Chapter 3
.
.
.
Naruto punya Masashi Kishimoto.
.
.
.
.
My Affair
.
.
.
Sakura merasa buruk karna Neji baru memberitahukan hal yang membuat Sakura kepikiran akhir-akhir ini tadi pagi. Neji di pindah tugaskan keluar kota. Bertemu murid-murid mungilnya tidak lagi mampu menghilangkan kegelisahan Sakura. Pikirannya berkutat tentang apa yang harus dia lakukan. Lusa suaminya sudah harus pindah. Dan itu sukses membuat Sakura makin tak bisa mengeluarkan Neji, pekerjaanya, murid-muridnya dan apapun yang berhubungan dengan itu dari kepalanya.
"Terjadi sesuatu?" tanya Matsuri. Sakura tersenyum lesu seraya duduk di hadapan seniornya.
"Hanya sedikit pusing." Matsuri menatap Sakura sedikit lebih lama sebelum kembali berkutat dengan buku-buku di mejanya.
"Ku rasa sesekali curhat tidak akan menyakitmu Sakura." Sakura meringis tak enak mendengar ucapan Matsuri. Sakura tak tau ini normal atau tidak, tapi pemilik emerald itu sama sekali tak punya keinginan untuk berbagi apapun dengan siapapun. Bagaimapun dia sangat berusaha, nyatanya dia tetap tak bisa berbagi. Sakura merasa tak bisa menyampaikan maksudnya dengan baik. Bahkan Sakura merasa Neji terkadang tak mengenalinya dengan baik.
Sakura sampai dirumah pukul tiga sore. Pikiran ruwet membuatnya sangat lambat merespon sesuatu. Dia tertinggal di Tk sendirian. Berjalan ke halte butuh waktu dua kali lipat dari biasanya membuatnya harus menunggu bus berikutnya karena tertinggal. Sampai di rumah pun Sakura tak berselera melakukan apapun. Hanya membaringkan tubuhnya di sofa.
"Sakura." Panggilan lirih Neji membuatnya yang sudah setengah tertidur terlonjak kaget. Wajahnya memberengut melihat Neji yang sudah duduk disampingnya.
"Maaf. Kupikir aku sudah cukup pelan, ternyata masih membuatmu terkejut." Dengan lembut Neji membelai surai merah muda istrinya yang kusut.
" Jangan dipikirkan Neji-kun. Ini sudah biasa terjadikan?" dengan senyum malas Sakura berusaha menenangkan Neji yang terlihat merasa bersalah. Melihat senyum Sakura, mau tak mau membuat Neji ikut tersenyum. Melupakan rasa bersalahnya.
" Apa kau kepikiran dengan kepindahanku? tak biasanya kau masih berantakan jam segini. Ah jangan-jangan kau belum makan?" wajah khawatir Neji muncul lagi mengingat kebiasaan Sakura saat banyak pikiran. Sakura mengangguk dengan cengiran tak berdosanya. Perlahan wanita itu beringsut memeluk lengan Neji dengan manja.
"Aku harus bagaimana Neji-kun? pekerjaanku tak bisa ku tinggalkan begitu saja. Kau tau ini impianku. Kalau pindah... kurasa butuh waktu."
"Aku tak akan memaksamu ikut. Aku hanya ingin kau mengerti aku tak bisa menolak kepindahanku."
"Kau akan meninggalkanku?" Sakura menengadahkan wajahnya memandang Neji tak percaya. Suaminya itu terkekeh melihat wajah tak terima Sakura.
"Hmm bukankah kau yang tidak mau ikut." Goda Neji dengan wajah pura-pura kesal.
"Kau tau bukan itu maksudku." Ucap Sakura setengah berteriak mendengar kata-kata yang menurutnya memojokkan dirinya. Sungguh dia tidak berniat mempersulit keadaan.
"Aku tau. Aku akan tetap pergi lusa. Dan kau tetap disini. Tidak bersama bukan berarti tidak saling cintakan? aku sangat mencintaimu." Neji mengecup bibir Sakura singkat. Suami istri itu saling tatap yang berlanjut pada ciuman panjang. Gerakan lembut bibir Neji membuatnya tak bisa menolak. Pikiran Sakura mulai memberontak ketika tangan suaminya menelusuri lutut menuju daerah intimnya dengan sangat lembut. Tapi dengan sangat memaksa logikanya yang lain berhasil menekan keengganan dalam otaknya yang akan merusak malam berkualitasnya bersama Neji. Sakura memejamkan matanya berusaha menikmati sentuhan Neji. Wanita itu berharap malamnya kali ini akan berakhir dengan indah.
Keesokan paginya dengan inisiatif Sakura mereka melakukan liburan dadakan ke pantai. Tentunya setelah keduanya mengurus ijin tak masuk kerja. Pada pukul sepuluh mereka telah sampai dipantai. Tidak ramai. Bahkan cenderung sepi. Datang bukan pada hari libur merupakan pilihan tepat untuk keduanya yang sedang butuh suasana tenang untuk di nikmati. Setelah mengganti pakaiannya dengan bikini, Sakura menyusul Neji melakukan snorkeling. Tentu saja setelah memakai masker dan snorkel serta kaki katak.
Pemandangan bawah laut benar-benar menakjubkan. Warna-warni indah hewan dan tumbuhan laut begitu memanjakan mata. Mereka mengabadikan moment bersama ikan-ikan cantik. Sesekali Sakura memeluk dan mencium pipi suaminya. Suasana indah membangun mood yang bagus untuk Sakura.
Keduanya beristirahat di karang yang sedikit menonjol di atas permukaan air. Sakura bersandar pada dada bidang Neji yang memeluknya dari belakang. Mereka menikmati keindahan alam dalam kesunyian yang terasa nyaman. Sakura semakin menenggelamkan tubuhnya dalam rengkuhan Neji sementara suaminya itu membuat gerakan kecil mengusap-usap lengannya.
"Ini terasa menakjubkan." Gumam Sakura memandang titik pertemuan langit dan laut. langit yang tanpa matahari siang semakin membuat keduanya leluasa menikmati ciptaan tuhan.
"Hm. Aku akan sangat merindukan saat-saat seperti ini." Neji mengeratkan pelukannya. Menyesap wangi helaian pink istrinya dalam-dalam. Sakura memejamkan matanya menikmati kelembutan Nejinya. Kenyamanan yang dia rasakan seperti bom waktu yang mengusiknya. Isi kepalanya sedang berdebat tentang hal yang seharusnya dan hal yang mengkhawatirkannya. Sakura hanya bisa berharap perasaannya untuk Neji bisa kembali utuh seperti dulu.
"Ya. Akupun akan sangat merindukanmu, Neji-kun. Sering-seringlah menghubungiku jika sudah di sana." Sakura tersenyum manis. Saat mengecup pipi Neji entah kenapa wajah seseorang melintas di kepalanya. Senyum sedihnya Sakura sembunyikan dengan menenggelamkan wajahnya ke pelukan Neji. Sesak dihatinya semakin terasa ketika Neji memperlakukannya dengan sangat lembut.
Waktu bersenang-senang telah habis. Dengan enggan Sakura mengantar Suaminya ke bandara. Tidak banyak yang mereka ucapkan. Keduanya sama-sama tau betapa mereka akan merasa sangat kehilangan setelah ini. Ini pertama kalinya bagi mereka berpisah dalam waktu lama. Empat tahun lebih bersama membuat keduanya terbiasa dengan keberadaan masing-masing tanpa terfikir hari ini akan terjadi.
"Jaga dirimu. Jangan lupa makan. Istirahat cukup. sering-seringlah menghubungiku." Neji tertawa kecil mendengar rentetan pesan wanita yang memeluknya erat.
" Aku akan merindukanmu."
"Katakan kau akan melakukannya Neji-kun." Dengan sebal Sakura melepaskan pelukannya.
"Kau tau aku akan melakukannya. Aku mencintaimu." Neji mencium kening Sakura.
"Aku akan sangat merindukanmu." Lagi. Sakura memeluk suaminya erat.
"Hei hei aku harus berangkat Sakura." Neji melepaskan pelukan Sakura dengan lembut. Dengan wajah tak rela Sakura membiarkan Neji pergi.
Beberapa hari setelah kepergian Neji, Sakura mulai merasa terbiasa hanya mendengar suara suaminya. Terakhir Neji mengabarkan betapa orangtuanya sangat marah karna tau kepindahan putranya dari orang lain. Meski Neji mengatakan ini bukan salahnya tetap saja Sakura merasa bersalah. Seharusnya dia memastikan Neji benar-benar sudah memberitahu orangtuanya atau tidak ketika suaminya bilang akan melakukannya nanti.
Di hari berikutnya Hinata, adik iparnya datang berkunjung. Tentu saja Sakura merasa senang. Dia benar-benar merindukan wajah manis gadis berambut indigo itu. Hinata juga membawa sekantung besar belanjaan. Sepertinya dia berniat membuat Sakura gendut dengan memasakan banyak makanan malam ini.
"Nii-san benar-benar membuat kekacauan dirumah. Oh ya, apa dia mengatakan sesuatu pada nee-chan?" tanya Hinata saat mereka mencuci piring setelah makan malam.
"Ya. Kaa-san sangat marah padanya, padaku juga ku rasa." Kata-kata terakhir terdengar lebih lirih. Hinata memandang Sakura sendu. Dia pikir posisi Sakura pasti semakin tidak nyaman dengan kejadian ini.
"Aku akan memberi pelajaran Neji-nii. Dia benar-benar membuat kekacauan." Sakura tersenyum lembut menatap Hinata. "Aku benar-benar menymenyayangimu, nee-chan." Ucap gadis indigo itu tulus.
"Aku tau. Jangan khawatir." Sahut Sakura tak kalah tulus.
Sakura dan Hinata menghabiskan separuh malam dengan mengobrol banyak hal. Hal-hal yang selalu Sakura tolak dan membuat Hinata kesal. Salah satunya tetang keinginan gadis itu tinggal bersama Sakura. Alasannya terdengar masuk akal karna tidak ingin Sakura kesepian dan berniat mengantar jemput Sakura pergi mengajar. Tapi dengan tegas Sakura menolak. Mana tega Sakura melihat adik iparnya kerepotan mengantar jemput dia. Belum lagi jarak Hinata untuk pergi ke kampus yang makin jauh. Lebih baik gadis itu tetap dirumah orang tuanya karna jarak ke kampusnya memang lebih dekat. Hinata sempat menggerutu tentang Sakura yang tak mau menggunakan mobil Neji yang menganggur. Tapi gadis itu langsung terdiam saat menyadari jawabannya.
Akhir pekan selanjutnya Sakura mengiyakan saja ajakan jalan-jalan dari Hinata. Katanya sebagai ganti Sakura yang menolak permintaan Hinata untuk tinggal bersama Sakura, tiap akhir pekan mereka harus berbelanja atau melakukan apapun bersama. Tak ada alasan yang bisa menolak Hinata. Sedikit merepotkan tapi Sakura pikir akan menyenangkan menghabiskan satu hari bersama adik ipar manisnya.
Niat awal hanya jalan-jalan tapi justru berakhir dengan beberapa kantung belanjaan di masing-masing tangan keduanya. Kaki mereka yang terasa pegal membuat keduanya sepakat beristirahat di cafe terdekat. Sambil menikmati minuman favorit masing-masing, mereka saling berceloteh tentang barang-barang yang gagal di beli karna harganya terlalu tinggi. Tentang hal-hal yang akan dilakukan besok. Sampai Hinata mengeluh betapa menyebalkannya aturan dalam keluarganya.
"Jangan nekad melakukan hal-hal yang dilarang keluargamu Hinata-chan. Rasanya sungguh tidak enak." Ucap Sakura dengan Wajah seolah mengenang hal menyakitkan.
"Maafkan aku. Meskipun ingin kurasa aku tidak akan bisa. Karna jika pun aku melakukannya, aku hanya akan tetap sendiri. Sungguh aku bersyukur kalian bersama." Senyum sendu mengakhiri kalimat Hinata. sebagian Sakura mengerti maksud kata-kata Hinata. Tapi sebagian lagi dia meragukan pemikirannya. Keheningan menyelimuti keduanya. Mereka terjebak pada pikirannya masing-masing.
"Sakura." Suara bariton yang menyapa Sakura itu membuat keduanya menoleh.
"Sa... suke." Keterkejutan sangat kentara di wajah Sakura. Dia tak pernah terpikir akan bertemu lagi dengan pemilik onix itu. Sedangkan Sasuke dengan cuek duduk disamping Sakura.
"Teme. Kau meninggalkan... Sakura-chan!" suara cempreng Naruto mengagetkan dua orang yang dihampiri Sasuke.
"Naruto. Wah ini kebetulan yang menyenangkan ya?" seru Sakura senang, setidaknya sampai dia menyadari keanehan sikap Naruto dan Hinata saat mata keduanya bertemu, terutama saat Naruto duduk disamping gadis indigo itu. "A... ah kurasa kalian bisa kenalan atau..." Sakura dengan ragu, sangat ragu dengan yang ada dipikirannya.
"Kami sudah saling kenal. Iyakan, Hinata-chan?" Senyum Naruto terlihat aneh dimata Sakura. Lagipula ada apa dengan kata chan? dan tambahan pertanyaan, kenapa Hinata seperti tak berniat menyahuti ucapan sahabat pirangnya.
"Benarkah? sudah berapa lama?" Dengan nada ceria Sakura berusaha mengikis kecanggungan yang ada. Keanehan pada Naruto dan Hinata mengalahkan perasaan entah apa yang membuatnya ingin terfokus pada pria raven dengan wangi memabukan disampingnya. Diamnya Hinata juga merupakan hal aneh bagi Sakura. oke, Hinata memang gadis pemalu. Ada saat-saat Hinata menjadi sangat pendiam. Tapi tidak dengan aura suram seperti ini.
"Sudah cukup lama sampai mengetahui makanan favorit masing-masing." Sasuke menjawab dengan acuh seraya memanggil pelayan dan memesan kopi. Sepertinya pria itu tidak tau jika jawabannya semakin membuat tubuh Sakura kaku merasakan sesuatu dari arah depan. Atau memang tak peduli. Sakura bertanya-tanya sebenarnya ada di situasi apa dirinya sekarang. Bahkan Naruto yang tak bisa berhenti mengoceh saja terdiam.
"Ah apa yang..." Niat Sakura memecah kecanggungan urung karna Hinata langsung memotong ucapanya.
"Aku lelah. Kita pulang nee-chan." Tanpa menunggu jawaban Sakura, Hinata langsung beranjak dengan membawa seluruh kantong belanjaan mereka menuju tempat mobilnya terparkir.
"Eh... Hinata tunggu. Ah..." Dengan sedikit panik Sakura mengaduk-aduk isi tasnya mencari dompet.
"Tidak perlu..."
"Tidak usah..." Sakura menatap dua pria yang mengucapkan sesuatu berbarengan. "Biar kami yang bayar." Naruto menyampaikan maksud mereka.
"Ha ha terima kasih. Tapi aku juga menghasilkan uang. Jangan terlalu memanjakanku." Sifat keras kepala Sakura membuatnya tetap meletakkan beberapa lembar uang dimeja. Mengabaikan tatapan tak suka dua pria di depanya. Setelah itu secepat mungkin Sakura berlari kecil menyusul Hinata yang telah menstater mobil dan langsung menginjak pedal gas ketika Sakura telah masang seatbelt.
Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju rumah Sakura. Keheningan yang tercipta begitu menyiksa Sakura. Banyak pertanyaan berputar-putar di kepala pinknya. Apa yang terjadi pada Naruto dan Hinata? Apa Naruto tau Hinata adalah adik iparnya dan sebaliknya? lalu Apa hubungan Sasuke dengan dua orang itu? meski akhirnya tak ada satupun pertanyaan yang keluar dari mulutnya karena bahkan menanyakan apakah adik iparnya itu baik-baik saja pun dia ragu.
Hari-hari berikutnya Sakura merasa ada yang salah. Hinata tidak lagi menghubunginya. Dua minggu terlewati. Akhir pekan yang Hinata wajibkan untuk bersama seolah terlupakan oleh gadis itu. Sakura merasa tak nyaman seolah dia telah melakukan kesalahan. Padahal dari pikiran paling tenangnya dan hati terdalamnya dia yakin tak melakukannya. Benar-benar situasi yang menyebalkan.
"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Sakura pada Neji di telepon setelah menceritakan kejadian dicafe.
"Mungkin iya...mungkin juga tidak."
"Apa-apaan jawabanmu itu Neji-kun?"
"Ha ha aku merindukanmu."
"Neji-kun" Jerit Sakura sebal yang hanya ditanggapi Neji dengan kekehan. "Aku berencana ke rumah kaa-san besok." lanjutnya.
"Sakura, kau tak perlu memaksakan diri." Sakura dengan jelas mendengar nada khawatir suaminya.
"Aku baik-baik saja." Senyum lembut terkembang dibibir Sakura berharap menghapus kekhawatiran Neji meski prianya itu tak melihat.
"Minggu depan aku pulang." Ucapan Neji terdengar setelah suara helaan nafasnya. Nada lembut yang digunakan prianya membuat sakura tau bahwa Neji masih khawatir.
"Apa sebaiknya kita pergi bersama minggu depan?"
"Itu lebih baik. Sampai jumpa minggu depan. Aku mencintaimu." Neji memutuskan sambungan. Sakura menatap ponselnya. Neji jauh lebih lembut dari awal-awal pernikahannya. Dan Sakura dengan egois kehilangan sebagian perasaannya untuk Neji. Jika ia dapat mengontrol perasaannya tentu dia tak akan membiarkan rasanya pada Neji berkurang sedikitpun.
Sakura berkali-kali menghubungi Hinata. Tapi adik iparnya itu hanya membalas pesannya bahwa dia sedang sibuk tanpa mau mengangkat telepon darinya. Sakura pikir sesuatu telah terjadi. Tak ada cara untuk menemui Hinata melintas di kepalanya. Dan butuh keberanian lebih bagi Sakura untuk mengunjungi rumah mertuanya. Meski tadinya dia punya niat tapi sebenarnya keraguan besar mengendap di hatinya. Wanita itu mengakui betapa leganya dia saat mendengar Neji akan menemaninya.
"Naruto." Desah Sakura lega saat akhirnya Naruto mengangkat telepon darinya setelah beberapa kali.
"Sakura-chan." Keceriaan dalam suara sahabat pirangnya itu membuat Sakura ragu untuk meneruskan niatnya.
"Kau sibuk?" tanya sakura.
"Kau tau? Benar. Aku sedang berada di Ame. Ada apa Sakura-chan?"
"Oh tidak. Bukan hal penting. Kita akan bertemu saat kau kembali kesini saja. Bye Naruto." Sakura memutuskan sambungan telepon mereka. Sakura menghela nafas. Akhir-akhir ini sepertinya Sakura sering mendesah. Banyak hal yang mengganggu pikirannya.
Naruto di Ame. Butuh waktu untuk menemui Hinata. Tapi perasaan tak enak terus bergelayut di hati Sakura. Dia sangat ingin mengetahui apa yang terjadi pada Hinata dan Naruto. Mungkin terkesan lancang atau terlalu ikut campur urusan orang. Entah ini hal bagus atau tidak, tapi Sakura berniat menemuinya. Sasuke.
Proses menemui Sasuke bukan hal mudah. Meski juga bukan hal sulit. Sakura harus menghubungi kekasih pria itu. Mengingat dia sama sekali tidak memiliki informasi apapun tentang pria itu. Tatapan menyelidik Karin membuat sakura jengkel dan hampir kehilangan kesabaranya. Karin sangat posesif pada kekasih ravennya. Berusaha tidak kehilangan kendali Sakura mengatakan bahwa dia hanya ingin menanyakan tentang Naruto dan Hinata. Sakura juga dengan susah payah menjelaskan bahwa Hinata adalah adik iparnya dan Sakura rasa itu alasan terbaik yang seharusnya mengikis segala pikiran buruk sahabat merahnya ini. Sakura juga menekankan bahwa Karin tau Sakura bersuami. Karin menatap Sakura intens. Wanita itu berkali-kali mengingatkan bahwa siapapun bisa tertarik pada kekasihnya. Meskipun sudah bersuami. Sakura percaya. Dan dia yakin jika Karin tau dia pernah bertemu Sasuke selain saat reuni, wanita berambut merah itu akan menjambaknya. Mengenal Karin sejak high school membuatnya hapal tabiat wanita berambut merah itu. Untungnya perdebatan itu tidak berlangsung terlalu lama. Karin menyadari dia bahkan tidak mengenal Hinata jadi dengan berat hati wanita itu memberikan alamat kantor Sasuke, karna Karin tak mau memberikan nomer ponsel kekasihnya pada siapapun. Yang membuat Sakura makin kesal Karin tak berhenti mengomel karna tak bisa meninggalkan pekerjaanya untuk menemani Sakura menemui Sasuke. Karin seorang wedding organizer.
Gedung tinggi di depannya membuat Sakura berdecak kesal. Pasti sulit menemui seseorang yang bekerja di tempat seperti ini. Apalagi jika Sasuke adalah orang penting. Sakura tidak bisa menunggu, jika hari ini gagal bertemu Sasuke maka dia harus menunggu seminggu untuk memupuskan rasa penasaranya. Dan itu tak baik untuk kepalanya.
"Bisakah aku menemui Uchiha Sasuke?" Tanya Sakura pada resepsionis cantik berambut pirang.
"Apa anda Haruno Sakura?" wanita berambut pirang itu bertanya balik.
"Ya..." Sakura bingung bagaimana wanita itu tahu namanya.
"Tuan Uchiha berpesan agar anda menemuinya direstoran chidori jam empat sore nanti."
"Oh baiklah. Terima kasih." Sakura meninggalkan tempat itu tanpa bertanya lebih lanjut. Dia pikir mungkin Karin sudah menghubungi Sasuke. Dan pria itu hanya mempunyai waktu luang di jam itu.
Pada jam yang dijanjikan Sakura sudah berada di salah satu ruangan restoran. Tak lama kemudian Sasuke memasuki ruangan. Setelah pria itu duduk di hadapan Sakura, seorang pelayan menyodorkan buku menu pada mereka. Sakura menatap pria tampan yang bahkan tidak menyapanya lebih dulu. Pria ini selalu membuatnya merasa aneh. Di abaikan tapi di perhatikan. Yah semacam itulah. Dan Sakura sangat tak suka saat dia tak bisa mengontrol dirinya seperti ini.
"Aku menemuimu bukan untuk makanan." ucap Sakura seraya meletakan buku menu di meja membuat Sasuke mengalihkan fokusnya pada Sakura.
"Setidaknya temani aku makan. Aku bahkan belum makan siang." Jawab Sasuke mengembalikan fokus pada buku menu.
"Sasuke..." Rajuk Sakura. Bukan hanya Sasuke, Sakura sendiripun terkejut mendengar nada bicaranya. Sungguh Sakura tak berniat. Tapi entah rasa apa yang membuatnya bisa bertingkah seolah sedang bersama neji. Sakura menelan ludahnya saat Sasuke menyerahkan buku menu pada pelayan dan memandangnya... entahlah. Sakura tak berani mengartikanya.
"Bawakan dessert, apa saja." Perintah Sasuke pada pelayan yang mengangguk patuh. Sakura tak bisa menerka situasi apa yang menyelimuti mereka sampai-sampai dia takut untuk bicara. Takut akan membuat kesalahan berikutnya.
"Lalu, apa yang ingin kau ketahui?" Lega. Sakura sangat lega ketika Sasuke menanyakan hal yang memang menjadi tujuanya bertemu Sasuke.
"Hinata bertingkah aneh." Sakura berdehem menetralkan suaranya. "Maksudku setelah dicafe waktu itu. Jadi... apa kau tau sesuatu?" tanya Sakura. dia sangat berharap Sasuke bisa memberitahunya sesuatu.
"Bagian mana yang ingin kau ketahui?" pertanyaan Sasuke membuat Sakura mengrenyit.
"Jika bisa semua yang kau ketahui tentang itu." Jawab Sakura bersamaan dengan pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
"Mereka pernah menjadi sepasang kekasih." Jawaban Sasuke membuat Sakura terkejut. Sakura mengenal Hinata cukup lama tapi sama sekali gadis itu tak pernah menceritakan tentang seorang kekasih.
"Kapan?" tanya Sakura lirih. Dirinya merasa semakin buruk tidak mengetahui apapun tentang orang yang berarti untuknya.
"Sudah lama. Saat Hinata masih high school." Sakura tidak tau, hal itu terjadi lebih dulu atau setelah dia berpacaran dengan Neji empat tahun lalu.
"Apa yang terjadi? Mereka terlihat seperti..." Sakura bingung mewakilkan dengan kata apa yang tepat seperti pemikiranya.
"Mereka putus. Tapi masih berhubungan baik setidaknya sampai beberapa bulan lalu."
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tau." Jawaban Sasuke membuat Sakura menggeram kesal. "Aku tidak tau Sakura. Yang jelas hal itu sangat menyakiti keduanya. Dan Naruto tidak menceritakan apapun." Sasuke berusaha meyakinkan.
"Begitu." Sakura tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya.
"Sakura." panggilan dengan nada berbeda itu membuat Sakura menatap Sasuke. "Kau tau? Betapa senangnya aku ketika Karin bilang kau akan menemuiku." Sakura menelan ludahnya gugup. Situasi ini menjurus ke hal yang tidak dia sukai.
"Apa nama kue ini? rasanya enak." Sakura menyuap potongan makanan yang menurutnya mahal kemulutnya.
"Eclair." jawab Sasuke. "Kau benar-banar sulit di lewatkan Sakura." lanjut pria itu. Benarkah? Sakura pikir justru Sasukelah yang sulit di lewatkan.
"Habiskan makananmu. Waktuku tak banyak. Ku antar pulang." Sangat otoriter dan menyebalkan. Dengan bersungut-sungut Sakura menyelesaikan kegiatanya.
Tidak terlalu lama kemudian mereka sampai di depan rumah Sakura. Dengan gugup sakura berniat membuka pintu mobil tapi terkunci. Sakura menoleh pada Sasuke dengan pandangan bertanya. Sementara Sasuke terlihat mengerang frustasi. Sangat berbeda dengan ketenangannya di beberapa pertemuan mereka.
"Ke...napa?" Tanya Sakura melihat tingkah Sasuke yang tak biasa. Tanpa di duga Sasuke membuatnya terkurung diantara pintu mobil dan tubuh pria itu. Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat debaran jantung Sakura menggila. Wajah putihnya berubah warna menjadi merah. Apakah ada wanita yang bisa bersikap biasa saja dalam posisi ini dengan pria yang luar biasa tampan? mungkin. Tapi Sakura termasuk ke kelompok yang tidak bisa.
"Sejak pertemuan pertama aku sudah tak bisa mengabaikanmu." Nafas Sasuke terdengar memburu. Itu sangat mempengaruhi reaksi tubuh Sakura. Wangi khas yang memabukan merasuk ke dalam indra penciumannya. Di tambah sorot mata yang terlihat seperti... Neji, sorot mata sangat menginginkanya. Gerakan lembut tangan Sasuke di permukaan lengan telanjangnya membuat sistem pernafasan Sakura tersumbat. Deru nafas Sasuke menyapu wajahnya ketika kembali memangkas jarak mereka.
"Apa yang kau lakukan padaku Sakura?" bisikkan pria itu di telinganya membuatnya tak lagi bisa mengontrol jenis fantasi dipikirannya.
"Sasu..."
"Fantasiku tentangmu adalah yang teliar." Aku mengalaminya saat ini, jerit batin Sakura. Tubuhnya sangat... sangat terpengaruh oleh Sasuke. " Ku pikir tidak memiliki informasi apapun tentangmu bisa membuatku menahan diri. Tapi kau seolah menggodaku. Selalu mengujiku. Aku benar-benar menginginkanmu."
"tapi..." Sasuke membatasi kecupanya di bibir Sakura dengan satu jarinya. onixnya menatap emerald Sakura yang menyayu. "Kata dobe kau seorang istri." Ucap Sasuke dengan senyum menawan sarat kekecewaan. Sedangkan Sakura tersentak mendengar ucapan Sasuke. Tubuhnya menegang. Otaknya terasa kosong. apa? Sasuke hanya mengatakan yang sebenarnya. Sakura tau. Tapi wanita itu tak bisa mengabaikan nyeri di dadanya ketika kebenaran itu keluar keluar dari mulut Sasuke.
"Dan yang mengejutkan, aku masih sangat menginginkanmu." Ucapan Sasuke tak lagi masuk ke otak Sakura. Dia masih berkutat dengan perasaanya ketika Sasuke mejauh dan mengecup punggung tanganya. Dengan tenang Sasuke keluar lebih dulu membukakan pintu untuk Sakura.
"Sakura." Panggilnya lembut.
"Ah... ya." Sakura langsung keluar dari mobil Sasuke. "Terima kasih Sasuke." Setelah mengucapkanya Sakura buru-buru masuk kedalam rumah tanpa menunggu jawaban Sasuke. Sakura merosot dibalik pintu memeluk lututnya. Sakura ingin lari dari perasaan tak nyamanya dengan menenggelamkan wajahnya di lutut. Sakura terus menggumam tak jelas. Suara mesin mobil Sasuke yang menjauh menambah rasa tak nyaman dihatinya.
.
.
.
.
~TBC~
Keyikarus
27/7/2017
