Chapter 3: Home Sweet Home

"Yak, yang pagar hitam ya pak, itu yang di sebelah kiri." Kata Naminé kepada supir taksi mereka.

Taksi tersebut pun segera meminggir perlahan ke bahu jalan perumahan tersebut, dan berhenti dengan mulus di depan pagar rumah Naminé. Supir taksi itu menghentikan meteran taksinya, lalu keluar dari taksi untuk mengeluarkan koper dan tas Roxas dari bagasi. Naminé hendak mengeluarkan dompet dari tas kecilnya, ketika tangan Roxas menghentikannya,

"Biar aku aja yang bayar."

Naminé yang rada-rada kaget karena tangan Roxas yang tiba-tiba menyekat tangannya hanya bisa mengangguk kecil, "Terima kasih…"

Roxas turun dari taksi lalu menyerahkan uang kertas kepada supir taksi mereka, sementara Naminé turun juga dari pintu sebelah satunya untuk membukakan pagar rumah.

"Simpan aja kembaliannya, pak." Kata Roxas sambil mengambil barang-barangnya dari tangan si supir.

"Makasih ya mas" Supir taksi tersebut tersenyum, sebelum masuk kembali ke taksinya dan melanjutkan pencarian nafkahnya.

Roxas memandang mobil taksi tersebut melaju semakin menjauh dari pandangannya. Lalu ia memutar badannya. Sebuah senyum kecil nan tipis muncul tanpa ia sadari di wajahnya.

Rumah Naminé… Ia menghirup dalam-dalam udara di sana. Harum ini… harum bunga bakung memenuhi udara di sekitar rumah Naminé. Senyumnya melebar. Sudah lama banget dia tidak kemari. Sudah berapa tahun? Delapan? Sembilan? Roxas sudah tidak menghitung lagi…

Krrraaakk

Suara besi bergesekan dengan tanah yang terdengar nyaring memotong dunia memori Roxas. Ia menoleh ke sumber suara. Naminé telah membukakan gerbang kecil khusus untuk orang lewat, yang terletak di sebelah gerbang besar untuk mobil.

"Kamu... perlu bantuan?" tanya Naminé.

Roxas mengangkat alisnya, bingung. Pipi Naminé memerah,

"Ma-maksudku kopernya!"

OH… Roxas berusaha keras menahan tawa, "Nggak usah, ga berat kok…"

Naminé mengangguk singkat, sebelum melangkah masuk menuju pekarangannya. Roxas mengikuti dari belakang. Pekarangannya persis sama seperti apa yang tergambar di memorinya. Yang berbeda hanyalah cat putih rumah tersebut sekarang sudah banyak terkelupas di sana-sini. Selebihnya tidak ada yang berubah.

Pekarangan rumah Naminé berukuran sedang dan dihiasi dengan hamparan bunga bakung, atau dalam bahasa inggris namanya bunga Lily. Selain bunga bakung, ada juga bunga lain mulai dari mawar, melati, anggrek, hingga daisy. Maklum, Aerith, ibunda Naminé mencintai berbagai jenis bunga.

Mereka berdua menyusuri jalan petak dan menaiki beberapa tangga kecil teras rumah, sebelum akhirnya sampai di depan pintu rumah Naminé. Naminé merogoh ke dalam tas kecilnya mencari kunci, sementara Roxas masih memperhatikan pekarangan depan rumah tersebut. Ia baru sadar dinding yang memisahkan pekarangan Naminé dengan pekarangan tetangganya ditumbuhi tanaman rambat berbunga ungu-ungu kecil.

Taneman apaan tuh…perasaan baru liat deh pikir Roxas.

"Naminé… itu tanaman apa- Ada apa Naminé?" Roxas menatap Naminé yang ternyata sedang panik. Naminé merogoh-rogoh lebih dalam tas kecilnya, memeriksa setiap kantung dan sudut di dalamnya. Jemari kecilnya agak bergetar gugup. Roxas sudah mengetahui situasinya bahkan sebelum Naminé menjawabnya,

"…Aku lupa bawa kunci rumah…"

"…"

Sunyi.

Senyap.

"Ibu mu pulang dari kerja kapan?"

"Uh…Sore sih, tapi akhir-akhir ini pulang nya malem…"

Roxas mengecek jam tangannya. Pukul satu siang. Oookeee… Tidak ada jalan lain selain menunggu, pikir Roxas sambil menghela nafas. Ia merasakan tumpukan kelelahan memberatkan kedua bahunya. Perjalanan yang Roxas lalui sudah panjang, dan sekarang ia hanya ingin berbaring dan mengistirahatkan badannya. Roxas memutuskan untuk duduk di salah satu kursi teras yang tersedia, menunggu.

Sedangkan Naminé hanya dapat menundukkan kepalanya, sedih. Hancur sudah first impression nya setelah 9 tahun tidak bertemu. Bagus Naminé, sangat bagus! Naminé memaki dirinya sendiri. Padahal ia kira segalanya akan berjalan seperti ekspektasinya.

Ia kira setibanya di stasiun, ia akan disapa oleh senyum ramah Roxas, tatapan hangat nya, candaan-candaannya yang hanya mereka bisa mengerti, dan ia pikir mereka akan tenggelam dalam memori masa lalu, bernostalgia bersama. Tapi kenyataannya bertolak belakang 180o. Grompyang, ia dapat merasakan hatinya pecah…

Kruyyyuuukkk…

Naminé menoleh tepat ketika Roxas membuang muka, malu. Terang aja dia laper, kan belum makan siang… pikir Naminé. Dia sendiri juga merasa perutnya sudah keroncongan. Hiks… sekarang mereka harus menunggu dengan perut lapar…

Tiba-tiba telinga Naminé menangkap suara motor dari kejauhan. Hum… Suara motor besar ini... kayaknya aku kenal…

Naminé segera beranjak dari teras tersebut, langsung menuju pagar rumahnya. Roxas menengadah, matanya mengikuti tiap langkah Naminé dengan tatapan bertanya-tanya.

Wajah Naminé mencerah ketika dugaannya tepat. Sebuah motor hijau besar terparkir di depan pagar rumahnya. Di atas motor tersebut terduduk seorang pria muda yang tengah melepas helmnya, menampakkan rambut pirangnya yang jingkrak kemana-mana, melawan gravitasi.

"Kak Cloud!"

Mendengar namanya dipanggil, pria tersebut menoleh dan tersenyum ke arah Naminé yang berada di balik pagar, "Hai."

Naminé segera membukakan pagar mobil agar Cloud dapat memasukkan motornya ke garasi. Begitu motornya terparkir dengan baik, Cloud turun dari kendaraannya tersebut, lalu membuka ristleting jaket kulit hitamnya. Ketika ekor matanya menangkap sebuah sosok lelaki tengah duduk di teras rumahnya. Ia memanggil Naminé yang tengah menutup kembali pagar garasinya.

"Naminé..." yang dipanggil membalas dengan tatapan bertanya "...siapa itu yang di teras rumah kita?" tanya Cloud waspada, sambil mengernyit ke arah lelaki tersebut.

Naminé tertawa kecil, "Lho itu kan Roxas, kakak sudah lupa ya?"

Roxas? Roxas siapa...

EH...Roxas..? Roxas? ROXAS?

CTARRR CTAAAARRR

Kilat serasa menyambar-nyambar kepala Cloud. Asap mengepul dari kedua telinga Cloud yang memerah. Tangannya tanpa sengaja mengepal membentuk tinju. Naminé yang merasakan aura gelap di sekeliling Cloud mulai bergerak menjauh dengan Sweat-drop di kepalanya.

"K-kakak? Kakak kenapa?" Naminé bertanya gugup.

"Tidak...tidak apa-apa kok. Kakak hanya... teringat kejadian tidak menyenangkan." jawab Cloud memijat-mijat keningnya, menenangkan diri.

"Ookeee...Oiya, kakak bawa kunci rumah kan? Sori kak, Naminé tadi lupa bawa kunci, jadinya belum bisa masuk sampai sekarang." Kata Naminé sambil berjalan di samping kakaknya, menaiki undakan teras.

"Huh? Iya tentu saja..." Cloud merogoh ke dalam saku celananya "..Ini." Naminé menerima kunci dari Cloud dengan sedikit kerutan di alis, tidak setuju dengan kebiasaan Cloud menyimpan kunci di saku celana dengan alasan gampang terjatuh, kemudian berbalik untuk membuka pintu rumahnya.

Roxas, melihat kehadiran Cloud, berdiri dari kursinya dan mengangguk ke arah Cloud, "Hai, Cloud, lama tidak bertemu."

Cloud hanya dapat membalas dengan senyum tipis yang terlihat lebih seperti ringisan, "Ya...lama tidak bertemu..."

Cklik

Keduanya menoleh ke arah suara kunci pintu yang terbuka tersebut. Naminé yang menjadi pusat perhatian merasakan pipinya naik suhu beberapa derajat, "W-well, ayo kita masuk!"

Roxas segera mengambil koper dan tasnya dari lantai teras, lalu setengah menyeretnya masuk ke dalam rumah tersebut. Cloud memperhatikannya, kemudian menghampiri Naminé yang mempersilahkan Roxas sebagai tamu masuk terlebih dahulu,

"Naminé, apa-apan si Roxas? Kok dia bawa koper gede sama tas segala sih?" bisik Cloud ke telinga adiknya.

"Lho kakak belum dapet kabar? Kan Roxas bakal tinggal di rumah kita sampe dia lulus SMA."

Lulus SMA? Tunggu, dia seumuran sama Naminé... Sekarang Naminé naik ke kelas sebelas... Berarti satu..dua...Dafuq.


A/N

Hai udah lama ngga upload ceritanya yah _ aku ternyata ngalamin yang namanya Writer's Block Hahaha okedeh karena sekarang udah mulai libur kenaikan kelas, jadi bisa terusin ceritanya lagii.

Special thanks buat Ventus Hikari atas kritik dan reviewnya~ *Hug* dan juga buat Mizuki Asakura, sesuatu bakal terungkap kok pada waktunya jadi terus baca yak! Hehe