Dating With The Dark

Oleh: (Santhy Agatha)

Copyright © April 2013 by (Santhy Agatha)


Christopher Agnelli as Kim Jongin
Andrea / Helena Alexander as DO Kyungsoo
Eric as Jung Yonghwa
Sharon as Song Minri (OC)

Romeo Marcuss as Kris Wu

Damian Marcuss as Damian Wu


Disclaimer: I'M NOT OWN THIS STORY!

THIS STORY FROM SANTHY AGATHA's NOVEL "Dating With The Dark"

Tidak ada yang dirubah kecuali nama cast dan beberapa nama tempat/kota/Negara

Tidak merubah alur cerita!


.

.

.

DATING WITH THE DARK
(The Dark Partner Series #1)

.

.

"Hadiah untukmu." Yonghwa berdiri lagi di depan pintu masuk rumahnya malamitu. Menunjukkan kantong kertas misterius di tangannya.

Kyungsoo tersenyum lebar, mereka telah begitu sering bertemu beberapa minggu ini, bahkan bisa dibilang hampir dua hari sekali Yonghwa mengantarnya pulang ataupun berkunjung ke rumahnya dan membawakan makan malam untuk dimakanbersama.

"Masakan apa lagi ini?"

Yonghwa mengedipkan sebelah matanya, "Ayo ke dapur."

Lelaki itu memasuki tempat tinggal Kyungsoo dengan santai seakan sedang berada di rumahnya sendiri. Mereka langsung melangkah menuju dapur, dan Kyungsoo menyiapkan piring.

Yonghwa mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam kantong kertas itu, dan menuangkannya dengan hati-hati ke piring.

Mata Kyungsoo membelalak melihat makanan yang dituangkan Yonghwa ke piring. Seekor ikan, ikan yang gemuk dan berdaging dengan saus kemerahan yang menggiurkan melumurinya.

"Ikan apa ini?"

"Kita menyebutnya ikan ekor kuning, dengan saus khusus dari pembuatnya."

"Wow." Kyungsoo mendekatkan dirinya dan langsung mencium aroma yang menggoda di sana, aroma pedas bercampur dengan bumbu dan rempah yang sangat menggoda. "Ikannya besar sekali."

"Ikan jenis ini memang berdaging tebal dan lembut. Ketika digoreng bagian luarnya akan renyah dan bagian dalamnya akan lumer di mulutmu." Yonghwa mengambil garpu, memotong daging ikan itu, kemudian menusukknya dengan garpu,dioleskannya daging ikan itu ke bumbunya yang berlimpah melumurinya, lalu menyorongkan garpunya kepada Kyungsoo, "Ini icipilah."

Sejenak Kyungsoo terpaku. Dia tidak pernah disuapi sebelumnya seingatnya, dan perilaku Yonghwa ini benar-benar menunjukkan keintiman tersendiri kepadanya. Kyungsoo membuka mulutnya malu-malu dan Yonghwa memasukkan ikan itu ke mulutnya.

Ketika merasakan kenikmatan masakan ini yang seakan meledak di mulutnya, Kyungsoo langsung melupakan perasaan malu dan canggungnya. Dia mengunyah, tak bisa berkata-kata dan menatap Yonghwa dalam senyuman,

"Wow... enak sekali." Gumamnya akhirnya, "Astaga enak sekali."

Yonghwa terkekeh, "Aku akan mengajakmu ke tempat penjualnya langsung nanti, kau punya nasi kan, makan yuk."

Kyungsoo mengambilkan Yonghwa nasi dan kemudian mereka makan dengan akrab dimeja makan di dapur Kyungsoo. Ini adalah jenis keintiman baru, keintiman yang baru kali ini berani dilakukan Kyungsoo bersama orang lain. Yonghwa seakan menjadi obat dari seluruh trauma dan ketakutan tidak jelas Kyungsoo, bersama Yonghwa , Kyungsoo merasa menjadi orang normal yang bebas dari rasa takut dan teror yang seolah-olah selalu mengincarnya jauh di kegelapan sana.

"Terimakasih Yonghwa." Kyungsoo bertopang dagu dan tersenyum, menatap Yonghwa yang sedang meneguk air putihnya. Yonghwa meletakkan gelasnya dan tersenyum sambil mengangkat alisnya.

"Untuk apa?"

Pipi Kyungsoo memerah malu-malu, "Karena begitu baik kepadaku."

Yonghwa terkekeh, "Aku senang melakukannya." Lalu tatapan lelaki itu berubah serius, "Kyungsoo, aku..."

Tiba-tiba ponsel lelaki itu berbunyi. Memecah keheningan. Ekspresi Yonghwa tiba-tiba saja berubah keras. Dia melihat ponsel itu kemudian menatap Kyungsoo penuh permintaan maaf,

"Maaf aku harus mengangkatnya."

Lelaki itu beranjak dari tempatnya duduk dan kemudian dengan tergesa melangkah pergi, meninggalkan Kyungsoo yang menatap sambil kebingungan.

Kenapa Yonghwa tidak mengangkat telepon di depannya? Apakah itu sebuah telepon rahasia?

Kyungsoo menghela napas panjang, ... mungkin itu urusan bisnis yang penting.

Sambil beranjak, dia membawa piring-piring kotor ke tempat cuci dan mencucinya. Setelah selesai mencuci dia menunggu, tetapi Yonghwa tak kembali, Kyungsoo melangkah hati-hati ke arah depan pintunya yang sedikit terbuka dan melihat Yonghwa sedang bercakap-cakap serius di telepon sambil mondar-mandir. Ekspresinya tampak muram.

"Aku bisa mengatasi semua, semua di bawah kendaliku." Suara Yonghwa begitu berbeda, dingin dan ketus. Lawan bicaranya tampak menyahut di sana, membuatdahi Yonghwa semakin berkerut.

"Tidak. Aku tidak akan menjauh. Cara ini yang paling bagus untuk semakin mendekatinya. Jadi ketika bahaya itu datang aku berada di tempat yang palingdekat." Yonghwa tampak terdiam. "Berkas tentang apa? Apakah kita melewatkannya? Kenapa kita tidak tahu hal sepenting ini sebelumnya?"

Kyungsoo mengerutkan keningnya, berdiri di balik pintu dan maksud perkataan Yonghwa itu? Adalah hubungannya dengannya? Tetapi Kyungsoo sama sekali tidak bisa menemukan benang merah apapun...

Tiba-tiba Yonghwa melangkah ke arah pintu, masih sambil bercakap-cakap dengan lawan bicaranya. Kyungsoo terloncat dan segera terbirit-birit melangkah menuju dapur, takut ketahuan kalau tadi dia sempat menguping pembicaraan Yonghwa.

Ketika Yonghwa melangkah masuk ke dapur lagi, Kyungsoo berpura-pura mengelap lapisan keramik di sekitar bak cuci piringnya. Dia menoleh ke arah Yonghwa dan tersenyum gugup.

"Sudah selesai menelponnya? Apakah ada masalah?"

Yonghwa menghela napas panjang, "Hanya masalah keluarga. Ada saudaraku yang sakit."

"Oh ya Ampun, lalu bagaimana?" Kyungsoo mengamati ekspresi Yonghwa yang biasa, sepertinya lelaki itu tidak menyadari bahwa Kyungsoo sempat menguping pembicaraanya.

"Aku harus ke luar kota sementara waktu, Kyungsoo. Dan mengambil cuti pekerjaan."

"Oh..." Kyungsoo menatap Yonghwa dengan prihatin, saudara Yonghwa pasti sakit parah, "Berapa lama?"

"Aku tidak tahu Kyungsoo, sampai... sampai semua beres." Tatapan lelaki itu begitu intens menatap Kyungsoo yang berdiri di depannya, "Aku akan sangat merindukanmu ketika jauh darimu."

Pipi Kyungsoo merona mendengar perkataan Yonghwa, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Aku juga."

Yonghwa tersenyum, lalu tanpa diduga lelaki itu meraih Kyungsoo mendekat dan mengecup pipinya lembut.

.

.

.

.

.

Jongin sengaja melakukannya. Memamerkan beberapa kali kemunculannya secara mencolok di luar kota untuk memancing Yonghwa supaya menjauhi Kyungsoo. Yonghwa ternyata memakan umpannya dan mengejar ke sana.

Mereka semua memang bodoh. Jongin mencibir. Karena itulah mereka tidak pernah berhasil menangkapnya.

Lelaki itu menatap jauh ke jendela dan merenung, apakah ini saatnya dia mendekati Kyungsoo?

.

.

.


Bab 3

Kyungsoo berada di sebuah kamar, nuansa kamar itu berwarna keemasan. Sprei sutera yang lembut berwarna putih terasa begitu nikmat membelai kulitnya, dia mendesah dan menggeliat dalam kepuasan, hadiah dari tidurnya yang nyenyak.

Kyungsoo membuka matanya dan merasa bingung, kamar ini bukan kamarnya. Kamar ini begitu indah dengan nuansa putih dan keemasan, dan dia sama sekali tidak mengenalnya...

Dia semakin mengernyit ketika merasakan lengan kekar yang berat, melingkar di pinggangnya,

Lengan seorang lelaki?

Kyungsoo berjingkat hendak duduk, tetapi lengan lelaki itu menahannya. Lembut tetapi dominan.

Sedetik Kyungsoo merasa sangat ketakutan, tetapi lengan itu bergerak naik dan jemarinya membelainya dengan lembut... lembut dan menggoda... salah satu ujung jemari lelaki itu menelusuri permukaan lengan Kyungsoo dengan sentuhan seringan bulu, kemudian kepala lelaki itu menunduk dan menghadiahkan sebuah kecupan di pelipis Kyungsoo.

Kyungsoo mengernyit, berusaha melihat wajah lelaki itu, tetapi suasana kamar yang temaram membuat wajahnya samar-samar. Tiba-tiba saja tubuh lelaki itu sudah menindihnya, dan kemudian dengan gerakan mulus yang menggoda, seolah-olah dia sudah melakukan ratusan kali kepadanya, lelaki itu meluncurkan kejantanannya yang menegang keras dan panas, memasuki diri Kyungsoo.

Kyungsoo terkesiap sekaligus merasakan nikmat yang luar biasa, kenikmatan yang sangat lama dirindukannya, kenikmatan ketika tubuhnya menyatu dengan lelaki itu, merasakan sensasi panas yang nikmat menjalari seluruh tubuhnya, kakinya dengan reflek melingkari pinggul lelaki itu sekuatnya, mendorong lelaki itu membenamkan dirinya semakin dalam ke dalam ke dalam dirinya.

Lelaki itu mengerang, erangan yang dalam dan parau, lalu menggerakkan tubuhnya, membuat Kyungsoo terkesiap lagi ketika kenikmatan yang dalam itu menghujam tubuhnya, gerakan lelaki itu semakin cepat dan semakin menggoda, membuat tubuh Kyungsoo semakin panas dan napasnya terengah.

Ada sesuatu yang akan meledak di dalam tubuhnya, seperti ombak bergulung semakin lama semakin cepat, napas Kyungsoo semakin terngah panas, dan gerakan lelaki itu semakin cepat, semakin intens dan dalam, membawa Kyungsoo semakin cepat menuju pelepasannya.

Kyungsoo mengerang, merasakan kenikmatan itu meledak ke dalam tubuhnya, jemarinya mencengkeram punggung telanjang lelaki itu kuat-kuat. Punggung basah lelaki itu melengkung dibarengi dengan erangan dalamnya, ketika dia menenggelamkan dirinya semakin dalam dan menikmati pelepasannya sendiri, yang terasa begitu panas, menyirami tubuh Kyungsoo, jauh di dalam sana.

Napas mereka terengah-engah. Lelaki itu masih menindih tubuhnya, sementara Kyungsoo masih terbuai oleh sensai nikmat yang melingkupinya, sensasi nikmat setelah orgasmenya yang luar biasa.

Lelaki itu lalu mengecup pelipisnya lagi, kemudian berbisik pelan ditelinganya, bisikan lembut yang seolah-olah dihembuskan dari kegelapan,

"Apakah engkau merindukanku, Kyungsoo?"

.

.

.

.

.

Kyungsoo terkesiap kaget dan langsung terduduk. Dia membuka matanya lebar-lebar dengan napas terengah-engah dan tubuh berkeringat.

Dia berada di kamarnya sendiri, yang gelap dan temaram karena masih dinihari... dan dia sendirian.

Mimpi itu tadi... Kyungsoo menghela napas panjang. Oh Astaga, kenapa dia bermimpi erotis seperti itu? Bercinta dengan lelaki yang tidak dikenalnya...dan sekarang dia merasakan pangkal pahanya lembab dan basah... pipi Kyungsoo terasa panas sehingga dia merasa perlu menekannya dengan jemarinya.

Apakah dia menyimpan pikiran kotor di benaknya? Sehingga tanpa sadar pikiran kotor itu termanifestasi di dalam mimpinya. Oh astaga... Kyungsoo merasa malu sekali.

Tetapi mimpi tadi terasa begitu nyata... dan bahkan masih meninggalkan jejak kenikmatan di dalam dirinya...

Tiba-tiba Kyungsoo merasa haus, dia melangkah berdiri dan berjalan dengan hati-hati ke dapur, mengambil segelas air dari dispenser dan menegukkanya dengan rakus. Tubuhnya masih terasa menggelenyar, tak tahu kenapa.

Suara lelaki itu masih membayang jelas dalam mimpinya, serak dan menggoda dengan logat yang aneh dan khas...

Ya ampun, Kyungsoo harus membuang pikiran-pikiran itu. Mungkin ini hanyalah manifestasi dari alam bawah sadarnya yang merindukan romansa.

Kyungsoo mengisi gelasnya lagi kemudian meneguknya sampai habis, setelah itu dia termenung dalam kegelapan..

.

.

.

.

.

Ketika sedang jam istirahat di kantor, Kyungsoo membuka-buka beberapa Artikel menyangkut mimpi erotis yang dialami wanita. Ada sebuah artikel yang menarik perhatiannya. Bahwa kadangkala perempuan juga mengalami mimpi eroti sakibat dorongan alam bawah sadarnya, hampir sama seperti mimpi basah pada laki-laki, hanya kalau mimpi basah pada laki-laki diakibatkan oleh pembuangan secara otomatis jumlah sperma yang seharusnya memang dikeluarkan secara berkala, mimpi erotis pada perempuan diakibatkan oleh pelepasan ketegangan seksual yang lama tak tersalurkan.

Kyungsoo mengernyit dan membaca artikel itu semakin dalam.

===Pernahkah anda mengalami mimpi erotis? Para psikoanalisa percaya bahwa mimpi erotis itu sesungguhnya adalah refleksi dari apa yang kita kagumi dan kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan ketika kita merasa suka atau rindu kepada seseorang, maka otomatis orang itu akan hadir dalam mimpi kita mengalami mimpi erotis maka imajinasi kita sedang terstimulasi, atau menurut Sigmund Freud, otak kita sedang menciptakan skenario untuk memuaskan hasrat dan gairah bawah sadar. Jika mimpi erotis anda melibatkan penetrasi seksual, itu berarti dalam kehidupan nyata anda kurang mengalaminya atau libido anda kurang mendapatkan pelampiasan. Pada kebanyakan kasus, mimpierotis adalah hal yang alami, bahkan perlu untuk memenuhi kebutuhan psikologis sebagai manusia.===

Kyungsoo menghela napas panjang dan mengulang membaca baris demi baris. Pipinya memerah ketika memahami bahwa mimpi erotisnya kemungkinan karena libidonya kurang mendapatkan pelampiasan... astaga... apakah dia mempunyai gairah yang tinggi tanpa sadar?

Selama ini seks tidak pernah menjadi hal penting dalam kehidupan Kyungsoo, dia terlalu sibuk untuk memikirkan seks, karena itulah mimpinya yang semalam terasa aneh baginya, begitu jelas, begitu eksplisit. Lagipula kenapa dia bermimpi bercinta dengan pria asing? Di artikel itu dikatakan kalau biasanya mimpi kita menyangkut orang yang kita sukai atau orang yang kita rindukan. Bukankah kalau dia memang akan bermimpi erotis partnernya adalah Yonghwa?

Pipi Kyungsoo langsung memerah dan terasa panas, dia merindukan Yonghwa...lelaki itu sudah keluar kota dari dua hari yang lalu dan jarang memberikan kabar, Kyungsoo menahan diri untuk tidak menghubungi ponsel Yonghwa terus menerus... tetapi memang kadangkala dia bertanya-tanya bagaimana kabar Yonghwa, bagaimana kabar saudaranya yang sedang sakit itu, dan kenapa Yonghwa jarang menghubunginya...

Sebuah tepukan di bahunya membuatnya menoleh dan tersenyum, Minri berdiri di belakangnya sambil mengangkat alis melihat layar komputer Kyungsoo,

"Mimpi erotis?" suaranya tampak menahan tawa hingga Kyungsoo setengah membalikkan tubuhnya dan memukul lengan sahabatnya itu supaya tidak menarik perhatian. Dengan malu Kyungsoo menutup halaman artikel itu dan menyiapkan diri, Minri pasti akan banyak bertanya. Sahabatnya itu tak akan puas kalau belum mengejar informasi tentang hal yang sekecil-kecilnya.

"Kau bermimpi erotis?" Minri menarik kursi beroda dari meja sebelah yang kosong, saat ini jam istirahat dan banyak yang makan di luar sehingga suasana lengang. Syukurlah. Kalau tidak Kyungsoo akan merasa sangat malu ketika Minri memekikkan kata 'mimpi erotis' tadi.

Kyungsoo menatap Minri dengan pipi merona, "Aku tidak pernah mengalaminya sebelumnya." Bisiknya pelan.

Minri terkekeh, "Jangan bersikap seolah-olah itu dosa besar Kyungsoo, wanita normal boleh-boleh saja mengalami mimpi erotis."

"Tetapi aku tidak pernah berpikiran jorok sebelumnya, dan aku bermimpi dengan orang asing..."

"Kadang aku juga bermimpi berpasangan dengan artis-artis bule yang kekar dan tampan." Minri memutar bola matanya, "Mimpi itu adalah kebebasan imaginasi, kita tidak bisa mengaturnya Kyungsoo."

"Kau mengalaminya juga?" Kyungsoo menatap Minri penuh ingin tahu, membuat Minri tertawa.

"Kadang-kadang." Gumamnya sambil mengedipkan mata, membuat Kyungsoo makin penasaran.

Kyungsoo membuka mulutnya untuk bertanya lagi, tetapi ekspresi Minri berubah serius dan mengalihkan pembicaraan,

"Apakah kau tahu tentang bos besar yang akan datang?"

"Bos besar?" kali ini Kyungsoo merasa bingung, dia sama sekali tidak pernah tahu informasi ini.

"Memang tidak disebarkan, aku tahu ketika mendampingi pak Jimmy meeting bersama direksi kemarin, mereka membahas akan kedatangan bos baru dari kantor pusat untuk meninjau selama beberapa waktu."

Perusahan mereka adalah perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Jerman. Salah satu pemegang saham terbesar adalah pemegang tertinggi perusahaan dari Cina dari keluarga Wu. Dan perusahaan tempat Kyungsoo bekerja adalah kantor cabang yang berlokasi di luar kota.

Kyungsoo pernah mendengar kalau Damian Wu, seorang pengusaha yang sangat disegani karena naluri bisnisnya yang selalu membawanya dalam kesuksesan, adalah orang nomor satu di perusahaan mereka di Cina.

"Apakah Damian Wu yang terkenal itu yang akan datang?" Hati Kyungsoo berdegup kencang, meskipun lelaki itu adalah bos tempat di perusahaan tempat dia bekerja, tetapi Kyungsoo tidak pernah melihatnya secara langsung, dia hanya pernah melihatnya di artikel-artikel bisnis, yang menceritakan betapa jeniusnya Damian Wu, dan dalam fotonya dia tampak sangat tampan meskipun usianya sudah setengah baya. Kyungsoo mengagumi Damian Wu apalagi dari artikel yang dibacanya, dia tahu bahwa lelaki itu adalah seorang family man, yang sangat setia kepada keluarganya.

Tetapi ternyata Minri menggelengkan kepalanya, "Bukan sang ayah yang akan datang, tetapi sang anak."

"Sang anak?" Kyungsoo mengernyitkan keningnya.

"Ayolah Kyungsoo, masak kau tidak pernah mendengar tentang Kris Wu?"

Kris Wu. Sang pangeran dalam dinasti keluarga yang terkenal itu. Kyungsoo tahu, bahwa lelaki itu digambarkan sangat tampan seperti malaikat. Tetapi sepertinya sikapnya tidak setampan wajahnya. Lelaki itu dalam semua artikel digambarkan sangat kejam, keras kepala dan angkuh luar biasa, jauh sekali dari ayahnya yang terkesan bijaksana.

"Aku harus ke salon dan meng highlight rambutku." Minri menepuk-nepuk rambutnya sambil tertawa, "Bayangkan bos yang setampan itu mengunjungi kantor cabang kita."

Kyungsoo tersenyum miris, "Kudengar dia seorang playboy."

"Tentu saja. Lelaki setampan itu haruslah menjadi playboy." Minri terkekeh geli, "Meskipun aku kurang yakin dia akan melirik pegawai-pegawai seperti kita mengingat pergaulannya di kalangan jet set. Tetapi setidaknya aku akan berusaha." Minri bergumam ringan lalu berdiri dari kursi putarnya, "Makan yuk, jam istirahat sudah hampir habis, aku lapar."

Kyungsoo menganggukkan kepalanya, mengikuti langkah Minri menju kantin kantor.

.

.

.

.

.

Ternyata malam ini Kyungsoo harus lembur. Dia menghela napas panjang sambil berkali-kali menengok ke arah kiri, tempat dimana bus yang ditunggunya seharusnya muncul. Seharusnya bus itu sudah datang setengah jam yang lalu. Tetapi ini sudah hampir jam sepuluh malam dan bus itu belum tampak juga.

Suasana di halte bus itu gelap dan menakutkan, membuat Kyungsoo merasa tidak nyaman. Dia memeluk tubuhnya sendiri ketika hawa dingin menerpanya, membuat bulu kuduknya merinding. Udara semakin dingin ketika rintik-rintik hujan mulai turun. Membuat Kyungsoo semakin cemas. Dia bisa saja menunggu taxi. Tetapi bahkan di malam yang senyap ini tidak ada taxi lewat, sementara pengendara kendaraan hanya lalu lalang dengan jarang, sepertinya malam yang dingin dan hujan rintik-rintik membuat orang malas keluar rumah.

Lalu dari sudut matanya Kyungsoo menangkap segerombolan orang berjalan kearahnya, ketika semakin dekat, Kyungsoo cemas karena itu adalah segerombolan pemuda dengan dandanan tidak jelas, tindik di sana sini dan tato yang menghiasi bagian-bagian tubuh. Kyungsoo beringsut mulai merasa tidak nyaman.

Dia hendak melangkah pergi ketika seorang lelaki dari gerombolan itu menyadari apa yang akan dia lakukan dan tiba-tiba memutuskan menghalangi jalannya. Kyungsoo di hadang dari semua sisi, membuatnya bersikap defensif dengan memeluk tasnya di dadanya,

"Mau kemana nona malam-malam begini?" lelaki dengan tindik di hidungnya itu menatapnya dengan tatapan melecehkan, "Kau tidak mau menemani kami dulu?"

Kyungsoo memelototkan matanya, berusaha tampak galak dan marah, dia hendak melangkah maju, tetapi lelaki itu menghalangi semua jalannya sambil tersenyum melecehkan. Teman-temannya di belakang Kyungsoo tampak terkekeh menertawakan.

Kyungsoo merasa takut, panik dan takut, gerombolan lelaki itu ada kira-kira tujuh orang. Suasana sangat sepi dan lalu lalang kendaraan sangat jarang, kepada siapa dia bisa meminta tolong? Lagipula semua lelaki ini tampak jahat, bahkan ada beberapa yang menatap bagian-bagian tubuhnya dengan nafsu yang tidak disembunyikan.

"Nah Nona... lagipula kau kan tidak bisa kemana-mana, ayo kau temani kami saja." Lelaki yang sepertinya pemimpin gerombolan itu tiba-tiba mencekal tangannya dengan kasar, membuat Kyungsoo menjerit dan berusaha melepaskan cekalan tangan itu.

Semuanya tertawa melihat tingkah dan jeritan Kyungsoo, seolah-olah menikmati melihat wanita meronta dan ketakutan.

"Lepaskan dia."

Sebuah suara dingin yang begitu tenang tiba-tiba saja terhembus dari kegelapan. Nadanya begitu intens dan mengancam, sehingga sang pemimpin gerombolan yang sedang mencekal tangan Kyungsoo tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Mereka semua menoleh, begitupun Kyungsoo , dan menemukan seorang lelaki bertubuh tinggi memakai mantel hitam yang membungkus tubuhnya, membuat kesan angkernya makin terasa, wajah lelaki itu tidak jelas karena tertutup bayang-bayang kegelapan dari pohon besar di samping dia berdiri.

"Bung! Carilah mangsa sendiri, jangan ambil gadis kami, kami yang menemukannya duluan." Lelaki pemimpin gerombolan itu rupanya memutuskan untuk menantang. Membuat Lelaki misterius bermantel hitam itu melangkah maju dan ketika mendekat, ekspresi wajahnya yang kejam rupanya berhasil membuat lelaki pemimpin gerombolan itu kecil hati karena pegangannya di lengan Kyungsoo agak mengendor.

"Lepaskan tangan kotormu dari perempuanku." Lelaki misterius bermantel hitam itu bahkan tidak membentak, dia hanya mendesis pelan dan penuh bahkan Kyungsoo yang bukan menjadi pusat ancaman lelaki itu merasa merinding ketakutan.

Demikian halnya pula dengan lelaki pemimpin gerombolan itu dan teman-temannya. Pada awalnya sepertinya dia memutuskan untuk melawan, tetapi entah kenapa kemudian dia memutuskan untuk menyerah, dilepaskannya cengkeraman tangannya di lengan Kyungsoo dengan kasar,

"Silahkan ambil kalau kau mau!" serunya kasar, lalu terbirit-birit melangkah pergi diikuti oleh gerombolannya.

Kyungsoo menarik napas lega melihat gerombolan itu menjauh, dia memijit pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram dengan kasar, rasanya sakit dan sepertinya akan memar.

"Kau tidak apa-apa?" Nada suara lelaki itu tenang, membuat Kyungsoo mendongakkan kepalanya seketika dan langsung bertatapan dengan mata cokelat yang gelap dan dalam. Lelaki di depannya sangat tampan dan jelas-jelas bukan orang sini, tetapi dia sangat fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa sini, hanya menyisakan sedikit logat yang malahan menimbulkan kesan misterius yang seksi.

Seksi? Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, ada apa dengan otaknya. Kenapa satu hari ini dia selalu menghubungkan segalanya dengan hal-hal mesum? Tetapi dia teringat apa yang dikatakan lelaki itu, dia tadi menyebut Kyungsoo sebagai 'perempuanku' sungguh kata-kata yang menyiratkan arti dominan dan kepemilikan seorang lelaki, dan itu terasa sangat seksi ketika diucapkan. Kyungsoo menghela napas panjang, tentu saja Kyungsoo tahu bahwa lelaki itu tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya, mungkin lelaki itu hanya ingin menegaskan maksudnya dan menggertak pemimpin gerombolan itu.

"Saya tidak apa-apa, terimakasih." Kyungsoo memutuskan bahwa lelaki ini bukan lelaki jahat, dia tidak berusaha mendekati Kyungsoo dan hanya menatapnya dari sudut yang agak jauh, "Kalau tidak ada anda yang membantu saya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada saya tadi."

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Bukankah cukup berbahaya berdiri sendirian di sini saat sudah larut malam?"

Kyungsoo tersenyum menyesal, "Ada pekerjaan lembur di kantor yang memaksa saya pulang paling malam dibandingkan yang lain... bus yang saya naiki biasanya sudah muncul beberapa waktu lalu, tetapi entah kenapa bus itu tidak datang...mungkin saya sekarang akan naik taxi."

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Pastikan kau menaiki taxi yang aman." Dia lalu berdiri sejajar dengan Kyungsoo, "Aku akan menunggu di sini sampai kau mendapat taxi."

"Oh." Kyungsoo menatap lelaki itu dengan terkejut, meski ada kelegaan yang tidak bisa ditekannya ketika mengetahui lelaki itu akan menungguinya. Setidaknya dia bisa menunggu taxi dengan rasa aman dan tidak was-was kalau lelaki itu berdiri di sebelahnya. "Anda tidak perlu melakukan itu, mungkin ada keperluan lain yang lebih penting yang harus anda lakukan." Gumam Kyungsoo berbasa basi.

Lelaki itu menampakkan senyum tipis di kegelapan, "Tidak ada kegiatan lain yang lebih penting yang perlu kulakukan."

"Oh." Kyungsoo terdiam, kehabisan kata-kata, "Kalau begitu terimakasih."

"Sama-sama." Jawab lelaki itu datar, dan entah kenapa ada senyum tersembunyi di sana.

Mereka berdua berdiri dalam keheningan... entah berapa lama karena tidak ada taxi yang lewat. Rintik-rintik hujan semakin besar menerpa mereka, membuat mereka memundurkan langkahnya ke dalam naungan atap halte, mencoba melindungi kepala mereka, meskipun tubuh mereka tetap saja terkena terpaan air hujan. Kyungsoo memeluk tubuhnya lagi dengan lengannya untuk melindunginya dari udara dingin yang menggigit, dan lelaki itu sepertinya menyadari kedinginan Kyungsoo, karena tiba-tiba dia melepaskan mantel hitamnya yang tebal dan meletakkannya dengan lembut di bahu Kyungsoo,

"Ini akan membuatmu hangat." Gumam lelaki itu lembut.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya, menatap mata lelaki itu, "Tapi kau akan kebasahan dan kedinginan."

"Aku seorang laki-laki, aku lebih kuat." Lelaki itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, menciptakan perpaduan wajah yang sangat mempesona. Kyungsoo baru menyadari betapa tampannya lelaki yang berdiri di sebelahnya ini, tulang rahangnya kokoh dan keras, dengan bibir tipis yang sedikit lancip di ujungnya, dan matanya tampak begitu tajam dan gelap, dilindungi oleh bulu mata panjang yang tak kalah gelap.

"Terimakasih." Bisik Kyungsoo kemudian, tidak tahu lagi harus mengucapkan apa. Dia melihat lelaki itu menganggukkan kepalanya sambil lalu.

Dan kemudian mereka berdiri dalam keheningan lagi, dengan rintik hujan yang semakin deras menerpa mereka, tetapi kali ini ada kehangatan beraroma kayu-kayuan dan musk yang samar-samar... sepertinya berasal dari parfum lelaki itu.

Lalu di ujung jalan sana, seperti kedatangan penyelamat, taxi berwarna biru itu tiba-tiba muncul, Kyungsoo langsung melambaikan tangannya dengan penuh semangat sehingga taxi itu menepi di depannya, dia mendongak dengan penuh syukur kepada penolongnya yang misterius,

"Terimakasih." Bisiknya pelan penuh perasaan.

Lelaki itu mengangguk, membukakan pintu taxi untuk Kyungsoo, dan menunggu Kyungsoo melangkah masuk dan duduk di dalam taxi.

"Hati-hati." Bisik lelaki itu dengan suara dalam, lalu menutup pintu Taxi itu. Kyungsoo masih menoleh kebelakang, melihat lelaki itu masih berdiri dihalte itu, dengan latar belakang kegelapan, sampai kemudian lelaki itu hilang dari pandangan

Dan kemudian Kyungsoo menyadari bahwa dia masih mengenakan mantel hitam lelaki itu.

.

.

.

.

.

Ketika Kyungsoo sampai ke rumah, hujan telah turun dengan derasnya menghujam bumi dengan suara keras dan hempasan air yang bertalian dengan angin. Taxi itu berhenti di depan rumahnya, dan setelah membayar, Kyungsoo berlari-lari kecil menembus hujan menuju teras rumahnya. Seluruh kepalanya basah kuyup, tetapi tubuhnya terlindung oleh mantel tebal penolong misteriusnya tadi sehingga bisa tetap kering... meskipun mantel itu sekarang basah kuyup dan menetes-neteskan air ke lantai terasnya.

Kyungsoo mengibaskan rambutnya yang basah dan berusaha mencari kunci rumahnya, dia ingin cepat masuk dan mengeringkan diri, mungkin sambil membuat secangkir susu cokelat hangat untuk diminum. Sebenarnya Kyungsoo lebih memilih secangkir kopi, tetapi kopi membuatnya tidak bisa tidur, sementara Kyungsoo harus tidur cukup malam ini.

Dia membuka pintu dan melangkah masuk, kemudian mengunci pintu di belakangnya. Dilepaskannya mantel yang sekarang berat dan basah karena hujan itu dan dipeluknya, aroma kayu-kayuan dan musk masih melingkupinya, membuatnya merasa nyaman.

Kyungsoo berjalan ke arah dapur dan meletakkan mantel itu ke cucian. Dan kemudian dia menyadari bahwa dia tidak tahu apapun tentang penolong misteriusnya itu, bahkan namanya saja dia tidak tahu. Lalu bagaimana dia akan mengembalikan mantel ini? Mantel ini kelihatannya sangat mahal dan dijahit khusus. Kyungsoo memang kurang mengerti merek pakaian laki-laki, tetapi dari sentuhan bahannya dan jahitannya, kelihatan sekali kalau mantel ini sangat mahal. Dan sekarang Kyungsoo tidak bisa mengembalikan mantel itu.

Kyungsoo merenung, lalu mulai begidik kedinginan hingga dia memutuskan untuk melupakan dulu masalah mantel itu, akan dia pikirkan nanti. Diambilnya handuk yang tersampir di sana, dan digosokkannya ke rambutnya yang basah. Mandi pancuran air hangat terasa sangat menggoda.

Kyungsoo melepaskan semua pakaiannya, membiarkan semuanya jatuh ke lantai, dan melangkah telanjang ke arah kamar mandinya dengan pancuran air hangatnya.

Pertama kali air hangat itu terasa menyengat di tubuhnya yang menggigil kedinginan, tetapi kemudian setiap kucurannya seperti memijat tubuhnya, membuat otot-ototnya terasa lemas. Tak lupa Kyungsoo mencuci pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh pemimpin gerombolan tadi. Dia mengamati lengannya dan menemukan bekas merah di sana, sedikit perih, tetapi semoga saja tidak menjadi memar. Kalau sampai terjadi memar, Kyungsoo harus menyiapkan baju lengan panjang untuk bekerja besok supaya memar itu tidak terlihat oleh orang lain.

Selesai mandi, Kyungsoo mengenakan gaun tidurnya yang tersampir di lemari baju di luar kamar mandi. Gaun tidur itu bukan gaun tidur yang seksi, terbuat dari bahan katun yang nyaman berwarna hijau muda, dengan gambar bunga-bunga kecil di sakunya yang ada di bagian depan baju. Gaun tidur Kyungsoo tidak ada yang seksi, toh memang tidak ada perlunya berpenampilan seksi sebelum tidur karena Kyungsoo memang selalu tidur sendirian.

Kyungsoo menguap menahan kantuk, tetapi tetap memutuskan untuk membuat secangkir susu cokelat hangat supaya perutnya tenang. Dia tidak sempat makan malam lagi, dan ini sudah terlalu larut untuk makan apapun. Secangkir susu cokelat hangat pastilah cukup.

Ketika cangkir berisi susu hangat itu sudah jadi, Kyungsoo duduk di meja dapur dan meneguknya, dia merasa sangat mengantuk. Sangat mengantuk dan lelah. Kyungsoo menguap lagi, dan merebahkan kepalanya di atas meja dapur. Lalu dia tertidur.

.

.

.

.

.

Jongin memutuskan untuk menarik kursi dan duduk diam mengawasi. Dia sekarang berada di dapur di dalam rumah Kyungsoo yang bisa dia masuki dengan mudahnya.

Tadi dia mengira Kyungsoo sedang tidur pulas di kamarnya, tak disangkanya perempuan itu malahan tertidur dengan posisi tidak nyaman di meja makan dapurnya dengan kepala tertelungkup di sana.

Jongin mengamati sejenak dan cukup yakin kalau Kyungsoo tidak akan terbangun karena tampaknya tidurnya sangat lelap. Dia kemudian duduk dan mengamati Kyungsoo, dalam cahaya lampu dapur yang remang-remang.

Tidak bisa menahan dirinya, jemarinya menyentuh untaian rambut Kyungsoo yang halus, dan kemudian menundukkan kepalanya untuk menghirup aromanya, aroma shampoo strawberry di rambut yang masih setengah basah itu.

Jongin tadi mengikuti taxi Kyungsoo pulang, menyuruh supirnya menunggu di sudut jalan ke rumah mungil Kyungsoo sementara dia duduk diam di jok belakang dan menanti. Ketika dia yakin bahwa Kyungsoo sudah tidur, Jongin menyelinap masuk, sebenarnya ingin meninggalkan pesan yang sama untuk Kyungsoo dimeja dapurnya... sembilan buah lilin berwarna biru dengan cahaya remang-remang yang menyiratkan pesan penuh arti, dan dia lalu akan mengambil Kyungsoo, dengan tenang dan cepat seperti biasanya ketika dia melakukannya kepada yang lain.

Tetapi dia kemudian mengurungkan niatnya demi menatap Kyungsoo yang terpejam dalam damai.

Bukan sekarang waktunya. Jongin menyimpulkan dalam hati. Gadis ini mungkin pantas menikmati hidupnya lebih lama... hidup yang diciptakan untuknya dalam drama penuh kebahagiaan dan mimpi bagi seorang perempuan.

Jongin berdiri, lalu mengangkat tubuh Kyungsoo, yang lunglai karena pulasnya tidurnya, dan membawanya ke kamar. Dibaringkannya tubuh Kyungsoo dengan lembut ke atas ranjang, layaknya seorang pangeran dalam adegan-adegan romantis puteri raja. Setelah itu diselimutinya tubuh Kyungsoo, perempuan itu menggeliat sedikit, lalu setelah menemukan posisi yang nyaman, dia berbaring dengan tenang. Semakin terlelap dalam tidurnya.

Jongin berdiri di sana dan mengamati. Dorongan untuk mengambil Kyungsoo terasa begitu kuat dan menyiksanya. Menyisakan kepahitan kental yang mendera jiwanya. Tetapi dia menahan diri. Demi Kyungsoo, agar perempuan itu bisa menikmati hidupnya sedikit lebih lama lagi, sebelum Jongin memecahkannya menjadi hancur dan berkeping-keping.

.

.

...

To Be Continue~

.

.


Annyeong~ Taenoona imnida...bukan seorang author dan bukan seorang penulis. Hanya seseorang yg ingin berbagi sesuatu yg pernah dibaca :)

ps: jangan panggil author or admin.. just call me Taenoo ^^

Aku ga tau novel ini ada di toko buku atau ngga -_- aku dapatnya dari wattpad dan facebooknya kak Santhy Agatha :D coba aja cari di toko buku kalo novelnya ada, kalian bisa beli dan baca novel super keren ini :)

Terimakasih untuk siapapun yg dgn senang hati-tanpa paksaan bersedia memberikan review, follow dan favorite ff remake ini :)