Setelah malam dimana Baekhyun menemuinya untuk bercerita tentang pria asingnya, Kyungsoo tidak bisa tidur dengan nyenyak dan tidak bisa berhenti memikirkan keadaan Baekhyun yang menurutnya semakin hari semakin memburuk. Ia masih ragu apakah Baekhyun benar-benar tidak berhalusinasi tentang pria asing yang diceritakan itu.
Kyungsoo harus siap dengan semua kemungkinan terburuk.
Saat dia meminta Luhan untuk menemuinya dan menanyakan tentang Baekhyun, Kyungsoo hanya mendapat gelengan kepala sebagai jawaban. Bahkan Luhan tidak tau tentang pria asing yang Baekhyun ceritakan.
Dan Kyungsoo masih belum ingin menceritakan hal itu, sebelum ia mendapatkan jawaban pasti.
Kyungsoo hanya takut penyakit sahabatnya akan menjadi skizofrenia.
Dan skizofrenia bukan penyakit yang mudah untuk disembuhkan.
Dan kemungkinan terburuknya, semua itu akan menghancurkan reputasi Baekhyun.
Dengan tekad bulat yang susah payah dikumpulkannya dan tentu saja dengan desakan Luhan yang terus menerus merengek padanya untuk member penjelasan, pagi harinya Kyungsoo berniat membobol apartemen Baekhyun.
Lebih tepatnya memasuki apartemennya saat Baekhyun sedang pergi bekerja.
Kyungsoo tau ada orang di apartemen Baekhyun saat gadis itu masuk, suara gemericik air dari kamar mandi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuuk dipikirannya. Kyungsoo juga tau itu bukan Baekhyun karena Luhan baru meneleponnya, mengatakan bahwa Baekhyun sedang menghadiri sebuah acara promosi lagu barunya.
Jadi Kyungsoo berpikir bahwa suara itu berasal dari pria asing yang Baekhyun ceritakan.
Mungkin –Kyungsoo harap begitu.
Kyungsoo mematung di depan konter dapur sambil mengetuk-ketukkan jarinya saat seorang pria jakung dengan rambut basah keluar dari kamar mandi –menggunakan bathrobe dan masih berusaha mengeringkan rambut coklatnya dengan handuk.
Hal pertama yang dilakukan Kyungsoo adalah bernafas lega, setidaknya Baekhyun tidak berhalusianasi karena pria itu nyata. Dan selanjutnya Kyungsoo memikirkan strategi lain.
Pria tadi tampak terkejut saat melihat Kyungsoo sudah berdiri disana dengan tangan terlipat di depan dada dan tatapan matanya yang tajam, memperhatikan sang pria dengan pandangan menusuk layaknya akan mengulitinya hanya dengan pandangan mata.
Dan kalau bisa, memang Kyungsoo berniat melakukan hal itu.
Pria asing tadi mundur selangkah, menempelkan tubuhnya yang basah di pintu.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan kening berkerut, maju selangkah untuk melihat wajah Kyungsoo lebih jelas. Ekspresinya angkuh meskipun Kyungsoo tau bahwa pria itu memiliki masalah yang rumit. Mata pria itu sedikit bergerak gelisah saat bertatapan langsung dengan Kyungsoo. Pria ini jelas bukan pria bodoh.
Tergambar di wajahnya.
Kyungsoo mendengus ringan, maju selangkah untuk memperhatikan pria itu baik-baik. "Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Siapa kau?" jawab Kyungsoo angkuh.
"Chanyeol. Park Chanyeol," jawab Chanyeol dengan wajah polos, tanpa peduli pada kerahasiaan identitasnya lagi. Toh, dengan nama itu tidak ada yang mengenalnya disini.
Kyungsoo memejamkan mata, menahan amarahnya. "Memangnya aku peduli siapa namamu. Kau idiot brengsek, apa hubunganmu dengan Baekhyun?"
Kyungsoo tau rahang Chanyeol mengeras saat Kyungsoo mengatainya dan tanpa aba-aba gadis itu mengepalkan kedua tangannya di sebelah tubuhnya, bersiap dengan kemungkinan terburuk jika Chanyeol menyerang.
"Aku tidak tau siapa kau dan apa yang kau inginkan," Chanyeol mendebat, berucap dengan lantang dan menantang.
Kyungsoo hanya terkekeh ringan mendengar ucapan Chanyeol yang menurutnya lucu, penjahat tidak akan mudah membuka diri dengan orang lain. Gadis itu berjalan mendekat tapi tetap menjaga jarak sejauh mungkin. Kyungsoo berdiri dibelakang sofa, berseberangan dengan tempat Chanyeol berdiri, tangannya merogoh kantung celana jeans-nya dan melemparkan sesuatu pada pria yang sedang memandanginya dengan bingung itu sekarang.
Kartu identitasnya.
"Aku psikiater pribadi Baekhyun,"
Chanyeol membolak-balikkan kartu identitas Kyungsoo ditangannya, mengamatinya sejenak dan memegangnya. "Jadi kau seorang dokter?"
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," katanya langsung, tanpa mempedulikan pertanyaan Chanyeol yang menurutnya bodoh dan tak penting.
"Tentang?" Chanyeol berjalan mendekati kyungsoo, bermaksud memberikan kartu identitasnya kembali, tapi Kyungsoo secara naluriah melangkah mundur menjauhi pria itu. "Kenapa?" protes Chanyeol, bingung.
"Kurasa kau tau bagaimana bisa Baekhyun tertarik padamu, jadi kumohon demi kenyamananku, lebih baik kita menjaga jarak,"
Chanyeol mendengus, lalu kembali mundur. "Kau pikir aku akan menyakitimu?"
"Sudah tertulis jelas diwajahmu kalau kau ingin melakukannya meskipun pemikiran itu hanya terlintas dibenakmu selama kurang dari satu detik," ucap Kyungsoo memperingatkan dengan jari telunjuk yang bergerak-gerak.
"Kau hebat sekali," Chanyeol mengangkat kedua tangan, tanda menyerah dan tersenyum bodoh seperti seekor keledai –yang tampan.
Kyungsoo mengangkat bahu acuh, kemudian duduk di ujung sofa dan mempersilahkan Chanyeol duduk di ujung sofa lainnya. Chanyeol menurut saat Kyungsoo menyuruhnya bahkan hanya dengan isyarat mata.
Sepertinya Kyungsoo benar-benar bisa mengendalikan orang.
"Jadi," Kyungsoo menggantung kalimatnya sementara Chanyeol menunggu. "Apa yang kau lakukan? Pekerjaanmu," Kyungsoo memutar badannya, menatap Chanyeol lekat-lekat.
"Haruskah aku mengatakannya padamu?" Chanyeol mencondongkan tubuhnya mendekati Kyungsoo, menatap gadis itu dengan pandangan menantang.
Kyungsoo mengangkat bahu. "Aku hanya seorang dokter bukan penyidik kepolisian,"
"Tapi tatapanmu lebih tajam dari penyellidik kepolisian," Chanyeol menunjuk mata Kyungsoo dengan telunjuknya.
Well, Kyungsoo rasa Chanyeol benar tentang hal itu.
"Hentikan pembicaraan bodoh ini dan jangan menghindari pertanyaanku,"
Chanyeol terkekeh ringan. "Aku seorang penjual senjata illegal," Chanyeol menyandarkan punggunya pada sofa, menyilangkan kaki, dan tersenyum angkuh.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Baekhyun?" Kyungsoo mendesaknya tanpa jeda.
"Malam itu aku sedang melakukan transaksi di gedung di ujung blok ini," Chanyeol berhenti dan Kyungsoo menunggu. "Aku rasa aku dijebak dan aku berlari menuju gedung ini. Aku tidak tau apa yang membawaku ke lantai ini tapi aku menemukan pintu Baekhyun terbuka,"
"Kau berbohong," potong Kyungsoo.
"Apa?" protes Chanyeol langsung, menegakkan kembali tubunya untuk menatap Kyungsoo.
"Matamu bergerak saat kau mengatakannya," Kyungsoo menggerakkan jari-jarinya di depan mata Chanyeol.
Chanyeol menepuk dahinya, merasa bodoh karena gagal membohongi gadis dihadapannya. "Baiklah. Pintu Baekhyun tidak terbuka, aku mendorongnya masuk dan menodongnya dengan pisau agar tidak berteriak dan membiarkanku tinggal. Kau puas?" Chanyeol kesal.
Kyungsoo tersenyum penuh kemenangan. "Jadi apa yang kau lakukan malam itu bersama Baekhyun?"
"Demi Tuhan, apa kau ingin aku menceritakan detailnya padamu?"
Kyungsoo menggeleng ringan dan tersenyum, Baekhyun benar tentang hal ini. "Kita lewati bagian itu. Ada yang lebih penting dari ini, sebenarnya,"
Lalu Kyungsoo menghembuskan nafas beberapa kali.
"Chanyeol, Baekhyun sangat sakit. Dia menderita sebuah sindrom yang aneh. Dia terobsesi dengan penjahat sepertimu,"
"Bisakah kau tidak menyebutku dengan kata 'penjahat'?" potong Chanyeol, Kyungsoo hanya menghela nafas kasar, menenangkan dirinya sendiri.
"Baiklah, Tuan Park yang terhormat," Kyungsoo menekan kata-katanya. "Aku sedang mengupayakan kesembuhan Baekhyun dengan menghalanginya menemui pria-pria jahat diluar sana, tapi dia malah menemukanmu," Chanyeol hendak bersuara. "Lebih tepatnya kau menemukannya," koreksi Kyungsoo.
"Aku bukan pria jahat, Nona Kyungsoo," Chanyeol mendelik.
"Apakah menjual senjata illegal bukan kejahatan?" balas Kyungsoo datar, mendebat.
"Mungkin?" cengiran lebar menghiasi wajah Chanyeol, membuat Kyungsoo ingin mengunyah kepala pria dihadapannya ini, sekarang juga.
Kyungsoo mendengus dengan kasar. "Intinya aku ingin Baekhyun tidak berhubungan dengan pria-pria sepertimu,"
"Lalu kau memintaku menjauhi Baekhyun, begitu? Klasik sekali," Chanyeol mendengus ringan.
"Baiklah Tuan Sok Tau, mari biarkan aku menyelesaikan kalimatku dulu," Kyungsoo memutar bola mata sebal. "Aku minta kau jangan meninggalkannya,"
Chanyeol mengerutkan keningnya bingung. "Maksudmu?"
"Aku akan mengganti terapi Baekhyun dengan cara seperti ini. Tetaplah menjadi pria jahat untuknya. Dengan begitu, dia hanya akan membagi tubuhnya dengan satu orang pria saja,"
"Bukannya itu akan memperparah keadaannya?" tanya Chanyeol lagi, terlalu penasaran untuk menutup mulut.
"Baekhyun akan jenuh suatu saat nanti. Tapi kau harus mengikuti semua instruksiku, Chanyeol,"
Chanyeol masih memasang wajah bodohnya. "Kau menyuruhku meninggalkannya nanti?"
"Kau tidak mencintainya kan? Kalian hanya patner seks saja, bodoh," ujar Kyungsoo sarkas, membuat Chanyeol sedikit berpikir.
"Kau menyuruhku membantunya terapi?" pertanyaan Chanyeol membuat Kyungsoo mendesah sebal. Kyungsoo pikir, untuk ukuran penjahat, Chanyeol ini idiot.
"Sepertinya begitu," Kyungsoo menyeringai.
"Lalu apa yang kudapat, Nona Kyungsoo?" giliran Chanyeol yang menyeringai.
Kyungsoo terkikik. "Wah, aku tau kau tidak sebodoh kelihatannya," lagi-lagi cengiran lebar yang Kyungsoo benci, menghiasi wajah Chanyeol. "Apa kau tidak cukup dengan tubuh Baekhyun?"
"Ayolah, banyak wanita diluar sana yang memohon padaku untuk ditiduri," jawab Chanyeol angkuh.
Kyungsoo mendengus ringan, lalu merogoh tasnya dengan kasar dan melemparkan sebuah kartu. "Tinggalah di apartemen itu selama kau menjalankan tugas ini. Kau tidak harus selalu tinggal disini, Chanyeol. Lagipula kau butuh tempat tinggal baru yang belum terlacak kan?"
Chanyeol menyeringai. "Bagaimana kau bisa tau itu semua?"
"Tergambar jelas diwajahmu,"
"Sial,"
Kyungsoo mendengus ringan dan keluar meninggalkan Chanyeol dengan kening berkerut bingung. Kyungsoo tau Chanyeol butuh waktu lama untuk menentukan pilihan, benar-benar bukan pilihan yang bisa diambil dengan sekali tarikan nafas.
Chanyeol ingin melepaskan ini semua dan kembali dalam kehidupan normalnya, tapi Chanyeol tidak munafik bahwa tawaran ini menggiurkan.
Menjadi patner seks seorang diva terkenal dan mendapatkan fasilitas yang dibutuhkannya.
Bukan tawaran yang bisa ditolak dengan satu tarikan napas.
.
.
Matahari sudah terbenam sempurna saat Baekhyun membanting pintu apartemennya dengan kasar, membuat Chanyeol yang sedang menonton televisi terlonjak kaget –bangkit duduk untuk melihat siapa yang datang. Dengan langkah terburu-buru, Chanyeol merebut kantung-kantung penuh belanjaan di kedua tangan Baekhyun dan dibalas dengan gumaman terima kasih dari gadis itu.
"Aku membelikanmu pakaian," ucap Baekhyun dan Chanyeol hanya menggumamkan terima kasih. "Kau sudah makan?" Baekhyun membanting tubuhnya ke sofa dan memejamkan mata.
"Sudah. Maaf aku tidak menunggumu, kupikir kau tidak pulang hari ini. Kau bekerja selama hampir dua puluh empat jam," balas Chanyeol, menyodorkan makanan ringan yang dibawanya dan dibalas gelengan kepala oleh Baekhyun.
Baekhyun mendengus. "Ya Tuhan, pekerjaan ini membuatku gila,
Chanyeol hanya tersenyum mendengarnya, kemudian merebahkan tubuhnya disamping tubuh Baekhyun dan menarik gadis itu dalam pelukannya. Sedangkan Baekhyun hanya menurut tanpa protes sedikitpun.
Baekhyun rasa ia butuh sedikit sandaran.
Chanyeol tidak tau apa yang dia lakukan dan dengan alasan apa dia melakukan hal ini sekarang. Dia hanya merasa iba pada gadis mungil itu, apalagi setelah Kyungsoo sedikit menceritakan tentang kehidupannya yang terbilang rumit dan sedikit aneh.
Mungkin ini yang disebut simpati. Chanyeol juga tidak tau.
Memangnya apa yang seorang penjahat ketahui tentang sebuah perasaan aneh bernama simpati?
"Kau lelah sekali ya?" tanya Chanyeol, jari-jarinya memainkan helaian rambut Baekhyun yang berwarna kemerahan, merapikan rambutnya yang kusut.
"Kenapa? Kau ingin aku menyerangmu lagi?" Baekhyun mendengus, masih memejamkan matanya didekapan Chanyeol.
Chanyeol terkekeh ringan. "Itu jauh lebih baik, tapi aku ingin menanyakan sesuatu,"
"Kalau tentang penyakitku, lebih baik kita bicara besok," Baekhyun masih memejamkan matanya.
Chanyeol menggumam sedikit. "Tidurlah kalau begitu. Kau butuh istirahat," Baekhyun hanya menjawab dengan dengusan ringan.
Chanyeol memepererat tubuh Baekhyun dalam dekapannya, sementara tangannya menepuk-nepuk lengan gadis itu, membiarkannya tenang. Pikiran Chanyeol melayang kemana-mana, mengapa ia melakukan ini. Mengapa ia membuat Baekhyun terlelap dalam pelukannya sementara seharusnya ia sedang bercinta dengan Baekhyun sampai pagi.
Baekhyun sendiri bilang bahwa Chanyeol hanya patner seks baginya. Meski tidak ada kontrak kerja, tapi Chanyeol tau apa pekerjaannya sekarang.
Melayani gairah gadis itu, bukan malah memberikan kehangatan seperti ini padanya.
Dan patner seks tidak melakukan hal-hal seperti ini.
.
.
Matahari sudah hampir tinggi saat tubuh mungil Baekhyun menggeliat dalam pelukan hangat Chanyeol. Gadis itu mengerjapkan matanya dengan malas dan disambut dengan kecupan manis di dahinya.
"Haruskah aku mengucapkan selamat pagi?" tanya Chanyeol dengan senyuman lebar di bibirnya.
Baekhyun terkekeh ringan, tubuhnya masih menggeliat malas dalam dekapan Chanyeol. "Sepertinya semalam aku tidur di atas sofa,"
Chanyeol mengecup bibir Baekhyun ringan. "Kau pikir aku mau mati kedinginan karena tidur di sofa?"
Baekhyun lagi-lagi hanya bisa terkekeh, perlakuan manis Chanyeol padanya membuat gadis itu diam-diam gugup. Jantungnya berdetak semakin cepat saat pandangan mereka bertemu. Baekhyun tidak pernah seperti ini sebelumnya, biasanya hanya gairah yang menguasainya saat bersama 'pria-pria jahatnya'.
Tapi kali ini tubuhnya memberikan reaksi lain. Jantung Baekhyun memang berdetak lebih cepat, tapi bukan gairah yang menguasainya.
Baekhyun pikir ini aneh, perasaan yang asing –dan baru.
Baekhyun menginginkan Chanyeol hanya mendekapnya seperti ini sekarang. Kehangatan tubuh pria itu berhasil menenangkannya. Membuatnya melupakan sejenak masalah-masalahnya yang menumpuk.
"Kau melamun," bisik Chanyeol.
Baekhyun mengerjap beberapa kali. "Tidak. Aku hanya butuh berpikir,"
"Kau ingin aku meninggalkanmu sendiri sekarang? Aku akan–,"
"Tidak. Begini lebih nyaman," potong Baekhyun cepat saat Chanyeol mengendurkan pelukannya.
"Kau ingin bercerita?"
"Kau mau mendengarkan?" balas Baekhyun.
Chanyeol terkekeh, mengingatkan dirinya sendiri bahwa Baekhyun masih saja menyebalkan. "Banyak yang bilang aku pendengar yang baik,"
Baekhyun mendengus. "Aku tidak tau, Chanyeol-ah," suara Baekhyun lemah, terdengar sangat lelah.
Chanyeol merapatkan pelukannya, mengecup puncak kepala gadis itu untuk membuatnya tenang. Jangan tanyakan mengapa Chanyeol melakukan ini, karena ia sendiri tidak tau jawabannya.
Mungkin Chanyeol sudah mulai gila.
"Ada apa?" tanya Chanyeol lagi, sebenarnya mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu tenggelam dalam pesona Baekhyun.
"Penyakitku. Mereka bilang aku sakit. Tapi aku rasa aku baik-baik saja,"
Chanyeol mendesah ringan. "Psikiatermu menemuiku kemarin,"
Baekhyun menegakkan punggungnya dan menarik diri dari Chanyeol untuk duduk. "Kyungsoo?" tanyanya. Chanyeol mengangguk. "Apa yang dikatakannya? Dia mengancammu?"
Chanyeol tersenyum dan menggeleng. "Tidak. Dia menyuruhku untuk tidak meninggalkanmu,"
Baekhyun mengerutkan kening bingung. "Kenapa?"
"Kyungsoo bilang dengan begitu kau hanya membagi tubuhmu dengan satu orang pria saja,"
Baekhyun mendecih. "Licik sekali. Kyungsoo melakukan itu agar aku berhenti menemui Kris Wu,"
"Siapa kau bilang?"
Baekhyun berdiri dan beranjak dari ranjangnya. "Kyungsoo tidak mengatakannya padamu?" Chanyeol menggeleng. "Nanti akan kuberi tau, sekarang aku butuh makan,"
Chanyeol mendengus ringan kemudian menyeringai. "Makananmu disini," ia merentangkan kedua tangannya pada Baekhyun.
Baekhyun memutar bola mata sebal dan membalikkan tubuhnya menuju pintu. "Berhentilah menggodaku jagoan. Aku kelaparan,"
Chanyeol tersenyum lebar saat melihat tubuh Baekhyun menghilang di balik pintu. Dia sendiri tidak tau mengapa dia merasa bahagia saat bersama Baekhyun. Terlalu dini mengatakan bahwa dia menyukai gadis aneh itu.
Tapi mungkin …
Tertarik?
Chanyeol tidak tau dan ia terlalu malas untuk mencari tau.
.
.
Chanyeol dengan sabar menunggu Baekhyun yang sedang sibuk di balik kompor. Ia tidak yakin dengan apa yang Baekhyun lakukan, tapi ia juga tak bisa berbuat banyak selain duduk di konter dapur dengan wajah bodoh.
"Kau tidak ada pekerjaan hari ini?" tanya Chanyeol, berusaha memecah keheningan yang menyiksanya.
Baekhyun membalikkan tubuhnya untuk menyerahkan piring berisi omelet dan roti panggang pada Chanyeol. "Kenapa?" tanyanya, duduk di hadapan Chanyeol dan mulai mengunyah potongan-potongan makanan itu.
Chanyeol mengangkat bahu, mengikuti Baekhyun makan. "Hanya bertanya,"
Baekhyun mengangguk beberapa kali. "Hmm," ucapnya, seperti memulai bicara, membuat Chanyeol memandanginya –menunggu. "Aku ingin tahu tentangmu,"
Chanyeol menelan makanannya. "Kau yakin kau bisa mengendalikan diri, Baek?"
Baekhyun mengangguk pasti. "Aku terlalu lelah untuk menyerangmu saat ini,"
"Begitukah?" Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. "Well, dari mana aku harus bercerita?"
"Keluarga? Pekerjaan? Pendidikan? Apa yang biasanya seorang gadis tanyakan pada seorang pria?" balas Baekhyun acuh, kembali memakan sarapannya.
Chanyeol berpikir sejenak, setidaknya Baekhyun menganggapnya sebagai seorang pria, itu sudah cukup. "Kedua orang tuaku sepertinya di Jepang,"
"Sepertinya?" Baekhyun mengulangi dengan penekanan kata dan menatap Chanyeol dengan pandangan bodoh.
Chanyeol mengangguk ringan. "Sepertinya aku tidak menemui mereka selama delapan tahun terakhir. Mereka mendapatkan kabar aku meninggal karena kecelakaan pesawat,"
Baekhyun nyaris tersedak dan Chanyeol meringis. "Kenapa kau melakukannya?" Baekhyun terlalu penasaran untuk diam kali ini.
"Menjadi orang jahat penuh resiko, Baek. Kau tahu, aku harus menanggalkan identitas lamaku, meninggalkan seluruh kehidupanku sebelumnya. Dan aku memilih ini semua," ucap Chanyeol acuh, memasukkan potongan terakhir sarapannya.
Entah mengapa Baekhyun sedikit merasa iba dengan Chanyeol, ia memutuskan berhenti makan dan mengamati Chanyeol lekat-lekat. "Mengapa kau melakukannya?" tanyanya lagi.
"Kau tak punya pertanyaan lain?" Baekhyun menggeleng, masih memasang ekspresi bertanya-tanya. "Waktu itu aku berusia 18, keluarga kami sangat miskin, kami nyaris tak punya tempat tinggal. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku, seorang kakak perempuan, dan seorang kakak laki-laki. Kedua kakakku bilang, aku harus kuliah ke kota karena waktu itu kami tinggal di desa dan tak ingin adik mereka bernasib sama dengan mereka," Chanyeol berhenti sebentar untuk melihat apakah Baekhyun masih memperhatikan dan gadis itu terlihat sangat antusias mendengarkan kisah menyedihkan Chanyeol.
"Lalu?" desaknya, memajukan sedikit tubunya ke arah Chanyeol.
"Aku pergi ke kota ini untuk kuliah, disini aku bertemu dengan seseorang yang menawariku pekerjaan 'kotor' ini dengan bayaran besar –terlewat besar, tentu saja aku langsung mengiyakan. Aku ingin keluargaku hidup berkecukupan dan bahagia, meskipun aku harus bekerja seperti ini," ucap Chanyeol dengan ekspresi datar, Baekhyun penasaran apakah Chanyeol tidak merasa sedih dengan hal ini.
Dan Baekhyun memutuskan untuk tak begitu peduli.
"Kau merelakan dirimu pergi dari keluargamu?" entah kenapa suara Baekhyun melembut, takut seolah-olah pertanyaannya akan menyakiti Chanyeol.
Chanyeol terkekeh ringan, meneguk air mineral dari botol dengan gerakan indah, membuat Baekhyun menelan ludah kasar. Baekhyun berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk menerjang Chanyeol, menyeretnya ke atas ranjang, dan naik ke atas tubuh pria kelewat seksi itu.
"Kedua orang tuaku sudah punya anak perempuan dan anak laki-laki, kupikir mereka tidak akan merasa sangat kehilangan saat kehilangan aku. Setiap bulan aku mengirimi mereka uang sampai tahun kedua, lalu saat pekerjaanku semakin berbahaya, dan aku memutuskan untuk tidak menghubungi mereka lagi. Aku menyuruh beberapa orang untuk mengabarkanku kecelakaan pesawat," Chanyeol menghela napas.
Entah mengapa tangan Baekhyun terulur untuk menyentuh jemari Chanyeol dan Chanyeol tersenyum melihatnya, menggenggam erat tangan mungil Baekhyun. Keingininannya untuk tak peduli atau menerjang Chanyeol perlahan-lahan menguap.
Akhirnya Baekhyun bisa mengendalikan dirinya.
"Kau masih mau dengar?" tanya Chanyeol.
"Tentu," Baekhyun mengusap-usapkan jarinya. "Selama kau tak keberatan,"
"Kita akan sampai di akhir yang menyenangkan," Chanyeol terkekeh ringan. "Akhirnya aku meminta bosku untuk memberikan pekerjaan kepada kedua kakakku di Jepang. Kau tahu, mengirim keluargaku ke sana adalah hal yang tepat untuk menghindarkan mereka dari orang-orang yang ingin membunuhku,"
Dada Baekhyun terasa sesak, ia ingin menangis tanpa alasan yang jelas. "Kau tidak pernah menemui mereka selama tujuh tahun terakhir?"
Chanyeol menggeleng. "Tentu aku hanya bisa melihat mereka dari jauh. Aku melihat mereka bahagia dengan rumah sederhana di tepi Kota Tokyo –setidaknya itu sampai empat bulan lalu- karena pekerjaan ayahku, mereka sering pindah-pindah tempat. Minggu lalu, seseorang mengirimiku foto mereka sedang camping di sekitar Fuji,"
"Kau tidak rindu dengan mereka?" suara Baekhyun serak, menahan tangis.
Chanyeol mendengus. "Tentu saja. Kau tahu, ayahku selalu menempelkan fotoku di belakang tasnya dan aku tahu ibuku memasang fotoku di layar ponselnya. Mereka melakukan pesta kecil-kecilan saat hari ulang tahunku, membelikanku kue dan hadiah, lalu menumpuknya di dalam kamar yang mereka sediakan untukku. Saat ulang tahunku ke 21, mereka membelikanku mobil tua yang kuinginkan sejak kecil, ayahku sering berada di dalam mobil itu dan melamun –aku sedikit kasihan padanya, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya kurasa mereka tak ingin melupakanku dan aku bersyukur untuk itu," mata Chanyeol terlihat sedikit mengenang.
Air mata Baekhyun runtuh, meleleh begitu saja menggenangi pipinya yang tirus. Chanyeol memandangi gadis itu bingung dan buru-buru bangkit untuk merengkuh Baekhyun dalam pelukannya. Baekhyun terisak sambil menggumamkan kata maaf yang tidak jelas –secara berulang-ulang dan terus menerus- dan Chanyeol tidak tahu harus berbuat apa.
Menangkan seorang gadis yang sedang menangis bukan keahliannya.
Dan jujur saja ini pengalaman pertamanya.
"Kenapa kau minta maaf?" bisik Chanyeol di puncak kepala Baekhyun, mengusap-usapkan tangannya di punggung gadis itu, berusaha membuat Baekhyun berhenti menangis.
Baekhyun masih terisak pelan, membuatnya kesulitan menemukan suara. Ia menggumamkan kata-kata yang tak dapat Chanyeol pahami karena isakan yang menjadi-jadi.
"Aku tak apa, Baek. Aku sudah berdamai dengan hidupku. Aku baik-baik saja sungguh," ucap Chanyeol lembut, mengecup puncak kepala Baekhyun berulang-ulang –yang makin membuat Baekhyun terisak-isak.
Baekhyun memeluk pinggang Chanyeol, mendekap Chanyeol sangat kuat. "Jangan pernah berpikir kau tak punya siapa-siapa," ucap Baekhyun parau, berusaha tidak terdengar terlalu bergetar. "Mulai sekarang, kau punya aku,"
Chanyeol nyaris tersentak.
Entah kenapa saat Baekhyun mengatakannya, sesuatu dalam diri Chanyeol berdesir hebat, hingga nyaris membuat pria itu kehilangan akal sehatnya. Ia tak tahu apa itu, tapi sesuatu dalam dirinya berdetak lebih cepat –dan Chanyeol yakin itu jantungnya. Dan sesuatu dalam dirinya terasa tenang –tapi Chanyeol tak yakin jika itu hatinya.
Tanpa pikir panjang, Chanyeol melepaskan Baekhyun dari pelukannya. Kedua tangannya menangkup pipi Baekhyun untuk mendorongnya ke atas, Chanyeol tersenyum sedikit melihat Baekhyun yang masih berlinang air mata, kemudian menunduk untuk mencium bibir Baekhyun.
Chanyeol mencium bibir mungil itu dengan lembut, dengan sangat hati-hati –seolah-olah itu adalah barang pecah belah yang akan hancur kapanpun dengan sekali sentuh. Entah mengapa Chanyeol mencium Baekhyun seperti itu, mencium seorang gadis seperti ini adalah yang pertama untuknya.
Tanpa gairah.
Hanya ada kelembutan, ketenangan, tanpa nafsu.
Chanyeol sendiri tak tahu mengapa. Ia tak mengendalikan, tapi Baekhyun membalas ciumannya juga tanpa tuntutan. Ia merasakan ketenangan dalam ciuman Baekhyun, membuatnya melupakan seluruh masalahnya.
Dan berada dalam bibir Baekhyun, membuat Chanyeol lupa namanya sendiri. Hanya ada Baekhyun dalam pikirannya. Gadis itu dengan sempurna merasuki segala bagian dirinya.
Chanyeol tak tahu ini perasaan apa.
Apakah ini yang dinamakan 'sayang'?
Ia sendiri tak yakin.
Yang ia yakini bahwa saat ia bersama Baekhyun, ada ketenagan yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Dan Chanyeol menikmati itu.
.
TBC
.
Yuhuuuuu~ Author kembali setelah sekian lama menghilang. Ini anggap saja fanfic comeback. Maaf Author terlalu fokus di SECRET AGENT WIFE jadi lupa sama fanfic ini. Dan karena banyak permintaan untuk dilanjut, maka chapter 3 diupload juga /yeaaaay/. Author memang sengaja buat pendek supaya readers sekalian tidak bosan. Maaf jika jalan ceritanya tidak sesuai dengan harapan.
Selanjutnya, apakah fanfiction ini dilanjutkan atau tidak, terserah pada readers sekalian. Author tunggu di kolom review jika ada yang ingin menyampaikan kritik, saran, komentar, hujatan untuk Author /hihi/. Author tunggu ya.
Sampai jumpa chapter depan /kalau ada yang minat/. Terima kasih sudah membaca.
Byeee~
