SHILL

Chapter 2

KAIHUN KAIHUN KAIHUN

.

.

.

For those who had been waiting for like eternity

.

.

.

"Woah, kamar ini mewah sekali!"

"Ada champagne juga!"

"Eh? Itu champagne atau wine?"

"Gila pemandangannya indah sekali!"

"Wow kasurnya empuk!"

"Seprainya lembut sekali! Boleh ku bawa pulang?"

"Astaga bahkan kamar mandinya lebih besar dari rumah sewaku!"

"Jongin, ada kolam renangnya disini!"

"Itu namanya jacuzzi, bukan kolam renang."

"Oh iya aku lupa!"

Jongin memijit pelipisnya sambil menghela nafasnya entah untuk keberapa kali. Sejak menginjakkan kakinya di hotel ini, bocah lelaki berkulit kelewat putih itu terus saja mengoceh sambil berlarian mondar-mandir sana-sini. Memegang segala sesuatu yang bisa dia pegang dengan jari-jari lentiknya. Matanya tak henti-hentinya memancarkan binar yang agaknya berlebihan untuk bocah seusianya. Dia mengaku sudah 22 tahun tahun tapi setiap kali melihat sesuatu yang baru maka tingkahnya akan lebih mirip dengan bocah 5 tahun yang baru pertama kali diajak melihat "dunia".

Sehun selalu berceloteh sendiri tiap kali melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Sebenarnya bocah itu megajak bicara Jongin, tapi lelaki tan itu lebih sering mengabaikannya, dan sepertinya Sehun juga tidak keberatan jika tidak ditanggapi. Sesekali Jongin akan merespon celotehan Sehun jika dirasa perlu. Seperti tadi, Sehun menyebut jacuzzi dengan kolam renang. Berapa kali pun Sehun diingatkan mengenai jacuzzi sepertinya bocah itu tidak akan pernah mengingatnya. Bahkan Jongin ragu jika bocah itu bisa mengeja jacuzzi dengan benar.

Jongin sedang duduk di coffee table yang berada di dekat full glass wall, menikmati pemandangan malam kota penuh kelap-kelip lampu dari bangunan maupun kendaraan yang berlalu lalang. Ditemani dengan segelas champagne yang merupakan welcome drink dari hotel ini. Dia membiarkan Sehun mondar-mandir kesana kemari mengeksplorasi seluruh isi kamar dengan tangan dan celotehan-celotehannya. Sampai dirinya merasa jengah dengan kelakuan bocah itu.

Sehun mengerucutkan bibirnya dan memberikan tatapan tak suka pada Jongin yang baru saja menyuruhnya berhenti melakukan apapun yang sedang dia lakukan. Bibirnya ditarik kebawah membentuk sebuah kurva tertutup, kedua alisnya menukik tajam, dan kakinya dihentakkan dengan keras.

Cih, apanya yang 22 tahun.

"Kau tidak asik!"

Sehun mendudukkan pantat berisinya dengan kasar di kursi yang berada di seberang meja, berhadapan dengan Jongin. Wajahnya masih dalam mode mengambeknya meskipun Jongin tidak memberikan sedikitpun perhatian padanya. Mata pria tan itu masih saja menikmati pemandangan kota sambil sesekali meminum champagne nya.

"Iiiish!"

Sehun menendang tulang kering Jongin dan tersenyum licik kala Jongin mengaduh.

"What's that for?"

"Karena kau menyebalkan!"

"Yah!"

Teriakan Jongin tidak diindahkan oleh Sehun. Lelaki kurus itu malahan pergi dari tempat itu dan melenggangkan kakinya menuju kamar mandi.

"Bocah sialan."

Jongin mengumpat dibawah helaan nafasnya. Kembali menyesap minumannya dengan sedikit kasar. Sesaat kemudian lelaki itu tersenyum tipis mengingat kelakuan bocah 22 tahun yang tidak seperti 22 tahun itu.

Sehun sudah tinggal dengannya selama dua tahun sekarang. Dua tahun. Dan melihat dari kelakuannya tadi, sifat norak Sehun belum hilang, ya? Jongin pun selalu bingung dibuatnya. Kalau kalian mau tahu, semua fasilitas yang ada di hotel ini dimiliki Jongin di apartemennya, apartemen yang juga sekarang menjadi tempat tinggal Sehun. Bahkan beberapa barang miliknya lebih canggih lagi. Tapi setiap kali mereka berpindah hotel dan berpindah negara, Sehun tak pernah bisa menghentikan celotehannya mengenai benda ini dan itu, betapa luasnya ruangan ini dan itu, betapa mengkilatnya barang ini dan itu.

Ya, mereka sering menginap di berbagai macam hotel di berbagai negara, selalu bintang lima tentunya. Atau five star plus diamond. Tak ada alasan lain selain untuk penginapan mereka selama bertanding casino. Selama dua tahun, sudah beberapa negara dikunjungi Sehun, beberapa kali pula dia mendapat banyak bonus karena Jongin memenangkan angka yang besar dalam taruhannya. Kemenangan itu juga karenaku! Ya, Sehun tak pernah lupa mengatakan itu setiap kali Jongin memenangkan perjudian.

Pertama kali naik pesawat, Sehun berisik minta ampun. Awalnya lelaki itu terlihat sangat antusias saat mereka sampai di bandara. Dia tak henti-hentinya mengatakan woah, wow, keren (atau apapun kalimat ekslamasi yang menggambarkan kekaguman) saat dia melihat pesawat dari dekat dengan mata kepalanya sendiri. Bibir kecilnya menganga dan matanya membola. Jujur, dia (sedikit) memalukan kala itu sampai-sampai Jongin memakai kacamata hitam dan maskernya, pura-pura tidak kenal setiap kali lelaki itu menyebut namanya. Nyaris di setiap kalimatnya terselip nama Jongin. Jongin lihat ada ini, Jongin lihat ada itu, dan sebagai macamnya.

Ocehan lelaki itu terhenti saat pesawat yang mereka tumpangi mulai bergerak untuk melakukan proses take off. Lelaki pucat itu terlihat semakin pucat saat merasakan pesawat melaju dengan kecepatan tinggi dan sedikit demi sedikit mulai terangkat dari daratan. Sehun merapatkan kedua tangannya, berdoa pada Tuhan manapun sebanyak-banyaknya sampai akhirnya dia tak tahan dan mulai memenuhi telinga Jongin dengan celotehan-celotehannya. Kita tak akan jatuh, kan? Kumohon, aku belum mau mati. Shit, Jongin aku belum mau mati!

Jongin hanya bisa menghela nafasnya, menundukkan kepala dan semakin mengeratkan maskernya saat penumpang yang lain mulai merasa risih dengan bisikan tertahan Sehun yang lebih mirip seperti dirinya menahan teriakan saat jarinya terjepit pintu. Mereka berada di bussiness class yang notabene penumpangnya sangat tenang dengan segala keangkuhan mereka. Dan disini Sehun, mengepalkan tangannya dengan erat dan khidmat sambil mengoceh tak jelas.

Pertama kali menginjakkan kakinya di hotel berbintang lima, Sehun kembali menunjukkan wajah noraknya sembari melihat-lihat sekelilingnya dengan takjub. Untungnya saat itu nyaris tengah malam, tak terlalu banyak orang di lobby, hanya beberapa orangtua dan karyawan yang ada disana. Tapi tetap saja Jongin merasa malu melihat tingkah lelaki yang dibawanya, jadilah dia pura-pura tidak mengenalnya dan nyaris meninggalkan Sehun di lobby. Untung saat Jongin menaiki lift Sehun menyadarinya dan cepat-cepat menyusul sebelum pintu lift tertutup.

Setelah kejadian itu, Jongin "menasehati" Sehun untuk menyembunyikan rasa kagumnya tiap kali mereka datang ke tempat baru atau apapun. Sebisa mungkin Sehun harus membungkam mulutnya dan menampilkan wajah tidak tertarik. Act like a noble, kata Jongin.

Well, sikap menyembunyikan itu hanya bisa Sehun tahan saat di luaran, saat mereka tidak berdua. Saat sudah berdua maka rem mulut Sehun seperti tidak berfungsi dan pedal gas mulutnya seperti lepas kendali.

Jongin tak keberatan dengan hal itu, hanya kadang-kadang jika Jongin terlampau lelah maka dia akan menyuruhnya untuk diam dan pada akhirnya Jongin akan selalu mendapat tendangan di tulang keringnya, entah itu kaki kiri maupun kaki kanan. Sehun senang sekali menendang kakinya.

Jongin? Well, tak banyak hal yang berubah darinya selama dua tahun ini. Dia tetap Jongin yang selalu memenangkan perjudiannya (ini juga karenaku! Kata Sehun), tetap dermawan seperti biasanya, tetap tidak bermain dengan wanita maupun pria, tetap irit bicaranya. Yah, masih seperti Jongin yang dulu. Oh, ada beberapa kebiasaannya yang bertambah. Dia senang minum alkohol dan merokok sekarang.

Entah kebiasaannya itu muncul sejak kapan, yang jelas sekrang Jongin sudah seperti ketagihan dengan rasa dan aroma yang dimiliki dua benda perusak tubuh itu. Bahkan sekrang Jongin memiliki sebuah liquor cabinet yang berisikan berbagai macam koleksi minumannya. Berbagai merek dari berbagai tahun.

Hampir setiap hari Jongin meminum alkoholnya. Tergantung inginnya apa dan seberapa. Dia biasanya hanya meminum satu atau dua gelas. Tapi kalau dia sedang tidak mood maka dia bisa minum sampai berbotol-botol. Tanpa diketahuinya ternyata lelaki itu memiliki batas toleransi yang tinggi terhadap minuman semacam itu. lelaki itu tidak mudah mabuk. Mabuk pun lelaki itu masih mudah untuk dikendalikan, paling-paling tidur untuk waktu yang sangat lama dan bangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Sehun sudah tahu apa yang harus dilakukannya saat Jongin mabuk dan apa yang harus disiapkannya saat Jongin bangun keesokan harinya. Sehun sendiri tak pernah menyentuh alkohol dan dia sama sekali tidak mengerti mengapa orang membuang-buang uang untuk mabuk-mabukan.

Perihal Jongin yang merokok, itu juga sangat sulit untuk diketahui dari mana asalnya. Seingat Sehun, dulu Jongin tidak merokok dan sama sekali tidak ada bau rokok di apartemennya. Tapi beberapa minggu setelah dirinya tinggal disana, dia melihat Jongin merokok. Awalnya hanya sekali dua kali, tapi lama kelamaan menjadi rutin dan gilanya lelaki itu bisa menghabiskan dua bungkus dalam sehari, bukan dua batang lagi. Setiap kali ditanya kenapa dia merokok, Jongin pasti menjawab mulutku sepat. Sehun pernah membuang rokok yang ada di bibir Jongin, menginjaknya sampai mati dan menjejalkan sebuah stroberi ke mulut Jongin yang masih sedikit terbuka.

"Aku tak suka bau rokok!"

"Tapi aku suka."

"Kalau begitu jangan merokok saat ada aku."

"Tapi ini apartemenku. Sesukaku."

"Iish!"

Dan berakhirlah percakapan itu dengan tulang kering kaki kiri Jongin menjadi pelampiasan tendangan kaki Sehun.

Mereka sedang ada di Hongkong sekarang. Akan ada turnamen judi besar yang dimulai dua hari lagi. Mereka sengaja datang lebih awal karena ingin berkeliling sambil mencoba bertaruh dengan beberapa orang disana sebelum bertanding. Hitung-hitung pemanasan sekaligus melatih kelihaian Sehun. Sebenarnya kemampuan bocah kurus itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Dia pandai memberi kode-kode juga pandai berakting dan merayu. Merayu agar lawan Jongin tertarik padanya dan dapat dialihkan perhatiannya, dan berakting, uhm, untuk berjaga-jaga jika kejadian yang dulu terulang kembali.

Sehun nyaris tertangkap oleh si pemilik casino waktu awal-awal dia masih baru menjadi shill Jongin. Pemilik casino merasa curiga dengan Jongin yang selalu menang dan Sehun yang terus menerus menempeli siapapun yang menjadi lawan Jongin. Sehun didatangi oleh security dan hampir saja didenda dan didepak oleh si pemilik casino jika saja dia tidak mengeluarkan kemampuan beraktingnya. Jongin tak mengerti apa yang dilakukan Sehun saat dia dibawa ke ruang belakang, tapi beberapa menit kemudian Sehun keluar dengan wajah tersenyumnya. Sehun bilang segalanya bisa diatasi dengan akting kelas A miliknya, tanpa dijamah dan diinterogasi terlalu lama.

Sebenarnya memiliki shill atau memenangkan banyak perjudian di satu malam bukanlah sebuah masalah maupun pelanggaran. Tapi jika satu permainan terus menerus dimenangkan oleh satu orang, dan harga taruhan menjadi tinggi atau terlalu tinggi, maka pihak casino akan dirugikan. Kebanyakan orang akan mundur saat mengetahui seseorang adalah seorang hot, dan hal ini berimbas pada menurunnya perputaran uang di casino itu. belum lagi jika yang menjadi lawan hot itu adalah seorang high roller, maka kerugiannya bisa berlipat-lipat. High roller memang akan sangat mudah mengeluarkan angka taruhan dan mereka tak memiliki keberatan untuk melipatgandakan angka tersebut. Tapi uang high roller tidak sepenuhnya miliknya sendiri. Beberapa dari mereka meminjam uang dari pihak casino. Jika mereka menang, tentunya keuntungan untuk high roller dan juga pihak casino, tapi saat mereka kalah dengan angka tinggi maka tamatlah riwayatnya. Oleh karena itu, high roller lebih dikenal sebagai istilah untuk orang-orang yang boros.

Jongin masih memandangi pemandangan kota dihadapannya, masih sibuk dengan pikirannya yang entah apa isinya. Minuman di gelasnya sudah berubah menjadi lebih transparan karena es yang mencair. Dia mengalihkan pandangannya dan menengokkan kepalanya, ke arah Sehun yang menghampirinya dengan menggunakan bathrobe putih, sendal kamar dan sebuah handuk putih kecil di genggamannya.

"Jacuzzinya nyaman sekali! Aku sampi lupa waktu. Lihat, kulit jariku mengeriput!"

Kata Sehun sambil mendudukkan kembali dirinya di kursi tadi, mengangkat sedikit tangannya untuk memamerkan keriput-keriput itu pada Jongin.

Jongin tidak bergeming dari posisinya, matanya memperhatikan Sehun yang masih bercerita entah tentang apa, karena Jongin sedang kehilangan fokusnya.

Rambut basah, kulit lembut, mata ynag mengedip indah, hidung sempurna, pipi kemerahan, bibir merah muda yang terus saja mengoceh, bathrobe yang bahkan tiak bisa menyembunyikan dada putih bersihnya..

.

.

.

Brengsek. Sepertinya Jongin butuh rokok sekarang.

.

.

.

Hari ini adalah hari dimana pertandingan gambling dimulai. Setelah makan malam yang diantar ke kamar mereka, Jongin dan Sehun sedang memantapkan lagi strategi mereka. Sehun setengah malas mendengar perkataan Jongin, karena lelaki manis itu masih kesal dengan permintaannya yang ditolak oleh lelaki itu. Lihat saja, wajahnya masih menunjukkan raut masam dan alis mata yang menukik. Tangannya terlipat di dada dengan posisi yang angkuh.

"Did you even listen to what I've said?"

"No."

Pria tan di ruangan itu menghela nafasnya dengan lelah. Dia menutup matanya sesaat untuk menenangkan dirinya sendiri. Lelaki manis di hadapannya ini memang memiliki tingkah laku yang lain daripada yang lain. Coba bandingkan, anak miskin mana yang berani bersikap angkuh pada orang yang sudah memberinya tempat tinggal layak dan fasilitas super mewah? Memang Jongin tidak protes, hanya saja tingkahnya terkadang di luar nalar Jongin.

"And why is that?"

"Karena kau tidak memperbolehkanku makan di restaurant!"

"Kenapa harus kesana sedangkan makanannya bisa diantar kesini."

"Tapi aku maunya makan disana!"

"Kalau begitu sana pergi makan disana."

"Aku sudah kenyang."

"Lalu apalagi masalahmu? Kau bahkan sudah memakan semua menu yang diantarkan kesini."

"Ish! Kau memang tidak menyenangkan!"

Jongin mengendikkan bahunya dan meminum champagne yang ada di hadapannya, memperhatikan Sehun yang menggembungkan pipinya dan semakin mempertajam sudut alis matanya karena kesal. Sesungguhnya Jongin sangat ingin tertawa melihat tingkah lelaki manis dihadapannya saat seperti ini. Meski tak mau mengakuinya, Jongin setuju dengan pemikiran bahwa Sehun terlihat menggemaskan saat sedang kesal seperti ini. Itulah sebabnya Jongin terkadang menolak permintaan lelaki itu.

Bukan hal yang sulit untuk Jongin memenuhi apa yang diminta oleh Sehun. Lelaki manis itu tak pernah meminta hal yang macam-macam, tidak juga meminta barang yang mahal. Bahkan sepertinya barang termahal yang dimintanya adalah sepatu sneaker bermerk Louis Vuitton yang harganya hanya sekedar 18 juta. Sisanya, semua barang-barang yang dimiliki Sehun adalah pemberian Jongin. Ohiya, Jongin juga tak pernah lupa memberikan bagian uang pendapatan berjudi mereka, dia akan langsung mengirimkannya ke rekening Sehun.

"Ganti bajumu. Kau harus berangkat lebih awal kali ini. Aku akan menyusul satu jam lagi."

Sehun berdiri dari kursinya sambil menghentakkan kakinya. Tak lupa sebelum berdiri dia menendang tulang kering kaki kiri Jongin. Jongin hanya menghela nafasnya dan membiarkan lelaki itu masuk ke ruang ganti di kamar mereka.

Sekitar lima belas menit kemudian Sehun keluar dari ruang gantinya, dengan berbalut setelan tuxedo berwarna putih dan sepatu kulit hitam klasiknya. Sebuah dasi kupu-kupu hitam bertengger dengan manis melingkari kerah di leher jenjangnya. Rambut kecoklatannya disisir dan ditata hingga menghasilkan sebuah poni yang menutupi keningnya. Wajahnya bersih tanpa polesan kecuali sentuhan face spray untuk menjaga kelembaban kulitnya, serta seulas lip balm yang membuat bibir tipisnya "sedikit" lebih menggoda. Menurut Sehun, penampilan innocent dan make up yang tidak berlebihan akan membuat orang lebih tertarik padanya dan tak akan mencurigainya secara berlebihan. Tidak seperti wanita-wanita bermakeup tebal yang bahkan dirinya sulit membedakan antara shill atau memang hanya wanita penggoda.

Jongin masih duduk di kursinya saat Sehun keluar dari balik pintu dengan penampilan barunya. Dia hanya memperhatikan Sehun untuk beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya ke pemandangan kota. Dia mengambil rokoknya, menyelipkannya diantara kedua bibir plumpnya dan memantikkan api dari pemantik sebelum menghisap rokok tersebut. Dia menghirup asap itu dalam-dalam, meresapi rasa dan aromanya sebelum menghembuskannya kembali ke udara tanpa menghiraukan Sehun yang sudah memulai ceramahnya mengenai rokok dan bahayanya bagi tubuh.

"Aku sudah bilang jangan merokok saat ada aku!"

Sehun menghampirinya dengan wajah masam sambil memasang jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya. Lelaki manis itu berdiri di samping kursi Jongin dan memberikan death glare pada batang berasap yang bertengger di bibir lelaki tan itu.

"Kau kan sudah mau pergi."

"Aku masih disini."

"Kalau begitu pergi sekarang."

"Tidak sebelum kau mematikannya. Kemarikan!"

Tangan Sehun terulur untuk meminta rokok itu, hanya mendapatkan balasan berupa Jongin yang semakin kuat menghisap rokoknya.

"Jongin!"

Sehun menarik bahu Jongin agar lelaki itu sedikit menghadapnya. Jongin hanya menampilkan wajah malas yang seakan berkata apa tanpa minat. Lelaki manis itu berusaha mengambil batang rokok dari bibir Jongin, tapi jemari lentiknya kalah cepat dengan tangan Jongin yang terlebih dahulu mengapit rokok itu dan menjauhkannya dari jangkauan Sehun.

"Kemarikan!"

Jongin semakin mejauhkan tangannya dari tangan Sehun tiap kali lelaki itu berusaha mengambil rokoknya. Sehun terus saja mengucapkan kemarikan kemarikan kemarikan tanpa henti.

Merasa lelah dengan tingkah Sehun yang terus saja berusaha mengambil rokoknya, Jongin menarik tengkuk Sehun dan membuatnya berbungkuk hingga wajah mereka sejajar. Jongin membungkam bibir Sehun dengan bibirnya sendiri, menghentikan kata kemarikan secara paksa di tengahnya. Sehun membeku dengan posisinya yang membungkuk dan matanya yang melebar merasakan bibir plump milik Jongin diatas bibirnya. Bibir itu nyatanya lembut meskipun terlihat kering.

Untuk beberapa detik mereka bertahan dengan posisi itu tanpa ada yang bergerak, hingga Jongin mulai menggerakkan bibirnya secara perlahan. Dia tersenyum tipis saat merasa Sehun tidak menjauh dari ciumannya. Lelaki berkulit tan itu menarik tengkuk Sehun untuk lebih memperdalam ciuman mereka dan membuka bibirnya untuk perlahan-lahan mulai mengulum bibir yang selama ini selalu saja mengocehinya.

Bibirnya memang manis seperti dugaanku.

Jongin menyesap bibir bawah Sehun dan mengulumnya perlahan, meresapi rasa manis yang entah dari lip balm yang digunakan Sehun atau memang bibirnya semanis itu. Lidahnya sesekali menyapu permukaan lembut bibir lelaki itu dan tangannya yang secara perlahan mengusap tengkuknya untuk mebuatnya tenang.

Sebenarnya apa yang dilakukan tangan Jongin pada tengkuknya malah semakin membuat sehun merinding. Jantungnya berdegup dengan kencang merasakan ciuman pertamanya yang terjadi begitu cepat. Dia ingin memutus ciuman itu, tapi bibir Jongin begitu menenangkan sekaligus asing dalam waktu yang bersamaan. Rasa nikotin yang bercampur dengan Jongin memberikan sensasi tersendiri dalam ciuman yang dialaminya. Secara refleks, Sehun membuka bibirnya saat lidah Jongin semakin lincah menjilati bibirnya, membiarkan daging tak bertulang itu perlahan memasuki gua hangatnya. Sehun dapat semakin jelas merasakan nikotin dan hangatnya lidah Jongin. Kakinya mulai melemas tia kali Jongin menentuh sudut-sudut di dalam mulutnya, mengabsen gigi-ginya dan menyapa lidahnya yang bahkan tak berani bergerak sedikitpun.

Mata Jongin menutup seperti menghayati dan menghapal dengan baik rasa yang dimiliki lelaki berkulit pucat itu, memiringkan kepalanya agar ciumannya lebih dalam.

Jongin memutus ciuman mereka setelah menjilat bibir kemerahan milik Sehun untuk terakhir kalinya. Dia memalingkan pandangannya dari Sehun, membiarkan dirinya menenangkan pikirannya sendiri. Rokoknya dia matikan diatas asbak dan berdiri dari kursinya untuk pergi ke kamar mandi meninggalkan Sehun yang masih tertegun di posisinya.

.

.

.

23.45 PM

HK underground Casino

Jongin tiba di casino tempat diadakannya pertandingan nyaris tengah malam. Meskipun ini adalah pertandingan gambling illegal, semua yang hadir di area ini mengenakan pakaian formal layaknya menghadiri sebuah pesta jamuan makan malam. Jongin mengenakan sepasang jet black tuxedo yang serasi dengan celana panjangnya. Kemejanya berwarna hitam dan dihiasi sebuah silky black tie. Rambutnya ditata keatas hingga menampilkan dahinya yang maskulin. Sepatunya mengkilat tiap kali dia melangkahkan kakinya.

Area ini tidak terlalu sesak seperti kebanyakan area underground gambling yang biasa didatanginya karena malam ini area ini khusus diadakan untuk pertandingan dan mereka yang ingin bergabung harus memesan tiket dan undangan terlebih dahulu. Jongin mendapatkan undangan untuk bertaruh sedangkan Sehun memesan tiket untuk menonton dan "meramaikan suasana". Bicara soal Sehun, lelaki berkulit tan itu belum melihat penampakan Sehun di area ini sama sekali. Setelah meninggalkannya ke kamar mandi, Jongin yakin jika Sehun sudah pergi dari kamar mereka karena dia bisa mendengar suara pintu utama yang terbuka dan tertutup. Sehun tersesat? Tak mungkin, karena Jongin sudah memesankan seorang chauffeur untuk mengantarkan lelaki itu ke casino. Dimana bocah itu?

Jongin duduk di salah satu meja bar sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh arena casino ini setelah memesan minumannya. Casino ini sangat megah untuk kelas underground, dan sedikit aneh mengapa casino ini tidak digrebek mengingat statusnya yang illegal. Pemilik dan pekerja di sini pasti bermain kotor dengan apparat, hal biasa dalam dunia underground. Lagipula siapa yang tak mau uang dengan cuma-cuma dalam jumlah besar tanpa usaha apapun? Aparat denga perut buncit pasti menyukainya. Sesekali Jonngin menegak minumannya, masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan malas. Otaknya masih belum mau melakukan gambling apapun saat ini. Ada beberapa meja yang ramai dan penuh dengan keriuhan, sepertinya ada permainan yang seru disana, tapi Jongin tidak tertarik. Matany ajuga bisa melihat beberap awanita berpakaian terlalu terbuka dan beberapa pria manis yang diberikan berlembar-lembar uang dari salah satu pemain. Cih, dasar high roller tak berotak. Jongin tak pernah mengerti apa yang ada di pikiran para high roller super boros yang menghambur-hamburkan uang tanpa alasan yang jelas, tak peduli jika mereka kalah dalam angka yang fantastis. Bukannya Jongin pelit, tapi Jongin tak suka yang namanya kekalahan.

Bagi Jongin, lebih menyenangkan melawan seorang hot yang royal dibandingkan dengan high roller yang bodoh meskipun harga taruhannya sama. Berjudi dengan hot itu sangat menantang, mereka menggunakan otak dan uang mereka secara balance dan kadang ada beberapa hot yang juga pelit sehingga Jongin harus mencari akal untuk membuat mereka mengeluarkan angka yang lebih besar. Hal itu menyenangkan baginya.

Tentu, keberadaan Sehun memang berguna untuk mengecoh lawannya. Tapi sebenarnya Jongin juga mengerti lawannya tanpa perlu melihat kode dari Sehun. Lalu mengapa tetap menggunakan Sehun sebagai shill nya kalau dia sudah mengerti? Anggap saja Jongin senang melihat Sehun mengerling memberi kode padanya secara sembunyi-sembunyi dari posisi lawannya.

Mata tajam Jongin menangkap keberadaan Sehun yang tengah mendekati salah seorang pemain di meja 53. Pemain itu terlihat masih muda dan cukup tampan, mungkin sekitar empat tahun lebih tua dari Jongin. Jongin mengernyitkan dahinya melihat Sehun mendekati lelaki itu. Biasanya Sehun hanya akan menggoda pria tua yang buncit, genit dan seperti tak berotak tapi berduit banyak. Tapi kali ini jauh sekali dari kebiasaannya. Jujur Jongin katakan, pria itu tampan. Dengan rambut pirang yang ditata ke belakang dengan rapi, alis mata tebal yang tajam dan sepasang mata yang tajam. Rahangnya juga tegas dan postur tubuhnya terlihat tegap. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat bodoh ataupun boros. Sangat elegan. Sepertinya Jongin pernah bertemu dengannya di salah satu casino di Vegas. Tapi Jongin bukanlah tipe orang yang peduli dengan sekitarnya.

Jongin melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja 53 dan duduk tepat di seberang lelaki yang sedang digoda Sehun. Dengan kedatangan Jongin di meja itu, meja yang tadinya sudah cukup penuh itu menjadi lebih penuh lagi. Mereka yang menonton mulai melakukan gambling untuk bertaruh siapa yang akan menang malam ini. Jongin bertatap mata dengan lelaki yang kini telah merangkul pinggang Sehun dan menampilkan sebuah seringai licik. Jongin ingat sekarang. Itu Kris Wu, salah satu hot yang dimiliki Hongkong.

Brengsek. Jongin yakin Sehun tahu siapa lelaki itu, tapi dia tak mengerti mengapa lelaki berkulit kelewat putih itu berada di sekelilingnya. Kris Wu bukan orang sembarangan. Tipe bermainnya nyaris mirip dengan Jongin sendiri. Lelaki itu tak mudah kalah dan selalu saja ad acara dia membalikkan keadaan. Jongin mengakui kalau Kris Wu jenius. Jongin sekarang ingat bahwa dul dia pernah menonton permainannya di media online dulu. Dia sangat ingin mencoba bermain dengannya, tapi keberadaan Sehun dalam rangkulan lawannya itu membuatnya ragu. Jongin tak yakin bisa bermain dengan kepala dingin malam ini.

.

.

.

Permainan baru dimulai beberapa saat dan rasanya Jongin ingin sekali meninju wajah Kris karena tangannya yang terus saja menggerayangi pinggang dan bahu Sehun. Lelaki itu juga terus saja membisikkan entah kalimat apa yang membuat Sehun tersipu seperti itu. Jangan salah, dulu Jongin juga pernah meninju salah satu lawannya di Seoul setelah permainan karena lelaki itu berani menyentuh Sehun. Tapi Jongin menggunakan alibi "Jangan berani menantangku dan bermain curang denganku" meski saat itu Jongin yang memenangkan taruhannya.

Selama bermain Jongin terus menerus memperhatikan interaksi dua orang yang berada di seberangnya. Meski wajahnya tetap datar, dalam pikirannya dia terus mengutuk apapun yang dilakukan Kris pada Sehun. Dia juga mengutuk Sehun yang benar-benar tak menghiraukan keberadaannya. Lelaki dengan tuxedo putih itu sibuk berbisik-bisik dengan Kris dan menunjukkan tawa genitnya. Gila. Jongin rasanya ingin mengurung lelaki itu di kamarnya.

Tak peduli menang atau kalah, satu hal yang ingin dilakukan Jongin setelah ini adalah meninju Kris Wu. Berakhir dengan adu jotos pun rasanya Jongin tak keberatan. Untuk sekarang, mari bermain secara profesional dan abaikan keberadaan Sehun di hadapannya.

.

.

Seperti yang Jongin katakan sebelumnya, bermain dengan hot itu selalu menantang. Dan bermain dengan Kris Wu malam ini lebih menantang dari permainan manapun yang pernah dia lakukan sebelumnya.

Seperti dugaannya, Kris Wu memang jenius. Tanpa diberitahu pun Jongin yakin bahwa Kris Wu bisa membaca beberapa taktik yang akan Jongin gunakan dalam permainan mereka. Permainan mereka sangat ketat, neck and neck. Bahkan taruhan penonton atas permainan mereka pun merupakan taruhan tertinggi malam itu.

Dan diluar dugannya, Sehun benar-benar tak berguna malam ini. Lelaki manis itu benar-benar tidak menghiraukan keberadaannya, tidak melihat ke arahnya. Jongin sendiri ragu jika Sehun menyadari bahwa lawan dari Kris Wu yang semalaman digodanya adalah Jongin.

Setelah permainan yang menguras emosi dan kesabarannya, Jongin memutuskan untuk tidak bermain lagi malam itu. Dia hanya menghabiskan waktu malamnya di bar, memesan beberapa alkohol sambil menonton beberapa permainan yang dilakukan orang lain. Banyak yang menantangnya untuk bermain tapi Jongin menolak semuanya. Moodnya sedang tidak baik dan sangat tidak dianjurkan berjudi dalam keadaan seperti itu. Uangmu bisa terkuras tanpa kau sadari. Jongin tak tahu dimana keberadaan Setelah permainan itu. Mungkin kembali ke hotel terlebih dahulu seperti yang biasa dilakukannya.

Jongin memutuskan untuk kembali ke hotel hampir jam setengah tiga pagi dan tidak mendapati Sehun disana. Dia mengganti pakaiannya ke pakaian tidurnya dan mengambil segelas jus jeruk dari kulkas karena merasa dirinya sudah agak mabuk dari minumannya tadi. Dia tak mau bangun dengan sakit kepala berat nantinya dan Sehun tak ada disini untuk menyiapkan obatnya.

Bel kamarnya tiba-tiba berdenting. Jongin mengernyit mempertanyakan siapa yang bertamu di pagi buta seperti ini. Jongin yakin itu bukan Sehun, karena Sehun memiliki kuncinya sendiri dan Sehun tak pernah memencet bel. Dengan malas Jongin berdiri dari kursinya karena tamu itu seperti tidak sabaran memencet bel yang membuat pendengarannya terganggu.

Apa yang ada di hadapannya tak pernah ada di bayangannya sama sekali. Kris Wu, masih dengan setelan jasnya saat bermain tadi berdiri di depan pintu kamar hotelnya dengan Sehun yang menggelayut di pundaknya. Sehun terlihat tertawa tidak jelas dan Jongin bisa mendengar suara cegukan darinya. Rambutnya berantakan dan Jongin tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

"Jangan salah paham, aku hanya mengantarkan dia."

Kalimat yang keluar dari Kris itu seperti sebuah jawaban yang menjawab wajah penuh tanya dari Jongin.

"Tenanglah, aku tak melakukan apapun. Aku hanya menjamunya dengan segelas vodka. Aku tak tahu dia tak pernah mencoba alkohol sebelumnya. Yah seperti yang kau lihat, dia mabuk. So, here."

Jongin menerima tubuh Sehun yang diberikan padanya, sedikit kesulitan dengan Sehun yang tiba-tiba menggeliat dan memeluknya sambil meneriakkan namanya.

Jongin tak sempat menanyakan Kris bagaimana dia bisa tahu kalau Sehun sekamar dengannya karena lelaki itu sudah menghilang di koridor. Joongin menutup pintu kamar mereka dan memapah Sehun untuk membaringkannya di kasur. Sangat sulit melakukannya karena Sehun terus saja menariknya.

"Jongin!"

Tanpa diduga, Sehun mengalungkan tangannya ke leher Jongin dan mencium bibirnya.

.

.

.

Ahra_25/03/17

Annyeonghamnida. Hai. Halo. Hi. Hello.

Iya aku tahu, aku menelantarkan cerita ini sangat lama. Bahkan terlalu lama.

Awalnya cerita ini mau ku hapus karena aku seperti kehilangan keinginan untuk melanjutkan cerita ini. Tapi terlalu banyak review dari kalian membuatku tak tega. Dan teman-temanku juga bilang untuk tidak menghapus cerita ini.

Aku minta maaf karena lama sekali menyentuhnya. Jika ini tidak sesuai ekspektasi kalian aku juga sangat menyayangkannya. Aku mengetik ini dalam waktu 3 jam. Jangan mengharapkan apa-apa dari waktu sesingkat itu hahaha.

P.S.: aku selalu tak bisa membalas review kalian satu persatu, tapi aku antara senang dan bingung saat kalian terlihat excited dan menunggu cerita ini. gomawo and mianhae (bows)

P.S.S.: ini tengah malam dan aku lapar =_=