Title : The Prisoner part. 3[end]
Author : mako47117
Chapter : 3 of 3

Pairing : YunJae
Genre : Romance, crime,
Rating : T+ buat story, M buat kata-kata kasar
Disclaimer : Yunho and Jaejong belongs to each other XP

Warning : Yaoi, BoyLove, Typo, Abal, geje, Bahasa ngebosenin, banyak majas, usia dibawah 16 jangan baca chap ini! dsb.

CHAP INI MENGANDUNG KATA-KATA KASAR !

I WARNED U!

SO,

DON'T LIKE? PSE DON'T READ!

.

.

.

.:the prisonner part3(end):.

Suara derit pintu mengiringi derap langkah dua pasang kaki memasuki ruangan. Kesunyian melingkupi ruangan, mengebor telinga melebihi efek kegaduhan. Tiga namja terdiam memandang Jaejoong dan nyonya Jung yang baru datang, kecuali Yunho yang hanya berdiri membeku didepan tubuh kakeknya yang sudah tidak bernyawa.

"Pungmi-ya.. Ayah.."gumam tuan Jung serak. Jung pungmi, ibu Yunho membeku. Sedetik kemudian tubuh oleng nya tertahan Jaejoong.

Kaki wanita itu lemas. Dadanya terasa sesak. Tetes demi tetes air mata mengalir keluar dari matanya yang membelalak. Ia mengerti apa yang terjadi. Presdir Jung telah pergi setelah begitu lama penyakit menggerogoti organ dalamnya. Dengan begini penderitaan presdir akan berkurang.. Pikir Jung Pungmi. Menimbulkan setitik rasa lega di hatinya. Tuan Jung maju dan merengkuh istrinya. Berharap ia dapat melingkupi dan melindunginya dari kepedihan yang juga menyiksanya. Air mata Nyonya Jung pun tumpah dalam pelukan sang suami. Jaejoong mengedarkan pandangan. Menemukan punggung lebar Yunho yang entah bagaimana terlihat kelam diantara cahaya lampu. Jaejoong berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Yunho. Namun sebelum tangan itu sampai, Changmin menangkap tangannya. Menggelengkan kepala, dan menariknya dari tempat itu.

.

.:mako-chan:.

.

Titik-titik embun di atas dedaunan menetes jatuh, tersenggol gaun Jaejoong yang mengembang. Dengan lembut dan tergesa-gesa tangan Changmin menariknya ke arah kursi di bawah pohon jeruk di tengah taman.

"Sebaiknya biarkan Yunho hyung sendiri dulu. Duduklah. Jaejoong-sshi"

"Jadi karena ini, ia kabur dari penjara.."renung Jaejoong lirih.

"Hyung sangat menyayangi kakek. Begitu juga kakek..."

"Kenapa Yunho mengamuk dan memukul orang di Bar? Aku benar-benar tidak habis pikir mengapa ia bisa kehilangan kendali diri hingga seperti itu..". Jaejoong terdiam menanti jawaban, mendengarkan suara kepak sayap kelelawar dan senandung jangkrik mengisi keheningan.

Changmin pun bercerita. Satu tahun yang lalu, seorang rentenir pindah ke flaxton. Banyak buruh yang terjebak dengan mulut manis para lintah darat. Semuanya terjadi begitu cepat bagai wabah yang menular. Lee ahjusshi, kerabat keluarga Jung yang sudah dianggap ayah kedua oleh Yunho harus meregang nyawa karena membela tetangganya. Mulut hingga batok tengkorak namja itu berlubang tertembus peluru. Jaejoong menelan ludah.

"Mengerikan..."

"Yah.. Memang. Kim ahjussi sudah seperti ayah kedua bagi Yunho hyung. Hyung pulang mendengar kim ahjussi wafat. Dan benar-benar marah setelah mengetahui penyebabnya..

" Di LA dia menolong rakyat miskin yang dijadikan kambing hitam oleh hukum orang kaya. Dan disini, di bawah batang hidungnya kerabatnya ditelan oleh ketidakadilan. Dalam waktu singkat Yunho hyung memenjarakan mereka semua."

"Sudah sepantasnya mereka dihukum atas apa yang telah mereka lakukan." Ucap Jaejoong dingin.

Changmin tersenyum lembut. "Kau benar. Namun,tiba-tiba rival Yunho di LA mengejarnya kemari.-"

"Rival?"

"Yah.. setidaknya orang itu yang menganggap Yunho hyung rivalnya. Kau tahu korban pemukulan hyung? Dialah rivalnya."

"Tunggu. Kau bilang pengacara itu rival Yunho? Berarti Yunho seorang-"

"Ya.. Hyung adalah seorang pengacara.. Dan seorang dokter juga sebenarnya.. Hyung sarjana hukum dan kedokteran dari oxford-"

"MWO?.."

"Hahaha.. mengejutkan bukan? entah apa yang terjadi di bar itu.. Yang jelas, si pengacara itu memanggilnya, dan-".

Suara derap langkah membungkam Changmin. Ia pun menoleh ke arah asal suara, diikuti manik mata Jaejoong yang kini melebar.

Yunho berjalan terseok di jalan setapak menuju hutan.

.

.:mako-chan:.

.

Suara deru angin menerjang dedaunan. Menggaungkan kata yang meremangkan bulu roma. Jaejoong memandang ke atas. Melihat ribuan bintang masih mengintip di antara rimbunnya pepohonan di tengah hutan. Burung hantu memutar kepala, mengawasi makhluk baru yang jarang ia lihat keberadaannya. Matanya bagai senter yang memancarkan sinar. Jaejoong melihat ke atas dan bertatapan dua sinar itu.

"UUUU'…! UUUU'…!" burung itu mengeluarkan suara. Jaejoong mundur karena takut. Lalu ia berlari menerjang pekatnya semak. Yunho telah berada jauh di depannya.

Semakin kedalam, jalan setapak yang dilaluinya semakin menyempit. Namun ia beruntung. Menemukan Yunho di ujung jalan setapak sebelum akhirnya jalan itu tertutup rumput dan menghilang. Ia benar-benar kewalahan. Berkali-kali ia tersandung akar pohon yang menonjol atau terjerat gaunnya sendiri hingga terjatuh. Namun ia tidak menyerah. Ia masih akan mengkuti namja itu kemanapun ia pergi.

Medan semakin berat dan landai. Nafas Jaejoong terasa habis.. separtinya Yunho berniat untuk mendaki. Pikiran itu membuat Jaejoong kalut. Kakinya sudah lecet dan pegal. lelahjuga mendera tubuhnya. Jaejoong mendesah dan melepas high heels dikakinya. Sebenarnya ia ingin membuang benda itu sejauh mungkin, namun benda sialan itu milik ahjumma. Ia harus mengembalikannya nanti. Aigooo.. dua orang itu memang menyusahkan.

Pepohonan semakin renggang. Hingga akhirnya ia menemukan lapangan luas. Rasa lega meliputi dirinya. Ia berhasil mendaki!. Wohohoho! Ia akan memamerkan diri di kantor begitu sampai nanti.

Yunho berdiri di ujung lapangan. Tak jauh dari mulut jurang. Jaejoong menatap punggung Yunho diantara bintang-bintang. Pikiran bodohnya memicu jantungnya berdebum-debum. Membuat irama yang memusingkan di otaknya. Jaejoong memperlambat langkah, Menyentuh punggung Yunho yang bergetar. Mata kelam sarat kepedihan terarah pada Jaejoong, namun Yunho tidak melihatnya. Pandangan Yunho kosong menembus keberadaannya. Menyimpan kepedihan yang menyayat hati Jaejoong. Ingin rasanya ia merengkuh namja itu kedalam pelukannya. Menamenginya dari penderitaan dan pekatnya kesedihan yang terselubung.

"Apa yang kau lakukan disini." Ucapnya dingin

"Mengikutimu.."

"Pulanglah. Kau sudah bebas. Aku tidak membutuhkanmu."

"Tidak. Aku tidak mau."

Yunho menyambar lengan Jaejoong dengan kasar, dan menyeretnya kembali kehutan. Jaejoong terhempas dan terjerembab diatas rerumputan. Rasa nyeri kembali menjalari luka yang dijahit Yunho. Tapi sakit luka itu tidak berarti dibandingkan rasa sakit melihatnya terpuruk seperti ini.

Ia mengejar Yunho kembali. Menarik pundaknya dan mendaratkan tinju dipipinya. Tangannya terasa kebas. Pelajaran berharga: meninju orang itu sakit!.

Yunho berdiri. Marah. Di sentakannya bahu Jaejoong. Akhirnya Matanya beradu dengan mata Jaejoong. Mata yang memantulkan berjuta bintang di belakangnya membuatnya merasa tenggelam di samudra yang hangat.

Jaejoong melihat genangan dimata Yunho sebelum menutup mata, bersiap menerima balasan dan menunggu datangnya rasa sakit di atas tubuhnya. Namun, alih-alih merasa sakit, ia malah merasakan kehangatan menyelubungi dirinya. Matanya terbuka karena kaget. Yunho mendekapnya erat. Seluruh tubuh namja itu bergetar. Yunho menangis di pundaknya. Meluapkan kesedihan dan air mata yang telah disimpannya selama ini. Jaejoong membeku.

Perlahan tangan putih mendarat di kepala dan punggung Yunho. Menaunginya dari keperihan dan mengirim kehangatan ke dalam diri Yunho. Pelukan mereka begitu erat. Seakan berusaha melebur menjadi satu. Jaejoong mulai oleng karena seluruh berat badan namja itu bertumpu pada badan mungilnya. Mereka terjatuh dalam keadaan berpelukan. Wajah Yunho masih tertanam dalam pundak Jaejoong. Ya.. Mereka masih dalam posisi itu hingga entah kapan.

Suara desir angin menyapu pepohonan dan menggema di antara kegelapan pekat bertabur beribu kristal yang berkilau indah. Diantara hijau rumput berselimut malam, pengerat tanah berlari di antara rerumputan. Menatap dua makhluk besar yang terduduk menghadap langit lepas dan menghilang dalam lubang hitam yang berlindung dalam siluet malam. Seseorang bertubuh kecil diantara makhluk besar tadi menggigil sejenak.

"Kau kedinginan?"

"A-Ani. Nae gwaenchanna yo."

"Jeongmal yo?"

Bagai menjawab pertanyaan Yunho, Angin gunung turun dan menghempas pepohonan. Membuat suara gemuruh dan rasa dingin yang menusuk tulang itu datang lagi. Jaejoong gemetar sesaat. Suara giginya yang beradu mengundang senyum namja di sampingnya. Namja itu menyelimutinya dengan rangkulan. Menggosok-gosokkan tangannya yang menghangat dibawah luka yang tertutup perban.

"Yunho-sshi.."

"Ne?"

"Aku.. telah mendengar semuanya dari changmin-sshi"ucapnya lirih. Gerakan tangan Yunho terhenti. Beberapa saat kemudian tangannya kembali menghangatkan lengan Jaejoong.

"Memangnya apa yang kalian bicarakan?" lanjut Yunho

"Hampir segala hal tentangmu."

Kini tangan Yunho benar benar berhenti. Lalu menarik tangannya perlahan dan memeluk kakinya sendiri. Pandangannya terarah ke langit lepas.

"Begitu ya.."

Jaejoong terdiam menatap Yunho, lalu mengikuti arah pandangnya, menatap hamparan padang kristal dalam pekat di depannya.

"Jadi ijin praktekmu sebagai pengacara di cabut?"tanya Jaejoong akhirnya.

"Ya..."

"Berarti kau akan menjadi dokter, Yunho-sshi?"

-sunyi-

"Entahlah, Aku tidak yakin..."

Jaejoong terdiam. Matanya berubah hampa.

"Apa yang akan terjadi besok? Apa.. kau akan kabur?"

"Anni. Aku tidak akan kabur... Aku akan menyerahkan diri."

"M-MWO? Tidak.. Apa kau gila? Huk-"kata Jaejoong panik

"Ya. Hukumanku akan bertambah berat. Konsekuensi yang harus aku ambil Jaejoongie..."

"Tu-tunggu! K-kau tidak memikirkan bagaimana sedihnya ahjumma? A-atau ahjussi, mereka-"kekalutan Jaejoong teredam oleh tawa Yunho.

"kau sangat lucu Jaejoongie.." kini tatapan itu bertemu lagi.

Wajah Jaejoong membiaskan cahaya ribuan kristal malam.

"Mwo ya.." gerutu Jaejoong mengalihkan pandangan kedepan lagi.

.

.:mako-chan:.

.

Yunho masih tenggelam dalam pikirannya. Ia bertanya-tanya. Bagaimana mungkin namja bisa secantik dan seanggun ini? Bagaimana bisa mata polos sebening permata yang seolah menjeratnya dulu, kini terpoles cantik bak kristal dalam magnet bening terindah dan terkuat yang diciptakan untuk mengikat dan menawan matanya?

Dan bagaimana bisa seorang namja membuat pekat kesedihan dihatinya luntur hanya dengan merasakan keberadaan dan melihat senyum namja itu mengembang disampingnya? Dan yang paling membuatnya heran, Bagaimana mungkin bibir seorang namja bisa begitu menyurutkan kerongkongannya hingga mengering dan membuat jantungnya bergerak tak terkendali hingga hampir gila rasanya? Namun tidak lagi. Ia sudah menetapkan hati. Apapun alasannya kejadian di mobil tidak boleh dan tidak akan terulang. Kejadian itu tidak benar walau ia akui ia yang memulai dan ia yang tergoda. Ya. ia tahu namja cantik itu tidak melakukan apapun yang dapat digolongkan dalam kata menggoda ataupun menjerat dirinya. Ia yang menggila dan kehilangan kendali diri begitu melihat mata dan bibir itu. Kejadian itu pasti tidak akan terulang. Ia pasti bisa menghindar dari godaan namja itu. Jung Yunho adalah namja yang pengendalian dirinya bagai benteng terkuat di dunia.

-tadinya ia pikir begitu-

Masa bodoh dengan sopan santun. Masa bodoh dengan peraturan. Masa bodoh dengan pengendalian diri! *Yunppa mewek*

Ia sudah terikat dengan perasaan ini. Hatinya telah terikat dengan namja cantik di depannya. Akhirnya ia sadar. Ia mencintai namja itu.

"Yu-yunho-sshi? Kamu kenapa?"ucap Jaejoong khawatir oleh Yunho yang terdiam menatap nya begitu lama.

"Jaejoongie.. Kau tahu, kau makhluk tercantik yang pernah kulihat.."

-sunyi-

'He? Sepertinya tadi telingaku rusak. Kok sepertinya namja ini 'ngegombalin' aku ya?' jantung Jaejoong meronta tak terkendali. Sebaiknya ia pergi, sebelum pikiran Jaejoong mulai menggila dan membiarkan hati dan hasratnya tertawan oleh namja didepannya itu lagi. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

"U-Udara semakin dingin ya.. Hahaha. Lebih baik aku pulang. Kuppaiii" ucapnya. Secepat kilat ia berdiri dan berbalik ke arah pekatnya pepohonan.

Tanpa diduga Yunho menarik tangannya. Membuat Jaejoong oleng dan terjatuh menghadap langit.

"Sudah ku bilang kau tidak akan pernah bisa kabur dariku bukan?"ucap Jung Yunho yang kini menindih tubuh Kim Jaejoong. Dua jantung meronta. Tak lama kemudian, teriakan tertahan Jaejoong menyeruak dalam kesunyian.

.

.:skip scene:.

.

Langit kelam berubah membiru gelap. Kilauan kristal mulai menghilang. Menyisakan kilauan venus sendirian dan kesepian dimalam yang dingin dan mencekam. Udara sampai di titik terendahnya hari itu. Dari jauh terdengar suara sayup2 menggema. Tidak terlalu jelas apa yang disampaikan suara itu. Yunho membeku, seraya berdiri. Memakai pakaiannya dan memunggungi Jaejoong yang kini tergolek lemah tak berdaya.

"Ternyata mereka yang datang menjemputku lebih dulu... Jaejoongie.."ucapnya. Manik setajam rubah berbalik dan memandangnya. Menatap butiran bening membasahi wajah indah di depannya, dan mendaratkan bibirnya di pipi namja itu dengan lembut, menghapus air yang terus menetes dari mata namja yang masih terengah itu.

"Aku harus pergi chagia.."

Mata Jaejoong menatap nanar punggung namja yang kini berjalan menjauh. Meninggalkannya tergolek lemah begitu saja di ujung jurang setelah namja itu... namja itu.. *iissh! Tak tega aku ngetiknyaaa \(T0T)/*.

Air matanya terus bergulir tanpa henti dipipi Jaejoong. Ia tak mampu menggerakan badannya. Rasa sakit menghujam seluruh tubuhnya. Perlahan Ia mengalihkan pandangannya ke samping. Ke arah rumah keluarga Jung yang kini dikelilingi puluhan cahaya merah yang berpendar-pendar dibawah sana.

.

.:mako-chan:.

.

Jaejoong terjaga dari tidurnya. Suara tangis yang tak asing lagi terdengar. Dengan segera ia turun dan menuju kamar disebelah kamarnya. membuka pintu kamar itu, dan menekan saklar. Cahaya lampu menerangi ruangan bercat babyblue itu. Puluhan boneka tersenyum menyambutnya . Jaejoong melangkah ke ujung ruangan. Ke arah ranjang berukuran satu kali satu meter dan berterali kayu di tiap sisinya. Sesuatu bergerak2 dibalik selimut yang sewarna dengan dinding. Sepasang tangan kecil membuka dan menutup ke arahnya. Isakan tangisnya masih terdengar.

"Oh... Babyboy Kamu terbangun ya? Ada apa sayang?" ucap Jaejoong. Seulas senyum melengkung memandang si baby.

"wah, anak umma tidak mengompol.. Apa kau lapar babyboy?"

Jaejoong pun memiringkan pundak kecil itu, lalu merengkuhnya dalam gendongan. Ia pun berjalan menuju dapur.

Tubuh mungil dalam gendongannya meronta. Jaejoong mengelus dan menepuk punggungnya yang hangat untuk menenangkan. Perlahan namun pasti, si baby terdiam. Diambilnya susu yang masih hangat dalam microwave. Si baby mulai menangis lagi.

"Cup..Cup..Cup.. Sabar babyboy.. Hahaha.. Kau sungguh tidak sabaran"

Jaejoong duduk memosisikan dirinya dan si baby senyaman mungkin. Diminumkannya susu dalam botol yang di genggamannya. Suara decak menggantikan suara tangis. Jaejoong tersenyum dan mencium pipi gembil dalam buaiannya. Menimangnya dengan penuh kasih dan sayang. Di sentuhnya hidung yang indah dan mancung itu. Diciumnya juga mata tajam dan ber-iris kelam bak rubah yang mulai mengatup perlahan. Mata dan hidung itu selalu mengingatkannya pada seseorang. Hatinya bagai terkoyak mengingatnya. Tega benar namja itu meninggalkannya tergeletak tak berdaya sendirian. Terkoyak. Setelah apa yang ia renggut dan ia tanam dihati dan seluruh indranya. Namja itu memang pantas meringkuk di bui. Tidak! Itu terlalu ringan. Ia benar-benar ingin menghabisi namja itu dan membakar miliknya! (ummaa.. Jangan! Mako mewek bareng appa). Satu tetes air mata bergulir menuruni pipinya. Ia pun kembali menimang baby dipangkuannya dalam buaian. Suara timangannya mengalun merdu mengantar baby itu ke alam mimpi.

.

.:mako-chan:.

.

DOK DOK DOK

"Tenang! Tenang!" Ruangan yang tadinya hiruk pikuk dengan keramaian kini menjadi sunyi.

"Saudara Jung Yunho, anda tidak membawa pengacara untuk membantu anda?"

"Tidak pak hakim."

"Apakah anda menerima apapun yang akan dituduhkan kepada anda?"

"Tidak pak hakim, saya akan mengajukan pembelaan saya bila saya memang tidak melakukannya."

Hakim tersenyum mendengar jawaban Yunho. Pemuda itu tidak berubah. Kebenaran dan keberanian yang ia kagumi masih tertanam dalam dirinya. Sudah bertahun-tahun ia bertemu dengan namja itu di meja hijau, tak pernah satu kali pun namja itu kalah. Dan tak pernah satu kalipun namja itu memungut bayaran dari kliennya yang rata-rata dari kalangan menengah kebawah.

Ia begitu mengagumi namja cemerlang yang telah ia anggap bagai anaknya sendiri ini. Sudah delapan bulan persidangan Yunho. Ditambah dua bulan menunggu proses persidangannya. Pihak penuntut menduga Yunho adalah penjahat yang lihai menyembunyikan bukti hingga membuat pihak penuntut terus menunda pengadilan sampai 2 bulan. Namun dengan santainya, anak bodoh itu mempertanyakan tuntutan tindak kriminalnya yang menyandra seorang warga sipil di persidangan. semua orang, terutama jaksa penuntut bungkam. Sedangkan Jung Yunho, 'melongo' hingga akhir persidangan karena mendengar sandranya tidak menuntut tindak kriminalnya. Hakim itu tertawa. Persidangan paling konyol yang pernah dipimpin olehnya. Jung Yunho benar2 namja yang menarik.

Kini hakim bermarga Kim berdiri di depan sebuah sel. Seorang polisi membantunya membuka gembok. Tak lama, suara dentang pintu besi membentur tembok menggema. Seorang namja masih menunduk dalam posisi jongkok diatas ranjang keras.

"Yunho-sshi.."

Yunho mengangkat kepala untuk melihat tamunya.

"Hakim Kim.."ucap terkejutnya seraya berdiri dan menunduk hormat. Hakim Kim adalah hakim yang sangat ia kagumi. Hakim yang paling jujur di korea selatan. Hakim Kim tersenyum

"Aku datang untuk menjemputmu nak.. Mulai hari ini kau bebas.."

Yunho membeku. Seharusnya satu bulan lagi ia bebas

"Ta-tapi.. Ak-"

"Aku yang mengusahakannya.. Aku sungguh terkesan padamu nak.. Dan aku akan berusaha mengembalikan ijin praktekmu."

Yunho mematung seolah tak mempercayai telinganya. Sedetik kemudian, Tubuh renta hakim Kim telah berada dalam pelukannya.

"Bagaimana aku harus membalas budimu, hakim Kim.."

"Tidak perlu seperti itu Yunho-ah... Aku hanya merasa mubazir membiarkan negara ini harus kehilangan pengacara yang baik dan cemerlang sepertimu. Hahaha. Berkemaslah nak.. Ku tunggu didepan." ucap hakim Kim, seraya melangkah ke luar sel.

"Jeongmal gamsahamnida Kim ahjussi..!" Seru Yunho sambil membungkuk dalam-dalam.

.

.:mako-chan:.

.

Yunho melangkahkan kaki di trotoar yang penuh dengan pejalan kaki. Perasaan dejavu menerpanya. Jalan yang sama, udara yang sama, menuju rumah yang sama. Namun ada perbedaan mencolok disini.

Pertama. Saat itu malam telah menyelimuti, dan sekarang tengah hari.

Kedua. Saat itu, tidak ada seorang pun disini. Dan sekarang semua mata tertuju padanya. Bukan karena mengenalinya sebagai buronan.. Melainkan terpesona oleh ketampanannya, senyumnya, dan juga style-nya. Kemeja hitam dan celana merk ternama yang selalu ia kenakan kini kembali membungkus raganya. Menguatkan aura kebangsawanan yang telah mengurat akar dalam dirinya. Inilah sosok Jung Yunho yang sebenarnya. Namja bangsawan yang percaya diri, angkuh, dan keras kepala akan kebenaran yang dipegangnya. Dan ia akan memperkenalkan dirinya yang sebenarnya pada namja itu. Ia akan meminta maaf. Mata Jaejoong yang terkoyak itu selalu menyiksanya, membuat dirinya lebih rendah dari penjahat manapun. Membuatnya terseret dan berkubang dalam nista.

Yunho membelok digang sempit yang tercipta antara dua gedung yang tinggi. Langkahnya menggema di iringi suara tetesan air di penampungan. Beberapa meter kemudian langkah Yunho mendadak terhenti. Matanya melebar melihat selebaran pencarian yang tertempel didinding, pencarian dirinya yang buron satu tahun yang lalu. Namun anehnya selebaran itu masih baru dan penuh coretan. Ia menoleh ke ujung gang. Seluruh tembok tertempel rapi gambar dirinya. Dengan coretan berbeda ditiap lembarnya.

Yunho mundur. Membaca coretannya dari lembar pertama.

"Dasar perampok sadis.., Manusia rendah... Membusuklah selamanya dipenjara.. Penjahat kelamin-hahaha perampok isi kulkas, kembalikan makananku-"ucap Yunho menirukan isi sebagian coretan di fotonya. Terbayang dalam pikirannya bagaimana Jaejoong menulis beratus-ratus kata kasar yang terukir disana.

Pengacara gagal! Beware pervert! Mesum! Tukang intip! Dokter gadungan! Jahat! Tukang ambil kesempatan dalam kesempitan! Perompak mobil! Kenapa kau meninggalkanku begitu saja..T.T bodoh! Bego! Mesum! Pervert! Aigoo.. Kau memang pantas mati! hentai! Pergi ke neraka sana! Pervy, manusia angkuh, sombong, Otak lemon! Awas kau kesini lagi,kubakar milikmu! How dare you left me there ALONE, after what you did to me?otak NC, Tukang ingkar janji! Pergi sana pervert! tahukah kau aku kesakitan? Aku tidak bisa jalan.. Aku tersesat di hutan.. Dasar tidak bertanggung jawab! Aku membencimu Yunho! namja hentai!Dasar Otak isi ecchi! (mako:maaf..=.=') Membusuk sana dipenjara!

Akhirnya Yunho sampai pada lembaran terakhir. Lembaran yang paling penuh dengan umpatan. Butuh waktu untuk membaca tulisan alphabet yang bertumpuk-tumpuk itu. Hingga akhirnya ia menemukan satu kalimat yang dapat dibaca. Kalimat berhuruf hangul. Satu-satunya kalimat berbahasa korea dalam ribuan kalimat yang ditulis oleh Jaejoong di atas ratusan kertas di dinding. Jari-jari Yunho yang terkepal memukul kertas itu dengan keras. Perasaannya benar-benar bercampur aduk.

"HAHAHAHAHA" tawa putus asa yang begitu nyaring melesat dari kerongkongannya. Ia berbalik bersandar pada tembok, tubuhnya bagai kehilangan tulang. Tawa menyeramkannya membahana dan menjadi gema dalam lorong itu.

Tubuhnya merosot, tawa itu perlahan berubah menjadi rintihan dan isak tangis yang menyayat hati.

"Mianhae, Jaejoongie.. Jeongmal Mianhae..."

.

TOK TOK TOK

"Ya... Tunggu sebentar.." Tidak lama kemudian pintu terbuka mempertemukan mata cemerlang dan mata kelam setelah 10 setengah bulan tidak bertemu. Jaejoong mematung. Tidak mempercayai matanya.

'Orang ini Jung Yunho kah? Rambutnya dipotong, dan bajunya berubah, namun mata dan hidung itu! Tapi mungkinkah?' pikir Jaejoong

"Ho-Jaejoong-ya.." ucap Yunho bergetar karena seguk tangis. Panggilan Yunho seolah menghempasnya dari lamunan ke dunia nyata. Secepat kilat ia menutup pintu. Namun, terlambat, Yunho telah menahan pintunya. Adu tenaga antara keduanya pun terjadi. Frustasi, akhirnya Jaejoong membanting pintu kedinding. Membiarkannya terbuka lebar.

"MAU APA LAGI KAU KESINI? APA KAU TIDAK PUAS MENYAKITIKU, HAH!" sembur Jaejoong membelakangi Yunho.

"A-aku datang untuk minta maaf Jaejoongie... aku-"

Jaejoong terdiam. Shock. Dan amarah mendominasi dirinya.

"Tidak bisa.. Aku tidak bisa.."

"Aku tahu.. Aku begitu kejam meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu. Aku punya alasan-"

"ALASAN APA HAH! KAU TAHU? AKU SEPERTI TIKUS PERCOBAAN YANG TELAH DI BEDAH DAN DIBIARKAN HIDUP DENGAN LUKA MENGANGA! MERASA KESAKITAN! KEDINGINAN! DAN TERKOYAK SENDIRIAN! LALU APA ALASAN KAU MEMBUANGKU! APAA! JAWAB! APA!-"

Nafas Jaejoong yang terengah mendominasi udara. Kediaman Yunho membuat amarah Jaejoong kian memuncak.

"Kenapa diam? Ha? KENAPA KAU DIAM! TEGA SEKALI KAU! BERAPA KALI KAU MELAKUKANNYA HARI ITU! Membuatku tergolek tak berdaya hingga siang, DAN KAU MEMBUATKU TURUN GUNUNG DAN TERSESAT. TIDAK! JANGAN SENTUH AKU!" ucap Jaejoong. Yunho berusaha memeluknya untuk berbagi keperihan, namun Jaejoong menepisnya

"AKU TERSESAT! SEMENTARA RASA PERIH TERUS MEMBAKAR DALAM TIAP LANGKAH! PERNAHKAH KAU MEMIKIRKANNYA? AKU TAK BUTUH ALASAN MU JUNG YUNHO. PERGI! KUMOHON. PER-"

"SARANGHANIKKA JAEJOONG-AH! SARANGHANIKKA!" Aku Yunho saat akhirnya berhasil memeluk Jaejoong.

-sunyi-

Jaejoong terdiam rasanya sulit mencerna dua kalimat Yunho itu. Air mata terus menetes di pipi keduanya. Nafas mereka terengah setelah melepas emosi masing-masing.

"Mwo?" tanya Jaejoong tidak percaya.

"Kalau saat itu aku membawamu turun, kau akan dipenjara Jaejoong-ah.. Kau akan terjerat tuduhan membantuku kabur. A-Aku benar-benar tidak ada pilihan lain Jaejoong-ah..

Mianhae.. Aku tidak memperhitungkan perasaanmu dan penderitaanmu saat itu.. A-aku-!" ucapan Yunho terhenti, Jaejoong meronta.

"TIDAK! Aku tidak akan memaafkanmu! Kau kejam! Pergi! Kubilang pergi! Huhuhu" raung Jaejoong, sembari memukul-mukul punggung Yunho. Namun Yunho justru mempererat pelukannya.

"Andwae... Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.. Tak akan pernah.. Moshi mo jidai ga modoru no nara, boku wa itsumo sobani iru yo..(Walau dunia dihancurkan, aku akan selalu ada di sisimu) shinjitekure.. (percayalah...)". Ucap Yunho. Pukulan Jaejoong sudah tidak terasa, sebagai gantinya, tangan Jaejoong melingkari tubuhnya. Membalas dekapan Yunho dengan erat. Jaejoong terisak dalam pelukan itu

"Bogoshippo yo.. Jeongmal Bogoshippo Yunnie.."

Hati Yunho seolah membuncah. Jantungnya berdebum keras. Dipeluknya namja yang menempel didadanya lebih erat.

"Jung Yunnie saranghamnida" ucap Yunho.

"Mwo?"

"Aku membaca pesanmu di lembar terakhir.. Hahaha"

"Ne.. Saranghae yo Yunnie..." ucap Jaejoong lirih, seraya mendekatkan wajahnya.

"Na do sa-"

Suara benda jatuh terdengar, membuat Yunho menghentikan kata-katanya, dan berlari menuju asal suara. Khawatir ada penjahat memasuki rumah ini. Yunho memasuki sebuah ruangan. Ia tercekat, dan langkahnya terhenti.

.

.:mako-chan:.

.

Ruangan berwarna babyblue menyambutnya. Puluhan boneka menghiasi segala sisi kamar. Dan di sudut ruangan tempat tidur bayi lengkap dengan pagar di tiap tepinya masih berdiri kokoh. Sebuah merry go round berputar diatas nya, melantunkan musik klasik untuk sang bayi yang masih menangis. Yunho berjalan mendekat dengan perlahan. Tangan kecil terlihat menyembul dari selimut berwarna kuning gading. Tiba-tiba bayi itu berhenti menangis. Mata kelamnya yang kelam dan sipit berkedip menatap Yunho. Mata dan hidung yang mirip dengan miliknya. Bibir montok berwarna pink itu membulat dan membentuk huruf o. Ia mengantuk. Tangan mungil itu terbuka dan menutup ke arahnya. Yunho mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongannya. Jaejoong kini telah berada di sebelah Yunho. Membelai pipi makhluk mungil itu dengan jemarinya.

"Halo babyboy.. Kamu terbangun ya? Umma tadi sangat berisik y.. Apa kau lapar babyboy?"

"Jaejoong-ah... Anak ini.. Aku.. Apakah.. Aku…. (Yunho menelan ludah) Ayah biologisnya?.." tanya Yunho. Jaejoong terdiam memandang Yunho, lalu anak itu.

.

.

Jaejoong terdiam.

.

.

"Apa kau benar-benar sarjana kedokteran? Hahahaha apa kau pikir aku hamil dan melahirkannya Yunnie? Hahaha.. Kau sangat lucu. Mana mungkin namja bisa hamil apalagi melahirkan! Hahaha. ppabo!"ucap Jaejoong tertawa terpingkal-pingkal.

"Lalu, bayi ini?"

"Dua bulan lalu, seseorang meninggalkan nya di depan pintu.. dan kemarin, akhirnya bayi ini resmi ku adopsi.. Hehehe aku ummanya sekarang" kata Jaejoong bersemu merah.

"Ta-tapi mata dan hidungnya.. Lalu bibirnya, kulit, dan rambut ini.." gumam Yunho terperangah.

PLAK! Satu pukulan sukses mendarat di kepala Yunho.

"Ya~! Kau pikir yang punya mata dan hidung indah seperti itu hanya kau saja? Lalu ada apa dengan mulut, kulit dan rambutnya?"

"Mulut mungil ini... kulit putih ini... dan rambut hitamnya sama seperti milikmu.." jawab Yunho masih terperangah memandang Jaejoong. Membuat namja cantik itu tertegun dan memerah.

"A-apa kau yakin bukan kau yang melahirkannya?"

"mwo?"

.

.

.

..FIN:.

.

fuah... akhirnya tamat jugaaaaaaaaa hahaha.

tamatnya gantung ya... mian...T-T

dan finally... aku tahu judul novelnyaaa! wkwkwkwkw HONOUR BOUND!

akhir kata... mako-chan bener2 ngucapin terima kasih buat yang udah dukung dalam pembuatan ff ini. aku bener2 tersanjung... #deepbow beribu kali

mellchaaa widiwMin ,jeje100607 ,MaxAberu , HISAGIsoul, ireneayu ,Arisa Adachi ,ELLE HANA ,ninanutter ,mikihyo ,Lee Tae Ri ,gekikara lau icha22madhen ,Minan's Wife YJ Shipper BooJaeBearYun ,

Art YeKyu, Blueberry Spring, Lupe, anisha melodia,natsu,RieJoongie,JoongieJungJung,Vely,Kim Hanny,kart,Kim JaeNa YunJaeYooSuMinKyuShipper.

jeongmal gomapseumnidaaa...