Love Sick
Ini fanfiction adaptasi dari drama Thailand dengan judul yang sama, saya bercerita dengan lattar belakang drama tersebut. Hanya setting di pindah ke Seoul, dan nama cast saya ubah. Dari keseluruhan cerita saya menambahkan beberapa plot karya imajinasi saya.
Please, if you don't like this don't read.
Plot is not mine, just part of this plot is mine.
This story maybe need more time to finish.
Cast is not mine!
BAGIAN 3
"Biarkan Mengalir"
"Yoongi-Oppa, ini siapa?"
Suara itu membuatku merinding bukan kepalang. Tentu saja aku mengenalinya. Aku tahu pasti siapa gadis ini, dengan mukanya yang polos dan kelicikannya yang tersembunyi dalam matanya, nampak bingung berdiri di belakang Yoongi.
Itu dia! Yeri, adik perempuan Yoongi.
Rasanya terlambat, sia sia jika meminta sinyal untuk minta tolong?!
Aku terkejut karena melihat gadis imut ini bagai melihat setan. (Tapi sejujurnya, setan pun lebih baik kalau dalam situasi saat ini.) Sementara itu, nampaknya Yoongi berhasil mengendalikan situasinya. Dia cuma mengambil satu napas dalam-dalam sebelum balik badan dan memberikan senyuman ke adik perempuannya.
Yoongi sialan! Bagaimana bisa dia pura pura bahagia di depan adiknya ini, sedangkan aku berusaha keras tidak menjerit karena melihat topic pembicaraan kami beberapa menit yang lalu.
"tadi kau bilang ingin tidur?" Aku mengernyit saat suara lembutnya Yoongi menyapa adiknya. Pantas, tidak heran kalau gadis-gadis di sekolah khusus perempuan itu, mati kutu terhadapnya. Pikiran itu menyeruak masuk kedalam otak saat aku mengangkat alis mataku pas dia menepuk lembut kepala adiknya yang baru berumur 14 tahun itu. Yoongi memang kakak yang baik. Entah kenapa, gambaran keadaan ini membuatku sedikit santai. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa.
"Aku tidak bisa tidur, jadi aku turun kesini untuk menunggu Ayah pulang. Tapi kemudian ada kalian." Si kecil pembawa masalah itu menjawab namun terus menatapku dari tadi. Tentu, aku terlihat familiar bukan? (Terakhir kali aku melihatnya yaitu saat kompetisi sepak bola tahun lalu. Yeri datang untuk menemui Yoongi, Yoongi sedang mengurusi barang-barang. Sementara itu, aku sedang beraktivitas dengan klub musikku. Aku sendiri yang memanggil Yoongi untuk Yeri)
Aku tersenyum lebar dan ramah, sampai berhasil menunjukkan ke-32 buah gigiku. (Aku sempat berpikir akan menyobek gusiku) Aku melihat Yoongi berbalik kearahku dan dia ikut-ikutan tersenyum. Rasa dingin langsung menjalar keseluruh tubuhku.
"Oh, ini… 'teman'-ku dating mampir sebentar." Dia berbalik lagi ke Yeri. Kenapa kata teman-nya di perjelas begitu? (Bahkan sampai pelan-pelan menyebutnya)
"Teman?" Aku bisa melihat tatapan nakal di matanya Yeri. Semua rasanya mulai serba salah sekarang bagiku. Apakah dua bersaudara ini sedang menjahili ku habis habisan?!
"Sebenarnya…" Yoongi bicara saat menoleh ke Yeri, tapi tetap mencuri pandang kearahku disaat bersamaan. Nampaknya dia sama sekali tidak peduli dengan tatapanku yang sedang panik,
"Kau bilang ingin bertemu dengan Jimin, jadi aku minta dia datang kesini." Aku menatap Yoongi dengan segala umpatan di dalam hati, Sialan!
"Aku ingin bertemu Jimin?"
"Kau bilang kan… kalau ingin bertemu dengan pacarku, kan?"
Sejak kapan aku setuju dengan semua ini!?
Apakah aku emang amnesia atau kamu cuma mengada-ada saat ini!?
Aku sudah mau berdiri dan memukul kepalanya, tapi dia menarik dan menggenggam lembut tanganku sebelum aku bisa melakukannya.
Jadi inilah takdir hidupku…?
Akhirnya aku terpaksa masuk ke dalam rumah keluarga Min. Awalnya aku memberontak, menolak dengan keras kepala dan berbagai alasan tetapi dua bersaudara ini sama-samamenyebalkannya. Sekalinya Yeri tahu kalau aku bakal jadi kakak iparnya (mungkin) dia memaksa kakaknya untuk mengambil segelas air untukku. Kalau Yoongi, dia selalu mendukung adiknya. Yoongi juga bilang kalau diluar nanti digigit nyamuk. Awalnya kupikir akan lebih sederhana, kalau Yoongi membiarkan ku kembali ke rumah dengan tenang.
Seperti biasa, aku akan selalu kalah jika beradu argument. Ada pepatah "Mulutmu tenggelam, kangkungnya hanyut terbawa air.*" Sekarang Aku akhirnya paham apa artinya pepatah itu. Dan berakhirlah aku duduk manis di sofa ruang keluarga Min. Sementara itu, Yeri duduk di sofa lain didekat kami. Kalau Yoongi… dia duduk dekat sekali denganku, sampai bisa dibilang dia memangkuku.
"Kau kenapa? Di sana masih banyak ruang, jangan mendekat! Lama lama suhu panas" Aku berbisik ke Yoongi agar Yeri yang sedang melihat Drama Barat tidak mendengarnya. Si bajingan ini memandangku sambil memasang mimik muka mengejek.
"Kau kepanasan? Tunggu aku turunkan suhu AC nya."
"Sial! Aku sudah baik baik saja, tak perlu! Bisa kau minggir ke sana?" Kenapa Yoongi tak bisa berfikir dengan jernih sekarang!
Malah dia memberi senyuman licik. "Mana bisa aku minggir? Kita harus 'meyakinkan', Jimin." Meyakinkan bagaimana! Dia yang selalu melakukan segalanya diluar kehendakku. DIa yag menuai, dia juga yang akan memetik.
"Kau bicara apa? Geser ke kanan, tolong" Aku mulai sedikit naik darah kepadanya. Aku pantang menyerah agar dia mau memberikan jarak dariku. Dia mendengar dan nampaknya kali ini dia mau memenuhi keinginanku.
Aku menghela napas keras-keras karena akhirnya Yoongi mau bergeser sedikit Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena Yoongi memutuskan untuk mencondongkan badannya ke arahku dan menaruh lengannya di pundakku.
Dia benar benar serius sekarang!
Aku sadar sekarang Yeri mengamati kami. Matanya bersinar namun ada yang aneh tentang pancaran itu. Nampaknya saat ini dia dipenuhi dengan kehangatan dan kebahagiaan, tapi aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya. Tapi apapun itu, tanganku sekarang merinding.
Tolonglah Yeri, tonton televisinya saja.
"Jimin-ssi Ini sudah terlalu malam. Gimana cara kau pulang?" Yeri meluncurkan pertanyaan jam tanganku dan sadar sebenarnya ini memang sudah terlalu malam. Saatnya kabur dari neraka ini.
"Aku naik sepeda motor ke sini. Mungkin aku harus pulang sekarang Bye Yoongi." Aku berbalik sambil melambaikan tangan ke kakak dari pembuat-masalah-itu yang juga akan berdiri untuk mengantarkan aku ke gerbang rumah. Tapi nampaknya si adik pembuat masalah itu tidak rela melepaskanku dan membiarkanku bereingkarnasi dengan mudah dari sini.
" Oppa! kau tega membiarkan Jimin-ssi pulang selarut ini sih? Kalau ada apa-apa jalan, dia sendirian kan? Siapa yang mau tanggung jawab."
'Apa-apaan!? Aku 17 tahun! Aku bisa jaga diri juga, Yeri!' aku protes, tapi tak dapat ku keluarkan secara langsung.
"Eh…"
"Jimin-ssi, menginap disini saja? Kau bisa tidur berdua dengan Yoongi Oppa di kamarnya. Kau tidak boleh pergi malam ini, bahaya sekali diluar." Yeri menahan ku pergi dengan mengayun ngayun lenganku seperti anak kucing. Bibir kecil itu terus-terusan bergerak dan nampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
"Yoongi Oppa!, kau tidak bisa seenaknya bilang ke aku kalau udah punya pacar dan minta tolong berbicara kepada Ayah. Kalau kau tidak menjaga Jimin-ssi, aku tidak akan membantu Oppa!" Apaaan! Aku bisa gila dalam beberapa jam!
"Em, Jimin, kupikir tak ada salahnya kau menginap disini malam ini. Kalau kau pulang sekarang mungkin bahaya." Yoongi berkata dengan cekikikan.
"Mana mungkin? Besok kami sekolah. Aku tidak membawa seragam ganti."
"Kamu bisa pakai punya Yoongi , Jimin-ssi."
"Nama bedge nya pasti beda, dan itu pasti jadi masalah di sekolah besok." Aku sedikit tersenyum penuh kemenenangan sebelum Yoongi..
"Keamanan sisw jarang memeriksa hal semacam itu. Dan kalau memang besok ditanya, bilang aja kemarin kau menginap di rumahku, jadi kau terpaksa pinjam seragamku." Yoongi benar benar tak membantu.
Aku tersentuh!
"…" Lidahku kelu saat ini. Aku akan diam saja. Aku tidak punya bahan sangkalan yang tersisa saat ini untuk melawan mereka.
"Kalian naik dan mandi. Kalian berdua. Dan aku akan mencoba berbicara dengan Ayah tentang itu nanti, Oppa." Yeri memberi tahu sambil mendorong punggung kami, memaksa untuk segera beranjak dari ruang keluarga sehingga kami bisa pergi menuju ke kamar Yoongi. Mata Yoongi berbinar ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh adiknya. Sementara itu, Aku benar-benar tertekan mengenai semua ini.
Apa maksud adiknya dengan kata 'mencoba'? Sampai kapan aku harus terjebak dalam situasi semacam ini?!
"Jangan khawatir dengan uang untuk klubmu. Aku akan menanganinya untukmu." Yoongi berbisik kepadaku. Aku hampir lupa tentang hal itu.
Tapi, apakah hal itu pantas diperjuangkan sekarang?
Aku datang ke sekolah dengan keadaan super berantakan. Aku kurang tidur dan aku tak paham dengan tingkah kedua bersaudara itu.
Bagaimana caranya aku bisa tidur dengan nyenyak jika disebelahku ada Yoongi!? Kita saling kenal satu sama lain, tapi juga tidak terlalu akrab. hanya sekedar tahu satu sama lain, yang kadang kala berpapasan di jalan.
Maka, bagaimana mungkin aku nyaman berbagi kasur dengannya? Tempat terdalam yang pernah aku masuki dulu, hanya tamannya saja dan itu dua tahun yang lalu, Jadi kalau tiba-tiba hubungan kami jadi semacam ini, apalagi kami menghabiskan malam hanya berdua. Semuanya terjadi terlalu cepat. Ditambah lagi, sejauh ini semuanya terjadi hanya dalam satu hari.
Aku hanya benar-benar tidak siap menghadapi semua ini.
Tapi jika dipikir piker kembali tak ada salahnya dengan menghabiskan satu malam disana. Aku tidak terlalu khawatir. Aku mandi, berganti pakaian dengan piamanya, walau aku biasanya memakai baju tank top kalau mau tidur, tapi aku sadar, aku harus selalu menutup badanku sebisa mungkin untuk keselamatanku sendiri di rumah ini. Kita bahkan sempat ngobrol basa-basi. Awalnya, kami mau main Xbox 360 milik Yoongi, karena dia menawarkannya. Tapi aku sedang tidak berminat. Akhirnya, Yoongi mematikan lampu dan kami segera tidur.
Karena keluarganya cukup kaya, ranjangnya pun sangat besar. Kami bisa bergulung kesana-kemari semau kami. Faktanya, tiga atau empat orang pun, masih muat dan bisa tidur dengan nyaman.
Tapi, aku tidak tahu dosa apa yang pernah aku lakukan sehingga aku pantas menerima ini.
Yeri tiba-tiba membuka pintu kamar.
Yoongi menarikku. Aku yang tadinya dia ada di ujung lain kasur ini, dan bahkan kami sampai membuat batas dari guling diantara kami. Sekarang aku hampir terlelap tidur saat Yoongi memelukku. Dia menarik ku ke dalam pelukannya dengan cepat. Kepala ku tepat di depan dadanya, bahkan aku bisa mencium aroma sabun sehabis dia mandi.
Aku mencoba membebaskan diri semampuku. Aku mencoba mendorong dia, tapi kekuatannya bukan tandinganku. Si brengsek ini kuat sekali! Dia memang kelihatan kurus, tapi jangan kamu remehkan dia. Dan satu hal lagi, dia berada diposisi yang lumayan menguntungkan dirinya. Yang aku mampu lakukan hanya, memberontak didalam pelukannya.
"Hanya sebentar." Yoongi berbisik untuk menenangkan aku supaya aku berhenti memberontak. Kemudian, dia pura-pura baru bangun tidur dan mendongakkan kepalanya untuk melihat adiknya yang berdiri tanpa ekspresi. Adik perempuannya nampak sangat terkejut melihat kakaknya mendekap pacar-cowoknya di kasur.
"Ada apa, Yeri?"
"Aku… bawa selimut lebih… karena aku takut Jimin-ssi kedinginan…" Dia nampak benar-benar terkejut, tapi juga ada setitik kebahagian di ekspresi mukanya. Oh, tidak. Yeri! Apa kau tak paham aku berusaha memberontak di sini!
"Jimin baik baik saja, Yeri." Yoongi memberitahunya, Aku bisa merasakan kalau pelukan Yoongi makin erat.
Aku hanya berpura-pura mati dan mengabaikan semua kejadian di alam semesta ini.
"Jimin tak akan kedinginan." Aku tidak perlu sampai membuka mata hanya untuk tahu ekspresi Yoongi saat ini. Aku juga bisa menebak ekspresi yang dibuat Yeri saat itu.
Kenapa dua bersaudara ini selalu merepotkan.
"Oh benar… Aku lupa. Hehe, Aku gak akan mengganggu kalian lagi. Aku akan kunci pintunya untukmu."
Klik.
Dan kami meneruskan tidur secara terpisah malam itu. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara,ataupun menggunakan selimut, karena hanya ada satu selimut. Yoongi menaikkan suhu AC menjadi 25 celcius tidak terlalu dingin. Mau bagaimanapun, aku menjadi susah tidur.
3: 16 pm
19.04.2016
Thankyou guys. Please, keep review and follow this story.
