Warningnya adalah Naruto sangat OOC, tidak ada ledakan dan pertarungan, tidak ada cinta-cintaan. Heavily influenced by OREGAIRU. Jadi bisa dibilang ori gak ori.
Disclaimer : Masashi Kisshimoto
1
"Kau sedang baca apa?"
Seperti yang sudah kujelaskan di halaman sebelumnya, saat ini aku sedang menghadapi krisis terbesar yang pernah kualami selama enam belas tahun kehidupanku. Tinggal jauh dari keluarga, tidak punya uang lebih, terpaksa bekerja, dan dipandangi dengan muka penasarnnya anak kecil yang baru pertama kali melihat hewan langka. Oleh seorang gadis yang umurnya di bawahku.
Sebab tidak segera mendengar jawabanku, dia memutuskan untuk datang saja ke depanku dan membaca sendiri judul di atas sampul buku yang sedang kubaca.
"Prediksi soal ujian masuk universitas nasional, eehhh?"
Entah kenapa fakta kalau aku ini belajar membuatnya begitu heran?
"Aku kira kau ini orang penyendiri yang bodoh."
Bocah yang membaca judul buku yang kubaca sambil menghinaku tadi adalah pelanggan setia penyewaan komik tempatku bekerja ini.
Namanya adalah Hanabi, kelas tiga SMP, anak tunggal, dan kalau tidak salah dia tinggal di perumahan lima kilo dari sini.
Sebelum ada yang berpikir negatif tentangku, akan kujelaskan bagaimana aku bisa mengetahui informasi yang agak pribadi tadi. Karena dia sering bolak balik ke sini, aku menyarankannya untuk membuat kartu anggota dan sebagai syaratnya info-info di atas harus dia berikan.
"Kau ini baru kelas dua SMU kan? apa nggak kecepatan?"
Kalau ada lomba yang syarat menangnya adalah pesertanya tidak boleh sopan pada seseorang, aku yakin kalau bocah ini pasti menang.
"Jadi kau tahu aku ini lebih tua darimu? kalau begitu tolong tahan diri sedikit dan berhenti mengatakan sesuatu dengan tujuan melukai perasaanku."
Mendengar jawabanku, dia memberiku tatapan marah sebelum kembali ke kursinya yang berada di pojok ruangan dan kembali membaca.
Secara logika, harusnya aku yang marah. Tapi sepertinya, dia tidak berpikir dengan logikanya.
Kami sama sekali tidak punya hubungan yang dekat, kami tidak pernah ngobrol dengan akrab, bahkan kami sama sekali tidak pernah bertemu selain di tempat ini. Dan, tentu saja kami tidak bisa disebut teman.
Dia sering bertingkah seakan kami itu kenal dekat. Tapi yang kumaksud kenal dekat di sini adalah yang seperti tadi contohnya, dia bisa menghinaku dengan sangat natural. Meski padahal hubungan kami hanya sebatas penyedia layanan dan customer. Pure bisnis.
Selain menyakiti perasaanku dia juga sudah sukses membuatku menyesali menerima permintaan pembuatan kartu membernya yang harus memaksaku bolak-balik ke percetakan. Kenapa? sebab dia bahkan tidak pernah menggunakanya.
Biasanya, orang yang menyewa komik adalah orang yang ingin baca komik tapi tidak mau atau tidak punya uang untuk membelinya. Lalu biasanya lagi, orang yang membuat kartu anggota adalah orang yang ingin menyewa dalam waktu yang lebih lama dengan biaya yang lebih murah. Lalu lagi, sebab si penyewa ingin menikmati bacaannya biasanya mereka akan membawa komik mereka ke suatu tempat untuk dibaca di sana dengan tenang.
Hanya saja kasus bocah ini agak berbeda.
Dia terus saja duduk di kursi pojok ruangan membaca komik sampai sore walau aku yakin komik yang disewanya pasti selesai dibaca hanya dalam waktu setengah jam. Dia baru pulang kalau tempat kerjaku sudah tutup.
Artinya, dia baru mau pulang kalau aku sudah pulang.
"Aku rasa semua siswa yang ingin masuk universitas akan belajar di waktu-waktu seperti ini, lagipula aku ingin dapat beasiswa."
Belajar sama sekali bukan sesuatu yang buruk untuk dilakukan di waktu senggang.
"Jadi kau serius ingin kuliah? Aku sama sekali tidak yakin kalau kau bisa dapat beasiswa."
Kau kira tadi aku bercanda?
"Orang seperti apa aku di matamu?"
Orang yang belum menentukan tujuan atau belum punya target biasanya akan memilih jalan aman dengan masuk universitas. Dengan begitu, mereka bisa menghabiskan waktu sambil memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya tanpa takut tidak dapat sumbangan dana lagi. Dan aku termasuk dalam orang jenis itu..
Sayangnya, kuliah itu perlu banyak biaya yang sama sekali tidak sedikit. Karena itulah aku mencoba mendapatkan beasiswa. Meski aku ini memang bukan orang yang punya otak pintar dari lahir, tapi aku rasa dapat beasiswa bukanlah sesuatu yang tidak bisa diraih olehku. Karena itulah aku belajar lebih awal.
Yang perlu kulakukan adalah mencari jurusan yang jarang peminatnya dan mendaftar ke situ, dengan begitu kesempatanku dapat beasiswa akan jadi semakin besar.
"Lagipula, kalau aku dapat beasiswa uang yang dikirim untuk biaya pendidikanku bisa kunikmati sendiri."
Mendengar tambahan dari jawabanku yang sebenarnya tidak mau kukatakan itu, muka Hanabi berubah dan mulai memandangku dengan tatapan jijik. Lalu, tentu saja dia tidak lupa menambahkan hinaan sebagai follow up.
"Pikiranmu benar-benar licik, aku tarik kembali pujianku."
Aku hanya punya satu pertanyaan. Kapan dia pernah memujiku?
"Tidak ada yang dirugikan jadi apa salahnya?"
Awalnya, kukira dia itu anak perempuan pendiam tapi sepertinya pendapatku itu salah besar. Setelah serangkaian pembicaraan diselingi hinaan yang dia lontarkan padaku, secara tidak sadar kami malah jadi ngobrol tentang berbagai macam topik yang sama sekali tidak penting. Dari hal itu, aku mengetahui sebuah fakta yang cukup mengejutkan.
Ternyata dia lumayan talkactive.
Meski lidahnya memang agak tajam, tapi aku masih bisa menahan diri untuk tidak membalas hinaan-hinaan yang dia tujukan tanpa sedikitpun keraguan padaku. Memang kalau diambil hati, omongannya sama sekali tidak enak didengar. Tapi kalau kau tidak memperdulikannya dan menganggap hal itu sebagai sekedar intermezzo. Secara tidak terduga, berbicara dengannya cukup menyenangkan.
Walau tidak seratus persen. Tidak, tidak, bahkan tidak sampai lima puluh persen.
Pembicaraan pertama kami yang baru terjadi setelah dua minggu saling berinteraksi tidak berlangsung lama. Sebab bel di pintu tempat kerjaku berbunyi, aku harus segera menyudahi pembicaraanku dengan Hanabi secara sepihak.
Mau bagaimana lagi, walau kelihatannya aku sedang santai tapi tetap saja sekarang ini aku sedang berda di tempat kerja. Dan, yang namanya pekerja tugasnya adalah mengurusi pelanggan.
Karena ada orang sok yang membuat pepatah berbunyi pelanggan adalah raja, aku harus menyiapkan diri dan berusaha bertingkah ramah pada siapapun yang datang sebagai pelanggan.
Lalu dari balik pintu, muncul tiga orang gadis seumuran Hanabi yang masuk dengan langkah ringan menuju counter tempatku berada.
"Apa sudah ada yang baru?"
"Kayaknya belum."
Tentu saja belum ada yang baru, sebab terakhir kali dia menanyakan hal yang sama adalah kemarin. Kalau yang datang adalah orang yang baru pertama kali ke sini, pertanyaan itu sangat normal. Tapi kalau mereka yang datang, hal itu sama sekali tidak bisa dibilang logis.
Sebab mereka, sama seperti Hanabi juga setiap hari datang ke sini dan tahu jadwal tempat kerjaku mendapat stok baru, yaitu minggu kedua setiap bulannya.
"Eh kak, bagaimana kalau aku minta nomor ponselmu? dengan begitu kan aku bisa bisa langsung tahu kalau ada yang baru."
"Kayaknya itu nggak bisa."
Sebab aku tidak dibayar untuk jadi customer service dua puluh empat jam aku sangat tidak ingin melakukannya lalu, menjawab telpon dari bocah-bocah ini juga tidak akan pernah dihitung sebagai lembur. Mengangkat telpon malam-malam saat sedang enak-enaknya tidur kedengarannya sangat mengganggu.
Selain itu ada sebuah ungkapan yang bilang kalau urusan pekerjaan dan masalah pribadi harus dipisahkan.
Dan ponselku hanya miliku pribadi. Bukan inventaris.
"Ayolah. . . jangan pelit begitu."
Harusnya aku yang bilang begitu.
Tidak seperti Hanabi, meski mereka memang selalu datang ke sini tapi tidak ada satupun yang menyewa. Kadang mereka hanya duduk-duduk dan ngobrol atau mencari-cari sesuatu yang mereka tidak ingin baca.
Kenapa si bos punya pelanggan-pelanggan aneh semacam ini? Kalau dibiarkan saja, aku rasa kebangkrutan tempat ini tinggal hitungan minggu.
"Sayangnya nomer telponku hanya untuk orang-orang sepesial."
Yang kumaksud sepesial di sini adalah sepesial dari arti yang sesungguhnya, tentu saja bukan seorang pacar yang kumaksud. Sebab sampai sekarang aku tidak punya pacar. Bagaimana bisa punta pacar? temanku saja bisa dihitung dengan jari. Orang sepesial yang kumaksud di sini adalah Ayah, Ibu dan kakaku.
Percaya tidak percaya, kontak dalam ponselku cuma berisi empat nomor. Yang tiga adalah nomor keluargaku dan yang satu adalah nomor ponsel ketua kelas yang kudapatkan saat orientasi di kelas satu. Nomornya masih aktif atau tidak saja aku bahkan tidak tahu, sebab aku tidak pernah sekalipun mengontaknya.
Tanpa sadar, karena terlalu larut dalam pikiranku sendiri. Ketika aku bilang sepesial, tidak sengaja aku melihat ke arah Hanabi yang secara kebetulan juga sedang melihat ke arahku sehingga pandangan kami bertemu.
"""..."""
Bagitu sadar, ketiga gadis di depanku sedang melihatku dengan tatapan yang susah untuk kuartikan. Aku rasa mereka bertiga sudah salah membaca suasana. Meski aku sama sekali tidak perduli dengan kesalahpahaman macam apa yang mereka sedang pikirkan, tapi aku akan tetap bilang hal ini.
Aku tidak punya ketertarikan khusus pada gadis di bawah umur.
"Intinya aku tidak bisa memberikannya, tidak sekarang."
Mungkin dua atau tiga tahun lagi. Ketika aku sudah tidak ada di sekolahku sekarang dan lupa wajah kalian.
Pada akhirnya mereka menyerah dan pulang setelah mengacak-acak buku-buku dalam tasku. Aku tidak tahu apa yang mereka cari tapi yang jelas aku kehilangan penghapusku satu-satunya yang baru saja kubeli kemarin.
Sialnya.
Kalau kau tidak punya uang kau akan tahu seberapa berharganya benda-benda murah yang kau punya sekarang.
"Kau ternyata populer juga ya?"
"Kau baru sadar ya?"
Awalnya. Karena aku melihat seragam ketiga gadis SMP yang baru saja pergi tadi sama dengan Hanabi, kukira kalau mereka adalah teman. Tapi dari reaksi yang diperlihatkan Hanabi, sepertinya bukan begitu keadaanya.
Setiap gerombolan tadi masuk, Hanabi akan memulai masa hibernasinya dan diam seakan sedang mencoba membaur dengan tembok agar tidak bisa dilihat. Tentu sebenarnya dia tidak perlu melakukan tindakan semacam itu. Selain jelas tidak ada gunanya dan dia tetap kelihatan dengan jelas, gerombolan itu juga sebenarnya sama sekali tidak memperdulikan keberadaanya.
Keduanya selalu saja membuang pandangan setiap bertemu. Setidaknya saat di sini.
Aku tidak tahu masalahnya, tapi yang jelas hubungan mereka tidak terlihat baik.
"Aku sudah populer sejak kecil, bahkan tidak ada orang yang tidak kenal denganku waktu SD dan SMP! lali aku juga sampai punya julukan."
"Ehhhh?"
Dia meletakan buku di tangannya ke pangkuannya lalu melihatku setelah memiringkan kepalanya.
"Bukannya penasaran, tapi julukan apa yang kau punya?"
Naruto Kodok.
Saat SD kelas lima, salah satu temanku ada yang memanggilku dengan sebutan Naruto kodok.
Aku tidak tahu penyebabnya dan kapan mulainya. Tapi begitu aku sadar, semua teman sekelasku sudah ikut-ikutan memanggilku dengan julukan Naruto kodok. Dan yang lebih buruknya lagi, saat aku naik kelas enam hampir semua orang di kelas lupa dengan namaku dan pada akhirnya hanya memanggilku dengan kodok saja sampai lulus.
"Stop! stop! stop! apa kau tidak punya malu orang tidak tahu malu!? bagaimana bisa menceritakan kenangan memalukan semacam itu pada adik kelasmu dengan muka tidak tahu malu seperti itu?"
Mukaku memang tidak menunjukan ekspresi yang perubahannya terlalu signifikan tapi itu bukan berarti aku tidak malu mengatakan kenangan masa kecil yang ingin kulupakan itu. Hanya saja sekarang, aku akan memasang muka tembok dengan paksa dan menelan mentah-mentah rasa maluku.
"Sekarang kau sudah tahu seberapa populernya aku kan?"
"Jangan bicara padaku kodok, aku tidak mau orang mengira aku gila karena berbicara dengan kodok."
"Jangan ikut-ikutan memanggilku kodok!"
Aku tidak mau menambah pengikut aliran kodok sesat ini.
Sore itu, setelah menambah beberapa perbincangan tidak berguna lainnya. Dia mendekati counter dan untuk pertama kalinya, dia menyewa sebuah komik lalu membawanya pulang.
Dengan muka senang.
2
"Kenapa harus jadi begini?"
Saat ini, aku sedang berada di bawah sinar matahari yang cahayanya sedang panas-panasnya sambil mengawasi murid-murid baru yang sedang melakukan hal-hal tidak berguna atas perintah dari kakak kelasnya secara bersamaan. Dengan alasan orientasi.
"Naruto, jangan cuma bengong dan bantu aku!"
Lalu di hadapanku, seorang gadis cantik berambut panjang bernama Hinata yang kelihatan sedang kesusahan membawa berbagai macam benda yang biasanya hanya akan dianggap sebagai sampah.
"Oii!"
Dan kelihatannya dia akan segera marah.
Sebelum dia semakin tidak enak suasana hatinya, aku memutuskan untuk mendekat dan mengambil sebuah kardus besar dari tangannya.
Ini semua bermula saat tadi malam hujan deras turun dan membuatku terpaksa begadang karena memindahkan barang-barangku ke tempat yang aman dari bocor. Sebab hal itu, aku jadi merasa pegal-pegal dan capek sehingga tidurku jadi super nyenyak.
Lalu karena terlalu nyenyak, aku baru bisa bangun beberapa menit sebelum jam sembilan.
Semua hal itu mengakibatkanku yang tempat tinggalnya hanya beberapa ratus meter dari sekolah, harus datang terlambat dan disuruh lima kali lari mengelilingi lapangan sepak bola sebelum diperbolahkan masuk.
Aku sudah bilang yang sejujurnya pada petugas yang menanyaiku di depan gerbang. Tapi sayangnya, apa yang kukatakan hanya dia anggap sebagai alasan. Dan, kau tahu kan?
Alasan seorang murid itu ada untuk tidak dipercayai. Entah itu benar atau salah.
Sayangnya, kesialanku tidak berakhir cukup hanya sampai di sana.
Ketika aku masuk ke dalam kelas, ada sebuah rapat yang sedang diadakan untuk menentukan siapa yang akan jadi wakil kelas membantu perwakilan siswa mengurus orientasi murid baru.
Sebab aku sudah menarik perhatian dengan masuk paling terakhir, si wali kelas langsung menuliskan namaku di papan dan secara sepihak mengirimku sebagai salah satu dari dua wakil lainnya.
Murid baru yang mendaftar ke sekolahku tahun ini jumlahnya sangat banyak, anggota perwakilan siswa yang jumlahnya sedikit tidak bisa mengurus orientasi untuk anak-anak baru itu sendirian. Karena itulah mereka mencari bantuan dengan memaksa semua kelas mengirimkan wakilnya untuk membantu.
Setelah aku mengangkat kardus besar tadi, seseorang kembali datang dan menghampiriku. Tapi yang mendatangiku kali ini adalah seorang remaja laki-laki.
"Apa kau tidak apa-apa Naruto? kelihatannya mukamu agak pucat."
Aku tidak apa-apa, dan mukaku sama sekali tidak pucat.
"Kalau kau tidak enak badan, biarkan saja aku yang mengurusi semuanya."
Jangan cari-cari alasan untuk mengusirku.
"Jangan membuatku khawatir begitu."
Dari nadamu aku sama sekali tidak bisa merasakan adanya kekhawatiran..
"Urusi saja pekerjaanmu."
Yang dari tadi bicara sok akrab denganku adalah seorang siswa bernama Sasuke. Kalau kau hanya melihat tampangnya, mungkin kau akan langsung percaya kalau aku bilang dia adalah murid yang hampir sempurna.
Tapi jangan pernah beli buku setelah hanya lihat sampulnya. Minimal baca dulu summarynya.
Dia kelihatan pintar tapi sebenarnya otaknya sebelas dua belas denganku, meski aku tidak merasa bangga tapi aku akan jujur dan bilang kalau kami sama-sama sering dapat remidial. Dia kelihatan atletis tapi sebenarnya dia itu tidak bisa lari lebih dari tiga putaran lapangan basket dalam kecepatan stagnan. Kalau ada hal yang tidak bisa kukeluhkan darinya, hal itu cuma satu. Tampangnya.
Selain itu, dia juga punya sebuah flaw besar yang sering membuatnya harus bolak-balik ke ruang guru pembimbing. Dan hal itulah yang membuat Hinata jadi khawatir.
"Justru aku malah lebih khawatir padamu Sasuke."
Sasuke yang juga adalah salah satu dari wakil kelas kami adalah satu-satunya murid yang menawarkan diri dengan senang hati untuk membantu orientasi. Tapi tolong jangan beranggapan kalau dia itu orang baik yang punya tingkat kepedulian tinggi.
"Aku harap kau tidak menyerang satupun murid perempuan yang sedang melakukan orientasi, kalau kau sampai melakukannya reputasi sekolah bisa hancur."
Dengan menggunakan tangannya yang sudah bebas dari beban, Hinata menunjuk muka Sasuke.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal semacam itu! setidaknya saat di sekolah."
Jadi kesimpulannya, dia akan melakukannya kalau berada di luar sekolah. Sungguh pengakuan tidak terang-terangan yang sangat jelas.
"Daripada terus ngobrol di sini lebih baik kalian segera bawa peralatan ini ke lapangan! aku akan menyusul nanti."
Aku melihat Sasuke kemudian, tanpa persetujuan terlebih dahulu. Kami berdua sama-sama menghela nafas. Setelah itu, dengan langkah kaki berat kami berdua menuju lapangan sambil membawa peralatan yang sebenarnya tidak berguna.
Aku tidak tahu kenapa dia menghela nafas, tapi kalau dilihat dari cuacanya sepertinya dia hanya tidak ingin berada di bawah udara panas dalam waktu lama. Sedangkan helaan nafasku adalah caraku untuk menunjukan seberapa menyesalnya aku sudah ikut dalam kegiatan tidak berguna semacam ini.
Mungkin ada yang memperhatikan kalau dari tadi aku terus mengatakan kalau orientasi adalah tidak berguna, kalau ada yang tidak setuju silahkan saja. Sebab aku mengatakannya dari sudut pandangku, dan sudut pandang semua orang itu berbeda jadi sangat normal kalau terjadi perbedaan pendapat.
Sebelum ada yang menuliskan suat berisi tulisan protes terhadapku, akan kutuliskan terlebih dahulu kenapa aku menganggap kegiatan orientasi sekarang benar-benar tidak berguna.
Sekarang aku akan tanya dulu, apa tujuan orientasi siswa?
Mengesampingkan orang-orang yang hanya ikut arus dan tradisi, menurut wikipedia tujuan dari orientasi siswa adalah sangat sederhana.
Memperkenalkan siswa pada lingkungan fisik sekolah yang baru mereka masuki.
Ini adalah alasan dasar yang sangat dasar. Semua orang yang masuk ke dalam sebuah lingkungan baru pasti memerlukan penyesuaian, repot juga kan kalau tiba-tiba murid baru tidak tahu di mana toliet berada kan.
Memperkenalkan siswa pada seluruh komponen sekolah beserta aturan, norma, budaya, dan tata tertib yang berlaku di dalamnya.
Ini juga lumayan penting. Walau peraturan sekolah kebanyakan sangat merepotkan untuk ditaati, tapi melanggarnya akan memberimu masalah dan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Jadi mau tidak mau seseorang harus tahu peraturan lingkungan baru mereka guna menghindari masalah.
Memperkenalkan siswa pada keorganisasian.
Organisasi yang di maksud di sini sangat tidak jelas dan abu-abu, jadi aku tidak akan membahasnya karena setiap organisasi punya rulenya masing-masing.
Memperkenalkan siswa untuk dapat menyanyikan lagu hymne dan mars sekolah.
Yang beginian hanya berguna buat ceremonial dan sama sekali tidak ada gunanya dalam kehidupan bermasyarakat maupun pekerjaan. Jadi ini cuma peraturan tambahan yang dipenting-pentingkan. Hanya hal ini jelas masih perlu, sebab kalau kau tidak bisa menyanyikannya kau akan dicap tidak perduli dengan sekolahmu.
Meski memang aku tidak perduli.
Memperkenalkan siswa pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah.
Aku tidak sering berpartispasi di dalamnya jadi mari kita lewati saja bagian ini.
Mengarahkan siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat mereka.
Bagi siswa yang punya bakat dan atau keinginan, hal ini bisa dibilang penting. Masuk ke sebuah eksrakulikuler yang salah pasti tidak akan mengenakan. Sumber. Pengalaman pribadi.
Menanamkan sikap mental, spiritual, budi pekerti yang baik, tanggung jawab, toleransi, dan berbagai nilai positif lain pada diri siswa.
Kalimatnya membuatku pusing. Aku tidak ingin membahasnya, sebab apapun yang idealis tidak akan mungkin bisa terealisasi. Ideal itu sempurna dan yang namanya kesempurnaan hanya milik yang di atas. Aku tidak akan membahasnya lebih dari ini karena paling pol, yang mereka lakukan untuk menanamkan semua itu hanyalah kata-kata motivasi dan bukannya contoh.
Menanamkan berbagai wawasan dasar pada siswa sebelum memasuki kegiatan pembelajaran secara formal di kelas.
Ini juga perlu. Mempelajari bagaimana komunitas sosial bekerja adalah hal yang sangat diperlukan, dengan mengetahuinya kau bisa menentukan cara untuk menyembunyikan diri. Dari apa? dari masalah.
Jadi mengenakan pakaian memalukan untuk dipermalukan di depan orang lain itu masuk yang mana? melatih mental? mental apa? mental untuk menahan malu?
Kalau ditanya kenapa mereka melakukannya mungkin tidak akan ada yang bisa menjawabnya, sebab mereka melakukan hal itu tanpa berpikir alasannya. Mereka hanya meniru apa yang sudah dilakukan oleh pendahulunya. Meniru hal yang sangat tidak ada gunanya itu.
Mungkin kebiasaan itu bisa disamakan dengan kebudayaan membajak software.
Begitu sampai di lapangan, aku dan Sasuke segera memasangkan belasan tongkat yang diatasnya sudah dipasangi bendera warna-warni. Dan dari jauh, kami berdua bisa melihat puluhan murid baru yang sedang melakukan baris-berbaris di bawah panas matahari.
Aku tidak punya latar belakang kemampuan semacam itu, sehingga aku hanya melihat sepintas lalu kembali ke dalam sekolah untuk menerima perintah selanjutnya. Perintah untuk memindahkan barang-barang dari gudang ke belakang sekolah agar tempat itu bisa dipakai untuk kegiatan selanjutnya.
Setelah dua jam anak-anak baru itu melakukan baris-berbaris, mereka disuruh untuk berganti baju dan segera masuk ke dalam ruang kelas sementara, yang tadinya adalah gudang. Lalu di sana mereka diberi materi tentang sejarah sekolah, peraturannya, serta struktur organisasinya.
Sehabis satu jam lebih mendengarkan pengetahuan yang nantinya mereka juga akan tahu sendiri itu, mereka masih belum bisa beristirahat. Sebelum diperbolehkan untuk makan siang, mereka diharuskan untuk membersihkan area sekolah dalam kelompok.
Lalu ketika matahari tepat di atas langit, akhirnya semua orang dibolehkan untuk beristirahat. Dan orang-orang itu termasuk aku.
Meski tidak aku tidak tahu alasannya, semuanya disuruh untuk makan di dalam kelompok. Tapi meski mungkin tujuannya baik, syarat semacam itu agak-agak merepotkan. Mengesampingkan aku yang memang hanya punya sedikit teman dan tidak punya rencana untuk menambahnya dalam waktu dekat ini.
Kebanyakan murid-murid baru agak malu-malu untuk mendekat satu sama lain. Sebab sebagian besar dari mereka baru bertemu di hari itu, kelompok yang terbentuk hanya ada dalam dua kategori.
Kelompok pertama adalah kelompok yang isinya teman-teman lama dari satu sekolah dan kelompok kedua adalah orang yang terpaksa masuk dalam satu grup. Dan jika ada yang tidak masuk ke salah satu dari kedua kelompok itu, bisa dipastikan dia tidak kan punya tempat bahkan untuk duduk dengan damai.
"Tolong jangan bilang kalau dia juga masuk sekolah ini."
Aku sendiri sedang duduk di bawah sebuah pohon kecil yang bagian atasnya sudah ditebang karena menghalangi kabel. Tapi meskipun keadaanya tidak seratus persen sehat, pohon di belakangku masih bisa melindungiku dari panas. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi kalau tidak kebagian tempat.
Tapi sepuluh meter di depanku, ada seorang murid baru yang sepertinya sedang mengalami dilema yang baru saja kusebutkan. Dia membawa kotak makanannya sambil terus mengecek ke kanan dan ke kiri hanya untuk mendapati tidak ada lagi tempat yang kosong.
Tentu kalau dia mau sedikit menjauh dia bisa mendapat tempat untuk dirinya sendiri, tapi sayangnya di tempat itu ada terlalu banyak kakak kelas sehingga dia memutuskan untuk sekali lagi mencari tempat.
Dan ketika dia sedang menscan area di sekitarnya, sepertinya dia berhasil menemukan lokasiku dan untuk suatu alasan dengan muka lega dia segera berlari menuju tempatku tanpa memperdulikan pandangan teman-temannya.
Atau lebih tepatnya, calon teman-temannya.
Aku juga tidak perduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku, tapi meski begitu aku lebih tidak suka kalau mereka menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan yang pasti nanti ada hubungannya dengan Hanabi kalau dia benar-benar berencana untuk makan di tempatku.
Setidaknya begitulah yang kupikirkan, tapi.
Aku ingin segera pergi, tapi ketika aku melihat muka senangnya aku jadi tidak tega sehingga aku kembali duduk dan melanjutkan makanku sampai dia sampai di depanku.
"Sepertinya kau mungkin memang benar-benar bisa dapat beasiswa."
Aku tidak akan bicara tanpa basis. Mendapatkan beasiswa bukan harapanku melainkan tujuanku. Jika aku membuatnya hanya sebagai sekedar harapan kemungkinan aku akan mencapainya akan menjadi sangat kecil.
Lain cerita jika aku menjadikannya sebuah tujuan, yang namanya tujuan itu jelas dan jika suatu hal sudah dijadikan tujuan berarti si individu memang membutuhkannya dan bukan cuma menginginkannya. Banyak orang yang mengatakan apa yang membuat seseorang bisa melakukan sesuatu adalah mau atau tidak maunya.
Tapi bagiku, motivasi terbesar manusia adalah butuh atau tidak butuhnya. Meskipun tidak mau kalau seseorang butuh pasti dia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan sesuatu itu.
"Bukankah soal tes masuk ke sekolah ini sangat sulit? aku heran kau bisa sampai lulus dan masuk ke sini."
Aku tidak akan meminta hal mustahil seperti dia mengucapkan salam yang agak sopan padaku yang notabene adalah calon kakak kelasnya, tapi setidaknya aku sedikit berharap kalau dia menahan diri dan tidak menghinaku dengan terang-terangan.
"Kalau aku tidak bersekolah di sini aku juga tidak akan menargetkan beasiswa."
Awalnya aku hanya berniat untuk masuk ke sebuah SMU di dekat rumahku, tapi tanpa rasa belas kasihan kedua orangtuaku menolak usulku dan memaksaku untuk masuk ke sekolah ini. Dan karena sekolah ini adalah sekolah bertaraf internasional yang katanya adalah terbaik se propinsi, mau tidak mau aku harus belajar ekstra keras agar bisa diterima dan lulus tes masuknya.
Di sini nilaiku biasa-biasa saja dan bahkan banyak orang bilang kalau mukaku ini muka orang bodoh. Tapi meski begitu, nilai yang kudapatkan di SMP sudah cukup untuk membuatku mendapat rengking yang cukup membanggakan dua tahun yang lalu ketika ujian masuk.
Jadi gampangnya! bisa dibilang aku tidaklah sebodoh kelihatannya.
"Hey-hey apa yang kau lakukan!?"
"Memangnya perlu ditanya? tentu saja istirahat dan makan siang."
"Aku tahu itu! yang ingin kutanyakan adalah kenapa kau duduk di sampingku dengan jarak yang sangat dekat."
Terlalu dekat malah, bahkan lengan kami berdua akan bersentuhan jika aku mengangkat sendoku.
"Harusnya kau senang dan bersyukur bisa ditemani makan siang oleh gadis cantik sepertiku."
"Syukurlah."
"Bilangnya pakai perasaan!"
Kenapa aku harus bersyukur hanya karena gadis ini duduk di sampingku? memang benar dia itu cantik tapi tetap saja dia hanyalah anak kecil yang baru saja lulus SMP. Jadi daripada dibilang cantik kurasa dia lebih tepat dibilang lucu atau imut-imut. Atau yang sejenisnya.
"Ap-ap-apa yang kau bilang? bagaimana kau mengatakan hal itu dengan santai?"
Hanabi memandangku dengan mata yang terus berkedip dan muka merah, setelah itu dia mulai menjauhkan diri dari tempatku duduk lalu makan sambil menundukan kepalanya dalam-dalam. Kalau dilihat dari reaksinya, sepertinya dia baru saja mendengar sesuatu yang mengejutkan keluar dari mulutku.
Jangan-jangan.
"Apa tadi isi pikiranku keluar?"
Dia mengangguk dan menjawab.
"Iya."
Dengan suara pelan.
Setelah itu, dia jadi pendiam dan tidak lagi berbicara padaku.
Sebab hal itu adalah apa yang kuinginkan, aku juga ikut tidak bicara supaya tidak memancingnya mengobrol denganku dan membuat kami jadi kelihatan akrab dari menurut pandangan orang lain.
Hanya saja, saat aku masih kecil sepertinya aku sudah dikutuk oleh seseorang. Entah kenapa apa yang kumau selalu saja tidak pernah terjadi, dan meskipun terjadi apa yang kumau selalu saja hanya bertahan untuk sementara.
Untuk suatu alasan, begitu aku mendapat ketenangan yang kumau dua orang dengan muka familiar malah mendatangiku dengan kotak makanan ada di tangan keduanya.
"Sasuke apa kau melihat apa yang kulihat? sepertinya keajaiban dunia nomer delapan sudah muncul."
Hinata, yang sepertinya sudah menyelesaikan pekerjaannya serta Sasuke yang sepertinya sudah pulih dari dehidrasi melihatku dengan muka kaget yang dilebih-lebihkan.
"Naruto bicara dengan orang lain kecuali kita berdua memang benar-benar keajaiban."
"Woi! jangan seenaknya menganggap kalau kenalanku cuma kalian berdua!."
"Maafkan aku senior! namaku Hanabi, meski aku agak menyesal tapi sepertinya aku memang kenalan Naruto?"
Kenapa kau menyesal? dan kenapa di belakang kalimatmu ada tanda tanyanya terus tolong jangan mengabaikanku dan mulai berbicara satu sama lain tanpa memperdulikan keberadaanku.
Setelah berekspresi dengan berlebihan dan memancing semua perhatian agar ditujukan kepada kami berempat, Sasuke dan Hinata akhirnya memutuskan untuk ikut makan di tempatku berada. Menambah tingkat kebisingan dan rasa panas lingkungan di sekitarku jadi bertambah secara derastis.
Sasuke dan Hinata menyingkirkanku dan mulai berbicara dengan akrab pada Hanabi, sedangkan aku. Setelah disingkirkan hanya bisa melihat dan mengawasi pembicaraan mereka agar tidak ada hinaan yang keluar dan ditujukan untuku sambil melanjutkan makan.
Mereka bertiga mulai ngobrol dengan akrabnya tanpa memperdulikan keberadaanku. Lalu, tidak seperti sebelumnya Hanabi tidak menampakan wajah seakan dia itu orang hilang atau ekspresi yang menunjukan kalau dia tersesat. Dia bahkan selalu tersenyum dan tidak satu kalipun mengeluarkan kalimat hinaan dari mulutnya.
"Benar-benar diskriminasi."
Aku mengatakannya dengan suara pelan, tapi mungkin karena posisinya yang duduk lebih dekat padaku dia bisa mendengarnya sebab meski hanya sekejap. Dia sempat melirik ke arahku sebelum kembali melanjutkan obrolannya dengan Hinata dan Sasuke.
Lima belas menit kemudian, istirahat selesai dan semua orang kembali ke posisinya masing-masing.
Murid-murid baru kembali dijemur di bawah sinar matahari, kakak kelasnya kembali berubah jadi orang yang sok tegas dan aku serta Sasuke juga kembali jadi pesuruh kurang motivasi.
Pada jam dua siang, murid baru diperbolehkan untuk pulang setelah melakukan upacara penutupan. Sedangkan sebagian murid yang jadi pembina pergi entah ke mana dengan alasan kalau mereka ada rapat, meninggalkanku untuk membersihkan lapangan upacara sendirian saja.
Membuatku jadi kelihatan seperti orang yang kurang kerjaan.
Setelah setengah jam berlalu, seseorang menepuk punggungku dari belakang dan bilang.
"Dari sini biar kami yang meneruskan, kau sudah capek kan?"
"Aku tidak akan menganggapmu baik hanya karena kau mau menggantikan pekerjaan yang sembilan puluh persennya sudah kuselesaikan."
Jika dia memang ingin membantu, harusnya dia datang seperempat jam yang lalu dan bukannya sekarang di saat yang tersisa untuk dilakukan hanyalah membuang dan membakar sampahnya.
"Tolonglah."
Dia memohon-mohon agar aku memberikannya pekerjaan ini.
"Ya sudah."
Aku pergi dan membiarkan beberapa anggota perwakilan siswa yang tidak kuketahui namanya itu mengambil alih pekerjaanku.
Aku tidak suka mereka memanfaatkanku untuk mengerjakan hal menyusahkan itu hanya agar mereka bisa mengakuinya dan bilang kalau mereka yang sudah bersusah payah. Tapi meski begitu aku tetap pergi sebab harga diriku dikalahkan oleh rasa pegal di telapak kakiku dan rasa haus yang sudah sangat lama kutahan.
Aku kembali ke kelas, mengambil barang-barangku dan segera pulang. Begitu sampai aku langsung mandi dan segera berbaring di sofa untuk menghilangkan lelah. Hanya saja karena tempat tinggalku sedang sangat berantakan, aku tidak tahan melihatnya dan memutuskan untuk keluar.
Pilihan paling umum bagi remaja sepertiku yang tinggal jauh di kota yang bukan tempat lahirnya biasanya adalah taman di mana ada banyak orang. Tapi berhubung aku tidak suka tempat ramai dan aku tidak tahu di mana keberadaan tempat sepi yang bagus, bagai sudah di autopilot kakiku melangkah ke tempat kerja paruh waktuku berada.
Hanya untuk menemukan.
"Kau lama sekali, aku sampai lumutan menunggumu."
Hanabi yang masih berseragam duduk di depan pintunya.
"Aku punya banyak sekali pertanyaan Hanabi."
Seperti kenapa dia masih berseragam? kenapa dia datang ke sini? dan kenapa dia menungguku? lalu siapa yang memberinya hak marah padaku.
"Tapi untuk sekarang yang kumau hanyalah kau segera berdiri atau berhenti duduk bersila di depanku."
Sebab aku bisa melihat dengan jelas celana dalam bergambar stroberi yang sedang dia pakai.
"Dasar mesum!"
Dia menampar wajahku.
3
Satu. Harusnya, dia tidak datang ke sini bahkan sebelum pulang dulu dan berganti baju sebab di depan tempat kerjaku sudah ada pengumuman kalau selama tiga hari penyewaan komik ini akan tutup atau kalau buka hanya akan dari jam empat sampai jam lima. Yang artinya hanya satu jam.
Jadi sebenarnya dia tidak punya alasan untuk menungguku dari jam dua sampai jam setengah tiga dan duduk di depan tempat kerjaku selama berjam-jam seperti gelandangan.
Dua. Menunggu orang yang tidak jelas apakah akan datang atau tidak selama satu setengah jam adalah tindakan yang sangat bodoh.
Tiga. Berhubung aku tidak menyuruhnya dan juga aku tidak pernah menjanjikan apa-apa padanya berarti dia sama sekali tidak punya hak untuk marah saat aku sampai di sini beberapa menit yang lalu.
"Jangan membuatnya kedengaran seperti aku sedang mengejar-ngejarmu!."
Tapi kelihatannya memang begitu.
"Aku sudah kehilangan motivasi untuk bicara denganmu, kau mau apa ke sini?"
"Memangnya tempat apa ini? penyewaan komik kan?."
"Hah. . . . . "
"Kenapa kau menghela nafas Naruto?"
"Kenapa kau tidak menambahkan kak di depannya?"
"Grrrrr….."
"Hah. . . "
Yang ingin kudapatkan hanyalah sedikit ruang pribadi. Untuk sesaat aku tidak ingin ada anak SMP yang baru saja lulus terus menggangguku.
Dan seperti hari-hari sebelumnya seakan hubungan, maksudku pengaturan interaksi di antara kami sudah direset aku dan Hanabi diam dalam posisi masing-masing. Dia membaca komik yang di sewa sedangkan aku membaca buku yang sengaja kutinggalkan di tempat itu.
Kenapa rasanya aku sedang mengalami dejavu.
"Hey Han. . "
"Maafkan aku."
"Eh? apa?"
"Maafkan aku!."
Aku mendengarnya, aku mendengar dengan jelas apa yang dia katakan. Aku bertanya apa adalah karena aku tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Dia meminta maaf, tapi untuk apa dia meminta maaf. Aku tidak pernah bertengkar dengannya, sebab yang bisa bertengkar adalah mereka yang punya hubungan dekat. Dan jelas hubunganku dengannya sama sekali tidak bisa dibilang dekat.
"Yang tadi siang, maaf aku tidak bermaksud untuk tidak memperdulikanmu."
"Hah?"
Aku sudah terbiasa tidak diperdulikan, dan bahkan aku lebih suka kalau tidak diperdulikan. Tapi yang jadi masalah adalah kenapa orang ini minta maaf karena tidak memperdulikanku? memangnya siapa dia?
Pertama aku ini bukan wanita jadi aku tidak terlalu sensitif tentang masalah seperti itu. Kedua, seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya aku dan dia itu tidak dekat jadi aku tidak punya hak untuk marah saat dia tidak memperdulikanku.
Dan yang ketiga. Apa-apaan rasa bersalah salah tempatnya itu. Lalu, tolong jangan tatap aku dengan muka memelasmu itu. Kalau kau terus melanjutkannya aku tidak akan punya pilihan kecuali bilang.
"Iya."
Walau tidak jelas apa alasannya.
Setelah permintaan maafnya kuterima, suasana kembali jadi beku. Dan hal itu diperparah dengan kenyataan kalau seperti biasanya bos tempat kerjaku tidak ada dan pelanggan tidak ada yang akan datang untuk mengganggu sebab pengumuman libur yang kupasang.
Dia kelihatan ingin bicara tapi berkali-kali dia berhenti dan kembali menutup mulut. Aku juga sebenarnya ingin bicara tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa jadilah kami berdua terus diam sampai waktu jadi sore dan aku harus pulang.
Kukira, ketika jam kerjaku sudah selesai dan kami berdua harus menuju rumah masing-masing semuanya akan berakhir dengan damai tanpa ada kejutan. Hanya saja, kejutan yang sama sekali tidak kuinginkan itu tiba-tiba datang dari mulut Hanabi.
"Aku tidak ingin kejadian macam ini terulang lagi."
Setelah aku menutup pintu tempat kerjaku, dia menarik ujung kaos oblong yang kukenakan dan menghalangiku untuk berjalan kemudian memberiku tatapan marah lalu bilang hal di atas.
"Kejadian apa yang kau maksud?"
"Saat aku ke sini dan tidak melihatmu aku bertanya pada banyak orang , lalu setelah menyebutkan namamu mereka malah balik bertanya 'Naruto siapa?' padaku."
"Maafkan ketidakpopuleranku."
Jika dia bertanya pada orang-orang lewat jelas mereka tidak akan tahu siapa aku sebab aku tidak pernah masuk TV atau majalah. Jika dia bertanya pada orang-orang yang tinggal atau bekerja di sekitar tempatku mereka juga tidak akan mengetahui siapa yang gadis itu maksud sebab aku tidak berinteraksi dengan mereka sehingga jelas namaku saja tidak mungkin mereka ketahui.
Dan yang terakhir jika dia bertanya pada pelanggan penyewaan komik di belakangku, kecuali Hanabi dan anak 3 anak SMP lain yang sering mengunjungiku sepertinya juga tidak ada yang terlalu perduli pada namaku.
"Karena itulah berikan aku nomer telponmu."
"Logikamu benar-benar kelas olimpiade!."
"Jadi kau mau memberikannya atau tidak?"
Dia melihatku degan intens, tapi aku tidak mengartikan pandangannya itu. Entah dia marah atau berharap aku tidak bisa memastikan mana yang benar.
Aku memang pernah bilang kalau nomorku hanya untuk orang-orang sepesial. Tapi meski alasan itu memang bukan kebohongan alasan, utama aku tidak mau memberikannya pada bocah-bocah itu adalah karena aku tidak mau diganggu.
"Cari saja sendiri."
Dan Hanabi tidak terlihat seperti gadis yang akan mengsmsku saat sore dan tanya sudah makan atau belum, atau lagi ngapain saat malam. Dan jika dia benar-benar melakukannya aku akan langsung memblacklistnya.
Aku melemparkan ponselku padanya.
"Kau memberikan ponselmu padaku?"
"Aku tahu kalau kau bercanda tapi entah kenapa aku benar-benar khawatir kau berpikir aku memberikan ponselku padamu."
Dia kembali memberiku tatapan tajam tapi kali ini dia tidak mengatakan apapun dan tetap fokus pada kedua ponsel yang sedang berada di tangannya.
"Jarimu cepat juga Hanabi."
Tidak seperti ponsel tradisional berkeypad yang kupunya, ponsel Hanabi adalah smartphone berlayar lebar dengan interface touch screen yang menurutku sangat sulit untuk digunakan menulis. Aku sangat sering salah mengetik o dengan i, v dengan b, h dan j, k dan l, serta hapus dengan enter juga sering sekali salah kupencet.
Menurutku key virtual adalah keyboard paling susah digunakan, tapi Hanabi mengetik dengan sangat cepat menggunakan bahkan hanya sebelah tangannya.
"Kurasa normal, mungkin kau saja yang tidak biasa menulis apapun dengan ponselmu karena tidak punya teman sms."
Sepertinya penyakit ketidaksopanannya sudah tidak bisa lagi diobati. Yang kulakukan hanyalah bertanya tapi dia dengan naturalanya menjawab sambil menghinaku.
"Dasar bocah bodoh! Aku juga sering smsan saat SMP dan bahkan dengan anak perempuan."
Hanabi menjatuhkan ponselku lalu bilang. .
"Apa?."
Dengan ekspresi berlebihan.
"Hati-hati kau!."
Aku tidak punya uang lagi untuk beli yang baru, lalu sebab benda itu adalah hadiahku sebagai runner up saat ujian masuk aku akan dapat hukuman jika sampai merusakannya.
"Kau mungkin hanya melihatku sebagai kakak kelas tidak terkenal yang penyendiri, tapi ingat kalau aku ini lebih tua darimu, pengalamanku tentang hidup jauh lebih banyak."
Saat baru masuk ke SMP di hari pertama, semua orang sibuk saling tukar nomor ponsel. Lalu dengan muka yang kupaksakan tersenyum aku membawa ponsel warisan Ayahku dan meminta nomor ponsel teman-teman sekelasku.
Aku tidak mendapatkan banyak nomor orang lain sebab aku masih agak malu-malu tapi aku bisa mendapat beberapa nomor dari anak yang kira-kira mungkin bisa akrab denganku. Dan salah satu dari mereka adalah anak perempuan yang lumayan cantik.
"Aku tidak penasaran tapi untuk sekedar informasi, seperti apa dia? Anak perempuan yang kau sms itu."
"Kenapa kau butuh informasi seperti itu?"
"Grrrr. . . . "
Aku tidak berharap dia akan menjawabku dengan senang hati, tapi geraman kurasa agak kurang tepat digunakan sebagai sarana komunikasi.
"Dia itu gadis sehat yang lumayan menarik."
Ketika aku menemui gadis itu, dia sempat mengalihkan pandangannya tapi pada akhirnya di bilang.
"Ya sudah, simpan nomer telponku."
Setelah mendengar kalimat itu Hanabi langsung memasang muka simpati yang dibuat-buat lalu mengelap air mata yang tidak ada di kelopak tangannya dengan ekspresi yang disedih-sedihkan.
"Ya sudah. . ya ?. Aku turut berduka untukmu Naruto kadang dunia memang kejam pada orang sepertimu."
"Tolong tambahkan kak di depan namaku! Dan, jangan bayangkan aku sebagai karakter tragis yang jadi figuran! Setelah itu kami benar-benar bersms-an."
"Aku tidak bisa membayangkannya."
Aku mengiriminya sms jam tuju malam lalu dia balas besok paginya dan bilang. Maaf aku ketiduran, sampai ketemu lagi di sekolah
"Uhhh. . . tolong hadapi kenyataan dan percaya kata-kataku! Dia pura-pura tidur karena malas membalas smsmu kak Nar. . intinya begitu!"
Hampir. Sedikit lagi, sedikit lagi dia akan bilang kak Naruto. Tidak, aku tidak punya fetish khusus yang membuatku ingin dipanggil kakak olehnya. Hanya saja kalau dia menambahkan kak di depanku berarti dia sudah menghancurkan rekor ketidaksopanannya padaku.
"Kenapa kau tersenyum tidak jelas seperti itu?"
"Tidak apa-apa, berhubung sudah agak gelap mau kuantar pulang?"
"Jangan cari-cari alasan untuk bisa berduaan denganku, dan aku tidak mau ada yang melihatku hanya berdua denganmu lalu salah paham!."
"Rasa PDmu benar-benar sesuatu."
Aku agak khawatir padanya tapi sekarang rasa khawatirku sudah hilang tanpa jejak.
Akhirnya, kami berdua benar-benar berpisah dan pulang. Sambil mencari makanan untuk makan malam aku berputar-putar dulu di jalan dan baru sampai sekitar jam setengah tuju di kamarku. Sehabis itu, karena aku memang sudah lelah dan tidak mau lagi bangun telat, aku segera tidur saat jam masih menunjuk angka sembilan.
4
Paginya aku bangun dengan badan yang rasanya sangat segar. Tidak hanya tubuhku hilang rasa lelahnya, kepalaku juga terasa ringan dan stress yang kurasakan seharian kemarin menghilang tanpa jejak.
Adalah apa yang kuharapkan.
Ok, memang benar rasa pegal di badanku sudah hilang dan bahkan saking segarnya aku sampai bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Sejak jam setengah enam pagi aku sudah bangun dan sempat membereskan ruangan yang kutempati.
Hanya saja ketika aku membuka pintu untuk membiarkan udara segar masuk sebab kamarku tidak ada jendelanya.
"Pagi Naruto."
Tiba-tiba stressku datang lagi.
"Hah. . . ."
"Jangan menghela nafas begitu melihat wajahku!."
Di depanku ada mantan anak SMP yang kemarin baru saja lulus dan sekarang sedang dalam masa orientasi di sekolahku. Hanabi. Aku ingin bertanya bagaimana bisa dia menemukan tempat tinggalku, tapi sebab membiarkannya di luar terlalu lama setelah untuk suatu dia sudah rela bangun lebih pagi dariku rasanya agak tidak baik. Aku memberikannya isyarat untuk masuk.
Aku menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu, tapi entah dari mana dia tahu ruang mana yang benar-benar tempat tinggalku alias kamar kostku. Tanpa permisi dia masuk dengan langkah ringan dan langsung duduk lalu meluruskan kakinya.
"Ugh . . . gara-gara baris-berbaris kemarin kakiku jadi sangat pegal."
"Aku paham hal itu, kakiku juga sama pegalnya."
Selain baris-berbaris selama satu setengah jam, para murid baru juga melakukan kegiatan outdoor lain serta berbagai macam game, dan di siangnya mereka juga masih harus berupacara selama setengah jam lebih.
Sebagai seorang pesuruh yang tugasnya bawa barang ke sana ke mari, aku juga harus bisa mengakomodasi kegiatan apapun yang mereka lakukan. Dan akomodasi yang kukontribusikan adalah membawa berbagai macam barang dengan bukan berjalan, tapi berlari.
Atas perintah para anggota perwakilan siswa.
Aku saja merasa capek dan pegal, apalagi Hanabi yang notabene adalah anak perempuan dan sama sekali tidak kelihatan seperti orang dengan tipe outdoor.
"Kenapa kau melihatku terus?"
"Aku paham kalau kau capek, tapi jangan seenaknya duduk di kasur seseorang tanpa permisi! dan, jangan ayun-ayunkan kakimu terlalu tinggi."
Sebab di masa orientasi seragam untuk murid baru belum ada, mereka semua masih menggunakan seragam SMPnya. Aku tidak tahu apakah seragam yang dikenakan Hanabi itu standard atau sudah disesuaikan dengan fashion, atau mungkin sesuatu yang bunyinya "bajuku dulu tak segini"(1) tapi yang jelas roknya terlalu pendek.
Saking pendeknya, tanpa usahapun aku bisa melihat sebagaian besar area paha semulus bayinya dengan mudah. Dan itu masih belum bagian terburuknya. Gara-gara dia mengayun-ayunkan kakinya, roknya yang sudah pendek itu jadi semakin dan semakin memperlihatkan hal lain.
Pertahanan gadis ini terlalu terbuka. Jika aku bukan aku yang sekarang, mungkin aku sudah menubruknya sekarang dan besoknya aku langsung masuk kantor polisi. Kalau dia itu sudah dewasa aku akan menganggapnya fanservice, tapi sebab dia itu masih di bawah umur rasanya aku jadi seperti seorang kriminal.
"Kalau kau tidak segera berhenti, sebentar lagi aku bisa melihat celana dalam bergambar berua. . . . ."
Sialan. Aku kebanyakan ngomong.
Dia langsung menarik roknya dan menyelipkan tangan kirinya di sela-sela kedua kakinya, setelah itu dengan muka merah dia menatapku menggunakan tatapan yang sangat tajam. Dia lebih kecil dariku, dan secara logika masalah kekuatan harusnya tidak ada yang perlu ditakutkan darinya.
Hanya saja, dengan hanya melihatnya saja rasanya aku sudah merinding.
"Kau, melihatnya?"
Bagaimana aku harus menjawabanya?
"Sedikit."
Sebenarnya agak banyak, dan hal itu membuatku agak sedikit menyesali kenyataan kalau ponselku tidak ada kameranya.
Dia melemparkan buku paket matematikaku tepat ke wajahku, tapi sayangnya aku berhasil menghindar. Jika aku berhasil lolos dari rasa sakit harusnya aku menggunakan kalimat tapi beruntungnya' dan bukannya 'tapi sayangnya' hanya saja. karena aku menghindar dan aku lupa menutup pintu ke kamarku. Aku mendapatkan kesialan tambahan.
Buku yang Hanabi lempar masuk ke ruang tamu dan menabrak sebuah hiasan yang kelihatannya mahal lalu mejatuhkannya. Meski benda itu dengan ajaibnya tidak pecah tapi kami berdua harus menerima omelan selama lebih dari seperempat jam.
Untung saja benda yang kami jatuhkan itu bukan imitasi dan tidak mudah rusak. Jika sampai pecah, mungkin omelan yang kami terima akan lebih dari satu jam.
Sehabis omelan kami terima, rencananya aku akan langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tapi, sebelum aku masuk ke kamar mandi Hanabi bilang. .
"Yang tadi maafkan aku! kalau kau tidak keberatan, aku akan memasakan sesuatu untukmu."
Ketika aku bilang jika setiap pagi aku tidak pernah sarapan gara-gara menghemat uang.
"Pakai saja dapurnya."
Si pemilik jarang makan di rumah sedangkan di antara penghuni tempat ini tidak ada yang bisa memasak, jadi peralatan di sana harusnya masih bagus jika tidak ada karat yang menempel. Sedangkan di kulkas, kurasa ada bahan yang cukup untuk sekedar membuat semangkuk sup tanpa rasa.
Mandiku tidak terlalu lama, dan alasannya masih sama. Aku harus menghemat air dan bahkan sabun serta shampoo. Karena itu dalam beberapa menit saja aku sudah selesai dan segera kembali ke kamarku untuk berganti pakaian.
Sesaat kemudian tepat ketika aku sedang mengenakan celanaku, Hanabi yang masih mengenakan apron di tubuhnya masuk tanpa mengetuk pintu. Dan karena kamarku tidak ada kuncinya, tidak kubukakanpun Hanabi bisa membukanya sendiri.
Dan itulah yang dia lakukan.
Di dalam sebuah anime, hal semacam ini adalah standart. Tapi biasanya yang diberi fanservice adalah si pria dan bukannya perempuannya. Normalnya reaksi yang harus diberikan adalah si korban yang dilihat marah lalu berteriak 'mesum' pada yang melihat.
Tetapi.
Entah itu jadi korban atau tersangka, bagiku tidak ada bedannya sebab ujung-ujungnya.
"Dasar mesum!."
Sebuah panci meluncur ke mukaku.
Selalu aku yang sial.
Mungkin saja Hanabi juga masih belum sarapan, sebab bersama denganku dia juga ikut makan masakannya yang secara tidak terduga tidak terasa tawar meski aku yakin di dapur tidak ada bumbu macam apapun.
Begitu selesai sarapan kami berdua berangakat bersama dan berpisah di gerbang hanya untuk bertemu lagi ketika upacara dimulai.
"Hah. . . ."
"Sudah kubilang jangan menghela nafas begitu melihat wajahku!."
Aku bukan menghela nafas karena melihat wajahmu Hanabi. Memang benar bertemu denganmu agak membuat tingkat stressku naik, tapi sebab kau itu manis sehingga mataku jadi lumayan adem. Aku menghela nafas karen gara-gara ada anggota yang absen sekarang aku harus ikut jadi pembina siswa yang berorientasi.
"Hiiiii . . . dasar tidak tahu malu!"
Heh? kena bocah ini bertingkah berlebihan seperti itu?
"Apa aku mengatakan pikiranku tadi?"
Hanabi memalingkan pandangannya dariku lalu menjawab.
"Dengan jelas."
"Oh."
"Jangan cuma oh, kau membuatku malu."
"Aku tidak malu."
Aku tidak terlalu perduli pada pendapat orang lain sebab aku jarang atau bahkan tidak pernah berinteraksi dengan mereka. Jadi komentar apapun yang mereka keluarkan sama sekali tidak ada pengaruhnya untuku.
"Kau kan memang orang tidak tahu malu."
"Woi!."
Kami mendapatkan tatapan menusuk dari guru pengawas yanga da di depan, dan meskipun dia tidak mengatakan apapun tatapannya saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kami berdua tidak lagi ingin bicara di tengah upacara.
Jadwal hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya lebih banyak difokuskan untuk membuatku jengkel. Meski mungkin bagi orang lain fokus kegiatan kali ini adalah bersenang-senang dan saling mengenal sebab hari ini adalah hari terakhir masa orientasi.
Jika di hari sebelumnya kegiatan lebih difokuskan untuk membentuk hal yang namanya kekompakan tim, hari ini semua kegiatannya diperuntukan agar murid dari tim-tim berbeda bisa saling mengenal.
Dan untuk membuatnya jadi semakin menjengkelkan, orang-orang di perwakilan siswa menambahkan aturan-aturan merepotkan ke dalamnya seperti semua siswa baru harus mengikuti semua kegiatan dan sebelum mengikuti kegiatan itu mereka harus mendapatkan lima belas tanda tangan dan mengingat nama serta wajah dari orang yang mereka mintai tanda tangan.
Hal itu bukan sebuah masalah bagi sebagian orang, tapi artinya sebagian orang lagi punya masalah dengan peraturan semacam itu. Dan orang-orang yang punya masalah dengan peraturan itu di antaranya adalah orang yang tidak punya daya ingat bagus serta satunya lagi.
Orang yang tidak punya kemampuan bersosialisai bagus semacam aku.
Dan Hanabi.
Dari luar saja dia kelihatan sangat kasihan.
Dengan muka bingung dia melihat ke sana-ke mari untuk mencari kandidat orang yang dimintai tanda tangan, setelah dia menemukannya dia berjalan dengan hati-hati sambil terus menengok ke kana dan kiri, kemudian begitu sudah dekat orang lain malah sudah lebih duluan sampai dan dia ditinggal.
Jika dulu aku ikut orientasi mungkin aku akan punya nasib yang sama dengannya, sebab aku tidak terlalu suka berhubungan dengan orang lain. Hanya saja entah itu beruntung atau sial, saat orientasi aku tidak bisa hadir.
Gara-gara tensiku terlalu tinggi saat sadar di hari berikutnya aku adalah seorang murid SMU, pikiranku jadi agak ke sana ke mari dan membuatku menyebrang jalan ketika lampu lalu lintas untuk kendaraan berwarna hijau.
Ujung-ujungnya aku harus masuk rumah sakit dan baru bisa berangkat dua minggu kemudian.
Aku ingin datang dan melakukan sesuatu, tapi aku merasa kalau kedatanganku malah hanya akan membuat keadaanya jadi semakin buruk sebab bisa saja nantinya calon teman-temannya akan jadi sungkan untuk mendekat.
Aku memang bilang kalau dia itu kasihan, tapi jelas keadaanya lebih baik daripada aku dulu saat orientasi di SMP.
Dia itu seorang anak perempuan, dan dia juga punya wajah manis serta penampilan yang menarik jadi meski tidak ada yang terang-terangan mendekat masih ada banyak sekali calon teman yang memperhatikannya dari jauh.
Jika aku ada dalam posisinya aku yakin seratus persen kalau semuanya malah akan lebih suka menganggapku tidak ada sekalian.
Lapangan di bagian dalam sekolah terlalu kecil untuk mengakomodasi kegiatan hari itu, sehingga pada akhirnya semua murid baru disuruh untuk pergi ke lapangan. Dan begitu di sana, entah sudah yang keberapa kalinya murid-murid baru disuruh untuk membuat tim dan melakukan quest game seperti sebelumnya.
Aku tidak pernah masuk ke ruang perwakilan siswa tapi aku yakin kalau sepertinya di antara mereka tidak ada yang punya pikiran kreatif. Bagaimana bisa kegiatan yang mirip diadakan dalam dua hari berturu-turut?
"Hah. . . . "
Aku ingin protes, tapi protes ke siapa? lalu meskipun protesku kusampaikan kemungkinan besar kalau tidak ada yang akan mendengarku. Selain waktu dan tenaga kerja, perwakilan siswa kami juga punya masalah dasar yang sepertinya mereka tidak pikirkan terlebih dahulu sebelum mengadakan orientasi.
Konsep.
"Tapi setidaknya aku agak lebih santai."
Semuanya ada hikmahnya.
Berhubung barang-barang dan peralatan dari hari sebelumnya masih bisa digunakan dan ditinggalkan begitu saja di tempatnya, pekerjaanku sekarang hanyalah berjalan di belakang beberapa rombongan kelompok dengan alasan mengawasi.
Dan entah ini namanya takdir atau sekedar kebetulan. Rombongan yang kuawasi adalah kelompok yang di dalamnya ada nama Hanabi sebagai anggota. Atau lebih tepatnya mungkin lebih cocok disebut anggota bayangan, sebab dia berjalan di bagian paling belakang dan memisah dari yang lainnya serta terus diam.
Untungnya sekarang masih siang, jika keadaan gelap dan sepi orang yang berjalan di depannya pasti merasa kalau sedang diikuti makhluk halus.
"Apakah kau tidak mau membantunya Naruto?"
"Membantu siapa? dan membantu apa?"
Secara ajaib Sasuke juga sekali lagi berada dalam kelompok yang sama denganku. Dan meski aku memang tidak bahagia berada dalam satu kelompok dengannya, keadaanku sekarang masih lebih baik daripada harus bersama dengan orang yang tidak kuketahui namanya.
"Siapa lagi kalau bukan calon pacarmu itu."
"Hah? aku tahu siapa yang kau maksud tapi aku akan diam, dan aku juga menyarankanmu untuk. . "
"Aku akan membantunya."
"Woi! dengarkan aku!."
Dia tidak mendengarkanku.
Dengan PDnya dan tidak tahu malunya. Sasuke menepuk pundak Hanabi, dan meski dia agak kaget sebab dia sudah berkenalan dengan orang itu dia langsung bisa tenang. Hanya saja ketenangan itu tidak bertahan lama sebab Sasuke dengan seenaknya mengajak Hanabi dengan mendorongnya untuk masuk ke dalam kerumunan yang berada di depannya.
Setelah itu Sasuke masuk ke dalam kelompok murid-murid baru dan bilang kalau dia ingin membantu, hanya saja sebagai syaratnya semuanya harus menjaga rahasia. Dengan begitu mereka semua berjalan kembali. Dengan meninggalkan Hanabi yang memisahkan diri.
Untuk membuat seseorang akrab pada satu sama lain ada beberapa cara yang bisa sangat efektif jika digunakan.
Satu. Seperti yang Sasuke lakukan, berbagi rahasia adalah cara yang sangat ampuh untuk bisa langsung secara instan bisa dekat dengan seseorang.
Dua. Punya musuh yang sama. Musuhnya musuh adalah teman. Dalam hubungan sosial hal seperti itu juga berlaku secara luas.
Dan yang ketiga, hubungannya masih sangat erat dengan yang kedua. Orang akan cepat akrab kalau mereka punya ketidak sukaan pada hal yang sama, apalagi kalau diajak menjelek-jelekan sesuatu. Orang tidak kenalpun bisa langsung jadi akrab..
Dan hanya sebagai informasi saja, faktor ketigalah yang membuatku mempunyai julukan kodok.
Sasuke ingin membantu Hanabi, tapi pada akhirnya dia malah membuat Hanabi jadi lebih ingin menyendiri.
Ketika berbicara dengan seorang penyendiri, jangan lakukan di depan publik di mana mereka bisa dilihat orang banyak. Jika hal itu dilakukan, orang-orang yang tidak menyukai si subyek akan mulai membicarakannya. Dan bagi para penyendiri, dibicarakan oleh seseorang di belakang punggungnya adalah hal yang sangat tidak mengenakan.
Sumber, aku.
Dan membawa seorang penyendiri masuk dalam kelompok juga bukanlah cara yang tepat untuk membuat seseorang menyatu dengan lingkungannya. Tidak seperti magnet yang menarik kutub yang berlainan, para penyendiri akan menarik penyendiri lain untuk mendekat dan menolak yang tidak sepikiran dengan mereka.
Dan penyendiri lain yang kumaksud di sini adalah.
Aku.
Dengan merubah diri kau bisa merubah dunia, hal itu adalah sebuah kebohongan besar. Merubah dunia tidak cukup dengan merubah diri, jadi jikau kau berubah dunia tidak akan berubah. Dan malah bisa kubilang, kalau kau merubah diri dan menyesuaikan dengan dunia itu berarti kau sudah kalah dan menyerah.
Menjadi penyendiri itu bukanlah hal buruk, dengan menjadi sendiri aku tidak perlu memikirkan orang lain, tidak diganggu, dan bisa tenang melakukan apapun. Mungkin kata-kataku terdengar seperti alasan untuk membenarkan keputusanku untuk menyendiri tapi aku memang senang sendiri. Dan aku sama sekali tidak ingin berubah.
Dan meskipun ingin berubahpun, sekarang sudah sangat telat untuk melakukannya.
Dan tentu saja keinginan untuk berubah sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku.
Tapi tidak sepertiku! Hanabi lain, dia kelihatan ingin dekat dengan orang lain dan bisa masuk ke dalam lingkarang sosial. Hanya saja sayangnya dia dipaksa menyendiri. Terisolasi sama sekali bukan hal buruk, yang buruk adalah diisolasi.
Aku tidak akan membantunya, yang dia harus lakukan hanyalah membantu dirinya sendiri. Dan agar dia bisa melakukannya, aku harus memberikan contoh.
Thanks for reading.
