"To sit with a dog on a hillside on a glorius morning or afternoon is to be back in Eden, where doing nothing was not boring—it was peace."
~Milan Kundera~
Furever
.
.
Hari ini adalah hari yang sama seperti biasanya. Langit cerah tak berawan, angin semilir yang berembus pelan, toko-toko yang buka setiap jam tujuh pagi, dan rutinitas yang seperti biasanya. Rutinitasnya setiap pagi yaitu mengajak sang partner berjalan-jalan menikmati indahnya Konoha di kala pagi. Dimulai dari rumahnya sendiri sampai ke puncak bukit Nara.
Rasanya menyenangkan, tentu saja. Bisa meluangkan waktu untuk bersantai sejenak di luar dari kegiatan sebagai shinobi yang notabene membuatnya hampir tak ada waktu untuk sekedar melakukan hal kecil lainnya semisal mengajak anjingnya berjalan-jalan menikmati paginya hari. Yah, ia patut bersyukur. Hari ini ia mendapatkan libur dan ia akan memanfaatkannya untuk bersantai seharian.
Bukan bersantai seperti pemuda Nara salah satu temannya itu, ia kan termasuk lelaki yang aktif. Memang apa asyiknya menghabiskan hari dengan tidur saja? Bukankah melakukan aktivitas lain yang menyehatkan itu lebih baik?
"Oi, Kiba!"
Kiba mencari asal suara yang memanggilnya. "Naruto!" balasnya pada sosok yang sudah dikenalnya itu. Ia melangkahkan kakinya mengarah ke Ichiraku Ramen diikuti oleh Akamaru di sebelahnya. Ia pun mengambil tempat duduk di sebelah Naruto yang memesan mangkuk ramen yang kedua. "Bah, sudah mangkuk kedua? Perutmu itu terbuat dari apa, hah?"
Naruto tertawa meringis sambil menyeruput kuah ramennya. "Kau sendiri kalau makan daging sangat rakus. Iya, 'kan, Akamaru?" Tak dinyana Akamaru menggonggong kecil menyahuti perkataan Naruto. Ia tertawa penuh kemenangan.
Kiba mendengus. Penciumannya yang terlalu tajam rasanya sedikit mengganggunya. Bayangkan saja aroma ramen yang dirasanya begitu pekat di hidungnya membuatnya hampir bersin tepat di dalam mangkuk ramen-nya Naruto. "Gomen, gomen. Haha. Hei, Akamaru. Kau tak mau mencoba ramen?"
Naruto berjengit. "Memangnya Akamaru makan ramen?"
"Aku kan hanya sekadar bertanya, Bakayaro! Iya, 'kan, Akamaru?" Akamaru tidak menanggapi pertanyaan Kiba dan hanya bergelung di tempatnya berbaring. "Bah, aku dicuekin."
Naruto buru-buru menyeruput sisa kuah ramen-nya. Dengan mulut penuh ia berujar, "Munghkhin Akhamaruh sehdhang mahlas, Kibah."
Kiba kembali mendengus. "Enak saja! Kaukira Akamaru itu mirip Shikamaru? Akamaru harus selincah aku, tahu! Dan... telan dulu makananmu sebelum berbicara! Kata Ino, makan sambil bicara bisa membuat kita tersedak, Baka!"
"Phuah! Kau itu sebenarnya pacaran, ya, dengan Ino?" Naruto memandangi Kiba lekat-lekat sambil mengelap mulutnya dengan lengan bajunya. Tatapan matanya menyelidik.
Kiba yang ditatapi seperti itu merasa jengah. "Sembarangan!" Ia menjitak kepala Naruto. "Aku dan Ino hanya teman. Teman! Sama sepertimu dan Sakura!"
"Yee! Aku ini bukan sekadar teman dengan Sakura-chan! Aku ini menyukainya, Bodoh!" koreksi Naruto. "Atau..." Ia kembali menyelami kelamnya mata Kiba. "Kau... menyukai Ino?" tanyanya dengan cengiran lebar tersungging di mulutnya.
Entah mengapa Kiba merasa seperti sedang tertangkap basah menyembunyikan sesuatu. Padahal tak pernah sekalipun dirinya berpikiran yang berlebihan mengenai Ino. Perempuan itu terlihat biasa-biasa saja di matanya, tentu saja. Selain galak dan cerewet, apa lagi yang bisa ia komentari? Kali ini ia harus setuju dengan kata-kata Shikamaru selama ini.
Tapi jika ia harus jujur, sebenarnya Kiba sedikit takjub pada pewaris Yamanaka itu. Mengalami kehilangan terbesar—ibu—dan kehilangan lainnya—guru—juga mengurus bisnis keluarga—toko bunga Yamanaka—membuat perempuan itu terkadang terlihat tampak lebih tua dari umur yang sebenarnya. Meskipun Ino tumbuh tanpa seorang ibu, dia dapat membuktikan bahwa hidupnya tidak berantakan—juga dapat bergaul dengan bebas dan tetap terjaga tentunya.
Ada satu hal lagi. Rambut pirang panjang yang sensasional itu membuat Kiba sering berandai-andai bagaimana penampilannya jika terlahir dengan rambut pirang seperti Ino. Sudah pasti ia akan terlihat seperti seorang prince charming yang biasanya wajib ada di dalam dongeng-dongeng zaman dahulu kala.
Walaupun lebih tepat dikatakan seperti seorang badut daripada seorang pangeran.
"Hoi!" panggilan dari Naruto membuyarkan lamunan tidak pentingnya Kiba. "Malah melamun. Ketahuan kau, Kiba! Haha!"
Wajah Kiba benar-benar berubah seperti badut karena sedikit kesal. Jadilah ia mencekik Naruto yang sedang dalam proses menghabiskan mangkuk ramen yang ketujuh.
"Kalian!"
Tak perlu bertanya suara siapa itu, Kiba dan Naruto sudah tahu siapa yang memanggil mereka. Siapa lagi kalau bukan pemilik warung ramen satu-satunya di Konoha, paman Teuchi yang galaknya minta ampun pada pelanggan pembuat keributan dan pelanggan yang hobi berhutang.
Siap-siap saja untuk diomeli dan mendapat tambahan sarapan mental untuk mereka berdua.
###
Kiba menguap. Dikuceknya sebelah matanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya ia pakai sebagai bantalan kepalanya.
Di sinilah ia berada, di bukit Nara bersama Akamaru yang tengah berlari mengejar rusa-rusa. Kiba tidur beralaskan rumput hijau yang masih berembun dan beratapkan langit yang biru. Ia memejamkan matanya sementara pikirannya terbang entah ke mana.
Tadi, dalam perjalanan menuju bukit, ia melalui toko bunga Yamanaka dan mampir sebentar di sana sekadar menyapa Inoichi yang baru saja membuka toko. Dengan celemek berwarna ungu muda, Kiba hampir saja tergelak setelah menyadari bahwa Yamanaka satu itu sedang menggenggam sebuah pot bunga yang kelihatannya dapat membuat kepalanya bocor kemudian geger otak atau kemungkinan lebih parah adalah hilang ingatan. Ia berbincang-bincang sedikit dan mengetahui bahwa nona besar Yamanaka yang galak—tapi memesona—itu masih tidur karena baru pulang jam dua pagi tadi dari sebuah misi.
Kalau Ino saja belum bangun, bagaimana pula dengan Shikamaru yang mendapat misi yang sama?
Oke, lupakan. Kiba sedang tidak mood memikirkan salah satu temannya itu.
Ia juga sempat menjadi saksi mata atas kenakalan Mika, anak anjing berbulu abu-abu yang perawakannya lebih mirip serigala kecil, yang sama sekali tidak membantu Inoichi. Alih-alih membantu, yang terjadi malah kerusakan di sana-sini. Kiba jadi sedikit iba dengan keluarga itu tanpa mengingat sama sekali jika dirinyalah yang memutuskan (baca: memaksa) kalau Ino-lah yang harus mengasuh Mika.
Awalnya Kiba menunjukkan ekspresi iba yang kemudian berubah menjadi ekspresi iri. Iri melihat perlakuan sayang Inoichi pada Mika.
Bukan. Ia bukan iri pada seekor anjing. Ia iri melihat adanya sosok seorang ayah di keluarga itu. Sosok yang tak ia punya di keluarganya yang hanya terdiri dari ia, ibu dan kakak perempuannya. Kiba tidak punya seorang ayah.
Tentu saja ia punya. Tapi itu dulu sekali sebelum ayahnya kabur karena takut pada ibunya. Karenanya Kiba tumbuh tanpa panutan seorang ayah dan... kasih sayang.
Apa-apaan kau! makinya pada dirinya sendiri begitu menyadari bahwa ia terlihat lemah. Kiba menggelengkan kepalanya untuk menghapus pikiran-pikiran bodohnya. Untuk apa iri pada keluarga orang lain sementara ia memiliki seorang ibu, seorang kakak, dan banyak sekali anjing yang melimpahkan kasih sayang padanya? Toh tidak semua keluarga itu sempurna jumlahnya. Kalaupun sempurna, ada kalanya tidak seberuntung yang lain dalam merasakan cinta kasih keluarga. Untuk yang merasakannya, beruntunglah mereka.
Hey! Aku beruntung, kok, hibur Kiba, lagi-lagi pada dirinya sendiri.
Selagi Kiba melamun, Akamaru ternyata sudah berada di sampingnya. Kelelahan mengejar rusa-rusa, anjing itu berbaring sambil mengunyah rumput-rumput hijau. Biasanya anjing sering keranjingan memakan rumput yang dapat menetralisir asam lambung dan membuat anjing muntah, untuk mengeluarkan zat yang tidak diinginkan dari perut dengan cara dimuntahkan. Terkadang juga memuntahkan tulang-tulang yang tidak bisa dicerna dan lain-lainnya.
"Hey, Akamaru. Aku akan menceritakan sebuah lelucon tapi... kau janji harus tertawa, yah, oke?" tukas Kiba tiba-tiba. Akamaru mendengus pertanda setuju.
"Begini." Kiba bangkit dari tidurannya dan duduk menghadap Akamaru. "Ada dua ekor anjing terdampar di sebuah pulau. Keduanya memutuskan untuk berenang untuk keluar dari pulau itu. Anjing pertama berlatih habis-habisan sedangkan anjing kedua santai-santai saja. Saat keduanya berenang dan mencapai tepi pantai lainnya, ternyata anjing kedua tiba terlebih dahulu. Tahu kenapa?"
Akamaru menggeleng, alisnya berkerut pertanda bingung.
"Karena anjing yang kedua adalah anjing laut! Haha!" Kiba berguling-guling sementara Akamaru mengibas-ngibaskan ekor dengan jenaka. Ia tahu kalau Akamaru sedang tertawa karena seekor anjing tertawa dengan ekornya dan menurutnya itu sangat menggemaskan. "Aduduh, perutku sakit. Haha!"
Kalau saja Ino mendengarnya, dia pasti akan terbahak-bahak.
Kiba mematung pada posisi bergelung. Apa yang ia pikirkan tadi? Ino? Ia memikirkan Ino? Aku pasti bercanda, tukasnya dalam hati. Ia kembali melanjutkan tawanya dan ambruk akibat kelelahan beberapa saat kemudian.
Sekarang ia mengerti mengapa Shikamaru suka sekali tiduran di bukit ini. Rumput yang nyaman dan angin pagi yang hangat membuatnya terbuai dan memutuskan untuk iseng-iseng tidur sebentar. Tak ada salahnya, bukan? Kiba butuh tidur sebenarnya, karena ia sendiri kurang tidur belakangan ini akibat memikirkan seseorang.
Tak butuh waktu lama baginya untuk menjamah alam mimpi. Detik berikutnya setelah ia menguap, Kiba langsung mendengkur pelan.
###
"Arf!"
"Sstt! Jangan berisik, Mika!" Si pirang berbisik pelan sambil menunjuk anjing kecilnya dengan telunjuk tangannya. Si anjing diam dan Ia melanjutkan langkahnya menuju tempat di mana pemuda liar itu tidur.
Ia mengisyaratkan tanda jangan berisik pada Akamaru dan meletakkan keranjang kecil berisi bento sederhana dengan bahan utama daging serta sebotol susu. Tak lupa ia menempelkan secarik note ungu tepat di dahi pemuda itu sambil menahan kikikannya. Setelah itu ia beranjak pergi dari situ diikuti oleh anjing kecilnya yang nakal.
Baka-kun, bento dan susunya dihabiskan. Berikan saja keranjangnya pada Akamaru nanti. Dia tahu harus diantar ke mana. ^^~
~tbc~
.
.
Pojok penggemar:
Hee-ho! Sebulan berselang sejak terakhir saya update, gomen buat yang menunggu (emangnya ada yang nunggu?). Bulan lalu saya sidang skripsi dan akhirnya lulus dengan nilai 'sangat memuaskan'. *koprol depan belakang* Dengan gelar 'SS' alias 'Super Sinting' (?) di belakang nama, bikin saya jadi pengen hiatus (?). #hubungannya?
Chapter 3 yang pendek dengan tokoh utama Bang Kiba dan sedikit curhatan saya. #crud Dan saya bingung, berapa ratus kali saya menyinggung nama abang Shikamaru dalam chapter ini? Perasaan tiap chapter selalu ada Shikamaru walau Cuma numpang nama. =v=
Anyway, mind to review, minna-minna sekalian? ^^
