Sadistic S. Kuro, in.
Untuk semua yang telah review, terima kasih banyak, bikin saya bangkit lagi dari berbagai masalah, juga menyemangati saya untuk terus menulis. Untuk semua yang menunggu fanfict abal ini (itu pun kalau ada) maaf saya baru bisa update setelah menghilang sekian lama.
Special thanks for :
Kiseki Amai, Kudo Widya-chan Edogawa, DarkNoah, Endou, Hikaru Uzumaki, Hikaru Uchiha, usil kipsi, Aoi no Kaze, Neko Raito-kun, Kuroi5, Za666, Syifa, Ruvina no Ookami Hime, Lee Lolina, eisa ayano, Uzumaki Winda, Akita Rei, Fi Suki Saki, Namikaze Narita-chan, yuchan desu, Puu Kyuukki, Ashahi Kagari-kun, and kitsune artix.
Serta salah satu fanfiction multichap abal dari author ini, alias Cinta yang Sadis, sudah saya hapus, karena saya baru sadar kalau alur ceritanya terlalu berantakan.
Setelah author ini lama menghilang, saya rasa ada banyak masalah di fanfic ini yang harus diperbaiki, tentunya dengan re-write. Jadi saya putuskan, saya re-write fanfic ini dari awal.
Serta saya umumkan kalau fanfic ini ganti nama, menjadi Another Crazy Version, karena inti dari fanfic ini adalah imajinasi liar dan gila seorang penggemar femNaru.
Start
Naruko's POV
Membosankan! Dua tahun aku di Akademi Ninja. Dan selama tahun-tahun itu, aku harus bertarung melawan kebosanan, kekesalan dan rasa kantuk di kelas.
Sakura dan Ino mungkin bisa dinobatkan sebagai siswi Akademi Ninja Konoha paling berisik sepanjang masa. Meski mereka termasuk pintar dalam tes, tetap saja menyebalkan. Sementara Sasuke, si penyebab teriakan mereka, terus-terusan mengangguku. Dia cowok yang aneh. Selalu berusaha mendekatiku.
Hinata paling dekat denganku. Latihan berjalan dengan baik. Dia sudah menguasai Kaiten, meski seperti biasa, harus dengan bombardir hujan kunai. Aku sukses menghilangkan penyakit gagapnya! Banzai!
Shino dan Kiba lumayan dekat denganku. Shino yang logis dan pendiam, dia partner yang bagus bagiku. Kiba sering sparring denganku, mungkin dia tertarik karena aku menggunakan rubah sebagai partner. Tentunya berakhir dengan seri. Dia lawan yang lumayan berat, sementara aku harus menahan diri dan menyembunyikan kemampuanku. Aku berharap setim dengan mereka nanti. Tapi pasti mereka akan tergabung dalam Trackers Trio bersama Hinata. Formasi standar Trackers Trio dan Ino-Shika-Chou sangat jarang diutak-atik.
Shikamaru… yeah, seperti klan Nara pada umumnya, jenius tapi pemalas. Dia sering tidur di kelas kalau pelajarannya membosankan atau sudah dipelajari sebelumnya. Dan kami jadi partner dalam urusan mencuri waktu tidur. Saat dia tidur aku yang berjaga, memastikan guru tak melihat, begitu juga sebaliknya.
Sementara Chouji, seperti yang diduga dari klan Akimichi. Dia agak malu dengan ukuran tubuhnya, Ino-Piggy-Purple-Holic selalu memaksanya untuk diet. Sementara bagiku tak masalah, toh dia tak terlalu payah seperti yang dikira orang. Hanya pada masalah kecepatan. Dia selalu membawa keripik kentang dan tak keberatan membaginya denganku. Aku juga kadang-kadang membawakannya bentou kalau tidak terlalu sibuk latihan. Aku senang saat dia bilang kalau dia menyukai bentou buatanku.
Saat ini kami sedang istirahat makan siang. Aku, Hinata, Kiba, Shino, Chouji dan Shikamaru. Um, coret kata makan siang untuk Shikamaru, dia dipastikan sedang tidur atau hanya berbaring menatap awan. Kami berteduh di bawah pohon di halaman belakang akademi. Seperti biasa, jam istirahat memang begini. Kurama-neechan tampak menikmati perannya sebagai rubah partner-ku, asyik mengerjai Akamaru.
Tiba-tiba… ada penampakan. Siluman pantat ayaam! Hyaah! Ups, ralat, maksudku si bungsu Uchiha, Sasuke-teme.
"Hey, Naruko-chan. Boleh aku di sini?" tanyanya, menunjukkan kotak bento bertumpuk duanya, seolah bilang dia hanya ingin makan di sini. Dia yang selalu dikejar-kejar fans-nya, pasti tak bisa menikmati makan siangnya dengan tenang, sehat sentosa lahir batin, tanpa harus dirujuk ke dokter THT karena gangguan pendengaran atau pun ke psikiater karena diragukan kadar kewarasannya.
"Tidak. Fans-mu bakal menyerbu, dan kami masih ingin menikmati makan siang dengan damai," ujarku ketus. Dia hanya menghela nafas, lalu berbalik dengan slow motion. Sekumpulan siswi sudah siap 'menerkam' dengan penuh nafsu.
"Kau membiarkan aku diterkam mereka?" ujarnya, kembali berbalik untuk menatapku.
"Ya. Keberatan?" ujarku dengan tatapan santai, memiringkan kepala ke kanan dengan tampang nyolot sok tak berdosa.
Dia tak menjawab, segera mengambil langkah seribu untuk mengamankan diri.
…
Jam istirahat hampir selesai. Tapi anehnya, aku merasa suasana di akademi lebih tenang dari biasanya. Setelah kulihat sekeliling, aku baru sadar kalau tak ada sekumpulan fangirls yang berteriak-teriak. Aku menghela nafas lega. Fangirl adalah tipe kunoichi terendah, bahkan menurutku tak pantas disebut kunoichi.
"Hey! Naruko!"
Tanpa menoleh pun aku tahu itu suara siapa. Haruno Sakura si banshee menyebalkan, putri tunggal dari Haruno Natsumi yang bikin masalah dengan mengacak-acak sistem akademi.
Well, mari absen dosanya. Kita lihat kurikulum akademi. Hanya ada ninjutsu sederhana, taijutsu dan shuuriken jutsu standar. Dan, apa-apaan dengan ikebana, alias seni merangkai bunga, sebagai salah satu kurikulum untuk anak perempuan! Aku tahu kadang itu berguna untuk misi yang melibatkan penggodaan! Tapi apa pentingnya ikebana kalau dibandingkan Kenjutsu?! Ditambah lagi… ujian genin yang… mengerikan. Tiga ninjutsu standar, Bunshin, Kawarimi dan Henge. Lalu, setengah dari kelulusan ditentukan oleh nilai ujian tertulis! Kutanya baik-baik, apa nama seseorang tertera di buku bingo hanya karena dia selalu dapat nilai sempurna tiap ujian tertulis di akademi? Hell NO! Aku yakin missing-nin kuat dan keren di luar sana diburu bukan karena 'dosa kecil' macam menyontek dalam ujian tertulis!
"Ya? Kenapa?" tanyaku, tetap memaksakan diri untuk menoleh meski leherku serasa mau patah.
"Bisa tolong ikut aku sebentar? Ini soal Sasuke-kun," pintanya dengan muka memohon dan menggenggam tangan kiriku dengan tangan kanannya.
Aku menghela nafas. Apa lagi ini? Aku tak mau ikut-ikutan dengan masalah si Teme itu! Lebih baik kutolak saja.
"Aku tak terima penolakan, Naruko," lanjutnya dengan tatapan bayi kucing buangan menuntut dipungut. Semacam Genjutsu? Well, mungkin… Kai! Oh, bukan Genjutsu…
"Dan aku tak terima perintah, Haruno-san," ujarku formal.
"Kami hanya ingin mengobrol sebentar denganmu."
"Kami? Kau dan seluruh fangirls si Teme itu?" tanyaku, menebak. Sialnya, dia mengangguk. Aku kembali menghela nafas, mengikutinya yang berjalan ke belakang doujo untuk latihan Taijutsu.
Di sana, ada cukup banyak anak perempuan, dengan wajah-wajah yang langsung kukenali sebagai fangirls si Teme. Mereka langsung mengepungku. Mereka dengan bodohnya mengira kalau bisa mengalahkanku karena aku kalah jumlah.
"Apa mau kalian?" tanyaku dingin.
"Jangan sok keren seperti itu! Hanya Sasuke-kun yang paling keren!" jerit salah satu dari mereka.
"Langsung saja, apa mau kalian?" tanyaku lagi. Masih tetap dingin, tapi kupastikan mereka bisa merasakan kebosananku atas ulah mereka.
"Apa yang telah kau lakukan pada Sasuke-kun sampai dia tertarik padamu?! Kenapa dia lebih perhatian padamu?!" seru Ino.
"Aku hanya melakukan sesuatu layaknya seorang kunoichi. Latihan dengan serius, tak terlalu banyak berteriak dan berdandan, tak terlalu berlebihan dalam penampilan. Aku melakukannya karena aku suka pada hal-hal seperti itu. Lagi pula aku tak suka pada Sasuke-teme," jawabku datar.
"Hey! Jinchuuriki Kyuubi! Kau sudah merebut nyawa kakek dan nenekku! Sekarang, jangan kaurebut Sasuke-kun!" jerit seorang anak yang lain, dari suaranya, jelas dia menahan tangis.
"Lalu? Kutanya, apa aku terlihat seperti ingin merebut Sasuke-teme? Aku tidak suka dia. Kuakui, dia memang rajin latihan. Tapi bagiku, dia tak berbeda dengan anak laki-laki lain di kelas hanya karena dia Uchiha yang kalian sebut elit dan keren dalam segala aspek."
"Apa yang kau bilang barusan, hah?!" seru si pink banshee emosi.
"Aku bilang dia tak berbeda dengan yang lainnya," balasku, menghela nafas, karena aku tak begitu suka mengulangi perkataan pada orang yang takkan mengerti, sesering apa pun aku mengulanginya.
"Kau! Kau akan menyesal! Akanku…" Dia tak melanjutkan perkataannya.
"Apa? Ancam aku sesuka hati, tapi aku tak takut padamu. Untuk apa aku takut pada orang yang bahkan masih terkilir hanya karena latihan stamina biasa?"
Yeah, dia selalu lemah untuk latihan stamina. Di saat yang lain mampu berlari 10 kali keliling akademi tanpa terjatuh, dia… cih… terjatuh di putaran kedua karena kelelahan, karena kakinya terkilir.
"Jadi, apa mau kalian sekarang? Kalian hanya kesal, 'kan? Kalian yang sudah lama mengejar Sasuke-teme tapi tidak dipedulikannya, sementara aku yang tidak menyukainya, malah menarik perhatiannya. Ayolah, bagaimana mungkin dia menyukai orang-orang yang mengejarnya secara terus-menerus secara fanatik dan berisik? Kalau kalian memang benar-benar menyukainya, lakukan apa yang membuatnya senang, bukan malah membuatnya semakin menjauhi kalian!" seruku.
Fangirls si Teme memang bukan urusanku. Tapi berhubung masalah si Teme itu merembet padaku… Sigh… mau tak mau… Hell, kuharap ada sedikit perubahan. Kudengar Inoichi-san khawatir formasi Ino-Shika-Chou tak berjalan baik karena anaknya… Yeah… Ino-Piggy-Purple-Holic.
Melihat tak ada respon, aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Aku tak mau dipelototi mereka dengan mulut ternganga dan mata terbelalak bagai orang bodoh.
"Naruko, tunggu!" panggil sang Purple-Holic. Sigh, padahal baru lima meter berjalan… Lima meter, catat itu. Kupaksakan diri untuk menoleh.
"Gomen…" ujarnya, amat lirih. Aku hanya tersenyum tipis. Kuharap dia berubah. Aku khawatir pada Inoichi-san.
"Naruko-neesan!"
Aku menoleh, ke arah satu-satunya orang yang memanggilku seperti itu di Konoha. Hinata. Dia berlari ke arahku dengan muka semerah apel.
"Hinata, kenapa mukamu merah?" tanyaku, meninggalkan nada dingin yang biasa kugunakan.
"K-Kiba-kun…" ujarnya lirih.
"Kenapa? Apa yang dia lakukan? Kalau dia macam-macam denganmu, kupastikan besok dia takkan melihat matahari terbit."
Dia hanya menggeleng. Kepalanya yang tadi sempat tertunduk, mendongak, karena aku memang lebih tinggi darinya. Iris lavender-nya menatapku dengan lembut. Sepertinya Kiba tak melakukan hal bodoh.
"Rencana sukses."
Aku hanya bisa menatapnya dengan bingung.
"Maksudnya? Kau mengerjainya?" tanyaku. Sedetik setelah kalimat itu meluncur, aku menyadari kebodohanku. Aku ragu kalau Hinata akan jadi Prankster Queen sepertiku dan Kurama-neechan.
"Bukan! Tapi Project-L!" balasnya.
Aku mengacak-acak data di otakku. Project-L. L. Akronim dari… Love? Aku ingat Hinata pernah membahasnya, kalau dia menaruh hati pada Kiba dan… ingin mengungkapkan semuanya. Baiklah… hanya ada satu kalimat yang pasti.
"Selamat, dan semoga tak ditentang Hiashi-jisan," ujarku, lalu terkekeh sambil menepuk bahunya. Dia hanya terdiam dengan muka yang makin memerah. Akhirnya, kurangkul bahunya, mengajaknya berjalan ke kelas.
Dan… meninggalkan sekumpulan siswi yang hanya bisa ber-gubrak-ria, plus sweatdrop, dan jangan lupakan bonus cengo.
"Oh ya, kutunggu undangan pernikahannya."
"Naruko-neesan!"
…
End of Naruko's POV, Normal POV
"Ahhh, salah satu hari di Akademi Ninja yang membosankan…" rutuk Naruko saat pulang dari Akademi Ninja persama Shino, Hinata dan Kiba. Kebetulan, arah rumah mereka searah, meski apartemen Naruko yang paling dekat. Sementara ketiga compound klan terletak di luar desa, seperti klan-klan ninja spesial lainnya.
Kiba berjalan di samping Hinata, sementara Naruko di sisi Hinata, disusul Shino di ujung.
"Naruko, memang tadi masalah apa dengan sekumpulan fangirls nggak jelas itu?" tanya Kiba.
"Masalah biasa. Dan seperti biasa, merepotkan. Argh… harusnya tadi aku bisa curi-curi tidur 10 menitan…"
'Dia jadi mirip Nara kalau sudah begini…' batin Kiba, hanya bisa terkekeh sambil sweatdrop.
"Naruko, apa nanti sore kau ada waktu?" tanya Shino tiba-tiba.
"Uh? Ya, memang kenapa?" balas Naruko balik bertanya.
"What! Shino! Kau mau mengajaknya kencan?!" seru Kiba.
"Ummm, Kiba-kun, kita masih sepuluh tahun…" ujar Hinata.
"Tidak… aku hanya ingin latihan denganmu. Kiba, Hinata, apa kalian mau ikut?" ujar Shino menawari rekannya.
"Pastinya!" seru Kiba sambil mengacungkan tinju.
"Aku ingin ikut, tapi… aku harus tanya Otousama dulu," ujar Hinata, tampak agak kecewa. Sementara yang lain hanya mengangguk mengerti, tahu bagaimana sikap Hiashi.
Sebenarnya, ada sesosok bayangan yang diam-diam mengikuti mereka. Dia mengira mereka tidak merasakan keberadaanya. Padahal mereka adalah Tracker Team. Naruko dan Hinata dengan doujutsu-nya, Kiba dan Shino dengan hewan-hewan rekan mereka. Mereka hanya berpura-pura tak menyadari keberadaan sosok itu. Tepatnya si Uchiha bungsu.
'Kenapa? Kenapa dia lebih dekat dengan mereka?' batinnya. 'Apa yang kurang dariku? Calon Rookie of the Year, seorang Uchiha, sudah pasti jenius dan kuat. Dia takkan mendekatiku hanya karena penampilanku. Lalu apa maunya?!'
Nafsu menguasainya, ingin rasanya dia menghajar dua anak laki-laki di Tracker Team itu. Apalagi melihat interaksi mereka yang 'intim' di matanya, meski faktanya itu hanya interaksi standar antarteman.
Sasuke tak tahan lagi. Dia segera melompat, menghadang di depan mereka.
"Oi, Teme, apa maumu? Mendokusei…"
Respon Naruko membuat Kiba tertawa, sementara Hinata dan Shino hanya tersenyum tipis. Mungkin karena overdosis bergaul dengan sang Heir of Nara.
Sayangnya, si bungsu Uchiha berambut jelmaan siluman pantat ayam itu tiba-tiba blank dengan respon Naruko. Dia dalam hati berharap yang dihadapannya itu bukan Shikamaru yang sedang Henge.
"Hey, Baka-Teme? Kau habis kena Genjutsu?" tanya Naruko.
Di titik ini, Sasuke berhasil mengumpulkan kesadarannya. Dia Uchiha! Dengan Sharinggan, sulit untuk menyerangnya dengan Genjutsu! Garis bawahi kata 'sulit', yang berarti bisa, bukan tidak mungkin.
"Tentu saja tidak."
"Lalu apa maumu?! Aku tak punya waktu seabad untuk menunggumu mengucapkan sesuatu!" seru Naruko, kali ini sudah mulai kesal. Kurama menggeliat tak nyaman di bahu kanan Naruko, siap kapan pun menyemburkan Beast Bomb kepada sang siluman pantat ayam.
"Hanya ingin bertanya. Kenapa kau lebih dekat dengan mere-" Ucapan Sasuke terpotong.
"Dan bukan denganmu? Well, semacam rahasia… Dan meski kau berasal dari klan Uchiha, bukan berarti kau punya hak untuk membongkar rahasia apa pun."
Sasuke kembali terdiam. Tak mempedulikan reaksinya, Naruko melangkahkan kakinya. Kiba tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana sang Uchiha di-skakmat Naruko. Akhirnya, Tracker Team itu ikut berjalan menyusul Naruko, meninggalkan sang Uchiha.
…
Naruko menutup dan mengunci pintu apartemennya. Kemudian langsung menuju Shi no Mori, atau Training Ground #44.
Baru setengah jalan, Naruko berhenti. Dia sudah keluar dari area Konoha. Di sekitarnya hanya ada pohon-pohon. Takaringgan aktif di kedua matanya. Sementara Kurama langsung melompat turun dari bahunya.
'Siapa mereka? ANBU Danzou?' batin Naruko.
'Entahlah. Apa pun itu, mereka sudah menjauh. Lanjutkan saja,' respon Kurama lewat telepati. Naruko mengangguk, tampak menonaktifkan Takaringgan-nya. Tapi, di balik helaian rambut yang jatuh menutupi mata kanannya, Takaringgan selalu aktif kalau sudah di luar apartemen.
…
Naruko berlatih bersama Kurama sampai Hinata, Kiba dan Shino tiba. Shino yang selalu datang lebih awal di antara Trio Tracker itu.
"Yo, Shino, mau sparring?" tawar Naruko.
Dia baru latihan Suiton, jaket hitamnya dilepas, membiarkan kaus oranye tanpa lengannya basah kuyub. Belum lagi helaian rambut merahnya yang jatuh bebas mencercah bahu. Shino hanya menggeleng dengan sedikit rona merah di pipinya. Dalam hati, dia bersyukur memakai pakaian tertutup dan jaket berkerah tinggi.
"Sumimasen, apa aku telat?"
Hinata datang, memecah suasana.
"Tidak. Hanya saja, kita harus tunggu Kiba kalau mau sparring dengan jumlah seimbang," ujar Naruko.
"Eh? Kiba-kun belum datang?"
"Ya, dan aku punya firasat buruk. Dia selalu datang bersamamu, 'kan?" Kali ini Shino angkat bicara, lalu saling pandang dengan Naruko. Kemudian mereka mengangguk.
Kurama hanya menyeringai melihat percakapan tanpa suara mereka, seolah lewat telepati. Dia lalu melompat ke bahu Naruko, sekaligus mengeringkan gadis sepuluh tahun itu dengan teknik Katon sederhana.
"Gaki, ingat chakra yang tadi? Aku merasakannya lagi," ujar Kurama.
Shino menyebarkan serangga-serangganya. Sementara Hinata mengaktifkan Byakugan.
"Hey, ikuti aku!"
Kurama melompat turun dari bahu Naruko, berlari, menuju ke sisi dalam Shi no Mori. Trio Trackers yang tahu soal Kyuubi, memutuskan untuk mengikutinya. Mereka tahu kalau sensorik Kyuubi jauh lebih baik dari binatang ninja.
Beberapa menit berlari, Kurama tiba-tiba berhenti,
'Kurama-neechan? Kenapa?' tanya Naruko.
"ANBU Nee." Jawaban singkat. Matanya menatap lurus dengan tajam, membuat yang lain mengikuti pandangannya. Kiba dan Akamaru, dikepung delapan ANBU Nee.
"Mereka ingin menyandera Kiba untuk memancingku," ujar Naruko berasumsi.
"Lalu bagaimana? Mereka ANBU, apalagi ANBU Nee yang dikenal pelatihannya tidak manusiawi. Kalau kita melawan…" Hinata tak melanjutkan perkataanya. Meski dengan latihan dari Naruko dan Kurama, dia masih tidak percaya diri dengan kekuatannya kalau melawan ninja high-rank.
"Satu-satunya opsi yang logis adalah melawan. Kalau kita tidak cepat bergerak dan mencari bantuan, nyawa Kiba dalam bahaya. Lagi pula, kita punya back-up kuat di sini," ujar Shino, meyakinkan Hinata. Kurama dan Naruko menyeringai saat menyadari siapa back-up yang dimaksud Shino.
"Okay, ini strateginya. Gaki, kau maju duluan. Tawarkan diri untuk menukar Dog-Breath itu denganmu. Hinata, cepat tarik Dog-Breath dan beritahu strategi. Saat delapan ANBU itu teralihkan perhatiannya oleh Gaki, saatnya menyerang. Insect-Freak, Hinata, lumpuhkan mereka secara tiba-tiba. Setelah itu, kita serang bersamaan dengan niat membunuh," ujar Kurama menjelaskan strategi.
"Apa harus dibunuh? 'Kan bisa ditangkap untuk dikirim di Divisi Interogasi?" tanya Hinata.
"Aku pernah mencoba seperti itu. Tapi Danzou meletakkan Fuinjutsu di lidah mereka. Kalau mereka sampai membocorkan informasi tentang Danzou, segel itu akan membuat tubuh mereka kaku. Dan kalau ingin membunuh mereka agar bisa mendapatkan informasi dengan teknik Yamanaka, itu percuma. Ada segel lain yang akan meledakkan tubuh mereka sampai tak ada jasad tersisa begitu mereka mati," jawab Naruko.
"Kejam sekali…" komentar Hinata lirih.
"Tapi itulah shinobi," timpal Shino.
"Well, lupakan hal barusan, jalankan strategi. Gaki, muncul dari arah yang berbeda agar keberadaan kami tak terdeteksi," ujar Kurama menginstruksi.
…
"Damn you! Lepaskan aku! Kalian siapa? Mana mungkin ANBU Konoha melakukan ini pada ninjanya sendiri? Lalu kenapa dari tadi kalian diam saja tanpa ekspresi? Hey! Jawab aku! Lepaskan aku!" raung Kiba.
Untuk ukuran laki-laki, dia cukup cerewet. Dia tak sadar situasi. Terikat sampai seperti ulat bulu yang menggelepar-gelepar dan dikelilingi delapan orang dengan seragam ANBU. Semua ANBU itu bertopeng putih polos, hanya ada kode angka di dahi topeng itu. 9, 10, 11, 12, 17, 18, 19 dan 20. ANBU dengan kode 18 tampak sudah cukup kesal mendengar ocehan Kiba. Dia memutuskan untuk membekap Kiba. Pilihan yang salah, sebenarnya.
"Hey! Lepaskan dia!"
Tentu saja mereka menoleh ke asal suara. Uzumaki Naruko, berdiri di sana, dengan kunai terhunus di kedua tangan.
Empat ANBU maju, berniat menyerang Naruko. ANBU yang paling dekat dengan Kiba angkat bicara sambil menodongkan ninjato-nya ke leher Kiba.
"Kalau kau mau menyerah baik-baik, kami akan lepaskan dia."
"Tujuan kalian… Kalian mengumpan Kiba untuk menangkapku, 'kan?!" seru Naruko.
"Bisa dibilang begitu. Lepaskan senjatamu," ujar yang lain. Naruko mendengus, menjatuhkan kedua kunainya, tak lupa melepaskan tas kecil berisi senjata di pinggang dan kaki kanannya. Dia lalu mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
"Fine! Kalian dapatkan aku, sekarang lepaskan dia! Kiba, cepat lari, temui Hinata!"
Salah satu ANBU menyeringai senang di balik topengnya, segera mengikat tangan Naruko di belakang. Begitu ikatan Kiba dilepas, dia segera lari sesuai perintah Naruko.
'Sesuai rencana. Baka Danzou, kau menggiring sekumpulan mangsa ke arah predator.'
"Juuken Raiton : Eagle Stab!"
"Aburame Technique : Chakra Drain."
Hinata menyerang dua ANBU dengan teknik Juuken khas Hyuuga. Hanya bedanya, kedua tangannya dialiri chakra Raiton. Sementara Shino beraksi, serangga-serangganya menyerbu, membungkus seorang ANBU sekaligus menghisap chakra mereka.
"Berhenti! Kalau kalian terus menyerang, nyawa bocah ini-" ANBU itu, yang tadinya memegang Naruko, tak jadi melanjutkan kata-kata. Tak ada tubuh Naruko yang harusnya masih terikat. Yang tertinggal hanya tali.
"Mengancam siapa, huh?"
Kelima ANBU yang tersisa menoleh ke asal suara. Naruko, dengan Kurama dalam Animal Form di bahunya, dia berdiri di atas pohon, dengan tangan berkacak pinggang menantang. Kiba dan Akamaru di sampingnya.
"Juujin Bunshin! Shikyaku no Jutsu! Katon Gatsuuga!"
Kiba dan Akamaru menyerang dengan dual-drill andalan Inuzuka itu. Di saat bersamaan…
"Fox's Fire Release : Fox's Firebreath!" seru Kurama, menembakkan bola-bola api dari mulutnya, mengarah pada Kiba dan Akamaru, membuat Gatsuuga mereka seolah terbuat dari api. Anehnya, api itu tak melukai Kiba dan Akamaru.
"Wind Release : Hurricane Wave!" seru Naruko, melempar pusaran angin tornado yang terbentuk di tangannya, untuk memperkuat teknik Katon Kurama.
Teknik modifikasi itu melibas lima ANBU, membakar mereka hidup-hidup. Seorang ANBU yang dibungkus serangga-serangga Shino sudah pingsan, kehabisan chakra. Sementara dua ANBU yang diserang Hinata sudah tak bisa bergerak. Selain karena Juuken menutup titik Tenketsu, chakra Raiton yang dialirkan punya efek melumpuhkan.
"Okay, lima tewas karena teknik kombinasi, ada sisa tiga yang tak beruntung. Siapa yang mau mengeksekusi?" tanya Kurama, setelah mengikat tiga ANBU yang tersisa dengan rantai penghisap chakra.
Hinata menggeleng. Dia belum pernah membunuh selama hidupnya, meski berlatih jurus-jurus berbahaya.
Kiba juga menggeleng. Dia sudah cukup puas membantai lima ANBU, meski dengan bantuan Elemental Combination Ninjutsu Naruko dan Kurama. Jujur saja, lima ANBU itu adalah korban pertamanya.
Shino hanya menggeleng. Dia juga belum pernah membunuh seperti Hinata. Dan meski dia punya cukup kewarasan, dia belum mau melakukannya.
"Well, gaki, kalau kau tak mau, aku saja, deal?" tawar Kurama, sebenarnya sudah nafsu untuk membunuh sekumpulan orang bodoh yang berani menyerang adik kesayangannya. Terbukti dari cakarnya.
"Kurama-neechan, cara membunuhmu terlalu brutal, lebih sulit untuk membereskan TKP," ujar Naruko dengan sedikit sweatdrop.
"Lalu? Tunggu apalagi? Bunuh mereka sebelum sadar," balas Kurama.
"Crystal Release : Shatterred Corpse!"
Tiga ANBU itu perlahan terbungkus kristal berwarna biru langit. Kemudian…
Krak! Krak!
Sejumlah retakan muncul di kristal itu, perlahan memecah menjadi ribuan potongan kristal… bersama dengan jasad ketiga ANBU itu, kemudian menghilang, menjadi debu.
/(Author's Note : Well, author harap readers mengerti apa yang saya maksud. Sulit mendeskripsikannya… -_-)/
"N-naruko-neesan…" Hinata jatuh dengan lutut tertekuk. Dia tahu Naruko pengguna Shoton. Dia sudah pernah melihat Naruko bertarung. Dia sudah pernah melihat Naruko membunuh. Tapi… dia belum pernah melihat Naruko merenggut nyawa dengan begitu mudahnya.
'Sekejam inikah… apa ini yang disebut shinobi?' batin Hinata, mulai menangis. Dia belum pernah membunuh. Meski ini bukan pembunuhan pertama yang terjadi di depan matanya. Kiba berjongkok di samping kiri Hinata, menepuk lembut bahunya.
"Hey, Hinata. Aku tahu ini berat bagimu. Tapi… di saat kau ragu untuk membunuh, banyak orang di luar sana yang sudah tak ragu untuk membunuh. Sebagai shinobi, kita tak terpisahkan dari pembunuhan dan hal-hal lainnya. Kau kira bagaimana aku saat pertama kali membunuh? Aku juga… aku juga tertekan… saat itu aku masih bocah tujuh tahun…" ujar Naruko. Iris sapphire-nya seperti bernostalgia dengan masa itu.
'Mizuki-teme…'
Tsuzuku
Apa yang terjadi antara Naruko dan Mizuki tiga tahun lalu?
Sampai jumpa dua minggu lagi!
Words : 3.433
Pages : 12
Mind to review?
Sadistic S. Kuro, out.
