Penulis: ksomm814

Penerjemah: Mini Marauder

Harry Potter series © JK Rowling

Informasi selengkapnya, kembali ke Bab 1.


Bab 3 Pengungkapan yang Sulit Dipercaya

Pencarian Harry Potter terpampang di halaman muka Daily Prophet. Keadaan rumah Harry untungnya tidak dibahas, tetapi sebuah deklarasi yang mengungkap penculikan Sirius Black terhadapnya menyebabkan komunitas sihir gempar. Fudge terpaksa mengakui kebenaran bahwa Harry tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Sirius Black alias si narapidana, yang mana makin membuat marah. Howler melesat ke berbagai divisi di Kementrian. Semua orang merasa berhak menyuarakan pendapat mengenai metode pengasuhan sang penyelamat.

Hari ini, tidak seperti musim panas dua belas tahun belakangan, Hogwarts berubah hiruk pikuk. Hal ini tidak bisa dihindari, karena Hogwarts difungsikan sebagai markas besar Kesatuan Dumbledore dalam pencarian Harry Potter dan Sirius Black. Namun, tidak banyak orang tahu. Mereka yang dilibatkan antara lain: para staf Hogwarts, Mr dan Mrs Weasley, Alastor Moody (veteran Auror), Kingsley Shacklebolt, Nymphadora Tonks, juga guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, Remus Lupin.

Tidak banyak orang tahu tentang Remus Lupin, selain asumsi bahwa dia seharusnya mengenal Black sebelum narapidana itu bergabung dengan Voldemort. Dan bahwa Profesor Snape membencinya. Semua orang memperhatikan adanya tatapan penuh kebencian dan komentar-komentar menghina dilancarkan kepadanya. Yang membuat semua orang terkagum-kagum adalah betapa Lupin sangat kalem dan menguasai diri. Laki-laki itu belum pernah sekalipun bertingkah kekanak-kanakan, meski beberapa ingin Lupin begitu demi kebaikannya sendiri.

Berkumpul dalam suatu rapat seperti yang sudah mereka gelar sejak dua hari belakangan, para anggota Kesatuan itu, mau tak mau, termakan frustrasi. Setiap tempat yang diduga dijadikan persembunyian sudah diselidiki dan setiap saksi sudah diperiksa. Seakan-akan narapidana dan anak yang hilang itu lenyap dari permukaan bumi.

Dumbledore baru akan membuka rapat ketika seekor burung hantu berbulu coklat terang terbang memasuki Aula Depan. Burung hantu itu menjatuhkan sebuah surat beramplop biru di hadapan laki-laki tua itu. Semua konversasi berhenti sementara Dumbledore bergerak untuk membuka amplop… tetapi sebelum upayanya berhasil, amplop itu sudah mendahuluinya. Amplop itu membuka sendiri lipatannya. Sebuah suara dalam bernada sarkasme memenuhi Aula.

"Jadi, akhirnya kau sadar sang penyelamat kesayangan hilang. Pernahkan kau berpikir untuk mengecek seorang anak yang memikul beban banyak orang ini? Aku bisa meyakinkanmu, seandainya aku tidak turun tangan, Harry mungkin sudah mati sekarang. Apa yang ada di otak bebalmu waktu kamu menitipkan dia kepada Keluarga Dursley? MEREKA MEMBENCI SIHIR!

Sedikit informasi yang kau gagal perhatikan: Harry diperlakukan seperti budak oleh orang-orang seperti mereka! Dianiaya dan ditelantarkan. SUDAH BEGITU SELAMA BERTAHUN-TAHUN! Masa tidak ada di antara kalian yang melihat tanda-tandanya?!

Dan omong-omong, aku tahu semua konfrontasi Harry dengan Voldemort. Anak ini belum remaja tapi sudah punya keyakinan bahwa menyelamatkan semua orang dari makhluk jahanam itu adalah tugasnya. Troll? Guru Pertahanan kesurupan? Buku harian kutukan di tangan seorang gadis kecil? BASILISK?! ALBUS DUMBLEDORE, APAKAH KAMU BENAR-BENAR BERNIAT MELINDUNGI PUTRA BAPTISKU?!

Satu nasehat, aku akan mengawasimu. Satu saja bahaya mengancam putra baptisku, aku tidak akan ragu membawanya pergi, dan kali ini, selamanya. Harry berhak memiliki masa kanak-kanak, bukannya terjebak di dalam keluarga abusif dan bertarung sepanjang hidupnya. KAU SUDAH KUPERINGATKAN!

Kau bisa menemukan putra baptisku di Kamar Nomor 13, Leaky Cauldron. Kusarankan kau membawa serta Madam Pomfrey, sekaligus seseorang yang bisa melindungi Harry setelah kamu dan Kementrian gagal. Dursley mematahkan beberapa tulangnya sebelum aku bisa turun tangan.

Ayah wali yang murka."

Surat itu terlipat sendiri dan perlahan-lahan mendarat di atas meja. Aula sunyi senyap sementara semua orang menunggu reaksi Dumbledore. Kepala Sekolah Hogwarts itu tidak mengecewakan mereka. Dia berdiri pelan, lalu memandang orang-orang di hadapannya. Wajahnya keras, tubuhnya kaku; Dumbledore marah sekali.

"Minerva, aku minta kau ke St. Mungo dan menyampaikan informasi ini kepada Poppy," Dumbledore akhirnya berkata, serius. "Temui kami di Leaky Cauldron. Kingsley, Nymphadora, Alastor, Arthur and Remus. Aku harap kalian bersedia menemaniku ke Leaky Cauldron. Aku tidak tahu kondisi Harry seperti apa. Aku minta yang tersisa dari kalian menyiapkan Infirmary untuk merawat seorang remaja terluka."

Profesor Minerva McGonagall bergegas meninggalkan Aula Depan diikuti semua orang yang tidak ditugasi menemani Dumbledore. Kelompok yang bertugas dalam misi penyelamatan itu mengerumuni Dumbledore, yang mengangkat sebuah piala dan menjadikannya sebuah portkey. Semua orang mengulurkan tangan, menyentuhnya dan setelah beberapa lama, merasakan sebuah tarikan di balik pusar mereka. Mengirimkan mereka ke tujuan.

Mereka mendarat di Leaky Cauldron seraya mengeluarkan tongkat. Alastor Moody, si pemilik Mata Gaib yang terus bergerak-gerak tanpa berkedip, berputar-putar 360 derajat, terlihat betul seperti mata tunggal—Mata Gaib-nya kemudian terpancang ke arah belakang kepala laki-laki itu, sehingga yang tampak di wajah tinggal bagian putihnya saja. Dia memindai ruangan itu. "Dia ada di sana, Albus," geram Moody. "Sendirian."

Dumbledore mengangguk. "Remus, Arthur, mari," dia berkata. Kedua orang yang disebut namanya tahu kalimat itu bukan ajakan. Maka, mereka menurut saja. Bergerak cepat namun tetap tenang, Dumbledore menaiki tangga. Tidak berhenti berjalan sebelum menemukan Kamar 13. Dengan sigap, dia mengecek Mantra-Mantra Pertahanan yang dipasang di pintu. Tetapi dia tidak menemukan satupun.

Setelah membisikkan Alohomora, Dumbledore membuka pintu dengan hati-hati. Menguak keberadaan ruang berpenerangan redup. Kain-kain gorden ditutup, memblokir masuknya sinar matahari. Bau anyir darah menguar di udara. Suara napas terengah-engah menyumpal telinga mereka. Pada saat itu juga, semua orang menyetujui nasehat Sirius Black soal membawa serta Madam Pomfrey. Laki-laki itu tidak melebih-lebihkan apa yang dia sampaikan.

"Lumos," Mr Weasley mengucapkan lamat-lamat. Cahaya dari ujung tongkat sihirnya menerangi ruangan.

Pemandangan yang mereka temukan membuat ketiga laki-laki itu tercekat. Yang terbaring di atas tempat tidur, di bawah tumpukan selimut-selimut, adalah seorang anak yang sekujur tubuhnya babak belur dan tak dinyana, sedang sakit…. Dialah Harry Potter. Lupin dan Mr Weasley sontak menghampiri sisi si anak dan mau tak mau meringis, melihatnya.

Terdapat memar parah di seluruh sisi kiri wajah Harry. Anak itu menggigit bibir bawahnya, mencegah rintihan-rintihan terlepas dari bibirnya. Rambutnya basah kuyup karena keringat, tetapi dia menggigil kedinginan. Agak ragu, Mr Weasley menempelkan telapak tangannya ke dahi anak itu. Rautnya mengkonfirmasikan sebuah dugaan. Demam Harry tinggi sekali.

"Harry?" Mr Weasley memanggil, gugup, anak itu sambil menyentuh lengannya.

Reaksinya instan. Kedua laki-laki di sisi Harry melompat mundur ketika Harry berjengit, lalu mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya. "A—ampun," Harry memekik, ketakutan. "J—jangan sakiti Midnight! Kumohon, Paman!"

"Arthur, Remus, pegangi dia," perintah Dumbledore seraya bergabung dengan kedua laki-laki itu di tempat tidur Harry. "Jangan sampai dia mencelakai dirinya sendiri."

Lupin mengambil tangan Harry dan menekannya ke permukaan kasur sementara Mr Weasley memegangi kaki Harry. Mereka sengaja tidak menggenggam terlalu keras agar tidak menambah kesakitan anak itu. Dumbledore mendesah, lalu membidikkan tongkatnya ke si anak. "Ennervate," bisiknya.

Mata Harry terbuka separuh, tidak fokus. Benaknya dipenuhi rasa sakit luar biasa. Harry bisa merasakan ada sesuatu menindih tangan dan kakinya, setidaknya dia tahu dia tidak sendirian. Tangan dingin menyentuh dahinya, membuatnya menggigil. Pelan-pelan, Harry memiringkan kepalanya dan melihat banyak sekali warna putih. Dia menarik napas, terkejut—seketika, dia tahu dia membuat kesalahan. Rusuknya menjerit. Harry pun demikian.

Dalam sekejap, tangan Harry dibebaskan dan selimutnya diturunkan sampai ke dada. "Harry, kau harus tetap tenang," bujuk Dumbledore. "Bisakah kau ceritakan kepadaku hal terakhir yang kau ingat?"

Pikiran Harry masih macet pada fakta bahwa Dumbledore ada di kamarnya. "P'fesor?" dia bertanya, bingung. "Ap—apa yang—Anda harus pergi. Kumohon, kalau Paman Vernon—"

"Tidak usah cemas mengenai pamanmu, Harry," Mr Weasley menyela. Nada bicaranya lembut, penuh kasih sayang. "Kau aman darinya saat ini, jauh dari dia."

"Apa?" Harry bertanya. Otaknya seperti berjalan lambat sekali untuk memahami apa-apa. Dia mencoba memandang sekeliling, tetapi menggerakkan kepala hanya menambah buruk sakit kepalanya. "Dimana…?"

Satu lagi sengatan rasa sakit dari rusuknya memaksa Harry menjerit lagi. Air matanya meleleh. Dia tidak pernah merasa sesakit ini. Setiap detik terasa lama sekali. Pada saat itu juga, Harry tidak peduli lagi tentang rahasianya itu. Dia tidak peduli kalau Dumbledore dan Mr Weasley tahu tentang hukumannya. Dia hanya ingin rasa sakitnya berhenti.

Harry merasa ada yang mengangkat kemejanya dan menyentuh dadanya dengan hati-hati. "Setidaknya ada tiga rusuk patah," suara asing mengumumkan. "Bergerak sedikit saja bisa membahayakan organ lain."

Datangnya derap langkah kaki tergesa-gesa membuat orang-orang seketika waspada. Dumbledore dan Mr Weasley berjalan ke pintu, siap melindungi Harry kalau perlu. Sementara, Lupin duduk di sisi tempat tidur Harry dan menggenggam tangan anak itu. Jelas Harry ketakutan, dan dia punya alasan bagus atas ketakutannya itu. Harry sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.

"Harry, aku tahu kau kesakitan, tapi aku minta kau jangan bergerak dan tetap tenang," Lupin berkata, lembut. "Sudah berapa lama rusukmu sakit?"

"Ng—tiga minggu, mungkin," gumam Harry. "Em—kau siapa?"

"Namaku Remus Lupin, Harry," jawab laki-laki itu. "Aku guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru."

Langkah-langkah kaki berhenti di depan pintu. Harry tidak punya tenaga untuk menoleh. Untuk tetap sadarpun, seperti peperangan yang tidak bisa dia menangkan. Memejamkan mata, Harry mendengarkan kasak-kusuk percakapan lirih sebelum para tamu kembali ke sisi tempat tidurnya. Dia bisa merasakan kesadarannya terombang-ambing, terutama dengan sakit yang dia rasakan.

Berangsur-angsur, suara-suara semakin lirih. Mengizinkan Harry untuk jatuh kembali ke kegelapan nyaman yang belum semalampun dia rasakan semenjak dia kembali ke Privet Drive. Dia tidak tahu menahu apa yang berlangsung di sekitarnya, walau seseorang membuat keributan. Dia melewatkan omelan Pak Menteri, juga beberapa pegawai Kementrian lainnya, yang menuntut kesaksian Harry mengenai pencarian Sirius Black.

Sulit sekali bagi orang-orang untuk percaya kelakuan Black jauh dari kesan gila. Buat apa seseorang rela menempuh segala rintangan demi menculik seorang anak, lebih-lebih Anak Yang Bertahan Hidup, dengan tujuan sesederhana ingin menyelamatkan anak itu? Jelas-jelas Black memiliki rencana dan Harry Potter adalah bagian dari rencana itu.


(revisi 27/12/2013)