia memegang sebelah kepalanya, mengerang kesal sendiri.

Kemudian John merasakan ada dua pasang tangan menyentuh pundaknya dari belakang. Ternyata Sherlock, dia lalu mendekatkan wajahnya ke sisi John dan berkata,

"Kamu seharusnya bilang kepadaku kalau kamu tidak dalam kondisi fit hari ini." perkataannya tajam, walaupun nada bicaranya tenang dan lembut.

Tubuh John menegang dibawah sentuhan Sherlock. "Maafkan aku, Sherlock... Maaf karena sudah membuatmu terlihat buruk di depan Lestrade dan yang lain..." Dia jadi termerenung sedih.

"Apa?" Sherlock malah mengeluarkan suara bingung. Dia memutar badan John kearahnya, "John, tatap aku." Dia memaksa John untuk menatapnya.

John tidak berani buat menatap Sherlock balik. Dia merasa sangat malu dengan kejadian yang sudah dia timbulkan hari ini.

"Aku benar-benar tidak perduli soal pandangan orang lain. Yang aku pedulikan adalah kamu," geram Sherlock, terlihat melas sekarang. "Kalau kamu kenapa-kenapa, aku..." Dia terhenti sejenak, karena otaknya dipenuhi akan kemungkinan buruk yang bisa terjadi kepada John apabila dirinya tidak ada.

Menyadari pasangannya mengalami distress, John buru-buru mendiamkannya dengan ciuman kecil di pinggir bibir. Sang mantan tentara tersenyum padanya, "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Love. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang."

John adalah pria yang memegang teguh seluruh janji yang keluar dari mulutnya, makanya Sherlock percaya pada perkataannya.

"Baiklah, John." Merasa mendapat kepastian, Sherlock membiarkan dirinya untuk tenang.

Kedua pasangan itu lalu pergi masuk ke dalam gedung 221B dengan berpegangan tangan, Sherlock meraih tangan John dan membawanya masuk.

...Padahal sebenarnya Sherlock memegang tangan John untuk mencegahnya jatuh lagi ketika berjalan. Y