Makasih yang udah pada review

Hehe, aku berusaha menjaga ratenya tetep T, moga moga berhasil

Endingnya dibikin gitu biar yang baca kepo (peace)

Overall thanks guys

Chapter 3

Bahkan dengan tidak adanya jendela dalam ruangan untuk mengingatkanku bahwa matahari sudah terbit, aku tahu aku sudah tertidur larut. Aku sudah kelelahan tapi berkandara selama delapan jam dan langkah kaki di tangga membuatku tetap terjaga. Aku merenggangkan tubuhku, duduk dan menjangkau saklar di dinding. Lampu kecil menerangi ruangan dan aku meraih kolong tempat tidur untuk menarik tasku.

Aku butuh mandi dan aku butuh menggunakan kamar mandi. Mungkin semua orang masih tertidur dan aku bisa menyelinap keluar ke kamar mandi tanpa disadari siapapun. Seungcheol hyung tidak menunjukkan dimana tempatnya semalam. Ruangan ini aladah satu satunya tawaran yang diberikan kepadaku. Semoga mandi singkat tidak melewati batasanku.

Aku menyambar dalamanku dan sepasang celana jeans dengan atasan kemeja hitam. Jika aku beruntung, aku dapat menyelinap masuk dan keluar kamar mandi lalu sedikit bersih bersih sebelum Mingyu-ssi turun kebawah.

Aku membuka pintu yang menuju ke dapur lalu berjalan melewati rak-rak yang menyimpan berbagai jenis makanan yang mungking lebih dari yang dibutuhkan seseorang. Perlahan, aku meraih pegangan pintu dan mendorongya terbuka. Lampu dapur mati dan satu-satunya cahaya yang tersedia adalah cahaya matahari yang terang yang masuk melalui dinding kaca yang mengarah ke halaman rumah. Jika aku tidak butuh buang air aku akan menikmati pemandangan selama beberapa saat. Tapi aku benar-benar harus buang air. Rumah terasa sangat hening. Gelas gelas kosong berserakan di meja bersamaan dengan piring piring yang berisi sisa makanan ringan. Aku bisa membersihkannya. Jika aku bisa membuktikan bahwa aku berguna, mungkin aku bisa tinggal disini hingga aku dapat pekerjaan dan sedikit gaji.

Aku membuka pintu pertama yang kutemui secara perlahan takut jika itu adalah kamar. Ternyata ruang ganti berisi deretan pakaian dan aksesorinya. Setelah degera ditutup, aku kembali berjalan menuju tangga. Jika semua kamar mandi berada dalam kamar, aku berada dalam masalah. Kecuali.. mungkin ada satu yang biasa digunakan pelayan. Bibi Lee pasti butuhkamar mandi untuk mandi dan melakukan hal lainnya. Berputar, aku kembali menuju dapur dan dua pintu kaca yang terbuka sejak semalam. Melirik sekitar, aku menyadari ada tangga menuju kebawah seperti basement. Aku menuruninya.

Di bawah terdapat dua pintu. Aku membuka satu berisi rak-rak yang dipenuhi dengan botol wine, kututup segera pintu tersebut lalu membuka yang satunya. Bingo!

Kamar mandi sederhana berada disana. Sampo, sabun, dan peralatan mandi lain bersama dengan handuk sudah tersedia disana. Praktis sekali.

Setelah aku membersihkan diri dan berpakaian. Aku menjemur handuk di tempatnya. Kamar mandi ini pasti jarang digunakan. Aku bisa menggunakan handuk yang sama selama seminggu dan mencucinya di akhir pecan. Jika aku bisa tinggal disini cukup lama.

Aku menutup pintu dibelakangku dan kembali menuju tangga. Udara pagi hari terasa sangat menyenangkan. Saat aku sampai diatas, aku berdiri di pembatas dan menatap halaman rumah yang sangat luas berisi rumput dan pohon rindang dan kolam air macur besar, berbagai macam buanga menghiasi halaman tersebut, seperti taman. Daun-daun bergerak mengikuti angin. Halaman rumah terindah yang pernah aku lihat.

Ibu dan aku sering berbicara mengenai halaman rumah yang sering ia lihat di drama. Ibu pernah melihatnya semasa kecil tapi ia dapat menceritakannya selama hidupku. Setiap musim salju saat dingin, kami dapat duduk didalam rumah dan merencanakan berkemah di halaman rumah. Kita tidak pernah dapat melakukannya. Pertama karena Ibu sibuk karena pekerjaan yang harus dikerjakannya setelah ayah meninggalkan kami, kemudian ibu jadi terlalu sakit untuk melakukannya. Walaupun begitu kami masih terus merencanakannya. Sangat membantu jika kita dapat bermimpi.

"pemandangannya tidak pernah membuatku bosan," gumaman rendah Mingyu membuatku terkejut. Aku berbalik dan melihat Mingyu bersandar di pintu kaca. Tanpa atasan. Sial.

Aku tidak bisa berkata-kata. Satu-satunya dada pria yang pernah kulihat adalah milik Kihyun. Dan itu sebelum Ibuku sakit saat aku punya waktu untuk berkencan dan bersenang-senang. Dada seorang Kihyun yang berumur 15 tahun tidak ada bandingannya dengan dada bidang dan perut sixpack dihadapanku. Dia punya abs.

"kau menyukai yang kau lihat?" nada geli dari Mingyu tidak lepas dari perhatianku. Aku berkedip dan menaikkan pandanganku untuk melihat cengiran di wajahnya. Sial. Dia menangkapku memandanginya.

"jangan membiarkanku mengganggumu. Aku juga menikmatinya." Dia menjawab lalu menyeruput kopi du cangkir yang digenggamannya.

Wajahku memanas dan aku tahu tahu aku merona. Membalikkan tubuhku, aku memandang kembali hamparan taman dihadapanku. Memalukan sekali. Aku ingin mencoba membuat Mingyu-ssi membiarkanku tinggal disini lebih lama. Meneteskan liur untuknya bukanlah hal yang tepat untukku.

Kekehan kecil di belakangku memuatnya semakin buruk. Dia menertawakanku. Menakjubkan.

"oh, kau disana. Aku tidak melihatmu di tempat tidur pagi ini." Suara lembut datang dari wanita dibelakangku. Aku penasaran dan berbalik. Seorang wanita yang hanya memakai dalaman mendekat dan meringkuk pada Mingyu-ssi mengeluskan jarinya disepanjang dada Mingyu. Aku tidak dapat menyalahkannya untuk menginginkannya. Aku juga tergona untuk melakukannya.

"waktunya untukmu pergi." Mingyu menjawab sambil melepaskan pelukan wanita itu dan menjauh darinya. Aku melihat saat dia mengaungkan jarinya menuju pintu depan.

"apa?" jawab wanita itu. Raut bingung di wajahnya berkata dia tidak menduga ini.

"kau mendapat apa yang kau inginkan, saying. Kau menginginkan tubuhku. Kau sudah mendapatkannya. Sekarang tugasku selesai."

Nada dingin dan datar di suaranya mengejutkanku. Apa dia serius?

"kau bercanda!" wanita itu tersentak dan menghentakkan kakinya.

Mingyu menggelengkan kepalanya dan meminum kembali kopinya

"kau tidak bisa melakukannya padaku. Semalam sangat luar biasa. Kau tau itu"wanita itu meraih lengannya dan Mingyu segera menghempaskannya.

"aku sudah memperingatkanmu semalam saat kau memohon padaku untuk melucuti pakaianmu bahwa semua itu hanya seks. Tidak lebih."

Aku mengalihkan perhatianku kembali pada wanita itu. Wajahnya terlihat sangat marah dan hendak membuka mulutnya tapi segera diurungkan. Dengan hentakan lain wanita itu kembali kedalam rumah.

Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja aku lihat. Apakah orang sperti dia selalu berlaku seperti itu? satu satunya pengalaman hubungan yang kumiliki hanya dengan Kihyun. Walaupun kami tidak pernah tidur bersama, dia selalu manis dan berhati-hati padaku. Ini sangat kejam dan tak berperasaan.

"Jadi, bagaimana tidurmu semalam?" Mingyu bertanya seperti tidak ada yang terjadi.

Aku mengalihkan pandanganku dari pintu dimana wanita itu mengilang dan meatapnya lekat-lekat. Apa yang membuat wanita itu untuk tidur dengan seseorang yang memberitahunya bahwa itu hanya seks dan tidak lebih? Tentu, dia punya tubuh yang sangat mengiurkan, dan tentunya uang yang sangat banyak, dilihat dari rumahnya. Tapi tetap saja. Dia sangat kejam.

"apa kau sering melakukannya?" aku bertanya sebelum dapat menghentikan diriku.

Mingyu menaikkan salah satu alisnya, "apa? Bertanya apa seseorang tidur dengan nyeyak?"

Dia tahu apa yang kumaksud. Dia menghindarinya. Itu bukan urusanku. Aku tidak boleh mencampuri urusannya sehingga dia bisa membiarkanku tinggal. Membuka mulutku untuk memarahinya bukanlah ide yang bagus.

"meniduru seseorang lalu membuangnya seperti sampah?" jawabku pedas. Aku menutup mulutku, terkejut saat kalimat yang muncul dikepalaku terungkap. Apa yang kulakukan? Mencoba agar diusir?

Mingyu meletakkan gelasnya di meja dekat pintu lalu menyenderkan punggungnya menatapku. "apa kau suka menaruh perhatianmu di tempat yang tidak seharusnya?" dia jawab.

Aku ingin marah padanya, tapi tidak bisa. Dia benar. Siapa aku untuk menilainya? Aku tidak mengenalnya.

"bisanya tidak, tidak. Aku minta maaf," ucapku lalu buru buru masuk kedalam. Aku tidak ingin memberinya kesempatan untuk mengusirku juga. Aku butuh tempat tidur dibawah tangga untuk paling tidak satu bulan.

Aku sibuk mengangkut gelas gelas dan piring dan botol wine yang berserakan. Tempat ini butuh dibersihkan dan aku bisa melakukannya sebelum keluar mencari kerja. Aku hanya berharap dia tidak berpesta setiap malam. Jika iya, aku tidak akan keberatan dan siapa tahu, setelah beberapa malam aku mungkin bisa tidur dalam kebisingan.

"kau tidak perlu melakukannya. Bibi Lee akan membersihkannya nanti."

Aku menjatuhkan sampah sampah di tempat sampah dan menatapnya. Dia masih berdiri di pintu, mengamatiku.

"aku hanya ingin membantu."

Mingyu nyengir, "aku sudah punya pembantu. Aku tidak butuh pembantu lain jika itu yang kau pikirkan."

Aku menggelengkan kepalaku, "tidak. Aku tau itu. Aku hanya berusaha membantu. Kam mengizinkanku tidur di rumahmu semalam"

Mingyu berjalan melewatiku dan berdiri didekat meja dapur dan menyilangkan lengannya di dada. "mengenai itu. Kita perlu bicara."

Oh. Sial. Selesai semuanya. Dia hanya memberiku satu malam.

"baiklah"

Mingyu mengerutkan dahinya padaku dan aku merasa detak jantungku meningkat. Dia tidak akan memberiku kabar baik.

"aku tidak menyukai ayahmu. Dia parasite. Ibuku cenderung menemukan laki-laki sepertinya. Itu bakat ibuku. Tapi setelah berpikir bahwa kau tau mengenai ini, yang membuatku penasaran, kenapa kau datang padanya untuk meminta bantuan jika kau tau ayakmu bagaimana?"

Aku ingin memberi tahunya jika itu bukan urusannya. Kecuali fakta bahwa aku butuh bantuannya membuat itu burusannya. Aku tidak bisa mengharapkannya untuk mengizinkanku menumpang tanpa memberi tahunya. Dia pantas untuk tau kenapa dia membantuku. Aku juga tidak ingin dia berpikir pahwa aku juga parasite.

"Ibuku baru saja meninggal. Dia menderita kangker. Tiga tahun perawatan membutuhkan biaya yang banyak. Satu-satunya barang berharga yang kami miliki adalah rumah warisan nenekku. Aku harus menjual segalanya untuk melunasi tagihan rumah sakitnya. Aku belum pernah meilhat ayahku sejak dia meninggalkan kami lima tahun lalu. Tapi dia satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku tidak punya orang lain yang dapat kumintai bantuan. Aku butuh temoat tingggal sampai aku dapat pekerjaan dan sedikit uang. Lalu aku bisa menyewa tempat sendiri. Aku tidak berencana untuk menumpang lama. Aku tahu ayahku tidak menginginkanku lama-lama disini." Aku tertawa sinis, "walaupun aku tidak pernah menduga dia akan kabur sebelum aku sampai"

Tatapan Mingyu tetap mengarah padaku. Ini adalah informasi yang sebenarnya tidak ingin kubagi. Aku bisanya berbicara dengan Kihyun mengenai betapa menyakitnkanya ditinggalkan ayahku. Kahilangan kembaranku dan ayahku begitu berat untukku dan ibu. Lalu Kihyun membutuhkan lebih dari yang bisa aku berikan. Aku punya ibu yang harus kurawat. Aku melepaskan Kihyun agar dia bisa bersama orang lain dan bersenang-senang. Aku hanya membebaninya. Persahabatan kami masih berjalan tapi aku sadar bahwa pemuda yang dulu kupikir kucintai hanyalah cinta monyet.

"aku ikut sedih mengenai ibumu," akhirnya Mingyu menjawab. "Pasti sangat berat. Kau bilang ibumu sakit selama tiga tahun? Jadi sejak kau berumur 17?"

Aku mengangguk, tidak yakin dengan apa yang akan aku katakana. Aku tidak menginginkan rasa kasihannya. Hanya tempat untuk tidur.

"kau berencana untu mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal sendiri." Dia tidak bertanya. Dia sedang memikirkan ucapanku. Jadi aku tidak menjawab.

"ruangan dibawah tangga jadi milikmu untuk satu bulan. Seharusnya kau sudah bisa menemukan pekerjaan dan mendapat cukup uang untu menyewa tempat tinggal. Cheongdam-dong tidak terlalu jauh dari sini dan biaya hidup disana lebih murah dari disini. Jika orang tua kita kembali sebelum itu kurasa ayahmu dapat membantumu."

Aku mengeluarkan napas lega, " terimakasih"

Mingyu melirik kembali ke arah dapur yang menuju tempatku tidur. Lalu kembali memusatkan pandangannya kepadaku, "aku harus berangkat ke perusahaan. Semoga beruntung dengan pencarian kerjamu," jawab Mingyu. Dia langsung menyingkir dari ruang makan.

Aku tidak punya bensin tapi aku punya tempat tidur. Aku juga punya 20 ribu won. Aku buru buru ke kemar untuk mengambil tas dan dompetku. Aku harus menemukan pekerjaan secepatnya.