Fate

07 GHOST © Amemiya Yuki & Yukino Ichihara

Genre:Romance / Humor / Supernatural / dll

Warning: OOC, typo, Shounen-Ai, SPOILERKAPITEL74

Summary: SURAT UNDANGAN UNTUK MENGHADIRI PEMAKAMAN MIKAGE CELESTINE. / "Terima kasih sudah menolong anakku," / "Maaf," / "Eh, Teito."


Teito POV

Sudah tiga minggu berlalu semenjak aku kembali ke Black Hawks dan selama itu sudah banyak hal yang terjadi. Ya, banyak hal…

Flashback

"Baiklah, pemeriksaan selesai. Karena banyak hal yang kami tidak ketahui, makanya kami tidak mengijinkanmu keluar."

Saat ini, aku sedang berada di laboratorium yang letaknya jauh di bawah tanah benteng militer Barsburg. Aku tidak ingat apapun yang terjadi selama pemeriksaan kepalaku. Begitu aku membuka mataku, semua peralatan yang ada di sini hancur semua.

"Kalung ini untuk apa?" tanyaku sambil memungut pakaianku.

"Oh, ini penemuan terbaru yang akan membantumu dalam mengerjakan kegiatan sehari-harimu, mengingat kamu sama sekali tidak ingat apapun."

"Oh, ini jam berapa ya?"

"Jam 6.45 pagi."

"APA? Gawat! Ayanami-sama pasti marah," kataku sambil panik lalu segera menuju lift lalu menekan lantai 40.

Hah… aku harap Ayanami-sama tidak memarahiku. Tapi aku tidak menyangka kalau di benteng ini punya lantai bawah tanah, bahkan sampai lantai 67. Aku ingat, dulu Mikage selalu berkata padaku kalau dia ingin sekali bisa masuk ke dalam benteng ini.

Mikage…

Maafkan aku.


"Teito Klein," kata seorang officer.

"Ya, ada apa?"

"Ini, surat yang kamu kirimkan dikembalikan, karena alamat yang tertera di situ tidak ada."

Apa? Tidak mungkin. Aku yakin sekali kalau Mikage di tugaskan di situ, tapi kenapa alamatnya bisa salah. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Mikage? Aku sangat mencemaskanmu.

"Lalu ada surat yang ditujukan untukmu, Teito Klein," kata officer itu sambil memberikan sebuah surat.

Huh? Ini dikirim dua bulan yang lalu. Pengirimnya Kairen Celestine, dari keluarga Mikage.

DEG!

SURAT UNDANGAN UNTUK MENGHADIRI PEMAKAMAN MIKAGE CELESTINE.


"To… Teito-kun… sampai kapan kamu akan terus berada dalam lift itu?" tanya Katsuragi-san yang membuyarkan lamunanku.

"Oh, maaf."

"Ayanami-sama sudah menunggumu," katanya sambil menatap wajahku dengan penasaran.

"Baiklah, aku akan segera ke sana," kataku lalu pergi ke ruangan Ayanami-sama dengan setengah berlari.

"Ayanami-sama, maaf saya terlambat," kataku begitu sampai di ruangan Ayanami-sama.

"Beritahu yang lain untuk bersiap, kita akan pergi ke kediaman Oak."

"Baik."

"Teito," kata Ayanami-sama yang menghentikan aktivitas membuka pintuku.

"Ya."

"Basuh wajahmu dulu sebelum menemui yang lain," kata Ayanami-sama lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.

Setelah keluar dari ruangan Ayanami-sama, aku segera menuju ke toilet terdekat untuk membasuh wajahku. Tapi sebenarnya buat apa membasuh wajahku? Aku tidak merasa mengantuk, tapi karena itu perintah Ayanami-sama, mau tidak mau aku, aku harus melakukannya. Karena jika tidak, Ayanami-sama pasti akan memberi hukuman yang sangat berat.

Sebelum aku membasuh wajahku, aku melihat ka arah cermin. Aku penasaran dengan wajahku sehingga membuat Ayanami-sama menyuruh untuk membasuh wajahku.

Ara? Air mata. Sejak kapan aku menangis? Jadi ini alasannya kenapa Ayanami-sama menyuruhku membasuh wajahku.

Begitu selesai membasuh wajahku, aku segera ke ruangan Black Hawks, yang letaknya tepat di sebelah ruangan Ayanami-sama. Antar ruangan memang tidak satupun pintu yang menghubungkan dua ruangan, yang ada hanyalah sebuah kaca besar yang biasanya ditutupi oleh korden.

"Ayanami-sama bilang kalau kita harus bersiap untuk pergi ke kediaman Oak," kataku begitu sampai ke ruanganku dan yang lainnya.

"Eh, sudah waktunya ya," kata Hyuuga-san sambil tersenyum.

Kediaman Oak

"Ayanami-sama, mantel Anda," kataku begitu sampai ke kediaman keluarga Oak. Begitu aku berkata seperti itu, Ayanami-sama segera melepas mantelnya dan memberikannya padaku.

"Uwaaa… rumahnya besar juga," kata Hyuuga-san yang berada di belakangku.

"Ada 96 orang keluarga yang masih memiliki hubungan darah dan 400 orang pekerja, tinggal dalam sepuluh ribu meter persegi. Selain itu, rumah ini juga salah satu dari TheGodHouses, jadi bersikaplah sopan," jelas Katsuragi-san.

Huh? GodHouses. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu denganGodHouses, seperti sebuah misi. Tunggu, misi apa? Aku bahkan tidak tahu GodHouses itu apa dan kenapa kita harus bersikap sopan di sini. Sebegitu pentingkah GodHouses itu?

"Sampai kapan kamu berdiri di situ, Teito?" kata Ayanami-sama yang menyadarkanku.

"Ah, maafkan saya, Ayanami-sama," kataku meminta maaf lalu segera masuk ke dalam kediaman Oak.

"Selamat datang di kediaman keluarga Oak," sambut seorang pemuda yang mirip dengan Mikage.

"Ijinkan saya menyimpan mantel Anda," kata orang yang mirip dengan Mikage lalu memberi sinyal ke pemuda yang lainnya yang berada di belakangnya, lalu para pemuda itu mengembil mantel milik kami.

"Selamat datang ke rumahku, Ayanami-sama," kata seseorang yang sangat aku benci sejak aku di akademi, Shuuri Oak.

"Sedang apa kamu di sini, Teito Klein?" tanya Shuuri dengan nada ketus.

"Apa kamu lupa, kalau dia adalah begleiternya Ayanami-sama," kata Konatsu-san.

"Beritahu dimana Miroku-sama berada," kata atau lebih tepatnya perintah Ayanami-sama ke Shuuri jelek.

"Maaf, Anda Teito Klein?" tanya pemuda yang mirip dengan Mikage begitu semua anggota Black Hawks masuk ke dalam.

"Iya," jawabku.

"Perkenalkan, aku Kokuyou Celestine, kakak dari Mikage."

"Mikage…."

Begitu mendengar nama Mikage, air mataku langsung keluar, aku….

"Oh, kenalanmu ya Teito?" kata Hyuuga-san dan secara reflex aku segera menghapus air mataku dengan tangan.

"Saya adalah butler dari keluarga Oak, Kokuyou. Dia adalah sahabat dari adikku," jelas Kokuyou-san ketika aku masih sibuk menghapus air mataku.

"Oh, teman dari adikmu…."

"Ini kesempatan bagus, kamu bisa mengambil istirahat sebentar," kata Hyuuga-san.

"Eh apa tidak apa-apa? Tapi…" aku tidak yakin kalau Ayanami-sama mengizinkanku untuk istirahat.

"Tidak apa-apa, aku akan bicarakan dengan Aya-tan," kata Hyuuga-san sambil mendorongku mendekat ke Kokuyou. Setelah berkata seperti itu, Hyuuga segera masuk ke dalam rumah. Sementara aku mengikuti Kokuyou-san ke luar rumah dan menuju ke sebuah pemakaman. Lebih tepatnya makam Mikage.

Begitu aku sampai di depan makam Mikage, aku segera menyentuh nisannya.

"Bagaimana bisa, Mikage meninggal? Sebenarnya aku kehilangan ingatan selama dua bulan ini, karena itu aku tidak bisa ingat apapun."

"Kehilangan ingatan? Pasti berat untukmu. Katanya, Mikage meninggal karena kecelakaan Hawkzile."

"Mereka bahkan tidak membawa tubuhnya kembali," lanjut Kokuyou-san.

"Apa kamu yang bernama Teito Klein?" kata seorang anak kecil yang suaranya baru aku dengar. Aku pun segera menoleh ke arah sumber suara, begitu pula dengan Kokuyou-san.

"Mereka adalah adikku, Kohaku dan Rinka."

"Kenapa kamu baru datang sekarang? Pemakamannya sudah berlangsung sejak lama. Apa kamu benar-benar sahabat dari Mikage-nii?" tanya anak laki-laki yang aku yakin namanya adalah Kohaku.

"Hentikan Kohaku! Yang terpenting adalah perasaannya bukan kehadirannya, tidak semua orang punya waktu bebas sepertimu. Sekarang dia di sini dan aku yakin Mikage pasti bahagia," kata Kokuyou-san membelaku.

"Tidak, aku bukanlah teman yang baik, sama seperti yang dia katakana," kataku jujur.

"Ayo kita pergi, Rinka!" kata Kohaku lalu pergi bersama dengan Rinka.

"Hah… apakah itu yang benar-benar ada dalam pikiranmu? Ikut denganku, aku punya sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu," kata Kokuyou-san lalu membawaku masuk ke dalam rumah.

"Ayah! Ayah!" panggil Kokuyou-san ketika sampai di dalam rumah.

"Jangan memanggilku seperti itu, Kokuyou," kata seorang pria tua yang wajahnya mirip sekali dengan Mikage dan aku yakin dia adalah ayah dari Mikage.

"Senang bertemu dengan Anda. Saya Teito Klein," kataku sopan lalu membungkukkan badan.

"Oh, aku sudah lama ingin bertemu denganmu, Teito-kun. Aku ayah Mikage, Kairen," kata Kairen-san. Mereka benar-benar mirip dengan Mikage, selain itu aku bisa merasakan adanya sebuah ikatan yang kuat diantara mereka. Kenapa mereka bisa baik terhadapku? Padahal, mereka kehilangan satu anggota keluarga mereka dan itu gara-gara aku.

"Setiap kali anakku kembali dari sekolah militer, dia selalu membicarakanmu," kata Kairen-san sambil membuka sebuah pintu.

"Karena itu, aku mendekorasi kamar Mikage dengan foto-foto yang diambil pada waktu itu."

Kamar Mikage penuh dengan foto kami berdua, mulai saat kita menjadi teman sekamar, saat dia berhasil mendapatkan nilai bagus untuk yang pertama kalinya, dan sampai dengan kelulusan kami. Bahkan, ijazah kelulusannya masih tergulung rapi sama seperti ketika diberikan. Ah… aku ingin kembali ke masa-masa itu, masa-masa saat kita masih bersama. Aku benar-benar merindukanmu Mikage.

"Maaf. Mikage sudah memberi banyak hal ke diriku tapi aku tidak bisa memberi banyak ke dirinya." Aku benar-benar menyesal, sebelum aku bisa memberikan sesuatu ke Mikage, dia…

"Apa yang kamu katakana? Kamu adalah penyelamat anakku, dia selalu ingin mengajakmu kemari. Apa kamu ingat, dua tahun yang lalu saat kamu terluka berat sewaktu menolong anakku? Waktu itu aku sangat terkejut sekali. Aku ingin sekali mengucapkan terima kasih pada waktu itu, tapi kata Mikage kalau kamu sama sekali tidak punya kebebasan." Kata Kairen-san samil mendekat padaku.

"Terima kasih sudah menolong anakku," lanjut Kairen-san sambil memelukku. Menangis, Kairen-san mengangis, dia pasti merindukan Mikage.

"Ayah benar-benar mudah menangis," kata Kokuyou-san sambil menghapus air matanya dengan tangannya.

Mencair… semuanya mencair, perasaan bersalah, perasaan yang tak bisa memaafkan diriku sendiri. Semuanya mencair begitu saja, seperti salju yang meleleh.

"Matamu bengkak, Teito-kun," kata Haruse-san begitu aku sampai di tempat dimana anggota Blacks Hawks menunggu Ayanami-sama selesai dengan urusannya.

"Ini, kue untukmu, Teito-chan," kata Kuroyuri sambil menyodorkan strawberrycake.

"Tidak, terima kasih," tolakku halus.

"Baiklah, kalau begitu aku akan memakannya," kata Kuroyuri kemudian memakan strawberrycake tersebut.

"Hyuuga-san dimana?" tanyaku ketika menyadari betapa sepinya ruangan ini.

"Dia ikut dengan Ayanami-sama," jawab Konatsu sambil meminum tehnya.

BRAK!

"Lihat lihat! Miroku-sama memberikan batu indah ini ke Aya-tan," kata Hyuuga-san begitu keluar dari ruangan Miroku-sama sambil menunjukan sebuah batu oval berwarna hitam yang dibagian bawahnya terdapat sebuah pahatan kecil yang terbuat dari emas.

"Teito-kun, coba lihat," kata Hyuuga-san sambil menyerahkan batu itu ke arahku.

Aku pun mengambil batu hitam itu, tapi sepertinya aku pernah melihat batu itu tapi dimana ya?

DEG!

Perasaan aneh apa ini?

TAK!

"Maaf," kataku sambil mengambil kembali batu itu lalu menyerahkannya ke Hyuuga-san.

"Teito," kata Ayanami-sama begitu dia keluar dari ruangan Miroku-sama.

"Begitu sampai di benteng, segera kompres matamu," kata Ayanami-sama lalu berjalan melewatiku.

End Flashback

"Akhirnya jam makan siang," kata Hyuuga-san sambil memukul pundaknya,

"Kamu mau kemana, Teito-kun?" tanya Konatsu-san.

"Aku mau ke kantin, sekalian membeli makanan untuk Ayanami-sama," kataku lalu keluar dari ruangan Black Hawks. Nanun, samar-samar, aku bisa mendengar pertengkaran kecil antara Hyuuga-san dan Konatsu-san.

"Teito-kun selalu perhatian sama Aya-tan. Seandainya begleiterku seperti Teito-kun. Sakit! Kamu jahat, Kona-chan."

"Berhenti memanggilku seperti itu, Major!"

Hahahahaha. Mereka itu seperti pasangan suami istri. Aku tidak menyangka kalau para anggota Black Hawks seperti ini, padahal aku kira mereka itu selalu bersikap serius, tapi ternyata mereka punya kepribadian yang unik.

Mulai dari Kuroyuri yang punya selera makan yang aneh, lalu Haruse-san dan Katsuragi-san yang pandai memasak, kemudian ada Hyuuga-san yang selalu mencairkan suasana, terus Konatsu-san yang selalu menjadi 'ibu' atau lebih tepatnya 'istri' untuk Hyuuga-san, dan Ayanami-sama…

Ayanami-sama yang terlihat dingin dan kejam, tapi sebenarnya dia sangat peduli dengan bawahannya.

DUK!

"Hati-hati dong kalau jalan!"

"Maaf," kataku sambil membungkukan badan.

"Eh, Teito."


TBC