I want to cry for you

I want to hurt instead of you

I don't want any scars in your heart

Ever again

When you love someone

So much that it overflows

It's so amazing

Because this is how it is

.

.

.

Namjoon tidak tahu kenapa, tapi Seokjin menangis di sampingnya. Awalnya hanya ada Namjoon di ayunan ini, duduk sendirian sambil menggerakkan ayunannya perlahan. Tidak peduli jika ada yang melihatnya dan berpikir bahwa akal sehatnya terganggu.

Ini kebiasaannya sejak kecil ketika dia mendapat masalah atau hanya ingin sekadar merenung. Dan belakangan ini dia sedang senang merenung, merenungkan nasib kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan sahabat sejak dia masih tidur di dalam inkubator.

Namjoon tidak bohong, inkubatornya dan Seokjin dulu bersebelahan dan ibunya bilang kepalanya selalu menghadap inkubator milik Seokjin. Mungkin karena itulah dia bisa bersahabat dengan lelaki itu sampai menginjak jenjang kuliah.

Namjoon selalu di samping Seokjin, namun Seokjin tidak selalu berada di sampingnya. Sederhana saja, hatinya sudah tertambat oleh orang yang bukan seorang Kim Namjoon. Jelas saja, Seokjin akan mengikuti kemana pun tambatan hatinya pergi, kurang lebih begitulah perumpamaannya. Belum lagi tambatan hati Seokjin adalah teman sekelasnya yang cukup dekat dengannya.

Namjoon mengambil jurusan yang berbeda dengan Seokjin, tapi dia tetap mencoba sebaik mungkin untuk berada di samping Seokjin meski pada akhirnya dia kalah dengan Lee Jaehwan.

Namjoon sudah tahu sejak awal dia melihat Jaehwan bahwa lelaki itu sudah memiliki kekasih. Seorang wanita cantik, karena Jaehwan itu lurus.

Oh, dirinya yang bodoh..

Seharusnya dia memberitahu Seokjin dan menjauhkannya dari Jaehwan, jadi Seokjin tidak berakhir dengan duduk di atas ayunan di sebelahnya dengan air mata.

"Hik, Jaehwan sudah hik.. memiliki kekasih, Joon."

Wajah Seokjin ditutupi dengan tangannya, tanda bahwa lelaki itu benar-benar sedih. Namjoon tidak tega, tapi dia memutuskan untuk tetap dia sampai Seokjin menyelesaikan kata-katanya.

"Dan dia hik.. lurus. Kekasihnya hik.. cantik sekali."

"Ah.. hik.. aku belum pernah pa- hik.. patah hati seperti ini. Joon." dan tangisan Seokjin semakin keras.

Namjoon turun dari ayunannya dan memposisikan dirinya di depan Seokjin. Dia memeluk Seokjin, memberinya tepukan lembut untuk menenangkan.

Dia tidak senang melihat Seokjin seperti ini. Seumur hidupnya dia mencoba untuk tidak membuat Seokjin menangis seperti ini. Namjoon tahu suatu hari akan datang hari dimana Seokjin akhirnya menangis, tapi dia belum siap dengan datangnya hari itu. Namjoon ingin Seokjin selalu tersenyum, senyum Seokjin sangat cantik dan menawan, Namjoon sangat suka.

"Hei Jinnie, maaf karena aku gagal membuatmu mempertahankan senyummu." Namjoon membungkuk, meletakkan kepalanya perlahan di atas kepala Seokjin. Dia merasa bersalah atas apa yang menimpa Seokjin hingga menangis keras seperti ini.

Jika bisa lebih baik dia saja yang menangis. Lebih baik dia yang merasa sakit. Dia tidak ingin Seokjin merasakan goresan dalam pada hatinya, itu sulit untuk disembuhkan.

"Hik.. kena- hik.. kenapa kau minta hik.. maaf?" perut Namjoon terasa sedikit geli ketika Seokjin menggerakkan kepalanya. Sweaternya basah karena air mata Seokjin, tapi dia tidak masalah. Selama itu bisa membuat Seokjin merasa lebih baik dia akan relakan.

"Karena kau menangis."

"Tidak ada hik.. hubungannya."

Namjoon tersenyum kecil, sebuah senyuman kecut. Tidak ada hubungannya? Baginya hubungannya sudah sangat jelas, tapi Seokjin tetap tidak bisa melihatnya?

"Sudah, tidak perlu dipikirkan."

Lalu keadaannya menjadi hening.

"Joon,"

Sampai Seokjin membuka suaranya.

"Hm?"

"Jadi kekasihku ya?"

Namjoon tertegun. Ini adalah apa yang dia tunggu selama ini, hanya saja.. Seokjin ingin mencari pelarian, bukan murni mencintai Namjoon, Namjoon tahu itu. Tapi dia sendiri juga sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Tujuh tahun tidaklah sebentar.

"Aku.. aku sebenarnya tahu kalau kau memiliki perasaan padaku, tapi hik.. aku bodoh sekali karen hik.. karena lebih memilih Jaehwan." tangisan keras Seokjin kembali.

"Ssst.." Namjoon mengusap punggung Seokjin. "Berhenti menangis, kau menyakitiku, Jinnie." Namjoon berbisik.

"Maaf hik.."

"Hei, tidak apa, sudah biasa. Tapi kau harus berhenti menangis." dan selanjutnya hanya ada punggung Seokjin yang bergetar.

"Jinnie."

"Hm."

"Ayo jadi sepasang kekasih. Meski kau belum mencintaiku, akan kulakukan kemampuan terbaikku untuk membuatmu mencintaiku. Dan jika kau tetap tidak mencintaiku, maka izinkan aku untuk tetap berada di sampingmu untuk memastikan bahwa senyummu tidak akan pudar."

Terlihat bodoh, tapi begitulah adanya ketika kau benar-benar mencintai seseorang.

.

.

.

END

Mau cowo kayak Namjoon :(

Oh iya, jangan kaget kalo misalnya kebanyakan cerita ini ceritain tentang Namjoon atau pihak memberi yang lain, karena lagu Day6 itu kebanyakan tentang lelaki. Kan Seokjin dan para uke atau wanita yang lain itu pihak menerima jadi.. ya gitu. Hehe.

Makasih banget buat yang baca, apalagi yang follow dan favorite cerita ini. Terutama kalian yang udah review :))

Maaf kalau ada typo :(

Have a nice day! Peace.