Young and Old
SEQUEL!
#2: Cuddle
.
.
.
ChanBaek's fanfiction by Alicia J.W.
.
.
Mind to read and review?
.
.
Author's point of view
"Nah, Baekhyun, baik-baiklah di rumah. Mama percaya kau tidak akan bertindak berandal karena ditinggal seminggu. Mama akan membelikanmu oleh-oleh jika kau jadi anak baik, oke?" Mama Baekhyun, Haru, mulai mentitah putri sulungnya seraya berjalan menuju mobil diikuti oleh Baekhyun dan seorang pelayan yang membawa koper berukuran sedang.
Baekhyun merengut. "Harusnya Mama bilang itu ke Sehun. Dia sering pergi keluar dan pulang agak malam!"
Haru memutar mata. "Sehun laki-laki dan dia sering pulang malam karena sedang mempersiapkan pentasnya. Sudahlah, bersikap baik dan Mama ingin kau baik-baik saja. Oke?" Wanita cantik itu mencubit pipi halus Baekhyun gemas, kemudian masuk kedalam mobil.
"Cho ahjussi, tolong jaga Baekhyun dan Sehun, ya!" Haru melambai semangat dari jendela mobil yang terbuka separuh. Pelayan yang berdiri dibelakang Baekhyun, Cho ahjussi, membungkuk hormat. Baekhyun sweatdrop, Mamanya seperti melambai dari jarak puluhan kilometer padahal mobil yang ditumpanginya bahkan belum jalan.
Tak lama kemudian, seorang pria muncul dari pintu rumah Baekhyun. Pria itu adalah Papa Baekhyun, Byun Jihyuk.
"Papa!" Baekhyun memekik antusias. Ia memeluk tubuh tinggi tegap Jihyuk.
"Baek, turuti ucapan Mamamu, arra? Papa membebaskanmu melakukan apa saja asal itu bukan sesuatu yang melanggar etika dan sopan santun."
Baekhyun menahan diri untuk memutar mata. "Baik, Papa."
Jihyuk pun masuk kedalam mobil itu.
Mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah mewah keluarga Byun yang luas bersamaan dengan Haru dan Baekhyun yang saling melambaikan tangan dengan penuh semangat.
Setelah mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya menghilang dari pandangannya, Baekhyun meloncat-loncat. Wajahnya yang imut dan tingkahnya yang kekanakan membuatnya nampak seribu kali lebih imut dari seorang anak kecil. Sambil berjalan masuk kedalam rumah, ia meraih ponselnya yang tersimpan di saku celananya.
Hendak menghubungi sang pujaan hati. Dan diangkat di dering ketiga.
"Ya, sayang?"
"Channie! Kau sedang apa?"
Terdengar suara berkeresak ribut dari pihak Chanyeol.
"Aku baru kembali dari supermarket dan sedang membereskan belanjaanku."
"Emm… apa itu berarti kau tidak sibuk?"
"Aku hanya akan menonton TV nanti."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Ia berlari menuju lantai dua yang kemudian diperingati oleh Cho ahjussi agar berhati-hati.
"Aku punya film baru. Bisakah aku ke apartemenmu? Papa dan Mama baru saja pergi untuk seminggu kedepan dan Sehun juga sedang ke rumah Luhan. Aku bosaaaaan~"
Chanyeol tertawa di seberang sana. "Baiklah. Kau ingin kujemput atau datang sendiri?"
"Datang sendiri saja, deh."
"Oke. Aku akan menyiapkan peralatan menonton kita."
Baekhyun mengikik. Tangannya mulai menelusuri lemari bajunya.
"Sampai jumpa!"
"Yep! Love you, baby Baek."
"Love you too, Chanyeolla!"
Pip.
Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dada kemudian menatap isi lemari bajunya dengan tatapan menghakimi.
Baekhyun melirik kemeja putih semi transparan yang tergantung manis. Gadis itu mengelus dagunya, kemudian mengambil kemeja yang tadi diliriknya beserta hotpants hitam.
"Sekarang musim panas dan aku cukup gerah, Mama." Baekhyun terkikik jika mengingat bagaimana sulitnya mendapatkan beberapa potong hotpants ketika berbelanja bersama Mamanya yang super protektif itu.
Setelah berganti pakaian, ia pun berdandan sedikit. Baekhyun tahu benar Chanyeol suka kalau ia memakai sedikit lipgloss berwarna merah jambu yang berkilauan. Ia segera mengaplikasikannya diatas bibir merah jambu alaminya.
Sedikit bedak kemudian mengikat rambutnya menjadi cepol longgar tinggi menyisakan sebagian anak rambutnya. Dan Baekhyun mematut dirinya di cermin besar dibalik pintu lemarinya.
"Not bad." Baekhyun tersenyum puas. Ia sangat mensyukuri kulit putih yang diturunkan sang Mama kepadanya dan Sehun. Dan lebih beruntungnya lagi, kulit putih itu sama sekali tak pernah hitam meski sering terpanggang matahari. Paling parah bisa menimbulkan kemerahan di kulit.
Baekhyun merasa dirinya sudah siap. Ia memakai sneakers putihnya, meraih tas selempang mungilnya kemudian diisi dengan beberapa barang lalu keluar kamar.
"Nona Baekhyun, Anda mau keluar?"
Baekhyun menoleh. Ia mendapati seorang gadis berwajah jelita dan berpakaian maid tengah mendekatinya.
"Ya. Jihyung-ah, mana Cho ahjussi?" Baekhyun tak pernah bersikap sok bossy kepada semua pengurus rumah karena ia menganggap mereka juga keluarganya. Jihyung menunjuk ujung lorong dengan ibu jari.
"Beliau sedang membersihkan ruang kerja Tuan Besar. Tapi tadi saya lihat Sumin sedang memanaskan mobil dibawah, nona. Katanya ia ingin membawanya ke tempat servis." Jelas Jihyung. Baekhyun mengangguk.
"Oke. Aku mau pergi ke tempat Chanyeol. Kurasa Sehun akan pulang agak malam atau membawa Luhan kemari, entahlah." Baekhyun berjalan turun. Jihyung mengikuti dibelakang.
Kedua gadis itu berjalan menuju garasi dan menemukan seorang pemuda tengah berdiri disamping salah satu mobil yang berjejer disana.
"Sumin, kau bisa antar aku ke tempat Chanyeol?"
Sumin menoleh, kemudian mengangguk.
Baekhyun menoleh ke Jihyung.
"Aku pergi. Sampai jumpa."
.
.
.
"Ya ampun, Baek baby! Kau datang lebih cepat dari dugaanku. Masuklah."
Baekhyun tersenyum manis kala Chanyeol menyingkirkan badan jangkungnya dari pintu masuk untuk mempersilahkan putri mungilnya itu masuk.
Pintu berdebam pelan. Kemudian Baekhyun merasakan lingkaran lengan di sekeliling tubuhnya dan tubuh mungilnya yang seperti terangkat.
"Ahh, aku merindukanmu, sayang." Chanyeol menciumi pipi gembil Baekhyun dari belakang seperti menciumi pipi bayi. Baekhyun terkikik ceria. Tangannya terangkat mengusap sisi kepala Chanyeol.
Setelah sekian lama bergelut dengan ujian akhir, akhirnya Baekhyun dan Chanyeol mendapatkan masa liburan mereka. Chanyeol memutuskan berhenti menjadi guru honorer dan kembali mengurusi perusahaan Ayahnya karena beliau mulai sering sakit, yang disambut gembira oleh Baekhyun karena tidak harus terbakar cemburu melihat pacarnya digandrungi para siswi dan guru perempuan.
Chanyeol mendudukkan dirinya di sofa dengan Baekhyun di pangkuannya.
"Kau sudah makan, Cinta?" Chanyeol masih setia memeluk tubuh mungil kekasihnya. Baekhyun mengangguk dalam pelukannya.
"Sarapan hari ini sangat menyenangkan karena Suyang membuatkan makanan kesukaanku." Celoteh Baekhyun. Chanyeol tersenyum, ia memejamkan mata seraya menenggelamkan wajahnya ke surai lembut Baekhyun.
"Lalu Papa membebaskanku melakukan apapun asal tidak melanggar etika dan sopan santun," Baekhyun memainkan jemari lentiknya diatas lengan Chanyeol.
"Bisakah kau menginap?" ucap Chanyeol lirih. Ia mengeratkan pelukannya seraya menyurukkan wajahnya ke lekukan leher Baekhyun.
Baekhyun mengusap lengan Chanyeol. "Nanti aku akan menelpon Cho ahjussi dan memastikan dia tutup mulut."
Chanyeol mendudukkan Baekhyun disebelahnya kemudian menatap Baekhyun intens.
"Nah, katamu kau punya film bagus. Jadi? Bisa kita tonton sekarang?" suara berat Chanyeol seakan mengintimidasi perhatian gadis manis itu. Baekhyun merona, kemudian dengan gugup mengambil kaset yang tersimpan di tas mungilnya.
"Ini." Baekhyun menyodorkan sebuah kaset kepada Chanyeol.
Paranormal Activity: The Marked Ones.
"Sejak kapan kau suka horor?" Chanyeol memandangi kaset di tangannya dengan takjub.
"Aku hanya ingin. Lagipula lebih enak menonton disini." Baekhyun memeluk Chanyeol dari samping dan memberikan puppy eyes attack untuk kekasihnya itu.
Chanyeol tertawa. Ia mengusap kepala Baekhyun lalu mengecup puncaknya.
"Baiklah, princess. Segera menuju tempat istimewa kita."
Chanyeol bangkit menuju kamarnya. Ia hanya memasang TV flat di kamarnya agar ia bisa menonton sambil beristirahat di ranjang. Kamar Chanyeol bisa berfungsi sebagai home theater dan tempat main game mengingat Sehun sering main kesini untuk tanding main game.
Namun Baekhyun tak kunjung bangkit. Chanyeol berbalik dan mendapati Baekhyun tengah mengangkat kedua tangannya dan memasang ekspresi merajuk.
Merajuk, Demi Tuhan. Dan Chanyeol sangat lemah akan ekspresi menggemaskan itu!
"Gendong, oppa-ya~"
Chanyeol menghela napas, lalu mendekati Baekhyun dan berjongkok dihadapannya.
"Piggy back, bridal style atau baby panda?" Chanyeol memberikan pilihan gendong kepada kelinci manis itu. Baekhyun memasang tampang berpikir super imut yang membuat Chanyeol ingin membantingnya ke ranjang sesegera mungkin.
"Baby panda!"
Chanyeol tersenyum. Ia berdiri kemudian melingkarkan lengan panjangnya ke sekeliling pinggang Baekhyun kemudian mengangkatnya, disusul Baekhyun yang melingkarkan kedua tangan kurus dan kaki jenjangnya ke sekeliling leher dan pinggang Chanyeol. Baekhyun berusaha menyamankan posisinya tanpa tahu bisa membuat Chanyeol panas dingin di tempat.
Pemuda itu segera berjalan menuju kamar dengan Baekhyun yang memeluk tubuhnya nyaman.
Sesampainya di kamar, Chanyeol mendudukkan Baekhyun di ranjangnya lalu memutar kaset film.
Baekhyun meletakkan tas mungilnya disamping ranjang lalu duduk dibawah. Lantai kamar Chanyeol adalah satu-satunya di apartemen ini yang dilapisi karpet, sehingga Baekhyun tak perlu takut merasakan dingin menyentuh paha putihnya.
Setelah memastikan kaset film mulai terputar, Chanyeol menjedanya dulu. Ia mengambil beberapa peralatan menontonnya, yaitu snack dan minuman. Kemudian bantal-bantal yang mungkin akan sangat berguna untuk Baekhyun.
Setelah semuanya tersedia, Chanyeol duduk disamping Baekhyun yang memeluk erat bantal rilakkuma miliknya. Chanyeol tersenyum meringis, ia yakin Baekhyun setengah takut setengah antusias dengan film yang akan mereka tonton.
.
.
.
Chanyeol's point of view
Acara nonton film kami lebih didominasi oleh jeritan Baekhyun yang teredam bantal dan ia yang menyembunyikan wajahnya ke dadaku. Ya ampun, sudah kuduga Baekhyun takkan tahan nonton yang seperti ini.
Kini kami baru saja selesai makan malam dan Baekhyun yang memaksaku menemaninya cuci piring. Dia pasti masih terbayang akan seramnya film tadi. Meski menurutku film tadi biasa-biasa saja.
Aku mengamati punggung sempit Baekhyun yang berjarak tak jauh dariku. Ahh, gadis itu begitu menggemaskan dan indah. Membuatku merasa tak pantas untuk mencintainya. Ia bagaikan gula-gula yang disenangi anak-anak. Ya, Baekhyun dicintai banyak orang karena sikapnya yang ceria dan bersahabat. Dia berbeda dengan gadis kebanyakan.
Baekhyun termasuk golongan orang kaya namun ia tak selalu seperti itu. Gadis itu masih mau menuruti ajakanku menaiki bus atau kereta bawah tanah. Ia juga senang-senang saja diajak bersepeda ke taman kota olehku. Baekhyun tak pernah mengeluh, dan aku menyukai itu.
Aku sendiri merasa bersalah pada Baekhyun karena sudah merenggut impiannya memiliki pacar yang umurnya tak terlalu jauh dengannya. Umurku? 28 tahun. Sebut saja aku pedofil tapi aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali melihatnya bersama Ibunya di acara arisan teman-teman Ibuku.
Aku juga menyesali diriku yang tak bisa menjadi pacar yang baik untuknya. Tak bisa selalu menemaninya baik saat senang maupun sedih. Kesibukanku menyita sebagian besar waktuku, meskipun Baekhyun masih memaklumi hal tersebut.
"…yeol? Chanyeol!"
"Hah?"
Aku terkesiap. Astaga, daritadi aku melamun? Sekarang Baekhyun sedang melipat tangannya didepan dada dan memasang wajah cemberut.
"Kenapa melamun?"
Aku meringis. Kupeluk ia agar kemarahannya menyurut.
"Maaf, sayang. Aku hanya memikirkan betapa beruntungnya aku memiiki gadis cantik sepertimu."
Kulihat pipinya bersemu merah. Manis sekali.
"Semua perempuan cantik, kok."
"Ah, ah. Kau terlalu cantik dan banyak orang yang menginginkanmu. Karena itu aku sangat beruntung." Kukecup pipi merahnya itu lembut.
Baekhyun memelukku erat lalu menenggelamkan wajahnya ke dadaku.
"Jangan bicara begitu. Kau juga terlalu tampan untukku."
Aku terkekeh. Bisa-bisanya dia merendahkan dirinya seperti itu.
Kulepas pelukannya kemudian menyamakan tinggiku dengannya. Menatap iris seindah mentari di puncak salju itu lekat-lekat.
"Kau sangat cantik, Baekhyun. Aku tahu banyak siswa di sekolah yang mengagumimu. Dan aku sangat bahagia kau memilihku. Saranghae, Byun Baekhyun. Atau yang nantinya akan kuganti jadi Park Baekhyun."
Ucapanku sukses membuat mata Baekhyun berkaca-kaca. Ia memeluk leherku erat-erat kemudian terisak.
"Hei hei, jangan menangis, sayang."
"Hiks, aku mencintaimu Chanyeol-ah, aku memang hanya bisa memandangmu sejak waktu itu." Ucap Baekhyun masih sedikit terisak. Tanpa pikir panjang, kugendong dia ala bridal style. Kemudian kuciumi air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku juga mencintaimu."
Aku pun berjalan menuju kamar, agar Baekhyun bisa beristirahat disana.
.
.
.
"Aku suka bau badanmu. Maskulin yang menyenangkan. Tidak seperti Sehun yang memakai wangi-wangian aneh kalau mau bertemu Luhan." Baekhyun sudah berhenti menangis dan kembali berceloteh ceria sebelum tertidur.
Aku memeluknya sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya agar ia cepat tidur. Aku tak ingin Baekhyun tidur terlambat meskipun sekarang masih liburan.
"Aku hanya melakukan hal-hal yang membuatmu nyaman, baby Baek." Kulayangkan ciuman manis ke kening Baekhyun yang tertutup poni.
Baekhyun memainkan jemarinya diatas lenganku kemudian mendesah. Kurasakan ia menempelkan wajahnya ke dadaku.
"Sudah ngantuk, hm?"
Baekhyun mengangguk.
Dan aku pun menyusul Baekhyun menuju alam mimpinya.
.
.
.
END
.
A/N:
Halo semua:) Alicia disini.
Dari kemarin terima email terus dari FFN, tentang review-review dari FF Young and Old. Banyak yang tertarik dengan cerita ini, walau yang review nggak banyak, terima kasih sudah review!:)
Ada reviewer yang pengen HunHan momentnya dibanyakin, maaf ya belum bisa kuwujudkan:) sequel YaO khusus HunHan sedang dikerjakan dan kemungkinan selesai tidak bisa diperkirakan karena aku mudik minggu depan \:D/
Di dua chapter kemarin aku ngga banyak ngomong, sekarang aja ngomongnya. Kritik dan saran yang membangun sangat dianjurkan, berikut pula kesan pesan yang ingin disampaikan setelah membaca sequel ini:)
Terima kasih!
Sign, Alicia J.W.
