KIMI NO SEKAI

(DUNIAMU)

.

HUNHAN COUPLE

FANTASY-SUPERNATURAL-SUSPENSE

ALTERNATE UNIVERSE!

.

.

.

E

N

J

O

Y

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan tergeming malam itu. Ia hanya memandang lurus lukisan Sehun yang kembali ia letakan di sebelah ranjangnya. Sekarang sudah pukul sembilan malam. Luhan menimang-nimang. Sebaiknya ia mengunjungi Sehun atau tidak? Tapi, jujur saja. Luhan selalu merasa tidak enak setiap kali ia mengunjungi Sehun namun pria itu selalu menampakkan mimik kecewa walaupun itu secara tersirat. Luhan sebenarnya ingin menahan diri untuk tidak bertemu Sehun barang satu hari saja namun sialnya ia tak bisa.

Luhan akui, ia masih terobsesi dengan Sehun. Semakin dalam malah. Bagaimana tidak? Setiap ia berkunjung, Sehun selalu mengajaknya untuk bercinta. Walaupun sebenarnya tanpa diajak, Luhan akan sukarela membuka bajunya—karena pada kenyataannya, Sehun semakin hari semakin—sangat—damn hot. Itu sangat jelas. Terlebih setelah ia mendapatkan kaki nyatanya.

Ia berpikir, apa Sehun sedang melihatnya saat ini? Tapi Luhan butuh menenangkan diri. Sangat tidak salah bukan, kalau ia perlu mempertimbangkan kunjungan-ke-sekian-kalinya tanpa harus melihat mimik kecewa Sehun? Jujur, Luhan merasa muak dan gelisah ketika melihat air wajah Sehun. Muak terhadap dirinya sendiri karena ia, pria itu menampakkan mimik kecewa dan gelisah. Ia bahkan tidak tahu ataupun yakin kalau ia dapat mengabulkan permintaan Sehun.

Luhan mengacak rambutnya frustrasi. Ia pikir ia harus menjernihkan pikirannya untuk beberapa waktu ke depan. Ya, harus. Ia akan absen mengunjungi Sehun sampai ia benar-benar yakin terhadap dirinya sendiri, bahwa mampukah ia mengabulkan permintaan Sehun? Atau malah ia memilih lari dari kenyataan padahal faktanya ia telah terjerat dalam lingkup diri Sehun yang sudah sejauh ini?

Luhan menenggelamkan dirinya dalam selimut tebal. Katakan ia egois karena tidak ingin menjadi pecundang di antara teman-temannya dan Sehun. Benar-benar pilihan yang sulit.

.

.

.

Sore itu, kami jalan bersama. Mulai dari pergi menonton bioskop, makan di kedai langganan Junmyeon lalu sekarang menaiki perahu di danau. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga Kyungsoo karena tidak memiliki pasangan.

Sore itu pula, aku mendapat ide—bisa dikatakan baik ataupun buruk.

.

Kemarin, sedikit banyaknya memberiku tambahan mencatat. Walaupun pada dasarnya aku sudah lumayan banyak mengetahui masing-masing dari mereka. Namun sifat buruk memang tidak pernah terlepas dari diri manusia, bukan begitu?

.

Catatan 1 [Di bioskop] -Junmyeon-

Junmyeon itu sangat tidak suka jika seseorang mencomot berondong jagungnya saat menontonChanyeol yang mencomotnya. Ia akan menampakkan raut tak suka yang kentara. Ia lebih baik membelikan setumpuk berondong jagung kepada orang lain daripada berondong jagungnya dicomot.

.

Catatan 2 [Di Bioskop] -Lay-

Lay sangat benci ketika seseorang menggenggam tangannya saat sedang menonton. Kemarin ketika Junmyeon melancarkan modus busuknya, namun dengan cekatan Lay melepaskan genggaman Junmyeon lalu memberikannya tatapan tajam. Ia merasa risi.

.

Catatan 3 [Di Kedai] -Baekhyun-

Baekhyun sangat membenci situasi di mana ia sudah terlalu lama menunggu. Seperti kemarin, pesanannya datang hampir satu jam kemudian sedangkan yang lainnya sudah selesai makan. Dan Baekhyun memaki sang manajer terutama sang pelayan. Ia mengucapkan kalimat pedas dan bersumpah tidak akan pernah mau lagi menginjakkan kaki di kedai langganan Junmyeon. Baekhyun sulit mengontrol emosi.

.

Catatan 4 [Di Danau] -Kyungsoo-

Aku baru tahu kalau Kyungsoo membenci angsa. Saat itu rombongan angsa menghampiri perahu kami dan ia dengan kesalnya menimpuki angsa-angsa tersebut dengan makanan yang harusnya diberikan. Ia juga terus mengumpat. Kyungsoo sepertinya memiliki trauma mendalam.

.

Aku menutup catatanku. Menghela napas kasar. Tidak tahu sebenarnya ini berguna atau tidak. Terkesan konyol memang. Aku sangat bingung, sungguh. Aku tak tahu harus membagi kebingunganku dengan siapa. Kalau bersama Sehun, yang ada aku malah semakin labil. Kalau bersama teman-teman pun aku merasa muka dua. Walaupun sebenarnya aku tidak yakin akan melakukan itu pada mereka. Salah satu di antara mereka. Kenyataan ini membuatku depresi.

.

.

"Akhir-akhir ini kau tampak murung. Ada apa?"

Luhan menggeleng ketika Kai bertanya. Ia menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. Kai mengelus rambut Luhan lembut. "Baiklah kalau kau belum mau cerita."

Perlahan Luhan mendongakkan kepalanya. Matanya langsung bersinggung tatap dengan manik hitam Kai. Kemudian ia tersenyum. "Lebih baik kau pesan makanan. Kita masuk dua puluh menit lagi. Tidak baik bukan kalau belajar dalam keadaan perut kosong?"

Luhan menyunggingkan senyum mendengarnya.

Kalau seperti ini, bagaimana bisa aku merelakannya?

.

Luhan terbangun malam itu. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Samar-samar indra pendengarannya menangkap sebuah bisikan. Tidak jelas, seperti desisan ular.

Luhan mengucek matanya pelan. Ia pun bersandar pada sandaran ranjangnya. Hanya cahaya rembulan yang menemani keremangan kamarnya. Luhan mendengarkan baik-baik. Bisikan itu terdengar sedikit menggema. Tak lama kemudian matanya membulat kala mendengar bisikan yang terlalu jelas.

'Apakah sampai?'

Tak perlu berpikir dua kali untuk Luhan mengenai suara itu. Entah mengapa Luhan tegang. Dan hal yang baru Luhan sadari adalah suara bisikan itu tidak teredar di kamarnya melainkan hanya di kepalanya. Memenuhi kepalanya. Saat akan bersuara, bisikan itu memperingatinya.

'Cukup katakan dalam hati. Apakah kau ingin mengucapkan selamat? Kita berhasil bertelepati.'

Mata Luhan terbelalak. Ia sudah terjaga sepenuhnya. Ia pun berdeham.

'Sehun? Kaukah itu?'

'Ya. Kau pikir siapa lagi?'

'Bagaimana bisa kau melakukan ini?'

Luhan mendengar suara kekehan di kepalanya. Bisikan Sehun kian jelas.

'Aku hanya bereksperimen. Aku tengah berada di insiviour.'

'Apa? Mengapa?'

'Sebentar. Aku sebenarnya cukup terkejut kau dapat menerima sinyal dariku. Kau hebat.'

Luhan bergeming sesaat. Iya juga, pikirnya.

'Terjadi begitu saja. Mengapa kau melakukan ini? Apa yang kau lakukan?'

'Maaf aku tidak bisa menjelaskannya dengan cara seperti ini. Bagaimana kalau besok kau mengunjungiku? Sudah empat hari ini kau absen mengunjungiku. Aku kesepian.'

Luhan menggigit bibirnya. Merasa tidak enak.

'Itu, Sehun—"

'Maafkan aku. Pembicaraan kita harus segera kuakhiri. Kunjungi aku kalau kau ingin tahu. Aku selalu menantimu dan itu. Sampai jumpa.'

Luhan bersandar. Ia menghela napas perlahan. Ia juga tak mengerti apa yang Sehun lakukan dan mengapa ia melakukan telepati dengannya? Luhan mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa ia merasa sedikit lelah dari pertama ia bangun. Apa mungkin karena ia berkomunikasi dengan Sehun? Luhan tidak ingin memikirkan itu semua sekarang. Ia hanya ingin tidur dan berharap esok hari menjadi lebih baik.

.

.

Kai baru saja pulang beberapa menit yang lalu. Luhan masih terbaring lemah dalam keadaan telanjang di ranjangnya. Luhan mengambil selimut guna menutupi sebagian tubuhnya. Sial juga Kai.

Sebelum bercinta, Luhan menyarankan agar lukisan Sehun dibalik tapi Kai batu. Ia berkata, 'untuk apa dibalik? Toh, dia hanya sekadar lukisan. Kau tak perlu malu.'

Luhan merutuk mengingatnya. Ia hanya berharap-harap cemas, semoga Sehun tidak sedang berelaksasi saat ia bercinta dengan Kai. Kalau pun Sehun sampai melihat, Luhan benar-benar merasa dirinya seperti murahan. Disentuh Sehun maupun Kai, ia sama-sama tidak memberi penolakan. Sial.

Luhan melirik jam dinding yang tengah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Luhan pikir ia harus segera tidur, karena jujur saja, Kai melakukannya dengan sedikit kasar tadi. Luhan merasa bagian bawah tubuhnya sangat ngilu.

Namun saat akan memejamkan mata, kepalanya terisi oleh desis bisikan lagi.

Sehun...

'Luhan? Apa kau sudah tidur?'

Luhan menguap sekali lalu merenggangkan otot-ototnya. Ia merasa pegal sekali.

'Baru ingin. Kemudian kau menghubungiku. Ada apa?'

'Tidak apa. Aku hanya rindu padamu. Mengapa kau tidak datang?'

Luhan bergeming. Ia merasa lega karena ternyata Sehun tidak sedang berelaksasi saat ia bercinta. Namun di sisi lain, ia merasa bersalah karena ia dapat mendengar jelas nada kecewa Sehun.

'Luhan? Kau mendengarku?'

'Iya, Sehun.'

'Apa kau melamun?'

'Tidak.'

'Luhan...'

'Kenapa?'

'Aku tidak tahu ini kabar buruk untukmu, atau malah kabar gembira untukmu.'

Luhan mengernyit penasaran.

'Ada apa, Sehun?'

'Aku tidak bisa mengatakannya lewat sini. Tenggang jarak kita terlampau jauh.'

Luhan bergeming.

'Kau dapat mengunjungiku besok. Akankah kau bersedia?'

Luhan menggigit bibir bawahnya. Berpikir keras.

'Terserah padamu. Aku tidak memaksa. Tapi, kupikir ini cukup penting untuk kau ketahui. Walaupun tidak cukup penting untuk hidupmu.'

Luhan semakin penasaran dibuatnya.

'Terima kasih telah bertelepati denganku. Sampai jumpa.'

Luhan merasa kehampaan kembali mengisi kepalanya.

.

.

.

"Terima kasih karena telah datang."

Luhan melirik sekilas ke arah Sehun. Ia masih mengatur napasnya. Karena Sehun baru saja melepaskan ciuman panasnya. Ugh. Disambut seperti itu, Luhan merasa malu bukan main.

"Ya, Sehun."

Sehun tersenyum dan mendekap Luhan erat. Luhan balas mendekap.

"Luhan, biarkan aku berbicara intinya."

Luhan mengangguk ragu. Sehun semakin mendekapnya erat.

"Kau adalah satu-satunya harapanku, benar?"

Luhan mengangguk.

Sehun melepas dekapannya. Ditatapnya saddlebrown Luhan dengan dalam. Ia membingkai wajah Luhan.

"Sebelumnya, terima kasih banyak karena telah mengembalikan kaki nyataku. Dan maaf kalau selama ini aku sedikit banyaknya telah mengacaukan hidupmu."

Luhan memegang tangan Sehun yang menangkup pipinya. Ia membelai lembut punggung tangan pria itu.

"Jaga bicaramu. Aku sama sekali tidak merasa kacau."

Sehun menaikkan sebelah alisnya, "Itu dahulu. Sekarang? Sangat, bukan?"

Luhan bergeming. Sehun terkekeh ringan.

"Kau satu-satunya harapanku. Kau tahu, kau—aku, hanya punya waktu tidak lebih dari dua minggu untuk mengharapkanmu. Itu tercatat di pertengahan buku Tuan Anstone."

Luhan terus memerhatikan.

"Kau harus segera mengambil keputusan, Luhan. Karena jika sudah lebih dari dua minggu dan aku tidak mendapatkan harapanku, maka secara otomatis Hakan tertutup rapat. Entah sampai kapan akan terbuka. Itu konsekuensi dari hadirnya manusia tiga dimensi, namun tidak menyelamatkan secara total. Sebenarnya ini hanya analisis Tuan Anstone, namun aku percaya padanya. Aku akan terkurung lebih parah tanpa bisa melihat dunia luar. Kutukan kyschogar pun akan sukses menimpaku selama-lamanya. Meskipun kau terobsesi padaku tetapi tidak bisa mewujudkan harapanku, sama saja bohong. Aku tidak akan pernah bisa sepertimu. Dan itu hanyalah angan belaka. Mustahil."

Luhan tergeming mendengar penuturan Sehun. Ia benar-benar speechless.

Sehun malah memulas senyum tipis. "Aku sangat membutuhkan jawabanmu secepatnya. Entah itu apa keputusanmu, aku akan sukarela menerimanya."

Luhan masih tergeming. Tiba-tiba saja Sehun melepas tangannya yang semula menangkup pipi Luhan. Ia pun bangkit dan melangkah sedikit menjauhi Luhan. Ia memunggunginya.

"Ini yang aku takutkan. Kau dalam fase ini, mengambang. Aku tahu ini berat untukmu. Aku percaya padamu, sebelumnya. Tapi sekarang kepercayaanku terkikis. Mungkin ini memang terdengar egois menurutmu, tapi itulah isi hatiku. Itu sebabnya aku tak pernah membalas pernyataan cintamu. Karena aku terlalu takut untuk disakiti. Disakiti oleh kenyataan pahit bahwa kita mustahil untuk bersama. Aku selalu menahannya. Tapi—"

"Tidak, Sehun. Kumohon jangan seperti ini."

Sehun menghentikan kalimatnya karena kini Luhan telah memeluknya erat dari belakang. Ia pun merasakan jasnya lembap. Luhan menangis, pikirnya.

"Aku mencintaimu dengan tulus, Sehun. Maafkan aku. Aku memang bodoh, tidak peka, labi—"

Ucapannya terhenti karena tiba-tiba Sehun membalik badannya lalu mengecup lembut bibir Luhan.

"Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya mengungkapkan isi hatimu sebelum kau benar-benar tidak dapat bertemu denganku lagi." Senyuman Sehun membuat hati Luhan meringis. Ia mulai terisak kemudian menggelengkan kepalanya lemah.

"Kita akan bersama! Ya Tuhan, Sehun. Aku benar-benar kalut. Ini terlalu sulit untukku. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Aku akan melakukannya dan merealisasikan kata bersama."

Sehun tertawa mendengar nada keraguan di akhir kalimat Luhan. Kemudian ia memegang bahu Luhan.

"Kau lucu. Mengatakan kita akan bersama, padahal sang waktu enggan menunggu lebih lama." Ucap Sehun dingin.

Luhan terisak semakin kencang. Ia memberanikan diri untuk menangkup pipi Sehun lalu menciumnya dengan brutal. Sehun diam saja. Tak menghentikan dan tak merespons sama sekali. Luhan merasa kalah dan malu. Ia menjauhkan diri dari Sehun. Ia mengelap bibirnya yang basah karena ciuman sepihak tadi.

"Aku..."

Sehun bergeming.

"Aku sudah memutuskan."

Sehun masih bergeming. Tidak terlalu tertarik dengan pernyataan Luhan yang bisa ia tebak.

"Beri aku waktu untuk berpikir. Satu minggu. Dan setelah satu minggu, jika aku tidak mengunjungimu, itu berarti aku tengah mempersiapkan harapanmu. Dan jika aku kembali mengunjungimu setelah satu minggu, maka aku menolakmu."

Penuturan Luhan membuat Sehun sedikit terkejut. Tapi ia malah terkekeh kemudian bersedekap.

"Sejujurnya, aku tidak lagi berharap semenjak kau datang tadi. Apalagi setelah kau berkata seperti ini. Tapi—yeah, terima kasih banyak karena telah menjadi lebih bijak daripada sebelumnya."

.

.

.

Ini sudah dua hari semenjak pertemuan tak mengenakkan aku dan Sehun di Hvitur. Katakan aku idiot karena semenjak kejadian itu, aku tidak berani melirik lukisan Sehun yang padahal masih terletak di sebelah ranjangku. Ugh. Aku tak tahu lagi bagaimana mengutarakan kerisauan hatiku. Ditambah Kai yang dua hari ini bak menghilang tak ada kabar. Di kelas pun ia absen. Aku berusaha menghubunginya namun ponselnya seperti tidak aktif. Aku mengunjungi rumahnya namun satpam Cha bilang bahwa Kai tidak pulang ke rumah sejak dua hari yang lalu. Aku sungguh frustrasi. Hal ini semakin membuatku tertekan sementara aku masih berpikir keras untuk mengabulkan permintaan Sehun.

Sehun...

Pria itu membuat kadar kewarasanku makin dipertanyakan. Terima kasih kepada Sehun karena telah mengisi mimpi-mimpiku dengan penis besarnya. Shit. Entah sudah berapa banyak seprai yang kutaruh ke binatu karena maniku tercecer sangat banyak tiap kali terbangun. Namun semenjak dua hari ini, aku tidak memimpikannya. Oh Tuhan. Aku ingin mati saja kalau bisa daripada harus dihadapkan dengan keadaan gila ini.

.

.

"Apa Kai tidak menghubungi kalian?"

Baekhyun dan Chanyeol menggelengkan kepala mereka. Luhan mendesah frustrasi. Ia mengaduk minumannya kasar.

"Ini hari ketiga pula Kyungsoo absen tanpa alasan yang jelas." Luhan berhenti mengacaukan minumannya kala mendengar ucapan Baekhyun. Ia menatap penuh tanya.

"Persis seperti Kai. Tidak ada kabar. Dan berhenti memandangiku seolah aku tahu tentangnya. Aku benar-benar tidak tahu."

Luhan bertopang dagu. "Kenapa bisa seperti itu? Tidakkah kalian pikir ini janggal?"

Chanyeol mengedikkan bahunya. "Aku merasakan hal itu sedikit banyaknya. Tapi kalaupun mereka sungguhan bersekongkol untuk 'tidak masuk'. Apa tujuannya?"

Luhan mulai berpikir. Baekhyun pun menampilkan raut khawatir.

"Kurasa, aku harus melakukan sesuatu."

Baekhyun dan Chanyeol menatap Luhan penuh tanya.

.

.

10.00 PM

Ini sudah hari ketiga sejak hubunganku dan Sehun semakin rancu. Jujur, aku khawatir padanya. Apakah ia kesepian? Apakah ia merindukanku? Apakah ia ingin aku mengunjunginya seperti sedia kala?

Aku ingin kembali bertelepati dengan Sehun. Sangat ingin. Apa Sehun begitu kecewa padaku sehingga ia tak mau lagi menjalin telepati denganku? Sehun mengatakan waktu itu, bahwa ia melakukan relaksasi setengah sadar lalu membaca mantra dalam hati guna memanipulasi otakku. Ia memfokuskan visualisasi diriku dalam relaksasinya. Mantra itu sampai hingga otakku berhasil dikendalikan oleh mantranya sehingga kami dapat bertelepati. Tapi sepertinya Sehun tidak akan sudi melakukannya lagi dengan seorang pecundang sepertiku. Aku sadar namun bodohnya aku terus berharap bahwa ia akan bertelepati denganku.

.

.

Malam itu, Luhan bergeming di depan pintu apartemen Kyungsoo. Ia ragu apakah Kyungsoo ada atau tidak. Apartemennya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia merapatkan jaketnya. Sudah lebih dari sepuluh menit ia hanya bergeming sedangkan angin malam terasa semakin menusuk. Saat akan membunyikan bel, Luhan mendengar suara.

"Ahh..."

Refleks, tangan Luhan kembali ke tempat semula. Ia mengernyit.

Apakah itu suara Kyungsoo? Ada apa dengannya?

"Terus...ahh—"

Luhan masih tergeming. Berusaha mencerna keadaan dan menajamkan indra pendengarannya. Matanya terbelalak kala mendengar nama yang ia rindukan beberapa hari ini.

"Ahh..iya di situ, Kai. Lebih cepat."

Tangan Luhan berada di kenop pintu namun tergeming kaku begitu saja. Ia pun juga merasa sekujur tubuhnya seperti habis diguyur ratusan es balok.

"Aku hanya mencintaimu, Kyungsoo. Tidak dengan yang lainahh."

Benar saja. Itu suara Kai. Dengan tangan gemetar, Luhan memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci oleh sang empunya.

Luhan mematung diambang pintu. Tangannya membekap mulutnya sendiri. Matanya mulai digenangi cairan bening.

Sepertinya baik Kai maupun Kyungsoo tidak menyadari kehadiran Luhan karena Luhan melihat sendiri betapa Kai begitu semangat menyodokkan penisnya pada lubang Kyungsoo seolah dunia adalah milik mereka berdua. Luhan mengepalkan tangannya erat.

"KALIAN PIKIR, APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?!"

Luhan berteriak walaupun terdengar sedikit bergetar. Sontak teriakannya menghentikan aktivitas percintaan mereka. Kyungsoo dan Kai saling menatap di atas sofa. Tak lama kemudian Kai merasakan pipinya panas.

"Sialan! Bajingan tolol! Mati saja kau, keparat!"

Tamparan keras, kedua dan ketiga. Kai merasa sudut bibirnya berdarah. Kepalanya terantuk dinding karena terguncang dengan tamparan telak Luhan. Sesaat setelah itu, Kai buru-buru melepaskan penyatuannya dengan Kyungsoo dan dengan cepat memakai boksernya. Kyungsoo pun melakukan hal yang sama. Kyungsoo terduduk di atas karpet. Bergeming seperti batu.

Kai dengan cepat langsung menggenggam erat tangan Luhan.

"L-Luhan, dengarkan aku. Ini tidak seperti—"

"Apa? Kau mau bilang bahwa ini tidak seperti yang aku pikirkan? Apa kau sakit jiwa? Sialan!"

Luhan meninju rahang Kai keras hingga ia tersungkur. Kyungsoo yang melihatnya dengan cepat langsung menghampiri Kai lalu memeluknya. Bibir Kai dipenuhi darah sekarang. Luhan mencoba mengatur napasnya yang memburu berlebihan karena emosi. Tangannya masih terkepal kuat dan wajahnya sangat merah.

"Apa yang kau lakukan?!"

Teriakan Kyungsoo membuat Luhan semakin muak. Saat ini Kyungsoo sedang mendekap Kai dengan memangku kepalanya di atas pahanya.

Luhan yang masih membara pun menghampiri Kyungsoo lalu menendang kepalanya kuat. Kyungsoo terhuyung, Luhan mencebik jijik.

"Heh,"

Luhan merunduk kemudian menjambak kuat rambut Kyungsoo. Kyungsoo menatap Luhan susah payah.

"Kau sampah busuk yang dengan tololnya melakukan hal menjijikkan ini bersama bajingan sialan ini. Kalian sama-sama menjijikkan."

Luhan pun menendang sekali kepala Kyungsoo hingga Kyungsoo merasa kepalanya akan pecah karena sangat vertigo. Kai mencoba bangkit dan dengan cepat ia memeluk kaki Luhan yang siap untuk pergi.

"Luhan, kumohon jangan seperti ini. Tolong dengarka—"

Tanpa basa-basi, Luhan menendang kuat rahang Kai dengan lututnya. Kai meringis tertahan. Luhan berbalik dan melangkah perlahan. Ia sangat kacau saat ini. Ia marah dan sedih di saat bersamaan.

"Terima kasih telah melakukan ini padaku. Jangan menjelaskan apapun padaku karena aku tidak akan sudi mendengarnya."

Luhan berucap rendah lalu ia meninggalkan apartemen Kyungsoo setelah membanting pintunya keras.

.

.

.

Luhan menangis malam itu. Tidak sampai terisak, memang. Namun hatinya perih bukan main. Ia masih tak menyangka dengan fakta yang ia saksikan kemarin. Luhan mengusap air matanya kasar.

Mengapa kalian melakukan ini padaku?

Jadi, kalian berkhianat. Kenapa?

Luhan mengerang. Ia mengambil bingkai foto dari meja belajarnya. Jepretan yang menunjukkan kebersamaan antara ia dam teman-temannya. Luhan melirik jijik pada Kyungsoo dan Kai. Dengan emosi, ia banting bingkai foto itu sampai pecah kemudian Luhan injak-injak lalu ia tendang hingga berakhir di kolong kasurnya. Ia menggigit bibir bawahnya.

"Bahkan ia tidak berusaha menghubungiku. Terima kasih banyak, sih."

Luhan beranjak menuju ranjang kemudian menghempaskan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya hampa. Luhan mengingat kembali saat dirinya menghajar Kai dan Kyungsoo tanpa ampun. Itu memang perilaku buruknya. Ia tidak akan segan-segan menghajar orang—siapapun mereka—kalau orang itu berani membuatnya marah.

Tiba-tiba ia teringat Sehun. Shit. Jujur, di saat seperti ini, dirinya sangat membutuhkan pria tampan tersebut. Luhan merindukannya. Ia duduk dan menatap lekat lukisan Sehun.

"Apakah aku pantas mengunjungimu hanya karena aku butuh tempat untuk bisa menenangkan diriku dari kenyataan sialan ini?"

Ia mengacak rambutnya frustrasi. Tiba-tiba Luhan merasa dirinya kosong. Ia tak punya siapa-siapa. Di saat ia membutuhkan Sehun untuk menjadi sandarannya namun mana mungkin pria itu mau menghubungi seorang labil sepertinya? Luhan merasa Sehun tak akan sudi. Luhan merasa prihatin pada dirinya sendiri.

.

.

Ini sudah hari keenam aku tidak masuk sekolah. Kupikir, dua manusia laknat itu juga tidak masuk sekolah. Namun tadi Baekhyun meneleponku dan mengatakan bahwa Kai dan Kyungsoo seperti menghindari mereka dan selalu berduaan di sekolah. Kata Baekhyun juga, wajah Kai memar. Aku terkekeh sinis saat mendengarnya.

Baekhyun menuntutku agar menjelaskan apa yang terjadi pada kami bertiga. Aku hanya mendengus lalu memutuskan sambungannya. Aku tidak peduli jika hari ini ia dan yang lain akan datang ke rumahku untuk meminta penjelasan. Kalau sampai terjadi, aku akan memaksa Bibi Ern agar bilang bahwa aku sedang berlibur dengan sepupuku ke Inggris atau boleh juga jika Bibi mengatakan bahwa aku kembali mati suri.

Aku semakin kacau, jujur saja. Setiap mengingat momen malam itu, aku selalu merasa muak sampai ke ubun-ubun, terlebih fakta yang dipaparkan Baekhyun tadi. Namun anehnya, aku tidak pernah menangis kala mengingatnya. Setelah kupikir-pikir juga, rasanya lain. Muak yang berlebihan? Aku tak tahu cara mengekspresikan perasaanku. Namun aku merasa seperti ada dorongan untuk—

"Mungkin kalau aku melihatnya lagi, perasaan itu semakin jelas."

Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang. Aku menggosokkan telapakku gugup. Aku pikir, tidak ada salahnya untuk memastikan. Lagi pula, aku berhutang janji.

.

.

.

Terima kasih kepada Baekhyun karena telah memberitahuku bahwa mereka tengah berada di taman dekat sekolah tepat saat pulang sekolah tadi. Aku merapatkan jaketku dan sedikit merendahkan topiku.

Mereka tengah duduk di bangku taman. Oh, bersenda gurau rupanya. Aku mengintip dibalik pohon. Aku rasa aku ingin muntah kala si bajingan itu menyelipkan mawar putih di telinga si sampah. Tiba-tiba aku merasakan jantungku berdentum cepat.

Rasa ini.

Bukan perasaan marah atau kecewa, namun lebih dari itu. Hasrat untuk itu.

.

.

Luhan merasa dadanya sakit karena jantungnya berdentum keras seolah-olah nyawanya akan dicabut paksa. Ia bersandar di balik pohon. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan tak jelas di kepalanya, seakan terngiang. Tangannya terkepal kuat dan wajahnya sudah merah padam. Ia menggigit bibir bawahnya. Bisikan seperti desisan ular itu menambah kacau pikirannya. Ia merasa harus segera melakukan sesuatu. Sesuatu untuk mengakhiri perasaan ini. Sesuatu yang mungkin akan menjadi kado terindah untuk dia.

Tiba-tiba Luhan menyeringai. Seringaian yang amat menakutkan.

.

.

.

Gedung Kosong,

10.55 PM

"Terima kasih karena telah melakukan tugasmu dengan baik, Niel."

Niel balas mengangguk kemudian membungkuk hormat. "Ini belum ada apa-apanya, Tuan."

Luhan menyeringai, "Terserah." Lalu ia menyodorkan segepok tebal kepada Niel.

"Terima kasih. Oh ya, kau ingin menyaksikan secara cuma-cuma atau segera enyah?"

Niel memulas senyum kecil kemudian mengambil segepok tebal yang terbalut amplop tersebut. Ia membungkuk sekali lagi.

"Terima kasih juga, Tuan. Aku? Aku rasa aku akan menyaksikannya di ujung sana. Khawatir jika sewaktu-waktu kau membutuhkan jasaku lagi."

Luhan terkekeh lalu mengibaskan tangannya tak peduli, "Terserah,"

Ia pun berbalik dan melangkah menuju dia. "aku akan melakukannya dengan cepat. Dan, ya. Aku memang membutuhkanmu untuk menyedot cairannya."

Giliran Niel yang terkekeh. Ia membungkuk walau tak dilihat Luhan. "Kau tahu aku tidak bisa melakukannya sendiri. Izinkan aku memanggil rekanku, oke?"

Luhan berbalik dan memutar bola matanya. "Ya, ya. Terserah. Ingat untuk membawa kotak penampungnya."

Niel membungkuk dalam kemudian berjalan keluar, meninggalkan Luhan seorang diri dengan perasaan yang menggebu. Sangat ingin. Ia melirik seonggok di sampingnya dengan tatapan tajam.

.

"Oh. Sudah bangun atau terbangun?"

Orang itu masih mengerjapkan matanya. Ruangan minim cahaya ini membuatnya bingung. Di mana aku?

Saat kesadarannya sudah benar-benar terkumpul, ia merasa kepalanya sangat berat. Vertigo.

"Efek dari biusan Niel."

Orang itu menyipitkan matanya, berusaha melihat siapakah sosok yang berbicara. Tapi suaranya seperti familier.

Puk

"Auh!"

Tawa menggema.

"Ups. Kena kepala kotormu, ya."

Orang itu hampir berteriak kala sesosok yang amat dikenalinya menaruh senter di bawah dagunya, sehingga ia dapat melihatnya jelas.

Luhan...

"Tak usah menampakkan mimik terkejut seperti itu." Luhan berucap tajam dan ia melangkah berjalan ke sudut ruangan. Seketika ruangan ini pun dalam lingkup mode cahaya oranye yang redup.

"Namanya juga gedung kosong."

Luhan berjalan menghampiri orang itu. Ia baru sadar bahwa kepalanya berdarah karena dihantam bongkahan batu berukuran lumayan besar. Ia juga baru sadar bahwa Luhan menggenggam sebilah pedang pada masing-masing tangannya.

"Aku tidak akan banyak cincong, Kai. Karena aku sudah gatal ingin menghabisimu."

Orang itu—Kai, memegang kepalanya yang dibanjiri oleh genangan darah. Posisinya terperenyak. Dan alangkah terkejutnya ia ketika menyadari bahwa ia tak lagi mempunyai jari kaki. Ditebas habis.

"Itu hanya pembukaan kecil, Kai."

Kai benar-benar frustrasi dihadapi kenyataan seperti ini. Saat akan berbicara, entah mengapa ia tak bisa. Suaranya tertahan. Tenggorokannya seperti mati rasa.

"Oh, itu. Maafkan aku. Niel yang melakukannya. Hanya bensin, kok."

Kai terbatuk parah saat merasa tenggorokannya mulai terasa perih. Tangannya teralih guna mencekik lehernya sendiri. Matanya berair dan merah. Kemudian ia menatap Luhan nyalang.

"Apa? Kau ingin mengataiku berengsek? Bajingan? Gila? Autis?"

Kemudian tawa Luhan menggema. Dengan cepat, ia berjalan menghampiri Kai dan menimpali tangan Kai dengan mencekiknya kuat. Giginya bergemeretak saking nafsunya. Kai mulai menggerakkan kakinya brutal, tak mengindahkan fakta bahwa kakinya masih sangat perih dengan darah yang terus membanjiri.

Bugh

Luhan terpental cukup jauh saat Kai berhasil menendang perutnya dengan lututnya. Luhan menggeram marah. Segera ia bangkit dan menodongkan pedangnya di depan wajah Kai. Kai bergeming dengan mimik sarat akan ketakutan. Ia menatap Luhan penuh seakan minta belas kasihan.

"Aku benci pengkhianat, bukan?"

Kai hanya bergeming. Mata Luhan menatapnya dengan tatapan keji, merendahkan.

Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau seperti ini?

"Ayolah, Kai. Bukankah seorang pengkhianat harusnya dihukum? Biar setimpal, loh."

Saat Kai ingin beringsut mundur, tiba-tiba Luhan menindihnya. Luhan menduduki perut Kai dengan pedang yang masih setia tertodong.

"Jangan sok mencoba ingin bicara untuk menjelaskan segalanya. Kau sudah sangat terlambat dan lagi pula, aku tidak akan sudi mendengarnya. Kau terlambat, sih. Jadi aku malah semakin yakin kalau perasaan ini benar adanya." Kai menelan ludahnya gugup karena Luhan mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyum yang menurut Kai—sangat mengerikan.

Jleb

Sret

Kai tidak akan pernah siap, sebetulnya. Luhan menusuk perutnya lalu sedikit mengoyaknya. Perutnya robek dan darah berlomba-lomba mengucur. Kai menatap Luhan tidak percaya.

"L-Luhan...apa yang kau lakukan?"

Kai sedikit bersyukur karena tiba-tiba saja suaranya kembali walau terdengar sangat parau. Mendengarnya, Luhan tertawa keras.

"Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, bodoh. Ucapkan selamat tinggal pada dunia."

Kai meringis pilu kala Luhan bangkit dan menginjak-injak bekas tusukannya.

"L-Luhan! Kumohon berhenti! Aku juga tidak mengerti mengapa ada rasa seperti aku harus memiliki Kyungsoo dan meninggalkanmu. Tapi itu bukan aku!"

Luhan berhenti sejenak. Ditatapnya wajah Kai yang menampakkan mimik kesakitan yang teramat. Ia kemudian terbatuk dan mengeluarkan darah.

Deg

Luhan merasa hatinya nyeri melihat Kai seperti itu. Karenanya. Ada perasaan bersalah yang ia rasakan. Hatinya sakit melihat mimik tersiksa Kai. Kai menatap Luhan. Kai melihat ekspresi Luhan yang menyiratkan perasaan bersalah dan menyesal. Air wajahnya menyendu. Kai terbatuk kembali. Dan saat menatap Luhan kembali, ia tak lagi menemukan air wajah itu. Hanya kilatan bara api yang terpancar dari matanya.

"Hentikan omong kosongmu itu."

Luhan dengan cepat membalikkan tubuh Kai hingga telungkup. Luhan mencengkeram tangan Kai kuat.

Deg

Perasaan tak seharusnya itu muncul lagi. Luhan menggelengkan kepalanya keras lalu tersenyum miring.

"L-Luhan! Apa yang tengah merasukimu? Kumohon hentikan! Aku Kai, Luhan! Kai! Kekasihmu! Aku benar-benar yakin bahwa perasaan kemarin hanyalah bualan! Itu bukan aku! Aku didorong!"

Luhan tergeming sejenak. Ia tak dapat melihat mimik Kai, namun anak itu berucap sambil terisak pilu. Luhan merasakan perasaan itu lagi. Luhan menggelengkan kepalanya kuat.

"Banyak omong!"

Jleb

Jleb

Jleb

Luhan terus menusukkan pedangnya pada punggung Kai. Lagi dan lagi. Darah mengalir deras. Kai terbatuk ekstrem. Beberapa tusukan lagi hingga suara batuk Kai lenyap. Luhan tertawa dengan tangan gemetar. Ia bangkit dan menjatuhkan pedangnya. Ia tertawa, memang namun ia tak tahu mengapa air matanya lolos begitu saja. Dan semakin banyak. Luhan membalik tubuh Kai.

Aku berhasil.

Luhan tertawa seraya menangis. Perasaannya sungguh rancu. Dia persis seperti seorang autis. Ia menatap tangannya sendiri dengan tatapan tak percaya.

"Maaf telah membuatmu menunggu, Bos!"

Tatapan Luhan teralih kala melihat Niel dan temannya berjalan menghampirinya.

"He. Apa kau tidak apa-apa, Tuan?"

Luhan mengelap air matanya kasar. Wajahnya terciprat darah Kai tadi. Bau anyir besi menusuk indra penciumannya. Ia menjauhkan diri dari Kai.

"Bereskan dia."

Luhan melirik sekilas ke arah tubuh kaku Kai. Air matanya lolos lagi. Ia berjalan ke sudut ruangan dan mencuci tangan serta membasuh wajah dari air mineral yang Niel bawa.

Niel dan temannya—Wonwoo berjalan menghampiri Kai. Wonwoo tertawa dan membuat Luhan teralih padanya.

Ia menghentikan tawanya karena merasa terintimidasi dengan tatapan Luhan. "Sorry, Bos. Aku hanya takjub melihatnya terkaku seperti ini karenamu. Kau luar biasa."

Niel memperingati Wonwoo agar jangan bicara macam-macam dan lakukan saja tugasnya dengan cepat sebelum jam dua belas malam.

Luhan mengusap wajahnya kasar. Ia seperti diliputi rasa gelisah. Ia lirik kembali Niel dan Wonwoo yang tengah menyedot darah Kai dengan alat-yang-entah-itu-apa lalu dihubungkan dengan kotak penampung berbentuk kaca tebal tersebut. Kotak penampungnya sudah terisi seperempat.

Deg

Luhan memegangi dadanya yang tiba-tiba seperti dialiri getaran halus dari listrik. Pikirannya seperti terngiang oleh bisikan seperti desisan. Ia merasa dejavu. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Kau harus bangga, bodoh. Ini lebih dari tepat.

.

.

"Kalian boleh pulang. Terima kasih atas kerja samanya."

Niel dan Wonwoo membungkuk hormat. "Terima kasih kembali atas bayarannya, Bos." Wonwoo tersenyum girang karena tangannya memegang segepok tebal pemberian Luhan.

Luhan mengangguk. Niel dan Wonwoo pun meninggalkannya. Kini Luhan sendiri. Ia melangkah menuju sudut ruangan. Diambilnya sebuah lukisan.

Luhan melirik jam tangannya. Tiga menit lagi. Lantas ia berjalan mengambil kotak penampung. Ia duduk di lantai sembari menatap sang lukisan dengan wajah berseri. Dibelainya pulasan rupawan sang lukisan.

"Sudah kubilang, kita akan bersama."

Luhan melirik kembali jam tangannya. Satu menit lagi. Ia menaruh sang lukisan di lantai lalu membuka kotak penampung tersebut. Segera ia mencelupkan telunjuknya dan menorehkannya pada latar putih. Mengisyaratkan. Luhan kembali melirik jam tangannya.

Sekarang.

Luhan mencelupkan tangannya hingga genangan darah tersebut tertangkup. Lantas ia tumpahkan pada sang lukisan. Bau anyir besi sungguh menyengat. Luhan menahan mual.

"La etredez qowl mivraeza jrtty rayselkka gpyeuv bermentt zivuande ilmargustto svlykimba noseverus hoyk llam hryant—"

Luhan membacakan mantra sembari terus menumpahkan darah tersebut hingga seluruh permukaan lukisan tertutup. Luhan pun merasa hawa di sekitarnya menjadi tidak enak. Dingin dan mencekam.

Selesai. Sempurna. Luhan bergeser sedikit guna mengambil sebuket mawar biru. Dipetiknya dengan cepat helai demi helai mahkotanya. Luhan memerhatikan sekeliling ruangan. Ia merasa seperti diawasi di ruangan bercahaya redup ini. Luhan menggeleng sambil terus memetik sang mahkota.

Saat sudah selesai, ia dengan tangan sedikit gemetar menaburkan mahkota mawar biru tersebut di atas sang lukisan.

"Mel ventte aviour des qmuartte goxac solmardinne hnye jumbarg xylvafo prttues—"

Luhan merapal mantra tersebut sembari terus menaburkan. Setelah selesai, ia mencelupkan tangannya pada kotak penampung lalu mencipratinya di atas hamparan mahkota.

Selesai.

Luhan menelan ludahnya gugup. Ini saatnya aku masuk, bukan?

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Luhan merasakan embusan angin yang kuat. Dari sang lukisan. Meski begitu, mahkota mawar tersebut tidak beterbangan. Luhan sedikit bergidik. Lantas ia menutup kotak penampung tersebut lalu mendekapnya erat kemudian ia memejamkan matanya.

Luhan merasa dirinya terbawa oleh arus angin yang maha dahsyat. Ini terjadi sangat cepat. Hingga ia tiba di sebuah hamparan merah.

.

.

.

Luhan terperenyak. Ia masih memejamkan matanya erat.

"L-Luhan!"

Seketika mata Luhan terbuka mendengar suara tersebut. Ia melihat sekelilingnya. Hamparan merah pekat dengan bau anyir besi yang sangat kuat. Luhan mulai panik. Di mana ia?

"L-Luhan!"

Luhan menggigit bibir bawahnya dan bangkit seraya masih mendekap erat kotak penampung.

"S-Sehun? Kau di mana?!"

Luhan gelisah.

"Teruslah berjalan ke arah utara, Luhan! Argh!"

Luhan dengan cepat melangkahkan kakinya menuju utara. Ia semakin gelisah ketika ia tidak mendapati Sehun. Terus menerus seperti itu.

Namun tak lama kemudian perjalanannya membuahkan hasil. Ia melihatnya. Pria itu tengah meringkuk. Jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya. Ia pun menghampiri Sehun dengan cepat.

"Astaga, Sehun!"

Pria tersebut tiba-tiba telentang dan kejang-kejang. Luhan menaruh kotak penampungnya dan menangis. Ia menangkup pipi Sehun dengan tangan gemetar.

"B-berhenti menangis! Cepat berikan padaku!"

Luhan segera mengambil kotak penampungnya lalu membukanya. Ia melihat tubuh Sehun yang kini dibercaki merah. Wajahnya sangat merah dengan mata yang terbelalak seperti menahan sakit.

Luhan dengan cepat dan gemetar membuka seluruh pakaian Sehun. Ia terkejut ketika mendapati tubuh Sehun yang semakin dibercaki merah dan perlahan mulai berlubang seperti melepuh dan terdapat percikan api pada lubangnya.

Setelah selesai membuat Sehun telanjang total, Luhan buru-buru membuka mulut Sehun dan langsung menuangkan cairan merah tersebut ke dalamnya dengan hati-hati. Sehun menggelepar seperti sangat tersiksa. Namun ia terus menuangkannya hingga tersisa seperempat.

Sehun berteriak nyalang setelahnya. Darah membanjiri area mulutnya. Urat-urat jelas menonjol di sekujur tubuhnya.

Mata Luhan terbelalak kala melihat lubang besar di dada kiri Sehun. Sehun menatapnya tajam dengan raut sarat akan kesakitan.

"Cepat lakukan!"

Luhan pun mengangguk lalu dituangnya darah tersebut hingga habis. Darah memenuhi lubangnya. Kini Luhan tak berani mendeskripsikan betapa kacaunya tubuh Sehun. Sekujur tubuhnya kini merah total dengan beberapa lubang lepuh di tubuhnya. Sehun menatap Luhan lemah. Luhan menyadari bahwa Sehun tak lagi memiliki hazel itu. Matanya merah total tanpa bola mata. Ia sudah lebih tenang daripada sebelumnya.

"Luhan..."

Luhan sangat ingin menggenggam tangan Sehun, tapi ia tak bisa. Air mata menetes satu, dua dan berkelanjutan.

"Aku tidak tahu di mana aku akan bereinkarnasi. Tapi aku memprediksi bahwa aku akan berada di—"

Belum sempat Sehun menyelesaikan kata kunci pentingnya, ia sudah terlebih dahulu mengejang. Tubuhnya semakin merah. Ia menjerit pilu. Luhan menangis menyaksikan Sehunnya tersiksa. Tak lama setelah itu, Luhan pun merasa embusan angin yang sangat kuat dari arah belakangnya. Ia menatap Sehun cemas. Sehun memberinya isyarat agar segera pergi karena pusaran angin telah menjemput. Merah di Hviturberjatuhan hingga menjadi serpihan karena embusan kuat angin.

Luhan dilema. Persetan dengan angin yang seolah mendekapnya kuat agar menjauhi Sehun. Dengan sekuat tenaga ia merangkak ke arah Sehun kemudian memeluk pria itu erat. Badan Sehun sangat panas dan Luhan tidak peduli lagi kalau semisal dirinya juga ikut melepuh. Ia menangis terisak.

"Sehun. Sayang, katakan di mana aku harus menjemputmu? Tolong beri aku kepastian, Sehun."

Sehun mengerang karena dekapan Luhan justru malah semakin membuatnya kesakitan. Ritual ini seharusnya suci dan steril dari hal apapun. Sehun mendorong tubuh Luhan hingga ia terpental cukup jauh. Angin masih setia bersahut-sahutan.

"C-cepat pergi sekarang, Luhan!"

Luhan menggeleng cepat kemudian terisak. Saat ingin menghampiri Sehun lagi, dirinya sudah tertarik hingga terjeblos dalam pusaran angin. Dan ia bersumpah melihat Sehun meneteskan air mata saat itu. Dan betapa sialnya takdir karena kalimat Sehun tadi adalah ucapan terakhirnya. Luhan merasa sangat tolol karena tidak dapat mengetahui kata kunci yang seharusnya ia dengar dari Sehun.

Akan ke mana dirimu, Sehun?

.

.

.

Silau.

Aku membuka mataku perlahan dan indraku dipenuhi oranye redup. Aku mencoba duduk. Sial. Mengapa badanku pegal-pegal seperti ini?

Aku menatap sekeliling ruangan.

Oh.

Aku baru ingat. Ruangan yang sama saat aku berupaya menyelamatkan Sehun.

Sehun...

Aku merasa kepalaku berat. Kusandarkan diriku pada dinding. Mataku menangkap lukisan Sehun yang masih pada tempatnya namun kini tak ada lagi darah dan mahkota mawar biru yang melekat. Aku melirik jam tanganku. Pukul tiga dini hari. Sepertinya aku pingsan cukup lama. Aku melirik kotak penampung kaca yang kini hanya dibercaki tetesan darah.

Aku merasa kepalaku semakin berat. Aku tentu masih mengingat kejadian gila beberapa jam yang lalu. Aku bergidik. Apa aku sudah berhasil menyelamatkan Sehun?

Tentu.

Aku terkekeh. Bangga. Aku memegangi kepalaku yang entah kenapa semakin terasa berat.

Tunggu.

Kalau aku berhasil mengabulkan permohonan Sehun, itu berarti aku sudah mengabulkan permintaannya, bukan?

Lantas, mengapa aku tidak bisa mengingat siapa orangnya?

Aku berpikir keras. Kenapa aku bisa tidak tahu siapa tumbal yang kukorbankan untuk Sehun?

Tumbalnya...siapa?

.

.

11.00 PM

Luhan terbangun malam itu. Sejak kejadian kemarin, perasaannya diliputi gelisah. Ia bersandar pada sandaran ranjangnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Mencoba mengingat siapa tumbal yang telah ia persembahkan untuk bahan reinkarnasi Sehun? Mengapa ingatannya seolah mengabur?

Luhan mengesampingkan pemikiran itu dahulu. Ia berpikir keras. Kini, di mana Sehun? Apakah ia sudah bereinkarnasi total? Ke mana pula ia harus menjemput Sehun? Kenyataannya pria itu tak mengatakan prediksinya saat di Hvitur. Tidak sempat, lebih tepatnya.

Fuck.

Luhan kembali tertidur. Berharap kala ia bangun, Sehun sudah sukses bereinkarnasi dan berbaring di sampingnya. Luhan terkekeh dalam hati karena sadar itu merupakan hal yang mustahil.

.

.

06.00 AM

"Luhan? Tolong buka pintunya, Lu. Ini Bibi."

Aku mengerjapkan mataku kala silau dan suara Bibi menyambutku. Aku menguap dan mengucek mata. Kurenggangkan otot-ototku dengan gerakan-gerakan kecil.

Aku bangkit dan berjalan ke arah pintu.

"Ini hari minggu, Bi."

Aku terkejut ketika tiba-tiba Bibi Ern memelukku dengan erat. Tak lama kemudian kaosku basah. Ia menangis di bahuku. Aku membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya lembut. Sedikit mengernyit, aku bertanya, "Ada apa, Bi? Mengapa kau menangis?"

Bibi melepaskan dekapannya lalu memegang kedua bahuku. Aku semakin mengernyit. Matanya masih berlinang air mata.

"Cepat bergegas, Lu. Tidakkah kau ingat bahwa hari ini adalah hari pemakaman Kai?"

Aku mengernyit semakin dalam. Apa katanya? Kai?

Kai?

Tunggu.

"K-Kai? K-Kai? Maksudmu Kim Jongin? Kai? Ada apa dengannya? Mengapa kau bilang—"

Tiba-tiba aku merasa kepalaku berat. Aku tidak paham dengan situasi ini. Sama sekali.

"Kai kau bilang? Pemakaman? Maaf sebelumnya, Bi. Apa kau gila? Kai kekasihku, bukan? Kai, kan? Kai? Jangan berlelucon garing di hari minggu yang cerah ini, Bi. Kumohon."

Bibi Ern justru menatapku iba. Apa-apaan? Kemudian ia menangkup pipiku. "Kai sudah pergi kemarin, Luhan. Aku tahu kau tertekan karena sedari kemarin kau terus mengurung diri di kamar. Tapi ini kenyataannya, Luhan. Kau harus tegar."

Sialan.

Omong kosong macam apa yang tengah Bibi bicarakan? Mengurung diri, katanya? Oh iya. Aku mengurung diri, memang. Kemarin aku merenung memikirkan bagaimana cara agar aku menjemput Sehun. Aku tidak mengecek ponsel sama sekali kemarin. Oh Tuhan, aku rasa kepalaku akan segera meledak karena sama sekali tidak mengerti dengan situasi ini.

Kulepaskan tangkupan Bibi Ern dari pipiku dan dengan cepat berjalan menuju nakas. Kuraih ponselku dan mengaktifkannya. Entah mengapa, jantungku berdegup kencang. Bibi Ern semakin menatapku iba sesekali terisak di ambang pintu.

Aku segera membuka line. Grup chat aku dan teman-teman bernotif hingga 500 unread. Segera kubuka grup yang bertitel 'Keluarga Terbaik'.

[04.40 am] Baekhyun: Jangan lupa membawa bunga untuk turut ditebarkan setelah proses penebaran abu Kai nanti, teman-teman.

[04.40 am] Chanyeol: Tentu saja. Kalian tahu, mataku masih sangat bengkak karena kebanyakan menangis.

[04.41 am] Lay: Jangan kau pikir kau sendiri, Chanyeol. Kita pun sama. Aku masih tidak bisa membayangkan betapa kacaunya Luhan karena sampai sekarang ia tidak membaca pesan di grup ini.

[04.41 am] Junmyeon: Jujur saja aku sangat khawatir dengan Luhan. Ia mengurung diri di kamar seharian. Aku juga masih tak percaya kalau hal seperti ini terjadi pada Kai. Sekeji ini. Ya Tuhan, aku menangis lagi.

Aku mengernyit membaca pesan-pesan yang di bawah. Segera kugulirkan ke atas.

Yesterday

[05.20 am] Chanyeol: Ya Tuhan...aku menangis saat ini. Apa itu sungguhan Kai? Kim Kai kami? Bolehkah aku tidak memercayai fakta keji ini?

[05.20 am] Junmyeon: Semua orang menangis, Chanyeol. Keluarga Kai sangat terpukul. Aku sangat khawatir dengan Luhan. Apakah Ibu Kai telah memberitahunya?

[05.21 am] Baekhyun: Jujur aku hampir pingsan mendapat berita semacam ini. Sial. Aku menangis dan murka di saat bersamaan. Siapa pula pelaku yang dengan tololnya membunuh Kai secara keji? Ini benar-benar tidak masuk akal. Untung saja tim kepolisian dapat menemukan mayat Kai yang setengah terbakar itu terkubur dalam tanah dekat tempat kejadian perkara. Aku benar-benar frustrasi.

[05.21 am] Kyungsoo: Aku merasa kosong seketika. Kenyataan ini benar-benar tidak bisa dipercaya.

[05.21 am] Lay: Benar-benar biadab sialan. Bahkan Kai tidak memiliki darah setetes pun saat ditemukan! Tubuh dan organ dalamnya hampir lenyap terbakar api. Ia sudah sangat cacat untuk bisa dimasukkan ke dalam peti.

[05.22 am] Junmyeon: Teman-teman, bagaimana kalau kita ke rumah Luhan jam sepuluh nanti? Aku khawatir padanya, sungguh. Ia pasti beratus kali lipat lebih terpukul dibanding kita.

[05.22 am] Baekhyun: Aku setuju. Bibi Ern baru menghubungiku katanya Luhan sama sekali tidak mau membuka pintu kamarnya ketika bibi Ern memberitahu bahwa Kai telah tiada. Bibi Ern mendengarnya menangis terisak. Oh Tuhan, kurasa aku hampir gila karena kenyataan laknat ini.

.

.

.

Luhan bergeming. Ia menjatuhkan ponselnya begitu saja. Bibi Ern menghampirinya dan merangkul bahunya. Ia mulai gemetar. Luhan terperenyak hingga mau tak mau bibi Ern ikut terduduk.

Luhan merasa kepalanya ingin meledak ketika mengetahui fakta tersebut di grup chatnya. Ia berpikir keras, tidak menangis. Bibi Ern terus menepuk-nepuk punggungnya, menenangkan. Luhan mengingat kembali kemarin.

Seingatnya, bibi Ern memang mengetuk pintunya kala ia sedang merenung, lalu bibi Ern berkata Kai meninggal dan teman-temannya ingin mengunjungi rumah nanti. Luhan saat itu tidak mengerti pembicaraan bibi Ern lantas tak mengindahkannya. Ia terpikir, siapa Kai?

Namun masa bodoh, ia kembali merenung memikirkan bagaimana caranya menjemput Sehun sedangkan dirinya sama sekali tak tahu di mana tempat yang berpotensi pasti menerima keberadaannya. Luhan memikirkan hal tersebut hingga menangis, semakin keras lalu terisak. Kemudian ia tidur dan terbangun saat teman-temannya mengetuk pintunya dan terus memanggil namanya dengan nada sarat akan kesedihan. Luhan mengingat itu semua samar-samar. Ia sama sekali tidak mengecek ponselnya karena ia memang sengaja tak mengaktifkannya—ingin bergelut dengan pikirannya tentang Sehun.

Namun kini, ingatan samar tersebut semakin jelas. Ia seperti lupa ingatan kemarin. Ia ingat Kai. Hari ini. Dan saat ini, dirinya serapuh serpihan kertas. Menyadari kenyataan tak terbantahkan yang dilupakannya kemarin. Soal Kai. Dan Luhan sama sekali tidak menyangka Kai dapat mati secara keji.

Siapa pelaku biadab itu, Kai?

.

.

.

Orang tua Kai menangis kala itu. Ibu Kai memeluk sang suami erat sembari terisak kala sang pendeta menebarkan abu Kai di danau sembari membacakan doa-doa. Danau ini dirancang khusus untuk mengenang para mayat dalam wujud abu. Biasanya, mayat berwujud abu ini memang tewas secara keji, merupakan korban kriminalitas dan lain sebagainya sehingga sudah terlalu cacat untuk dipetikan. Alhasil, abu mereka adalah satu-satunya hal baik daripada harus memetikan raga cacat saat hendak menghadap Tuhan. Danau ini dibuat atas permintaan banyak masyarakat yang tak ingin sanak keluarganya terlihat mengenaskan. Danau ini diberi nama Spre Cer—latin yang berarti Menuju Surga. Danau ini dipercaya dapat mengantarkan taburan abu para mayat tersebut ke surga dalam keadaan utuh dan penuh sukacita.

"Tuhan memberkatimu. Calon penghuni surga, saudara Kim Jongin."

Serentak para jemaat mengucapkan amin. Sang pendeta telah selesai menaburkan abu Kai lalu ia memberikan guci berukuran sedang tersebut pada ayah Kai.

"Para sanak keluarga saudara Kim Jong In, dipersilakan untuk menaburkan bunga." Umum sang pendeta.

Orang tua Kai pun langsung bergegas lalu mulai menaburkan bunga krisan yang sebelumnya sudah dipetiki mahkotanya.

Baekhyun dan Chanyeol saling melempar pandang. Keduanya tengah merangkul Luhan yang hanya menatap lurus ke depan. Baekhyun mengisyaratkan Chanyeol agar pergi. Chanyeol mengangguk. Sepeninggal Chanyeol, Baekhyun pun memeluk Luhan erat sembari menepuk-nepuk punggungnya. Luhan tetap bergeming. Tak menolak juga tak membalas pelukan Baekhyun. Baekhyun berusaha mati-matian agar tidak menangis. Dikecupnya berkali-kali pucuk kepala sahabat kecilnya itu sembari bergumam lembut; semuanya akan baik-baik saja.

Mata Luhan menangkap sosok Kyungsoo yang kurang lebih berkondisi sama sepertinya. Ia terlihat amat rapuh. Luhan pun merasa ia harus segera berbagi kehangatan dengan Kyungsoo.

Baekhyun mengernyit saat Luhan melepaskan dekapannya. Luhan memulas senyum tipis kemudian mencium pipi Baekhyun. Luhan berjalan menghampiri Kyungsoo di paling sudut. Baekhyun tersenyum melihatnya. Ia merasa lega karena hubungan Luhan dan Kyungsoo baik-baik saja sehingga Kai tidak perlu merasa tidak tenang di sana.

.

"Tetaplah bersamaku selamanya, Kyungsoo. Jangan pernah meninggalkanku. Kami."

Kyungsoo sedikit terperanjat manakala Luhan tiba-tiba mendekapnya. Ia awalnya tidak menangis, namun saat di pelukan Luhan, ia bergetar. Air mata pun lantas membanjiri pipinya. Luhan mengusap lembut punggung Kyungsoo.

Chanyeol yang melihatnya pun menyenggol pelan lengan Baekhyun. "Seingatku, mereka tidak pernah baikan. Aku sedikit terkejut."

Baekhyun bersedekap. Ia mengangguk pelan lalu menghela napas lelah. "Sama. Ya, setidaknya mereka berhubungan baik sepeninggal Kai. Kita harus lega."

Luhan dan Kyungsoo.

Berpelukan seperti itu, tanpa ingat sedikitpun kejadian beberapa waktu lalu. Konflik tersebut seolah lenyap terbawa arus embusan angin.

.

.

.

Dua Hari Setelahnya...

Oke. Aku sejujurnya tidak terlalu mengerti dengan fakta bahwa aku sudah tak berdukacita lagi sepeninggal Kai. Teman-teman juga melirikku dengan tatapan 'gila Luhan dan Kyungsoo akur sekali' saat aku bersama Kyungsoo. Aku tahu walaupun mereka hanya singkat memandangku seperti itu.

Memangnya apa yang terjadi padaku dan Kyungsoo, sih?

Seakan-akan aku mempunyai masalah dengannya sebelumnya. Padahal aku merasa tidak pernah bermasalah dengan teman-temanku. Kalaupun ada, itu juga masalah sepele bersama ChanBaek; aku merajukkarena mereka terus menggodaku dan Kai.

Kai...

Jujur saja, aku prihatin dengan kematian tidak wajarnya. Kasihan sekali anak itu. Aku mengembuskan napas berat. Berjalan mondar-mandir di sebelah ranjang. Pikiranku mulai terbebani lagi.

Di mana Sehun? Apa ia sudah nyata?

Aku menggigit bibir bawahku. Melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Tolonglah, aku tahu tanda-tandanya. Namun kenapa tak kunjung tiba?

.

.

.

Keesokan Harinya...

Silau cahaya matahari pagi memaksaku untuk membuka mata. Aku mengucek mataku lalu menguap. Aku duduk dan merenggangkan sedikit ototku. Kulirik jam yang menunjukkan pukul—

Apa?

Jarum detiknya tidak bergerak? Oh. Sebentar. Mungkin jam dindingku memang kehabisan baterai. Sekarang pukul delapan kurang lima belas menit dengan jarum detik tergeming di angka enam.

Lantas aku bangkit dari ranjang dan berjalan keluar kamar.

.

.

Ah.

Luhan sedikit bergidik manakala jam dinding di ruang makan serta ruang tamunya berhenti dengan waktu yang sama. Ia berjalan ke dapur.

Oh Tuhan.

Ia mendapati bibi Ern yang sedang mengaduk nasi goreng. Paman Shu yang sedang meneguk segelas air putih. Mereka dalam mode jeda. Luhan menelan ludahnya sendiri. Jujur, ia gugup. Sebenarnya memang ini yang Luhan nantikan. Namun ia antara siap dan tidak siap harus dihadapi situasi seperti ini.

Ketika waktu berhenti.

Ketika semua orang dalam mode jeda.

Dan hanya dirinya serta Sehun yang dalam keadaan normal.

Ini saatnya. Untuk menyelamatkan pria itu.

.

Luhan sebenarnya tidak tahu harus memulai dari mana. Ini semua terlalu mengejutkannya. Ini benar-benar bukan sandiwara. Bahkan ia sempat melihat para tetangganya yang sedang beraktivitas; menyiram tanaman, berbincang dengan pedagang sayur dan lain sebagainya itu termode jeda pula. Ini nyata, man.

Jangan banyak membuang waktu meskipun waktu tengah berhenti. Bertindaklah sebijak dan seefektif mungkin. Jika waktu kembali berjalan, kita tidak akan mungkin bisa bertemu.

Perkataan Sehun waktu memberitahunya bahwa ia harus mencari tumbal dengan syarat tumbal tersebut harus atau pernah terhubung dengannya. Kalau Luhan mengorbankan orang terdekatnya untuk dijadikan tumbal, maka sudah pasti cocok dengan Sehun. Kalau hubungannya tidak terlalu kuat, maka bisa saja tidak cocok dan Sehun malah akan bereinkarnasi menjadi makhluk mengerikan. Dan perkataan tentang waktu itu bukan prediksinya. Tercatat dalam buku Tuan Anstone. Sial, keren sekali Tuan Anstone.

Luhan berpikir keras. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

.

Luhan sudah siap dengan ransel berukuran sedang. Lantas ia langsung melesat menuju gedung tua kala ia melakukan ritual dengan lukisan Sehun.

Luhan tidak bisa berhenti bergidik. Dihadapi kenyataan bahwa dirinyalah yang tidak termode jeda saat semua orang bergeming.

Sesampainya di gedung, Luhan langsung bergegas masuk menuju lantai dua. Gedungnya semakin suram. Luhan berjalan menuju dinding di balik lemari usang. Didorongnya pelan lemari tersebut dan ia mengambil lukisan Sehun dari sana. Segera ia melangkah ke tengah ruangan dan mendekap erat lukisan Sehun. Luhan merogoh saku celananya dan mengambil kertas kecil yang sudah ia persiapkan sebelum waktu berhenti. Waktu berhenti, otomatis koneksi internet juga berhenti.

Luhan mengatur napasnya agar relaks. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah memikirkan ini. Ke mana ia harus pergi saat Sehun tidak bisa memberikannya petunjuk. Ia yakin pilihannya benar dan tentu Luhan sudah mempersiapkannya secara matang.

Berteleportasi menuju Nepal.

Ya, Nepal. Karena negara itu merupakan negara yang terdekat dengan Korea. Luhan mulai merapal rentetan mantra untuk berteleport tersebut dalam hati. Tak sampai sepuluh detik setelahnya, ia kembali merasakan sensasi saat tertarik ke dalam lukisan Sehun kemarin. Namun kali ini, lebih cepat dan sangat kuat. Luhan memprediksi perjalanannya tidak sampai lima detik. Dan saat membuka mata, ia mendapati pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.

.

.

Luhan menelan ludahnya gugup kala menyadari ia berada di antara orang yang berlalu-lalang terjeda semua. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia sudah di Kathmandu. Oke, ini saatnya untuk ia kembali berteleportasi ke perpustakaan kaiser.

Luhan merapal mantra teleport yang sudah ia hafal lalu menyebutkan tempat tujuan.

Kali ini terjadi dengan ringan. Teleportasi normal. Tidak sampai dua detik ia sudah berada di depan perpustakaan tertua di Nepal ini. Ia melangkah menuju pintu utama. Luhan memutar kenop pintu utama. Ia perlahan masuk dan ia rasa sudah biasa menyaksikan pemandangan orang-orang yang bermode jeda. Luhan berjalan menyusuri lorong deretan buku perpustakaan. Ia sudah meletakkan ransel dan lukisan Sehun di salah datu meja.

Ia terus berjalan sembari memerhatikan dengan teliti judul deretan rak buku tersebut. Ia menemukan titel 'Sejarah Kerajaan Kuno'. Dengan cepat Luhan menghampiri bagian rak tersebut lalu mulai melihat satu persatu buku-buku tebal tersebut dengan teliti.

"Kerajaan Light, Kerajaan Light." Luhan terus bergumam. Matanya amat jeli.

Ia menghela napas gusar kala tak kunjung menemukannya. Lantas ia singgah menuju lorong berikutnya. Terus seperti itu sambil sesekali melirik jam tangannya yang masih terbeku.

Nihil. Ia juga tidak menemukannya. Semua lorong rak sudah ia periksa. Ia menguatkan hati dan berjalan menuju lantai dua. Luhan kembali menyusuri lorong rak dengan hati-hati. Sampai saat tersisa satu lorong rak lagi ia berteriak frustrasi.

"Di mana bukunya?! Sialan!"

Saat hendak menyusuri kembali lorong terakhir, matanya menangkap buku yang paling tebal di deretan rak berjudul 'Pengalaman Para Ilmuwan Dunia Sebelum Berhasil'. Itu menarik atensinya. Luhan segera melangkahkan kakinya menuju rak ketiga dari tempatnya berdiri.

Luhan mengulurkan tangannya dan mengambil buku tebal nan usang tersebut. Tak peduli dengan fakta bahwa tidak adanya cover serta judul pada buku tersebut. Sampul depannya berwarna hitam usang.

Luhan gemetar kala membaca kata pengantarnya.

'...this is a complete history of the Light's Kingdom...'

Luhan bersyukur karena buku ini tertulis dalam bahasa Inggris. Segera Luhan berjalan ke arah salah satu meja. Ia duduk lalu mulai mencari sub-sub judul pada daftar isi.

4.1 Earth Light's Dead...206

Segera Luhan buka halaman tersebut. Luhan membaca saksama rentetan kalimat yang tertera.

...Earth Light dilahirkan pada tahun 1877 dan wafat pada tahun 1894. Saksi mata menyebutkan bahwa ia melihat anak pertama Kerajaan Light menyeret paksa Earth Light bersama satu orang rekannya

"Pasti cenayang itu."

lokasi pembunuhan tersebut terjadi di gedung tua Berlin yang bernama Serkhazatte. Dekat dengan kastel Neuschwanstein. Terletak di sudut paling kanan persimpangan jalan reaster

"Oke."

Luhan menutup buku tebal tersebut. Ia sudah menemukan kata kuncinya. Tidak salah lagi.

"Kemungkinan besar Sehun berada di sana."

Ia pun bergegas menuju lantai bawah sembari mendekap buku sejarah Kerajaan Light.

.

.

.

Luhan merasa bersyukur. Tadi ia iseng mencoba menjentikkan jarinya untuk berteleportasi. Nyatanya ia saat ini sudah di Berlin. Karena Luhan malas sekaligus lelah membaca mantra teleport. Jantungnya berdegup kencang mengetahui fakta bahwa ia akan segera bertemu Sehun. Keadaan kota Berlin tak jauh berbeda dengan Kathmandu. Pemandangan yang sama; semua orang bermode jeda.

Luhan pun menjentikkan jarinya sambil mengucapkan dalam hati tempat tujuannya.

Wush

Luhan mengernyit saat dirinya malah berada di depan sebuah kuno. Tunggu. Apa ini kastel Neuschwanstein? Luhan mengedarkan pandangannya dan matanya menangkap plang jalan reaster. Benar. Ia juga tengah berada di persimpangan jalan. Luhan melangkah menuju sudut kanan persimpangan. Ia mengernyit. Benar kok.

"Mengapa gedung Serkhazatte tidak ada?"

Di hadapannya hanya ada sebuah restoran. Tiba-tiba perasaan Luhan tak enak. Apa mungkin gedung Serkhazatte sudah lama dimusnahkan? Lalu bagaimana dengan Sehun? Di mana ia?

Luhan menggigit bibir bawahnya keras. Ia sangat yakin Sehun berada di gedung itu. Luhan mengikuti insting. Ia berjalan ke arah restoran makanan laut tersebut sambil masih mendekap lukisan Sehun serta buku tebalnya.

Restoran ini sepi. Ya, karena waktu berhenti saat masih pagi. Luhan berjalan dan hanya mendapati beberapa pelayan dalam mode jeda sedang membereskan meja. Luhan meletakkan perlengkapannya. Ia sungguh bingung.

Bagaimana caraku agar bisa menemukanmu, Sehun? Kumohon...beri aku petunjuk. Jangan sampai semua ini sia-sia.

"Ahh.."

Luhan langsung waspada saat mendengar suara seperti—rintihan? Jantung Luhan berdegup kencang. Lantas ia memberanikan diri untuk berteriak.

"S-Sehun? Kaukah itu? Sehun?! Tolong jawab aku!"

Luhan kacau karena setelah ia teriak suara tersebut tak lagi terdengar. Luhan mengacak rambutnya frustrasi dan tanpa banyak basa-basi ia segera menggeledah setiap sudut restoran ini. Ia sangat yakin bahwa itu adalah rintihan Sehun.

.

Kalau waktu berjalan, ia kira ia sudah mengitari setiap sudut restoran ini kurang lebih satu jam lamanya. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Khawatir menderanya. Ia tengah berada di dapur. Tak sengaja matanya menangkap sesuatu di lantai dapur. Seperti pintu kayu berukuran sedang di sudut dapur.

"Apa mungkin...?"

Luhan segera berjalan menghampiri pintu tersebut. Luhan yakin bahwa ini adalah akses untuk menuju ruang bawah tanah. Tak lama kemudian ia kembali mendengar suara rintihan.

Tidak salah lagi.

Sehunnya pasti di dalam.

Luhan merutuk saat menyadari bahwa pintu tersebut tergembok. Ia menggeledah isi dapur mencoba menemukan alat yang mampu membobol pintu tersebut saat dirinya melihat terdapat banyak kunci yang tergantung di paku di atas rak piring. Luhan mengambilnya dengan cepat.

Ia berjongkok dan mulai mencoba satu persatu puluhan kunci tersebut sembari mengumpat karena tidak terbuka juga. Dan saat ia mencoba kunci ketiga puluh empat, gembok tersebut berhasil terbuka. Luhan menjerit senang. Lantas ia posisikan dirinya untuk masuk ke dalamnya.

.

Luhan membekap mulutnya sendiri saat dirinya melihat sesosok yang amat dikenalinya meski dalam ruangan temaram ini. Ia berada di sudut ruangan dengan keadaan telentang. Luhan berlari menghampirinya.

"S-Sehun! Ini aku, Sehun. Ini Luhan. Buka matamu, sayang."

Luhan mendekap erat tubuh Sehun yang hanya terbalut kemeja putih tanpa celana. Terdapat mawar biru di telinga kanannya. Ia menangis terisak. Haru menyelimuti dirinya. Luhan menangkup wajah pucat Sehun dengan tangan gemetar. Tetesan air matanya membasahi wajah pria tampan tersebut.

"Sehun, bangun. Kau sudah berhasil bereinkarnasi, sayang."

Luhan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Sehun. Menangis antara haru dan takut. Sehun masih betah memejamkan matanya.

Terus seperti itu hingga Luhan merasakan pergerakan kecil dari tubuh Sehun. Segera ia jauhkan wajahnya dan menangkup pipi Sehun.

"Sehun? Apa kau sudah sadar?"

Tak lama setelah itu, mata Sehun terbuka perlahan. Luhan kembali menangis kala maniknya kembali bersinggung tatap dengan si hazel. Ia mendekap Sehun yang dalam pangkuannya dengan erat. Luhan merasa lega ketika Sehun membalas dekapannya.

"Hei.."

Luhan segera melepas dekapannya dan tangannya membelai lembut surai pirang Sehun. Sehun mengulurkan tangan kanannya guna membelai lembut pipi Luhan. Sehun memulas senyum tipis dengan mata sayunya.

"Terima kasih karena sudah menjemputku."

Luhan mengangguk dan tersenyum lega. Sehun menangkup pipi Luhan dan menghapus jejak-jejak air matanya. Luhan memejamkan mata menikmati. Tak lama kemudian tengkuknya ditarik dan bibirnya bersentuhan dengan bibir Sehun. Bibir Sehun sangat lembut. Perlahan Sehun menggerakkan bibirnya. Ia mencium Luhan dengan sangat lembut. Luhan seakan terbuai dengan ciuman penuh kasih mereka. Setelah itu Sehun melepas pagutan mereka. Ia berusaha duduk dibantu dengan Luhan.

"Sangat tidak aneh memang kalau aku akan terdampar di sini. Gedung Serkhazatte pasti sudah lama dihancurkan. Kutebak sejak zaman Nazi. Dan restoran ini pastinya bangunan yang ke sekian kali dibangun. Dasarnya bekas gedung tua, pastilah aku di sini."

Luhan mengangguk dan kembali mendekap erat tubuh Sehun seolah takut kehilangan. Sehun terkekeh dan membalasnya tak kalah erat. Ia sesekali menciumi pucuk kepala Luhan.

"Aku sangat bahagia, Sehun. Ya Tuhan, ini sungguhan dirimu. Kau sama denganku. Dapat memeluk wujud tiga dimensimu seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu cara mengekspresikan rasa bahagia dan haruku. Aku mencintaimu, Sehun. Ya Tuhan, aku bahagia."

Sehun melepas dekapannya dan itu membuat Luhan mengernyit. Tak lama setelah itu, Sehun kembali menyatukan bibir mereka. Menciumnya dengan perasaan lebih menggebu. Luhan mengalungkan tangannya pada leher Sehun. Luhan merona hebat saat ia menyadari bahwa ia tengah berciuman dengan Sehun yang nyata. Ciumannya terasa beribu kali lipat lebih nikmat daripada saat mereka di Hvitur. Mereka berciuman intens dan membelit lidah satu sama lain. Tubuh mereka juga sangat rapat. Luhan tambah merona ketika menyadari bahwa kejantanan Sehun yang tak terbungkus apapun itu menekan-nekan selangkangannya. Luhan mendorong dada Sehun saat dirasa ia sudah tak sanggup dan membutuhkan pasokan oksigen.

Sehun menangkup pipi Luhan dan menghujani bibir mungilnya dengan kecupan-kecupan ringan. Luhan hanya bergeming menerima perlakuan manis dari Sehun. Kemudian Sehun menjauhkan wajahnya dan tersenyum tampan.

Gila. Sehun beribu kali lipat lebih tampan daripada wujud dua dimensinya. Oh Tuhan.

Sehun menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. Ia menuntun tangan Luhan agar menyentuh penisnya yang—sejak kapan ia ereksi?

Luhan menelan ludahnya gugup. Tapi jujur saja, selain merindukan Sehun, ia juga merindukan Sehun kecilyang nyatanya besar itu. Ugh. Ayolah, siapa yang tidak mau lubangnya dibobol oleh penis besar proporsional nan seksi milik Sehun? Luhan saja sampai ketagihan.

"Aku janji kau akan merasakan penisku di lubangmu nanti. Sekarang, lakukan pijatan lembut saja. Aku tersiksa."

Luhan pun mengangguk gugup. Sehun menarik tengkuk Luhan lalu mulai membuat tanda di leher Luhan. Desahan berat Sehun terdengar sangat seksi di telinganya. Ia mendesah pelan sambil terus menyesapi leher Luhan. Luhan juga terus memijat penis Sehun sesekali mengocoknya. Pijatannya yang semakin lama semakin keras dan dibarengi dengan kocokan. Sehun berpindah ke bibir Luhan dan tanpa basa-basi langsung mengajaknya berperang lidah.

"Ahh—Luhan..."

Tangan Luhan pun dibanjiri mani Sehun. Luhan melepas pagutan panasnya dengan Sehun dan beralih menjilati mani Sehun hingga habis. Sehun tersenyum puas menatapnya. Mereka berciuman kembali sebentar lalu Luhan melepasnya.

"Hei, Sehun. Mengapa terdapat mawar biru di telingamu?" tanyanya. Sehun tersenyum lembut lalu menangguk. "Jelas. Karena saat kejadian itu, mawar biru menjadi saksi kematianku. Dan kini, ia juga menjadi saksi akan kelahiran kembali diriku. Mawar biru ini terbentuk dengan sendirinya dari helaian mahkota yang kau taburkan waktu itu." Ia mengacak gemas rambut Luhan. Luhan menganggukkan kepalanya paham. Ia pun menggenggam tangan Sehun erat.

"Sehun, ayo keluar dari sini. Waktu kita tidak banyak, ingat?"

Sehun tersenyum lalu mengecup kening Luhan. Ia mengangguk lalu Luhan merangkul Sehun berjalan menuju pintu keluar.

.

.

.

Sehun sudah berpakaian lengkap sekarang. Luhan yang memakaikannya. Luhan merapikan tatanan rambut Sehun. Sehun merengkuh pinggang Luhan dan matanya tak lepas menatap wajah pria manis itu. Luhan tersipu dibuatnya lantas ia memukul dada Sehun. Salah tingkah.

"Berhenti menatapku dengan tatapan mesum seperti itu." Rengeknya. Sehun tertawa dan semakin merapatkan tubuh mereka hingga Luhan merasa kejantanannya bersinggungan dengan kejantanan Sehun yang entah sejak kapan sudah ereksi.

Luhan menelan ludahnya gugup. Tak lama kemudian ia merasa bibirnya tersentuh oleh benda empuk nan lembap. Sehun menciumnya dengan lembut namun terkesan menuntut. Mata Sehun terbuka selama menciumnya dan hal tersebut membuatnya sangat malu. Luhan pun memejamkan matanya dan mulai membalas perlakuan manis Sehun. Mereka berpagutan dengan lembut seakan saling mengutarakan perasaan masing-masing melalui ciuman. Tak lama kemudian Sehun pun melepaskan pagutan mereka dan mempertemukan kening. Pucuk hidung mereka bersentuhan dengan napas yang bersahutan satu sama lain.

"Luhan..."

"Kenapa, Sehun?"

"Kau harus melakukan sesuatu untukku. Terakhir. Sebelum waktu kembali berjalan."

Luhan mengalungkan tangannya di leher Srhun kemudian dikecupnya bibir tipis tersebut dua kali.

"Apa itu?"

.

.

.

"Bagaimana kau bisa tahu tempat ini, Sehun?"

Sehun masih betah memeluknya. Luhan terkekeh geli kemudian menghujani tengkuk Sehun dengan kecupan-kecupan ringan. Menenangkan.

"Tidak apa. Buka matamu, sayang. Kita sudah sampai." Ucapnya lembut. Perlahan Sehun melepaskan pelukannya lalu membuka matanya dan mendapati Luhan yang tengah menatapnya geli.

"Sungguhan sudah sampai?"

Luhan menangguk dan mencubit gemas hidung Sehun. Sehun sedikit merajuk dan balas mencubit pipi Luhan. Kemudian mereka tertawa bersama.

"Aku kan tidak pernah berteleportasi. Tapi yang barusan itu keren juga. Meskipun terjadi dengan sangat cepat."

Luhan terkekeh, "Memang keren." Kemudian Luhan menggenggam tangan Sehun erat.

"Ini benar tempatnya, Sehun?"

Sehun mengangguk ragu, "Kuharap benar." Lalu ia tersenyum lembut pada Luhan.

"Ayo masuk."

.

Sehun mengatakan bahwa saat hari-hari aku tidak mengunjunginya, ia mendapat mimpi dalam tidurnya. Hal langka dalam hidupnya mengingat ia adalah roh. Di mimpinya, Sehun melihat gubuk tua yang terdapat di tengah Hutan Hitam daerah Jerman Barat. Dan di dalam gubuk tersebut terdapat banyak benda keramat; tongkat sihir, jimat, bola ramalan dan lain sebagainya. Dalam mimpinya, Sehun melihat cenayang yang kala itu bersama Heave Light untuk membunuhnya. Meski samar, namun ia yakin dan berspekulasi bahwa di sana pula terdapat buku tentang sihir kyschogar secara lengkap.

Tuan Anstone mengemukakan dalam bukunya bahwa ia juga didatangkan mimpi layaknya Sehun dan berjuang untuk mencari catatan lengkap tentang sihir tersebut guna melepas total kutukannya.

.

"Ini suram sekali, Sehun."

Sehun tambah menggenggam erat tangan Luhan. "Aku tidak tahu kalau dalamnya sesuram ini, Lu."

"Ugh. Untung waktu berhenti saat pagi. Jadinya terang. Aku tidak bisa membayangkan jika malam hari." Bisik Luhan. Sehun terkekeh pelan.

"Di mana, ya buku—"

"Sehun. Aku rasa aku mau mati saja. Apa yang aku injak. Tolong lihat. Aku sedang berusaha agar tidak teriak, Sehun."

Sehun pun melihat ke bawah. Ia berdecak pelan kemudian membungkuk guna mengambil sesuatu yang telah diinjak Luhan.

"Hanya tongkat dengan kepala tengko—"

"HUAAAA! SIALAN! JAUHKAN DARIKU!"

Sehun sedikit membatin karena diteriaki seperti itu. Lantas ia lempar tongkat berkepala tengkorak hitam tersebut ke sudut ruangan. Diliriknya Luhan yang sedang memejamkan mata dan terlihat gemetaran. Sehun pun berdiri dan mengacak gemas rambutnya.

"Tidak apa-apa, sayangku. Tidak perlu takut." Ucapnya lembut. Sehun mengecup kedua mata Luhan bergantian. Luhan pun membuka mata setelahnya. Ia pun segera memeluk Sehun erat. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang si tampan.

"Ugh. Yang tadi itu mengejutkanku, Sehun. Aku tak suka." Rengeknya. Sehun membelai mesra rambut Luhan sembari sesekali mengecupinya. "Sekarang sudah aman, Luhan sayang."

Luhan merona dibuatnya.

.

.

Dari luar memang terlihat layaknya gubuk kecil lapuk nan tua. Namun dalamnya cukup luas dan memiliki lorong-lorong sempit. Sehun dan Luhan menyambangi lorong pertama dan menemukan sebuah ruangan. Mereka masuk dan mendapati pemandangan khas ruangan cenayang. Terdapat bola ramalan, benda-benda tajam seperti pedang, tongkat sihir dan makanan aneh lapuk untuk mereka. Luhan berjalan sembunyi-sembunyi di balik punggung Sehun dengan tangan yang masih tertaut sempurna. Di sudut ruangan terdapat rak buku. Sehun tersenyum penuh arti dan perlahan berjalan menghampiri deretan buku tersebut.

"Kau ikut bantu cari ya, Luhan." Ucap Sehun lembut. Luhan pun menghela napas berat lalu menyejajarkan diri dengan Sehun. Tanpa diduga ia mengecup kilat bibir Sehun.

"Tentu."

Sehun tersenyum dibuatnya.

.

"Aku sama sekali tidak mengerti bahasa Jerman, Sehun. Tolong jelaskan padaku apa isinya? Apa yang harus kulakukan?" Tanya Luhan tak sabaran. Sehun menghela napas setiap ia membaca barang satu dua kalimat. Luhan terus memerhatikan.

Mereka sedang duduk bersila di ruangan utama dengan buku lapuk di pangkuan Sehun. Tak lama kemudian Sehun menatap Luhan dalam.

"Luhan."

"Iya. Cepat katakan."

Sehun menghela napas berat. "Di buku ini tercatat, bahwa untuk melepas total sihir kyschogar, si penyelamat harus menciptakan hujan lalu membakar objek benda yang bersangkutan. Melalui fokus pikiran. Seperti saat kau berelaksasi. Jika kau berhasil benar-benar fokus, mantra untuk menciptakan hujan tersebut akan menggaung dengan sendirinya di alam pikirmu. Otomatis. Setelah itu, baru kau ciptakan api untuk membakar total lukisanku. Sama, melalui pikiran."

Luhan menelan ludah gugup mendengar penuturan Sehun. Ia mendadak pesimis. Sehun yang menyadarinya pun langsung menggenggam erat tangan Luhan seraya menatapnya lekat. "Kita harus melakukannya di tempat terhampar seperti hamparan rerumputan."

Luhan masih bergeming. Sehun merapatkan duduknya dengan Luhan.

"Luhan. Kau pasti bisa. Jangan pesimis terlebih dahulu sebelum mencoba." Sehun mencoba meyakinkan. Luhan balik menatapnya dengan tatapan ragu. "Apa...mungkin aku bisa, Sehun?"

Sehun mengangguk yakin kemudian memulas senyum lembut. "Aku percaya padamu. Kau benar-benar ingin menyelamatkanku, bukan?"

Luhan mengangguk pelan. Sehun membelai lembut tangannya. "Kalau benar, kau harus membuatku yakin kalau aku bisa diselamatkan olehmu. Menyerah sebelum perang adalah hal yang tidak patut dirasakan oleh manusia. Luhan hanya melakukannya, untuk menyelamatkanku. Sesederhana itu. Waktu enggan menunggu kita lebih lama lagi. Kau harus yakin."

.

.

Kini mereka sudah berada di hamparan rerumputan. Hijau memenuhi pandangan mereka. Di sini sangat sejuk. Sehun yang menyarankan tempat ini. Desa Bibury di barat daya Inggris. Padang rumput hijau yang berbatasan dengan situs batu kuno Cottage.

Sehun menggenggam tangan Luhan seraya memulas hangat kurva. Luhan balas menatap ragu. Sehun mengalihkan tatapnya dan kini ia memimpin jalan menuju tengah rerumputan dengan Luhan di belakangnya.

Kini mereka sudah berdiri di tengah-tengah. Sehun menyinggungkan tatap. Digenggamnya kedua tangan Luhan dengan erat.

"Luhan. Fokus, ingat? Aku percaya padamu." Ucapnya lembut. Luhan menggigit bibir bawahnya. Gelisah kembali merayapi hatinya. Ia terlalu pusing memikirkan beberapa kemungkinan saat atau setelah ia melakukannya. Entah berapa lama ia melamun, kehangatan Sehun sudah tak lagi terasa di telapaknya. Dan ternyata pria itu sudah terbaring menghadap utara dengan mata yang telah menutup. Embusan angin seolah tiada matinya. Menerpa-nerpa wajah mereka yang membuat rambut mereka pun menari.

Luhan mundur beberapa meter. Ditatapnya wajah tampan itu lekat. Damai. Luhan mulai mencoba fokus. Sialnya, semakin ia fokus, semakin keras pula jantungnya berdebum. Ah. Luhan lupa. Lantas ia menghentikan fokusnya dan mengambil lukisan Sehun lalu meletakkannya di dekat telapak kaki Sehun.

Fokus.

Luhan kembali mencoba. Dalam pandangannya, Sehun terlihat sangat rapuh. Rumput seakan mendekapnya. Objek fokus yang Luhan tatap adalah bibir tipis pria itu. Profil bawah Sehun tidak main-main meskipun berjarak seperti ini. Hidungnya terpahat indah.

Fokus

Fokus

Fokus

Luhan terus melakukannya.

.

.

Luhan merasa kepalanya akan meledak sebentar lagi. Ini seperti hal yang mustahil. Semakin ia mencoba fokus, semakin besar pula kepalanya berpotensi untuk meledak. Sakit. Ia pun mengalihkan tatap pada rerumputan di bawah kakinya. Sehun menyadarinya. Lantas ia mencoba duduk. Menatap Luhan yang menunduk sembari mengepalkan tangannya.

"Padahal dengan aku terbaring seperti itu lebih mudah. Tapi sekarang, cobalah tatap mataku. Kau tak boleh menye—"

"AKU SUDAH MENCAPAI BATASKU!"

DAR!

DAR!

DAR!

Baik Sehun maupun Luhan sama-sama terlonjak. Gemuruh yang amat memekakkan telinga. Luhan refleks menatap langit yang semula terpulas putih-biru cerah ditemani awan tipis, kini beralih menjadi abu-abu suram dengan awan menggumpal abu-abu. Luhan menelan ludahnya gugup. Ditatapnya Sehun yang ternyata tengah menatapnya sembari tersenyum tipis.

"Terkadang, tanpa disangka, emosi yang kau rasakan secara tak langsung malah mendongkrak fokusmu dengan tinggi. Alam memercayaimu. Kerahkan kembali seluruh fokusmu."

Luhan sedikit mengangakan mulutnya. Angin berembus kian kencang. Kemudian Luhan mengunci tatap hazelnya. Luhan mencobanya. Semakin fokus dan fokus.

DAR!

DAR!

DAR!

Wahai engkau jiwa yang suci

Sangat tak pantas jika Tuhan membiarkan umat-Nya menderita

Cukup teriakan memilukan saat itu, tak lagi sekarang

Penguasa langit, semesta dan isinya

Sihir keji yang patut dienyahkan!

'Imeltto de evaraz simnte kuldrato sequzzuena minptro albaertcy glomarhn kisvatu israniett gosbar'

Tuhan memberkatimu, jiwa

Tak ada lagi siksa!

Tak ada lagi kekejian!

Tak ada lagi penderitaan!

Kembalilah menjadi makhluk Tuhan dengan penuh sukacita!

.

.

.

Luhan membelalakkan matanya kala alam pikirnya telah berhasil bersipongang. Kepalanya masih terasa berat. Tak lama kemudian ia merasakan satu dua tetes basah di tubuhnya. Luhan mengedarkan pandangannya.

Mana Sehun?

Brash

Seketika tetes basah itu teralih. Hujan deras. Sangat. Hingga Luhan merasa kepalanya akan terbelah karena kerasnya air hujan yang menyambangi kepalanya. Matanya mendadak perih karena terkena air hujan. Ia kembali mencoba memaksakan diri untuk mengedarkan pandangannya. Sampai matanya terbelalak lebar.

S-Sehun?!

Sehunnya. Terangkat. Beberapa meter dari tempatnya semula. Tubuhnya melengkung seolah menahan sakit. Langit menahannya. Hujan seakan mendekapnya. Luhan tak peduli jika matanya akan keluar sebentar lagi. Rasanya sungguh perih. Ia yakin matanya sudah sangat merah. Air hujan menusuknya dengan telak. Luhan berlari tergopoh menuju tengah rumput. Ia menengadahkan kembali kepalanya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Sehun yang kini semacam mengeluarkan cairan aneh berwarna hitam pekat dari tubuhnya. Tak lama kemudian suara jeritan kesakitan tergaung. Luhan membekap mulutnya sendiri menyaksikan betapa begitu tersiksanya Sehun. Ia menangis. Tubuh Sehun kejang-kejang di atas langit. Cairan hitam terus keluar dari tubuhnya dan memenuhinya. Namun anehnya, cairan tersebut tidak sampai mengenai Luhan. Lenyap saat akan mengenai kepalanya.

"Pada saat itu, biarkanlah aku. Bakar lukisanku selagi hujan. Kita tidak punya waktu lagi."

Luhan refleks menjambak rambutnya sendiri. Frustrasi melanda. Ia pun melirik sekilas ke arah Sehun yang masih menjerit kesakitan. Matanya sudah benar-benar tidak sanggup untuk kembali menengadah. Ia pun menunduk dan melihat lukisan Sehun yang sudah basah total namun tidak luntur. Ini lebih berat dari sebelumnya. Ia dituntut untuk berkonsentrasi sementara ia rasa kepalanya sudah benar-benar siap terbelah.

Luhan mengulurkan tangannya ke arah lukisan Sehun. Ia memejamkan mata sejenak. Perlahan, ia gerakkan tangannya seolah akan mengeluarkan jurus. Lalu ia membuka mata dan fokus terhadap sang objek. Ditatapnya hazel bergenang air tersebut.

Semakin fokus.

Lagi.

Sangat fokus.

Tangan terlambai dengan sendirinya.

Para pendengki Tuhan yang penuh dosa

Bumi, tempat para pendengki itu

Menyesatkan dan menyepelekan ajaran Tuhan

Magis sangat berdosa

Tuhan tak akan sudi mengampuni

Para pendengki Tuhan niscaya akan menempati tempat terburuk yang dirancang Tuhan

Matilah para pendengki!

Neraka menanti kehadiran kalian!

Sampai akhirnya sang jiwa akan kembali mengepakkan sayapnya

Cakrawala turut membantu sang jiwa

Membebaskan dirinya dengan sayap sewarna lembayung

Kilau lazuardi turut menemani dari atas, pancaran Tuhan

Selamat datang kembali, jiwa murni pemberian Tuhan

'Le evresto kambuagna rosette inmahena kolfcogior la estre sumbagnud ziriopinne helzasje konfraenxy igmanure solvmayk'

.

Luhan menatap pemandangan di depannya tak percaya. Hujan sudah mulai reda, memang. Namun ia masih tercengang. Perlahan ia menarik uluran tangannya. Telapaknya terasa hangat dan entah sejak kapan langit sudah berwarna semula.

Kobaran api sedang. Sensasi tergaungi yang amat memukau. Api masih setia berkobar di tengah hujan. Luhan pun mengalihkan pandangannya dan matanya mengedar menatap sekeliling.

Ya Tuhan

Ia melihat Sehun tengah terbaring di tempat semula. Matanya terpejam dengan cairan hitam yang meninggalkan beberapa bercak di bagian tubuhnya. Luhan langsung menghampiri pria itu. Ia memangku kepala Sehun di atas pahanya. Wajahnya masih rupawan sekalipun dihiasi beberapa bercak hitam di area pipi dan dahinya. Air mata Luhan turut menemani tetesan basah yang berlomba-lomba menerjuni wajah sang rupawan.

"Sehun...bangun, kumohon..."

Luhan tahu Sehun tidak mati. Ia masih berdenyut nadi. Luhan memeluk Sehun erat sembari bergumam pilu; bangunlah sayangku.

Sampai Luhan pada akhirnya merasakan pergerakan dari Sehun. Spontan ia menangkup pipi Sehun dan menatapnya dengan binar. Perlahan Sehun membuka matanya. Iris hazel kembali bersinggung tatap dengan saddlebrown. Dan satu detik setelah Luhan meluncurkan setetes bening, hujan berhenti.

Sehun memulas kurva hangat.

Luhan merasa ia hanya berkedip satu kali dan saat melihat Sehun kembali, ia beda. Sama seperti semula. Bercak-bercaknya sudah lenyap. Tambah memesona dari waktu pertama datang ke sini. Luhan masih tidak mengerti dengan keadaan ini. Sehun memandang ke arah tempat pembakaran lukisan tadi. Luhan mengikuti arah pandangnya dan tak lama kemudian matanya membelalak.

Tidak ada lukisannya.

Hazel kembali menyinggung tatap saddlebrownnya. Senyum tipis terpulas, "Kau berhasil, Luhan."

Luhan tidak tahu apa yang lebih membahagiakan dari ini. Lantas ia dekap Sehun dengan penuh rasa haru bercampur sukacita. Sehun balas mendekapnya.

"Sudah lenyap. Menyatu dengan tanah. Tuhan membantu kita. Bisa dibilang, gaungan di kepalamu itu merupakan bisikan para malaikat Tuhan." Ucap Sehun. Luhan menangguk cepat seraya masih terisak. Sehun membelai rambutnya lembut dan sesekali menciumi tengkuknya.

"Ritual terakhir. Sihir kyschogar telah terlepas sempurna. Cairan hitam tadi adalah sekumpulan zat dari jiwa-jiwa berdosa yang ditanamkan para pendengki Tuhan ke dalam sihir. Hujan pemberian Tuhan. Termurni dan membersihkan. Tuhan berkehendak, jadi bukanlah mustahil jika api dapat tercipta kala hujan. Dan kini lukisan tersebut telah lenyap. Serpih abunya tak tersisa sedikitpun. Tuhan benar-benar Maha Agung. Ia tak akan ingin melihat hamba-Nya tersiksa."

Sehun mendudukkan dirinya dan langsung menautkan bibirnya dengan bibir Luhan. Ia mengecap rasa asin kala melumat bibir Luhan. Lantas Sehun menjauhkan wajahnya sedikit dan menatap Luhan dalam.

"Jangan menangis, Luhan. Ekspresikan rasa haru dengan tindakan sukacita. Kalau kau menangis, aku semakin tidak yakin kalau kata terima kasih merupakan kata yang paling tepat. Karenamu, Luhan. Aku bisa seperti ini. Sepertimu."

Katakanlah Sehun bodoh. Menyuruh orang lain agar tidak memproduksi cairan bening padahal nyatanya sesaat setelah mengucapkan kalimat tersebut tetesan bening berlomba-lomba menerjuni pipinya. Luhan pun refleks membingkai wajahnya.

"Hei. Jangan menangis, Sehun. Aku merasa tidak pantas ditangisi olehmu." Ucapnya lembut sembari terus menghapus anak sungai di pipi Sehun dengan ibu jarinya. Tak lama kemudian Sehun pun kembali menciumnya. Hangat dan dalam. Luhan terbuai lantas membalas ciuman tersebut. Ciuman kali ini terasa lebih asin karena keduanya sama-sama menangis. Tak lama kemudian Sehun melepas ciumannya. Lalu ia tautkan keningnya dengan kening Luhan.

"Sudah waktunya kembali. Bersamaku?"

Luhan menggesek lembut ujung hidungnya dan Sehun. Dikecupnya dua kali bibir tipis tersebut.

"Sehun bersamaku. Tentu."

.

.

.

.

.

.

.

"Kala waktu membeku, aku merasa sedikit takut. Sampai bertemu denganmu, kebahagiaan itu membuncah begitu saja. Memerangi waktu dengan tekad. Karena bersamamu. Bersama Sehun. Aku harus dan pasti bisa. Memperjuangkanmu."

Luhan memosisikan dirinya senyaman mungkin dalam dekapan hangat Sehun. Lengan Sehun menjadi bantalannya. Sehun terkekeh sembari memeluk erat pria mungil tersebut. Ia pun mengecupi pucuk kepala Luhan lalu membelai lembut punggungnya.

"Terima kasih karena telah memperjuangkanku. Hei, akankah kau tertidur jika aku mengucapkan ribuan—jutaan terima kasih padamu?"

Luhan mendongak dan menggigit gemas dagu Sehun. Pria itu mengaduh kesakitan. Luhan tertawa setelahnya. "Biarpun sakit tapi kau suka, kan." Godanya. Sehun menjitak sayang keningnya.

"Lagi pula, aku jelas lebih memilih disodok berkali-kali denganmu ketimbang harus mendengarkan terima kasihmu." Lanjutnya. Ia pun tersadar akan ucapannya.

Terlalu vulgar, Luhan.

Ia melirik Sehun yang tengah menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Tapi Luhan memprediksi, terdapat kiranya dua atau tiga kilat bara api yang terpancar di hazelnya.

Sial. Sehun kelebihan hormon atau apa? Hanya dengan ucapanku ia langsung bergairah? Oh, sungguh luar biasa.

"Hee. Benarkah?"

Tuh kan.

Sehun menyejajarkan wajahnya dengan Luhan. Diraihnya bibir tersebut. Lumatan-lumatan dalam yang membuat Luhan terbuai. Luhan membalasnya dengan jantung yang bertalu keras.

Demi apapun, aku merasa seperti dicium pangeran berkuda putih yang ada di dongeng-dongeng. Sehun tampannya kelewatan.

"Berhenti berpikir kalau aku tampan tak wajar. Cukup kudapatkan tatapan itu dari Bibi dan Pamanmu. Kau hanya perlu menatapku layaknya kekasih, bukan pangeran berkuda putih atau jelmaan Dewa sekalipun."

Dari jarak sedekat ini, Luhan tambah gugup. Sehun semakin merapatkan tubuhnya. Mereka menyatu tanpa celah. Dikecupnya sekali pipi merona Luhan.

"Jadi, bagaimana?" tanya Sehun menuntut. Luhan tambah salah tingkah.

Sial, ia ditembak.

"E-eh, itu..."

"Apa? Itu itu."

Luhan memukul bahu Sehun keras lalu mendudukkan diri di ranjang. Ia memeluk kakinya sendiri dengan lutut yang menopang dagu. Sehun sedikit terkejut lantas segera ia posisikan diri di belakang Luhan. Didekapnya tubuh mungil itu dengan wajah yang ia tenggelamkan pada ceruk leher Luhan. Ia menghirup aroma sabun stroberi yang menguar. Manis. Sama seperti si pemakai.

"Pelukanmu selalu hangat. Aku suka." Ucap Luhan pelan. Sehun terkekeh pelan kemudian membisiki telinga Luhan, "Tentu. Rasa hangat yang disalurkan itu berarti, Luhan bukan satu-satunya orang yang berdebar saat kita berdekatan. Tidakkah kau merasakan ini?"

Sehun memeluk Luhan erat. Dadanya menempel sempurna pada punggung Luhan. Ah. Benar. Luhan dapat merasakan pula detakan jantung Sehun yang sama kerasnya. Ia pun tambah merona.

"Ah. Kupikir aku satu-satunya."

Luhan tidak tahu karena ini terjadi tanpa diduga dan begitu cepat. Sehun sekarang sudah berada di atasnya dengan napas yang memburu. Rambut pirangnya sudah memanjang rupanya. Menjuntai hingga mengenai kening Luhan.

Sehun pun mengambil alih kembali bibir Luhan. Dilumatnya bibir itu dalam-dalam. Luhan membalasnya sebisa mungkin. Ciuman Sehun kali ini kasar namun tak bisa dimungkiri kalau ia juga menikmati sisi Sehun yang seperti ini. Posesif.

Sehun sangat seksi.

Luhan membiarkan mulutnya terbuka lalu lidah Sehun mengeksplorasi mulutnya dengan lihai. Mereka berperang lidah. Melilit satu sama lain. Saliva sudah mengaliri mulut Luhan. Tak lama kemudian Luhan mendorong dada Sehun dan ciuman panas mereka pun terlepas. Luhan berusaha mengatur pernapasannya.

"Kau menyukainya, bukan?"

Luhan menatap hazelnya. Jelas. Kilatan bara api di irisnya semakin membesar.

Sehun menginginkanku.

Tak lama kemudian Sehun melepaskan kemejanya sendiri dengan tatapan dalam nan posesif yang terus ia berikan pada Luhan. Luhan tambah gugup. Kemudian ia melepaskan celana denimnya. Tiba-tiba Luhan merasa dejavu. Ini tak ada bedanya seperti saat di Hvitur. Hanya saja, keseksian Sehun kali ini nyata. Semua ini nyata. Ingin rasanya Luhan berteriak saking bahagianya.

"Aku perlu menyentuhmu."

Sehun kembali menciumnya. Lebih dalam dan intens. Tangannya pun ia pergunakan untuk melepas kemeja Luhan. Luhan bergidik saat telapak dingin Sehun meraba-raba dadanya. Ia mendesah tertahan dalam ciumannya.

Terjadi dengan cepat. Karena kini keduanya sudah sama-sama telanjang. Seketika hawa kamar Luhan menjadi panas. Tubuh Sehun begitu rapat dengannya. Dan benar memang, ia dapat merasakan debaran keras dari dada Sehun. Ia tersipu.

Sehun mulai menjelajahi leher Luhan. Mencium, menggigit dan menyesap leher Luhan dengan ahli. Luhan mendesah. Rasanya beribu kali lipat lebih nikmat daripada saat di Hvitur. Sehun berhasil membuat banyak tanda di lehernya. Ia menjauhkan diri dan tersenyum puas melihat karyanya.

"Kau sangat indah, Luhan." Ucapnya, rendah. Ia kembali mendekatkan diri dan melumat puting Luhan.

"Ahh. Oh, Ya Tuhan. Sehun..."

Sehun terus memanjakan puting Luhan sedang tangan satunya ia gunakan untuk memelintir gemas puting lainnya. Luhan mendongakkan kepalanya kala nikmat terus ia rasakan. Sehun pun menghentikan aktivitasnya dan tangannya terulur guna mengocok pelan penis Luhan yang entah sejak kapan sudah ereksi. Pucuknya merah menggemaskan. Lantas Sehun merundukkan kepalanya dan memasukkan penis Luhan ke dalam mulutnya. Luhan mengejang karena kaget sekaligus nikmat karena lidah Sehun bermain di lubang penisnya. Ia mendesah keras.

Sehun memaju-mundurkan kepalanya selama mengulum penis Luhan. Luhan terus menjambaki rambut Sehun agar kulumannya semakin dalam. Sehun tersenyum dalam kulumannya. Tangan kirinya ia pergunakan untuk meremas bokong Luhan sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menerobos pertahanan Luhan. Ia memasukkan jari tengahnya dan ia dapat merasakan tubuh Luhan mengejang namun ia tak mengindahkannya. Ia semakin mempercepat gerakan kulumannya pada penis Luhan hingga akhirnya ia mendapatkan cairan yang sedari tadi ia dambakan. Sehun menelan habis benih suci Luhan. Kemudian ia dengan cepat langsung menyambar bibir Luhan dan membagi sisa-sisa cairannya.

"Kau selalu nikmat, Luhan."

Kemudian Sehun kembali menciumnya dalam dan sedikit kasar untuk mengalihkan perhatian Luhan karena saat ini ia tengah memasukkan jari manisnya, jari ketiga. Kemudian ia menggerakkan jarinya keluar-masuk. Luhan mendorong dadanya hingga tautan bibir mereka terlepas. Ia mendesah keras karena jari Sehun berhasil menyentuh titik kenikmatannya.

Sehun menyeringai, "Wajahmu vulgar sekali, Luhan. Kau pantas jadi bintang porno. Namun hanya untukku. Buatlah wajahmu menampakkan mimik senikmat mungkin karena perlakuanku." Ucap Sehun parau. Luhan membuka matanya dan mendapati wajah kelewat seksi Sehun yang tengah menatapnya vulgar.

"Masukkan, Sehun—"

"Apa?"

"—penis besarmu, ugh."

Seketika Luhan merasa dirinya kosong. Ia menatap ke bawah dengan pandangan sayu. Sehun sedang memosisikan penis besarnya pada lubangnya. Luhan menelan ludah gugup. Sehun menatapnya dam terkekeh.

"Saksikan bagaimana lubangmu menyambut penisku, Luhan. Kau akan menyukainya."

Sehun pun melingkarkan kaki Luhan pada pinggangnya lalu menaruh bantal pada bokongnya agar ia bisa melakukan penetrasi lebih dalam nanti. Sehun meminta Luhan agar tetap bersinggung tatap dengannya selama mereka bersatu.

.

.

Luhan spontan mencengkeram erat bahu Sehun saat penisnya sudah masuk setengahnya. Sehun menatapnya lembut. Memang, ini bukan kali pertama mereka bercinta di dunia nyata sejak Sehun berwujud tiga dimensi namun Luhan tidak bisa memungkiri kalau dirinya tetap merasq sakit walaupun sudah berkali-kali dimasuki Sehun.

"Ahh, Luhan."

Sehun mendesah rendah saat penisnya sudah sepenuhnya masuk. Lubang Luhan begitu memanjanya dengan ahli. Sehun tersenyum kemudian mencium bibir Luhan agar pria itu terbiasa dengan kehadiran penisnya. Tak lama setelah itu, Sehun mulai menggerakkan penisnya perlahan. Luhan mendorong dada Sehun dan kemudian mendesah keras saat ujung penis Sehun berhasil menabrak prostatnya. Sehun menyeringai puas.

"Buka matamu. Aku ingin melihat matamu. Teruslah berwajah porno seperti itu, Luhan. Aku akan tambah semangat untuk menyodokmu."

Luhan membuka matanya. Ia menatap Sehun dengan pandangan sayu. Sehun begitu liar di atasnya. Semua yang ada pada dirinya begitu seksi dan memikat.

"Ungh. Ahh ahh, Sehun..."

Penetrasi yang dilakukan Sehun semakin cepat. Gerakannya meliar dan entah sudah berapa kali ia menabrakkan ujung penisnya pada prostat Luhan. Keduanya masih bersinggung tatap. Luhan menggerakkan pinggulnya ke arah berlawanan. Semakin cepat, telak dan dalam. Suara kecipak penyatuan mereka terdengar sangat vulgar. Desahan erotis mereka pun bersahut-sahutan.

"Wajahmu—ngh, ahhahh ahh, lebih porno dariku—aah, Sehun. Fuck."

Sehun tersenyum mendengarnya kemudian ia merendahkan dirinya guna mencumbui leher samping Luhan.

"Terima kasih. Lubangmu yang membuatku gila, ahh—Luhan. Fuck. Kau terlalu ketat. Penisku terjepit dengan sangat rapat."

Kemudian Sehun mencium bibir Luhan dengan ganas. Luhan membalasnya tak kalah ganas. Saat mereka berperang lidah, Luhan merasa penisnya yang tergesek-gesek dengan perut Sehun siap menumpahkan mani.

"Sehun. Sehun. Sehun. Ahhfuck, yeah. Sehun, ahh..."

Mani Luhan pun membasahi perut Sehun. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya dan mengatur pernapasannya. Orgasme karena Sehun memang selalu luar biasa nikmat. Ia masih menikmati sisa-sisa orgasmenya, membiarkan Sehun yang masih bergerak cepat di atasnya guna menggapai awan juga. Sehun mencumbu dadanya dan beberapa hentakan telak terakhir, ia berhasil menggapai awan.

"Ahh. Yeah. Kau selalu berkhianat dengan menggapai awan terlebih dahulu." Gumam Sehun sarat akan kepuasan seksual. Ia memeluk Luhan erat dengan penis yang masih tertanam pada lubang Luhan. Napas Sehun menerpa-nerpa bawah telinganya. Luhan terkekeh kemudian mencium rahang Sehun.

Tiba-tiba saja Sehun duduk dan membawa Luhan agar duduk di pangkuannya dengan kaki yang melingkari pinggangnya. Dan Luhan merasa Sehun kembali ereksi di dalamnya. Posisinya sungguh intim. Namun Luhan memulas senyum kemudian tangannya menangkup pipi Sehun. Sehun menatapnya dalam, selalu.

"Jadi, bagaimana?"

Luhan menaikkan sebelah alisnya, "Apa? Bagaimana apanya?"

Sehun pun menggigit bibir bawah Luhan gemas lalu berdecak setelahnya.

"Di percintaan kita selanjutnya, setelah ini," Sehun berdeham. "akankah kau menatapku dengan pandangan nikmat karena perlakuan sang kekasih? Bukan dengan pandangan nikmat karena kau sedang disodok jelmaan Dewa, ya."

Luhan refleks tertawa kemudian ia menghujani kecupan-kecupan ringan pada wajah tampan Sehun. Sehun memejamkan matanya menikmati.

"Kau ini tidak ada romantis-romantisnya sama sekali, Sehun." Ucap Luhan. Sehun membuka matanya dan menggenggam pergelangan tangan Luhan yang tengah membingkai wajahnya.

"Memang. Aku memang seperti ini. Aku ingin kita benar-benar memiliki status, bukan sekadar menyematkan kata 'bercinta' tanpa memiliki hubungan yang jelas."

Luhan terlihat berpikir. "Bukankah sudah jelas, hm? Aku melakukan apapun untukmu, membebaskanmu dan membiarkanmu menyentuhku berkali-kali. Akj tidak pernah menolakmu, karena aku sangat mencintaimu, Sehun. Apa kau pah—"

Ucapannya terpotong karena Sehun tengah menciumnya dengan lembut. Luhan membalasnya.

"Ya, aku paham. Sekarang, aku bisa bebas membalas ungkapan cintamu ataupun memberimu ungkapan cinta. Aku sangat mencintaimu, Luhan. Jadilah kekasihku, oke?"

Luhan terkekeh namun tak lama kemudian ia mengangguk yakin.

"Ya, Sehun. Kita bisa saling mencintai tanpa batas sekarang. Jadilah kekasih yang baik untukku, Sehun. Aku tidak bisa membayangkan jika aku hidup tanpamu. Aku lebih baik mati saja."

Sehun terkekeh kemudian menggenggam tangan Luhan lalu menghujaninya dengan kecupan-kecupan ringan nan lembut. Luhan merona dibuatnya. Kemudian Sehun menatap Luhan lekat.

"Kau alasanku mengapa aku harus mengorbankan satu nyawa untuk dapat merealisasikan kata 'bersama' untuk kita. Bersama itu, impianku. Bersamamu. Aku terlalu mencintaimu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku merasakan hawa kelewat positif ketika kalian datang. Seperti bunga-bunga yang bermekaran kala musim semi. Begitu indah dan bahagia. Apa yang terjadi pada kalian?"

Sehun dan Luhan menahan senyum saat kedatangan mereka disambut oleh ucapan dramatis Baekhyun. Baekhyun menyipitkan matanya curiga. Ia menatap Sehun dan Luhan yang tengah duduk di hadapannya sembari sok melihat-lihat buku menu. Baekhyun tidak suka diabaikan. Ia pun menyikut Chanyeol di sebelahnya, menatap kekasihnya dengan pandangan; 'Bantu aku, sialan.'

Chanyeol pun menggaruk tengkuknya kikuk kemudian berdeham pelan. "Hm, benar kata Baekhyun. Aku merasa kalian sedang berbunga-bunga. Apa kalian baru saja berkencan?"

Baik Sehun maupun Luhan sama-sama bergeming. Luhan menelan ludahnya gugup sambil terus menundukkan kepalanya berlagak masih memilih makanan. Sehun mendongak setelahnya. Menatap Baekhyun dam Chanyeol bergantian kemudian ia memulas senyum tipis. Ia melirik Luhan kemudian menggenggam tangannya dan membawanya di atas meja. Baekhyun dan Chanyeol menatapnya dengan tatapan menggoda. Sehun berdeham pelan.

"Sebenarnya aku ingin memberitahu kabar ini nanti malam. Kami berencana akan mengadakan pesta kecil-kecilan di kafe. Namun, yeah. Sudah ketahuan. Apa sebegitu kuat kah aura orang yang baru menjalin asmara?"

Penuturan Sehun membuat Baekhyun dan Chanyeol tertawa. Luhan pun mendongakkan kepalanya dan menatap Sehun malas. Ia yakin pipinya tengah memerah. Sehun hanya terkekeh kemudian mengacak gemas rambut Luhan. Baekhyun yang melihat kejadian manis tersebut pun menjentikkan jarinya heboh lalu menjerit tertahan sambil menjambak rambut Chanyeol gemas.

"SELAMAT MENJADI SEPASANG KEKASIH! Argh. Kalian lucu sekali. Oh, Ya Tuhan. Kurasa aku akan mendedikasikan diriku sebagai penggemar kalian. Itu—ah! HunHan. Nama couple kalian. Aduh, istilahnya apa yang penggemar couple itu—"

"Shipper, Baek."

Mereka pun sontak menoleh ke sumber suara. Yang menjawab tadi Junmyeon. Lay pun datang setelahnya. Junmyeon melempar senyum lalu duduk di sebelah Chanyeol sedangkan Lay duduk di sebelah Luhan.

"Nah, iya itu. Aku akan menjadi shipper kalian mulai detik ini. Ugh. Kalian cute sekali. Aku gemas. Yang satu tampan tak masuk akal dan yang satu kelewat imut nan cantik. Ugh. Perfect, gila." Ucap Baekhyun heboh. Chanyeol pun menjitak sayang kepalanya.

"Ck. Kau ini selalu saja heboh." Kemudian ia menatap Sehun, "Err, Sehun. Kuharap kau memaklumi sifat Baekhyun, ya. Ya, walaupun kau berpikir dia autis namun pada kenyataannya, dia memanglah autis yang berhasil melelehkan hatiku." Lanjutnya. Baekhyun pun menoyor kepala Chanyeol kemudian menatap Sehun.

"Abaikanlah makhluk ini, Sehun. Aku sangat bersyukur Luhan dapat memiliki orang sepertimu dan berterima kasih karena kau berhasil menaklukkan hatinya. Kau memang pria sejati, Sehun. Ugh. Hidup HunHan!"

Mereka semua pun tertawa. Sehun menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Baekhyun. Ia menatap Luhan dalam lalu mencium punggung tangannya lembut. Luhan yakin merah tengah memenuhi wajahnya.

Chanyeol berusaha membekap Baekhyun yang ingin menjerit heboh. Junmyeon dan Lay menyaksikannya dalam diam sekaligus bahagia.

Kemudian Sehun menatap Baekhyun, Chanyeol, Lay dan Junmyeon dan memulas senyum tulus. "Aku sangat bersyukur dapat diterima sepenuhnya oleh kalian. Terima kasih banyak. Aku berjanji akan membuat hidup Luhan dipenuhi oleh jutaan warna saat bersamaku."

Kata 'so sweet' pun terucap dari masing-masing mereka. Baekhyun menjerit tertahan. Ia sangat gemas dengan romantisme keduanya. Mereka memberi selamat atas hubungannya dan Sehun. Luhan menundukkan sedikit kepalanya karena malu bukan main dan juga tersenyum tanpa henti. Ia sangat bahagia, tentunya. Teman-temannya dapat dengan cepat menerima kehadiran Sehun. Ia benar-benar merasa bahagia. Mereka pun tak henti-hentinya menggoda Sehun dan Luhan.

"Ya, kalian sangat manis. Hm, dasar pasangan dimabuk asmara."

Sontak mereka semua menoleh ke sumber suara dan mendapati Kyungsoo yang tengah bermimik sok jutek. Baekhyun pun bangkit dan langsung menyuruh Kyungsoo duduk di sebelahnya.

"Heee. Selalu terlambat, Tuan Muda Kyungsoo ini. Tapi tak apa, karena atmosfernya sedang bahagia nan hangat. Ucapkan selamat pada pasangan baru kita, Kyungsoo."

Kyungsoo berdecak mendengar penuturan heboh Baekhyun lalu ia memulas senyum lebar.

"Selamat atas hubungan kalian. Kuharap kalian langgeng sampai maut memisahkan." Ucapnya tulus. Sehun pun mengangguk yakin sedangkan Luhan tersenyum malu-malu.

Giliran Lay yang menjentikkan jarinya heboh, "Bagaimana kalau rayakan di sini saja? Makan-makan porsi besar saja, hm? Acara utamanya nanti malam. Luhan dan Sehun yang menanggung biayanya. Setuju?"

Seruan 'iya' pun terdengar heboh. Sehun dan Luhan melirik satu sama lain. Luhan melepaskan genggamannya lalu mencium kilat bibir Sehun. Baekhyun yang menyadarinya pun kelepasan menjerit.

Luhan tak mengindahkannya, dibingkainya wajah Sehun dengan tangannya. "Aku sangat mencintai Sehun. Selamanya akan seperti itu." Ucapnya tulus.

Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun yang sepertinya sebentar lagi akan pingsan karena keromantisan yang tengah mereka umbar. Junmyeon, Lay dan Kyungsoo menatap mereka dengan senyuman bahagia. Kentara sekali bahwa Luhan sangat mencintai Sehun, begitupun sebaliknya.

Aku bersyukur Luhan dapat menemukan Sehun sebagai pengganti Kai. Kuharap Luhan akan selalu diberi kebahagiaan. Terlebih bersama Sehun.

Kyungsoo membatin.

.

Sehun pun balas mengecup wajah Luhan mulai dari kening, mata, hidung, pipi kemudian bibirnya. Ia memberikan tiga lumatan lembut pada bibir Luhan. Chanyeol pun dibuat terkejut karena Baekhyun sudah mimisan.

"Oh, tidak. Aduh, kalian. Ugh. Chanyeol, tisunya mana. Ya Tuhan, kalian membuatku diabetes di usia muda. Terima kasih banyak." Baekhyun meracau tak jelas dan tubuhnya memang melunglai sedangkan Chanyeol pun sibuk mengelap darah mimisan Baekhyun.

Sehun tak mengindahkan tatapan para pengunjung lainnya maupun teman-teman Luhan. Ia hanya perlu menatap dunianya; Luhan.

"Aku pun mencintai Luhan. Biar saja ini terdengar klise, tapi aku rasa aku benar-benar akan mati jika Luhan tidak berada di sisiku. Teruslah seperti ini. Bersamaku, selamanya. Aku mencintaimu dengan nyata, tidak lagi semu seperti saat itu." Sehun memelankan suaranya pada kalimat akhirnya. Luhan pun berhambur ke pelukan Sehun.

"Ya, Sehun. Oh Tuhan, aku sangat bahagia. Kau pusat kebahagiaanku. Sehunku."

Mereka pun bertepuk tangan sembari memulas senyum bahagia dengan pemikiran yang sama; Sehun telah membuat Luhan bahagia dan selamanya harus seperti itu. Bahkan beberapa pengunjung restoran menatap Sehun dan Luhan dengan pandangan bahagia. Mereka terlihat sangat bahagia dan saling mencintai hanya dilihat dari tatapan mata mereka saja. Memancarkan ikatan cinta yang kuat. Baekhyun pun sampai meneteskan air matanya saking terharunya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku sangat bersyukur teman-temanmu dapat menerimaku secepat ini, Luhan. Tak menyangka juga."

Luhan mengangguk seraya memegang tangan Sehun yang tengah melingkari perutnya dari belakang dengan erat. Pria tampan itu mengecup tengkuk Luhan.

"Belum pernah aku merasa sebahagia ini seumur hidupku, Sehun. Karena Sehun, kebahagiaanku yang dapat kumiliki seutuhnya. Di dunia nyata ini." Ucap Luhan lembut. Sehun pun memulas senyum hangat kemudian melepas pelukannya lalu berdiri berhadapan dengan Luhan.

"Impianku terwujud, karenamu. Aku menyerahkan hatiku sepenuhnya kepadamu, Luhan. Wujudkanlah kata 'bersama' itu hingga akhir hayat nanti. Kau sangat berarti untukku." Seulas kurva terukir setelahnya. Luhan mengecup singkat pipi Sehun lalu menggenggam tangan kirinya dan menghadap ke arah danau.

"Tentu saja. Apa kau pikir, tak perlu memberitahu mereka kenyataan yang sebenarnya?" Luhan menoleh dan mendapati pria itu sedang tersenyum. Darah Luhan berdesir cepat, degup jantungnya berdebar cepat. Ia benar-benar jatuh pada pesona Sehun. Sehun yang baik seperti malaikat tanpa sayapnya. Kekasihnya. Dari samping seperti ini, Luhan dapat melihat jelas pahatan indah yang selama ini Tuhan sembunyikan di dunia tak terjamah itu.

Alis tebal proporsionalnya, mata elang menawannya yang dihiasi bulu mata pendek-pendek nan lentik, hidung mancungnya, bibir merah tipisnya, dagu runcingnya dan yang terakhir rahang kokohnya. Luhan merasa sangat beruntung bisa mendapatkan Sehun. Tiba-tiba pria itu menoleh, masih dengan senyuman tipisnya.

Sehun sangat bahagia, pun aku.

"Tidak perlu. Hanya kau, aku dan Tuhan."

Kemudian Sehun melingkarkan tangannya pada pinggang Luhan. Luhan sedikit terkejut namun ia kalungkan tangannya pada leher Sehun. Mereka bertatapan lama.

"Cukup bersamamu dan teruslah di sisiku, Luhan. Dunia tidak perlu tahu siapa aku dan dari mana aku. Inilah jalan takdir kita; bersama."

Sehun pun meraih bibir Luhan dan mulai melumatnya dengan lembut seolah menyalurkan seluruh perasaan cintanya pada Luhan. Luhan pun begitu.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kita tak terbatas sekarang. Kita tak terjarak sekarang. Kita tak terpisahkan sekarang. Kuharap, sekarang itu bertahan hingga akhir. Aku hanya ingin seperti ini, bersamamu. Perasaan ini benar adanya. Terlalu nyata bahkan saat duniaku tidak nyata. Namun sekarang kita di sini, bersama. Aku mencintaimu. Hari ini, esok dan selamanya."

.

.

.

.

.

"Kau benar. Perasaan ini benar. Kau hadir dan menorehkan sejuta warna dalam hidupku yang bermula dari duniamu. Kukira rasa ini semu, namun garis takdir menguatkan rasa ini. Cintaku benar adanya. Sekalipun kau tidak bisa sepertiku, aku akan tetap mempertahankan rasa inientah sampai kapan. Namun Tuhan memihak kita. Kata 'bersama' benar-benar terealisasikan. Aku merasa lebih hidup, karena kau sungguhan. Tak ada lagi tekstur kanvas kala aku mencium bibirmu. Tak ada lagi hazel yang balas tatap kosong kala kumenatapmu. Ini semua terbalas. Aku mencintaimu sampai mati, Sehun."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

C

L

I

C

K

NEXT

For

Epilog:)