Temptation

Pair:

Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook (Jungkook)

Rate: M

Length: Twooshot.

Summary:

When he come to me, I only know that he looks like a devil. A devil that is full of temptation and ready to drag me with him. / VKook, BL, AU.

Warning:

BL, AU, Fiction. Inspired by Taehyung on stage (I'm serious, btw).

Notes:

All Jungkook's POV.

BGM:

Fifty Shades of Grey OST – Crazy In Love

.

.

.

.

.

Temptation (Part. 2)

Aku berjalan memasuki ruangan club dengan mata yang terus berputar ke seluruh penjuru club, ini gila, aku tidak tahu apakah Taehyung sudah melaporkanku kepada manajemen club atau belum dan ini membuatku ketakutan setengah mati.

Ah sial, kalau aku tahu akan begini jadinya, seharusnya aku turuti saja saat Taehyung 'meminta' diriku.

Langkahku terhenti saat lintasan pikiran itu melintas di dalam kepalaku, kemudian aku menggeleng keras. Tidak, aku sudah berulang kali mengatakan pada diriku kalau aku tidak cukup gila untuk menjajakan diriku di Seoul. Jadi tidak, keputusanku untuk menolak permintaan Taehyung adalah yang paling tepat.

Yoongi melirikku dengan tatapan aneh saat aku tiba di balik meja bartender dan berdiri di sebelahnya.

"Kenapa, Hyung?" tanyaku dengan nada polos.

"Kau terlihat seperti buronan, gelisah, cemas, dan berulang kali menatap sekeliling. Apa kau baru saja melakukan tindak kejahatan? Membunuh misalnya?"

"Hyung!" pekikku keras.

"Oh, bukan ya?"

Aku menghela napas pelan, "Jelas bukan. Aku tidak melakukan tindak kejahatan."

"Lalu? Apa kau memiliki pacar baru dan mengundangnya ke sini?"

"Tidak, aku tidak memiliki pacar. Dan apa maksudnya dengan 'pacar baru'? Aku belum pernah berkencan sekalipun."

Yoongi berdecak, "Ya, ya, aku lupa kalau kau adalah 'Baby Bunny'."

"Jangan panggil aku seperti itu!"

"Kenapa? Manajer kita bilang dia dulu sangat senang saat kau melamar pekerjaan karena dia merasa seperti mempekerjakan kelinci kecil."

Aku menyipitkan matamu, "Kau bercanda."

Yoongi menggeleng ringan, "Tidak, aku serius. Tanyakan saja padanya."

Aku mendengus dan mulai sibuk dengan pekerjaanku sebagai bartender, aku melangkah menghampiri seorang pria yang mengetuk-etuk meja bar kami dengan gelasnya.

"What can I get you, Sir?" tanyaku dengan senyum professional andalanku.

"Ya, aku mau.." pria itu terdiam dan matanya meneliti wajahku kemudian pandangannya bergerak turun memperhatikan tubuhku. Dia menatapku, "Perfect, berapa hargamu untuk satu malam?"

'Oh God, not again..'

"A-aku.."

Sial, kalau aku menolak lagi, bisa dipastikan aku akan ditendang keluar dari pekerjaan ini. Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan?

"Berapa? Katakan saja."

Aku menggigit bibir bawahku dan menunduk, kurasa ini memang saatnya bagiku untuk mulai membiasakan diri dengan 'pekerjaan tambahan' di sini.

"Excuse me, what are you doing with my property?"

Aku mendongak saat mendengar suara berat yang baru beberapa hari ini kukenal dan aku melihat Taehyung di sana, tengah menatap pria yang baru saja 'menawar' diriku dengan tatapan tajam.

Pria itu tergagap dan menunjuk diriku, "Yours?"

Taehyung mengangguk, "Yep, completely mine."

Pria itu mengangkat kedua tangannya, "Kalau begitu aku mundur, bermain dengan properti seorang Kim Taehyung tidak akan bagus untuk hidupku."

"Good,"

Pria itu berjalan meninggalkan meja bar dan meninggalkan aku dan Taehyung di meja bar. Aku masih terpaku karena aku tidak paham dengan maksud ucapan Taehyung dan juga alasan kenapa pria itu terlihat segan pada Taehyung.

Sebenarnya siapa Kim Taehyung ini?

"Hey, you okay?"

Aku terlonjak pelan karena kaget dan aku refleks mengangguk-angguk.

Taehyung berdecak, "Kau seharusnya tidak terlalu menarik perhatian."

Aku mengerjap bingung, apanya yang menarik perhatian? Aku berpenampilan seperti biasanya dan aku yakin aku tidak menarik sama sekali.

Taehyung berdecak dan menatapku, atau mungkin menatap bibirku dan dia menjilat bibirnya sendiri dengan sensual dan perlahan. Dan tanpa sadar aku mengingat kejadian saat dia menjilat bibirku kemarin. Napasku agak terengah dan bibirku terbuka secara refleks.

Taehyung tersenyum miring, "Kau mengingatnya ya?"

Apa?

"Kau mengingat saat aku menjilat bibirmu, kan?" Taehyung memajukan tubuhnya dan menumpukan separuh tubuhnya ke meja bar. "Kau ingin aku melakukannya lagi?"

Astaga, dia menggodaku lagi.

Dan apa yang bisa dilakukan olehku yang sangat awam dalam urusan menerima godaan?

"A-aku.."

Taehyung memiringkan kepalanya dan menatapku, "Aku tidak melaporkanmu pada manajemen bar. Kau senang?"

"Y-ya.." bisikku pelan.

"Benarkah?"

Aku mengangguk pelan dengan mata yang tertuju pada bola mata Taehyung. Kurasa aku bisa gila, tatapannya menggodaku dan membuatku gemetar.

Taehyung tersenyum miring dan jemarinya terulur menyentuh dasi kupu-kupu yang melingkar di leherku. "Kalau begitu, aku boleh menerima sedikit hadiah, kan?"

Oh Tuhan, ambil saja aku sebagai hadiahmu!

Gila, kurasa aku benar-benar gila karena aku baru saja menjeritkan kalimat tadi dalam kepalaku. Dugaanku soal Taehyung ternyata memang benar, dia benar-benar seseorang yang berbahaya.

Taehyung menatapku, "Boleh, kan?"

Ada gelenyar menyenangkan di seluruh tubuhku, perutku melilit dan terasa seperti ada puluhan kupu-kupu beterbangan di sana. Tuhan, sensasi yang diberikan Taehyung benar-benar membuatku nyaris gila, dia hanya menyentuh dasiku dan menatapku tapi aku merasa tatapannya benar-benar menelanjangiku.

Aku terengah pelan dan menggigit bibirku pelan, tanpa sadar membuatnya menjadi memerah dan merekah.

Taehyung menatap bibirku dan aku bersumpah aku melihat pandangannya menggelap karena nafsu.

"Yo, Taehyung!"

Aku bersyukur pada siapapun itu yang baru saja menginterupsi kami karena kalau tidak kurasa Taehyung akan menarikku keluar dari meja bar ini dan membawaku entah kemana.

Taehyung berbalik dan dia menatap pria yang baru saja memanggilnya, "Jimin.."

Aku mengerutkan dahiku saat melihat Park Jimin di sana, Park Jimin mengenal Taehyung?

"Kau sedang apa?" tanya Taehyung malas.

"Aku? Menemui Baby Sugarku." Jimin menoleh ke arah Yoongi dan memberikannya lambaian ringan serta senyuman lucu.

Dan ini benar-benar membuatku semakin bingung karena apa benar Park Jimin ini adalah Park Jimin yang sama yang sering membawa Yoongi pergi? Dia tidak terlihat seperti seseorang yang buas. Padahal jika melihat dari kondisi Yoongi yang selalu kesulitan berjalan setelah menghabiskan malam dengan Park Jimin sudah cukup menjelaskan seberapa buasnya seorang Park Jimin.

Taehyung mendesis, "Euw, get a room please."

"I will. Aku memang berniat mengajak Yoongi ke 'room' kok." Jimin terkekeh pelan dan memberikan senyuman seksi pada Yoongi.

Oke, ternyata ini memang Park Jimin yang sama dengan Park Jimin yang sering membawa Yoongi pergi.

Jimin mengalihkan pandangannya dari Taehyung dan menatapku, "Apa kau Jungkook?"

"Kau mengenalku?"

"Yoongi pernah cerita kalau dia memiliki seseorang yang dia anggap adiknya sendiri dan dia bilang namanya Jungkook." Jimin tersenyum ramah padaku, "Senang bertemu denganmu."

Aku membalas senyuman Jimin dengan senyuman lebar hingga bunny toothku terlihat.

"Aw! Kau imut sekali!" ujar Jimin kemudian dia tertawa.

"Ehem! Park Jimin, kuharap kau tidak flirting dengan milikku."

Jimin menatap Taehyung kemudian dia menatapku, kemudian dia menatap Taehyung lagi. "Dia?"

Aku mengerjap bingung, pembicaraan ini benar-benar tidak kumengerti, aku masih tidak mengerti kenapa Taehyung terus saja bersikeras mengatakan aku adalah miliknya.

"Maaf kalau aku mengganggu pembicaraan kalian, tapi Jungkook harus bekerja. Aku bisa gila kalau melayani pesanan minuman itu sendirian." Yoongi berujar dengan tegas dan dengan santainya menarikku menjauh dari hadapan Taehyung dan Jimin.

.

.

.

.

.

.

.

Aku memakai mantelku dan menatap Yoongi yang sedang memakai sepatunya, "Hyung, sebenarnya apa hubunganmu dan Park Jimin?"

"Kami? Mungkin semacam friends with benefit?" ujar Yoongi kemudian dia mengangkat bahunya acuh, "Aku tidak terlalu peduli."

"Benarkah? Tapi bukankah ada yang mengatakan kalau kau sudah berhubungan intim dengan seseorang maka batinmu akan terikat dengannya? Apa kau baik-baik saja dengan itu?"

Yoongi menutup lokernya dan meraih tasnya, "Bahkan Jimin tidak akan pernah sadar kalau jiwaku ada padanya. Dia itu tidak peka dan aku hanya mencoba bertahan di sisinya saat ini."

"Kenapa?"

Yoongi terdiam sebentar kemudian dia menatapku, "Cinta tidak butuh alasan, kan?"

Aku tersentak saat mendengar ucapan Yoongi, bahkan aku tidak sadar saat Yoongi sudah berjalan keluar dari ruang loker dan meninggalkanku sendirian.

Cinta?

Aku tidak pernah jatuh cinta, hidup sendirian membuatku bekerja terlalu keras dan hanya fokus pada usahaku mendapatkan uang untuk melanjutkan hidupku. Aku tidak pernah memiliki kisah cinta, masa sekolahku kulewati dengan belajar mati-matian agar bisa cepat lulus dan waktu kerja sambilan dari dini hari hingga tengah malam.

Bahkan aku tidak memiliki waktu tidur yang cukup, jadi cinta bukanlah bagian dari hidupku sejak dulu.

Aku berjalan keluar dari ruang club dan berhenti saat melihat sebuah sport car mewah tengah berada di pinggir jalan dengan Taehyung yang sedang bersandar di atas kap mobil mewah itu.

"Hei," sapanya.

"Hai, ada apa?"

Taehyung mengedikkan kepalanya ke arah mobilnya, "Naiklah, kuantar pulang."

"Kurasa tidak perlu, aku terbiasa pulang sendiri."

Aku membungkuk sopan padanya kemudian berjalan pergi meninggalkannya. Kurasa yang terbaik bagiku adalah tidak berurusan dengan Kim Taehyung, aku tidak memiliki pengalaman soal cinta dan Taehyung selalu membuat seluruh tubuhku terbakar karena aura menggoda darinya.

Aku tidak mau pengalaman pertamaku hanya berupa one-sided love seperti yang dialami Yoongi saat ini.

Aku ingin pengalaman pertamaku mengenal cinta adalah dengan seseorang yang kucintai dan mencintai diriku.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian aku tidak bertemu Taehyung, dan seisi club sudah mengenalku sebagai 'milik Kim Taehyung' sehingga nyaris tidak ada yang berani berbicara denganku kecuali jika mereka ingin memesan minuman.

Dulu, aku masih melayani beberapa tamu untuk mengobrol sambil membuatkan minuman mereka, tapi sekarang mereka memilih untuk menjaga jarak dariku.

Sebenarnya siapa Kim Taehyung? Kenapa dia bisa melakukan semua ini?

Aku berjalan menghampiri Yoongi setelah selesai membuatkan minuman untuk salah satu tamu, "Hyung,"

"Hmm?"

"Apa kau tahu siapa Kim Taehyung sebenarnya?"

Yoongi mengerutkan dahinya, dia meletakkan gelas yang sedang dibersihkan olehnya. "Kau tidak tahu?"

Aku menggeleng polos.

"Astaga, Jeon Jungkook, kau sudah berkeliaran di sekelilingnya dan dinyatakan sebagai miliknya tapi kau tidak tahu siapa dia?"

"Aku bahkan tidak mengerti kenapa dia mengatakan kalau aku miliknya."

Yoongi berdecak pelan, dia membalik posisi tubuhnya menjadi menghadapku. "Dia salah satu pengusaha besar seperti Jimin. Tapi berbeda dengan Jimin yang memiliki bisnis di bidang entertainment dan resort, Taehyung memiliki bisnis di bidang properti dan elektronik."

"Dia pengusaha?"

"Ya, dan yang tersukses di usianya, sama seperti Jimin. Mereka berdua teman baik dan karena keduanya muda, seksi, dan lajang, banyak yang menjuluki mereka sebagai Mr. Grey versi nyata."

"Wow, aku tidak tahu itu."

Yoongi mengangkat bahunya acuh, "Aku juga baru tahu ini setelah malam pertamaku menginap di apartemen Jimin. Aku kaget saat melihat apartemennya yang luar biasa mewah sedangkan dia bilang dia baru tiba di Seoul selama tiga hari."

"Oya?"

"Yap, dan ketika aku mengetahui fakta soal Jimin, aku yakin dia mendekatiku hanya sebagai 'hiburan' untuknya selama dia di Seoul. Seorang pria seperti Jimin tidak mungkin tertarik padaku, mungkin baginya aku hanyalah salah satu dari sekian selir miliknya."

"Hyung, menurutku itu kasar sekali."

"Oya? Menurutku itu biasa saja, media sudah sering menangkap momen antara Jimin dan beberapa artis serta model terkenal." Yoongi menatapku, "Aku melihatnya di internet saat mencari informasi soal dirinya." Yoongi berdehem pelan, "Tapi kenapa kau menanyakan ini? Apa kau sudah menghabiskan malam dengan Taehyung?"

Aku menggeleng pelan, "Tidak."

"Kau terlihat sedih, apa kau jatuh cinta padanya?"

Aku menatap Yoongi dengan tatapan nanar, "Entahlah, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya."

"Apa yang Taehyung lakukan saat kalian bersama?"

"Tidak ada, dia hanya menatapku dan aku merasa begitu menginginkan dia. Apa itu salah?"

"Itu tidak salah, kau belum pernah mengalami hal ini makanya kau merasa begitu tertarik dan tergoda saat melihat dia. Yah, aku tidak akan menyalahkanmu, Taehyung memang menggoda."

"I don't know, but I think he is an Incubus."

Yoongi tertawa kecil, "Why?"

"Karena kau bilang yang berani menggodaku mungkin hanya Incubus."

Yoongi tertawa keras dan menepuk-nepuk bahuku, "He's not." Yoongi melirik ke pintu masuk bar, "Your Incubus is here.."

Aku menoleh cepat ke pintu depan dan aku melihat Taehyung berjalan memasuki bar dengan tenang. Beberapa hari tidak melihat Taehyung justru membuatku merasa terbakar bahkan hanya dengan melihatnya berjalan.

Ini gila, aku benar-benar harus menjauh dari Taehyung atau aku akan benar-benar terjebak dalam jurang nafsu bersamanya.

"Hei,"

"H-Hai.."

"Sherry."

"Ya?"

"Aku pesan Sherry."

"A-ah ya, baiklah." Aku bergegas mengambilkan gelas untuk Taehyung dan menuangkan Sherry untuknya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Taehyung sambil mengangkat gelasnya dan menyesap isinya sedikit, setetes Sherry lolos dari bibir Taehyung dan dia menjulurkan lidahnya untuk menjilat itu.

Aku terengah melihatnya, tanpa sadar jemariku mencengkram pinggiran meja bar karena kurasa aku agak pusing. Aku sama sekali tidak sadar kalau Taehyung memperhatikan wajahku dengan teliti.

Wajahku panas dan bibirku terbuka karena aura menggoda yang dipancarkan Taehyung. Aku bisa gila, tubuhku yang tidak berpengalaman benar-benar dibuat tidak berdaya dalam tatapan Taehyung.

Taehyung mendekatkan wajahnya ke wajahku, "Jungkook.." bisiknya tepat di depan wajahku, aroma Sherry yang baru saja diminumnya menyeruak dari mulutnya dan tercium olehku dan ini sama sekali tidak bagus, kurasa selain mabuk akan Taehyung, aku juga bisa mabuk karena aroma alkohol itu.

"Y-ya?" ucapku dengan bibir bergetar karena gairah. Tubuhku melemas dan cengkramanku pada meja semakin menguat.

Taehyung menjulurkan lidahnya dan menyelipkannya di sela bibirku yang terbuka kecil, tanpa sadar bibirku bergerak mengapit lidahnya.

Taehyung menarik lidahnya dan menyeringai, ibu jarinya terulur dan mengusap bibir bawahku, "Mau pergi denganku setelah kerja?"

Aku mengangguk tanpa sadar, aku benar-benar terbuai oleh tatapan Taehyung.

Taehyung tersenyum miring dan menciumku. Sensasi saat bibirnya akhinya menempel di bibirku benar-benar tidak bisa diekspreksikan dengan kata-kata. Rasanya seolah ini kepalaku meledak karena aku merasa pikiranku kosong, Taehyung melumat bibirku dengan agak kasar tapi aku sama sekali tidak keberatan, aku justru amat sangat menyukainya.

Pikiranku kosong dan aku mencengkram bahu Taehyung untuk mendapatkan tumpuan. Kalau saja meja bar ini tidak menghalangiku, aku pasti sudah memeluk Taehyung erat-erat.

Taehyung melepaskan ciumannya dan menatapku yang masih terengah-engah dengan wajah yang aku yakini merah padam.

Dia menjulurkan tangannya dan mengelus bibirku yang basah dengan ujung jari telunjuknya. "See you after work."

"Y-yeah.." bisikku pelan.

I know that Taehyung is a very dangerous man. He make me lost.

Lost in the greatest temptation that he gave to me.

And I'm just like a little bunny that got caught by a dominant lion.

And there's no way out from it.

The little bunny has successfully captured by the dominant lion.

The End

.

.

.

.

.

Haaai~

Aku kembali untuk sementara dan membawakan ini untuk kalian.

Aku masih dalam masa UAS kok, besok aku ada UAS lagi. Huhuhu T^T

.

.

P.S:

Rated M is not always a story with NC on it. This story is mature enough to be put on M rated ^^

See you on another VKook story!

And congratulation to our 'Baby Bunny' that already become our 'Adult Bunny'.

But I think he'll be our foreber baby, like Jin said, Jungkook is their forever maknae and he will not let him drink alcohol XD

Hahaha, the power of Bangtan's mom!

.

.

.

Lastly, review? ^^v

.

.

.

Thanks