Chapter 3

Tuhan bila masihku diberi kesempatan

Izinkan aku untuk mencintanya

Namun bila waktuku telah habis dengannya

Biar cinta hidup sekali ini saja

( Namikaze Naruto )

Disclamer of Masashi Kishimoto

Hurt and Romance

Naruto.U. Hinata H

Konkai dake wa

Chapter 3

Sudah seminggu Naruto resmi menjadi mahasiswa Universitas Konoha dan juga sudah seminggu ini Naruto merasa ada yang mengikutinya. Sebenarnya Naruto tahu siapa itu tapi Uzumaki muda itu memilih untuk diam saja.

Seperti saat ini, Pemuda pirang itu sedang menyusuri koridor menuju kelasnya kala ia merasa ada seseorang yang meniti langkah mengikutinya. Pemuda itu tetap bungkam dan terus berjalan menuju ruangan musik yang memang menjadi tujuannya. Ah bahkan saat ia melenggang dengan aksen tak acuh melewati pintu ruangan ia merasa sosok itu memandanginya.

' Berhenti berpikiran yang tidak tidak , Bisa saja ia setujuan denganmu ' Ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri. Pemuda pirang itu menggelengkan kepala, lantas menyamankan diri di bangkunya.

Bel telah berbunyi lima belas menit yang lalu, Tapi dosen yang harusnya mengajar para mahasiswa jurusan musik itu belum datang. Hinata menatap pintu ruangan yang tertutup rapat, Tak ada tanda tanda akan kedatangan sang sensei.

" Kurenai-sensei mana? " Gadis berambut pirang yang duduk di barisan kursi terdepan bertutur, sama sekali tak merasa perlu menyembunyikan tampang bosannya.

Brak!

Tepat beberapa detik setelah sang gadis yang diketahui bernama Yamanaka Ino bicara, pintu terbuka paksa, menampilkan seorang dosen bernama bersurai kecoklatan yang -menurut gosipnya- akan segera menikah itu.

" Gomen, Sensei ada urusan tadi " Ia berkata, para mahasiswa disana hanya mengangguk. Sang Yamanaka yang tadi bersuara menghela, membuat Hinata yang duduk di belakangnya tersenyum tipis.

" Jadi " Kurenai-sensei memulai perkataannya, " Hari ini kalian akan... " Para muridnya menatapnya, berharap agar praktik kali ini berjalan tanpa memalukan diri mereka sendiri.

" Melatih vokal kalian, atau singkatnya menyanyi "

Hening. Diam. Sunyi. Senyap.

" Huh? " Kurenai mengangkat sebelah alisnya kala para muridnya hanya diam saja sambil memandanginya horor. Sebagian dari para Adam disana menatap Kurenai dengan tatapan ' gadis gadis itu bisa memecahkan kaca jendela jika mereka menyanyi, sensei '

Maksudnya sebagian mahasiswi disana yang mengidolakan si pangeran kampus, tau kan bagaimana mereka berteriak.

" Baiklah siapa yang mau pertama mencoba adalah ?" kata Kurenai sambil melihat buku absen mahasiswa.

" Umm.. Baiklah nona Hyuuga silahkan maju " ucap Kurenai sambil melirik gadis bersurai lavender yang nampaknya agak terkejut mendengar penuturannya.

Sang Hyuuga menghela nafas sebelum beranjak berdiri, Ino berkedip menyemangati. Ia melangkah sambil menatap deretan alat musik di depan sana

" Kau ingin memainkan apa Hinata ?" tanya Kurenai, jelas tau salah satu muridnya itu sedang memutuskan.

" Piano sensei " Hinata menjawab, Gadis itu menunduk, tau jika seisi ruangan menatapnya. Oh, tidak semuanya sebenarnya.

Hinata duduk dikursi yang ada didepan sebuah Grand Piano berwarna hitam mengkilap. Ia menarik nafas , jari jemarinya mulai menekan tuts tuts piano itu dengan lincah.

" Sebelumnya tak ada yang mampu... "

Suara jernih Hinata mulai terdengar, membuat pemuda pirang yang duduk di sudut ruangan mengalihkan perhatiannya dari pemandangan di luar jendela ke gadis yang permainan pianonya nampak luar biasa memukau dimatanya itu.

" Mengajakku untuk bertahan, di kala sedih. "

" Sebelumnya ku ikat hatiku... Hanya untuk aku seorang... "

Tanpa Hinata sadari, kelopaknya mulai terpejam. Kenangan itu...

" Sekarang kau disini... Hilang rasanya

Semua bimbang tangis kesepian "

Sosoknya duduk sendirian, entah ia sengaja menjauhkan diri dari keramaian teman teman sekelasnya atau memang ia tidak diterima berada di antara mereka.

" Sendirian saja? " Pemuda pirang itu tiba tiba telah menjajah kursi disampingnya. Senyum manis terukir di wajahnya.

" Kau buat aku bertanya... Kau buat aku mencari...

Tentang rasa ini, aku tak mengerti "

Ia menatap pemuda itu dengan tatapan agak terkejut. " Kau... Tidak menjauhiku? "

Itu awal yang bagus untuk pertemuan mereka, seharusnya.

" Apakah sama jadinya bila bukan kamu... "

Permata amethyst itu kembali menampakan dirinya, dan tanpa sengaja langsung bertubrukan dengan tatapan sapphire pemuda pirang di pojok ruangan. Tak tahan dengan pandangan itu Hinata mulai mengalihkan pandangannya ke tuts tuts piano di hadapannya.

" Lalu senyummu menyadarkan ku... Kau cinta pertama dan terakhirku ...

Sebelumnya tak mudah bagiku... Tertawa sendiri dikehidupan yang kelam ini "

" Hinata-chan! "

Gadis yang duduk sendirian di taman belakang sekolah itu menoleh begitu suara seruan itu menggelitik telinganya.

Disana ada Naruto, pemuda itu tersenyum ke arahnya. Senyum,,, yang hanya ditunjukan pada Hinata.

" Sebelumnya rasanya tak perlu... Membagi kisahku tak ada yang mengerti ..."

" Naruto-kun apa boleh sekarang kubuka penutupnya " Gadis bersurai lavender itu bertanya, nadanya jelas sekali begitu penasaran, kepada sang kekasih yang sedari tadi menuntunnya menuju tempat yang dirahasiakan oleh Namikaze muda itu.

" Sebentar lagi Hinata-chan. Awas ada jembatan " Peringat Naruto. Hinata yang mendapatkan peringatan seperti itu pun semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Naruto. ' Jembatan? '

Hinata mulai merasakan sesuatu membelai tangannya, tak berapa lama pun Gadis itu sadar bahwa Naruto sudah mulai berhenti berjalan dan melepaskan genggaman tangannya pada Hinata.

" Sekarang bukalah penutup matanya Hinata-chan " Naruto berkata lembut. Hinata dapat merasakan Naruto berada dibelakangnya dan memegang pundaknya. Dengan perlahan Hinata membuka penutup mata itu dan mengerjapkan matanya untuk kembali memfokuskan pandangannya.

Hal pertama yang Hinata lihat adalah sebuah Grand Piano berwarna putih gading ditengah tengah padang ilalang dan tepat disebelah Grand Piano itu terdapat sebuah meja yang sudah tertata rapi denga dua kursi dan sebuah bunga mawar merah.

" Na-Naruto-kun, I-ini... "

" Indah kan? "

Bila suatu saat kau harus pergi..

Jangan paksakan aku tuk cari yang lebih baik

Karena senyummu menyadarkan ku kaulah cinta pertama- " Gadis itu memaksakan dirinya untuk menyanyikan lirik terakhir . ' Naruto-kun... '

" -dan terakhirku "

Sejenak, hening berkuasa. Hinata menatap cemas teman temannya yang menatapnya tanpa berkedip. ' Apa penampilanku tadi jelek? '

Tapi pikiran itu segera lenyap kala Kurenai bangkit dari tempat duduknya dan bertepuk tangan, diikuti gemuruh tepuk tangan yang lain.

Dan Hinata tidak menyadari sepasang mata biru sedang memandangnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

" Maaf kan aku Outoto "

TBC