Yoochun menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir dua puluh menit sejak Jaejoong pergi ke toilet, namun pemuda itu belum juga kembali. Yoochun mulai merasa khawatir mengingat kondisi tubuh Jaejoong kurang baik akhir-akhir ini.
Yoochun tersenyum kepada teman-temannya lalu berpamitan pergi untuk menyusul Jaejoong. Perasaaannya mulai tidak enak ketika yang ia lihat hanya kesunyian di sepanjang koridor. Ia mempercepat langkahnya ketika ia melihat seseorang tengah pingsan tidak jauh dari toilet.
"Jaejoong ah!" serunya sembari mengangkat tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya. Matanya syok melihat kondisi Jaejoong. Kemeja dan jas yang tengah Jaejoong kenakan nampak berantakan. Bahkan ada darah di kemeja bagian belakang bawah. Wajah pucat dan pipi memar itu seolah menjelaskan jika sahabatnya itu sedang tidak baik.
"Jaejoong ah!" Yoochun menepuk pelan pipi Jaejoong. Berharap pemuda itu mau meresponnya. Yoochun tersenyum ketika melihat kelopak pucat itu perlahan terbuka.
"Yoochun ah ..." nafas Jaejoong agak tersendat. Tangan lemasnya mencengkeram perutnya, "perutku sakit sekali," lanjutnya kembali menutup mata. Dan ia mulai kesulitan bernapas.
Yoochun meraih tangan Jaejoong dan segera menggendong sahabatnya itu di belakang punggungnya. Dengan tertatih ia berjalan keluar dari gedung sekolahnya. Ia semakin khawatir ketika darah milik Jaejoong kembali mengalir.
.
Sacrifice © Rain Chan
TVXQ © Themselves
Fallen Leaves © JYJ
Chapter 2
.
Yoochun menatap wajah pucat di depannya. Perasaannya bercampuk aduk ketika mendengar penjelasan dari dokter. Ia tidak habis pikir dengan hal tersebut. Apa yang harus ia jelaskan kepada Jaejoong nanti?
Yoochun meremas tangannya. Jadi inikah alasan Jaejoong menolak untuk pergi ke dokter? Inikah alasan kenapa Jaejoong akhir-akhir ini terlihat kurang sehat? Yoochun tidak mengira jika ucapan Jaejoong pagi itu bukan hanya gurauan. Ia pikir, Jaejoong itu laki-laki dan tidak mungkin mengandung. Namun nyatanya?
"Daripada luka di tubuhnya saya lebih mengkhawatirkan kondisi kandungannya."
Yoochun menutup mata. Ucapan dokter beberapa jam lalu kembali terngiang. Ia tidak percaya sedikitpun tentang penjelasan dari dokter tersebut. Itu sungguh tidak mungkin terjadi, sekalipun ia percaya akan keajaiban.
"Kandungannya hampir berusia tiga bulan."
Yoochun ingat, tiga bulan yang lalu ketika Jaejoong menghubunginya jam empat pagi di apartemen Yunho. Pemuda itu tengah dalam keadaan berantakan. Jaejoong membuatnya kewalahan dan terus saja menggumamkan kalimat 'bagaimana jika aku hamil?' dan Yoochun tidak menggubrisnya.
Dan kini itu tidak hanya sebatas ketakutan.
"Yoochun ah!"
.
.
Perlahan Jaejoong membuka mata. Kepalanya terasa pusing walau rasa sakit di perutnya sedikit berkurang. Ia menoleh dan menemukan wajah kusut Yoochun yang tengah melamun. Ia jadi merasa bersalah karena selalu merepotkan sahabatnya itu.
"Kau sudah tahu dari awal, kan?"
Jaejoong memandang Yoochun bingung. Ia sungguh tidak mengerti dengan kalimat yang Yoochun ucapkan.
"Dari awal kau sudah tahu jika kau sedang hamil, kan?"
Jaejoong tercekat mendengarnya. Ia syok! Hal yang paling ia takutkan kini terjadi juga.
"Ha-hamil!" ujarnya sembari bangun dari tidurnya, "katakan itu bohong, Yoochun ah!" perlahan air matanya mengalir.
Jaejoong menatap wajah Yoochun yang cukup terkejut dengan reaksi yang Jaejoong berikan. Yoochun berpikir Jaejoong sudah tahu akan hal itu, namun ternyata dugaannya salah.
"Katakan jika itu bohong!"
Jaejoong mencengkeram erat coat depan yang dikenakan Yoochun. Ia mulai terisak ketika Yoochun hanya dian tanpa kata. Dan itu cukup menjadi jawaban dari ketakutannya.
"Harusnya dia pakai pengaman!" teriak Jaejoong di dada Yoochun. Tubuhnya bergetar hebat di dalam pelukannya.
Sejujurnya bukan karena ia tidak mau mempunyai anak dari Yunho. Hanya saja ia sadar jika pada akhirnya ia dan Yunho tidak mungkin bisa bersatu. Jika sudah seperti ini, bagaimana bisa ia akan mudah melupakan Yunho?
"Yunho harus tahu!"
Jaejoong menggeleng. Yunho tidak boleh tahu tentang itu. Bagaimanapun mantan kekasihnya akan bertunangan dan ia cukup tahu diri untuk tidak menghancurkan hal tersebut. Dan lagi semua sudah berakhir sejak ia mengatakan putus.
"Jangan keras kepala!" seru Yoochun semakin menenggelamkan kepala Jaejoong ke dalam pelukannya, "itu bisa membantumu!" perlahan air mata Yoochun mengalir. Harusnya ia senang ketika kesempatan untuk bersama Jaejoong begitu nyata terlihat. Namun ia bukan orang yang egois. Jaejoong lebih bahagia bersama Yunho.
"Semua tidak akan ada gunanya."
Ada atau tidak ada bayi itu, Jaejoong dan Yunho memang tidak mungkin bisa bersama. Ia cukup tahu diri dengan keadaannya. Ia cukup sadar diri ketika Yunho tidaklah mungkin bisa membawa hubungannya ke publik. Yang Yunho butuhkan adalah wanita anggun yang bisa membuat keluarga senang. Bukannya pemuda yang hanya akan membuat Keluarga Yunho dipandang rendah. Ia tidak akan berharap lebih dari hubungan yang dianggap melenceng oleh publik itu. Ia cukup bahagia menjalani hubungannya dengan Yunho dua tahun ini.
.
Rain Chan
.
Yoochun masih diam menunggu jawaban dari ayahnya. Delapan belas tahun ia hidup dalam keluarga yang berantakan itu, baru kali ini ia memohon. Untuk kali ini saja ia tidak berharap kehilangan orang yang ia sayangi setelah ibunya pergi entah kemana.
"Ayah tidak melarangmu untuk mengajak Jaejoong," Tn. Park menghela nafas, "jika Jaejoong memang mau. Tapi kau juga harus mengerti jika di sana kau tidak hanya sekedar kuliah."
Yoochun mengerti apa yang ingin ayahnya sampaikan. Memang tidak mudah untuk meyakinkan Jaejoong untuk pergi ke Amerika bersamanya. Jaejoong pemuda keras kepala yang tidak suka merepotkan. Dan Jaejoong selalu hidup dengan usahanya sendiri.
Namun untuk kali ini?
Yoochun tidak yakin Jaejoong bisa hidup dengan hasil kerjanya sendiri di saat ia harus membawa bayi di perutnya. Jaejoong tidak akan mampu bertahan sendiri ketika tubuhnya tidak sesehat saat belum ada bayi Yunho di perutnya. Dan itu juga yang menjadi alasan Yoochun tidak mungkin meninggalkan Jaejoong ketika Yunho tidaklah mungkin bisa menjaga Jaejoong.
Yoochun mengerti maksud perkataan ayahnya. Jika Jaejoong ikut bersamanya ke Amerika, besar kemungkinan waktunya lebih banyak untuk Jaejoong, sementara ia harus pandai membagi waktu antara kuliah dan membantu pamannya di perusahaan di sana. Ia mengerti kekhawatiran ayahnya, namun ia juga tidak mungkin meninggalkan Jaejoong ketika hanya ada dia seorang di sisi Jaejoong.
Yoochun bangkit dari kursi ruang kerja ayahnya. Ia terdiam beberapa saat menatap ayahnya lalu berujar," Ayah tenang saja, semua pasti sesuai harapan ayah!"
Yoochun lalu membungkuk sebelum keluar dari ruangan ayahnya.
.
Rain Cha
.
Jaejoong berjalan tertatih di bawah langit malam yang mendung. Ia mamutuskan untuk pergi ketika Yoochun mengatakan niatnya untuk mengajak dirinya ke Amerika. Jaejoong tidak mau merepotkan Yoochun lagi. Sudah cukup lima tahun ini ia selalu bergantung kepada Yoochun.
Jaejoong berhenti berjalan ketika melihat acara besar di lcd tengah kota. Wajahnya mendongak menatap wajah dingin Yunho di layar lcd tersebut. Ia ingin menangis, namun air matanya seolah telah habis ketika ia ingat itu adalah pilihannya.
Perlahan rintik hujan turun disertai petir. Orang-orang berlarian mencari tempat teduh, sementara Jaejoong enggan untuk beranjak. Mata bulatnya masih setia menatap acara pertunangan itu, walau wajahnya telah basah.
Ia telah kalah. Jaejoong telah kalah ketika orang yang masih ia cintai itu benar-benar telah melepaskan dirinya. Jaejoong mengeratkan jaketnya. Pandangannya mengabur sementara bibirnya perlahan bergetar.
"Aku hanya ingin bahagia," serunya lirih, "apakah harapan itu terlalu muluk!"
BLLAAARRR
DUAARRR
Jaejoong menunduk. Air matanya kembali mengalir. Harapannya memang terlalu tinggi ketika ia ingin bersama putra tunggal dari pejabat. Jika itu orang lain, mungkin itu adalah harapan sederhana.
"TIDAK BISAKAH AKU BAHAGIA, TUHAN!" teriaknya sambil memandang langit yang gelap. Tubuhnya menggigil hebat ketika perlahan ia berjalan. Suara dari acara pertunangan Yunho itu benar-benar membuatnya pusing.
Jaejoong ingin pergi sejauh mungkin. Jika bisa meninggalkan seoul sekalian. Hidup sendiri di dunia ini tidak akan membuat ia dicari ataupun dikhawatirkan oleh orang lain.
Jaejoong memegang perutnya. Ia bahkan tidak menyangka jika hari itu telah membuatnya sampai mengandung. Yunho hanya melakukan sekali dan begitu mudahnya benih itu berkembang.
Jaejoong menghapus air matanya kembali. Perlahan langkahnya melemah serta pandangannya mengabur. Jaejoong mencoba mempertahankan keseimbangannya walau nyatanya gagal.
.
Rain Chan
.
Duaggh buaggh
Yoochun mengepalkan tangannya dan meninju wajah Yunho. Ia bahkan menendang dengan keras perut Yunho. Ia tidak akan peduli jika Yunho mati sekalipun. Ia sangat ingin membunuh Yunho sekarang juga.
Yoochun tidak habis pikir, bagaimana bisa Yunho melangsungkan pertunangan di saat Jaejoong berada di rumah sakit bahkan sedang mengandung anaknya.
"Harusnya kau senang aku melepas Jaejoong, kan?" Yunho tersenyum lalu meludah. Sudut bibirnya terasa perih.
Yoochun meraih kerah seragam Yunho dan mencengkeramnya erat. Ia menatap Yunho dengan tajam.
"Kau masih belum sadar juga!" serunya berteriak di depan wajah Yunho, "Jaejoong tengah mengandung anakmu, brengsek!" lanjutnya lalu memukul perut Yunho.
Yoochun bahkan tidak peduli ketika darah kembali mengalir di sudut bibir Yunho, "dan karena ulahmu dia harus kehilangan bayinya. Karena kau anak kalian meninggal!"
Dengan napas terengah Yoochun melangkah meninggalkan Yunho yang nampak syok. Ia berjalan keluar dari kelas melewati beberapa murid yang hanya berani menonton.
Yoochun mengepalkan tangannya. Ia bersumpah akan membuat Yunho menyesal atas semua. Ia akan membuat Yunho menyesal karena melepas Jaejoong, bahkan membuat Jaejoong menangis di bawab guyuran hujan yang membuat kandungannya bermasalah.
.
.
Yunho menghapus sudut bibirnya yang terasa perih. Bisa-bisanya Yoochun memukulnya begitu saja dengan alasan Jaejoong hamil. Mana ada laki-laki bisa hamil bahkan sampai keguguran. Itu adalah hal terkonyol yang pernah ia dengar.
Yunho meraih tasnya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya, lalu bangkit dan berjalan keluar kelas. Ia tertawa di sela langkahnya. Jaejoong hamil! Yunho jadi ingat perkataan Jaejoong di ruang olahraga. Membuat Yunho berpikir jika Yoochun marah karena anaknya dengan Jaejoong mati.
Yunho pikir, hari itu hanyalah sebuah drama. Jadi itu alasan mengapa Jaejoong memutuskan dirinya. Seharusnya mereka tidak perlu berbohong hanya agar ia mau melepaskan Jaejoong. Toh, ia juga sudah melepaskan mantan kekasihnya itu.
Yunho membuka lokernya. Hari ini adalah terakhir ia berada di seoul. Setelah hari ini, ia sudah memutuskan untuk kuliah di Jepang. Ia butuh tempat baru yang bisa membuatnya melupakan Jaejoong. Ia tidak bisa terus menerus hidup dalam bayang-bayang kim Jaejoong.
Satu persatu barang miliknya, Yunho masukkan ke dalam tas. Hingga pergerakannya terhenti ketika ia melihat sebuah beludru merah dengan selembar kertas yang tertempel di sana. Perlahan ia meraih benda tersebut. Matanya membulat membaca kalimat yang tertulis itu. Tanpa menutup lokernya ia berlari dari tempatnya tersebut. Keluar dari gedung sekolahannya sembari meremas kertas dan kotak beludru di tangannya.
"Selamat ulang tahun beruang mesum. Kau bilang akan melamarku. Tapi aku yang melamarmu duluan.
So, will you marry me!"
.
Rain Chan
.
Jaejoong menoleh ke belakang. Berharap Yunho ada di sana dan mencegah ke pergiannya. Namun ia sadar jika itu hanyalah harapan kosong. Yunho tidak mungkin ada untuknya lagi.
"Jaejoong ah!"
Jaejoong kembali menatap ke depan dan berjalan mengikuti Yoochun. Ia mengeratkan coatnya, menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat. Setelah malam itu, setelah Yoochun menemukan ia pingsan di pusat kota Seoul, ia pun memutuskan untuk ikut Yoochun ke Amerika. Setelah Yoochun meyakinkan dirinya, ia pun berpikir jika memang ia lebih baik meninggalkan Seoul dan menjalani hidup barunya di Amerika.
Sekali lagi Jaejoong menoleh. Ia tersenyum menahan rasa sakit ketika tidak mendapati Yunho di sana. Ia menghela nafas. Semua memang sudah berakhir.
.
.
I guess it's love, I guess it's longing
Your smile is buried in me
After the flower withers, we will start again
Start again, start again.
.
.
.
To be Continue...
Ada beberapa pertanyaan sudah terjawab di atas. Dan beberapa pertanyaan, tidak bisa saya jawab. Maaf karena hal itu akan terjawab seiring berjalannya Chapter.
Saya berterima kasih atas follow, fav dan reviewnya. Karena saya tahu, ff ini jauh dari kata bagus.
Mohon saran dan kritiknya.
.
Thank's to:
lunabie, meybi, 5351, shity-shinee, shipper89, nabratz, snow-drop-1272, azahra88, elfsissy701, iche-cassiopeiajaejoong, zehara iona, ClouDyRyeoRez, shanzec, shim jaecho, birin-rin, hyuashiya, kim anna shinotsuke, dee6002, MalaLee, jema agassi
