Tittle : THANK YOU, AND I LOVE YOU
Author : Gekikara98 / Lulu Baby 1412
Cast : Lu Han, Se Hun, EXO's member, Tang Min SNH48, ETC
Warn : Shounen-ai, Boys love, typo, etc
GEKIKARA98
Present
[::THANK YOU, AND I LOVE YOU::]
Chapter 3
.
.
.
AUTHOR POV
"Sehun, maukah kau berteman denganku?"
Sehun termangu mendengar pernyataan luhan. Sedangkan luhan sendiri menunduk sambil menggigiti bibir kecilnya. Jari-jarinya memainkan ujung-ujung kemejanya.
"Hahahahaha!"
Luhan terkejut ketika melihat sehun tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu pikirnya?
"Hmm, kupikir karena kita sekelas sudah lama kita sudah menjadi teman?" tutur sehun. Luhan tak mengerti maksud sehun.
"Hey, luhan. Kita sudah lama berteman karena kita ini kan teman sekelas? Oh, ayolah? Kau pikir kita ini di Jepang? Harus meminta izin pada orang lain untuk dijadikan teman" jelas sehun.
Luhan sedikit mengerti maksud pernyataan sehun. Sedetik kemudian ia tersenyum begitu lebar.
"Ah, biar sedikit kuberi tambahan. Bagaimana kalau kita jadi sahabat juga?" tawar sehun dengan senyumannya.
Luhan mengangguk cepat sebagai jawaban. Akhirnya ia mempunyai teman atau sekarang sekaligus sahabatnya. Dia merasa senang karena ini pertama kali ia punya teman.
"Hm, baiklah. tidakkah kau mau masuk kekelas?" tawar sehun.
"Eh! Sebentar!" dengan cepat luhan mengobrak-abrik isi tasnya dan mengambil beberapa benda. Kamera, mini note, bolpoin.
Untuk beberapa saat luhan menuliskan beberapa kalimat dalam note nya.
"Sehun? Maukah kau berfoto denganku? Erm, sebagai tanda kalau kita ini sudah berteman?" pinta luhan. Sedangkan sehun yang dipinta sedikit terkejut, namun mengangguk dengan senyuman di detik setelahnya.
KLIK!
Luhan berpose dengan wajah gembira, begitu pula dengan sehun. Tak membutuhkan waktu lama hasil foto keluar. Yeap, karena kamera itu sendiri adalah kamera Polaroid.
Dengan cekatan luhan menempel foto tersebut di note yang sudah ia tulisi tadi.
"Sehun, Gomawo!" luhan membungkukkan badannya dihadapan sehun. Sedangkan sehun mengacak-acak rambut luhan.
"Iya, iya. Sudahlah, ayo kita masuk kelas…" jawab sehun dengan senyuman.
Luhan berjalan dibelakang mengikuti sehun. Sedikit mengagumi teman barunya.
"Seharusnya kalau telah menjadi teman, kau berjalan disampingku?" sindir sehun. Dan dengan canggung luhan berjalan disamping sehun. Sedikit gugup, namun sensasi gugup itu ia nikmati. Menyenangkan sekali mempunyai teman. Ia sedikit mengerti perasaan bagaimana seorang gadis bisa dekat dengan orang keren. Yeap, rasanya seperti ini. Seperti luhan yang bisa dekat dan bersahabat dengan sehun.
Aku berharap kau mau menjadi temanku terus, sehun…
Walaupun aku tidak tau banyak tentangmu…
. . . . .
SEHUN POV
Luhan sudah menjadi temanku, dan sekarang tugasku adalah mengeruk informasi tentangnya. Sedikit merasa bersalah juga karena aku memanfaatkan dia sebagai bahan penelitianku.
Tapi, itu tidak benar juga. aku tidak hanya ingin mencatat datanya, aku juga ingin berteman dengannya. Cukup kesal juga kalau terus sendirian tanpa ada teman yang dekat denganmu bukan.
Walaupun sepertinya luhan sedikit kurang bisa diandalkan untuk menjadi teman. Hahaha…
Sepanjang jalan di koridor bersama luhan memang cukup aneh karena banyak yang memperhatikan kami. Ya, mungkin semua orang bertanya-tanya siapa orang yang berjalan disebelahku ini.
Merasa sedikit risih, aku menarik tangan luhan dan berjalan sedikit lebih cepat. Dan aku sadar bahwa luhan sedikit terkejut ketika kutarik tangannya. Mungkin ini pertama kali ia merasakan ditarik oleh temannya. Hahaha, lihatlah wajah bodohnya itu. Tampak konyol dan kebingungan.
Tapi, mengapa dia itu sangat lucu. . . .
. . . . .
AUTHOR POV
Sementara sehun dan luhan berjalan bersama atau tepatnya luhan ditarik oleh sehun, tampak dari kejauhan sekumpulan berandal sekolah sedang memperhatikan mereka.
"Lihat itu, sudah kuduga si pengecut itu keluar dari grup karena dia adalah gay…" suara besar chanyeol menggema diantara kumpulan berandal itu.
"Haha, tapi aku tak habis pikir. Apakah selera sehun adalah tipe semacam sampah itu?" sindir kai dengan senyum meremehkannya.
"Mau mengerjainya?" tanya chen sambil terus menatap kearah sehun luhan berjalan.
"Tidak, jangan mau berbuat bodoh hanya untuk sampah seperti mereka. Ayo…" dan suara besar kris mengakhiri pembicaraan itu, mereka mulai berjalan meninggalkan tempat tongkrongannya. Terlihat suho memperbaiki kacamatanya, ia berjalan di tempat paling belakang.
. . . .
Semenjak resmi bersahabat, luhan terus saja berada disamping sehun. Jam istirahat makan siang mereka istirahat bersama diatap sekolah. Terkadang luhan membawakan bekal makan siang untuk mereka makan bersama.
Luhan begitu mahir memasak, itu disebabkan karena dia sendiri bekerja paruh waktu di restoran. Tak lupa juga, keluarga luhan dulu adalah seorang pengelola restoran seafood terkenal di cina. Tentu saja luhan memiliki bekal bakat memasak secara otomatis. Beruntungnya dengan ini sehun dapat mengetahui lagi beberapa hal tentang luhan.
Tentang apa makanan kesukaan luhan, apa makanan yang tidak luhan sukai. Sehun terus mendengarkan semua curahan hati luhan. Ia tersenyum ketika melihat luhan semangat bercerita.
"Lalu, bagaimana dengan keluargamu? Lu?" tanya sehun ketika luhan sudah selesai bercerita.
Deg!
Rasanya sakit hati luhan ketika sehun menanyakan tentang keluarganya yang berantakan. Disisi lain ia merasa kaget karena sehun memanggilnya 'Lu'. Sebenarnya sehun salah besar jika ia memanggil luhan dengan panggilan 'Lu'. Orang cina tidak memakai bagian nama setelah marga. Jadi, sebenarnya luhan harusnya dipanggil 'Hanhan'. Sedikit aneh luhan mendengar panggilan untuknya. Membuat luhan terdiam beberapa saat.
"Lu? Luhan?" sehun sedikit mengguncang lengan luhan. Hingga luhan kembali sadar, ia sedikit tersenyum hambar.
"Kenapa? apa ada masalah dengan pertanyaanku?" tanya sehun khawatir.
"Tidak, hanya saja… semuanya terlalu rumit untuk aku ceritakan. Sehun-ah…" gumam luhan. Sehun tersenyum lembut, kemudian ia usap punggung luhan. Luhan membalas senyum sehun.
"Hehe, kalau begitu kita sama. Luhan…" tutur sehun, luha mengekerutkan dahinya. Apa maksud sehun, mereka bernasib sama.
"Iya. Keluarga berantakan. Mereka sama sekali tak memperhatikanku. Kakakku pergi ke luar negeri untuk bekerja. Tiap bulan aku selalu dikirim uang dengan ayah dan ibu. Hahh, mereka bekerja terus-menerus tanpa henti…" luhan tertegun mendengar pernyataan sehun. Sehun ditinggal oleh keluarganya, sedangkan dirinya meninggalkan keluarganya. Ini tidak sama baginya. Luhan pikir, sehun lebih menyedihkan darinya.
"Hey, luhan. Kapan-kapan kau datanglah ke apartemenku! Aku sangat kesepian disana. Dan kelak aku juga pasti main ke tempatmu. Yah?" tanya sehun memecah keheningan.
Luhan mengangguk semangat. Ia tersenyum begitu lebar. Beginikah rasanya mempunyai teman. Ada yang bisa ia ajak bicara dan bercerita.
. . . . .
Besok adalah hari minggu, dua hari yang lalu luhan dan sehun telah merencanakan sesuatu untuk hari esok. Mereka berdua akan melakukan pesta kecil bersama dirumah luhan. Ini berarti akan jadi pertama kalinya sehun datang kerumah luhan. Sebelumnya luhan sedikit menolak karena rumahnya sederhana, takut sehun akan kecewa. Tapi karena sehun terus memaksa, akhirnya luhan menyetujuinya.
Ingin memberi kejutan, sehun diam-diam berjalan malam ini. Yah, tepatnya malam minggu ini. Dengan membawa tas ranselnya, sehun berjalan melewati jalanan yang cukup ramai. Ia juga sempat melewati pasar. Sehun tersenyum ketika melewati restoran tempat luhan biasa bekerja. Mungkinkah luhan masih belum selesai bekerja. Apakah ia harus mampir ke tempat luhan bekerja lebih dulu. Tapi, ini sudah jam Sembilan. Dan luhan bilang shift kerjanya hanya sampai jam delapan tiga puluh saja, ini berarti luhan sudah pulang. Baik, kalau begitu sekarang ia hanya perlu melewati restoran itu saja.
Saat hampir sampai, sehun tak sengaja melihat kedai yang menjual minuman kesukaannya. Ia membeli dua gelas, tentu saja satunya untuk luhan. Ia kembali berjalan hingga dapat ia lihat rumah yang cocok sekali dengan ciri-ciri rumah luhan. Ia lebih yakin ketika melihat nomor rumah luhan, nomor 20 blok A.
"Ckck, bodoh. Aku tidak sama sekali terpengaruh bagaimana bentuk rumahmu. Kupikir, ini tidak buruk. Hanya ukurannya saja yang memang minimalis. Persis sekali dengan orangnya yang mungil dan minimalis" gumam sehun pelan. Ia berjalan mendekati rumah luhan. Hendak memencet bel didepan pintu masuk.
. . . . .
"Hahh, sial. Gara-gara buru-buru pergi ke restoran aku sampai lupa mencuci pakaianku. Ahh, ini banyak sekali"
"Ohh, ya tuhan. Ini sudah jam sembilan dan aku belum makan malam. Malah harus menyelesaikan cucianku ini!"
"Ah, sial! Sial!"
Seorang pemuda terus mengumpat kesal sejak beberapa menit yang lalu. Wajahnya terus ditekuk kesal. Bibirnya manyun. Peluhnya menetes dari sekitar pelipisnya. Lalu poninya sudah diikat seperti apel. Penampilannya sedikit aneh. Hanya mengenakan boxer berpola rusa dan kaos dalam putih tipis. Karena keringatnya itu membuat kaos yang dikenakannya transparan, menampakkan tubuhnya.
TING TONG!
Tiba-tiba bel berbunyi. Pemuda itu terkejut, dengan tergesa-gesa ia membersihkan busa sabun di tangannya dan berlari menuju pintu luar.
Pemuda itu mengelap-elap tangan basahnya dikaosnya. Tak peduli dengan penampilannya saat ini, pemuda itu segera membukakan pintu. Melihat siapa yang telah menekan bel rumahnya malam-malam begini.
CKLEK~
"Annyeong! Xiao . . . Lu." Sehun menganga melihat penampilan luhan saat ini. Ia terdiam beberapa saat. Memperhatikan luhan dari atas kebawah dan juga sebaliknya, dari bawah keatas.
Luhan hanya mengedip-ngedipkan matanya, masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang sedang terjadi saat ini.
"O-Oh? Sehun!" luhan terkejut bukan main ketika ia sadar bahwa sehun yang berdiri dihadapannya sedang memperhatikan dirinya.
"Oh, eh. Luhan, hai…" sehun menelan ludahnya kemudian sadar diri dan tempat.
"Ehm, masuklah?" tawar luhan. Ia segera menuntun sehun masuk dan tak lupa mengunci pintu rumahnya.
Basa-basi, sehun pura-pura melihat-lihat isi rumah luhan. Sebenarnya yang ada dipikirannya saat ini adalah penampilan luhan. Terlihat sangat berbeda dari waktu disekolah.
Saat ini luhan sedang mandi. Yah, cuciannya sudah ia selesaikan sebelumnya. Sedangkan sehun, hanya duduk diam di sofa kamar luhan. Pandangannya berlawanan dengan kamar mandi. Sedari tadi ia gugup mendengar suara air didalam kamar mandi yang ada luhan nya. Pikirannya campur aduk antara luhan dan sesuatu yang lain. Namun dalam sekejap sehun menghilangkan perasaannya. Dan dengan santai ia membaca buku yang ada di meja belajar luhan.
CKLEK~
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Benar saja, saat ini luhan telah selesai mandi. Ia sedang mengeringkan rambutnya. Sehun tetap diam karena dia tak mau ambil resiko untuk menoleh kearah luhan sekarang.
Apa yang sedang luhan lakukan sekarang? Apa dia sedang memakai bajunya? Apa dia masih belum berpakaian? Apa aku harus menoleh sekarang? Bagaimana kalau dia sedang telanjang saat ini? Tidak! Aku tidak secabul itu! Aku tidak mau dibilang cabul atau mesum karena berani melihatnya telanjang! Tidak! Tidak! Apa yang kau pikirkan, oh sehun!
"Sepertinya kau asyik sekali dengan bukuku?"
Terdengar suara langkah kaki luhan mendekat. Sehun bernafas lega, luhan mendekat artinya luhan sudah mengenakan pakaiannya.
Sret!
Sehun membalikkan tubuhnya dan luhan sudah berada dihadapannya.
"Apa yang kau baca?" tanya luhan. Sehun tak bergeming, wajahnya tampak dingin.
"Tidak tau, aku hanya membaca sinopsis bukunya." Jawab sehun. Dan itu memang benar adanya, sehun memang hanya membaca sinopsis buku-buku luhan.
"Emm, kau tertarik untuk membuat resensinya?" luhan duduk diranjangnya, kemudian meraih bantal untuk dipeluknya.
Sehun hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan luhan barusan. Luhan mengangguk paham.
Beberapa saat suasana kamar itu kembali sepi. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga…
Kruuuuk~~
Perut luhan berbunyi, ia menepuk jidatnya sendiri. Lupa belum memasak untuk makan malamnya. Sehun tersenyum geli mendengar suara perut luhan yang terdengar seluruh sudut kamar.
"Hehe, sehun. Aku lupa belum makan malam, aku akan memasak dulu. Sekalian kau juga ikut makan? Yah?" tawar luhan, sehun mengangguk dengan senyumannya.
Apa dia bisa memasak? Awas saja kalau masakannya tidak enak. Ah, tapi kalau dilihat dari penampilan dan gayanya dia bisa memasak dengan baik. Benar juga, lagi pula ia tinggal sendiri. Pasti bisa memasak!
Kenapa ia lama sekali? Ini sudah hampir satu jam aku menunggu. Apa dia menghancurkan dapurnya? Atau dia terlalu asyik memasak hingga lupa bahwa hanya akan ada dua orang yang makan?
Rumahnya kecil, tapi bertingkat dan cukup bersih. Sebentar? Ini rumah atau tempat dia mengontrak? Hey? Apa dia semiskin ini? ckck, sudah cupu miskin juga. Kasian betul nasib bocah ini.
Luhan lama sekali kau memasak? Ah, lebih baik kususul saja dia kedapur!
Tercium aroma sedap dari arah dapur. Sehun menutup matanya saat menikmati bau masakan luhan. Dia berjalan lebih cepat menuju dapur.
"Lu… Luhan?"
"Ne?"
Luhan menoleh ketika sehun memanggilnya, masakannya telah siap dan sekarang ia sedang asyik menata makanan di meja. Sehun mendekat tanpa menjawab sautan luhan. Matanya tertuju kearah meja atau lebih tepatnya makanan luhan. Mulut sehun ternganga ketika melihat makanan yang luhan buat. Melihat ekspresi sehun, luhan sedikit cemas apa sehun tidak menyukai masakannya.
"A-apa, ini terlihat tidak enak?" tanya luhan dengan harap sehun tidak berpikiran demikian.
Tanpa menjawab pertanyaan luhan, sehun menarik kursi dan duduk dengan nyamannya. Namun matanya tidak pernah lepas dari meja dan makanan. Pasrah, akhirnya luhan duduk tepat dihadapan sehun. Luhan cemas sehun tidak menyukai masakannya. 'Bagaimana kalau sehun tidak mau berteman denganku lagi karena masakanku tidak enak?'pikir luhan.
Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mendongak lalu menatap luhan sambil tersenyum. Luhan membalas senyum sehun dengan senyuman canggung seolah-olah berkata 'hanya ini yang bisa kumasak'.
"Sekarang aku tau mengapa China dianggap sebagai negara yang paling hebat dalam masakan. Kau membuktikannya, Luhan!"
Luhan terkejut bukan main mendengar ucapan sehun, apa ini termasuk pujian pikirnya? Dia hanya nyengir dan tertawa canggung melihat ekspresi sehun selanjutnya.
"Hmm, apa kita sudah bisa makan sekarang? Aku jadi sangat lapar menunggu begini! Hehehe?" tanya sehun dengan cengiran bodohnya, luhan mengangguk lucu.
"Nah, selamat makan!" teriak sehun setelah mengakhiri doanya sebelum makan.
Melihat sehun makan begitu lahap, luhan tersenyum.
"Berapa lama kau tidak makan tuan Oh?" tanya luhan sambil mulai menyantap makanannya.
"Kau mengejekku, hmm? Masakanmu enak sekali. Sudah lama aku selalu makan delivery dan itu sangat menyiksa karena semua menunya telah aku coba!"
Luhan tersenyum mendengar jawaban sehun. Lucu sekali bukan? Sehun benar-benar bodoh. Bukankah ada banyak restoran diluar sana, makan tidak harus delivery bukan?
"Benarkah? Kalau begitu, kau mampirlah ke restoran tempat aku kerja? Tiap bulan kami pasti ada pembaruan menu" ucap luhan sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Entah mengapa ia senang melihat sehun makan dengan lahapnya.
"Baiklah, kapan-kapan aku mampir kesana. Menu berganti tiap bulan? Biar aku tebak? Menu lama yang sudah jarang dipesan akan di drop, lalu menu baru akan selalu dibuat bukan?" tebak sehun menunjuk luhan dengan sumpitnya.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya luhan tak percaya, tebakan sehun benar.
"Aeeyy~ jangan kau pikir aku ini bad boy tak berguna. Sedikit sedikit aku juga harus mulai belajar hal macam itu. Yah sekedar ilmu bisnis tingkat rendah macam itulah yang aku pelajari" jelas sehun. Luhan mengangguk mengerti.
Mereka makan dan terus berbincang. Luhan juga telah menyediakan makanan penutup yang sengaja ia bawa dari restoran karena kelebihan stocknya.
. . . . .
Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Setelah makan malam, menonton film, kini saatnya tidur. Namun sehun dan luhan belum juga tidur. Mereka tidur satu ranjang, untung saja cukup muat untuk ditempati mereka berdua. Tapi tentu saja mereka berdekatan, hanya sebuah guling yang menjadi pembatas.
"Xiao Lu…" panggil sehun pelan.
"Hmm?" luhan hanya menjawab dengan gumamannya.
"Sebenarnya sudah lama aku ingin berteman denganmu…" ungkap sehun. Luhan mengernyitkan dahinya, dia menolah kearah sehun. Sehun pun ikut menoleh kearah luhan, ia tersenyum melihat reaksi luhan. Reaksi yang seolah-olah mengartikan 'apa maksudmu?'. Sehun menatap langit-langit kamar luhan dan menarik nafas untuk memulai ceritanya.
"Aku mengamati semua siswa di sekolah kita. Mencatat dan mengumpulkan semua informasi tentang mereka. Aku berpikir bahwa aku ini akan menjadi mata-mata yang hebat dengan hobi gilaku ini. haha…" jelas sehun, luhan hanya diam namun terus menatap sehun penuh pertanyaan. Berharap lebih banyak lagi yang sehun jelaskan.
"Tapi, aku melupakan seorang siswa. Yaitu kau. Aku sangat frustasi karena kau itu sulit untuk diselidiki. Kau begitu tertutup dan selalu menyendiri. Awalnya aku hanya ingin mencari informasi tentangmu untuk melengkapi seluruh informasi siswa sekolah. Namun entah kenapa setelah berkenalan denganmu, kurasa hanya mengetahui informasi tentangmu saja itu tidak cukup. Aku ingin kau menjadi teman, sahabatku…" luhan tertegun mendengar perkataan sehun. Awalnya ia terkejut, namun segera ia tersenyum mendengar kalimat terakhir sehun.
"Aku senang ketika kau berkata ingin menjadi temanku. Kau itu lucu, luhan… luhan?" merasa luhan tak bicara sama sekali sejak tadi, sehun menoleh dan medapati luhan telah tertidur pulas. Nafasnya teratur terlihat lucu.
"Ckck, dasar. Aku bercerita dia malah tidur! Sudahlah, sebaiknya aku juga tidur!"
Daripada harus berbicara sendirian terus, terpaksa sehun menyusul luhan untuk tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, beberapa kemudian sehun sudah tertidur dengan pulasnya…
Tidur bersama seorang 'teman' memang sangat nyaman . . .
Ini adalah malam pertamaku tidur dengannya, dan ini terasa sangat hangat. Aku menyukainya…
.
.
.
Chapter 3
TBC
[::THANK YOU, AND I LOVE YOU::]
Yehett~ chapter 3 selesai! ^_^
Bagaimana menurut readers sekalian? Sesuai permintaan chapter ini lebih panjang dari sebelumnya bukan dan juga udah ditambahin hunhan moment'nya biarpun belon terlalu romantis-romantisan! Wkwkk…
Gomen kalo ada typo, karena kalo lagi ngomong aja authornya juga sering typo. Maka tolong dimaapin kalau ada typo yang berkeliaran di ini epep X3
Sebelumnya ada yang tanya kan alasan sehun deketin luhan karena data yang kurang lengkap itu belum saatnya author menjelaskan intinya ^_^ jadi silahkan ikutin ff ini yah jika ingin tau jawabannya, karena alasan sebenarnya author simpan di beberapa chapter depan. hahahay!
Dan lagi, masalah sudut pandang emang gaya author menulis begini gak bisa dirubah dan digugat lagi…
Luhan dibikin cantek? Tunggu, karena itu ada saatnya. Kalau keburu dibikin cantek malah-malah Tangmin jadi nggak laku karena cantikan luhan nya xD
Buat review yang lain terimakasih udah review di chapter sebelumnya. Kalau ada pertanyaan silahkan ketikkan saja di kotak review, insyaallah saya jawab pada chapter sebelumnya… :D
oKAI! Sampai jumpa di chapter depan! Makin banyak review makin cepat juga update! xD
