Terguncang diatas kereta kuda yang melaju dengan cepat, Nanashi, pemain terkuat didalam Game Night Raid saat ini sedang bertukar obrolan dengan Mantan Bangsawan besar yang ada didepannya, Edward Cristaldi namanya.

Dari yang Nanashi tangkap dari pembicaraan mereka sepertinya ia saat ini sedang berada di daerah Kerajaan Salavetria, salah satu kerajaan kuat yang memfokuskan diri mereka pada penelitian sihir, dan saat ini dirinya sedang berada diwilayah yang dikuasai oleh keluarga Edward, dan secara kebetulan kota yang akan ia datangi adalah pusat pemerintahan dari wilayah yang dikuasai keluarga Edward.

'terjebak didunia lain, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh orang sepertiku sebelumnya, tapi ya... menurutku ini tidak buruk juga, menjelajahi dunia lain dan menikmati hidup didunia fantasi selagi mencari jalan kedunia dewi dan memukul kepala dewi yang seenak jidatnya melemparku kedunia lain tanpa bertanya pendapatku terlebih dulu...'

Nanashi menyeringai kecil sebelum ia menghapus seringai diwajahnya dan menatap kedepan dimana ia melihat Gabriel sedang membaca buku sihir yang ia berikan sebelumnya dan membacanya dengan antusias yang begitu besar, Nanashi bahkan melihat kilauan semangat dari mata shappire itu.

Entah kenapa saat ia melihat rasa antusias Gabriel, ia jadi teringat saat pertama kali ia memainkan Game Night Raid, saat itu, saat pertama kali ia mencoba sihir didunia game, ia yakin dan percaya jika ekspresinya saat itu sama seperti ekspresi yang ia lihat pada Gabriel, antusias, senang, gembira, dan bahagia, semua terpancar indah dimatanya...

'yah, dan dia adalah muridku sekarang, orang yang dipandang rendah karena dianggap tak berbakat...'

Dalam sistem dunia ini semua orang bisa menggunakan sihir, semua dapat melakukannya semudah bernafas, mereka hanya memerlukan [Mana] sebagai katalis untuk menciptakan fenomena alam yang disebut sihir. Bahkan bagi kaum bangsawan bisa menggunakan sihir dan menguasainya merupakan suatu harga mati, tidak bisa menguasai saja sudah akan membuat nama keluarga mereka tercemar dan orang seperti Gabriel yang tidak dapat menggunakan sihir bahkan yang terdasar sekalipun, dia adalah sebuah noda yang menodai nama keluarga dengan noda yang tidak akan pernah bisa dihapus bahkan namanya mungkin akan tercatat sebagai aib keluarganya... menyedihkan.

'aku tidak tahu apa yang sudah dia alami, tapi...'

Nanashi menyipitkan matanya dan mengaktifkan skill [Appraisal] miliknya, dan ekspreri Nanashi sendu saat melihat daftar skill yang dimiliki Gabriel. Disana terpampang dua Skill [Perseverance] dan [Fortitude], kedua skill ini adalah skill yang menunjukan ketahanan mental seseorang, dan ia sedikit terkejut saat melihat kedua Skill ini sudah menyentuh level [9/10] yang artinya, dia lebih dari mampu untuk lolos dari serangan illusion magic type perusak mental tingkat atas...

'... untuk orang yang bahkan belum menginjak usia 20 tahun, dia luar biasa dapat memiliki mental seperti itu... apa yang sebenarnya dia alami sampai Skillnya hampir menyentuh levek maks...'

Nanashi tidak tahu seberat apa cobaan yang dilalui oleh Gabriel tapi satu yang ia tahu, itu tidak menyenangkan... Nanashi menghapus ekspresi sendu itu dan tersenyum kecil saat ia mendapati Gabriel menatap kearahnya...

"U-Uhm... A-Ano, Sensei tentang formula sihir ini... ada bagian yang tidak aku mengerti..."

"hm? coba kulihat... oh, ini formula rangka satu dari sihir [Fire Bullet] ya... aku rasa untuk mengerti bagian ini kau harus menggunakan pendekatan dari formula magic [Wind Bullet], coba kau bandingkan dua formula ini dan kau akan menemukan solusi untuk masalahmu... Gabriel-sama."

"hooh~! Anda benar sensei! Jika saya menggunakan pendekatan ini maka saya bisa memahami formula sihir ini lebih cepat, terimakasih Sensei!"

"senang bisa membantu anda, Gabriel-sama"

Nanashi tersenyum tipis sesat sebelum senyuman itu berubah menjadi sweatdrop saat melihat Edward Cristaldi tengah menatap Gabriel dengan lelehan air mata bahagia.

"Uuu~ cucuku, kau mulai mendapatkan cahaya hidupmu lagi... kakekmu ini senang..."

'Dasar GC-Complex.'

Nanashi menghela nafas pelan dan kembali mengawasi Gabriel yang sedang mempelajari buku sihir miliknya dengan antusiasme yang tinggi. Nanashi menatap itu sejenak sebelum ia tersenyum tipis.

'Satte... Kita lihat sejauh mana aku dapat melatih muridku ini, mungkin menjadikan salah satu yang terkuat didunia ini? Itu... Mungkin mustahil...'

Nanashi tersenyum kecut sesaat sebelum ia menarik nafas dan mengarahkan pandangannya kesamping dimana ia melihat hamparan pemandangan hutan sejauh mata memandang.

~~The Innovate~~

"Jadi ini kota, Megrim..."

Nanashi bergumam pelan selagi matanya memandang kota yang cukup besar dengan bangunan abad pertengahan yang berdiri kokoh sejauh mata memandang. Edward yang melihat Nanashi menikmati pemandangan kota Megrim mengulas senyuman tipis.

"Bagaimana kota yang kukelolah ini? Sangat menganggumkan bukan?."

Tanya Edward membuat Nanashi yang sedang melihat pemandangan kota mengalihkan pandangannya kearah Edward dan mengangguk kecil.

"Ya, kota ini menganggumkan... Dalam berbagai Artian..."

"Begitu, senang mendengar kau menyukai kota ini..."

Keduanya bertukar obrolan sejenak sebelum kereta kuda yang mereka naiki berhenti didepan Puri besar yang terlihat megah dan kokoh, Nanashi menatap Puri didepannya dengan mata mengerjap beberapa kali, bukankah tempat itu terlalu besar untuk ditinggali oleh dua orang!? Nanashi menarik nafas pelan..

"Seperti yang diharapkan dari seorang bangsawan besar, meski dia sudah menjadi 'mantan bangsawan' sih..."

Nanashi tersenyum lelah dan berjalan mengikuti Edward dan Gabriel yang berada didepannya, Nanashi mengikuti mereka berdua sambil memperhatikan sekelilingnya, Nanashi terus memperhatikan sekitar sampai ia terhenti saat merasakan kedua orang didepannya berhenti, Nanashi mengalihkan pandangannya kedepan dimana ia melihat pintu besar yang terlihat dibuat dari marmer putih yang dipolos sedemikian rupa hingga terlihat mengilat itu terbuka, dan Nanashi terdiam saat ia melihat Barisan Maid Onee-san yang berdiri sisi kiri dan kanan karpet merah, mereka merendahkan tubuh mereka seraya mengangkat rok maid mereka sedikit dan...

[Selamat Datang, Goshujin-sama]

"Uhm, aku pulang... Gabriel, kau bawa barang-barangmu kekamarmu..."

"Ha'i, Kakek~..."

Gabriel berujar dengan riang dan melangkah meninggalkan ruangan itu dengan langkah ringan seperti ia terbang sementara tangannya mengangkat dua buah koper besar yang seharusnya tidak dapat diangkat oleh perempuan dengan lengan seramping itu, Nanashi menatap kepergian Gabriel sampai Gabriel tak terlihat lagi lalu mengalihkan pandangannya dan menatap Edward yabg sedang berbicara dengan seorang maid yang terlihat berada diusia dua puluh akhir.

Setelah bertukar beberapa kata Maid itu menundukan kepalanya Edward dan berjalan menuju Nanashi yang terdiam memperhatikan mereka sejak tadi, Maid itu dengan anggun merendahkan kepalanya pada Nanashi yang hanya diam ditempatnya.

"Salam kenal, Nanashi-sama... Nama saya, Betra, mulai sekarang saya yang akan mengurus segala keperluan anda, tolong katakan pada saya saat anda membutuhkan sesuatu, saya akan mengurusnya untuk anda..."

Nanashi terdiam menatap Maid itu sebelum ia mengarahkan pandangannya pada Edward dengan tatapan yang seolah mengatakan 'apa maksudnya ini?.' menyadari tatapan itu, Edward berdehem sejenak dan berkata.

"Aku memerintahkan pada Betra dan beberapa Maid pribadiku untuk mengurus keperluanmu selama mengajar Gabriel dirumah ini, jangan sungkan pada mereka, Nanashi-san."

"Ha~ah~?"

Nanashi hanya bergumam bingung mendengar perkataan dari Edward, dia memerintahkan Maid pribadinya untuk mengurus dirinya selama tinggal dirumah ini? Bukankah itu terlalu mewah untuk orang yang bertugas sebagai pengajar? Nanashi yang terhanyut dalam pikirannya tiba-tiba tersadar saat Maid didepannya, Betra merendahkan tubuhnya seraya berkata.

"Nanashi-sama, tolong ikuti saya..."

"E-Eh, ya..."

Nanashi mengangguk kecil dan berjalan mengikuti maid didepannya, setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua berhenti tepat didepan pintu yang dihiasi ornamen yang cukup indah, Maid itu membuka pintu mewah itu dan terlihatlah sebuah kamar indah yang bahkan dapat menandingi kamar royal suite dihotel berbintang...

"Ini adalah kamar anda, silahkan beristirahat didalam, anda pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh..."

"Ah, terimakasih..."

Setelah menyampaikan terimakasih, Maid itu segera undur diri meninggalkan Nanashi yang melihat-lihat kamar yang disediakan untuknya dengan tatapan kagum. Nanashi menganggumi interior kamar sejenak sebelum ia menjatuhkan pantatnya diatas sofa yang terlihat empuk.

"Akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang... Nah, sekarang mari lihat apa yang harus aku lakukan untuk mengajari Gabriel Ojou-sama..."

Nanashi membuka menu miliknya, ia membuka menu [Skill[ dan dalam sekejap layar [Tree Skill] muncul didepan matanya, Nanashi menatap Skill-nya satu persatu dan ia menarik nafas pendek.

"Aku tidak tahu sekuat apa aku didunia ini, jika aku menggunakan Skill-ku secara sembarangan mungkin aku akan terlibat dengan masalah yang serius."

Nanashi bergumam pelan dan menutup jendela menunya lalu mendesah dan menyenderkan punggungnya pada bantalan sofa, Nanashi mengangkat wajahnya dan menatap atap kamar.

"Besok pekerjaanku dimulai kah..."

~~The Innovate~~

Dipagi hari yang indah dimana Matahari bersinar dengan indah, disebuah kamar dikediaman mantan bangsawan Edward yang cukup luas hingga lebih cocok menyebutnya ruangan daripada kamar, disana terlihat Nanashi sedang mengajari Gabriel tentang sihir.

"Nah, sekarang kita mulai pelajaran sihir dari yang paling dasar... Pertama apa itu sihir?."

"Sihir adalah Fenomena yang muncul dari penggunaan Mana dan Formula Mantr, apa aku benar, Sensei."

"Ya, itu tidak salah tapi itu juga tidak benar..."

"Eh? Apa maksud Sensei?."

Nanashi tersenyum tipis dan menutup buku yang ada ditangannya."Sihir adalah sesuatu yang membutuhkan Mana dan Imajinasi untuk menciptakan Fenomena."ucap Nanashi membuat Gabriel menautkan alisnya dengan bingung.

"Imajinasi? Apa maksud Sensei Mantra itu tidak diperlukan untuk menciptakan fenomena sihir?."

Tanya Gabriel dibalas senyuman seorang pembisnis yang tidak membenarkan atau membantahnya dari Nanashi.

"Aku tidak mengatakan Mantra tidak diperlukan, tapi pada awalnya Mantra sendiri digunakan untuk menguatkan Imajinasi seseorang untuk memunculkan fenomena sihir yang diinginkan... Sebagai contoh..."Nanashi mengangkat jari telunjuknya dan memusatkan [Mana] miliknya pada ujung jarinya dan dalam sekejap muncul bola cahaya seukuran bola tenis mengambang tenang diujung jari Nanashi, Gabriel melebarkan matanya melihat sihir tingkat dasar [Light] yang diwujudkan tanpa Mantra sama sekali. Nanashi tersenyum melihat ekspresi dari muridnya, ia perlahan mengarahkan telunjuknya kesamping dan bola cahaya itu bergerak kesamping dengan kecepatan yang dapat diikuti oleh Mata.

"Mantra untuk sihir ini jika tidak salah adalah, [Muncul dan Terangilah jalanku]... Mantra ini digunakan untuk menguatkan imajinasi pengguna-nya untuk menciptakan Bola cahaya untuk menerangi mereka dalam kegelapan, kata kunci untuk sihir ini adalah [Muncul dan Terangi] jika kau bisa memahami dua kata ini maka kau tidak memerlukan Mantra untuk bisa menggunakan sihir dasar [Light], hal ini juga berlaku untuk sihir yang lain selama kita tahu inti dari Mantra itu maka kita bisa membayangkan wujud dari fenomena yang dimaksud..."

Nanashi menghentikan Mana miliknya dan membiarkan bola cahaya itu lenyap menjadi partikel cahaya, Nanashi tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Gabriel yang melebarkan matanya penuh keterkejutan.

"Nah, aku akan mengajarimu cara menggunakan Sihir tanpa Mantra, tapi itu setelah kau bisa menyelesaikan pertanyaan yang telah aku siapkan khusus untukmu..."

Nanashi mengeluarkan beberapa lembar kertas dan meletakannya diatas meja Gabriel yang menatap lembaran kertas dimejanya dalam diam.

"Pertanyaan ini aku buat berdasarkan standart Academy yang aku dengar dari para maid dan Edward-sama, jika kau mempelajari semua kurikulum maka kau tidak akan kesulitan untuk mendapatkan nilai penuh dari pertanyaan ini, Gabriel-sama."

Ucap Nanashi dengan senyuman tipis diwajah tampannya, Gabriel terdiam sejenak sebelum ia mengepal erat tangannya penuh dengan semangat.

"Baiklah! Aku akan menunjukan pada Sensei jika aku bisa mendapatkan nilai penuh..."

"Hooh~ semangat yang bagus, aku akan mengajarkan seluruh pengetahuanku tentang sihir dan setelah kau memahami semua pengetahuan yang aku berikan maka kita akan melanjutkan latihan ketahap selanjutnya..."

"Siap, Sensei!."

Nanashi tersenyum melihat semangat membara yang terpancar jelas dimata biru-shappire itu, mata yang terlihat suram dan hampa saat mereka pertama kali bertemu kini mulai memancarkan kehidupan didalamnya, Nanashi menghela nafas pelan dan tersenyum kecil.

'Ya ampun, meski aku memiliki INT yang sangat besar aku masih memerlukan usaha yang lebih besar dari yang aku kira untuk menguasai seluruh materi kurikulum standart didunia ini, tapi... Berkat itu aku dapat membuat menu latihan yang tepat untuk muridku ini...'

Nanashi menatap lembut Gabriel yang dengan semangat mengerjakan pertanyaan yang ia berikan, setelah empat bulan berlalu maka tugasnya sebagai guru sihir berakhir dan saat itu tiba ia berharap Gabriel bisa membusungkan dadanya dan dapat menyebut dirinya sebagai seorang Mage dengan bangga.

-time skip-

Seminggu telah berlalu dan selama itu pula Nanashi mengajari Gabriel dengan serius dan penuh perhatian, ia mengajari Gabriel semua dasar sihir yang ia ketahui dari Game dan Standart dunia ini, Gabriel menyerap semua pelajaran yang Nanashi berikan layaknya sebuah Sponge yang menyerap air, kini dikediaman Edward tidak ada yang lebih memahami sihir dari Gabriel. Dia dapat menyebut dirinya sebagai seorang Mage sekarang.

"Ya, anda berkembang dengan sangat pesat, Gabriel-sama, saya terkejut dengan kemampuan anda menyerap semua pelajaran yang saya berikan..."

Nanashi memuji Gabriel yang langsung tersipu malu dan menundukan kepalanya dengan gugup."ti-tidak ini berkat Ajaran sensei yang mudah dipahami sehingga saya bisa memahaminya dengan mudah..."ucap Gabriel gugup, ia tidak biasa dipuji orang lain, ia lebih sering menerima hinaan dibandingkan pujian, jadi saat ia menerima pujian ada perasaan aneh yang menjalar didalam hati Gabriel, itu bukan perasaan yang buruk, hanya saja ia merasa bahagia dan senang saat menerima pujian dari orang yang ia hormati, Nanashi tersenyum tipis dan menutup buku ditangannya.

"Baiklah, karena Ojou-sama sudah memahami semua yang saya ajarkan, haruskan kita memulai latihan selanjutnya?."

"Tahap selanjutnya? Pelatihan macam apa itu, Sensei?."

"Hmm~"Nanashi bergumam pelan dan meletakan buku ditangannya keatas meja dan menoleh kearah Gabriel yang menatapnya dengan bingung."... Latihan Praktik, saya dengar ada Guild petualang dikota ini, kita akan kesana dan mendaftarkan diri sebagai seorang Petualang..." ucap Nanashi dengan senyuman diwajahnya, Gabriel terdiam sejenak sebelum ia melebarkan matanya.

"Petualang! Kita akan menjadi petualang!?"

"Ya, saya sudah meminta ijin pada Edward-sama dan dia mengijinkannya..."

"Sungguh! Kakek mengijinkannya?!."

"Yah, meski dia sempat mencemaskan keadaan anda, tapi saya berjanji pada beliau jika saya akan menjaga anda semampu yang saya bisa..."

Ucap Nanashi dengan senyuman yang tak pernah meninggalkan wajahnya, Gabriel mempelebar senyumannya, matanya terlihat bersinar, menandakan rasa Antusiasme-nya yang tinggi, yah... Itu tidaklah aneh, menjadi seorang petualang adalah salah satu keinginan Gabriel dari dulu, sejak kecil ia sering mendengar kisah dari para petualang hebat yang berhasil mengalahkan monster-monster kuat dizaman dulu. Nanashi tertawa kecil melihat semangat Gabriel.

"Haha... Itu semangat yang bagus, Gabriel-sama... Baiklah, ayo pergi keguild dan menjadi seorang Petualang."

"Ya, ayo pergi Sensei!."

"Maa, Maa, Maa, sebelum pergi ada baiknya anda mengganti pakaian anda terlebih dahulu... Anda tentu tidak ingin menarik perhatian orang-orang dengan pakaian anda, bukan?

"Ah, Sensei benar..."

~~The Innovate~~

Kota Megrim-,

Kota yang memiliki luas sekitar 237 Kilometer, tempat yang cukup luas untuk menyebutnya sebagai sebuah kota, saat ini dikota itu, Nanashi bersama dengan Gabriel tengah berjalan menuju Guild petualang, mereka berdua mengenakan pakaian sederhana yang tidak terlalu mencolok dan sebuah jubah lusuh yang biasa digunakan para pengambara, mereka berdua berjalan ditengah kota selama beberapa saat sampai akhirnya mereka berhenti tepat didepan sebuah bangunan besar, Nanashi menatap datar bangunan besar didepannya.

"Ini Guild ya... Seperti yang aku bayangkan... Gabriel-sama, mari masuk..."

"U-Um..."

Nanashi melangkah memasuki Guild dengan Gabriel selangkah dibelakangnya, sesampainya didalam mereka disambut tatapan dari orang-orang berwajah sangar, Nanashi menatap datar mereka sebelum ia melangkah menuju meja resepsonis dimana seorang perempuan cantik yang terlihat seperti Anak SMA tahun ketiga, Nanashi menyipitkan matanya dan memgaktifkan Skill [Appraisal] miliknya.

Nama: Raynare [Title: Guild Receptionist]

Job:

[Assassin]

Level: 98

HP: 97630 / MP: 69470

'Untuk seorang Resepsionis Guild, dia cukup kuat...'

Nanashi mengarahkan pandangannya dan menatap para petualang yang menatap sangar kearah dirinya dan Gabriel sejak masuk kesini, dan Nanashi melihat jika rata-rata Level para petualang disini hanya berkisar antara 20-40, itu artinya...

'... Dia jauh lebih kuat dibandingkan para petualang ini...'

Nanashi menghela nafas pelan dan menonaktifkan skill [Appraisal] miliknya, dan berjalan menuju meja resepsonis.

"Selamat datang di Guild Petualang Cabang Kota Megrim, apa ada yang perlu saya bantu?"

"Ya, saya dan perempuan disebelah saya ini ingin mendaftar sebagai anggota Guild."

"Begitu, lalu apa ini pertama kali kalian mendaftar?."

"Ya, ini pertama kalinya kami mendaftar..."

"Kalau begitu, haruskah saya menjelaskan rincian sederhana untuk pendaftaran?."

"Silahkan..."

Raynare tersenyum ramah dan mulai menjelaskan peraturan Guild, pada dasarnya Guild didunia ini sama seperti didalam Game Night Raid yang dimainkan Nanashi, mereka akan menerima pekerjaan dari Client, memeriksa tingkat kesulitan dari pekerjaan yang diajukan Client lalu menempelkan pekerjaan itu dipapan Quest yang terdapat disebelah meja Resepsonis, tiap-tiap Quest memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda dan anggota Guild hanya diperbolehkan untuk mengambil Quest yang sesuai dengn tingkatan mereka, semakin sulit suatu Quest maka akan semakin banyak pula imbalan yang diterima saat Quest itu selesai.

Tingkatan Guild dibedakan menjadi F, E, D, C, B, A, dan S. Peringkat tertinggi di Guild saat ini dipegang oleh tujuh orang yang tergabung dalam party besar yang berada diberbagai belahan benua. Quest tingkat A hanya boleh diambil oleh Anggota Guild tingkat A atau Party yang berisikan lima Anggota Guild tingkat B, kurang dari itu merek tidak dapat menerima Quest itu.

Jika saat menerima Quest anggota Guild Gagal menyelesaikannya maka mereka akan menerima denda dan saat kegagal itu dinilai merugikan Guild maka Anggota Guild itu akan dikeluarkan dan dipaksa membayar denda yang tidak sedikit, dan saat kau dikeluarkan dari Guild maka mustahil bagi-mu untuk mendaftar lagi.

Guild juga menengahi perselisihan yang terjadi diantara anggota Guild, jika Guild menilai itu bisa diselesaikan lewat petarungan maka mereka akan menyediakan tempat bertarung dan mengirim seorang wasit untuk mengatur jalannya petarungan...

'Jadi, didunia ini mengenal hukum rimba, yang kuat akan menerima banyak keuntungan yang lemah hanya akan terinjak-injak... Ya...'

Nanashi menghela nafas dalam pikirannya dan menatap Guild Resepsionis Raynare-san yang telah menyelesaikan penjelasannya.

"Dan itulah penjelasannya, jika ada yang tidak dipahami anda bisa bertanya..."

"Tidak, kami sudah paham..."

Ucap Nanashi datar dibalas senyuman dari Raynare."kalau begitu, silahkan anda mengisi formulir pendaftaran ini..., kalian bisa membaca dan menulis bukan?."

"Ya kami bisa..."

"Ara, kalau begitu silahkan anda mengisi formulirnya, saya akan pergi kebelakang sebentar..."

Ucap Raynare seraya melangkah menuju pintu, Nanashi menatap kepergian Raynare sesaat sebelum ia mengambil dua formulir itu dan menyerahkannya pada Gabriel yang sejak tadi terlihat gelisah, yah... Itu wajah Gabriel menjadi gelisah, hampir semua petualang yang berada disini menatap kearahnya dengan tatapan penuh nafsu, secara garis besar proposional tubuh Gabriel memang mengundang hasrat seksual kaum adam, wajahnya yang cantik dan tiga ukurannya yang membuat kaum adam meneteskan air liur mereka.

"Gabriel-sama..."

Nanashi memanggil nama muridnya itu membuat Gabriel tersentak sedikit dan menoleh kearah Nanashi yang mengulas senyuman tipis.

"Anda tidak perlu gelisah, saya ada disini untuk melindungi anda, jadi jangan takut... Dan, ini formulir pendaftaran anda, tolong di-isi..."

"Ba-Baik, Sensei..."

Nanashi tersenyum tipis dan menyerahkan pena bulu pada Gabriel yang menerimanya dengan gugup, dua orang yang berstatus sebagai guru dan murid itu mengisi formulir pendaftaran, setelah mengisi semua formulir pendaftaran, Nanashi menekan Bel yang ada dimeja resepsionis dan tak lama Raynare keluar dari pintu belakang dan berjalan menuju kearah mereka, Nanashi mengerutkan dahinya saat melihat wajah Raynare yang terlihat sedikit pucat, dia lagi sakit ya?

"Ini, kami sudah mengisi formulirnya..."

"Terimakasih, kalau begitu mohon tunggu sebentar..."

Raynare mengambil dua kartu berwarna hitam dan menempatkan kartu itu diatas formulir pendaftaran, Raynare membaca mantra pendek dan setelah itu menyerahkan belati pendek pada Nanashi dan Gabriel.

"Tolong teteskan darah anda keatas kartu..."

"Hn/ H-Ha'i..."

Nanashi dan Gabriel menusuk ibu jari mereka sampai mengeluarkan darah, keduanya dengan cepat menempelkan ibu jari mereka pada kartu yang langsung bersinar kecil, dan tak lama sinar itu menghilang dan tulisan putih muncul kepermukaan. Raynare mengambil kedua kartu hitam itu dan memeriksanya dengan teliti, ia mengerutkan dahinya saat melihat kartu Nanashi, namun itu hanya sesaat sebelum ia memasang senyuman ramah dan menyerahkan kedua kartu itu pada Nanashi dan Gabriel yang menerimanya dalam diam.

"Selamat, kalian telah terdaftar sebagai Anggota Guild, Rank Kalian saat ini adalah F, kalian bisa meningkatkan Rank kalian setelah kalian menyelesaikan beberapa Quest Rank F, silahkan lihat Quest dipapan Quest disebelah sana, jika ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan bertanya pada saya..."

"Terimakasih..."

"Hn, Terimakasih..."

Nanashi dan Gabriel langsung berjalan menuju papan Quest dan melihat-lihat Quest yang ada disana, Nanashi melihat-lihat sesaat sebelum ia memutuskan untuk mengambil Quest Rank F: mengalahkan 5 Gray Wolf dihutan Resnu, Nanashi menyobek kertas itu dan berjalan menuju Raynare.

"Kami ingin mengambil Quest ini..."

"Hm? Quest mengalahkan 5 Red Wolf ya... Apa anda yakin ingin mengambil Quest ini, meski ini Quest tingkat F tapi ini Quest yang biasanya dilakukan oleh Party yang terdiri dari empat petualang rank F, melakukan Quest ini hanya dengan dua orang agak..."

"Tidak perlu khawatir, kami lebih dari mampu untuk menyelesaikan Quest ini..."

"Aku tidak tahu darimana asalnya rasa percaya diri itu..."

Raynare tersenyum kecut dan meletakan stempel guild diatas kertas Quest yang diambil Nanashi dan menyimpannya dibawah meja resepsionis.

"Quest kalian diterima, selamat berjuang..."

"Hn, sampai jumpa, Raynare-san..."

Ucap Nanashi seraya melangkah pergi dari tempat itu tanpa menyadari Raynare yang melebarkan matanya, Raynare menatap kepergian Nanashi dan Gabriel tanpa berkedip sedikitpun.

"Dia... Bagaimana dia bisa tahu namaku..."

~~The Innovate~~

Hutan Resnu-,

Ditengah hutan yang lumayan luas, Nanashi dan Gabriel berjalan dengan langkah pelan ditengah lebatnya hutan, mereka berdua berjalan cukup lama sampai Nanashi memutuskan berhenti tepat dibawah pohon yang jauh lebih tinggi dibandingkan pohon yang lain, Nanashi menatap pohon besar itu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kebelakang dan ia melihar Gabriel yang sedang menenangkan deru nafasnya yang sedikit memburu, Nanashi tersenyum tipis, ia membuka [Inventory] miliknya dan mengambil kantung air dari sana dan memberikannya pada Gabriel.

"Ini minum dan beristirahatlah sejenak, kita akan melanjutkan latihannya disini setelah anda sudah sedikit pulih..."

"Te-Terimakasih, Sensei..."

Gabriel menerima kantung air itu, membuka tutup penyumbatnya dan menengak air didalamnya dengan cepat, Gabriel mendesah nikmat dan mengelap sudut bibirnya... Nanashi tersenyum melihat itu.

"Silahkan beristirahat, Gabriel-sama, saya akan mengawasi keadaan sekitar..."

"Maaf merepotkanmu, Sensei..."

"Tidak, ini tidak merepotkan saya sama sekali, selamat beristirahat, Gabriel-sama... dan lagipula ini saat yang tepat bagi saya untuk menunjukan pada anda kekuatan seorang Mage sejati..."

Setelah mengatakan itu tepat disekitar Nanashi muncul tujuh bayangan dari permukaan tanah, bayangan itu menyerupai seorang penyihir lengkap dengan tudung dan tongkat hitam yang mereka bawa, tujuh penyihir itu mengambil satu lutut dan merendahkan diri mereka pada Nanashi yang menatap mereka dengan datar, berbeda dengan Nanashi yang tidak memasang ekspresi apapun, Gabriel terkejut melihat kemunculan tujuh penyihir bayangan itu, meski Gabriel tahu dari kakeknya jika Nanashi adalah seorang penyihir yang mengkhususkan dirinya pada Sihir pemanggilan tapi untuk bisa memanggil makhluk yang menyerupai manusia itu berada dikelas yang benar-benar berbeda-, tidak, itu bahkan bukan sihir pemanggilan, itu adalah sihir...

"Create life..."

Gabriel bergumam shock, ia tidak menyangka jika sihir yang hanya ada dalam legenda bahkan mulai dianggap mitos saat ini tersaji didepan matanya, sihir yang menciptakan kehidupan dalam bentuk abstrak, bayangan... Gabriel menatap guru sihinya-, Nanashi dalam diam.

"Sensei adalah seorang Phantasm Trinity..."

And Cut~

Yahoo! Blaze Hell kembali dengan membawa chapter baru yang kuharap bisa kalian nikmati, hn... Disini Nanashi mulai melatih Gabriel, ia sudah mengajari Gabriel dasar-dasar dari sihir dan membuat Gabriel menjadi seorang Mage dengan pemahaman sihir terbaik dikediaman Edward Cristaldi, namun meski pemahaman sihir Gabriel luar biasa, ia masihlah orang dengan MP yang rendah, dan disini Nanashi/Naruto melakukan [Power Leveling], dia berniat menaikikan level Gabriel sampai ketingkat dimana Gabriel setidaknya mampu menggunakan Magic tingkat menengah...

Tujuanku saat ini adalah membuat Gabriel menjadi seorang Mage yang kuat, cukup kuat untuk membalas orang-orang yang sudah menghina-nya, Arc ini [Malaikat dan Sang Penguasa Bayangan] akan selesai tepat saat Gabriel masuk kembali keacademy, lalu dilanjutkan ke Arc [Rubah dan Sang Penguasa Bayangan] sebagai Arc kedua... Sebenarnya aku berniat menciptakan Arc seperti ini:

Arc 01: Malaikat dan Sang Penguasa Bayangan/Angel And Lord Shadow

Arc 02: Rubah dan Sang Penguasa Bayangan/ Fox And Lord Shadow

Arc 03: Iblis dan Sang Penguasa Bayangan/ Demon And Lord Shadow

Arc 04: Naga dan Sang Penguasa Bayangan/ Dragon And Lord Shadow

Arc 05: Sang Penguasa Bayangan dan Sang Makhluk terkuat didunia/ Lord Shadow and The Most Strongest Being in The World

Arc 06: Kehancuran Kekaisaran Suci

Arc 07: Parade Sang Malapetaka

Arc 08: Keptutusan Sang Penguasa Bayangan

Arc 09: Sang Dewi

Arc 10: Tahta Dewa(END)

Maa, Maa, tolong jangan dianggap serius oke? Ini masih rencana, belum ada kepastiaannya, jadi jangan terlalu berharap...

Lalu, hmm... Yappari, kalian belum membaca AN dengan benar, tolong dengarkan, Fic ini mengabungkan berbagai macam unsur dari WN, LN, Manga, Manghua, Manghwa, dan segala macamnya... Jadi, saat ada persamaan maka itu artinya aku mendapatkan inspirasi dari sana, saya masih Newbie jadi menggunakan alur pada suatu karya dari Author lain, saya setidaknya tidak meniru seratus persen, 20-40% masih mungkin tapi kalau menjiplak itu tidak mungkin...

Nah, hanya itu saja yang bisa saya sampaikan, tolong Review-nya, tidak menerima Flame tidak mendidik dan asal jeplak, menerima saran dan segala macamnya, Flame? F*ck Am Out!

Sekian dari Saya, Blaze Hell Out!?

RnR