Chapter 3
I Will Become The Spring To Your Smile's
0o0o0o0o0o SMILE FLOWER o0o0o0o0o0
Dentang bunyi jam istirahat pertama membubarkan semua murid yang berada didalam kelas menuju kantin sekolah. Sebagian dari mereka ada yang masih bertahan dikelas mereka, masih berkutat dengan soal yang masih belum diselesaikannya, ada yang tidur dan juga ada yang diluar kelas untuk bermain.
Wonwoo hanya berdiam didekat jendela kelasnya. Menatap anak kelas lain yang berlalu lalang dibawah sana. Dia termenung sebentar, Jisoo datang menemani Wonwoo dengan membawa dua kaleng minuman soda.
" Untuk mu" Jisoo menyodorkan minuman bawaannya ke Wonwoo
Wonwoo tersenyum. Dia meraih minuman tersebut dari Jisoo. " Gomawo, kau baik sekali."
"It's Ok." Ujar Jisoo sambil mendudukan diri dibangku sebelah Wonwoo.
SMILE FLOWER
©dyn_amity
.
.
Kim Mingyu & Jeon Wonwoo
And Other
.
.
Rated : T
.
Genre : Romance / Drama
.
WARN! BL! Bromance! Yaoi! BXB!
DON'T BE A PLAGIAT
DON'T JUDGE AUTHOR. OK
.
.
SEVENTEEN – SMILE FLOWER
.
.
100% Mine
Jisoo membuka kaleng soda itu dengan sekali percobaan. Dia mengulurkan tangan kanannya kearah Wonwooo, tak mengerti apa yang dilakukan oleh temannya tersebut Wonwoo mengernyit heran. " Apa?"
Jisoo masih bergeming dengan tangannya yang terulur. "Berikan kaleng soda mu". Wonwoo memberikan kaleng sodanya " Tadi kau bilang ini untukku." Wonwoo memberikannya dengan raut muka sedikit cemberut. Jisoo terkekeh melihatnya, dia menerima kaleng soda dari Wonwoo.
"Ini untukmu, dan yang ini untukku." Jisoo memberikan kelang soda yang tadi pertama dia buka kepada Wonwoo dan membuka kaleng soda yang diberikan Wonwoo.
Wonwoo menerimanya dengan tatapan heran dan sedikit kesal. "Apa maksudnya ini? kau mau mengejekku karena aku tak pernah bisa membuka tutup kaleng soda hah?". Jisoo tertawa kecil mendengarnya. "Aku tak bermaksud mengejek mu, tapi yah... itu faktanya kau memang payah dalam hal ini." tawa Jisoo meledak setelahnya, sementara Wonwoo semakin menekukan wajahnya kesal.
Nyaris saja Jisoo meringis kesakitan kalau saja dia tak berhenti tertawa. Wonwoo hendak saja melayangkan tinju kearah kepala Jisoo kalau dia masih saja melebarkan cengirannya.
" Maafkan aku. Aku hanya ingin membantumu" Jisoo menatap Wonwoo. " Apa tidak boleh?" Jisoo melanjutkan " Atau ... kau tidak suka kalau aku membantumu." Tatapan Jisoo berubah dengan penuh selidik. Wonwoo tertegun mendengarnya. " Aniya, bukan itu maksudku. Tapi aku hanya tak ingin merepotkan orang lain." Wonwoo menundukkan kepalanya mengarah pada kaleng soda yang di genggamnya. " Setidaknya aku harus mencobanya dulu, iyakan?".
Jisoo mengangguk setuju dengan tanggapan Wonwoo.
" Maafkan aku. Aku menghargai bantuanmu. Hanya saja biarkan aku mencoba menyelesaikannya sendiri. Kalau dirasa aku tak mampu menyelesaikannya, aku pikir aku akan meminta bantuanmu." Wonwoo mendongakan wajahnya kearah depan.
" Yasudah , jangan terlalu dipikirkan." Jisoo menengadahkan minumannya kearah Wonwoo bermaksud untuk bersulang. "Anggap saja kau sedang beruntung aku menawarkan bantuan kepadamu." Wonwoo hanya mengangguk menanggapinya. Lalu keduanya menenggak habis minuman tersebut.
.
.
Wonwoo tengah terbaring di kasur ruang UKS sekolahnya, dia mengeluh sakit didaerah lutut kakinya ditengah – tengah pelajaran Fisika tadi. Dia diantarkan Jisoo setelah meminta izin kepada Kim Ssaem selaku guru mata pelajaran tersebut. Jisoo pamit ke kelas lagi setelah mengantar Wonwoo ke UKS, dia bilang nanti setelah pulang sekolah dia akan menjemputnya lagi.
Wonwoo hanya berdiam diri setelah dia diobati oleh petugas kesehatan. Matanya enggan menutup mengikuti saran Jin Ssaem – Dokter Sekolah- agar beristirahat. Ditambah lagi dia sekarang tinggal seorang diri setelah Jin Ssaem dan petugas lainnya pamit untuk rapat diruangan lain. " Kalau ada apa-apa, kau bisa langsung menghubungiku. Kau tahu kan nomorku." Itu pesan Jin Ssaem yang diucapkan kepada Wonwoo sebelum meninggalkan ruang UKS.
.
.
Pintu ruang UKS itu berdecit terbuka. Menandakan bahwa ada orang yang masuk. Wonwoo memfokuskan telinganya kearah suara bunyi itu. Pintu sedikit terbuka dengan sosok Mingyu yang ada dibaliknya, dia melongok sedikit kedalam ruangan.
"Permisi. Jin Hyung kau ada didalam?"
Wonwoo kenal dengan suara itu. Dia lebih memfokuskan lagi indra pendengarnya untuk memastikan.
Mingyu berani melangkah masuk untuk mencari Jin Ssaem. Dia melewati bilik-bilik ruang pasien yang hanya dibatasi oleh sebuah tirai berwarna biru aqua marine. Berjalan kearah meja kerja dokter sekolah itu, ternyata Jin Ssaem tidak ada disana. Baru saja Mingyu ingin melangkahkan kakinya mundur ia mendengar suara seseorang dari bilik nomor satu dekat dengan meja kerja Jin Ssaem. Dia berhenti untuk memastikannya lagi.
"Mingyu? Kau kah itu?"
Wonwoo memanggil nama Mingyu. Dia refleks saja memanggil namanya. Netranya menangkap bahwa siluet namja tinggi itu bisa saja Jin Ssaem, tapi entah kenapa dia memanggil nama Mingyu. Wonwoo bangun dari posisi tidurnya, untuk melihat lebih jelas siluet sosok itu.
Dia mengenal suara itu. Tangan Mingyu terulur untuk meraih kain tirai itu. Membuka sedikit tirai yang menghalanginya. Agar dapat melihat sosok yang ada dibalik tirai.
" Mingyu"
"Wonwoo"
.
.
" Kau kenapa kesini?" Wonwoo bertanya perihal kedatang Mingyu kesini. Mingyu mendudukan diri disebelah ranjang yang ditempati Wonwoo menghadap kearahnya. "Aku sedang mencari Jin Hyung, tapi ternyata tidak ada."
" Jin Hyung?" Dahi Wonwoo mengernyit mendengar pernyataan Mingyu. " Iya kenapa memangnya" Mingyu beralih menatap heran Wonwoo. " Dia kakakku, apa salah jika memanggilnya seperti itu."
Wonwoo berhasil keluar dari kepungan keheranan yang menyelimutinya. Bergumam 'Oh seperti itu' untuk diberikan kepada Mingyu.
Mingyu balik bertanya tentang kondisi Wonwoo. "Apa kau sudah baikan?"
Wonwoo mengangguk. " Sudah lumayan baikan. Kalau tadi pagi tidak ada kau pasti ini akan jadi lebih buruk. Terima kasih ya." Wonwoo berujar kearah kakinya sendiri yang terbalut kain kasa, tak berani menatap langsung kearah Mingyu.
Mingyu tersenyum mendengarnya dia meletakan tangan kanannya diatas kepala Wonwoo. Mengusak halus surai kelam Wonwoo dengan pelan. " Syukurlah." Mingyu berujar sambil menurunkan tangannya. Mata bertemu dengan mata, Wonwoo memberanikan diri untuk bersitatap dengan Mingyu. " Dan terima kasih, untuk susu kotaknya tadi pagi. Aku tahu itu kau yang menaruhnya" Lalu dia menundukan lagi kepalanya, menyembunyikan rona hangat menyelubungi pipinya. Senyum Mingyu kembali mengembang, menampilkan gigi runcingnya yang manis.
" Kenapa kau terus menunduk, huh?" Mingyu menundukkan kepalanya berusaha melihat wajah Wonwoo. Dia mengangkat dagu Wonwoo untuk bersitatap dengannya. Dirinya tak menampik bahwa dia merasa aman berada disekitar Mingyu. Tangannya bergantian dari dagu menyentuh halus pipi Wonwoo.
Wonwoo terkesiap mendapati wajah tampan Mingyu mendekat kearahnya. Dia memundurkan kepalanya kebelakang bermaksud untuk sedikit menjauh. Tapi tangan Mingyu yang lainnya terlebih dulu menyentak halus kepala belakang Wonwoo. Bibir Mingyu kini tengah menempel dengan bibir plum milik Wonwoo. Cuma menempel saja, membuat sekujur tubuh Wonwoo menegang takut. Dia sampai tak sadar sudah meremas kuat baju seragam depan siswa Kim itu.
Mingyu mulai bergerak seduktif dengan bibir yang tak lepas dari Wonwoo. Dia melumat pelan belah bibir si Jeon itu dengan gemas. Sementara yang menerima perlakuannya hanya mematung dengan tubuh gemetar dan juga mata yang terpejam rapat.. Warna merah muda menjalari area pipi Wonwoo, dia semakin mengeratkan tautan kedua tangannya di baju Mingyu.
Kekehan kecil itu meluncur dari sudut bibir indah Mingyu. Wonwoo yang mendengarnya langsung membuka mata, setelah dirasa tekanan yang ada di tengkuknya sudah tak ada.
"Haha, kau lucu Wonwoo." Dan ucapan itu membuat Wonwoo jadi semakin malu. Melepas tautan tangan di bajunya dengan halus. Tangan Wonwoo jadi dingin setelah perlakuan Mingyu tadi.
Wonwoo mengerjapkan mata pelan. Dia tak mengelak atau apa, jadi dia hanya mampu menundukan kepalanya lagi.
Mungkin Mingyu sudah terbiasa dengan mengusak surai lembut Wonwoo. Jari jemari besarnya bertemu dengan rambut pekatnya, mengusak pelan. " Aku harus segera pergi, sampai jumpa nanti ya." Mingyu melangkah pelan meninggalkan Wonwoo.
Belum jauh Mingyu melangkah Wonwoo menghentikan pergerakannya. " Mingyu~ya ... i-itu tadi apa maksudnya?" dia bertanya dengan sedikit ragu kepada Mingyu. Mingyu berbalik dan menetapkan atensi kepada Wonwoo. "Anggap saja itu tadi imbalan untukku, telah menolong mu tadi pagi." Mingyu berujar dengan diakhiri kerlingan kecil matanya. Lalu setelahnya dia melenggang pergi tak lupa juga memasang senyum tampannya meninggalkan ruang UKS.
Apa ini.
Apa Mingyu tidak ikhlas meolong Wonwoo tadi pagi?
Entahlah.
.
.
.
Wonwoo masih terkejut dengan perlakuan dan ucapan Mingyu beberapa saat yang lalu. Dia menedengar suara pintu terbuka. Jin Ssaem datang dengan membawa beberapa kotak obat yang ada ditangannya.
"Wonwoo~ya kau sudah baikan." Jin Ssaem sembari membuka tirai ruang kamar Wonwoo.
Wonwoo mengangguk pelan. " Iya sudah sedikit berkurang rasa sakitnya, terima kasih Ssaem."
Jin Ssaem tertawa kecil. "Gwenchana, itu sudah jadi tugasku." Dia mengecek lagi bungkusan kain kasa yang melilit kaki Wonwoo yang beberapa jam lalu dia buat. "Oh iya, waktu aku mau kembali kesini, aku lihat Mingyu tadi keluar dari ruang UKS. Ada perlu apa?" dia beranjak menarik kursi yang ada dan mendudukinya.
Wonwoo terkejut mendengar nama Mingyu disebut. " Oh, itu di ingin menemui Ssaem. Katanya ingin bertanya sesuatu." Jin Ssaem mengangguk mendengar pernyataan Wonwoo.
" Lalu setelah itu?" Jin Ssaem bertanya balik kepada Wonwoo. Dia tak mengerti pertanyaan Jin Ssaem. " Eh, maksud Ssaem apa?" yang bertanya malah terkekeh pelan mendapati Wonwoo kebingungan. " Maksudnya, kalian mengobrol atau tidak, hah?" Wonwoo tersenyum kikuk mendengarnya. " Ah, iya tentu. Kami mengobrol sebentar." Jin Ssaem memasang ekspresi yang tak dapat di artikan, senyumannya berbeda dari biasanya, dia seperti tersenyum jahil.
"Yakin, hanya itu sajaaa ...?" Tanya nya disertai dengan senyum menggodanya kepada Wonwoo.
Sontak saja hal itu membuat pipi Wonwoo untuk kesekian kalinya meremang hangat dengan warna pink yang menghiasinya. " Kupikir kalian tadi melakukan hal yang iya-iya saat aku tidak ada." Ujar Jin diakhiri dengan kerlingan nakalnya.
" Apa sih Ssaem, kau membuatku takut." kalimat Wonwoo mengakhiri percakapan antara dirinya dengan Jin Ssaem. Jin Ssaem yang mendengar jawaban final dari Wonwoo hanya tersenyum renyah. Wonwoo akui bahwa Jin itu orangnya baik, supel dan juga kalau kau sudah mengenal dia dengan baik dia itu orang cerewet, banyak omong, dan juga dia jahil. Lihat saja buktinya dia tadi hampir saja membuat malu Wonwoo dengan guyonannya yang menyimpang dari pembicaraan. Dan kau percaya bahwa Jin Ssaem itu terkadang orangnya sedikit 'nakal' hal itu dikatakan langsung oleh NamJoon pacarnya Jin Ssaem sendiri.
.
.
.
Kkeut
End Or Tbc
29'04'2017
AN Time:
Chapter 3!
Iya tahu kok, late update jangan diingetin.
Habisnya masih belum move on sih gegara kagak bisa nonton konsernya BTS cuyyy.
Aku mah apa atuh, Cuma bisa mantengi dari IG ARMY's yang posting foto sama video mereka. Dan denger dari sana sini tentang apa aja yang mereka lakuin selama konser.
Lah ? apa ini kenapa jadi curhat time segala.
Oh okelah walau sedikit telat/ apa'an woyy lama keleus/ gue tetep kok lanjutin nih epep.
Udah mulai bosen yah, ato ceritanya udah gak mutu/pasaran?
;
Untuk yang review/foll/fav trim's yah udah ngeluangin waktu buat baca nih ff.
Jangan bosen2 baca ff saya/bow/
Maafkeun juga segala kehilafan typo yang bertebaran ^-^
Last but not Least
Review Juseyoo!
©dyn_amity
