_My Girl_
…
Disclaimer :
All character belongs to God and SMEnt
.
This Fict is mine © Kim Minra
.
Rated T
.
Pair : Yesung x Ryeowook
.
Warning : Genderswitch, Gaje, Abal, OOC, Hancur, Typo bertebaran, Alur gk nyante, de el el.
.
.
.
IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ. JUST PRESS 'BACK'. OKAY?
.
.
.
_My Girl_
.
.
.
Malam ini tak satu pun suara anak manusia yang terdengar di dalam rumah ini. Hanya suara sendok yang bertabrakan dengan piring. Rasa canggung mengelilingi kedua orang yang tengah menikmati makan malamnya. Mereka hanya saling melirik satu sama lain.
"Aku selesai," ucap seorang gadis berambut panjang seraya berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju dapur, menunggu pemuda itu selesai makan.
Gadis itu−Kim Ryeowook bersandar di dinding putih dapur sambil menghela nafas panjang. Alisnya bertaut. Tidak biasanya ia dan pemuda itu−Kim Yesung membuat keheningan. Biasanya saat makan, Yesung selalu berbicara padanya. Tidak menghiraukan jika saja ia tersedak. Begitu pula dengannya.
"Oppa… aku tidak suka seperti ini," gumamnya sambil menutup matanya. Karena kejadian tadi sore, ia dan Yesung menjadi canggung melakukan sesuatu. Gadis yang bernama Yoona yang datang tadi sore telah membuatnya bingung. Harusnya tidak seperti ini. Ia belum tahu siapa Yoona sebenarnya dan ada hubungan apa dengan oppa-nya.
Ciiit
Decitan kursi yang bergeser membuat Ryeowook harus sadar dan kembali pada tujuan utamanya yaitu mencuci piring. Yesung sudah selesai dengan makannya dan itu membuatnya harus segera membersihkan meja makan.
Yesung berlalu dan langsung masuk ke kamarnya. Tidak menghiraukan tatapan bingung dari Ryeowook. Ada apa sebenarnya?
"Oppa, kau kenapa?" tanya Ryeowook dalam hati. Ia pun masuk kembali ke dalam dapur setelah mengangkat semua piring dan mengelap meja makan.
Ia benar-benar tidak mood sekarang ini. Keadaan seperti ini sungguh asing baginya. Mungkin, karena ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menggemarinya. Tapi, kali ini tidak ada yang mengelilinginya.
Ia mem-pout bibirnya sambil tidak santai mencuci piring. Pikirannya berkecamuk. Tadi sore, ia terus mendengar suara Yoona yang tidak dibalas oleh Yesung. Entah apa yang dilakukannya. Tapi, hal ini sungguh membuatnya penasaran.
"Ehem," terdengar suara deheman dari belakangnya yang sepertinya ditujukan untuknya. Ia pun menghentikkan kegiatannya sejenak. "Setelah ini, masuklah ke kamarku. Ada yang ingin kubicarakan,"
Meskipun singkat, padat dan jelas Ryeowook sedikit senang mendengarnya. Akhirnya, Yesung mengajaknya berbicara. Setelah itu Yesung kembali sedangkan Ryeowook meneruskan kegiatannya.
.
.
.
Kriieeet
Pintu itu terbuka menampakkan sosok gadis mungil yang tadi memang disuruh memasuki ruangan itu. Ruangan yang menjadi kamar seorang Kim Yesung yang kini duduk di tepi tempat tidurnya. Ia pun berjalan masuk kemudian menutup pintu itu kembali.
Aroma maskulin tercium melalui indra penciumannya saat memasuki kamar Yesung lebih dalam. Benar-benar kamar yang menggambarkan empu-nya.
"A−ada apa, oppa…?" tanya Ryeowook tanpa menatap mata Yesung. Ia tidak sanggup menatap mata yang sangat tajam itu.
"Duduk di sini dulu," jawab Yesung sambil menepuk tempat tidurnya, menyuruh Ryeowook untuk duduk di sampingnya.
Ryeowook pun berjalan dan langsung mendudukkan pantatnya di samping Yesung. Ia menundukkan kepalanya gugup.
Hening.
Lagi-lagi tak ada yang berani mengeluarkan suara. Kemana Yesung? Untuk apa ia memanggil Ryeowook masuk di kamarnya?
"Wookie…" panggil Yesung. "Tadi… kau melihatku bersama Yoona 'kan?"
Ryeowook tersentak kaget. Ia beralih menatap oppa-nya. Entah tatapan apa yang ia berikan terhadapnya. Tapi, ada rasa kecewa yang sangat mendalam saat mengingat kejadian itu lagi.
"Maafkan aku, oppa. Aku tidak sengaja melihat kalian,"
"Tidak apa−"
"Memangnya siapa dia, oppa? Beraninya dia menyentuhmu dan melakukan yang macam-macam padamu. Apa dia pacarmu? Maaf ya, oppa. Aku tidak bermaksud mengejekmu, tapi aku tidak habis pikir kau memilih wanita sepertinya. Pakaiannya itu terlalu minim. Dia cantik memang, tapi melihatnya seperti ada yang tidak beres dengannya. Aku kecewa oppa, jika dia adalah pacar−"
"Cukup Wookie!" bentak Yesung. Mendengarnya, Ryeowook semakin menundukkan kepalanya. "Dia bukan siapa-siapaku."
"Tapi, kenapa err… kalian begitu mesra?" tanyanya dengan polosnya. Keluarlah sudah apa yang mengganjal pemikirannya selama ini. Kecewa karena oppa-nya terlihat begitu mesra dengan wanita lain sudah termasuk tanda bahwa ia memang tidak ingin oppa-nya menjadi milik orang lain selain dirinya. "Lalu seenak jidat lebarnya dia menyentuhmu. Sangat tidak elit. Oppa tidak cocok dengannya,"
Yesung sedikit senang saat Ryeowook bicara panjang lebar seperti itu. Itu menandakan bahwa Ryeowook memang tidak bisa diam kalau dibiarkan lama-lama. "Lalu oppa cocoknya dengan siapa?"
Ryeowook tersentak dan memandang Yesung dalam-dalam. "Eh? De-dengan siapa ya, oppa?"
"Err… oppa cocoknya dengan Wookie mungkin,"
"Aa, terserah oppa, hihi." Ryeowook terkikik geli mendengar Yesung berbicara seperti itu.
"Aku tidak tahan jika terus mengheningkan cipta, Wookie."
"Eh? A-aku juga, oppa." ucapnya seraya tersenyum lebar. "Semuanya sudah jelas, oppa. Aku boleh keluar sekarang?"
"Nanti saja,"
Ryeowook tersentak saat Yesung mengucapkan itu. Tapi, bukan hanya itu, Yesung memegang tangannya agar tidak pergi.
"Err… temani aku…"
"A-a-apa, oppa?" tanya Ryeowook.
Yesung mendekatkan dirinya pada Ryeowook. Memandangnya dengan tatapan lembut penuh kasih. Sekarang tak ada jarak lagi, paha mereka bersentuhan. Dan ia juga semakin meremas tangan Ryeowook.
"Temani aku…"
Glek
Ryeowook menelan salivanya susah payah saat melihat wajah Yesung yang sepertinya menginginkan sesuatu yang sesuatu banget.
'Masa sih oppa mau melakukan 'itu' malam ini? Aiissh… aku belum siap,' inner Ryeowook sembari menelan salivanya sampai habis.
"Op-oppa aku belum siap…"
Yesung mengernyit. "Eh? Apa maksudmu?"
"Oppa mau melakukan 'itu' padaku, bukan?"
Lagi-lagi Yesung mengernyit. "Itu apa?" Ryeowook membelalakkan matanya, ternyata pemikirannya salah. Sangat salah. "Err… aku hanya ingin kau menemaniku mengerjakan tugas kuliah. Ada banyak yang mau oppa catat. Ah, tangan oppa jadi sakit,"
Gubrak
Ryeowook cengo di tempat. Dikira Yesung mau melakukan apa padanya. Tapi, ternyata hanya meminta bantuan. Pemikirannya selalu saja menuju ke hal 'itu'.
"Wookie… mau 'kan membantu oppa tercintamu ini?" rajuk Yesung dengan wajah memelasnya. Ia memegang tangan Ryeowook agar Ryeowook tahu tangannya kini berdenyut-denyut(?) kesakitan.
"Ahaha, aku akan siap kapan saja oppa butuhkan," jawab Ryeowook sambil tertawa renyah. 'Termasuk hal yang tadi. Oppa 'kok tidak tahu sih hal yang kumaksud dengan itu…?'
"Terima kasih ya, Wookie-ku."
Ryeowook mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Yesung sembari tertawa renyah. "Ahaha, tidak masalah, oppa-ku."
Yesung pun membagi beberapa kertas untuknya dan Ryeowook. Ia tersenyum senang dengan keadaan sekarang sedangkan Ryeowook mengumpat dalam hati karena ia memang sedang malas menulis. Tapi, apa sih yang enggak buat Yesung oppa tercinta?
.
.
.
Tangannya terus saja menyibak tirai jendela yang ada di depannya. Tidak peduli sinar matahari menerpa wajah cantiknya yang mungkin akan membuat wajahnya menghitam.. Sesekali gadis itu−Kim Ryeowook menghela nafas dan menutup matanya. Sejak tadi pagi ia menunggu seseorang yang akan masuk melalui pintu gerbang itu.
"Oppa lama sekali," ucapnya seraya berjalan menuju sofa berniat untuk mengistirahatkan dirinya. Ia mendengus kesal hingga akhirnya mendengar bunyi motor yang masuk di pekarangan rumah itu.
Sontak Ryeowook berlari dan berdiri tepat di depan pintu rumah. Jika Yesung kuliah, Ryeowook akan dikuncikan di rumah itu. Takutnya nanti ada yang terjadi jika saja Ryeowook keluar dari pekarangan rumah.
Ceklek
"OPPA!" teriak Ryeowook menyambut Yesung sembari sedikit melompat. Bukannya senang disambut, Yesung malah ketakutan seraya mengusap-usap dadanya yang terbalut kemeja. Untung Yesung tidak latah.
Melihat itu Ryeowook menjadi salah tingkah dan langsung menghampiri Yesung yang kini menatapnya tajam dan penuh nafsu(?).
"Ma−maaf, oppa. Aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu. Aku−"
"Haha, oppa hanya bercanda, Wookie. Kau kenapa menyambut oppa seperti itu? sepertinya senang sekali melihat oppa tiba," ucap Yesung sembari menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya.
Ryeowook terkikik dan mengekorinya. "Oppa, aku boleh minta sesuatu tidak?" tanyanya.
Yesung menatapnya sembari berkacak pinggang setelah meletakkan tasnya di atas tempat tidurnya sedangkan Ryeowook bertampang memelas sembari berdiri di depan pintu kamar Yesung yang terbuka.
"Oppa…"
"Ya, apa?"
Ryeowook tersenyum kegirangan lalu menghampiri Yesung. "Aku mau jalan-jalan dengan oppa,"
Yesung tersentak kaget namun itu tak terlihat di wajah dinginnya. Ia menyembunyikan raut wajah kagetnya seraya menatap Ryeowook. Ia pegang pundak mungil gadis cantik itu sembari memainkan rambut panjangnya.
"Aku… tidak bisa, Wookie." ucapnya.
"Ke−kenapa, oppa?" wajahnya yang tadi bersinar cerah kini telah hilang digantikan dengan tatapan bingungnya.
Yesung masih memainkan rambut gadisnya. "Aku lelah. Jangan sekarang ya?"
"Tapi oppa−"
"Maafkan aku…" ucapnya seraya meninggalkan Ryeowook yang kini menatapnya sedih.
'Aku hanya tidak ingin melepaskanmu.'
.
.
.
Tok Tok Tok
Pintu itu sedari tadi diketuk tapi nihil, tak ada jawaban ataupun sahutan seorang gadis yang diharapkan Yesung agar dijawab. Ia menghela nafas panjang seraya mengetuk pintu itu lagi.
"Wookie," panggilnya. "Buka pintunya,"
"…"
Ia masih setia di depan pintu itu. Menunggu seorang putri dengan anggunnya keluar melalui pintu coklat itu. Setelah pembicaraan tadi, Ryeowook menjadi malas dan tidak ingin bicara dengannya. Ia sadar bahwa sangat membosankan tinggal di dalam rumah. Setiap hari pula. Dan ia tahu betul perasaan Ryeowook sekarang. Meskipun sedang amnesia, Ryeowook tetap dengan pribadinya yang bersifat mewah, ramah, banyak bicara dan semacamnya.
"Wookie, kenapa tidak menjawabku?" tanyanya. Ia masih setia berharap untuk dijawab.
Ia menundukkan wajahnya. "Maafkan aku, Wookie…"
Dalam kamar itu, Ryeowook hanya menyelimuti dirinya dan pura-pura tidak dengar. Sebagian perasaannya merasa berat dan tak tega melihat Yesung seperti itu di luar, namun sebagian perasaannya juga merasa ia diacuhkan dan sepertinya tidak adil baginya jika diperlakukan seperti itu.
"Wookie…" panggil Yesung di luar sana dengan sangat lembut. "Baiklah, oppa akan menemanimu jalan-jalan,"
Mendengar itu, Ryeowook tersentak dan langsung melompat dari tempat tidur. Ia berjalan menuju pintu kamarnya.
"Oppa yakin?" tanyanya.
Yesung memutar bola matanya bosan. "Makanya, buka dulu pintunya.
Ceklek
Muncullah Ryeowook dari balik pintu itu dengan senyum merekah di bibir merah menggodanya. Ia menatap Yesung kegirangan.
"Ya, oppa yakin." ucap Yesung sambil mencubit pipinya gemas. "Yasudah, kutunggu kau di bawah,"
Yesung pun berlalu dan turun melalui tangga. Ia merasa senang. Sedangkan Yesung sedang memikirkan cara agar orang tidak mengenal Ryeowook.
.
.
.
"Oppa, bagaimana penampilanku?" tanya Ryeowook sambil berputar di hadapan Yesung. senyumnya memang permanen, tidak akan hilang di bibirnya. Melihat itu, Yesung hanya tersenyum dan menatapnya takjub.
"Kau sangat cantik," jawabnya. Ia mengeluarkan sebuah jaket berkerudung. "Err... tapi, mungkin akan lebih cantik jika kau mengenakan ini, Wookie."
Ryeowook menatapnya bingung. "Untuk apa, oppa?" tanyanya. Jadi, apakah pakaiannya yang bagus dan dandanannya yang bisa dibilang erotis itu sia-sia? Entahlah.
"Pakailah, Wookie." ia mendongak menatap oppa-nya. "Nanti oppa akan belikan pakaian baru−"
"Tidak usah kalau hanya memakainya di rumah," ia mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tiba-tiba saja Yesung menariknya. Pandangan mereka bertemu. Yesung membingkai wajah cantik gadisnya dengan kedua tangan kekarnya.
"Tapi, setidaknya… kau memakainya untuk oppa, bukan orang lain yang ada di luar sana." ucapnya seraya tersenyum menatap caramel Ryeowook.
Ryeowook tersipu mendengarnya. "Ya, oppa… mulai sekarang aku tidak akan membantah oppa lagi,"
"Janji?"
"Janji!"
Yesung membantu Ryeowook memakai jaket yang sangat tertutup itu. Setelahnya, mereka pun keluar memakai motor sport Yesung.
"Terima kasih, oppa."
.
.
.
Mereka telah selesai mengelilingi pusat perbelanjaan di kota itu. Terlihat lebar sekali senyum yang Ryeowook berikan kepada Yesung. Dan Yesung tidak mengingkari janjinya untuk membelikannya pakaian. Mereka bergandengan tangan seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Sampailah mereka di tempat parkiran. Baru saja Yesung menyentuh motornya, tiba-tiba ada dua orang yang berjas hitam serta kacamata hitam meneriakinya. Sontak ia dan Ryeowook berbalik melihatnya.
"Ada apa, oppa?" tanya Ryeowook.
Bukannya menjawab, Yesung malah menggenggam tangannya dan membawanya lari dari tempat itu. Tentu saja karena dua orang berjas hitam tidak jelas tadi.
'Tidak boleh sampai tertangkap,' gumam Yesung.
"Hei! tunggu!" teriak salah satu orang itu.
Tapi, Yesung tidak menghiraukannya, ia tetap berlari dan meskipun Ryeowook terlihat bingung dan sedikit memberontak.
"Oppa! kakiku sakit!" erang Ryeowook. Yesung menatapnya lembut dan mencoba memelankan larinya. "Ada apa sebenarnya, oppa?"
"YA! Berhenti!" teriak salah satu orang itu lagi.
Yesung pun mencari tempat persembunyian di tempat parkir yang penuh dengan mobil itu. Ia tidak ingin Ryeowook merasa kesakitan karena mengikutinya. Sungguh, ia sangat tidak ingin Ryeowook sampai diketahui orang. Apalagi dengan perasaannya yang kini sudah mulai berkembang.
Kedua orang tidak jelas itu masih mengikutinya. Di sela-sela mobil yang terparkir, Yesung pun terpikir sebuah ide yang mungkin dapat membuat dua orang itu menjauh dan tidak mengikutinya lagi.
Ia tatap Ryeowook dalam-dalam dan semakin menggenggam tangannya. Ia pun bersandar di dinding tempat parkir itu dan menstabilkan nafasnya yang terengah-engah. Begitu pun Ryeowook, nafasnya terengah-engah dan hanya bisa menatap Yesung bingung. Ia sudah berjanji tidak akan membantah Yesung lagi.
"Oppa… hosh… Ada apa? Kenapa mereka mengejar kita?" tanya Ryeowook masih dengan nafas yang tersengal-sengal. Tapi, bukannya menjawab Yesung malah menatapnya dengan lembut penuh kasih sayang.
"Berhenti kalian!"
Mendengarnya, Yesung dengan sigap menarik Ryeowook ke dalam pelukannya. Lalu, ia sandarkan Ryeowook ke dinding dan mulai melakukan aksinya yang sempat terpikirkan.
Cup~
Ia menerpa bibir merah Ryeowook dengan bibirnya. Ia menciumnya dengan penuh kasih sayang meskipun ada rasa bersalah. Namun, ia melakukan itu untuk kebaikan juga. Tas belanjaannya jatuh begitu saja di lantai semen itu. Ryeowook terpaku. Tidak membalas ataupun memberontak. Namun, sejujurnya ia menikmati suguhan yang tiba-tiba itu.
Melihat tontonan gratis, kedua orang tidak jelas tadi menatapnya dengan wajah merah merona. Keduanya cengo dan ikut menelan saliva yang mengganjal mulutnya.
Yesung melepaskan ciumannya dan beralih menatap dua orang itu dengan tatapan dinginnya. "Kenapa? Mau? Pulanglah dan temui istri kalian masing-masing. Cih! Mengganggu saja." ucap Yesung seraya melanjutkan ciuman lembutnya dan melumat bibir Ryeowook dengan lembut. sedangkan kedua orang itu malah kikuk dan segera meninggalkan tempat itu.
Tapi bukannya melepaskan ciumannya, Yesung semakin menjadi-jadi seraya menutup matanya. Padahal, kedua orang itu sudah pergi jauh-jauh. Setan apa yang merasukinya hingga meneruskan aksinya yang memang nikmat itu. Tapi, tempat dan waktunya sangat tidak cocok untuk melakukan itu.
"Engh~" desah Ryeowook. Dan kau tahu? Mendengarnya, Yesung semakin menghisap mulutnya dan menggingit bibir bawah gadisnya itu.
Setelah sekian lama, Yesung pun melepaskan ciumannya saat dirasakannya tangan Ryeowook memukul-mukul pelan dadanya. Mungkin karena kehabisan nafas. Ada rasa bersalah yang amat sangat di hatinya saat ini. Ia pun hanya bisa menatap caramel Ryeowook dengan lembut.
"Err… maafkan aku. Aku seharusnya−"
"Tak apa, oppa…" potongnya. Wajahnya bersemu merah. Ia tersenyum dan balik menatap mata oppa-nya. "Kita pulang sekarang, ya? Aku lelah." Ia pun meraih tas belanjannya yang terhempas begitu saja.
Sejenak ia usap bibir Ryeowook yang menyisakan sedikit saliva dan membenarkan jaket gadisnya yang agak berantakan. Setelah itu, ia pun berjalan mendahului Ryeowook.
"YA! Oppa, kau melupakan sesuatu!" teriak Ryeowook yang masih diam di tempatnya. Yesung berbalik menatapnya bingung. "Kau melupakanku!"
"Ah, maaf," ia pun tersenyum saat melihat senyum di bibir yang sempat menjadi miliknya tadi. Ia berjalan menghampiri Ryeowook dan langsung menggenggam tangannya. "Ingatkanlah aku jika aku melupakannya, Wookie."
"Tentu, oppa."
.
.
.
Seperti kemarin. Hari ini, Ryeowook dengan senang hati menunggu Yesung pulang. Tirai jendela ia sibak setiap detik. Tak lupa pula senyum yang mengembang di bibirnya. Sejenak ia teringat kembali dengan insiden yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Kemarin Yesung menciumnya, bukan?
"Aa, tidak kusangka," gumamnya seraya menyentuh bibirnya. Kembali pipinya merona merah. "Huwaaaaaa! oppa−"
Ceklek
Sontak teriakannya terhenti saat didengarnya pintu itu terbuka. Ia pun melompat karena saking senangnya. Dengan sigap ia berdiri di balik pintu itu, menunggu seorang pemuda tampan bak malaikat muncul di hadapannya.
"YA! Kenapa kau mengikutiku, Kyu!" teriak Yesung dengan tidak santainya.
Ryeowook tidak menghiraukannya. Ia hanya ingat tujuan utamanya. "Ya, oppa! Selamat datang! Aku menunggu oppa!" teriaknya sambil melompat di hadapan Yesung.
Tapi, tatapannya berubah bingung saat dilihatnya sosok asing di samping Yesung-nya. Sedangkan Yesung hanya bisa terkaget melihat Ryeowook dengan tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Ya… Yesung, kau 'memelihara'nya dan tidak pernah memberitahuku," ucap sosok asing itu sambil mendekati Ryeowook yang kini menatapnya ketakutan.
Yesung pun menariknya masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya. "Jangan menyentuhnya, Kyu."
"Op-oppa…" Ryeowook bersembunyi di belakang Yesung. "Dia siapa?'
.
.
.
.
.
_To Be Continued_
.
.
.
.
.
Annyeong! *bow*
Mian apdet lama. Mian juga jika semakin abal, gaje. Author kok ngerasa gk mood kalo ngetik fict ini. Apa karena berita sukhoi jatuh udah ketimbun(?) *halah*
Chap ini terkesan datar dan tidak begitu baik alurnya. Mianhamnida… tapi, author masih berharap ada yang baca dan review. *berdoa bareng abang kuda*
Yang penting, udah apdet. Author gk bisa banyak banyak bacot nih.
Gomawo buat semuanya! Gomawo buat yang review dan baca! Gomawo buat yang baca tapi gk review *kalo ada*! Gomawo juga yang review tapi gk baca *hah?*
Dan author cuman bisa ngucapin Selamat membaca bagi semua penggemar YeWook yang baca^^ Kamsahamnida!
.
.
.
REVIEW, NE? ^^ *kisseu*
