Loving You
Chapter 3
Disclaimer : Bleach by Tite Kubo
Loving You by Sora Hinase
Pairing : IchuRuki
Rated : T
Genre : Romance, Family
Warning : AU, OC, OOC, dsb.
.
.
.
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
.
"Apa Rui senang jika mempunyai adik?" tanyaku pada putri pertamaku, saat ini aku sedang berada di ruang keluarga Hisana-nee hanya dengan Rui, kami sedang melihat acara kesukaan Rui. Aku baru saja keluar dari rumah sakit pagi tadi tetapi sampai detik ini aku tak tahu dimana Ichigo. Byakuya-nii sudah berangkat ke kantor sedangkan Hisana-nee sedang berbelanja di minimarket.
"Tentu saja senang, Rui jadi ada teman," jawabnya dengan nada ceria khas anak-anak seraya memelukku dan tentu saja aku membalas pelukan Rui. Kaa-san janji akan membahagiakanmu dan adikmu, Rui. Kaa-san tak akan membiarkan kalian menderita. Apapun yang terjadi aku tak akan melepaskan Ichigo karena anak-anakku tak boleh kekurangan kasih sayang dari orang tuanya.
.
.
.
.
.
Ichigo POV
Perkenalan kami berawal dari website Fanfiction, dia lebih dulu menjadi author di sana daripada aku, dia mempunyai banyak kenalan daripada aku dan kebanyakan adalah author senior. Aku yang saat itu adalah seorang newbie tentu saja sangat sulit menarik minat pembaca, dulu Ffn -singkatan - masih sangat sepi jadi wajar jika jumlah review juga sedikit dan ada satu author yang selalu mereview ficku dan anehnya dia tak lagi mereview ficku setelah aku mendapat banyak review. Kami lumayan dekat sampai akhirnya dia mengetahui jika aku adalah laki-laki, entahlah aku juga heran kenapa dia menjadi canggung saat setelah tahu aku ini laki-laki. Di dunia maya kita memang susah membedakan apakah dia laki-laki atau perempuan, dia selalu membicarakan orang yang sama selama di dunia maya, seperti hanya ada satu laki-laki yang boleh memasuki dunianya dan aku yakin semua fanfic yang dibuatnya pasti dari kisah mereka sendiri. Pernah ada keinginan untuk mendekatinya lebih dalam lagi tapi keinginan itu tak pernah tercapai karena tahu-tahu aku telah terjerat dengan teman dekatnya di Fanfiction dan dia juga mulai jarang muncul di dunia maya.
Awalnya kehidupanku berjalan normal bertahun-tahun aku menjalin kasih dengan Nel yang aku kenal di Fanfiction sekaligus teman dekat Rukia di sana. Seharuanya aku tak mengganggu Rukia lagi tapi entah setan dari mana yang membuatku nekat mencari tahu tentang Rukia dan mendatanginya, semua itu bermula saat Nel tak bisa melanjutkan hubungan denganku karena ia telah dijodohkan oleh keluarganya dan dalam kekalutanku karena kepergian Nel, entah kenapa hanya satu nama yang terus terngiang dalam benakku, Amethyst Lucya. Aku bahkan tak mengetahui nama aslinya, aku tak mengetahui dimana ia tinggal tapi saat itu aku sangat ingin bertemu dengannya. Dua bulan, aku membutuhkan waktu dua bulan untuk melacaknya karena ia sudah lama tak aktif di dunia maya sedangkan aku tak mengetahui apa-apa tentang dirinya. Setelah aku mengetahui dimana ia tinggal, aku langsung menemuinya tanpa pikir panjang lagi. Tebak hal gila apa yang aku lakukan saat pertama kali bertemu dia? Aku langsung mengajaknya menikah! Aku tahu aku sudah gila dan aku juga tak tahu kenapa aku melakukan hal gila itu, awalnya Rukia terkejut tapi setelah pembicaraan singkat kami, Rukia justru menyetujui lamaranku. Jujur saja aku cukup terkejut Rukia mau menikah denganku.
Setelah menikah, rumah tangga kami tergolong harmonis, kami tak pernah bertengkar bahkan sampai Rui lahir, kami juga tak saling mengungkit masa lalu masing-masing, kami menjalankan kewajiban kami masing-masing. Semuanya baik-baik saja, terkadang aku heran bagaimana mungkin kami baik-baik saja sementara pernikahan ini terjadi secara spontan dan tanpa cinta? Dan perasaanku mulai goyah sejak aku bertemu dengan Nel kembali.
End of Ichigo POV
.
.
.
.
.
"Nee-san mendengar pembicaraanmu dan Ichigo di rumah sakit kemarin malam, aku tak bermaksud menguping tadinya aku ke rumah sakit karena aku pikir Ichigo butuh istirahat, setelah perjalanan panjang kemari dia justru langsung menjagamu. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu berani berkata demikian, Rukia?" tanya Hisana-Nee, saat ini kami sedang duduk di kebun belakang sambil menikmati teh hangat, sementara Rui sedang asyik berkeliling di kebun.
"Aku terbawa emosi, aku hanya berfikir pernikahan ini tak akan berhasil, aku berfikir jika Ichigo hanya akan menganggap anak-anak sebagai batu sandungan bagi dirinya untuk bersatu dengan wanita yang dicintainya," jawabku dengan wajah sendu.
"Apapun yang terjadi jangan kamu mengucapkan kata cerai semudah membalik telapak tangan, jangan mengambil keputusan sepihak, bicarakan baik-baik dengan Ichigo agar tak terjadi kesalahpahaman. Hidup kalian bukan hanya tentang kalian lagi tapi juga tentang anak kalian, pikirkan juga perasaan anak-anak dan bagaimana dampaknya bagi mereka."
Aku terdiam mendengar penuturan Nee-san, aku memang terlalu gegabah.
"Kau tahu bagaimana perasaan Nee-san saat tahu jika Nee-san tak bisa memberikan adik untuk Ryo? Saat Ryo memutuskan untuk masuk ke asrama, aku kembali merasa kesepian. Kadang aku berandai-andai, seandainya aku bisa memberikan adik untuk Ryo mungkin aku tak akan merasa kesepian saat Ryo tak ada di rumah. Walaupun begitu aku tetap bersyukur karena dapat memiliki Ryo sementara di luar sana banyak wanita yang tak bisa memiliki anak. Jangan pernah mempermainkan sebuah kehidupan, walaupun itu adalah kehidupan janin yang masih berbentuk gumpalan darah, karena gumpalan darah itu juga berhak untuk hidup," ujar Hisana-Nee sebelum masuk ke dalam rumah. Tanpa sadar aku menyentuh perutku, aku adalah ibu terburuk di dunia. Bagaimana mungkin aku pernah berfikiran untuk menggugurkan janin ini sementara di luar sana banyak wanita yang akan melakukan apapun agar anaknya bisa lahir dengan selamat?
Menikah dengan Ichigo adalah keputusanku tanpa paksaan dari siapapun dan aku harus siap dengan segala resiko yang ada atas keputusan yang telah aku ambil.
.
.
.
.
.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain atas segala resiko dari keputusan yang kamu ambil, hidupmu kamu yang menentukan," ujar Kaien saat aku mengelur tentang betapa tak enaknya anak-anak di sekolahku.
"Iya deh, Kaien-dono," jawabku ogah-ogahan, dia memang jarang serius tapi kata-katanya selalu menjadi motifasi yang selalu aku gunakan.
"Ayo kita kencan!" ujarnya seraya mengacak rambutku.
.
.
.
.
.
TBC
Terimakasih buat yang udah ngebaca chapter kemarin terutama yang udah ngreview :
darries, akasaki rinko, Guest, Azura Kuchiki, Rini desu.
CnC?
RnR? ^^
