Disclaimer : Disclaimed, everybody!
A/N : Sebelum membaca, saya ingin semuanya baca A/N ini. Kita semua tahu akan kasus JIS (seriously creepy) dan gimana pendapat orang-orang tentang underage harassment. Aku secara personal nemuin kalau hal itu benar-benar amoral dan menjijikkan, dan aku inget sama fanfik ini. Secara garis besar, aku ngerasa hipokrit banget. Aku mau menghapus fanfik ini habis chapter ketiga ini. Aku benar-benar nggak bermaksud menyinggung pihak manapun yang mungkin secara tidak langsung atau malah langsung (jangan sampai) pernah terlibat dalam underage harassment. Aku ingin tahu gimana respon kalian. Apa aku benar-benar harus ngapus fanfik ini atau nggak?
On the more happier note, Sorry for the long update!
.
.
.
.
"Jongin... bisa geseran sedikit? Ka-kakimu..."
Minseok hanya sedang mengerjakan matematika, Jongin duduk didepannya, meja diantara mereka. Sekarang mereka sedang mengerjakan matematika di rumah Sehun.
"Hmm? Kakiku kenapa?" Jongin kelihatan datar dan inosen dan tidak terlihat seperti seseorang yang sedang meraba selangkangan orang didepannya.
"Sepertinya kau salah tempat—Hei!" Minseok hampir menampar kaki Jongin ketika jemari kaki itu mengelus... ugh... tempat berbahaya.
"Minseokkie, Jongin? Ada apa?" tanya suara bernada menyenangkan di samping mereka. "Uh, ti-tidak apa-apa kok tante!" seru Minseok agak terlalu cepat dan mendelik ke arah Jongin yang menaikkan bahu. "Minseok Cuma ingin minum, ma, dia kelihatan haus." Jongin tersenyum seakan-akan hal yang baru dia lakukan tidak melanggar adat dan norma. Minseok memerah melihat Jongin yang kembali mengerjakan matematikanya. "Begitukah? Aigoo... kalau begitu, tunggu sebentar ya, Minseok. Tante akan membuat teh hangat untuk kalian berdua. Musim dingin tahun ini memang sangat dingin, ya kan?" suara tante yang terdengar menyenangkan timbul menghilang di kepala Minseok karena sekali lagi kaki Jongin yang kampret itu mengelus kaki Minseok. "Jongin!" Minseok menjerit kecil kaget. Jongin hari ini kenapa?
Hari ini hari libur musim dingin, dan Jongin, seperti Jongin biasanya, meng-sms Minseok untuk datang ke rumah dan mengerjakan PR. Tentu saja Minseok tidak menolak, dia tidak mengerti matematika, dan Jongin adalah salah satu murid prodigi matematika disekolahnya. Jongin menyapanya seperti biasa, mengeluarkan kotetsu yang keluarganya beli dari Jepang seperti biasa, dan mereka berdua menghangatkan dari di bawah kotetsu—seperti biasa.
Lalu kenapa tiba-tiba Jongin bertingkah tidak biasa?
Minseok was going to find out in the hard way.
Of Comfort Zone and Lewd Kotetsu
Nozaki-kun
Warning : Graphic depiction and hand jobs everywhere, because they were still minors! Disini mereka bukan anak kecil juga sihh,
A/N : kotetsu itu meja kecil lesehan yang dikasih selimut supaya orang jepang bisa menghangatkan diri dibawahnya. Di korea juga ada, tapi aku nggak tahu namanya apa. xDDD
"Jongin, bisa nggak kamu—hhng?!"
Tiba-tiba jempol kaki Jongin menekan—ehem —kejantanan Minseok yang sedikit terstimulasi. Minseok menahan kenginan untuk mengerang. Apa yang Jongin lakukan? "Kenapa sih?" Jongin kelihatan datar dan sedikit menikmati wajah Minseok yang mulai berkeringat. Jongin kenapa sih!? Minseok mengejang sedikit ketika Jongin menggosok selangkangannya dari atas ke bawah dengan lembut. Secara tak sadar Minseok melebarkan kakinya dibawah kotetsu, mulut terbukan dan mata tertutup. Tidak ingat siapa-siapa saja yang berada disekitar mereka berdua. Termasuk Tante Kim yang mendekati mereka, hendak menyuguhkan teh. "Ini dia, teh buatan tante! Spesial untuk Minseok, lho. Tante tadinya mau membuat kue juga. Apa Minseok mau kue?" Minseok dengan cepat mencoba terlihat datar dan supaya nafasnya tidak terdegar eratik.
"M-mau tante, mau. Minseok suka kue, kok." Ucap Minseok sedikit berlebihan. Jongin menahan tawa namun kakinya dengan ekspert mencubit kejantanan Minseok. Kaki Minseok menendak kotatsu. Untunglah Minseok tidak merasa sakit. Tante mengangguk tanpa curiga. "Kalau begitu tante akan buatkan, ya? Kalian benar-benar tidak mau belajar di kamar saja? Disini berisik lho." Ucap Tante Kim. "Nanti juga kami naik kok ma. Ya kan, Minseok?" kaki Jongin yang satu lagi tiba-tiba membantu kaki yang lain untuk menjepitnya dan memainkannya. Minseok menggigit tangannya dan menyembunyikan wajahnya dengan cara menenggelamkannya ke meja kotatsu.
"Jo- Jongin... Ibumu..." Minseok tercekik ketika Jongin menggosok kejantanannya dengan kedua kakinya semakin cepat.
"Nikmati saja." Bisik Jongin, suaranya tebal dengan gairah dan keinginan untuk menyentuh Minseok.
"Hmf... nghh,.. ahng!" Minseok menggigit bibirnya dan muffler yang ia bawa dari rumah, PR matematika terlupakan. Nafas Jongin kelihatan semakin cepat, tangannya bergerak sedikit menunjukkan kalau dia juga sedang mengatasi masalahnya. Tante Kim masih tidak melihat, punggungnya masih bergerak di sekitar dapur. "Ah... yah... nmg..." Minseok merasa matanya semakin tidak bisa melihat ketika Jongin dengan sengaja menyentuh ujung penisnya. "Jongin... Jongin!" Suara Minseok naik satu oktaf. "Minseok? Ada apa?" tanya tante dengan sedikit khawatir. "Oh, nggak apa-apa kok ma, Minseok Cuma mau nanya soal. Yang mana, Min?" kaki-kaki Jongin meninggalkan Minseok dan Minseok merasa dadanya berdebar-debar dan sedikit kecewa. Kepalanya bersandar di meja dan dia kaget ketika merasakan kehangatan Jongin disamping kirinya.
"Jongin," Minseok bernafas.
"Nomor berapa?" tanya Jongin dengan datar, tapi tangannya mengelus paha Minseok dengan sedikit menggoda, dan seksi.
"Hng... no-nomor empat." Ucap Minseok.
"Oh." Jongin menggapai pensil dengan tangan kirinya, dan begitu juga tangan kanannya (menggapai penis Minseok secara langsung). Minseok bergetar ketika tangan hangat itu menenggelamkan penisnya. "Ini aljabar biasa. Pertama-tama faktorkan dulu keduanya—" ketika Jongin mengguratkan satu kali, gosokan hangat dan panas dan seksi dia lakukan dengan tangannya, Membuat jempol kaki Minseok melingkar saking enak, ya ampun sangat enak. "—Kemudian lakukan ini, ini, dan ini." Catatan Jongin yang awalnya lambat semakin lama makin cepat dan mensingkronisasi dengan kecepaan gosokannya di penis Minseok. Minseok berusaha untuk tidak melakukan gerakan aneh (melengkungkan punggung, memajukan bokongnya) tapi hal itu terbukti semakin sulit ketika Jongin dengan paksa menggelitiki ujung uretra-nya. "Jongin—Jongin, Jong—hyah!" Minseok datang begitu saja ditangan Jongin. "Kau sudah mengerti, Minseok?" tanya Jongin, seakan-akan tidak ada yang baru saja ejakulasi ditangannya. Minseok, dengan mata yang melihat gelap, dan nafas eratik, mengangguk bodoh.
"Bagus." Jongin mengambil tisu dan dengan lembut membersihkan sisa-sisa cairan Minseok dari selangkangan Minseok. Setelah bersih, Jongin kembali ke tempatnya sambil mengambil tisu dan dengan cepat kembali ke tempatnya sambil membersihkan tangannya. Minseok memandang Jongin dengan pandangan yang perlahan-lahan kembali, dan Minseok yakin dia baru saja melihat ereksi Jongin.
Minseok berdebar-debar.
Hari ini hari yang aneh.
Jongin baru saja... uh...
Jongin bahkan tidak terlihat bingung atau apa. Dia hanya melakukannya.
Jongin mengerjakan matematikanya tanpa memandang Minseok lagi.
Minseok bingung antara harus pulang tanpa memandang Jongin atau bagaiman. Hey, Jongin baru saja melakukan sesuatu diluar keinginan Minseok.
Lalu kenapa kau menikmati? Kenapa kau tidak teriak, atau tampar dia dengan gerakan Taekwondomu? Suara kecil dibelakang kepala Minseok berkata.
Karena dia sahabatku dan aku tak akan menyakiti sahabatku.
Dan menurutmu, pergi begitu saja setelah apa yang dia lakukan padamu tanpa pamit tidak akan membuatnya sakit hati?
Yah...
Dia bahkan membersihkan mu tadi. Berterima kasihlah sedikit!
Minseok memandang Jongin lagi. Dia merasa awkward. Dia bingung dengan kelakukan Jongin. Akhir-akhir ini, Jongin melakukan hal aneh—dia akan menyentuh Minseok, memeluk Minseok dari belakang, menghirup aroma Minseok dari leher Minseok, dan kemudian dia bahkan pernah meremas (!) bokong Minseok. Semua Minseok terima karena dia pikir Jongin hanya bercanda.
(bercanda.)
(bercanda yang mengakibatkan ejakulasi.)
Jongin cukup terkenal di SMP mereka, dan semua anak cewek sepertinya jatuh cinta pada laki-laki seperti Jongin—yang jago menari, manis, dan tinggi. Minseok sempat merasa cemburu, tapi Jongin adalah sahabatnya, dan pada akhirnya dia tidak lagi cemburu. Dan ketika Jongin melakukan ini, Minseok... Minseok tidak tahu harus berbuat apa. Seperti, rasanya seperti... keluar dari kotetsu hangat. Hubungan mereka, seperti keluar dari lingkaran menyenangkan yang mereka sudah buat selama bertahun-tahun. Hampir seperti keluar dari comfort zone yang mereka bangun.
"Jongin," Minseok berbisik. Jongin menatapnya, matanya datar dan Minseok tidak tahu harus berkata apa lagi.
Paling tidak, Minseok, berterima kasihlah sedikit.
Minseok mendapat ide gila. Mungkin mereka keluar dari comfort zone mereka, namun itu tidak berarti Minseok tidak dapat melakukan hal yang sama dengan Jongin. This seemed fucked up as hell, but Minseok could careless. All he wanted to was to be the giver of the pleasure he received earlier.
Minseok masuk ke dalam kotetsu. Didalam terasa hangat, dan gelap—namun bukan berarti Minseok tidak dapat melihat kaki Jongin dan penisnya yang masih terlihat keras di balik jinsnya.
"Mi-Minseok?" ucap Jongin sedikit kaget.
Apa aku berani melakukannya? Minseok sedikit nervous. Mungkin dia tidak seharusnya melakukan hal senyum hangat Jongin dan perasaan panas yang Jongin salurkan beberapa menit yang lalu—membuat Minseok mengedip dan membuat Minseok membulatkan tekadnya.
"Mi-?!" Jongin sangat kaget ketika dia merasa jeansnya dibua oleh Minseok dan penis telanjang nya bertemu dengan nafas hangat. Nafas Minseok ditambah kehangatan didalam kotatsu—Jongin hampir gila ketika dia merasakan sesuatu yang panas dan basah di ujung penisnya.
Minseok—Minseok menjilatnya!
"Uhg!" Jongin melebarkan kakinya dan memaksa tubuhnya supaya tidak terlihat natural. Tapi hal itu benar-benar sulit. Idaman hatinya, sedang menjilatnya, dan dia bahkan tidak bisa melihatnya. Tidak adil! Namun Jongin bukannya protes—oooh, rasanya sangat menyenangkan. "Jongin?" ibu Jongin datang dari dapur. "Minseok mana?" Jongin susah payah untuk tidak bereriak nikmat ketika Minseok bermain dengan testisnya dan memasukan seluruh penisnya ke dalam mulutnya. "Kamar mandi," bisik Jongin. Ibu Jongin mengangguk. "Baiklah... oh, ibu mau pergi ke samping ya. Mau ada pertemuan dengan tetangga. Hmm, mungkin ibu akan pulang jam lima." Ibunya mengangguk dan segera pergi.
Ketika Jongin mendengar pintu depan tertutup, dia segera menjerit sekeras mungkin—dan dia datang dimulut Minseok."Minseok-minseok-minseok, Mi-Minseo—!"
Beberapa saat kemudian, kepala Minseok dan wajahnya yang cantik—merah karena panasnya kotatsu didalam—menyembul keluar, bibirnya berkilauan berlinang cairan Jongin. "Jongin," ucapnya.
Dan Jongin merasa dirinya mengeras lagi.
"Minseok, apa—apa yang kamu lakukan?!" ucap Jongin dengan bingung dan lemah. Orgasme yang tadi baru saja membuatnya lemah, dan dia bisa orgasme lebih dari tiga kali di waktu berdekatan. That's saying something. "Aku... aku ingin membuatmu senang." Ucap Minseok, wajahnya terlihat khawatir. "Apa... yang tadi tidak enak?" Enak! Sangat menyenangkan bisa membuatmu berjongkok diantara selangkanganku, Min! Jongin ingin berteriak. Namun tidak. Dia lebih beradat dari itu. "Minseok, kau, kau tidak perlu melakukan sesuatu karena kau merasa terpaksa. Itu tidak boleh. Aku, aku melakukan hal itu karena aku menyukaimu. Aku menyukaimu, Minseok!" Jongin yang dingin dan datar tidak lagi berdiri di depan Minseok—yang ada hanyalah Jongin yang naif namun penuh dengan gairah. Minseok memandang Jongin kaget, wajahnya merah. "Bodoh!" seru Minseok, bergetar. "Apa—apa menurutmu aku akan menjilat seseorang hanya karena aku terpaksa?! Aku juga menyukaimu!"
Hening.
"Yang benar?" tanya Jongin, sedikit sanksi.
Minseok memerah dan memukul Jongin. Jongin merasa dadanya berdebar-debar.
So much for being out of comfort zone.
"Jadi... kita sekarang pacaran?"
Omongan Jongin yang terdengar penuh akan dirinya sendiri membuat Minseok memerah dan manyun. Jongin tertawa—kalau saja penisnya tidak mengeras.
"Minseok," Jongin berkata dengan malu-malu.
Minseok memandang penis Jongin. "Ya Ampun—bagaimana bisa kau—?!"
Jongin menenggelamkan wajahnya ditangan. "Aku tidak bisa menahan diriku—kau kelihatan begitu ca-cantik dan... dan aku sudah menyukaimu sejak lama!"
Hening.
Jongin merasa bodoh.
"Apa...Apa yang harus aku lakukan?" ucap Minseok.
Dan Jonging tersenyum sangat menyilaukan, menyilaukan seperti pohon natal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
:Owari:
"Oh... ngh..."
Minseok duduk diatas pangkuan Jongin, tangannya menggosok miliknya dan milik Jongin bersama-sama, sementara nafas Jongin eratik di dada Minseok. Awalnya Jongin hanya mengusulkan untuk grinding to each other, tapi panasnya, panasnya minta ampun. Sehingga Jongin tidak kuat lagi dan mengusulkan agar tangan Minseok saja yang bermain. Jongin tahu Minseok masih belum siap untuk anal seks. "Jongin, Jongin, Jongin—ah," Minseok merasa tubuhnya melayang ketika tangan Jongin membantu mereka untuk mencapai orgasme dengan memencet testis mereka dan menggesekkannya bersama-sama. "Jongin, jangan, jangan yang itu—ah, ah, aaaah!"
Mereka datang bersamaan lagi.
Sudah sekitar seminggu mereka berpacaran dan mereka selalu melakukannya dimana-mana. Bukan berarti Jongin komplain.
Tapi ketika dia hendak mengambil tisu dari bawah, dia memucat ketika melihat tulisan tangan yang rapih dan dia kenal. Oh, dia sangat kenal.
Jangan terlalu jauh, oke? Kasihan Minseokkie~
Dan kalau kau bertanya sejak kapan aku tahu—aku tahu semenjak Minseokkie bertanya 'soal matematika nomor empat'.
Jongin menutup wajahnya, merah.
Ibunya benar-benar tidak homofobik, kan?
