Halo minna….!!
Akhirnya shira menyelesaikan chapter 3 juga..Kalo shira pikir-pikir,, saat ini gak ada yg dipikirin.. ya sudahlah, kita lanjutkan ke cerita saja yoo…Oh iya! sebenernya shira dari chapter awal mo ngucapin, Makasih banyaaak…. Buat temen shira! Untuk namanya, hamba Allah, alias tak perlu disebutin.
Hehehe…dia juga baru buat cerita sama kaya shira kok.. tapi dia udah bantuin shira dalam mempublishkan cerita shira ini.. Maklum, shira kan masih hijau..*disorakin*
Dan tragedi2 yg terjadi selama pempublishan chap 1 dari cerita shira ini, shira bener2 udah repotin dia..-_-" Tapi untung, cobaan itu berhasil kita (especially shira) lewati..
Gyaaa!!! qo malah jadi sesi curhat??
Lanjut ke cerita!!
Chapter 3
Author: Shira kusanagi.. kawaii….:)
Disclaimer: om Masa-Kishi dooong…masa kishi moto?? (lho?! beneran yg kishimoto, kan??)
Warning: shoAi, gaje, chara ded, dan agak konyol.. tapi di chap ini rada sulit bikin hal yg konyol..
Pairing: tetep SasuNaru, SaiNaru,
Shira-kus present
Tererererererererett….
(happy read, ya..)
(lebih banyak dialog, biar gak terlalu penet bacanya..)
The end of this story
"Teme, kau tidak penasaran dengan alasanku pindah kesini??"
"Apakah itu penting bagiku?"
"Ya sudahlah kalau memang tidak penting.."
"Aku tidak bilang begitu, dobe."
"Eh, kau mau tahu??"
"….."
"Karena aku ingin menolongmu, hehe…"
"….. dari apa?"
"Penyakitmu.."
"Aku tidak sakit, dobe."
"Huh! sok keren!! Lalu siapa yang batuk sampai mengeluarkan darah di toilet waktu itu??"
"Memang apa yang bisa kau perbuat? Membelikan paru-paru baru untukku?"
"Itu dilarang, teme.."
"Lalu?"
"Aku masih belum tahu, tapi kurasa dengan kepindahanku kesini, keadaanmu jadi lebih baik.."
"Kau benar, dobe. Aku sangat berterima kasih padamu atas apa yang telah kau lakukan pada tanganku ini."
"Glek! yang itu tak perlu dibicarakan lagi, lah…"
Siang hari di kota Konoha. Namanya juga siang hari, terik matahari pasti sedang terang-terangnya memanggang daerah itu. Tapi terik ini tampaknya tidak terlalu berpengaruh bagi pemuda pirang itu, hatinya kini sedang mendung. Ditambah dengan ucapan maut temannya barusan, dia yakin jiwanya kini tengah terombang-ambing di tengah banjir bandang disertai badai petir dalam sukmanya. Padahal, dia membuka pembicaraan itu untuk mengambil hati sang teman, karena dia ada sedikit permintaan untuknya. Tapi itu malah membuat keyakinan dirinya ciut.
"Teme."
"Hn."
"Temee.."
"Hn."
"Temeee…"
"Apa dobe?!"
"Kau,, aku,, nanti,, pulang,,"
"Bicara yang benar!"
"Ugh! nanti kau pulang naik apa??"
Sasuke's pov
Segera aku menghentikan langkah. Kutengok Naruto yang berada satu langkah dibelakangku. Terlihat semburat-semburat merah muncul di wajah Naruto. Tampaknya, setengah mati dia menanyakan hal barusan. Lucu sekali tingkah bodoh laki-laki yang sedang kulihat ini, dasar dobe.
"Mobil. Dijemput kakakku disekolah." jawabku.
"O, oh.." jawaban dobe seperti orang –sok- paham.
"Kenapa, dobe?" tanyaku lagi, berusaha mencari tahu maksud lelaki pirang ini.
"Ah..!! ti~dak.. a, aku, aku bo-leh.. ik-"
"Kau mau menumpang?" tanyaku to the point tanpa maksud apapun.
Jleb! Jleb!
Tampaknya sang author pun ikut merasa tertusuk mendengar pertanyaanku barusan. (karena author termasuk 'tebengers' pada masa-masa dahulu). Bagaimana dengan Naruto?? bukan hanya jantung, tetapi harga dirinya pun ikut tertusuk hingga meninggalkan luka yang menganga. Itulah pemandangan yang sedang kulihat saat ini, dua orang bodoh tergeletak tak bernyawa di tengah jalan. Memang apa yang salah dengan ucapanku?
"A, a, aku 'kan tidak bilang begitu!" elak Naruto setelah dia mencoba untuk berdiri.
"Ya sudah, aku duluan." kuputuskan untuk membalik badan.
"Eh! oh! teme! tunggu! aku belum selesai bicara!" Naruto benar-benar seperti orang kehilangan arah saat itu. Aku jadi sedikit prihatin.
"Kami-sama… harga diri atau harga kaki??" batin Naruto.
"Lalu?" kutolehkan kembali kepalaku.
"Emm.. a, aku, aku,,, dompetkutertinggaldirumah,temeakutidakbisapulang!" jawab Naruto dengan nada super cepat.
Hening sejenak. Sebenarnya aku sweatdrop saat itu. Kenapa ngomong gak di spasi gitu, sih? aku tidak mengerti dengan pola pikir Naruto. Maklumlah, aku kan dari Uchiha jadi tak begitu paham tentang masalah harga diri Naruto -seorang rakyat biasa- yang sepertinya baru saja ku 'injak-injak' tanpa perasaan bersalah. Biarlah, memang aku peduli.
"Hn. kalau begitu cepat." kuteruskan langkahku.
End Sasuke's pov
"Eh.. terima kasih, teme..!!" Naruto melihat secercah cahaya kehidupan di depan sana.
"untung teme tidak mengejekku.." batin Naruto.
Kasihan Naruto, andai saja dia tahu bahwa diamnya Sasuke saat ini karena statusnya yang terlalu tinggi. Bahkan Naruto tidak sadar kalau ucapan –menusuk- Sasuke barusan murni dari dalam jiwa dan kepolosannya sebagai konglomerat.
Flashback
"Terima kasih, Sai.." ucap Naruto.
"Dou ita, Naru.." Sai tersenyum lembut.
"Kau tadi ke sekolah naik apa?" tanya Sai pada Naruto.
"Aku di antar pamanku, Iruka-san.." jawab Naruto.
"Teme! kau tadi naik apa? aku tidak mendengar apa-apa saat kau datang.." Naruto sok bergaya detektif.
"Aku diturunkan kakakku di depan jalan dekat sekolah." jelas Sasuke.
"Begitu.. Oh iya..! nanti aku mau naik bus! agar terbiasa dengan daerah sini.." ujar Naruto tidak penting sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.
"Hati-hati ya, Naru..! maaf, ya.. aku hanya bisa mengantar sampai sini.." kata Sai sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Tidak apa-apa.. Jaa~ Sai..!" Naruto melambaikan tangan, dibalas ayunan kecil telapak tangan Sai.
Setelah beberapa langkah Naruto dan Sasuke meninggalkan Sai, lewatlah seorang anak kecil sambil membawa segenggam uang di tangannya. Memang sih pemandangan yang tidak penting, tapi Naruto jadi teringat akan sesuatu setelah melihatnya. Dan Naruto mungkin akan berterima kasih pada anak itu karena telah menyadarkannya sebelum dia mengalami hal paling memalukan dalam hidupnya.
"Kira-kira,, aku bawa duit berapa hari ini, ya??" batin Naruto sambil merogoh kantong celananya.
"Eh,eh,eh, kok dompetku tidak ada?!" Naruto pindah merogoh tasnya.
"Gyaa!! aku lupa!! masih di tempat tidur!! panik Naruto.
"Bagaimana inii?!" jiwa Naruto meringis.
End of Flashback
Naruto's pov
"Sasuke!". Kulihat seseorang disana memanggil teme. Dari kejauhan, tampang orang ini sudah bisa kulihat dengan jelas. Wajahnya yang amat cantik dihiasi dengan sepasang mata lentik yang menggoda. Tapi dari penampilannya, jelas bahwa dia ini laki-laki.
"Eh? dia kakakmu, teme?" tanyaku sambil menunjuk pria tadi yang sedang berdiri disamping mobil.
"Hn."
"Waah..!! mirip yaa…" aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku.
Jarak kami berdua dengan mobil Sasuke hanya tinggal beberapa meter lagi. Kulihat makin dekat, aku jadi tambah kagum! Hebat sekali keluarga Uchiha. Selalu memproduksi wajah-wajah eksklusif dengan ketelitian tingkat tinggi seperti kakak-beradik ini. Lho? kok jadi ngomong hal aneh, sih?! Segera ku usir jauh pikiran barusan saat kami sudah berada di depan mobil Sasuke.
"Sasuke! tanganmu kenapa?!" dia segera menyentuh lembut tangan Sasuke.
"Tidak apa-apa, hanya kecelakaan kecil.." jawab teme dengan tampang stoic-nya yang sok keren.
Aku hanya bisa bersembunyi dibelakang Sasuke. Takut-takut kakaknya akan membakarku dengan amaterasu. Firasat aneh yang muncul tiba-tiba, tapi bisa kurasakan keberadaannya.
"Lain kali hati-hati, Sasuke! aniki tidak suka melihatmu terluka begitu!" perintahnya.
Dia pun menyadari kalau sedari tadi ada orang lain yang sedang berdiri di belakang Sasuke. Biarlah,, aku memang sering di nomor duakan setelah Sasuke. "Sasuke, siapa ini..??" tanyanya sambil tersenyum padaku.
"Ah.. kenalkan, namaku Uzumaki Naruto.. aku teman Sasuke.." aku menunduk memberi salam.
"Aku kakak Sasuke, namaku Uchiha Itachi.." balasnya sambil tersenyum lembut.
"Wajah memang mirip, tapi sikap orang ini ribuan kali lebih baik daripada teme.." batinku.
"Ah! begini Itachi-san.. aku boleh menumpang, tidak? hehe.." kucoba bertanya to the point sambil menggaruk kepala untuk menghilangkan kesan kaku.
"Tentu saja! aku senang sekali, ini pertama kalinya Sasuke-"
"Ehem! lebih baik kita pulang sekarang, aniki.." Sasuke memotong pembicaraan kami.
Aku kaget melihat perlakuan Sasuke pada kakaknya.
Helloo!! Dia itu kakakmu lho?? tidak sopan sekali memotong pembicaraan kakaknya semudah itu tanpa perasaan dosa. Kalau aku jadi Itachi, pasti Sasuke sudah kuremas dengan susano'o.
"Baiklah.. silahkan Naruto.. Oh iya! panggil aku Itachi-nii saja, ya.." pinta Itachi.
"Baik, terima kasih Itachi-nii.." ucapku. Aku salut dengan kesabaran yang dimilikinya. Dia masih bisa tersenyum untukku,, hiks..
End Naruto's pov
Selama perjalanan, Naruto dan Itachi asik berbicara. Melupakan Sasuke yang sedang terdiam di sebelah Naruto.
"Naruto, nanti malam ikut makan malam di rumah kami, ya.." kata Itachi.
"Eh?! tidak apa? aku kan baru mengenal Ita-nii.." jawab Naruto yang jadi sok akrab.
"Santai saja.. teman Sasuke berarti temanku juga. Dan sepertinya kalian sudah kenal cukup lama, ya.." Itachi tersenyum.
"Kok Ita-nii tahu?" Naruto heran.
"Kau bilang dulu kau tinggal di Suna, kan? sepertinya selama aku dan Sasuke tinggal di Suna, aku pernah melihat kalian berdua bersama.." jawab Itachi.
Naruto dan Sasuke hanya bisa menunduk dan menyembunyikan wajah mereka yang memerah. Membuat Itachi tersenyum kecil.
"Ba, baiklah.. nanti aku datang. Tapi aku tidak tahu rumah Sasuke dimana.." Naruto menggaruk kepalanya lagi untuk menunjukkan kalau dia bingung.
"Nanti kau ku jemput. Sekarang rumahmu yang mana?" tanya Itachi.
"Itu! yang temboknya berwarna oranye.." Naruto menunjuk sebuah rumah bertingkat dua yang semuanya berwarna oranye. Kecuali pagarnya, yang berwarna biru.
"Silau sekali, dobe." ketus Sasuke.
"Huh! terserah aku dong!" balas Naruto sambil menggembungkan pipinya, membuat Sasuke mengeluarkan senyum kecil di wajahnya. Naruto pun membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya keluar dari sana.
"Terima kasih banyak.. Sasuke, Itachi-nii,," naruto melambaikan tangannya.
"Jaa~ naruto.." balas Itachi. Mobil itu pun menjauh.
#$%^&*(??)
Malam harinya..
"Sasuke, aku mau menjemput Naruto, kau mau ikut?" teriak Itachi.
"Tidak. kau saja sendiri." balas Sasuke dari dalam kamarnya.
"Lama sekali dia dandan.. jadi selama ini, Naruto yang jadi pikirannya.." batin Itachi.
Pip!
(Sasuke:"Jangan pakai kata seperti itu, memangnya aku wanita?"
Author:"Kyaahahaha….!! Sasuke ini, ternyata kau sama saja dengan Naruto, yaa.. meributkan hal yang tidak penting.."
Sasuke:"Aku hanya tidak suka."
Author:"Aah..! Naruto juga begitu kok! sampai-sampai dia memotong cerita seperti ini... kyahaha..!"
Sasuke:"Cih! author bodoh."
Author:"Syalalala..lala..lala..."*dansa a la Mr.3*
Sasuke:"Akan ku selesaikan dengan jurus baru."
Author:"Itu juga kata-kata Naruto yang- APA?!"
Sasuke:"Amaterasu!"
Author:"Gyaaa!!! tolong!! hentikan Sasuke!"
Yang lain:*sambil membaca majalah*"Lanjutkan perjuangan Naruto, Sasuke.."
Author:"Gyyaaaa!!!!!!")
Tut!
Sebelum Itachi menuju ke arah pintu, dia mematikan radio yang sepertinya mulai menyiarkan hal-hal aneh. Dia lalu menutup pintu rumahnya dan segera menuju ke mobil.
"Sudah pergi, ya?" Sasuke menengok ke luar jendela dan melihat mobil kakaknya meninggalkan halaman rumah Uchiha.
"Sial! aku harus pakai baju apa? haruskah aku memakai dasi? Ah! aku ikuti gaya aniki saja.." Sasuke benar-benar kerepotan saat ini. Baru pertama kali ini dia terlihat sangat memperhatikan penampilannya hanya untuk acara makan malam.
Semua ini, kerepotan ini, kepanikan ini, kegugupan ini, ini semua karena dia. Dia yang berkali-kali membuat Sasuke kehilangan 'kesadarannya' sebagai Uchiha. Uchiha yang tidak pernah memperhatikan masalah-masalah kecil, Uchiha yang tidak pernah tertawa karena sesuatu yang bahkan dianggap lucu oleh orang sedunia, Uchiha yang tidak pernah menunjukkan emosinya, Uchiha yang tidak pernah merasa takut, dan segala ke'stoic'an lain yang dimiliki oleh Uchiha.
Tapi sejak bertemu dengan Naruto 5 tahun lalu, segalanya berubah. Walau hanya 2 tahun Sasuke mengenal Naruto, tapi segala hal yang pernah Naruto lakukan, ucapkan, tidak pernah ia lupakan bahkan sampai saat ini, dia sudah duduk di kelas 2 SMA. Naruto berhasil membawa Sasuke ke dalam sebuah perasaan yang tak pernah bisa di pecahkan misterinya.
Entah kenapa Sasuke marah jika ia mendengar Naruto di sakiti, Sasuke tertawa jika melihat Naruto menggembungkan pipinya atau memanyunkan bibirnya, Sasuke menangis jika Naruto tidak mempedulikannya, Sasuke ketakutan jika tiba-tiba Naruto menjauhinya. Segala perasaan yang membuat Sasuke bahagia sekaligus menderita. Pada saat itu, Sasuke memang agak sulit untuk mengendalikan perasannya. Tapi setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Sasuke pun bisa mengatur emosinya, tapi ia tetap tak bisa mengendalikan hatinya, lucu.
"Hk! ohok! ohok!"
"Sial- ohok! ohok! ohok! ohok!!"
Sasuke mengambil handuk yang tergeletak di atas kasurnya dan mengelap mulutnya yang bewarna merah. Dia menarik nafas panjang dan berusaha menahan batuk darah itu keluar dari tenggorokkannya.
"Sial!! kenapa harus sekarang, sih!! untung tidak mengotori baju.." gerutu Sasuke.
Sasuke itu, dia terkena penyakit radang paru-paru sejak umur 11 tahun. Dan sejak mengetahui hal itu, Itachi memutuskan untuk pindah ke Konoha karena disana ada dokter penyembuh. Walaupun dia sadar, penyakit itu memang sulit disembuhkan. Tentu saja Naruto tahu hal ini. Karena yang membawa Sasuke ke ruang kesehatan saat tiba-tiba penyakitnya kambuh adalah Naruto. Dan seminggu setelah kejadian itu, Sasuke pindah tanpa pamit.
"Sasuke.. kami sudah datang.." teriak Itachi dari bawah.
Teriakan Itachi membuyarkan lamunan Sasuke. Dengan cepat dia menyembunyikan handuk itu di dalam keranjang dan segera merapikan pakaiannya.
"Iya! aku segera kesana." balas Sasuke.
Sasuke berpikir kembali. Kenapa disaat-saat dia sudah tidak peduli pada keadaannya, Naruto muncul di hadapannya. Tadi siang, Naruto bilang dia pindah ke Konoha utuk menolongnya. Tapi itu semua mungkin sudah terlambat bagi Sasuke. Karena Sasuke merasa penyakitnya sudah sampai pada batasnya. Ditambah kebiasaannya merokok tiap hari dan tindakan bodoh lain Sasuke yang dia perbuat untuk mempercepat kematiannya. Tapi kenapa? Naruto tiba-tiba datang dan menyalakan kembali api 'keinginan untuk hidup' bagi Sasuke yang sudah ia padamkan?
Dia sudah siap jika saja malaikat maut tiba-tiba datang menjemput dan membawanya. Namun karena kedatangan Naruto, semuanya jadi kacau. Sasuke tidak tahu, dia harus tertawa atau menangis sekarang. Tapi yang dia tahu, dia masih punya waktu untuk 'bahagia' bersama Naruto, walau hanya sesaat saja. Cinta memang tak harus saling memiliki, kan?
"Teme! kau lama sekali!!" protes Naruto ketika ia melihat Sasuke menuruni tangga.
"Wah.. mirip sekali dengan Itachi-nii..keren.." batin Naruto.
Naruto mengenakan T-shirt berwarna hitam dan blazer putih. Sedangkan celana, dia memakai celana panjang berwarna putih bersih. Berbeda sekali dengan Sasuke yang mengenakan T-shirt putih, blazer hitam dan celana panjang hitam.
"Kami-sama.. jantungku berdebar.." batin Sasuke ketika ia sudah melihat dari dekat penampilan Naruto yang menurutnya 'indah'.
"Naruto, mari ke meja makan.." ajak Itachi.
"Terima kasih, Ita-nii.. teme! Ayo!" tarik Naruto.
Denting demi denting suara piring mulai terdengar. Ruangan itu cukup kosong, hanya ada mereka bertiga di ruangan itu. Semua pelayan berada di ruangan lain dari rumah itu. Jadilah tempat itu hening-sepi dan hanya terdengar suara garpu dan sendok yang menggema. Tentu saja hal ini sangat tidak enak 'di dengar', apalagi makan malam kali ini cukup istimewa bagi mereka. Untuk mencairkan suasana, Itachi membuka pembicaraan.
"Kau tinggal dengan siapa, Naruto?" tanya Itachi.
"Aku tinggal dengan paman Iruka, dia pengasuhku sejak dulu.." jawab Naruto.
"Pengasuh?" Itachi heran.
"Dasar bayi." ketus Sasuke.
"Grrr…. temee… jangan mulai keributan, ya.." Naruto sudah siap melemparkan garpu yang ada ditangannya.
"Apa orangtuamu sedang ada di negara lain?" tanya Itachi lagi, mencoba menenangkan Naruto.
"Hmm.. bukan negara lain, lebih tepatnya alam lain.." jawab Naruto dengan senyum lembut di wajahnya.
Sasuke yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya tiba-tiba mematung. Untung saja dia masih bisa menahan sendok itu di tangannya. Tapi entah kenapa dia merasa jantungnya seperti ditusuk sesuatu, hingga tidak berdetak lagi.
"A, aku tidak tahu hal itu.. kenapa?" batin Sasuke.
"Maaf Naruto, aku tidak tahu.." Itachi tampak menyesal.
"Tidak apa Itachi-nii.. aku tidak sedih kok.." muncul senyuman lebar a la Naruto.
"Kapan orangtuamu meninggal?" tanya Sasuke.
"Sasuke?!" Itachi kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Sasuke.
"Tidak apa-apa, Ita-nii... kata paman, ibuku meninggal saat melahirkan aku, kemudian ayahku menyusul ibu sebulan setelah aku lahir.." Naruto tersenyum untuk menunjukkan kalau ia tidak sedih.
Sasuke mengepalkan tangan kirinya yang sedang memegang sendok. Terlihat sangat jelas jika Sasuke sedang gemetar sekarang. Dia menggigit bibir bagian bawahnya agar tidak berteriak. Berteriak kenapa? itu adalah masalah Naruto, kenapa dia harus sesakit hati ini pada Naruto? bahkan saat ini dia sedang melihat Naruto tersenyum. Senyuman yang sangat dipaksakan.
"Kenapa kau tidak marah dan menunjukkan emosimu?" tanya Sasuke setelah mengambil nafas panjang untuk menahan emosinya.
"Marah? pada siapa?" tanya Naruto.
"Semuanya." singkat Sasuke.
"…. Tidak ada yang bisa di salahkan.. ibuku meninggal ketika melahirkanku, ayahku tewas karena melindungiku.." jawab Naruto.
Naruto menundukkan kepalanya lalu berkata,
"Satu-satunya yang membuatku marah adalah,, keberadaanku saat ini.."
Brakk!!
"Apa maksudmu, hah?!" Sasuke berdiri dan menggebrak meja makan itu. Dia tidak peduli lagi pada tangannya yang bertambah parah.
"Kau tidak marah pada siapapun! kau tidak menyalahkan siapapun! tapi kenapa kau membenci dirimu sendiri?!" Sasuke sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Karena jika aku tidak ada, mereka pasti masih hidup." tegas Naruto.
Sasuke tersontak kaget. Dia menatap balik mata Naruto yang sedang memandangnya serius.
"Ke, kenapa?? kalau kau benci hidupmu, KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA?!" teriak Sasuke.
"Sasuke!!" Itachi mulai merasa adiknya sudah keterlaluan.
"Paman Iruka pernah berkata padaku, bahwa aku harus hidup seperti ayah dan ibu.. tersenyum seperti mereka, menangis seperti mereka, marah seperti mereka..
…. tentu semua ituakan ku lakukan.. bahkan kematian cara mereka bukan masalah bagiku.."
Degg!!
Sasuke diam. Dia tidak tahu harus melawan Naruto dengan kalimat-kalimat pedas apalagi. Batinnya menolak untuk bertanya tentang maksud dari ucapan Naruto barusan. Seolah dia tahu bahwa penjelasan dari Naruto hanya akan membuatnya sakit. Dia merasa Naruto akan jauh darinya. Dan Sasuke sedang berusaha melawan apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
"Aku mohon, pergi jauh pikiran ini!" batin Sasuke.
"Sudah kalian berdua! aku mohon, jangan di teruskan.." pinta Itachi. Dia merasa, jika pembicaraan ini terus dilanjutkan, maka dia pasti akan menangis. Dia mengutuk dirinya karena telah memulai pembicaraan maut ini.
"Maaf, Ita-nii.." Naruto menyentuh keningnya.
"……" Sasuke masih tidak bisa berkata apa-apa. Diapun kembali duduk dan meneruskan makannya a la orang kidal.
Meja makan itu kembali tenang.. namun tidak bertahan lama.
"Aku.." Sasuke tiba-tiba saja berbicara. Membuat Itachi dan Naruto menoleh heran padanya.
"Dulu orangtuaku meninggal karena kecelakaan pada saat pergi bertugas, ketika umurku 8 tahun." ucap Sasuke.
Kali ini Naruto yang terdiam. Makanan yang ada di mulutnya terasa sangat susah ditelan. Sedangkan Itachi, kasihan dia. Dia yakin, beberapa detik lagi pasti air matanya akan jatuh berlinangan. Dia sangat tidak bisa mengontrol emosi, tidak seperti Uchiha yang lain.
"Sejak saat itu, aku menyalahkan semua orang-orang yang sudah memberikan tugas tersebut pada orangtuaku."
"Kalau saja mereka tidak menyuruh kedua orangtuaku pergi, aku pasti masih bisa berkumpul bersama mereka berdua."
"Dan hidupku tidak akan menjadi sesulit in-"
"Kau salah!" bantah Naruto.
"Mereka semua, orang-orang yang telah memberi tugas pada ayah dan ibumu, tidak pernah tahu jika akhirnya tugas itu akan menewaskan mereka berdua. Kalau mereka tahu, mereka pasti tidak akan memberikan tugas itu. Dan kedua orangtuamu, jika saja mereka tahu kalau mereka akan meninggal ketika menjalankan tugas itu, mereka pasti lebih memilih untuk tinggal di rumah dan memelukmu sampai mereka puas.." jelas Naruto.
"Dan yang membuat hidupmu sulit adalah, kau sendiri.." Naruto lagi-lagi mengalahkan Sasuke.
Sasuke speechless. Ini sudah puluhan kali seorang Uzumaki Naruto membuatnya tidak bisa berkata-kata. Dia sudah benar-benar kalah oleh perkataan Naruto. Untuk pertama kalinya, dia mengakui Naruto mengatakan hal benar tentang dirinya. Dan Itachi hanya bisa menghapus air matanya dengan serbet.(?)
"Ya, mungkin kau benar." ucap Sasuke.
"Lalu,, kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri?" kali ini Sasuke menyerang balik Naruto.
……
Naruto tertunduk untuk beberapa lama. Tanpa ada suara, hening,,
"Hiks,,hiks,, karena mereka mati agar aku hidup.." Naruto menangis tiba-tiba.
"Mereka,, lebih memilih mati daripada memelukku.. hiks,,"
"Ka, kata paman, mereka mati dengan wajah tenang dan sebuah senyuman.. seakan mereka bahagia karena mati.."
"Tidak, tidak Naruto…" tiba-tiba Itachi sudah berdiri di samping Naruto dan memeluknya.
"Jangan salahkan dirimu lagi.." Itachi ikut menangis melihat Naruto yang sedang gemetaran.
"Hiks,, ini berbeda.. kematian mereka-"
"Mereka mati bukan atas kesengajaan, tapi karena mencintaimu.. itulah kekuatan yang dimiliki orang tuamu.." ucap Itachi.
Naruto terdiam. Sesekali terdengar isakkan tangis darinya. Dia mencoba untuk tenang dan mengambil nafas panjang.
"Benar.." Naruto mulai tenang, namun biru matanya masih bercampur dengan warna kelabu.
"Kau tahu, aku baru mengerti tentang apa yang orang tuaku lakukan sekarang.. Dan akhirnya aku benar-benar bisa seperti orang tuaku.."
"Aku tidak suka dengan kalimat itu." Sasuke ikut berbicara setelah dia diam seribu bahasa melihat ekspresi Naruto tadi.
"Apa kau sudah yakin dengan yang kau ucapkan barusan?" lanjut Sasuke lagi.
"Ya.." Naruto menatap Sasuke. Tegas namun amat rapuh.
"Kalau begitu, aku mewakili kedua orang tuamu memohon padamu,,,
.... teruslah hidup.."
Sasuke menunduk. Suaranya seperti di tahan, setengah mati ia menahan air matanya agar tidak keluar.
"Aku tidak tahu.." Naruto menenggelamkan wajahnya ke tubuh Itachi. Dia takut menatap mata Sasuke yang akan membuatnya menangis lagi.
"Demi tuhan, aku tidak mau lagi kehilangan orang yang sangat berharga bagiku.." Sasuke tidak berani memandang Naruto yang gemetaran sekarang. Karena dia juga sedang menangis saat ini.
#$%^&*(??)
Dia membuka pintu kamarnya, lalu dengan segera membuka lemari dan mengambil sebuah ukiran emas dari dalam sela-sela tumpukkan pakaiannya. Di genggamnya erat benda tersebut, dia dekatkan ke dadanya, dan kemudian memejamkan mata.
"wahai dewa penjaga, kabulkanlah permohonanku.. aku benar-benar ingin menolongnya.. berilah aku petunjuk.."
Tuber-
(bugh!)
T,Tbc..
PERHATIAN!!!!!
Shira mo mengumumkan sesuatu..
Lahan kosong di bagian akhir cerita, shira beri nama "shiraland…"
Keren kan?? hahaha….XD
Nah, di shiraland kali ini, shira mo sedikit kasih penjelasan ttg penyakit sasuke. Dia itu ditipu sama itachi. Itachi bilang, mereka ke konoha cuma sehari doang buat berobat. Tapi karena itachi tau sasuke gak bakal 'tahan' berobat kaya gitu terus, jadi itachi memutuskan pindah. Gataunya sasuke malah 'ngambek' dan gitulah sasuke kalo ngambek. Susah disuruh2.
Loh,loh,loh??? Gyyaaa!!! Shira mengumbarkan ceritaa!!
Ya sudahlah, ini kan shiraland..
Slogan shiraland: "everything is OK!"
Shiraland, sesi balas pesan:
Aoi no Tsuki: "makasiiihh….. atas segalanya..:) shira juga masih berusaha buat memperbaiki diri shira lagi.. maklum ya, kalo masih banyak yg salah.. shira masih butuh bimbingan dari Tsuki-chan.."
Chubby Chu: "ekk… ek.. Chu, Chubby-chan.. shi, shira gak bisa nap-pass… I, itu udah shira cob-ba betulin hu, hurufnya.."
Mihael Keehl Is Still Alive: "hehe… iya deh, shira coba betulin lagi.. tapi map ya, kalo masih banyak yang jelek.. masalah chara-ded, shira belum bias kasih tau,, gomenn…"
Uchiha Nata: "gimana chapter 3 shira?? Udah banyak perkembangan gak?? Sesuai gak sama yg Nata-chan mau??"
Namikaze Raisen: "wooo…!!! Dasar baka teme, obake, okama, dan hal lain yg jelek!!! Terserah shira dong mao buat cerita kaya apa aja!! Akan kubuat kau menangis di sekolah nanti!! HUAHAHAHAA….!!!!!"
