[REMAKE] Sleep With The Devil by Santhy Agatha

Genre :: Romance

Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]

Rated :: M

.

Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa

baca novel Sleep With The Devil (Santhy Agatha). So, cerita ini

bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya.

Oh iya ini re-post ya?

.

Typo(s). YAOI. M-PREG

Don't Like , Don't Read chingu!

Annyeong, ini lanjutan ff remake Sleep With The Devil KaiLu Ver ^^

Happy Reading!

"Sakit!,"

Luhan menjerit, berusaha mendorong tubuh Kai. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan keinginan untuk dipenuhi gairahnya. Sebutir air mata menetes dari sudut matanya, sisa-sisa dari kesadarannya yang tertinggal.

Kai mendesakkan dirinya sedalam mungkin, akhirnya berhasil menembus penghalang itu, mengabaikan jeritan kesakitan Luhan. Ketika akhirnya jeritan Luhan mereda. Kai mengangkat kepalanya, dan mengecup lembut bibir Luhan yang terbuka dan terengah-engah,

"Setelah ini…. Aku akan mengajarkanmu bagaimana memuaskanku," ucapan itu menggema di dalam ruangan, bagaikan janji dari sang kegelapan.

Dan Luhan, sudah benar-benar kehilangan kesadarannya, tubuhnya menggeliat merasakan kenikmatan yang menggelenyar ketika rasa sakit itu akhirnya menghilang. Berganti dengan kenikmatan panas yang membagikan gelenyar menyiksa ke seluruh tubuhnya.

Kai merasakan gerakan pinggul Luhan, merasakan denyutannya yang menggenggam panas tubuhnya, yang tertanam jauh di dalam tubuh Luhan. Mendesak dengan berani, menarik Kai lebih dan lebih dekat lagi.

Kai menggertakkan gigi, menahan diri, membiarkan Luhan menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan sesuka hati. Dan tidak butuh waktu lama ketika akhirnya laki-laki itu mencapai pemenuhan kepuasannya,

"Oh… oh … Astaga…," Luhan memejamkan mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas yang tak tertahankan. Dan walaupun Kai bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, pemandangan akan orgasme Luhan dan denyutan Luhan yang meremas dirinya, jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Detik itu pula, Kai meledakkan gairahnya bergabung dengan Luhan dalam gairah yang melemahkan.

Entah apa yang membuat Luhan terbangun dari tidurnya yang lelap, rasa sakit yang aneh di badannya, ataukah cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Luhan membuka matanya. Sekilas pandangannya terasa kabur, dan dia mencoba untuk memfokuskan dirinya.

Kamar itu, dengan nuansa putih yang feminim….

Kilasan-kilasan ingatan berkelebat di benaknya, dia masih di sekap di sini, di dalam kamar di rumah Kai yang jahat. Dengan panik Luhan terduduk dari ranjangnya, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi dada ratanya, melorot? Luhan menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau dia telanjang bulat di balik selimutnya, apa yang…..

"Selamat Pagi"

Suara maskulin itu terdengar dekat sekali dan Luhan menolehkan kepalanya kaget, pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak. Kai ada di sana, di ranjangnya, mereka ada dalam selimut yang sama, dan menilik kepada selimut Kai yang hampir saja melorot di pinggulnya, mereka sama-sama telanjang!

Luhan masih terperangah menatap pemandangan di depannya. Kai berbaring dengan angkuhnya, jelas-jelas telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat yang memiliki. Dengan panik Luhan menarik selimutnya hampir untuk menutupi seluruh dadanya, tetapi gerakannya itu malahan membuat selimut Kai melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya. Dengan malu Luhan memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman jahat Kai.

Keberanian dan kemarahan Luhan langsung muncul ketika menyadari rasa pedih di antara ke dua pahanya. Lelaki ini memperkosanya! Entah apa yang terjadi semalam, Luhan tidak ingat sama sekali. Tapi yang pasti, dia sudah dinodai oleh iblis berhati kejam ini.

"Kau sungguh iblis yang tidak bermoral, mengambil keuntungan dari laki-laki yang sangat membencimu!," desis Luhan menahan marah, masih tidak mau menatap Kai. Kai terkekeh mendengar suara geram Luhan,

"Membenciku?," dengan santai lelaki itu berdiri, tak malu dengan tubuh telanjangnya yang berotot, "Lihat aku Luhan, kau meninggalkan tanda-tanda di tubuhku, kau sangat bergairah semalam, seperti Kucing betina yang mencakar di sana sini untuk dipuaskan…. Dan atas gairahmu semalam, aku tidak yakin kalau kau membenciku"

Luhan melirik sekilas ke tubuh telanjang Kai yang berdiri di samping ranjang, mukanya merah padam karena malu. Bekas-bekas itu ada, tanda-tanda merah di dada, di pinggul Kai, di dekat kejantanannya…. Apakah dia yang melakukannya?

"Ya. Kau yang melakukannya." Ada senyum di suara Kai, "Dengan sangat bergairah dan lapar. Aku cuma berbaring di sana dan kau menyantapku bulat-bulat, sepanjang malam"

Kelebatan ingatan akan percintaan yang panas muncul di ingatan Luhan, samar-samar dan tidak jelas. Tapi dia tidak mampu mengingat semuanya, kenapa dia tidak mampu mengingat semuanya?

Luhan teringat minuman yang di berikan Chanyeol semalam, dan rasa muaknya memuncak ketika menyadari ada sesuatu yang dicampurkan di situ, dengan mata menyala-nyala. Dikuasai oleh kemarahan yang campur aduk menjadi satu, Luhan menantang tatapan Kai, mencoba tidak mempedulikan ketelanjangan Kai.

"Aku selalu mendengar kau jahat dan licik, tapi aku sungguh tak menyangka kau serendah itu, menggunakan obat untuk memaksa laki-laki yang jijik kepadamu supaya mau melayanimu!"

Sepertinya kata-kata Luhan mengena di hati Kai karena rahang lelaki itu tampak mengeras, marah.

Dengan kasar, Kai menyambar jubah sutra hitamnya dan mengenakannya. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, naik ke atas ranjang dan mencengkeram rahang Luhan dengan sebelah tangannya.

Cengkeraman itu terasa keras dan menyakitkan sehingga Luhan mengernyit. Tetapi Luhan menahan diri untuk tidak mengaduh, dia tidak mau memberikan kepuasan kepada lelaki itu.

"Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti, kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Kim Kai tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu.. atau aku membunuhmu!"

Dengan kasar Kai melepaskan cengkeramannya di rahang Luhan, membuat tubuh Luhan terdorong lagi ke ranjang. Lalu dengan langkah tegas, Kai melangkah keluar kamar sambil membanting pintu di belakangnya.

Luhan masih termangu di ranjang, lalu kilasan rasa sakit di antara pahanya menyadarkannya. Noda darah itu tampak mencolok di seprai putih itu, tampak menertawakannya. Sungguh ironis, keperjakaannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuh Luhan gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri.

Noda merah di ranjang itu sangat mengganggunya, hingga dengan kasar Luhan merenggut seprai itu dan membantingnya ke lantai. Napas Luhan terengah-engah dan entah kenapa kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi.

Ingatannya melayang kepada ayah dan ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan, dan kepada nasibnya yang membuatnya terperangkap di sini, dalam cengkeraman musuh besarnya.

Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman Kai, dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi lelaki itu.

Luhan mengusap air matanya tiba-tiba. Tidak! Dia sudah cukup menangis, dia harus melawan, dengan segala cara! Dengan pelan Luhan melangkah ke kamar mandi, dia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang ditinggalkan Kai di tubuhnya.

Kai boleh saja menodainya, tetapi bukan berarti lelaki itu memilikinya. Luhan laki-laki bebas, laki-laki bebas yang bertekad untuk menghancurkan Kai. Tunggu saja, dia hanya belum punya kesempatan.

Luhan hanya duduk di kursi putih itu putus asa sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri. Putus asa, Luhan duduk sambil memeluk lututnya, Kalau begini, bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah ini? Sedangkan keluar dari kamar ini saja dia tidak mampu.

Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu satu-satunya jalan. Tetapi yang bisa keluar masuk dari pintu itu hanya Kai, dan juga seorang lelaki bertampang dingin bernama Chanyeol, yang selalu ada di sebelah Kai setiap ada kesempatan. Lelaki bertampang dingin itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya.

Pikiran Luhan berputar… memang rasanya tidak mungkin, jika tidak dicoba dia tidak akan tahu…

Seperti sudah diatur, pintu kamar itu terbuka, dan Luhan langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun yang akan masuk.

Chanyeol muncul di sana membawa nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Luhan langsung sengaja memasang wajah kesakitan,

"Aku minta tolong….," rintihnya sesakit mungkin. Chanyeol mengernyit dan mendekat, "Ada apa tuan?'

"Aku… aku mau muntah… tolong aku," Luhan meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin. Dan sepertinya Chanyeol tidak curiga, lelaki itu mendekat, dan menatap Luhan,

"Kau mau dibantu ke kamar mandi?" Luhan mengangguk lemah.

Dengan tangan kuatnya, Chanyeol membantu Luhan berdiri dan memapah tubuh Luhan yang lunglai ke kamar mandi. Ketika Chanyeol membuka pintu kamar mandi, Luhan berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga Chanyeol langsung bergegas membawanya ke kamar mandi, Di wastafel, Luhan menundukkan kepalanya seolah-olah akan muntah hebat,

"Handuk… tolong….," gumam Luhan lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi,

Masih tanpa curiga, Chanyeol melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilat Luhan melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi.

Chanyeol menyadari kalau dia ditipu ketika melihat kelebatan langkah cepat Luhan. Dia berusaha mengejar tapi terlambat, Luhan yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.

Dengan napas terengah karena pacuan adrenalin, Luhan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, memejamkan mata, tak peduli akan gedoran-gedoran marah Chanyeol dari dalam,

"Kau tidak akan bisa melarikan diri," ancam Chanyeol, berteriak dari dalam, "Tuan Kai pasti akan menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan Kai marah, kau akan menyesalinya"

Teriakan-teriakan Chanyeol makin keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu, kata-kata Chanyeol sempat membuat hati Luhan kecut, tapi dia menggelengkan kepalanya, Kai memang lelaki kejam, tetapi Luhan tidak boleh takut. Dia harus berani menantang Kai, menunjukkan pada lelaki itu kalau dia bukanlah pria yang bisa ditundukkan dengan begitu mudahnya.

Dengan langkah hati-hati, Luhan membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada penjaga yang menjaga di pintu. Tetapi rupanya Kai beranggapan Luhan terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga di pintu. Lorong itu kosong. Dengan hati-hati Luhan melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan Chanyeol masih terdengar ketika Luhan keluar, tetapi ketika Luhan menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.

Luhan melangkah lagi melewati lorong itu. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke tangga spiral yang besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, Luhan mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang dia lihat kemarin?

Pelan dan waspada, Luhan melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di belakangnya,

"Kau pikir kau akan kemana?"

Terlonjak kaget, Luhan membalikkan badan dan hampir menabrak dada bidang Kai. Lelaki itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.

"Berani sekali kau mempermalukan Chanyeol seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku,"

Tangan besar Kai mencengkeram lengan Luhan dengan kasar lalu menyeret Luhan yang tidak bersedia. Luhan meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi Kai tidak peduli, tetap menyeret Luhan dengan kekuatan besarnya. Hingga Luhan mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya putus. Kai menyeret Luhan menaiki tangga dan kembali menuju kamar putih tempat Luhan tadi dikurung.

Di sana beberapa pengawal Kai berkumpul, dan Chanyeol berdiri di sana. Rupanya dia berhasil menghubungi Kai dan dibebaskan dari kamar mandi. Luhan mengernyit dalam hati, seharusnya tadi dia lebih cepat, atau mungkin dia pukul kepala Chanyeol dengan sesuatu sehingga lelaki itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya dengan segera.

Kai melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Luhan ke depan dengan kasar,

"Kau lihat Chanyeol? Laki-laki kecil seperti ini, dan kau, pengawalku yang sudah bertahun-tahun lamanya bisa-bisanya dibodohi seperti ini"

Chanyeol hanya terdiam, menatap Kai dengan muka datar, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Luhan. Hingga Luhan mengernyit, apakah lelaki ini memang tidak punya ekspresi?

"Dan kau Luhan," Kai melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, "Ini adalah peringatan untukmu. Kalau kau membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku,"

Tanpa disangkanya, Kai menghantam Chanyeol dengan satu pukulan telak hingga kepala Chanyeol mundur ke belakang, darah menetes dari sudut bibirnya.

Luhan terkesiap mundur dan makin terkesiap ketika Kai menghajar Chanyeol, lagi dan lagi tanpa perlawanan hingga lelaki itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang mengotori kemejanya. Kai mundur satu langkah ketika Chanyeol terjatuh, dia menoleh dan menatap Luhan,

"Kalu lihat itu Luhan? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu. Mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!,"

Dengan kejam Kai mengarahkan pukulannya sekali lagi ke arah Chanyeol. Luhan berteriak, spontan mencengkram lengan Kai yang terayun, mencegah Kai menghabisi Chanyeol,

"Jangan…. ! Jangan ! Aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh dia! Aku yang salah ! ", teriaknya panik.

Kai terdiam dan mematung, ketika akhirnya dia menatap Luhan, matanya sedingin es. Lelaki itu tampak amat sangat marah kepada Luhan.

"Jadi kau mengaku salah..," Kai mundur lagi dan Luhan merasa lega luar biasa karena lelaki itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepada Chanyeol yang sudah berlutut tak berdaya di lantai.

"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini," teriak Luhan marah, frustrasi karena Kai menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.

"Kau milikku, dan tidak ada milikku yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku"

"Atas dasar apa?," Luhan berteriak marah, "Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi lelaki jahat sepertimu. Aku cuma mau keluar dari sini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini….Aku cuma mau keluarr!

"Kau mau keluar hah?," Kai mencengkeram lengan Luhan lagi, di tempat yang sama hingga Luhan merasa lengannya memar, "Mari kita keluar!"

Tak ada yang berani menolong ketika Luhan berteriak-teriak dalam seretan Kai. Sepertinya kemarahan Kai adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu. Kai membawa Luhan ke ujung lorong, ke jendela kaca lantai dua yang mengarah langsung ke balkon.

Dengan kasar Kai mendorong Luhan keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Luhan mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke kolam renang yang sangat luas di bawahnya.

Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Luhan bergidik. Dia tidak bisa berenang, apakah Kai akan mendorongnya ke bawah?

Kai benar-benar mendesak tubuh Luhan sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah, sementara tangannya di kekang oleh Kai di belakangnya,

"Kau lihat itu? Salah sedikit aku melemparmu ke bawah, kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam," napas Kai sedikit terengah oleh kemarahan, "Kau laki-laki tak tahu diuntung, harusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa hidup sampai sekarang…. Tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau"

"Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan iblis seperti kau." Luhan berteriak berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa.

"Laki-laki tidak tahu terima kasih," Kai mendorong Luhan lagi sampai ke ujung, "Ada kata-kata terakhir?"

Luhan memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Kai,

"Terima kasih karena sudah membebaskanku"

Lalu tubuh Luhan terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu. Setidaknya kalau aku mati, aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, Ayah….

Sedetik kemudian, tubuh Luhan terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam. Luhan tidak berusaha menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu.

Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.

Oh Tuhan… aku akan mati….

Ketika Luhan sudah sampai di titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya di kolam. Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke permukaan. Tubuh lemas Luhan dibaringkan di lantai di pinggiran kolam, lalu dia merasakan perutnya di tekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar.

Luhan memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri. Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati?

Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Luhan. Mata Luhan mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya,

"Panggil Dokter"

Itu suara Kai. Apakah Kai yang menyelamatkannya? Lagipula… kenapa lelaki itu menyelamatkannya?

TBC

Annyeong chingudeul :D

Mianhae klo ffnya lumayan lama dipostnya #deepbow

Aku ngepost ff remake ini n jg ff FTDS soalnya takut kelupaan ngepostnya.

Mumpung ada waktu makanya dua2nya aku post.

THANKS REVIEW TO :

Novey, rizkyhandayani89, chaporch, .58, naya, Wind blow, Guest, , Guest, Rhinompedo, lukailu, 61, lululu, hunhanlove, maylulu, deercho, guest

mianhae klo ada nama yang salah atau ada nama yg belum disebutkan #deepbow

Kamsahamnida chingu :D #deepbow

Ditunggu reviewnya chingu :)